SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sorak-sorai penonton menggema di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) saat Gado-Gado Coustik usai tampil menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono. Mereka meminta grup musik tersebut tidak turun panggung, dan tampil kembali membawakan puisi yang menjadi lagu, dan sajak-sajak yang dimusikalisasi.

“lagi, lagi, lagi,” teriak penontong yang hadir dalam acara yang diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk) tema “Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono”, Senin (20/3/2017) malam.
Baca juga: Ririn Terkesan Bacakan Sajak Sapardi Djoko Damono Bersama Sastrawan Kudus
Lilik Nur Cahyono (23), satu diantara 10 personil Gado-Gado Coustik, mengaku puas dengan antusias penonton yang hadir di acara tersebut. Lilik, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang persiapan Gado-Gado Coustik untuk pentas di acara tersebut. Dia mengaku butuh waktu dua pekan untuk persiapan tampil. Meski ada kendala, mereka berhasil mengaransemen enam puisi menjadi lagu dan satu musikalisasi puisi.
“Kami sempat kesulitan, karena musik Keroncong berbeda dengan genre yang lain. Kadang ada alat musik yang sulit masuk ke dalam nada. Tapi setelah latihan dua pekan semua berjalan dengan baik,” Jelas pria asli Jepara itu.
Dia juga menjelaskan, Gado-Gado Coustik berdiri sejak kurang lebih satu tahun yang lalu, tepatnya 2 Februari 2016. Tetapi nama awal adalah Keroncong Dangdut Gabungan Anak Teater (Cangdung Gak Teter). Karena tidak semua personel dari anggota teater, setelah berjalan dua bulan kemudian mereka menggati nama menjadi Gado-Gado Coustik.
“Setiap pentas kami ada 10 pemain. Tetapi saat ada yang tidak bisa ikut kami juga ada personel cadangan. Awalnya kami membentuk kelompok musik dadakan saat ada acara live musik Teater Obeng. Karena merasa cocok, jadi berlanjut,” terang anggota Teater Obeng Fakultas Teknik UMK itu.
Widya Astuti Ningrum (43), selaku narasumber dalam acara tersebut, mengaku kagum dan senang dengan penampilan Gado-Gado Coustik. Menurutnya, mereka adalah pemuda yang kreatif dan memang diperlukan untuk memberi warna baru di kesenian di era sekarang. Karena dengan puisi saja kemungkinan banyak penonton yang merasa jenuh.
“Mereka hebat, kreatif, saya salut dengan mereka. Coba tadi hanya baca puisi, pasti kurang dari satu jam penonton sudah jenuh. Karena sekarang dibutuhkan inovasi dangan corak yang berbeda mengikuti perkembangan zaman. Puisi dijadikan lagu boleh-boleh saja, karena medianya sama, yaitu bahasa,” tambah ibu tiga anak itu.
Edi Sukirno (31), penanggung jawab Fasbuk, menambahkan, konsep awal di sudut kanan panggung rencananya ada tiga orang penari, dua wanita dan satu pria. Karena dua penari wanita sakit, akhirnya di sudut kiri panggung terpaksa kosong.
“Kemarin waktu latihan lancar, mereka juga sudah ikut geladi bersih. Tapi menjelang acara malah dua sakit. Kalau pria saja yang menari rasanya kurang hidup, jadi kami batalkan,” ungkap itu.

