Beranda blog Halaman 1912

Toko Milik Mantan Atlet Voli di Kudus Ini Raup Omzet Rp 7 juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Beberapa orang tampak sedang memilih sepatu di toko bercat kuning di tepi Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam toko tampak beberapa etalase berisi puluhan pasang sepatu olahraga untuk pria dan wanita. Selain sepatu, juga tampak beberapa pakaian khusus olahraga. Tempat tersebut yakni Toko Agung Sport yang mampu menghasilkan omzet Rp 7 juta sehari.

Agung (kiri) sedang melayani pembeli di Toko Agung Sport 2017_3
Agung (kiri) sedang melayani pembeli di Toko Agung Sport. Foto: Rabu Sipan

Menurut Indah Kholidah (29), istri Agung Pribadi (32), perintis usaha toko tersebut menungkapkan, usaha penjualan aneka perlengkapan olahraga saat ramai memang mampu menghasilkan mozet Rp 7 juta sehari. Dan saat sepi paling hanya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 2 juta sehari.

Baca juga: Tak Ingin Terpuruk Usai Pensiun dari Atlet Voli, Agung Buka Toko Olahraga 

“Namanya orang jualan itu ada pasang serta surut dalam penjualan. saat musim sepi begini bisa mendapatkan omzet Rp 2 juta itu sudah bagus. Namun saat ada turnamen olahraga khususnya bola voli aku mampu meraih omzet hingga tiga kali lipatnya. Bahkan aku sering kehabisan stok dagangan,” ujar perempuan yang karab disapa Indah kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Perempuan yang berasal dari Desa Prawoto, Pati, itu mengungkapkan, tokonya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan, tidak hanya di Kudus melainkan juga sudah merambah daerah sekitar di antaranya Pati, Jepara, Rembang, Blora, Dan Purwodadi. Bahkan menurutnya orang Demak yang banyak berlangganan di tokonya tersebut.

“Pokoknya hampir orang seKaresidenan Pati yang gemar bola Voli dan suka dengan sepatu maupun barang original pasti berlangganan di Toko Agung Sport. Karena selain harga terjangakau barangnya juga berkualitas,” ungkapnya sembari tetap melayani pembeli.

Dia mengungkapkan, tokonya tersebut menyediakan aneka perlengkapan olah raga original impor maupun produksi lokal. Di antaranya sepatu untuk bola voli original impor dengan merk Asics dan Mizuno yang dia jual mulai Rp 400 ribu sampai Rp 650 ribu sepasang. Selain itu juga tersedia sepatu import merk lainnya, yakni Nike, Adidas, Reebok, Puma dan lain sebagainya yang dibanderol mulai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu sepasang.

Menurutnya, selain sepatu olahraga di Toko Agung Sport, juga menyediakan perlengkapan olahraga lainnya, di antaranya, aneka kaus jersey lokal yang dilepas dengan harga Rp 40 ribu dan jersei greet original dia banderol mulai Rp 50 ribu sampai Rp 110 per pcs. ada juga celana pendek untuk olah raga yang dihargai mulai Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu per pcs. dan celana panjang dia jual mulai harga Rp 50 ribu hingga Rp 110 ribu per pcs.

“Selain menjual di toko yang buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. aku juga memasarkan aneka daganganku tersebut melalui onlin,” ungkap perempuan yang baru dikaruniai satu anak tersebut.

- advertisement -

Tampil di Fasbuk, Gado-Gado Coustik Aransemen 6 Puisi Sapardi Djoko Damono Menjadi Lagu

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sorak-sorai penonton menggema di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) saat Gado-Gado Coustik usai tampil menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono. Mereka meminta grup musik tersebut tidak turun panggung, dan tampil kembali membawakan puisi yang menjadi lagu, dan sajak-sajak yang dimusikalisasi.

Gado-Gado Coustic Kudus 2017_3_22
Gado-Gado Coustic Kudus tampil di acara Fasbuk. Foto Ahmad Rosyidi

“lagi, lagi, lagi,” teriak penontong yang hadir dalam acara yang diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk) tema “Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono”, Senin (20/3/2017) malam.

Baca juga: Ririn Terkesan Bacakan Sajak Sapardi Djoko Damono Bersama Sastrawan Kudus

Lilik Nur Cahyono (23), satu diantara 10 personil Gado-Gado Coustik, mengaku puas dengan antusias penonton yang hadir di acara tersebut. Lilik, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang persiapan Gado-Gado Coustik untuk pentas di acara tersebut. Dia mengaku butuh waktu dua pekan untuk persiapan tampil. Meski ada kendala, mereka berhasil mengaransemen enam puisi menjadi lagu dan satu musikalisasi puisi.

“Kami sempat kesulitan, karena musik Keroncong berbeda dengan genre yang lain. Kadang ada alat musik yang sulit masuk ke dalam nada. Tapi setelah latihan dua pekan semua berjalan dengan baik,” Jelas pria asli Jepara itu.

Dia juga menjelaskan, Gado-Gado Coustik berdiri sejak kurang lebih satu tahun yang lalu, tepatnya 2 Februari 2016. Tetapi nama awal adalah Keroncong Dangdut Gabungan Anak Teater (Cangdung Gak Teter). Karena tidak semua personel dari anggota teater, setelah berjalan dua bulan kemudian mereka menggati nama menjadi Gado-Gado Coustik.

“Setiap pentas kami ada 10 pemain. Tetapi saat ada yang tidak bisa ikut kami juga ada personel cadangan. Awalnya kami membentuk kelompok musik dadakan saat ada acara live musik Teater Obeng. Karena merasa cocok, jadi berlanjut,” terang anggota Teater Obeng Fakultas Teknik UMK itu.

Widya Astuti Ningrum (43), selaku narasumber dalam acara tersebut, mengaku kagum dan senang dengan penampilan Gado-Gado Coustik. Menurutnya, mereka adalah pemuda yang kreatif dan memang diperlukan untuk memberi warna baru di kesenian di era sekarang. Karena dengan puisi saja kemungkinan banyak penonton yang merasa jenuh.

“Mereka hebat, kreatif, saya salut dengan mereka. Coba tadi hanya baca puisi, pasti kurang dari satu jam penonton sudah jenuh. Karena sekarang dibutuhkan inovasi dangan corak yang berbeda mengikuti perkembangan zaman. Puisi dijadikan lagu boleh-boleh saja, karena medianya sama, yaitu bahasa,” tambah ibu tiga anak itu.

