Beranda blog Halaman 1913

Saking Tingginya Jumlah Peminat, Halimat Kewalahan Layani Permintaan Duku Sumber

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Berbagai macam buah-buahan terlihat tertata rapi di toko Sumber Buah, Jalan Kudus-Pati, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Ada pula buah yang digantung menggunakan jaring dan plastik. Di antaranya, buah duku yang kulitnya tampak kecoklatan. Buah duku yang diwadahi plastik bening terlihat digantungkan dengan tali rafia.

Jual duku sumber 2017_3_17
Jual duku sumber. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, pemilik toko buah, Halimah, mengatakan, duku tersebut bukanlah duku Sumber dari Desa Hadipolo. Dia mengaku kewalahan melayani permintaan duku Sumber yang banyak dicari pembeli, terutama pembeli dari Jakarta yang kebetula lewat di jalur pantura. Menurutnya, duku Sumber memang diakui lebih unggul dibandingkan dengan duku daerah lain. Namun disayangkan, tahun ini buah yang dipanen tidak bisa memenuhi permintaan masyarakat.

Baca juga: Duku Sumber, Buah Khas Kudus yang Manis Tapi Super Manja

“Tahun ini hasil panen menurun. Saya berjualan duku Sumber hanya dua bulan saja,” ungkapnya saat ditemui di toko buahnya, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, Duku Sumber buah khas desa setempat setiap kilogramnya dibanderol dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Saat masa panen dirinya membanderol harga Rp 30 ribu per kilogram. Namun setelah mulai jarang ditemukan, dirinya menaikkan harga Rp 35 ribu per kilogram. Dia mengakui minat pembeli terhadap buah duku Sumber sangatlah banyak.

“Kalau sekarang saya sudah tidak punya barangnya (duku Sumber). Di toko-toko buah lainnya saya pastikan juga sudah tidak ada. Karena memang peminatnya banyak,” tambahnya yang duduk di dekat timbangan buah.

Halimah menceritakan, saat panen buah duku Sumber beberapa waktu lalu, dirinya hanya berjualan selama dua bulan saja. Dia merinci awal Januari 2017 ada sekitar 9 kwintal lebih yang dijualnya. Setelah itu, di bulan selanjutnya hanya menjual sekitar 5 kwintal lebih. Menurutnya, setiap tahun hasil penen buah Duku Sumber menurun. Hal itu mungkin di karenakan banyaknya lahan buah duku yang beralih menjadi rumah. “Panennya satu tahun sekali,” ungkap Halimah yang sudah 10 tahun menjual duku Sumber.

Buah duku Sumber yang dijualnya, kata Halimah, didapat dari para tengkulak. Yang dia tahu, sebagian besar para tengkulak membeli buah dari petani. Selanjutnya, setiap tahun dirinya mendapat setoran dari para tengkulak. Menurutnya, duku Sumber berbeda dengan jenis duku lain yang dijualnya. Aromanya lebih harum, manis, dagingnya tebal dan kulitnya tipis. Selain itu, isi yang terdapat dalam duku lebih kecil. “Selain duku Sumber saya menjual duku Solo, Nganjuk, Salatiga dan Purbalingga,” tambahnya.

- advertisement -

Demi Perankan Karakter Salie, Mitha Rela Potong dan Warnai Rambutnya Secara Permanen

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sorak-sorak penonton terdengar meriah saat perempuan berambut hitam berpadu pirang dam bercelana hot pants, melepas jaket merah. Seorang pria kemudian memeluk jaket merah dengan penuh gairah mengundang tawa ratusan penonton pentas teater di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (17/3/2017) malam. Itu merupakan satu adegan yang dipentaskan Teater Kembali 1 (K-1) mengusung naskah Rumah yang Dikuburkan.

Mitha (tengah) saat tampil dalam pentas teater di Auditorium UMK
Mitha (tengah) saat tampil dalam pentas teater di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Perempuan tersebut yang mengenakan hot pants itu bernama Nurul Paramitha (20), anggota Teater K-1. Kepada Seputarkudus.com, Mitha, begitu dirinya akrab disapa, mengaku memberi warna permanen dan memotong rambutnya demi pentas teater tersebut. Dalam pentas itu, dirinya memerankan karakter Salie.

“Sosok Salie ini jauh dari karakter kaya, jadi saya butuh proses yang lama untuk pendalaman karakternya. Saya melakukan observasi, latihan cara berjalan dan cara berpenampilan juga. Agar tampil maksimal, rambut saya beri warna permanen dan dipotong juga,” ungkap Mitha yang juga seorang pelatih tari itu.

Mitha menceritakan, dirinya baru mulai mengenal teater sejak sekolah menengah pertama (SMP). Tetapi baru mendapat peran setelah Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas dua. Selama berproses di teater, dia sudah ikut pentas sekitar kurang lebih 15 kali. Dan pernah mendapat aktris pembantu terbaik di sebuah festival teater di Jakarta.

Dia bergabung di Teater K-1 berawal dari ajakan temannya, dan langsung tampil dalam pentas yang membawakan naskah Rumah Yang Dikuburkan. Untuk menerima tawaran tersebut, Mitha mengaku butuh waktu tiga pekan untuk menjawabnya. Setelah tidak ada kesibukan, kemudian dia mengiyakan dan mulai ikut gabung dengan Teater K-1.

“Selain masih ragu, waktu itu saya juga masih ada kesibukan. Setelah tiga pekan baru saya menerima tawaran teman saya itu. Di teater K-1 saya yang paling muda, jadi saya banyak belajar dari teman-teman yang sudah berpengalaman,” terang warga Kelurahan Kebun Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta itu.

Zakaria (45), sutradara pada pentas tersebut mengungkapkan, naskah Rumah Yang Dikuburkan memberikan pesan moral tentang persoalan sosial saat ini. “Saat ini manusia melupakan tubuhnya, jadi keterasingan. Semua asik dengan smartphone, membeuat acuh dengan orang-orang sekitar,” jelas pria anak satu itu.

Mamek begitu Zakaria akrab disapa, menjelaskan, naskah tersebut karya Sam Shepard dari Amerika, yang sudah diterjemahkan Akhudiat, dan disadur dari Afrizal Malna. Mereka akan mementaskan naskah tersebut di tiga Kota, di antaranya Kudus, Tegal dan Cirbon.

“Saya berterimakasih kepada Djarum Fondation yang sudah mendukung pementasan kami. Teater Tiga Koma juga yang sudah bekerjasama dan membantu dalam pementasan di Kudus,” ungkapnya.

