Beranda blog Halaman 1911

Ima Tak Bisa Menahan Tawa Melihat Lawan Mainnya Saat Peringati Hari Pantomim Sedunia

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Cahaya matahari menembus sela-sela awan di ujung barat saat puluhan orang duduk melingkar di Taman Wergu, Kelurahan Wergu Wetan, Kota, Kudus. Usai berdiskusi, seorang pria dan wanita maju ke depan, melakukan gerakan pantomim. Keduanya berpersan sebagai dokter dan perawat. Namun, tak lama setelah keduanya beraksi, Ima Yulia Arfiani (29), yang tampil memerankan perawat, mengaku tidak bisa menahan tawa saat melihat aksi lucu lawan mainnya.

Komunitas Pantomim Kudus memperingati Hari Pantomim Sedunia
Komunitas Pantomim Kudus memperingati Hari Pantomim Sedunia. Foto: Ahmad Rosyidi

Ima, begitu wanita berkerudung hitam itu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalaman pertamanya berpantomim. Meski sudah sering melihat, dia baru pertama kali melakukannya. Belum selesai berpantomim, Ima tak bisa berhenti menahan tawanya, karena tidak tahan melihat kelucuan lawan mainnya tersebut.

“Tadi berhenti d itengah jalan saat praktek pantomim, yang jadi dokter lucu banget saat adegan kejang-kejang. Ini juga pengalaman pertama saya, tadi ditunjuk Mas Asa (Asa Jatmiko) disuruh ngasih contoh, jadi saya maju saja. Saya masih belajar, masih belum begitu tahu tentang pantomim,” terang warga Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kudus itu, beberapa hari lalu.

Kegiatan diskusi yang digelar memperingati Hari Pantomim Sedunia itu, diselenggarakan Komunitas Pantomim Kudus (Kompak). Selain diikuti anggota komunitas, acara tersebut juga dihadiri sejumlah pelaku seni di Kudus, di antaranya pegiat teater Asa Jatmiko, dan Wayoto (Giok).

Dalam diskusi itu, Asa menjelaskan, pantomim adalah ekspresi dan gerak tubuh. Boleh mengeluarkan suara asal tidak menjadi dialog. Yang memperkenalkan pantomim pertama kali yaitu Charlie Chaplin, sehingga kiblat pantomim saat ini adalah Prancis.

“Pantomim menarik karena adanya visual, dan bisa dimainkan sendiri tanpa mengenal panggung. Pantomim juga bisa dipelajari siapapun, tidak hanya melucu, tetapi juga bisa diperluas. Selain itu, pantomim juga humanis dan mudah dipahami,” ungkap pegiat seni teater di Kudus tersebut.

Dia mencontohkan, Jemek Supardi, yang pernah berpantomim sepanjang perjalanan dari Jogja ke Jakarta menggunakan kereta api. Jemek yang bekerja sebagai tukang becak itu, bisa berpantomim di manapun, dan pementasannya memberikan nilai-nilai kritik sosial.

Menurutnya, Kudus memiliki potensi pantomim yang besar. Kudus sudah langganan juara tingkat provinsi pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). “Kesenian di Kudus luar biasa. Pantomim di Kudus juga potensinya besar, karena siswa-siswa Kudus sudah langganan juara kegiatan FLS2N tingkan Jawa Tengah. Jadi perlu kita dukung terus,” jelas pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Muhammad Ulul Azmi (24), ketua panitia diskusi, menjelaskan, kegiatan tersebut memilih tema “Bahasa Tubuh Sebagai Bahasa Perdamaian Dunia”. Dia juga menjelaskan, memilih lokasi di ruang terbuka dengan harapan Taman Wergu bisa menjadi tempat untuk berkreativitas.

- advertisement -

Bosan Kerja Ikut Orang Terus, Tyas Buka Salon Meski Bermodal Uang Hasil Patungan

0

SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Di tepi barat Jalan Yos Sudarso, Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak rumah bercat putih. Di dalamnya terlihat seorang perempuan memakai celana jeans warna biru sedang menyisir rambut pelanggan. Di kursi lain terlihat seorang perempuan memakai kaus merah sedang duduk menghitung nota. Perempuan tersebut bernama Ayuning Tyas (32), pemilik salon Ayu.