Edi Sukirno (31), penanggung jawab Fasbuk, menambahkan, konsep awal di sudut kanan panggung rencananya ada tiga orang penari, dua wanita dan satu pria. Karena dua penari wanita sakit, akhirnya di sudut kiri panggung terpaksa kosong.

“Kemarin waktu latihan lancar, mereka juga sudah ikut geladi bersih. Tapi menjelang acara malah dua sakit. Kalau pria saja yang menari rasanya kurang hidup, jadi kami batalkan,” ungkap  itu.

- advertisement -

Irit dan Bertenaga, Grand Max PU Laku Keras di Zirang Daihatsu Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Sejumlah kendaraan terpakir di halaman diler resmi Zirang Daihatsu Kudus. Di dalam, beberapa orang tampak berbincang sambil menunggu kendaraannya selesai diservis. Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian biru turun dari lantai dua. Dia adalah Ina (36), Sales Counter PT Karya Zirang Utama. Di diler tempat dia bekerja, Daihatsu Grand Max Pickup menjadi produk yang paling banyak diburu pembeli.

Daihatsu Grand Max 2017_3_21
Daihatsu Grand Max 2017. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani calon pembeli melalui handphone, Ina yang mengaku sudah 12 tahun bekerja sana, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang alasan pelanggan memilih mobil tersebut. Dia menjelaskan, mobil itu memiliki performa mesin yang lebih bertenaga dan konsumsi bahan bakar yang efisien. Selain itu, mobil ini memiliki bak lebih luas dan mampu memuat beban hingga dua ton.

Baca juga: 

“Kelebihannya banyak. Dari segi bak, Grand Max Pickup jelas lebih luas dibanding produk kompetitor yang lain di kelas yang sama. Daya tampung muatan lebih banyak, kuat, suspensi lembut dan jok depan bisa diisi tiga penumpang. Tidak hanya itu, konsumsi bahan bakar yang terkenal irit serta bertanaga. Ini menjadi alasan kenapa mobil ini banyak disukai customer kami,” ungkap Ina sambil memperlihatkan spesifikasi mobil.

Ina mengungnkapkan, Grand Max PU pada kedua sisinya sudah dibekali semacam pintu sliding yang bisa mempermudah akses keluar dan masuk barang. Selanjutnya, bodi pada mobil sangat aerodinamis, interior cukup bagus, sehingga nyaman sewaktu dikemudikan. “Yang pasti, dengan mobil ini, pengemudi akan merasakan sensasi layaknya mengendarai mobil dengan ukuran sedang,” ujarnya.

Dia memberitahukan, varian warna yang ditawarkan dari mobil yang memiliki ukuran panjang sekitar empat meter serta lebar dan tinggi lebih dari satu setengah meter terbagi menjadi enam. Di antaranya ada warna biru, hitam, biru tua, silver sekaligus warna putih dan abu-abu yang sekarang digandrungi pelanggan. “Pelanggan kami ada Karesedenan Pati, tapi tak jarang juga ada yang dari Semarang,” ungkapnya.

Terkait dengan tipe dan harga, dia menambahkan, ada tiga pilihan. Untuk Grand Max PU dengan Tipe 1.3 STD/3 W dijual seharga sekitar Rp 124 juta, Tipe 1.5 STD/3 W berkisar harga Rp 129 juta dan untuk Tipe 1.5 PS AC dijual sedikit lebih mahal dengan harga sekitar Rp 136 juta.

“Perbedaannya, kapasitas silinder ada yang 1.300 cc, ada juga yang 1.500 cc. Kalau penjualan, sebanyak 135 unit mobil per bulan yang terjual untuk semua produk Daihatsu. Grand Max Pickup PU mendominasi angka penjualan kami, antara 60 hingga 70 unit terjual per bulan,” tambah Ina.

- advertisement -

Tak Ingin Terpuruk Usai Pensiun dari Atlet Voli, Agung Buka Toko Olahraga

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi timur Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, tampak toko berwarna kuning. Di dalamnya terlihat puluhan sepatu olahraga terjajar rapi di dalam etalase. Selain itu tampak pula puluhan kaus terpajang sesuai mereknya. Di toko tersebut terlihat seorang pria memakai celana jeans melayani pembeli. Pria tersebut bernama Agung Pribadi (32), mantan atlet voli Kudus yang kini membuka usaha menjual perlengkapan olahraga.

Agung, mantan atlet Kudus berjualan perlengkapan olahraga
Agung, mantan atlet Kudus berjualan perlengkapan olahraga. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya pria yang akrab disapa Agung itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang perjalanan mendirikan uasahanya itu. Dia mengungkapkan, setelah pensiun dari voli pada 2012, dirinya menjadi pelatih voli. Selain itu juga bekerja menjadi satpam di perusahaan rokok. Dia juga merintis usaha menjual perlengkapan olahraga, khususnya sepatu original untuk bola voli, untuk sambilan.

“Karena dulunya aku atlet bola voli, jadi yang aku jual kebanyakan sepatu dan kaus tim bola voli. Modal untuk membuka usaha tersebut aku kumpulkan sejak remaja semasa masih aktif menjadi atlet. Karena selama aktif menjadi atlet, aku juga sudah mulai berjualan sepatu voli original melalui SMS,” ungkap pria yang menggemari voli sejak duduk di sekolah menengah atas (SMA) tersebut.

Pria yang berasal dari Desa Prawoto, Pati, itu mengungkapkan, selain keuntungan berjualan sepatu, modal untuk membuka usaha tersebut juga berasal dari uang saku selama menjadi atlet voli. Selain itu modal juga dia kumpulkan dari sebagian gaji menjadi satpam. Demi bisa membuka toko yang diberi nama Agung Sport tersebut, dia mengaku mengeluarkan modal uang Rp 15 juta, dan hasil penjualan dua unit sepeda motor miliknya.

“Setelah tokoku buka, aku mengabari semua teman dan kolega sesama atlet voli termasuk anak didiku bahwa aku memiliki toko menjual aneka sepatu impor termasuk sepatu voli. Dan alhamdulillah responnya bagus, mereka sering berkunjung dan membeli sepatu voli original di toko Agung Sport miliku. Bahkan tak jarang mereka belinya sekalian untuk satu tim,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, dia mengaku tidak hanya menjual sepatu, tapi juga menjual aneka perlengkapan olahraga lain. Di antaranya, seragam bola voli maupun sepak bola, celana sport panjang dan pendek, jaket dan lain sebagainya. Dia mengungkapkan, kini tokonya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan, tidak hanya di Kudus melainkan juga seluruh Karesidenan Pati.