- advertisement -

Demi Bisa Dirikan Usaha untuk Anak Cucu, Warga Garung Lor Ini Keluar dari Tempat Kerja

0

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di tepi utara Jalan Kudus-Jepara Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tampak berbagai macam oranmen hiasan taman yang terpampang memenuhi rumah warna merah jambu. Di satu ruangan rumah tersebut terlihat seorang pria paruh baya berkemeja panjang sedang mencetak satu hiasan taman. Pria tersebut bernama Busiri (56). Dia keluar dari tempatnya bekerja, demi bisa membuat usaha yang kelak bisa diwariskan kepada anaknya.

Busiri sedang membuat ornamen taman
Busiri sedang membuat ornamen taman. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, Busiri sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia menceritakan, saat remaja dirinya bekerja selama delapan tahun di sebuah perusahaan pembuatan loster serta eternit. Namun sejak menikah dan punya anak satu, dia mengaku keluar kerja karena ingin punya usaha sendiri.

Baca juga: Kisah Berliku Busiri, Produsen Ornamen Taman yang Belajar Secara Ototdidak

“Dengan modal seadanya hasil tabungan selama bekerja, aku nekat membuka usaha pembuatan pagar klasik. Dengan harapan, memiliki usaha sendiri dan berkembang serta kelak bisa aku wariskan kepada anak dan cucuku,”ungkapnya sambil tersenyum.

Warga Garung Lor, Kaliwungu, Kudus itu mengungkapkan, dirinya memilih usaha pembuatan pagar klasik dari beton karena pada saat itu mulai ada orang, khususnya orang mampu secara ekonomi, membuat pagar dari beton. Menurutnya, hampir setiap pagar beton saat itu pasti menggunakan pagar klasik.

Dia mengatakan, saat itu hasil produksi pagar klasiknya lumayan diminati. Bahkan pada tahu 1992 pelanggannya tidak hanya datang dari Kudus, tapi juga Jepara, Pati dan Rembang. Menurutnya, para pelanggannya tersebut tidak hanya perorangan, tapi juga para pemilik toko bangunan.

“Saat itu setiap pekan aku bisa mengirim sekitar 600 pagar klasik kepada para pelangganku. dan untuk memenuhi permintaan para pelanggan, aku mempekerjakan sekitar empat orang yang aku upah dengan sisitem borongan,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai lima anak dan satu cucu itu mengatakan, keuntungan dari pembuatan pagar kalsik terbilang lumayan. Karena pada saat itu belum terjadi krisis ekonomi dan bahan dasar untuk membuat pagar klasik masih murah. Menurutnya, hasil dari usaha tersebut bisa untuk membeli beberapa tanah dan bangun rumah.

Namun, kata Busiri, roda kehidupan memang selalu berputar. Pagar klasik yang mulanya diminati, pada tahun 2000 sepi peminat. Menurutnya pada awal tahun 2000 ada pergeseran bentuk pagar yang diminati banyak orang, dan membuat pagar klsik produksinya tak laku lagi.

“Setelah pagar klasik yang aku produksi tak laku lagi di pasaran, order pembuatan dan pengiriman pun sepi. Satu persatu para pekerjaku lalu pada keluar. Dan demi memegang prinsip agar tetap memiliki usaha, dan berharap bisa berkembang lalu bisa aku wariskan kepada anak cucuku, kini aku mulai usaha membuat kolam mini dan berbagai macam hiasan taman yang aku pajang di depan rumahku,” ujarnya.

- advertisement -

Kisah Berliku Busiri, Produsen Ornamen Taman yang Belajar Secara Ototdidak

0

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Beberapa ornamen hiasan taman terlihat berjajar rapi di halaman rumah di tepi Jalan Kudus-Jepara Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Tampak juga di tempat tersebut seorang calon pembeli sedang memilih aneka hiasan taman. Tak lama dia memberikan uang kepada pria berbaju koko untuk dua benda yang dia beli. Pria tersebut yakni Busiri (56) pemilik usaha ornamen taman di tempat tersebut.

Busiri, pemilik usaha pembuatan ornamen taman 2017_3_16
Busiri, pemilik usaha pembuatan ornamen taman. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Busiri sudi berbagi kisah usahanya yang cukup berliku. Sebelum menjual ornamen taman, dirinya pernah memproduksi pagar klasik. Namun sayang, usahanya itu sudah ditutup. Setelah itu dirinya mencoba peruntungan dengan membuka usaha baru yakni pembuatan aneka ornamen hiasan taman. Dia tertarik membuat aneka barang tersebut setelah melihat usaha serupa di Kudus.

“Aku membuat ornamen hiasan taman karena menurutku usaha ini di Kudus masih jarang. Selain itu, untuk membuat ornamen ini butuh keahlian khusus, yang tidak semua orang memilikinya, jadi tidak mudah ditiru orang,” ungkap warga Desa Garung Lor, Kaliwungu, Kudus, beberapa waktu lalu.

Sembari mencetak benda mirip kendi untuk ornamen taman, dia melanjutkan ceritanya. Dia belajar membuat ornamen taman secara otodidak. Karena tertarikannya pada aneka ornamen itu, dia mengaku membeli beberapa ornamen di tempat lain, lalu dipelajari dan dia buat cetakannya. Saat itu, barang yang dia beli tersebut di antaranya dengan harga di bawah Rp 100 ribu. Sedangkan ornamen yang harganya lebih dari Rp 100 ribu dirinya hanya mengingat dan lalu membuatnya.

Setelah percobaan membuat ornamen taman jadi sesuai harapannya, dia kemudian membuat ornamen-ornamen lainnya. Dan setiap ornamen yang telah jadi dia pajang di depan rumah anaknya, yang kebetulan berada di tepi jalan. “Alhamdulillah meskipun aku belajar secara otodidak, namun setiap hari ada saja orang yang melintas berhenti untuk membeli hasil karyaku,” ungkap sukurnya.

Pria yang sudah dikaruniai lima anak dan satu cucu itu mengatakan, ornamen yang dia buat di antaranya kolam taman, yang dijual mulai harga Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Harga tersebut menurutnya sudah termasuk mesin untuk air mancur ornamen tersebut. Selain ornamen air mancur, dia juga membuat aneka pot bunga yang dijual dengan harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 70 ribu. Selain itu tempat lampu dan loster, masing-masing dia banderol harga Rp 70 ribu dan Rp 10 ribu.

Harga-harga tersebut, kata Busiri, jauh lebih murah dibanding harga di tempat lain yang menjual barang serupa. Karena menurut Busiri, mendapat untung sedikit tidak masalah yang penting hasil karyanya setiap hari ada yang terjual. “Aku berharap usahaku ini makin diminati dan kelak bisa berkembang, dan semoga bisa aku wariskan kepada anak-anakku,” harap Busiri.