Ayuning Tyas, pemilik Salon Ayu 2017_3
Ayuning Tyas (kiri), pemilik Salon Ayu, Burikan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa Tyas itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha salonnya. Dia mengungkapkan, membuka usaha salon sekitar setahun lalu. Bermodal uang hasil patungan bersama temannya, dia mengaku nekat membuka usaha kecantikan itu.

“Aku ikut orang kerja di salon itu sekitar lima tahun. Karena tidak ingin ikut orang terus, aku berinisiatif membuka usaha salon bersama temanku. Karena modalku terbatas aku mengajak sahabatku yang dulu juga pernah kerja di salon, untuk patungan modal dan membuka usaha ini,” katanya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Burikan, Kota, Kudus itu menuturkan, untungnya temannya tersebut bersedia diajak patungan. Andai tidak bersedia, mungkin dirinya harus menunda keinginannya untuk memiliki usaha salon. Dia harus merayu temannya tersebut, agar bersedia. “Saya ngomong sama sahabat saya, ‘kamu mau kerja ikut orang terus, lebih baik kita mendirikan usaha salon bareng,’ akhirnya dirinya mau,” cerita Tyas.

Dia mengatakan, meskipun baru buka sekitar setahun, salonnya tersebut sudah memiliki pelanggan tetap. Hampir setiap hari ada saja orang yang melakukan treatment. Menurutnya, dalam sehari bisa melayani hingga lima treatment. Dia mengungkapkan, di Salon Ayu melayani berbagai macam treatment di antaranya gunting sepaket dengan cuci, dan vitamin dengan biaya Rp 20 ribu.

Selin itu, untuk cantok dan curly harganhya Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Crembath dia tarif Rp 40 ribu. Hairmask dan hairspa biayanya Rp 60 ribu. Dan untuk keriting, highligh, rebonding, semir warna dan smoothing biayanya mulai Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

“Selain perawatan rambut kami juga melayani perawatan wajah di antaranya, facial, dan totok wajah yang kami tarif Rp 60 ribu, sedangkan lulur aku tarif Rp 80 ribu . Di sini juga menyediakan ear candle atau terapi pembersihan lubang terlinga menggunakan lilin,” jelasnya.

Tyas menambahkan, serupa dengan usaha pada umumnya, dirinya selalu mengadakan promo. Di Salon Ayu setiap treatment yang sudah mencapai Rp 200 ribu, mendapat gratis potong rambut. Sedangkan transaksi yang mencapai Rp 400 ribu gratis creambath.

Treatment tersebut tidak harus sekali, asal kupon tanda transaksi jangan sampai hilang dan ahrus dibawa saat ingin ditukar dengan treatment gratis,” ujar Tyas yang mengaku Salon Ayu buka setiap hari mulai pukul 9.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

- advertisement -

Santri Pondok Jekulo Ini Ingin Sekali Mengetahui Sosok KHR Asnawi, Berharap Temukan Buku Biografinya

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Suara bacaan tahlil terdengar menggema di komplek Makam Sunan Kudus. Sejumlah kiai di Kudus terlihat duduk bersila memadati area makam KHR Asnawi, di depan pengimaman Masjid Menara Kudus. Ratusan santri, juga terlihat hadir pada haul ke-59 pendiri NU tersebut.Di antaranya Muhammad Jauhar Musyadad (17), santri Ponpes Darul Falah, Jekulo.

Haul ke-59 KHR Asnawi di Komplek Makam Sunan Kudus 2017_3_25
Haul ke-59 KHR Asnawi di Komplek Makam Sunan Kudus. Foto: Imam Arwindra

Usai mengikuti haul di komplek makam, kepada Seputarkudus.com, Jauhar mengaku datang bersama teman-temannya di pondok. Dia  sengaja datang ke acara haul, karena ingin mendapatkan berkah. Sebelumnya, dia bersama temannya juga sering berziarah ke makam KHR Asnawi.

“Saya tahu KHR Asnawi, beliau pendiri NU, tapi selebihnya saya kurang begitu tahu sosoknya. Kalau Sunan Kudus kan sudah banyak buku yang mengulasnya. Untuk Yi Asnawi (KHR Asnawi) saya belum menemukan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Menurutnya, setelah KH Ahmad Mujib Sholeh menceritakan sekilas tentang KHR Asnawi saat acara haul, dirinya sedikit mendapat referensi. Menurutnya, berdasarkan cerita dari cucunya itu, KHR Asnawi merupakan sosok kiai yang disiplin dan teguh dalam memegang prinsip.