“Toko Agung Sport miliku itu merupakan toko satu-satunya di Karesidenan pati yang menjual sepatu olahraga impor serta barangnya juga original. Oleh sebab itu, sepatu dan perlengkapan olah raga dari Toko Agung Sport dijamin kualitasnya serta keawetannya,” kata Agung

Menurutnya, sejak tokonya tersebut memiliki banyak pelanggan dirinya punya pemasukan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga tidak menggantungkan hanya dari gajinya menjadi satpam. Bahkan dari usaha penjualan aneka perlengkapan olah raga tersebut dia mengaku mampu membeli satu unit mobil Avanza.

“Aku berharap usahaku makin berkembang serta tetap laris, dan semoga saja dalam waktu dekat, keinginanku untuk membuka distro pakaian bisa terlaksana,” harapnya yang mengaku pengelolaan toko tersebut dibantu oleh istrinya.

- advertisement -

Ririn Terkesan Bacakan Sajak Sapardi Djoko Damono Bersama Sastrawan Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan penonton tampak menikmati alunan musik Keroncong di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Senin (20/3/2017) malam. Musik tersebut merupakan bagian dari acara yang digelar Forum Apresiasi Seni Dan Budaya Kudus (Fasbuk) rutin setiap bulan. Kali ini, Fasbuk membedah sajak-sajak karya Sapardi Djoko Damono dengan iringan musik oleh Gado-Gado Coustik dan Sikustik.

Ririn (kiri) membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono bersama Widya Hastuti Ningrum
Ririn (kiri) membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono bersama Widya Hastuti Ningrum. Foto: Ahmad Rosyidi

Saat diskusi berlangsung, seorang wanita yang duduk di antara ratusan penonton maju ke panggung dan mengajak narasumber acara, Widya Hastuti Ningrum, untuk membaca puisi bersama. Wanita itu yakni Ririn (38).

“Saya ingin saat pulang mendapat ilmu baru, jadi saya ikut baca puisi bareng narasumber, sekaligus belajar. Sangat disayangkan kalau diacara sebesar ini penonton yang datang tetapi pulang tidak mendapat sesuatu yang baru,” ungkap Ririn kepada Seputarkudus.com, dalam acara yang didukung Djarum Foundation Bakti Budaya bekerjasama dengan HMP SI.

Menurut Ririn, satu tahun ini dirinya rutin menghadiri acara Fasbuk, kecuali saat ada hal-hal yang membuatnya tidak bisa hadir. “Satu tahun ini saya rutin datang di acara Fasbuk. Biasanya dengan teman-teman komunitas seni dan budaya Tali Jiwa, sama anak dan suami juga,” terang warga Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

Sementara itu, Widya yang didaulat untuk membedah sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, mengungkapkan, sejumlah simbol yang terdapat dalam sajak yang dibedah. “Diserap akar pohon bunga itu, kalimat dalam sajak ini menyirat lambang. Di sini ternyata penantian terbalaskan, karena ada kalimat terserap pohon bunga itu, sebagai simbol,” ujar guru MAN 2 Kudus itu di atas panggung.

Dia menjelaskan, sebenarnya simbol itu dibuat oleh masyarakat. Dia menganalogikan, selembar kain yang diinjak, tak akan berdampak apapun jika tak memuat simbol atau lambang. Hal berbeda akan terjadi, saat kain yang diinjak berwarna merah dan putih. Karena kain tersebut telah menjadi lambang negara. Begitulah sajak-sajak Djoko Damono, yang menyelipkan lambang atau simbol yang menyiratkan makna-makna.

Menurutnya, kegiatan Fasbuk sangat menarik dan akan terus dia dukung. Dia ingin terus memotivasi generasi muda di Kudus untuk terus meningkatkan apresiasi sastra dan budaya. Dia mencontohkan Gado-Gado Coustik, yang mengaransemen puisi menjadi lagu. Sehingga sajak-sajak bisa dinikmati pemuda masa kini.

“Saya sangat senang forum-forum seperti ini. Pasti saya akan terus mendukung dan memotivasi agar pemuda terua berkreasi. Biarkan mereka berkembang dengan corak masa kini. Seperti Gado-Gado, bagus bisa mengaransemen puisi menjadi lagu yang lebih bisa dinikmati pemuda zaman sekarang,” jelas skretaris Keluarga Penulis Kudus (KPK) itu.

Edi Sukirno (31), penanggungjawab Fasbuk, menjelaskan, kegiatan kali ini tidak seramai biasanya, karena hujan turun menjelang acara. Teman-temannya yang biasa hadir juga banyak yang memberi kabar tidak bisa datang. “Banyak teman-teman yang izin tidak bisa hadir karena hujan. Alhamdulillah masih cukup ramai, dan acara juga berjalan lancar,” tambah Neno, sapaan akrabnya.

- advertisement -

Astra Daihatsu Sigra 2017, Mobil MurahTujuh Penumpang yang Memiliki Banyak Keunggulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Mobil warna putih terpajang di sudut barat diler resmi Daihatsu Zirang Kudus, Jalan AKBP R Agil Kusumadya Nomor 22, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Mobil berkabin lapang lapang dengan kapasitas tujuh penumpang tersebut merupakan produk terbaru Daihatsu kategori low cost green car (LCGC). Mobil tersebut tak lain Astra Daihatsu Sigra, mobil murah untuk menjwab kebutuhan masyarakat.

Daihatsu Sigra 2017_3_21
Daihatsu Sigra 2017 Diler Daihatsu Zirang Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani calon pembeli yang datang, Ina (36), Sales Counter PT Karya Zirang Utama, sudi berbagi penjelasan tentang keunggulan yang dimiliki mobil tersebut. Dia menjelaskan, meski masuk dalam model LCGC, mobil yang berukuran panjang sekitar empat meter itu dibekali berbagai kelebihan.

“Kebihannya, dari segi harga pasti jauh lebih murah dibandingkan dengan mobil sejenis. Terbukti, harga hanya dengan harga sekitar Rp 116 juta, mobil ini mampu memuat tujuh penumpang. Selain itu Sigra juga termasuk kategori mobil ramah lingkungan, karena konsumsi bahan bakarnya lebih irit. Ini sebagai jawaban kebutuhan masyarakat,” ungkap Ina kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Dia melanjutkan, kelebihan lain pabrikan mobil asal Jepang itu yakni memiliki bentuk yang stylish, memiliki parking sensor baik depan maupun belakang, serta pada bagian kunci dan remot sudah dilengkapi dengan fitur anti maling. Tidak hanya itu, mobil juga dilengkapi sebuah fitur dual supplemental restrain system (SRS) air bag. Sehingga pengemudi dan penumpang makin aman terlindungi. “Sangat cocok memang bagi kalangan keluarga,” ujarnya.