- advertisement -

Mi Bandung dan Es Teler Panjunan, Sajian Legendaris di Kudus Sejak 1981

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi timur Jalan KH Wachid Hasyim, tepatnya di Plenyikan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak beberapa mobil terparkir di depan ruko. Di dalam terlihat beberapa orang sedang menyantap hidangan. Di tempat pembayaran tampak seorang perempuan berkaca mata sedang mengamati aktivitas di ruangan tersebut. Perempuan itu bernama Devi Andriani (34), anak dari perintis usaha mi Bandug di Kudus.

Ernawati, generasi penerus mi Bandung di Kudus
Devi Andriani, generasi penerus mi Bandung di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut perempuan yang akrab disapa Devi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha Mi Bandung yang dikelolanya. Dia mengungkapkan, usaha mi Bandung dirintis ibunya, Ermawati, sejak 1981. Ibunya membuka rumah makan mi Bandung tersebut karena ingin menyajikan mi yang punya rasa enak juga sehat.

“Ibuku itu orangnya suka bahkan hobi memasak. Dan semua yang dijual di sini itu diproduksi sendiri dari mi dan makanan lainnya. Karena kami ingin para pelanggan selain bisa merasakan enaknya mi atau bakso yang kami sajikan, kami juga senantiasa selalu menjaga cita rasa dan kualitas bahan dan tentu ke halalan makanan yang kami jual,” jelasnya.

Warga Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus itu mengungkapkan, sebenarnya awal buka itu di tepi Jalan Ahmad Yani. Namun karena saat itu ada peraturan kendaraan tidak boleh parkir di depan warung, ibunya, lalu Ermawati memutuskan pidah di tempat yang sekarang. Menurutnya, sejak pindah malah pelanggan yang datang makin banyak.

“Pelanggan mi Bandung mamaku itu bukan orang Kudus saja, mlainkan ada yang datang dari Lasem, Rembang, Pati, Jepara, Demak, semarang, Solo, Jakarta dan beberapa kota lainnya. Biasanya mereka yang datang dari jauh misal Jakarta, liburan di Kudus, atau mereka berkunjung ke sanak familinya di Kudus dan mampir ke sini,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, Mi Bandung buatan mamanya itu memang digemari banyak orang dari berbagai kalangan usia. Bahkan menurutnya, ada yang berlangganan hingga puluhan tahun. Di kedai mamanya tersebut menyediakan aneka menu olahan mi.

Dia menjelaskan, menu yang disajikan itu di antaranya mi ayam, mi bakso, mi pangsit, mi komplit, bakso kuah, pangsit kuah, dan bakso gepeng. Dari semua menu mi dan bakso dijual dengan harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 24 ribu satu porsi. Selain mi dan bakso, Devi mengunkapkan dikedai ibunya tersebut juga menyediakan aneka jenis minuman.

“Di kedai kami menyediakan aneka macam minuman, ada es teler, es tuti frutti, es merah delima, serta es kacang merah. Selain itu ada juga es bangka, es podeng, es dawet, dan es buah. Dari semua jenis minuman tersebut harga mulai Rp 12 ribu dan paling mahal es teler Rp 17 ribu seporsi,” urainya.

Dia mengungkapkan, kedai ibunya tersebut buka setiap hari selain hari Senin. Dan setiap hari berjualan dua kali. Waktu pagi mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Sedangkan saat senja mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. “Kami memang sengaja sehari berjualan dengan dua waktu, agar para pekerja punya jeda untuk istirahat,” ujarnya.

- advertisement -

Nur: Jangan Ngaku Jadi Pengsaha Sukses Jika Belum Punya Mitsubishi Fuso Colt Diesel

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan AKBP Kusumadya 64, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat gedung berwarna putih tertulis Mitsubishi Fuso dan Mitsubishi Motors. Tepat di area pintu masuk servis, terdapat tiga unit kendaraan roda enam warna kuning tanpa yang terpakir di sisi bahu jalan. Menurut Muhammad Nur (51), Branch Manager PT Sun Star Motor, mobil tersebut yakni Mitsubishi Fuso Colt Diesel. Dia menyatakan, bagi pelaku usaha bisa dikatakan sukses, minimal jika sudah memiliki armada tersebut.

Mitsubishi Fuso Colt Diesel Sun Star Motor Kudus 2017_3_18
Mitsubishi Fuso Colt Diesel Sun Star Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Nur begitu dia akrab disapa, menjelaskan, mobil berlambang tiga berlian itu merupakan andalan bisnis sejati, mobil yang diperuntukan bagi pelaku usaha. Menurutnya, Mitsubishi Fuso Colt Diesel dibekali berbagai kelebihan. Di antaranya, mudah dirawat, mesin bandel dan irit biaya perawatan.

“Selain itu, Colt Diesel juga terkenal mempunyai umur ekonomis cukup lama, terbukti 10 tahun lebih masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di Jalan. Spare part juga ada di mana-mana dan harga jual kembali masih tinggi sekali dibanding produk kompetitor lain di kelas yang sama. Baik jalan datar, gembur maupun banjir, semua medan bisa dilalui,” ungkap Nur kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga di Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini mengatakan, produk Mitsubishi Fuso di kelas light duty truck sangat bervariasi. Di antaranya terbagi dalam empat kategori, meliputi super speed, super power, super capacity dan colt diesel bus.

“Misalnya super speed ada FE 74 S, super power ada FE 73 HD, ada FE 74 HD, FE SHD dan FE SHD-X HI-Gear. Untuk kategori super capacity mencakup empat tipe, ada FE 71 L, FE 71 PS, FE 84G HDL dan ada juga tipe FE 73. Sedangkan khusus bus, meliputi FE 71 Bus Chassis, Espasio, FE 71 Long Bus Chassis, FE 83 Bus Chassis serta FE 84G Bus Chassis,” ujarnya.

Dia menambahkan, berkat dedikasi atas penjualan di diler yang dia naungi, diler yang biasa disebut Sun Motor Kudus mendapatkan piagam penghargaan dari PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor. Menurutnya, pemberian penghargaan tersebut diberikan sebagai kategori terbaik dalam performa penjualan, khususnya Mitsubishi Fuso Truck dan Bus Corporation (MFTBC) di wilayah Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Untuk pembelian semua bisa dilakukan secara tunai maupun kredit. Pembelian secara tunai akan kami berikan cash back dan untuk kredit bunga yang dibebankan kepada konsumen nol persen. Kami juga akan memberikan fasilitas berupa servics gratis atau maksimum menempuh jarak 400 ribu kilometer bagi setiap pembelian Colt Diesel,” tambahnya.