“Selain itu beliau (KHR Asnawi) juga istiqomah dalam menjalankan sesuatu. Contohnya tadi, Yi Asnawi tidak pernah absen dari forum Muktamar NU. Saat mengikuti Muktamar NU terakhirnya pada 1958, itu acara muktamar yang terakhir yang bisa diikuti,” jelasnya yang duduk di kelas 12 MA Nurul Ulum, Jekulo.

Jauhar berharap ada buku khusus yang mengulas lebih detail tentang sosok KHR Asnawi serta perjuangannya. Dirinya masih penasaran tentang sosok kiai dari Kudus satu ini. Dengan buku itu, dia berharap generasi penerus seperti dirinya dapat lebih mengenal tokoh pendiri dan penggerak NU.

Dalam haul tersebut, sejumlah kiai hadir, di antaranya KH Muhammad Ulil Albab Arwani, KH Ulin Nuha Arwani, KH Saifuddin Lutfi, KH Hasan Fauzi, KH EM Nadjib Hassan, serta cucu Kiyai KHR Asnawi, KH Ahmad Mujib Sholeh.

KH Ahmad Mujib Sholeh dalam kegiatan haul menuturkan, kakeknya adalah sosok yang lurus dan tidak neko-neko.  Selain itu juga disiplin dan teguh memegang prinsip. Di contohkan saat manghadiri Muktamar NU, terdapat foto presiden pertama Indonesia Soekarno, yang terpampang dalam ruangan.

Menurutnya, saat itu KHR Asnawi meminta untuk segera dicopot. Dirinya juga mengancam, kalau tidak dicopot akan pulang. “Mbah Asnawi berperinsip rumah yang ada fotonya tidak akan didatangi malaikat,” ungkapnya yang nampak didengarkan oleh ratusan masyarakat yang hadir.

Selanjutnya, dirinya juga menceritakan, jika kakeknya mendengar saat ada adzan, namun ada suara radio, dia akan mendatangi sumber suara dan meminta suara radio dimematikan. Semasa hidup, KHR Asnawi juga melarang santri melepas peci, Karena menurut dia, hal itu akan membuat santri bisa menjadi nakal dan jauh dari agama.

“Mbah Asnawi juga selalu berpesan kepada santrinya agar selalu mengikuti dawuh (perkataan) kiai salaf,” tambahnya.

- advertisement -

SMK Wiskar Pelayaran Terima Sertifikat Kemenhub, Lulusannya Bisa Jadi Nahkoda Andal Dukung Tol Laut

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Bendera Indonesia, Jepang dan Singapura terlihat berkibar di tiang bendera SMK Wisudha Karya Kudus. Puluhan siswa dengan perlengkapan drum band bersiap-siap menyambut Menteri Perhubungan Indonesia Budi Karya Sumadi berserta rombongan. Tak lama, menteri yang ditunggu berjalan dari arah gerbang sekolah menuju kursi sofa hitam depan panggung utama.

Ruang simulasi SMK Pelayaran Wisudha Karya Kudus 2017_3_25
Ruang simulasi SMK Pelayaran Wisudha Karya Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia Duduk di samping Primadi Serad, Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation serta Bupati Kudus Musthofa. Nampak pula di deretan kursi VVIP, Kepala Polisi Daerah Jawa Tengah (Kapolda) Irjen Condro Kirono, Duta Besar Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar, perwakilan Sumitumo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Kongsberg, ITE Education Services(ITEES), Marikita dan beberapa pejabat teras Kabupaten Kudus.

Mereka datang di SMK Wisudha Karya (Wiskar) Kudus untuk program penyerahan sertifikasi persetujuan dari Kementrian Perhubungan, memorandum of understanding (MoU) dan bantuan fasilitas praktik pelayaran.

Saat di panggung utama, Budi Karya Sumadi menuturkan, dirinya berterima kasih kepada perusahaan swasta, di antaranya Djarum Fundation dan para investor yang berperan aktif dalam sektor pendidikan. Menurunya, pemerintah membuka ruang selebar-lebarnya untuk perusahaan swasta agar turut andil dalam pendidikan, terutama di sektor kelautan. “Saya apresiasi setinggi-tingginya kepada Djarum yang membuat SMK di Kudus semakin maju,” katanya, Kamis (23/3/2017).