Terkait dengan harga, dia memberitahukan, setiap unit mobil yang dijual berbeda-beda, tergantung tipe kendaraan maupun pengoperasiannya. Daihatsu Sigra Tipe 1.0 D Manual Trasmission (MT) dijual seharga Rp 116,5 juta, Tipe 1.0 M MT seharga Rp 125,5 juta, Tipe 1.2 X MT seharga Rp 135,05 juta dan untuk Automatic Transmission (AT) dijual seharga Rp 148,15 juta.

“Sebenarnya masih banyak tipe yang lain, tapi lebih jelasnya masalah harga bisa datang saja di diler kami. Untuk varian warna ada enam, hitam, silver, biru, abu-abu, merah dan juga warna putih yang saat ini banyak diminati pelanggan kami,” ungkapnya.

Ditambahkan, pelanggan yang paling banyak membeli mobil Sigra datang dari wilayah Kudus. Namun tak jarang juga ada pembeli yang dari Pati, Semarang, Demak, Blora, Jepara dan juga Rembang. “Pelanggan kami menyeluruh hingga Karesidenan Pati. Kalau penjualan, khusus mobil Sigra paling kisaran 20 hingga 30 unit mobil per bulan,” tambahnya.

- advertisement -

Sepekan Pendaftaran Duta Wisata 2017 Dibuka, Baru Ada 3 Calon Peserta

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Lembaran kertas yang ditaruh di atas map biru tampak disiapkan di atas meja ruangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus. Kertas berkolom tersebut di antaranya tercantum nama, alamat dan nomor telepon guna mendaftar Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017. Beberapa pegawai dinas nampak standby di meja pendaftaran. Sesekali mereka melayani beberapa siswa yang datang untuk mendaftar.

Pendaftaran Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017_3_21
Pendaftaran Duta Wisata Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Sri Wahyuningsih,Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017 pendaftarannya sudah dibuka sejak Senin (6/3/2017), sepekan yang lalu. Menurutnya, hingga sepekan setelah dibuka, baru ada tiga calon peserta yang sudah mendaftar. “Biasanya pendaftaran mulai ramai menjelang hari-hari terakhir,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com di ruangannya, Senin (20/3/2017).

Dirinya menjelaskan, kegiatan tahunan yang diadakan Disbudpar nantinya akan diikuti 40 peserta. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan sebanyak 20 pasangan. Tahap selanjutnya, akan dipilih 12 pasangan yang melaju ke tahap Grand Final. “Grand Final akan dilaksanakan tanggal 28 April 2017 di Pendapa Kabupaten Kudus,” tuturnya.

Agenda Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus

  • Senin (17/4/2017): Temu teknik
  • Selasa (18/4/2017): ujian wawancara
  • Rabu (19/4/2017): ujian tertulis
  • Kamis (20/4/2017): uji keterampilan atau bakat
  • Rabu (26/4/2017): kirab dari halaman Gor Bung Karno menuju pendapa
  • Jumat (28/4/2017) jam 19.30 WIB: Grand Final di Pendapa Kabupaten Kudus

Nining, begitu dirinya akrab disapa, melanjutkan, penutupan pendaftaran Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Kudus tanggal 31 Maret 2017. Pendaftaran dapat dilakukan di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus hari Senin hingga Jumat pada jam kerja. kegiatan Pemilihan Duta Wisata dilakukan untuk mencari bibit unggul guna membantu promosi wisata yang ada di Kudus.

Selain itu, kata Nining, mereka juga akan menjadi perwakilan Kudus pada ajang Duta Wisata tingkat Jawa Tengah. “Yang menang nanti akan dikontrak selama satu tahun untuk mengikuti even-even. Selain itu juga akan membantu promosi wisata. Semakin banyak promosi akan semakin banyak kunjungan,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan dirinya sebenarnya lebih menyasar kalangan mahasiswa. Menurutnya, kalangan mahasiswa sangat berpotensi dapat unggul di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dirinya juga memberikan syarat usia bagi para pendaftar yakni usia minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun. Tinggi badan juga masuk dalam syarat yakni wanita 165 sentimeter dan 170 sentimeter untuk laki-laki.

Selain itu syarat yang diberikan yakni mampu menguasai Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Pendaftar juga diharuskan membuat karya tulis tentang Pembangunan Pariwisata di Kabupaten Kudus dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris empat sampai enam halaman.

- advertisement -

Deni Keluar Kerja di Bank dan Pilih Membuat Dandang

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Di tepi timur Jalan tanjung Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah kios dengan pintu terbuka. Di dalamnya terlihat belasan dandang yang berjajar dan tersusun rapi. Di depan kios tampak seorang pria memakai kaus hitam sedang melipat plat aluminium stainless sesuai pola. Pria tersebut bernama Deni Irianto (35), pembuat dandang dan aneka perabot dapur.

Deni, pembuat dandang dan perabot dapur berbahan aluminium stainless
Deni, pembuat dandang dan perabot dapur berbahan aluminium stainless. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Deni itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, sebenarnya usaha pembuatan aneka perabot dapur itu merupakan usaha mendiang ayahnya. Namun sejak ayahnya meninggal pada 2004, dia yang meneruskan usaha tersebut.

“Sebenarnya saat itu aku sudah bekerja di satu bank swasta di Kudus. Namun karena semua saudaraku tidak ada yang mau meneruskan usahanya bapak, aku terpaksa keluar dan melanjutkan usaha ini. Sayang juga kan, sudah punya banyak pelanggan gak ada yang ngelanjutin,” ungkap Deni sambil memukul stainless menggunakan palu karet.

Warga Desa Kramat, Kota, Kudus itu mengatakan, sebenarnya dirinya bergelut dengan pembuatan perabot itu sejak masih duduk kelas satu SMA. Pada saat  itu, setiap pulang sekolah dia mengaku selalu membantu bapaknya untuk membuat perabot pesanan pelanggan.

Setelah lulus dia mengaku tidak melanjutkan sekolah, dan bekerja di satu bank perkreditan rakyat (BPR) di kudus selama empat tahun. Sejak bekerja di bank, dia sudah jarang membantu ayahnya lagi membuat dandang. “Meskipun sudah lama tidak membuat dandang, aku tetap harus siap saat diberi tanggung jawab melanjutkan usaha yang dirintis ayahku sejak tahun 1960 ini,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai empat anak itu menuturkan, sejak usaha tersebut dia kelola, para pelanggan ayahnya dulu tetap berlangganan hingga sekarang. Menurutnya para pelanggannya tidak hanya datang dari Kudus, melainkan juga ada yang dari Pati dan Jepara.