- advertisement -

Subarkah, Dosen Hukum UMK Prihatin Stan Bazar Buku Murah Sepi Pengunjung

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sebuah stan dengan ratusan buku tertata rapi terlihat di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (17/3/2017) siang. Usai Salat Jumat, sejumlah mahasiswa dan dosen datang bergantian melihat bazar buku murah tersebut. Satu di antaranya Subarkah (57), Dosen Fakultas Hukum UMK. Dia mengaku prihatin, ada bazar buku murah, tapi stan terlihat sepi.

Bazar buku murah di UMK sepi pengunjung 2017_3_18
Bazar buku murah di UMK sepi pengunjung. Foto: Ahmad Rosyidi

“Ada bazar buku murah tapi kok sepi. Ini mungkin karena minat baca mahasiswa di UMK rendah,” ujar Subarkah kepada Seputarkudus.com, saat mengunjungi stan bazar buku murah, kemarin.

Barkah begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya mengajak mahasiswa untuk membaca. Saat mengampu mata kuliah, dia sering mengajak mahasiswanya untuk membedah buku dan menyarankan mahasiswa untuk membaca terlebih dahulu. Tetapi hanya sebagian kecil mahasiswa yang mau melakukannya.

“Biasanya saya mengajak mahasiswa untuk membedah buku saat proses belajar, dan saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu. Tapi hanya sebagian kecil yang mau membaca. Saya prihatin dengan mahasiswa UMK, tapi mereka sudah mengemban gelar maha, jadi sudah bukan saatnya ditekan untuk membaca,” jelas dosen lima anak itu.

Barkah membeli buku yang berjudul Babat Tanah Jawa seharga Rp 100 ribu. Dalam sehari, Dia meluangkan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk membaca buku. Dia lebih senang membaca buku-buku sejarah, karena menjadi pengetahuan yang penting untuk pondasi ilmu pengetahuan.

“Saya lebih suka membaca buku sejarah, karena penting bagi saya untuk mengetahui sejarah bangsa ini. Karena saya orang hukum jadi di rumah lebih banyak koleksi buku-buku hukum. Saya sering menyampaikan, banyak membaca banyak lupa, sedikit membaca sedikit lupa. Mahasiswa saya banyak yang tidak tidak membaca, jadi tidak pernah lupa,” ungkap warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu sambil tertawa.

Dia berharap kedepan UMK menyediakan ruang seperti gazebo khusus untuk membaca. Agar suasana kampus lebih hidup dan budaya membaca mahasiswa bisa meningkat. Tidak seperti sekarang, yang hanya berkumpul dan asyik dengan hal-hal yang tidak produktif.

Abdul Aziz Masruri (23), satu di antara penjual buku dalam bazar tersebut, mengungkapkan, minat beli buku di UMK terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain. Menurutnya, rendahnya minat beli buku berbanding lurus dengan rendahnya minat baca. Dia juga berharap organisasi yang ada di UMK bisa membuat kegiatan-kegiatan yang bisa merangsang minat baca mahasiswa, misalnya bedah buku dan pelatihan menulis.

“Kami menjual buku murah selama lima hari di sini, mulai tanggal 13 Maret 2017 hingga 17 Maret 2017. Jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain, UMK terbilang cukup sepi. Mungkin karena minat baca mahasiswa UMK rendah, jadi minat beli buku juga rendah. Hari ini baru laku sekitar 30 hingg 40 buku, baru mendapat uang sekitar Rp 600 ribu,” terang pria asal Rembang itu.

- advertisement -

Duku Sumber, Buah Khas Kudus yang Manis Tapi Super Manja

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Daun-daun kering jatuh di bawah pohon duku yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Dahannya tampak besar dan rimbun. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jaya Makmur, Solikin mengatakan, daun-daun itu dibiarkan begitu saja di bawah pohon, agar menjadi kompos secara alami yang bisa menjadi nutrisi bagi pohon duku Sumber.

Pohon duku, Sumber, Desa Hadipol, Kecamatan Jekulo, Kudus
Pohon duku, Sumber, Desa Hadipol, Kecamatan Jekulo, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Duku Sumber, kata Solikin, merupakan buah khas dukuh setempat yang memiliki rasa manis namun sangat “manja”. Pohon duku Sumber tak bisa diberi nutrisi dari pupuk kimia dan harus menggunakan pupuk organik. Jika diberi pupuk kimia, pohonnya akan cepat mati.

“Pohon (Duku Sumber) memang super ‘manja’. Pupuk harus yang alami. Selain itu, jika terkena asap dari dapur rumah juga bisa mati.” ungkapnya saat ditemui di dekat pekarangan rumahnya Desa Hadipolo, beberapa waktu lalu.

Selain pupuk, katanya, kadar air yang berada di sekitar pohon harus seimbang, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Menurutnya, itulah yang menjadi alasan mengapa pohon duku ditanam di pekarangan rumah. Jika pohon di tanam di perkebunan, sewaktu musim kadar air akan sulit dikendalikan. Saat musim kemarau, dirinya harus menyiram pohon tersebut menggunakan air dari sumur di rumahnya. “Jika pohonnya masih kecil, strateginya, di dekat pohon ditanami pisang,” tambahnya.

Dia melanjutkan, proses penanaman dimulai dari pembibitan pohon duku. Sebelum siap ditanam di tanah, bibit harus direndam air selama sepekan. Selanjutnya dibuatkan lubang dengan kedalaman 50 sentimeter persegi. bibit duku yang ditanam di dalam lubang itu harus diberi pupuk kompos. Selain itu, agar pohon yang masih kecil tidak rubuh, diberi tambahan tiang peyangga dari kayu atau bambu.

“Setiap dua bulan sekali harus diberikan pupuk supaya dapat meningkatkan kesuburan. Kalau sudah besar daun yang jatuh bisa menjadi pupuk organik,” jelasnya.

Solikin menambahkan, pohon duku akan mulai berbuah setelah 7-10 tahun. Menurutnya, setiap panen akan menghasilkan buah duku antara 50 kilogram hingga 1 kwintal. Setelah pohon berusia lebih dari 10 tahun, akan menghasilkan buah 4 kwintal lebih. Banyak atau sedikitnya buah, juga dipengarungi dahan pohon. Semakin banyak dahan, buah yang dihasilkan semakin banyak.

“Panen hanya bisa dilakukan satu tahun sekali saja. Sebenarnya bisa dua kali dalam setahun, tapi menggunakan pupuk kimia. Namun umurnya paling sebentar. Contoh, kemarin ada yang hanya bertahan tiga tahun saja. Kalau pakai pupuk organik bisa berpuluh-puluh tahun lamanya,” ungkapnya.