Dirinya menjelaskan, Indonesia negara maritim. Presiden Joko Widodo telah memberikan prioritas untuk meningkatkan kemaritiman, satu di antaranya melalui Tol Laut. Menurutnya, sangat dibutuhkan tenaga terampil untuk mewujudkan visi tersebut. Negara butuh sumber daya manusia yang berkualitas dengan sertifikasi international.

“Apresiasi saya berikan untuk Djarum Fundation dan SMK Wisudha Karya. Lulusan terbaik berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Jakarta dan daerah lain tanpa tes,” jelasnya yang disambut tepuk tangan.

Menurutnya, proses sertifikasi ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Dengan talenta, bakat dan kompetensi yang ada, siswa berkesempatan menjadi nahkoda yang unggul dan dapat merintis karir di dunia pelayaran. Dengan adanya SMK Wisudha Karya, anak-anak di Kudus dan sekitarnya berkesempatan belajar dengan didukung teknologi yang luar biasa.

Selain itu, kata Budi, siswa dari Indonesia timur, di antaranya Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku dan 12 siswa dari Papua berkesempatan untuk ikut belajar. “Saya juga berterima kasih kepada Dubes Singapura atas kerjasamanya. Tidak dimungkiri, dukungan negara maju terutama di bidang pendidikan pelayaran sangat dibutuhkan,” tambahnya.

Sementara itu, Progam Direktur Bakti Pendidikan Djarum Foundation Primadi Serad menuturkan, SMK Wisudha Karya telah memenuhi persyaratan Standards of Training, Certification and Watchkeeping (STCW) dari International Maritime Organization yang diserahkan langsung Kementrian Perhubungan. Menurutnya, dengan capaian ini SMK Wisudha Karya telah menjadi satu di antara tiga sekolah menengah kejuruan maritim yang mendapatkan sertifikat tersebut.

Dampaknya, kata Primadi, lulusannya akan diberikan lisensi perwira kapal yang dapat digunakan bekerja di kapal niaga di dalam maupun luar negeri. “SMK Wisudha Karya juga ada MoU dengan  sekolah kejuruan Singapura ITEES dengan progam joint-degree di bidang marine angineering. Lulusan dari progam ini akan menerima Higher National ITE Certificate dan di wisuda di kampus ITE Singapura,” jelasnya dalam siaran pers.

Sekolah maritim dengan keahlian Nautika Kapal Niaga dan teknika Kapal Niaga, menurut Primadi saat awal peresmian masih belum dilengkapi dengan peralatan yang memadai. Namun saat ini, SMK Wisudha Karya menjadi satu-satunya sekolah kejuruan maritim di Indonesia yang memiliki peralatan canggih Class A Full Mission Bridge Simulation. Lulusan Kapal Niaga akan diberikan sertifikasi ahli Nautika tingat IV.

Sedangkan keahlian Teknik Kapal Niaga, tambahnya, pada tahun 2014 perlengkapan sudah ditambahkan untuk praktik pembelajaran. Lulusannya nanti akan diberikan sertifikasi ahli Teknika Kapal Niaga tingkat IV. “Peningkatan kualitas sarana pembelajaran dan kurikulum akan membekali para taruna dengan pendidikan dan pelatihan yang memili standar international,” terangnya.

- advertisement -

Didik Kembangkan Usaha Stiker Warisan Kakaknya: Kuncinya Harus Telaten

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi selatan Jalan Lingkar Utara tepatnya di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus terlihat beberapa motor terparkir di halaman kios. Di kios tersebut tampak dua orang sibuk menempel stiker pada dek sepeda motor. Di sudut lain terlihat seorang pria memakai kaus oblong warna merah mengamati kegiatan di kios tersebut. Pria itu bernama Didik Irawan (27), pemilik Raja stiker Kudus.

Raja Stiker Kudus 2017_3_24
Raja Stiker Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Didik itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha stikernya. Dia mengungkapkan, usaha menjual dan memasang stiker pada dek motor dan mobil itu dulunya milik kakaknya. Namun karena kakaknya menganggap usaha tersebut kurang menjanjikan, pada tahun 2007 usaha tersebut diwariskan padanya.