Dia merinci sejumlah perabot dapur yang diproduksi beserta harganya. Untuk dandang dia jual mulai Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu, oven roti dijual mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan mixer roti dia jual sekitar Rp 3 juta, mesin bubut bulu ayam dihargai Rp 2 juta. Perabot bakaran sate dia jual seharga Rp 150 ribu dan timbo tahu dilepas dengan harga lebih murah yakni Rp 18 ribu per pcs.

“Selain perabot tersebut aku juga menerima pesanan aneka perabot dan barang yang terbuat dari plat aluminium stainless. Aku juga menerima servis panci yang aku tarif antara Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, dalam sebulan bisa menjual sekitar 15 pcs dandang. Sedangkan untuk timbo tahu dia mengaku sudah punya pelanggan tetap yang selalu dia kirimi sekitar 300 pcs sebulan. “Untuk oven, mixer roti serta mesin bubut bulu ayam aku tidak menyetok. Aku hanya membuat setelah ada order,” ujar Deni yang mengaku tempat usahanya buka setiap hari.

- advertisement -

Didik Merasa Beruntung, pada Ulang Tahun Eagle Coffee Dapat Secangkir Kopi Muria

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di tepi Jalan Jendral Sudirman, Desa Barongan, Kota Kudus, tampak sejumlah orang sedang menikmati kopi di halaman parkir. Di sebelah kiri pintu masuk terlihat sebuah spanduk tertulis Eagle Coffee. Tak lama datang seorang pria dan wanita mendekati barista dan mengambil dua gelas kopi.

embagian kopi gratis Eagle Coffee Kudus 2017_3_20
embagian kopi gratis Eagle Coffee Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai mendapat kopi, mereka duduk menepi di sebuah tenda. Pria itu yakni Didik Sumadi (52), yang datang bersama istrinya karena mendengar ada kopi gratis. Selain itu dia juga menunggu anaknya yang sedang jalan-jalan bersama temannya di alun-alun, saat Car Free Day.

Didik, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, dirinya datang karena mendengar ada kopi geratis. Menurutnya, acaranya sangat bagus dan kopi muria sangat nikmat. Dia sangat mengapresiasi dan mendukung kedai kopi yang ada di Kudus.

“Setiap pagi saya pasti minum kopi. Kopi Muria ini juga sangat nikmat, jadi bangga sebagai warga Kudus memiliki hasil bumi seperti ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada Eagle Coffee yang ulang tahun pertama. Jaya terus buat kedai kopi di Kudus. Nanti malam saya mau ke sini lagi, menikmati musik sambil minum kopi,” ungkap pria dua anak itu, Minggu (19/3/2017) pagi.

Achmad Maulasofa (29), ketua panitia kegiatan, mengungkapkan, kegiatan bagi-bagi kopi gratis diselenggarakan rangkaian memperingati hari ulang tahun Eagle Coffee yang pertama. Dia mengajak lima kedai kopi di Kudus untuk ikut memeriahkan acara tersebut. Selain itu dia juga ingin mempelopori coffee shop di Kudus.

“Kami juga ingin menjadi pelopor coffee shop di Kudus. Dalam memeriahkan acara ini kami bersama lima kedai kopi yang ada di Kudus membagikan kopi gratis. Selain kopi, ada juga menu bubur ayam Eagle Coffee,” terang Sofa.

Dia juga menambahkan, selain acara bagi-bagi kopi gratis, malam harinya ada acara musik akustik dan stand up comedy di Eagle Coffee. Dalam mempersiapkan acara, Sofa mengaku membutuhkan waktu selama satu bulan. “Semua kegiatan lancar, tidak ada halangan. Antusiasme masyarakat juga bagus,” jelas warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Ellen Trisnawati Gunarja (62), satu di antara dua orang pemilik Eagle Coffee, menambahkan, Eagle Coffee menawarkan menu kopi dan makanan kelas menengah ke bawah. Berbeda dengan menu-menu yang ada di Garuda Resto, yang menawarkan menu kelas menengah ke atas.

“Untuk Eagle Coffee saya sengaja menawarkan menu dengan harga kelas menengah ke bawah, dengan kualitas yang bagus tentunya. Sedangkan Garuda Resto menawarkan menu dengan harga kualitas menengah ke atas. Meski begitu harga masih terjangkau dengan kualitas yang memuaskan,” tambahnya.

 

- advertisement -

Wow, di Toko Ini Ada Sepeda yang Harganya Rp 33 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan Jendral Ahmad Yani nomor 36, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sebuah ruko yang di dalamnya terdapat sejumlah sepeda yang terpakir rapi. Tidak jauh dari area parkir sepeda, tampak berbagai aksesoris sepeda maupun spare part terpajang di atas etalase kaca. Terlihat juga ada dua orang pria sedang memperbaiki sepeda di tempat pelayanan bengkel. Ruko tersebut yakni diler resmi penjualan sepeda bernama Rodalink.

Sepeda Polygon di Diler Rodalink Kudus 2017_3_20
Sepeda Polygon di Diler Rodalink Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani calon pembeli yang terlihat sedang memilih sepeda, Dwi Prabowo (30), selaku Kepala Cabang Rodalink Kudus, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com. Di dilernya itu produk sepeda yang paling banyak terjual yakni Polygon Xtrada. Produk ini ada berbagai varian, di antaranya Baik Xtrada 6, Xtrada 5, Xtrada 4 hingga tipe Xtrada 3.

Menurutnya, kelebihan yang ditonjolkan dari sepeda itu terlihat mewah dan gagah, sehingga nyaman sewaktu dikendarai. “Untuk pembeli, kebanyakan dari Kudus. Tak jarang juga ada yang dari Demak, Pati maupun Jepara,” ujarnya.

Dwi bertempat tinggal di Kota Semarang, mengatakan, harga yang ditawarkan ke setiap pelanggan berbeda-beda, tergantung tipe yang dibeli. Misalnya Sepeda Polygon Xtrada, dia jual kisaran harga Rp 3,3 juta hingga Rp 6,5 juta. Untuk Polygon Syncline dia banderol dengan harga jauh lebih mahal, kisaran harga Rp 19,7 juta hingga Rp 33 juta.