Pohon Duku Sumber yang berada di Desa Hadipolo, menurutnya semakin lama semakin berkurang. Selain karena kondisi pohon yang butuh perawatan rumit, lahan yang ada sudah berubah menjadi pemukiman. Menurutnya, di Desa Hadipolo ada 100 petani lebih yang menanam pohon duku di pekarangannya. Dirinya akan mengajak kalangan muda untuk membuat agrobisnis yang fokus pada buah duku.

- advertisement -

Upacara Pedang Pora Awali Kepemimpinan Agusman Gurning Sebagai Kapolres Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, POLRES – Sejumlah polisi mengenakan seragam hitam-hitam lengkap dengan pedang tampak berbaris di sepanjang karpet merah yang digelar di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus, Jumat (17/3/2017). Mereka sedang bersiap-siap menyambut Kapolres Kudus dalam tradisi pengalungan bunga dan Pedang Pora.

Upacara Pedang Pora Sambut Kapolres Kudus 2017
Upacara Pedang Pora Sambut Kapolres Kudus. Foto: Humas Polres Kudus

Tak lama kemudian, sosok laki-laki tegap bersama seorang perempuan berbaju pink tampak keluar dari mobil. Dia tak lain AKBP Agusman Gurning, Kapolres Kudus yang baru, bersama istri. Setelah mengalingkan bunga, anggota Polres Kudus yang berbaris membawa pedang melakukan hormat jajar dan upacara payung pora. Agusman menggantikan AKBP Andy Rifai yang dipindah ke Polresta Surakarta menjabat wakapolres. Sebelum di Kudus, Agusman menjabat sebagai Kapolres Grobogan.

Usai acara pedang pora, kepada wartawan, Agusman menuturkan, di awal tugasnya dirinya akan segera bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat di Kudus. “Secara maksimal saya akan melaksanakan tugas pokok kepolisian negara yang menjadi tanggung jawab kami. Kami akan belajar dan berupaya menyesuaikan diri dengan wilayah baru serta karakteristik masyarakat Kudus,” ungkapnya.

Perwira menengah tersebut juga berharap seluruh anggotanya mau membantu dan bekerja sama dalam pelaksanaan tugas. Selain itu mereka diharap bisa melanjutkan progam kapolres lama yang dinilai baik. Dirinya menyatakan akan berusaha untuk meningkatkannya kinerja menjadi lebih baik. “Ya mempertahankan yang baik dan meningkatkannya,” jelas laki-laki kelahiran Medan, 23 Mei 1975 tersebut.

Dirinya menambahkan, hal-hal yang menjadi kewajiban akan menjadi prioritasnya. Dia meyakini masyarakat Kudus bisa menerima kehadirannya. Selanjutnya, dia berharap keberadaanya di Kudus akan memberikan kontribusi positif terhadap tugas-tugas kepolisian. Selain itu juga bisa menjaga dan mempelihara situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Sementara itu, AKBP Andy Rifai mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel Polres Kudus dan masyarakat yang telah mendukung progam Polri selama dirinya bertugas di Kudus. Menurutnya perpisahan tak seperti perceraian. Sampai kapanpun silaturahmi akan terus dia jaga. Dirinya berharap seluruh anggota Polres Kudus tetap kompak dan mendukung tugas kapolres yang baru.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan seluruh personel dan masyarakat Kudus selama saya bertugas di sini,” tuturnya yang menjabat Kapolres Kudus selama sembilan bulan.

- advertisement -

Mau Servis Mobil Tapi Malas ke Bengkel, Panggil Saja Mitsubishi Sun Star Motor Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Sejumlah kendaraan terlihat terpakir di sebuah bengkel resmi Mitsubishi yang bernama Sun Star Motor Kudus. Tidak jauh dari lokasi bengkel, terdapat sebuah mobil roda empat warna merah yang tertulis service care pada box alumunium kendaraan. Mobil itu tak lain kendaraan yang digunakan untuk pelayanan home service bagi pelanggan Sun Star Motor.

Layanan home servis Sun Star Motor Kudus
Layanan home servis Sun Star Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela kesibukannya, Service Manager PT Sun Star Motor Divisi Kendaraan Niaga, Hadi Sucipto (45), sudi berbagi penjelasan Kepada Seputarkudus.com tentang program layanan tersebut. Hadi menjelaskan, pelayanan itu diberlakukan sekitar satu tahun lalu, lebih tepatnya dimulai sejak tahun 2016. Menurutnya, layanan itu diberikan sebagai upaya diler Mitsubushi dalam meningkatkan pelayanan.

“Sebenarnya dalam rangka meningkatkan pelayanan bagi pelanggan. Terkadang kan orang malas mau servis kendaraan karena jarak tempuh, malas menunggu maupun sibuk dengan pekerjaannya. Nah, dengan pelayanan ini, pelanggan tidak perlu lagi bersusah payah datang ke diler, cukup telepon saja 0291-439266 atau 0812 2982 8882, kami akan datang,” ungkap Hadi waktu ditemui di Jalan AKBP Kusumadya 64, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.

Pria yang mengaku sudah dikaruniai dua orang anak, ini melanjutkan, untuk dapat melakukan pelayanan home service, pelanggan harus melakukan service booking terlebih dahulu. Menurut dia, ketentuan melakukan booking minimal dua hingga tiga hari sebelum dilakukannya perbaikan pada kendaraan. “Soalnya kami juga harus mempersiapkan mekanik dan kebutuhan apa semua yang harus kami bawa,” ujarnya.

Selain itu, dia mengungkapkan, tidak semua wilayah bisa merasakan fasilitas home service yang dia berikan. Pemberian fasilitas tersebut, katanya, hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang berada di sekitar wilayah Kudus. Seperti Pati, Jepara, Grobogan, Demak, Rembang maupun Blora. “Kudus juga bisa sebenarnya, tapi karena dekat dengan lokasi diler, kami sarankan untuk ke diler saja,” ungkapnya.

Pria kelahiran Pati yang kini tinggal di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, ini mengatakan, kategori kendaraan yang bisa melakukan layanan terbagi menjadi dua, berupa kendaraan baru (servis gratis) dan untuk kendaraan berkala yang sifatnya ringan. Meliputi penggantian oli mesin, oli gardan, penggantian filter, tune up mesin dan lain sebagainya.

Dia menjelaskan, terkait dengan biaya tambahan, pihak diler tidak memungut biaya sama sekali bagi setiap pelanggan. Dengan catatan, ketika melakukan layanan berupa home service terdapat tiga unit mobil yang ingin diperbaiki. “Kalau hanya satu maka akan dikenakan cash. Tapi biasanya kami akan membantu untuk mencarikan custumer yang ingin melakukan service,” tambahnya.

