SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi timur jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah resto dengan bangunan terbuat dari bambu. Di dalam resto terlihat beberapa rombongan orang sedang asyik menikmati masakan yang disajikan. Di dapur resto, tampak seorang pria memakai kemeja biru sedang berbicara kepada beberapa karyawan. Pria tersebut tak lain, Nichal Agbas (35), putra perintis usaha Resto Gentong Sehat.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Nich itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang Gentong Sehat. Dia mengungkapkan, usaha Resto Gentong Sehat dibuka pada tahun 2011. Pada awal buka konsepnya hanya warung. Pada saat itu, untuk mendapatkan pengunjung 10 orang sehari itu seolah sebuah khayalan.
“Pada awal buka Gentong Sehat sepi pengunjung, bahkan tidak pernah sampai 10 orang sehari. Namun aku tetap yakin kelak usaha warung Gentong Sehat akan berkembang dan memiliki banyak pelanggan. Keyakinanku itu karena warung ini menyajikan menu yang beda dengan warung lainnya,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.
Dia mengungkapkan, Resto Gentong Sehat menyajikan aneka menu masakan tanpa menggunakan bahan kimia. Menurutnya di Resto milik keluarganya tersebut aneka menu yang disajikan tidak menggunakan MSG, nasinya berasal dari beras organik dan lauk ayam kampung asli yang belum terkontaminasi bahan kimia.
Dia mengatakan sebenarnya awal membuka resto itu untuk memanfaatkan tanah kosong yang baru dibeli keluarganya. Saat musyawarah keluarga, kata dia, tanah tersebut akan dibuka warung mi dan bakso. Namun Nich mengaku paling vokal tidak setuju. Menurutnya selain menu sejuta umat dua masakan tersebut mudah ditiru orang lain.
“Saat itu aku usul kepada keluargaku untuk membuat usaha yang beda dan tidak mudah ditiru orang lain. Leluhur ibuku adalah peracik jamu dan ibuku juga pernah belajar ke Jakarta untuk membuat jamu herbal. Dengan pertimbangan itu, disepakatilah pendirian warung makan Gentong Sehat ini,” ujar pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.
Meskipun saat awal sepi pembeli, katan Nich, namun karena konsep yang dibuat berbeda, dia sangat yakin usaha warung Gentong Sehat akan ramai pembeli. Namun ternyata keyakinannya itu harus diuji, karena tahun 2012 warung Gentong Sehat terbakar.
“Setelah kebakaran kami, sempat vakum sambil mengatur rencana untuk Gentong Sehat selanjutnya. Dan setelah beberapa kali berunding bersama anggota keluarga, kami sepakat merubah konsep, yang dulunya warung menjadi Resto Gentong Sehat. Habis kobar saatnya berkibar,” ungkap Nich.
Menurutnya, dengan slogan tersebut dirinya membuat terobosan untuk sering mempromosikan aneka menu makanan ke Facebook. Dan untuk menarik minat pelanggan, dia mengadakan kontes foto dengan hadiah Blackbery bagi para pengunjung.
“Sejak ada kontes tersebut, berangsur-angsur Resto Gentong Sehat mulai dikenal dan makin banyak pelanggan. Saat ramai, sekitar 100 pelanggan datang setiap hari untuk menikmati aneka hidangan di sini, dan saat sepi yang datang sekitar 70 orang,” ungkapnya.