“Kalau aksesoris seperti apparel meliputi helm, kaos, celana, sepatu serta kaos tangan cukup terjangkau, kisaran harga Rp 128 hingga Rp 2,5 juta, tapi kalau suku cadang beda lagi harga yang kami berikan. Sedangkan untuk spare part ada yang mulai dengan harga Rp 19 ribu, ada juga yang mencapai harga Rp 20 juta,” ungkapnya.

Dwi menjelaskan, diler yang berdiri sejak pertengahan 2010 itu tidak hanya menjual sepeda saja, melainkan juga menyediakan berbagai kebutuhan sepeda dan jasa servis. Hal itu dilakukan, katanya, sebagai sarana penunjang sebuah usaha.

“Diler kami menjual berbagai varian sepeda. Seperti sepeda gunung, sepeda balap, sepeda lipat, BMX, hybrid, sepeda mini maupun sepeda untuk anak-anak yang 80 persen di antaranya kami menjual merek Polygon. Selain itu, kami juga menjual aksesoris pendukung sepeda, spare part serta menyediakan bengkel, misal pelanggan kami ingin melakukan servis,” ungkap Dwi yang mengenakan pakaian serba hitam sambil berdiri.

 

Dia menambahkan, terkait dengan pembayaran sepeda, pihak dia memberikan dua alternatif bagi pelanggan. Ada yang bisa dilakukan secarai tunai, ada juga yang bisa dibayar melalui sistem kredit. Menurutnya, kredit bisa dilakukan dengan catatan harga sepeda yang dia jual minimal seharga Rp 1,5 juta.

“Untuk penjualan, sebulan paling 100 unit sepeda yang terjual. Dimana 20 hingga 30 di antaranya Polygon Xtrada. Kami juga memberikan garansi bagi setiap pelanggan yang membeli. Berupa garansi rangka sepeda selama lima tahun dan service gratis tiga kali selama setahun,” tambah Dwi.

- advertisement -

Indah Ngos-ngosan Saat Jalani Tes Kesehatan Jasmani Kenaikan Pangkat PNS

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) berseragam olahraga terlihat bersiap-siap untuk berlari di komplek GOR Bung Karno, Wergu Wetan Kudus. Mereka tampak mengenakan nomor dada. Saat aba-aba tanda mulai, mereka mulai berlari mengelili lapangan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Tes Kesehatan Jasmani (TKJ) kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan.

Seleksi PNS di Kabupaten Kudus 2017_3_20
Tes kesehatan kenaikan pangkat PNS Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah dua kali putaran, beberapa di antara mereka banyak yang terlihat ngos-ngosan. Ada yang tetap berlari pelan-pelan, ada pula yang memilih berjalan. Di antaranya wanita berkerudung dengan nomor dada 12. Dia bernama Indah Sriati, yang bekerja di Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kudus (BPPKAD). “Haduh, ngos-ngosan saya,” tuturnya sambil melepas nomor dadanya, Sabtu 18/3/2017).

Sambil mencari minuman, dirinya mengaku hanya bisa berlari empat putaran yang seharusnya enam putaran. Menurutnya, tes kesehatan jasmani yang dilakukannya cukuplah mudah. Namun karena faktor usia dan kondisi badan, dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra, terutama saat berlari. “Berat badan saya 85 kilogram,” tambahnya.

Sementara itu Ketua Koordinator Pengawasan TKJ Letda Arh Sujono menuturkan, dirinya bersama 15 anggota Komando Distrik Militer (Kodim) 0722 Kudus diminta Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Kudus untuk melakukan pendampingan peserta tes kesehatan jasmani kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan bagi para PNS di Kudus.

Menurutnya, kegiatan dilaksanakan dua hari sejak Jumat (17/3/2017). “Ini hari terakhir ada tujuh gelombang. Kemarin juga ada tujuh gelombang. Setiap gelombang terdapat 51 orang,” ungkapnya yang mengenakan baju merah.

Dalam kegiatan TKJ, PNS yang akan naik pangkat dan jabatannya berlari mengelilingi lapangan bola sejauh 2.400 meter selama enam kali putaran. Waktu yang ditentukan yakni 12 menit. Namun karena tes ini sifatnya hanya tambahan saja, tidak menjadi alat ukur utama dalam kenaikan pangkat dan jabatan. “Tes ini permintaan Bupati Kudus. Beliau ingin para PNS yang nantinya naik jabatan dipastikan sehat,” tuturnya.

Dia menjelaskan, sebelum berlari, para PNS dites tensi darahnya. Jika lebih dari 140 tidak disarankan untuk berlari, namun jika memilih berlari akan didampingi oleh anggota Kodim. Setelah itu, dilakukan senam peregangan sekitar 10 menit, agar otot-otot tidak kaku. Pihaknya juga sudah menyiapkan delapan ambulan jika sewaktu-waktu ada yang jatuh sakit.

“Ada delapan ambulan yang standby. Itu disiapkan untuk mengurangi resiko besar,” tambahnya yang sudah mendampingi tes kenaikan pangkat sebanyak empat kali.

Joko Triyono Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Kudus menuturkan, ada 690 PNS yang mengikuti tes TKJ kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan. Menurutnya, kegiatan dilakukan dua hari, Jumat sejumlah 320 PNS dan Sabtu 370 PNS. Kegiatan yang dilakukan itu menurutnya hanya satu-satunya yang ada di Indonesia.

Dijelaskan, tes kesehatan diusulkan langsung oleh Bupati Kudus Musthofa. Bupati Kudus ingin setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) selalu sehat terutama saat mereka naik pangkat dan jabatan. “Ini perhatian dari Bupati supaya para ASN dikondisi yang prima,” tuturnya.

- advertisement -

Nila Bumbu Rujak Bikin Nofa Selalu Kangen Ingin Datang Lagi dan Lagi ke Gentong Sehat

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Beberapa mobil dan sepeda motor tampak terparkir di depan dan samping Resto Gentong Sehat di tepi jalan Desa getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. di dalam resto beberapa pengunjung duduk lesehan dan menikmati hidangan yang tersaji. Di satu bilik kedai tampak seorang perempuan berjilbab hitam, dengan tiga orang temannya asyik mengobrol. Perempuan tersebut bernama Nofa Indriliani (19), yang mengaku menu favorit di Resto Gentong Sehat yakni Nila Bumbu Rujak.

Nila Bumbu Rujak, menu andalan Resto Gentong Sehat
Nila Bumbu Rujak, menu andalan Resto Gentong Sehat. Foto: Rabu Sipan

Kepada Speutarkudus.com, perempuan yang akrab disapa Nofa itu mengungkapkan, sudah sering makan di Resto Gentong Sehat. Menurutnya menu yang paling digemari dia dan teman-temannya yakni Nila Bumbu Rujak.