Menurut pria yang mengenakan pakaian warna putih celana panjang hitam, bengkel di diler tempat dia bekerja buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Khusus di hari sabtu dan minggu, kata dia, bengkel tutup siang hari hingga pukul 14.30 WIB. “Setiap hari kami memperbaiki kendaraan sebanyak 17 mobil dan 390 mobil setiap bulannya,” tambah Hadi yang sudah 27 tahun bekerja di diler berlambang tiga berlian tersebut.

- advertisement -

Tertinggal Dua Gol, Anak Mama Balikkan Kedudukan dan Kembali Juarai Muria Futsal Cup

0

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Gemuruh suara pendukung terdengar saat tim futsal berseragam putih, Senja FC menciptakan gol kedua secara cepat di di United Futsal Stadium, Kamis (16/3/2017) siang. Usai kecolongan dua gol, lawan mereka, Anak Mama FC tampak terus menekan dan berhasil menyarangkan tujuh gol balasan. Saat peluit tanda berakhirnya pertandingan, Anak Mama FC menang dengan skor telak 7-2.

Anak Mama FC, Juara Muria Futsal Cup 2017
Anak Mama FC, Juara Muria Futsal Cup 2017. Foto: Ahmad Rosyidi

Pertandingan tersebutr merupakan final Muria Futsal Cup Mahasiswa Umum se-Jawa yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT) Universitas Muria Kudus (UMK). Usai pertandingan, terlihat sejumlah pemain Anak Mama FC duduk ditribune penonton. Satu diantara mereka yakni Faris Akbar Faikal (21), penjaga gawang Anak Mama FC.

Kepada Seputarkudus.com, Akbar sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pertandingan final yang baru saja dimenangkan. Menurutnya, ini merupakan kali kedua timnya menjuarai Muria Futsal Cup Mahasiswa Umum.

“Ini kedua kalinya kami ikut turnamen Muria Futsal Cup, dan alhamdulillah kami juara terus. Tidak ada persiapan khusus, kami hanya latihan rutin dua kali dalam satu pekan,” ungkap warga Ngaliyan, Semarang itu.

Akbar begitu dia akrab disapa, mengatakan, kunci kemenangan pertandingan final kali ini adalah fokus dan timnya terus ngotot. Karena dengan terus menekan akan menciptakan banyak peluang. Dan terbukti mereka mampun membalikkan keadaan setelah tertinggal dua gol pada awal pertandingan.

“Kami tadi telat panas, jadi baru menit-menit awal sudah kebobolan dua gol. Tapi kami tetap fokus dan terus menekan, dan banyak peluang yang tidak kami sia-siakan. Dari awal kami sudah yakin menang, jadi kami merasa harus ngotot dan terus menekan agar membalikan keadaan,” jelasnya.

Manajer Anak Mama FC, Hilmi Saputra (31), menambahkan, dari kemenangan tersebut saat ini menambah koleksi piala timnya. “Saat ini koleksi piala kami sekitar 18 piala, belum ditambah kejuaraan ini karena belum diberikan. Saya mendirikan Anak Mama FC karena saya suka futsal, dan pemainnya dari berbagai kampus,” terang pria dua anak itu.

Ahmad Yusron (18), selaku ketua panitia kegiatan, mengungkapkan, bahwa ini menjadi kegiatan rutin yang dilakukan BEM FT UMK. Dan ini adalah kegiatan yang keenam kalinya. Menurutnya, dalam pelaksanaan ada sedikit kendala dalam publikasi, sehingga peserta mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

“Peserta kali ini ada 37 tim, ada sedikit penurunan kalau dibandingkan tahun kemarin yang ada 43 tim. Tapi jangkauan kali ini lebih luas meski pesertanya menurun. Kegiatan ini dimulai tanggal 14 Maret 2017 hingga 16 Maret 2017. Selama tiga hari kegiatan semua berjalan dengan lancar,” jelas warga Desa Lumbungmas, Kecamatan Pucakwangi, Pati itu.

- advertisement -

Melihat Isi Studio Animasi SMK RUS, Dari Komputer ‘Spek Dewa’ Hingga Software Kelas Walt Disney

0

SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Bangunan dua lantai berwarna dominan merah berdiri megah di lingkungan SMK Raden Umar Said, Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus. Tertulis besar di sisi atas RUS Animation Studio Bakti Pendidikan Djarum Fundation. Gedung tersebut yakni studio animasi milik SMK Raden Umar Said yang digunakan untuk produksi film animasi Pasoa dan Sang Pemberani dan Unyil.

Ruang Animasi SMK RUS 2017_3_17
Ruang kelas Jurusan animasi di SMK RUS Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat masuk ke dalam gedung, puluhan monitor terlihat berjajar rapi di ruangan tengah. Sementara cayaha lampu dari langit-langit nampak redup. Beberapa monitor komputer terlihat dipergunakan untuk mengedit animasi. Sesekali ada guru berkaus oranye mengarahkan siswa yang sedang serius di depan monitor. Menurut guru bernama Mukhamad Rif’an (49), siswanya sedang membuat animasi Unyil.

Baca juga:

Menurutnya, Unyil yang biasa dikenal orang dengan bentuk boneka akan dibuatnya menjadi animasi film tiga dimensi. “Film tersebut langsung dari Produksi Film Negara (PFN), namun melalui BIZ Studio,” ungkapnya sambil melihat hasil karya siswa belum lama ini.

Rif’an, merupakan Ketua Jurusan Design, Komunikasi dan Visual SMK Raden Umar Said. Dia menjelaskan, ruangan yang digunakan muridnya mengedit animasi yakni ruang utama produksi. Menurutnya ada 28 komputer grafis tiga dimensi yang setiap komputernya terdapat dua monitor.

Menurutnya, random access memory (RAM) di setiap komputernya yakni 16 gigabyte (GB). Dijelaskan, fungsi dari ruang utama produksi yakni untuk 3D modeling, shading, texturing, rigging, compositing, rendering, visual effect and lighting. “Satu di antara software yang digunakan yakni Autodesk Maya. Sama seperti yang digunakan Walt Disney dan Pixar,” terangnya.

Sambil berjalan ke arah depan, kepada Seputarkudus.com dia memberitahukan, ruangan dengan tempat duduk bertingkat mirip tribun yakni drawing studio. Menurutnya, ruangan yang setiap kursinya terdapat monitor sentuh juga digunakan untuk pre-production. Prosesn tersebut untuk pengerjaan story writing, production design, story boarding and animatic.

Rif’an kemudian berjalan keselatan beberapa langkah, terdapat ruangan berkaca dengan empat komputer dan delapan monitor. Menurut Rif’an, seluruh komputer sudah berprosesor Xeon dengan RAM 32 GB. Dan juga ada ruangan khusus dengan dua monitor ukuran 21 inch dan satu berukuran 32 inch. “Ruangan ini untuk color grading untuk penilaian warna. Warna-warna yang dianggap kurang bagus nanti akan dibenahi di sini,” tambahnya.