“Sejak masih SMA kelas tiga setiap pulang sekolah aku selalu membantu kakakku memasang stiker sepeda motor dan mobil.  Karena dianggap kurang begitu menguntungkan, kakakku pun memilih usaha lain,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Saat itu, dirinya melanjutkan usaha yang diwariskan kakaknya. Dia beralasan, saat itu dirinya bingung setelah lulus SMA tidak memiliki pekerjaan, dan dia mengaku sudah cocok dengan usaha pemasangan stiker. Menurutnya usaha pemasangan stiker santai, namun tetap mendapatkan hasil.

“Mungkin karena sudah cocok dan menyukai pekerjaan ini, aku selalu asyik aja. Kerjanya itu seperti orang bermain, namun mendapatkan keuntungan. Kuncinya harus telaten,” ungkap Didik sambil tersenyum.

Warga Peganjaran, Bae, Kudus itu mengatakan sejak usaha menjual dan pemasangan stiker yang bernama Raja Stiker tersebut dikelolanya, berangsur-angsur pelanggan semakin banyak. Menurutnya, saat ramai ada sekitar 15 sampai 20 unit pemilik motor datang ke Raja Stiker. Saat sepi sekitar tujuh sepeda motor.

Dia mengunkapkan, menerima berbagai macam order pemasangan stiker untuk sepeda motor dan mobil. Untuk ngeblok seluruh dek sepeda motor dia hargai mulai Rp 130 ribu hingga Rp 650 ribu. Untuk pemasangan sebagian dek motor, harganya antara Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu. Sedangkan untuk ngeblok bodi mobil sedan harga mulai Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta . “Harga ditentukan jenis stiker ” ujarnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, selain menerima pemasangan dirinya juga menjual aneka jenis stiker. Di antaranya , cutting stiker, graftek, skotlet dan lain sebagainya. Menurutnya aneka macam stiker tersebut dijual dengan harga Rp 200 per sentimeter.

“Aneka stiker di toko kami memang harganya lebih miring, dan hasil pemasangan rapi. Karena berprinsip mendapatkan untuk sedikit tak apa, yang penting lancar dan banyak pelanggan,” ungkap Didik.

- advertisement -

Meski Cewek Satu-Satunya, Dian Tak Canggung Ikut Kopdar Anak Motor Hingga Larut Malam

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Waktu menunjukan pukul 23.00 WIB, saat sejumlah orang nongkrong tak jauh dari belasan motor Honda Beat di tepi Jalan Jendral Sudirman, Desa Barongan, Kota Kudus. Terlihat di sana, satu-satunya wanita berjilbab dengan kaus lengan panjang warna pink ikut berkumpul. Dia bernama, Dian Istiana (18), yang mengaku senang ikut nongkrong bersama anggota Kudus Beat Club (KBC).

Dian (berkerudung) satu-satunya anggota perempuan Vario Kudus Club
Dian (berkerudung) satu-satunya anggota perempuan Komunitas Beat Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Dian, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, dirinya sempat dilarang oleh orang tua untuk ikut kumpul klub motor. Dia memang sudah senang dengan motor sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Meski sering dilarang dan dimarahi orang tuanya, dia masih suka sembunyi-sembubyi kumpul dengan klub motor.

“Dulu sering dimarahi orang tua, mungkin karena khawatir saya perempuan kumpul dengan anak motor. Tapi sekarang orang tua sudah mengizinkan, yang penting saya izin dulu sebelum ikut kumpul sampai larut malam seperti ini. Setelah tahu kegiatannya positif, jadi orang tua saya bisa mengerti,” terang warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, beberapa waktu lalu.

Menurut Dian, anggota klub motor kebanyakan orangnya asik, mudah berbaur dan lucu. Karena merasa nyaman, Dian tidak merasa cabggung meski dirinya satu-satunya perempuan. Dia ikut Kopdar Kudus Beat Club, karena mengenal ketuanya yang dulu kakak kelas sewaktu di sekolah menengah atas (SMA).

Abdul Aziz (24), Ketua KBC, mengungkapkan, anggota komunitasnya melakukan kegiatan kopdar rutin setiap malam Minggu di depan Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 6722 Kudus. Selain kopdar, KBC juga ada Kopdar Santai (Kopsan) yang dilakukan saat dibutuhkan kumpul mendadak. Dan setiap Kopdar, seluruh anggota dikenakan biasa untuk uang kas Rp 3 ribu.

“Uang kas biasanya kami gunakan untuk kegiatan sosial, membeli perlengkapan, dan menjamu tamu klub Beat dari luar daerah yang datang berkunjung. Kalau ada anggota yang sakit juga kami bantu dengan uang kas. Saat ini anggota kami sekitar 28 orang,” ungkap Kohnex, sapaan akrab Abdul Aziz.