Baca juga: Resto Gentong Sehat, Destinasi Kuliner di Kudus dengan Menu Masakan Serba Organik

“Pertama mendengar namanya, aku bersama temanku penasaran dengan menu Nila Bumbu Rujak. Karena penasaran tersebut aku langsung mencoba membeli dan rasanya oke banget, enak dan sensasinya itu lho. Makan nasi dan lauk ikan nila sekaligus rujakan buah itu yang bikin kangen untuk datang lagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Perempuan yang masih tercatat sebagai mahasiswi semester empat Jurusana Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut mengatakan, menu kesukaannya itu hanya ada di Gentong Sehat. Menurutnya, selain menu, tempat di sana juga nyaman, asri serta mendukung privasi. Menurutnya, tempat tersebut cocok untuk nongkrong dan diskusi bersama teman.

“Untuk menu aku kira semua orang pasti banyak yang tahu ya. Selain masakan yang disajikan enak, makanan yang disajikan sangat sehat karena tidak menggunakan MSG, nasinya juga beras organik. Pokoknya di Resto Gentong Sehat, itu bersantap yang enak, lezat dan menyehatkan,” ujarnya.

Pengelola Resto Gentong Sehat Nichal Agbas (35) menuturkan, aneka menu yang disajikan di restonya tersebut tidak ada yang mengandung zat kimia sedikitpun. Bahkan MSG kata dia, ibunya mengganti dengan bahan herbal namun tetap mempunyai rasa serupa dengan penyedap rasa.

Menurutnya, selain menu Nila Bumbu Rujak di resto tersebut juga menyediakan aneka menu hidangan lain di antaranya, nasi dan nasi bakar organik, aneka masakan ayam kampung, bebek, serta aneka tumis. Ada juga spagheti dan steak.

“Selain itu juga ada, nasi goreng organik, mi dan kwe tiau, spesial ikan bakar, aneka sup, spesial geprek, dan aneka sambal. Menurutnya di restonya tersebut juga menyajikan aneka seafood dan menu hidangan lainnya. Pokoknya di Resto Gentong Sehat menunya lengkap dan banyak pilihan. Untuk minumannya dari teh, aneka jus, susu dan minuman serta jamu herbal pun tersedia,” ujarnya.

- advertisement -

Kagum dengan Konsep Lighting Teater K-1, Rendy Ingin Terapkan Di Teaternya

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan penonton memberi tepuk tangan meriah usai pementasan teater Kembali 1 (K-1), di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Pementasan Teater K-1 yang didukung Djarum Foundation Bakti Budaya dan bekerjasama dengan Teater Tiga Koma itu membawakan naskah Rumah yang Dikuburkan. Redy Putra Pratama (21), Satu di antara ratusan penonton yang hadir, mengaku kagum dengan konsep lighting dan tata pangung pementasan tersebut.

Tata panggung dan pencahayaan pentas Teater K-1
Tata panggung dan pencahayaan pentas Teater K-1. Foto: Ahmad Rosyidi

Rendy begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang pementasan teater K-1. Dia mengatakan kurang begitu paham dengan alur cerita yang dibawakan, karena menggunakan bahasa yang baku dan sulit dipahami. Namun, konsep lighting dan tata panggung yang ditampilkan sangat mengagumkan, dan ingin menerapkan konsep tersebut pada pentas yang akan ditampilkan teaternya.

Baca juga: Demi Perankan Karakter Salie, Mitha Rela Potong dan Warnai Rambutnya Secara Permanen

“Kalau alur ceritanya saya kurang paham. Bahasanya terlalu baku, jadi agak bingung. Tapi saya salut dengan konsep lighting-nya. Saya punya referensi baru soal tata panggung dan lighting yang bisa saya. Saya sangat mengapresiasi, sukses terus untuk teater K-1,” ungkap anggota teater Coin Fakultas Ekonomi UMK itu, usai pementasan.

Rendy menyaksikan pementasan bersama empat temannya dari Teater Coin. Dia dan teman-temannya juga merasa kesulitan untuk memahami. Tetapi secara garis besar dia menangkap bahwa pertunjukan Rumah Yang Dikuburkan bercerita tentang perubahan zaman. “Tadidi akhir cerita para pemain terlihat sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing karena teknologi yang semakin canggih,” terang pria asli Pontianak itu.

Zakaria (45), satu diantara anggota teater K-1, menjelaskan, naskah tersebut sudah pernah dipentaskan di acara Festival Teater di Jakarta. Pentas tersebut mendapat nominasi musik terbaik. Dia juga menjelaskan, untuk proses pementasan, mereka membutuhkan waktu persiapan latihan sekitar kurang lebih satu tahun.

Dia datang ke Kudus bersama rombongan Teater K-1 yang berjumlah sekitar 25 orang. “Teater K-1 ini berdiri sejak 1 Maret 2008. Kami menggunakan nama Kembali Satu karena dulu pernah berteater bareng, trus sempat sibuk dengan kehidupan masing-masing. Karena ingin kembali berteater, munculah nama ini,” jelas pria yang menekuni teater sejak tahun 1990 itu.

Helmi Aditia (20), satu di antara anggota Teater Tiga Koma, menerangkan, mereka bisa bekerjasama dengan teater K-1 berkat tawaran orang yang dekat dengan mereka. Kemudian disepakati untuk ikut membantu proses pementasan di UMK tersebut.

“Semua berjalan lancar. Pementasan kami buat dua kali, yaitu sore mulai pukul 15.30 WIB dan malam mulai pukul 20.00 WIB. Penonton yang hadir sekitar 250 orang, sore 100 orang dan malam sekitar 150. Itu dari jumlah tiket terjual, belum termasuk tamu undangan,” terang warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

- advertisement -

Jauh-Jauh dari Jakarta, Fatimah Yakin Bisa Sukses Kelola Orisa Salon: Kudus Kota Produktif

0

SEPUTARKUDUS.COM, KEDUNGDOWO – Di tepi barat Jalan Lingkar Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak beberapa ruko warna abu-abu di kiri dan kanan jalan masuk perumahan Graha Muria Swasti Krana. Di dalam satu ruko tersebut terlihat seorang perempuan berambut sebahu sedang melakukan tretment kepada pelanggan. Perempuan tersebut bernama Fatimah Nabila (36), yang rela datang dari Jakarta untuk mengelola Salon dan Spa Orisa milik sahabatnya.