Dia menjelaskan, untuk proses produksi film animasi diperlukan beberapa tahap, proses layouting, animating, color grading, sound designing and film scoring, foley and dubbing/voice over, audio mixing and audio laydown. Untuk proses akhir, di Jurusan Animasi SMK RUS ada ruangan kecil untuk proses render. Di sana terdapat sejumlah 40 render farm dan dua unit server.

Di ruang animasi, terdapat sejumlah karakter animasi yang cukup populer di pajang di dalam rak, di antaranya Dragon Ball, Hulk, Avengers, Minions. Di lantai dua ruangan tersebut, terdapat ruangan untuk pengisi suara, sound studio, motion capture dan mini theater.

Pada lantai atas, beberapa buku tertata rapi di rak ruang perpustakaan. Dalam ruang terbuka tersebut terdapat ruang meeting dan ruang santai, yang menurut Rif’an sering dimanfaatkan muridnya. Jika harus turun cepat, dirinya menunjukkan prosotan berwarna biru yang terhubung langsung dengan ruang utama produksi.

“Kalau ada deadline dan harus cepat, anak-anak tinggal meluncur dan langsung sampai di ruang produksi utama. Biasanya dikasih minyak dulu supaya licin,” terangnya.

Dijelaskan, siswa Jurusan Animasi baru ada dua angkatan. Angkatan pertama yang kini kelas XI berjumlah 26 orang. Menurutnya, tahun pertama pembukaan Jurusan Animasi jarang sekali yang mendaftar. Namun setelah memiliki fasilitas berstandar international, angkatan kedua banyak yang daftar. Terdata ada 72 siswa yang diterima. “Semoga dengan adanya Jurusan Animasi di SMK RUS, lebih banyak dikenal orang,” tambahnya.

- advertisement -

Ingin Tetap Bisa Cantik Saat Bangun Tidur, Cewek Ini Pasang Eyelash Extension

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Seorang perempuan berkaus kuning tampak terlentang di ranjang di sebuah kamar rumah di Jetak kembang, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Kedua matanya dipejamkan, dan seorang perempuan lain terlihat mengusap kelopak matanya menggunakan kapas. Perempuan itu bernama Krisnawati, yang baru saja selesai melakukan treatment kecantikan eyelash extension atau sering disebut penyambungan bulu mata.

Memasang bulu mata 2017_6_16
Memasang bulu mata. Foto: Rabu Sipan

Sambil proses penyambungan bulu matanya perempuan yang akrab disapa Febri itu sudi berbagi kisah kepada seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, memasang eyelash extension sejak bulan Januari 2017. Dia mengaku menyambung bulu mata aslinya dengan eyelash extension agar bulu matanya terlihat lentik di situasi apapun.

Baca juga: Lulus Kuliah Tak Dapat Kerja, Tata Buka Tutorial di Youtube, Kini Usahanya Laris Manis

“Aku itu orangnya tidak suka dandan yang memakan waktu lama, aku juga tak suka ribet. Tapi sebagai wanita pada umunya, aku juga ingin selalu terlihat cantik, dan cetar meskipun baru bangun tidur. Karena alasan itu aku memasangi bulu mataku eyelash extension. Dan pemasangan selalu aku percayakan pada Merita Putri Septia yang akrab aku sapa Tata,” ungkapnya.

Perempuan warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus itu mengatakan, sebenarnya sudah lama ingin memasanga eyelash extension. Namun karena waktu dulu tidak tahu tempat pemasangannya, keinginan itu baru terwujud dua bulan lalu. Dia mengaku mengetahui di Kudus ada yang bisa memasang eyelash extension lewat media sosial Instagram.

“Saat itu aku melihat beberapa postingan eyelash extension di Instagram dengan akun mirrylash. Dan kebetulan pemilik akun tersebut ternyata orang Kudus yakni mbak Tata. Aku pun langsung kepo bertanya ini dan itu, termasuk efek samping dan harga,” ungkap dara yang tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir jurusan Sisitem Informatika Universitas Muria Kudus (UMK).

Menurutnya, setelah mendapat penjelasan dari pemilik akun bahwa pemasangan bulu mata itu aman dan tidak sakit, dia langsung merapat ke rumah Tata. Dan benar saja, kata dia pemasangannya tidak sakit, bahkan saat di-remove pun tidak sakit sama sekali.

Sejak pemasangan pertama pada Januari dia mengaku ketagihan memasang eyelash extension. Dikatakannya, dia sudah memasang bulu lentik tersebut sekitar empat kali. Sedangkan untuk perawatan, dia mengaku sudah sering dan tak terhitung. Karena hampir tiap pekan dia melakukan perawatan bulu mata. Dan semua dipercayakan pada Tata.

“Semua pemasangan dan perawatan eyelash extension aku percayakan pada Tata. Selain orangnya ramah dan enak dimintai pendapat, hasil pemasangannya bagus, rapi, dan selalu memuaskan. Pokoknya sesuai dengan yang aku bayangkan dan aku harapkan,” ungkapnya sambil tersenyum lalu bercermin.

Menurut Merita Putri Septia (22), yang akrab disapa Tata, pemilik usaha pemasangan eyelash extension itu mengatakan, produk bulu matanya tersebut merupakan kualitas terbaik karena dia impor langsung dari Korea. Menurutnya, eyelash extension miliknya itu semi permanen karena ditempel dengan lem khusus yang tidak bakal rontok saat terkena hujan, dibawa mandi, tidur dan lain sebagainya.

“Dengan teknik Korea eyelash, aku menyambung bulu mata setiap helai. Ringan dan tidak terasa memakai apa-apa, tidak mengakibatkan bulu mata asli rontok dan gatal. Dan yang pasti bertahan lama,” ungkapnya.

- advertisement -

Kiosnya di Pasar Kliwon Terimbas Kebakaran, Kini Nurul Justru Punya Dua Tempat Berjualan

0

SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Di tepi barat Jalan Menara Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah toko bercat putih dengan kaca di bagian depan. Di dalam terlihat ratusan pakaian perempuan terpajang sesuai jenis dan bentuknya. Di antara ratusan pakaian tersebut tampak seorang perempuan memakai jilbab dengan ditemani putrinya sedang menata pakaian. Perempuan tersebut bernama Nurul Khotimah (33), pemilik Rumah Firdausi.

