SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan penonton tampak menikmati alunan musik Keroncong di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Senin (20/3/2017) malam. Musik tersebut merupakan bagian dari acara yang digelar Forum Apresiasi Seni Dan Budaya Kudus (Fasbuk) rutin setiap bulan. Kali ini, Fasbuk membedah sajak-sajak karya Sapardi Djoko Damono dengan iringan musik oleh Gado-Gado Coustik dan Sikustik.

Saat diskusi berlangsung, seorang wanita yang duduk di antara ratusan penonton maju ke panggung dan mengajak narasumber acara, Widya Hastuti Ningrum, untuk membaca puisi bersama. Wanita itu yakni Ririn (38).
“Saya ingin saat pulang mendapat ilmu baru, jadi saya ikut baca puisi bareng narasumber, sekaligus belajar. Sangat disayangkan kalau diacara sebesar ini penonton yang datang tetapi pulang tidak mendapat sesuatu yang baru,” ungkap Ririn kepada Seputarkudus.com, dalam acara yang didukung Djarum Foundation Bakti Budaya bekerjasama dengan HMP SI.
Menurut Ririn, satu tahun ini dirinya rutin menghadiri acara Fasbuk, kecuali saat ada hal-hal yang membuatnya tidak bisa hadir. “Satu tahun ini saya rutin datang di acara Fasbuk. Biasanya dengan teman-teman komunitas seni dan budaya Tali Jiwa, sama anak dan suami juga,” terang warga Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus itu.
Sementara itu, Widya yang didaulat untuk membedah sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, mengungkapkan, sejumlah simbol yang terdapat dalam sajak yang dibedah. “Diserap akar pohon bunga itu, kalimat dalam sajak ini menyirat lambang. Di sini ternyata penantian terbalaskan, karena ada kalimat terserap pohon bunga itu, sebagai simbol,” ujar guru MAN 2 Kudus itu di atas panggung.
Dia menjelaskan, sebenarnya simbol itu dibuat oleh masyarakat. Dia menganalogikan, selembar kain yang diinjak, tak akan berdampak apapun jika tak memuat simbol atau lambang. Hal berbeda akan terjadi, saat kain yang diinjak berwarna merah dan putih. Karena kain tersebut telah menjadi lambang negara. Begitulah sajak-sajak Djoko Damono, yang menyelipkan lambang atau simbol yang menyiratkan makna-makna.
Menurutnya, kegiatan Fasbuk sangat menarik dan akan terus dia dukung. Dia ingin terus memotivasi generasi muda di Kudus untuk terus meningkatkan apresiasi sastra dan budaya. Dia mencontohkan Gado-Gado Coustik, yang mengaransemen puisi menjadi lagu. Sehingga sajak-sajak bisa dinikmati pemuda masa kini.
“Saya sangat senang forum-forum seperti ini. Pasti saya akan terus mendukung dan memotivasi agar pemuda terua berkreasi. Biarkan mereka berkembang dengan corak masa kini. Seperti Gado-Gado, bagus bisa mengaransemen puisi menjadi lagu yang lebih bisa dinikmati pemuda zaman sekarang,” jelas skretaris Keluarga Penulis Kudus (KPK) itu.
Edi Sukirno (31), penanggungjawab Fasbuk, menjelaskan, kegiatan kali ini tidak seramai biasanya, karena hujan turun menjelang acara. Teman-temannya yang biasa hadir juga banyak yang memberi kabar tidak bisa datang. “Banyak teman-teman yang izin tidak bisa hadir karena hujan. Alhamdulillah masih cukup ramai, dan acara juga berjalan lancar,” tambah Neno, sapaan akrabnya.