Salon kecantikan dan spa Orisa, Kedungdowo, Kudus
Fatimah (kiri) sedang melakukan treatmen di Salon Orisa, Kedungdowo, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa Fatimah itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dikelola. Dia mengungkapkan, menerima tawaran untuk mengelola salon dan spa di Kudus, karena lebih menjanjikan daripada di ibu kota. Menurutnya, meskipun Kudus kota kecil, namun daerah yang produktif.

“Kudus itu daerah produktif karena ada beberapa perusahan rokok serta kertas yang mempunyai puluhan ribu karyawan. Di Kudus juga banyak pelaku usaha pelaku UMKM (usaha mikro kecil dan menengah ). Jadi mereka, terutama yang perempuan, akan menyempatkan untuk perawatan di sela kesibukan mereka,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, Salon Orisa mulai buka sekitar lima bulan, tepatnya pada November 2016. Meski begitu, baru beberapa bulan salon yang dikelolanya sudah memiliki banyak pelanggan. Di salon tersebut dirinya melayani berbagai macam treatment.

Dia menjelaskan, biaya potong rambut di Salon Orisa dihargai mulai Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu. Ada juga creambath yang ditarif harga Rp 60 ribu, hair treatment Rp 90 ribu. Sedangkan untuk menicure dan pedicure biayanya Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu.

Reflexi dan masker payudara masing-masing ditarif Rp 50 ribu. Sedangkan polis harganya Rp 20 ribu. Untuk ear candle dan totok wajah dihargai Rp 40 ribu dan Rp 100 ribu, tuturnya.

Dia menambahkan, untuk facial ditarif mulai harga Rp 120 ribu. Untuk body spa ball dan body spa DDS dibebankan biaya Rp 200 ribu serta Rp 300 ribu. Ratus ditarif dengan harga Rp 40 ribu, dan body steam dihargai Rp 25 ribu, dan untuk lulur dan body massage ditarif masing-masing Rp 100 ribu. Menurutnya di Orisa juga ada waxing, yang biayanya mulai Rp 50 ribu.

“Selain perawatan tersebut, kami juga melayani basic coloring mulai Rp 100 ribu, fashion coloring ditarif mulai Rp 50 ribu. Sedangkan smoothing serta keriting banderolnya Rp 200 ribu dan Rp 150 ribu. Kami juga melayani cabut alis harganya Rp 20 ribu, untuk make up ditarif Rp 150 ribu. Sedangkan hairdo atau sanggul dibebankan biaya Rp 50 ribu,” urainya.

Menurutnya, semua member yang melakukan perawatan sepuluh kali gratis sekali totok wajah dan creambath. Pada hari spesial anggota member, yakni saat ulang tahun, berhak mendapatkan sesuatu yang spesial juga dari Orisa. “Member juga otomatis mendapatkan diskon 10 hingga 30 persen untuk semua transaksi perawatan tertentu,” ungkapnya yang mengaku Orisa buka setiap hari.

- advertisement -

Resto Gentong Sehat, Destinasi Kuliner di Kudus dengan Menu Masakan Serba Organik

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi timur jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah resto dengan bangunan terbuat dari bambu. Di dalam resto terlihat beberapa rombongan orang sedang asyik menikmati masakan yang disajikan. Di dapur resto, tampak seorang pria memakai kemeja biru sedang berbicara kepada beberapa karyawan. Pria tersebut tak lain, Nichal Agbas (35), putra perintis usaha Resto Gentong Sehat.

Nichal Agbas, pengelola Resto Gentong Sehat Kudus 2017_3_19
Nichal Agbas, pengelola Resto Gentong Sehat Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Nich itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang Gentong Sehat. Dia mengungkapkan, usaha Resto Gentong Sehat dibuka pada tahun 2011. Pada awal buka konsepnya hanya warung. Pada saat itu, untuk mendapatkan pengunjung 10 orang sehari itu seolah sebuah khayalan.

“Pada awal buka Gentong Sehat sepi pengunjung, bahkan tidak pernah sampai 10 orang sehari. Namun aku tetap yakin kelak usaha warung Gentong Sehat akan berkembang dan memiliki banyak pelanggan. Keyakinanku itu karena warung ini menyajikan menu yang beda dengan warung lainnya,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, Resto Gentong Sehat menyajikan aneka menu masakan tanpa menggunakan bahan kimia. Menurutnya di Resto milik keluarganya tersebut aneka menu yang disajikan tidak menggunakan MSG, nasinya berasal dari beras organik dan lauk ayam kampung asli yang belum terkontaminasi bahan kimia.

Dia mengatakan sebenarnya awal membuka resto itu untuk memanfaatkan tanah kosong yang baru dibeli keluarganya. Saat musyawarah keluarga, kata dia, tanah tersebut akan dibuka warung mi dan bakso. Namun Nich mengaku paling vokal tidak setuju. Menurutnya selain menu sejuta umat dua masakan tersebut mudah ditiru orang lain.

“Saat itu aku usul kepada keluargaku untuk membuat usaha yang beda dan tidak mudah ditiru orang lain. Leluhur ibuku adalah peracik jamu dan ibuku juga pernah belajar ke Jakarta untuk membuat jamu herbal. Dengan pertimbangan itu, disepakatilah pendirian warung makan Gentong Sehat ini,” ujar pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.

Meskipun saat awal sepi pembeli, katan Nich, namun karena konsep yang dibuat berbeda, dia sangat yakin usaha warung Gentong Sehat akan ramai pembeli. Namun ternyata keyakinannya itu harus diuji, karena tahun 2012 warung Gentong Sehat terbakar.

“Setelah kebakaran kami, sempat vakum sambil mengatur rencana untuk Gentong Sehat selanjutnya. Dan setelah beberapa kali berunding bersama anggota keluarga, kami sepakat merubah konsep, yang dulunya warung menjadi Resto Gentong Sehat. Habis kobar saatnya berkibar,” ungkap Nich.

Menurutnya, dengan slogan tersebut dirinya membuat terobosan untuk sering mempromosikan aneka menu makanan ke Facebook. Dan untuk menarik minat pelanggan, dia  mengadakan kontes foto dengan hadiah Blackbery bagi para pengunjung.

“Sejak ada kontes tersebut, berangsur-angsur Resto Gentong Sehat mulai dikenal dan makin banyak pelanggan. Saat ramai, sekitar 100 pelanggan datang setiap hari untuk menikmati aneka hidangan di sini, dan saat sepi yang datang sekitar 70 orang,” ungkapnya.

- advertisement -