Nurul Khotimah, pemilik Rumah Firdausi Kudus 2017_3_16
Nurul Khotimah, pemilik Rumah Firdausi Kudus. Foto Rabu Sipan

Perempuan yang akrab disapa Nurul itu sudi berbagi kisah tentang usahanya itu kepada Seputarkudus.com tentang Rumah Firdausi. Dia mengungkapkan, membuka toko pakaian yang diberi nama Rumah Firdausi sejak tahun 2011. Menurutnya, toko tersebut dulunya hanya sebagai tempat sementara untuk menaruh sekaligus menjual pakaian perempuan, karena Pasar Kliwon Kudus, tempat suaminya berjualan terbakar.

“Sebenarnya kios milik suamiku aman dan tidak terbakar sama sekali. Namun peraturannya, meski tidak terbakar, kios yang aman tetap tidak diperbolehkan untuk berjualan. Oleh sebab itulah, barang dagangan suamiku ditaruh dan dijual di Rumah Firdausi,” ungkapnya.

Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, setelah Pasar Kliwon Kudus selesai dibangun dan para pedagang sudah diperbolehkan berdagang, suaminya juga mulai berdagang kembali di kiosnya yang berada di blok B Pasar Kliwon. Setelah suaminya berjualan kembali di kios pasar, Rumah Firdausi tetap dipertahankan.

“Meski dulu hanya buat tempat sementara, namun karena pelanggan yang datang ke Rumah Firdausi juga sudah banyak, jadi dipertahankan. Bahkan sebulan bisa menjual ratusan aneka jenis pakaian,” ungkap Nurul.

Dia mengatakan, di toko Rumah Firadusi hanya menjual pakaian perempuan di antaranya baju atasan yang dia jual mulai harga Rp 55 ribu sampai Rp 130 ribu. Rok panjang dia banderol antara harga Rp 90 ribu hingga Rp 155 ribu.  Ada juga celana panjang yang dilepas dengan harga Rp 90 ribu sampai Rp 135 ribu.

Selain pakaian tersebut, kata Nurul, di Rumah Firdausi juga menyediakan aneka baju Muslim di antaranya gamis yang dia banderol mulai Rp 125 ribu sampai Rp 500 ribu per pcs. Mukena dia jual antara harga Rp 75 ribu hingga Rp 350 ribu. Menurutnya, di Rumah Firdausi juga menyediakan aneka hijab, dari kerudung simpel hingga hijab Himan Syar’ i pun ada.

“Saat ini Toko Rumah Firdausi juga sedang ada promo obral aneka produk hijab dari mulai harga Rp 3 ribu dan Rp 10 per pcs. Sedangkan untuk hijab yang tidak diobral, dijual antara harga Rp 20 ribu sampa Rp 160 ribu per pcs,” jelasnya.

Dia mengungkapkan selain menjual ecer Rumah Firdausi juga melayani pembelian grosir. Dan menurutnya saat ini sudah memiliki pelanggan, tidak hanya di Kudus melainkan juga daerah sekitar di antaranya, Jepara, Pati serta Juwana dan Rembang.

“Beberapa terakhir aku juga mulai menawarkan berbagai macam jenis pakaian melalui online. Dan  semoga dengan menjual melalui media sosial produk pakaianku makin diminati dan usahaku makin berkembang,” harapnya.

- advertisement -

Lulus Kuliah Tak Dapat Kerja, Tata Buka Tutorial di Youtube, Kini Usahanya Laris Manis

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di Dusun Jetak Kembanga RT 2, RW 4, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah rumah lantai dua berpagar warna biru. Di satu ruangan, terlihat seorang perempuan mengenakan kaus sedang menyambung bulu mata. Perempuan tersebut bernama Merita Putri Septia (22), pemilik usaha jasa kecantikan sambung bulu mata (eyelash extension).

Tata menyambung bulu mata 2017_3_16
Tata menyambung bulu mata. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Tata itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha sambung tersebut. Dia mengungkapkan, memulai usaha jasa kecantikan itu, karena setelah lulus kuliah dia belum juga mendapatkan pekerjaaan, yang sesuai dengan ilmu pendidikan yang didapatkannya semasa kuliah.

“Karena belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan, aku mulai mencari kerja part time yang menghasilkan uang. Dan karena aku suka menyambung bulu mataku sewaktu masih kuliah, iseng-iseng aku menonton tutorial pemasangan bulu mata di Youtube,” ungkap perempuan lulusan jurusan Hubungan Internasional, Universitas Diponegoro, beberapa waktu lalu.

Anak pertama dari dua saudara itu mengatakan, setelah menonton tutorial tersebut, dirinya mengaku tertarik membuka jasa layanan penyambungan bulu mata. “Aku belajar selama sepekan. Dan setelah merasa bisa, aku praktik menyambung bulu mata asli. Orang yang aku buat praktik pada waktu itu mamaku. Setelah aku merasa praktek penyambungan bulu mata mamaku hasilnya bagus dan rapi. Aku nekat menawarkan hasil karyaku tersebut kepada banyak orang melalui Instagram, akunku meryylash,” ungkapnya.

Dia menuturkan, setelah mempromosikan hasil karyanya menyambung bulu mata lewat media sosial, selang beberapa hari, order mulai berdatangan. Meskipun baru berjalan tiga bulan dia mengaku sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya di Kudus melainkan juga dari Semarang.

Dia mengungkapkan, saat ramai dirinya bisa menerima order penyambungan bulu mata hingga empat orang. “Untuk pemasangan aku mengikuti kemauan para pelanggan. Mereka bisa datang dan pemasangan di rumahku, atau aku yang datang ke rumah mereka. Aku itu orangnya fleksibel kok,”ujarnya sambil tersenyum.

Dia menjelaskan, eyelash extension ada beberapa jenis, di antaranya, natural lash extension (single lash) dia tarif Rp 250 ribu. Untuk dolly lash extension, dibanderol Rp 275 ribu. Sedangkan jenis glamour lash extension dibebankan pada pelanggan sebesar Rp 300 ribu, serta russian volume, (2D, 3D, 4D, 5D) Tata menarif Rp 350 ribu.

Menurutnya, selain jenis rusian volume, semua helai bulu mata asli ditempel dengan satu ekstensi. Sedangkan rusian volume sehelai bulu mata asli bisa ditempel dua hingga enam helai ekstensi. Dia juga melayani retouch, yakni perawatan untuk bulu mata, yang tarifnya mulai Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu.

“Aku bersyukur usaha penyambungan bulu mata yang awalnya hanya untuk mengisi waktu senggang sebelum dapat pekerjaan, diminati banyak orang, dan sudah memiliki banyak pelanggan. Kini aku pun fokus untuk mengembangkan usahaku tersebut dan tidak berfikir cari kerja lagi. Aku berharap studioku cepat jadi dan pelangganku makin banyak lagi, hingga usahaku makin dikenal serta makin diminati,” harapnya.

- advertisement -