KBC berdiri sejak tahun 2012, dan sudah mendapat perizinan dari Polres Kudus. Tak hanya di Kudus, klub motor Beat juga ada tingkat provinsi yakni Orbit Jawa Tengah, yang melakukan kopdar rutin setiap enam bulan sekali. Untuk tingkat Nasional ada Republik Beat Indonesia (RBI), juga melakukan Kopdar rutin setiap satu tahun sekali.

Kohnex juga merinci syarat untuk bergabung dengan KBC. “Kalau ada yang ingin gabung kami sangat mempersilahkan. Yang penting motor lengkap, menyerahkan foto copy STNK, KTP dan SIM,” jelas Warga Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus itu.

- advertisement -

Tak Hanya Aman dan Nyaman, Perumahan GMSK Tawarkan Nilai Investasi yang Menjanjikan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KEDUNGDOWO – Perumahan ini memiliki konsep one gate system, maksudnya hanya ada satu pintu masuk maupun keluar gerbang. Perumahan ini terletak di Jalan Lingkar Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Tepat di atas gerbang, terdapat sebuah tulisan Garha Muria Swasti Kirana (GMSK) yang terbuat dari bahan stainless steel. Perumahan ini memiliki 480 unit rumah yang dibangun di atas tanah seluas 12 hektare.

Suasana Perumahan Graha Muria Swasti Kirana 2017_3_24
Suasana Perumahan Graha Muria Swasti Kirana. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Oni Feri Setyawan (34), Realestate Unit Head, sudi berbagi penjelasan terkait dengan perumahan tersebut. Oni begitu dia akrab disapa, menjelaskan, perumahan yang tak lazim disebut juga dengan properti itu, berada di lokasi yang strategis serta jauh dari polusi udara. Menurutnya, letak perumahan di wilayah Kudus yang sedang berkembang, dia menyakini akan memberikan nilai properti yang terus meningkat.

Baca juga: Graha Muria Swasti Kirana, Tawarkan Perumahan Mewah dengan Instalasi Listrik Bawah Tanah

“Di GMSK, kami bukan hanya menawarkan hunian saja, melainkan juga investasi jangka panjang. Apalagi pemilihan tempat kami di wilayah yang strategis dan terus berkembang, pasti menambah nilai properti yang cukup bagus bagi pembeli. Terbukti, dari 480 unit rumah yang kami sediakan sudah banyak yang terjual, kisaran 130 unit rumah,” tambah pria berkaca mata itu, beberapa waktu lalu.

Dia melanjutkan, pembangunan GMSK dimulai sejak awal 2012, tepatnya lebih dari lima tahun dibangun. Namun untuk pemasaran, katanya, baru dimulai pada awal tahun 2015. Menurutnya, selain menawarkan sebuah investasi di bidang properti, kelebihan lain yang dimiliki dari perumahan tersebut yakni hunian yang aman dan nyaman. “Sistem keamanan kami 24 jam, dijamin seluruh penghuni akan merasa aman dan nyaman,” ujarnya.

Oni yang ditemui di kantor Koperasi Karyawan Muria Gemilang, Jalan Kyai H. Agus Salim 238, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, mengatakan, tipe rumah maupun harga yang ditawarkan bagi penghuni terbagi menjadi empat bagian. Yang pertama, meliputi Tipe Diamond Ruko, memiliki dua lantai dengan luas tanah 75 meter persegi yang dijual cukup Rp 880 juta.

“Untuk tipe selanjutnya, ada tipe Ruby T (45/200), kami jual dengan harga kisaran Rp 741 juta. Tipe Shapphire T (36/150), kami jual seharga Rp 526 juta, sedangkan Amethyst T (30/120) lebih murah berkisar harga Rp 398 juta. Terkait dengan pembeli, kebanyakan dari Kudus, tak jarang juga ada dari Pati, Jepara, Semarang maupun Jakarta,” ungkapnya.

Oni yang tercatat sebagai salah satu alumnus mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), menambahkan, untuk meningkatkan penjualan, dia mengaku melakukan berbagai cara. Di antaranya, menawarkan setiap unit rumah kepada karyawan PT Djarum, mengikuti pameran di Mall Hypermart, promosi melalui media online serta memberikan promo bagi setiap pembeli.

“Terkait dengan pembanyaran, semua bisa dilakukan melalui Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang sudah bekerja sama dengan kami. Di antaranya, BCA, BTN, BNI, BNI Syariah, OCBC NISP, BPD, Bank Muamalat, Maybank maupun Bank Rakyat Indonesia (BRI),” tambah Oni yang mengaku sudah 15 tahun bekerja di Koperasi Karyawan Muria Gemilang.

- advertisement -

Edy Supratno Yakin, Djamhari Penemu Rokok Kretek dari Kudus Bukan Mitos

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Alunan musik terdengar di panggung utama Wedangan Pukwe, di Jalan Mulya, Kudus, pukul 19.30 WIB. Ruang tersebut tampak penuh. Sejumlah orang duduk lesehan, sebagian yang lain duduk di kursi kayu. Iringan musik tersebut mengawali bedah buku Djamhari Penemu Kretek, karya sejarawan Kudus, Edy Supratno.

Edy Supratno, dalam bedah buku Djamhari 2017_3_24
Edy Supratno, dalam bedah buku Djamhari. Foto: Imam Arwindra

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus Moh Rosyid dan wartawan senior Kudus Prayitno, tampil di panggung menjadi pembedah buku berisi 254 halaman tersebut. Setelah itu, Edy menuju panggung utama. Malam itu dirinya mengenakan celana jeans dab kemeja putih.

Di depan peserta bedah buku yang hadir, dirinya mulai menceritakan lika-liku proses pembuatan buku Djamhari Penemu Kretek. Sejumlah peserta tampak serius memperhatikan pemaparan Edy. Sesekali mereka tertawa, saat mantan jurnalis tersebut menceritakan kelucuan-kelucuan dalam proses mencari data sosok penemu kretek. Dia juga mengungkapkan, membuat buku penemu kretek merupakan cita-citanya sejak dulu.

Dia menceritakan, saat sedang melakukan liputan di daerah Pegunungan Muria, dirinya tidak sengaja menemukan buku yang mengulas jenis burung di Indonesia. Namun sayang yang membuat buku tersebut orang Barat. Seketika itu dirinya ingat, di Kudus masih ada misteri yang belum terpecahkan.

“Sebagai orang yang tinggal dan menetap di Kudus, saya ingin mengungkap tokoh penemu kretek yang bernama Djamhari. Capek, tetapi akhirnya saya bahagia, cita-cita saya tercapai,” tuturnya di depan peserta bedah buku, Rabu (22/3/2017) malam.

Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, ini meyakini, dirinya sudah berhasil mengungkap sosok Djamhari. Namun sebagai sebuah karya ilmiah tidak bisa lepas dari kritik. Setelah terbitnya buku Djamhari Penemu Kretek, ada perasaan yang masih membebani dirinya, antara salah dan benar.

“Jika (buku) ini salah, ribuan orang akan tersesat karena karya saya. Namun saya yakin karya yang sudah saya susun selama bertahun-tahun ini benar. Saya yakin benar, berdasarkan silsilah dan saksi hidup, kuburannya (Djamhari) juga masih ada,” tambah Edy yang hari ini berulang tahun.

Dalam buku yang diterbitkan Pustaka Ifada disebutkan, Djamhari dilahirkan sekitar 1870 di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kudus, buah perkawinan Mirkam alias Haji Somad dengan Yawijah atau Hj Aisyah. Djamhari menikah  pada usia sekitar 20 tahun, Mas’idjah. Dia membuat rokok kretek, untuk mengobati penyakit asma yang dideritanya. Lambat laut, rokok obat tersebut populer di kalangan masyarakat.

Pada 1912, Djamhari menjadi Komisaris Sarekat Islam Kudus wilayah Prawoto. Namun selang enam tahun, pecah kerusuhan anti-China di Kudus. Djamhari pindah ke Cirebon, selanjutnya ke Tasikmalaya menjadi pedagang pakaian (1918/1919). Selain berdagang pakaian, Djamhari juga mulai berdagang material bangunan, dan merintis sebagai anemer jalan raya (1919/1920). Djamhari ternyata pernah mengunjungi keluarganya di Kudus lagi tahun 1932.

Pada tahun 1950-an, Djamhari memutuskan kembali ke Tasikmalaya saat terjadi konflik DI/TII Kartosuwirjo dengan TNI. Tahun 1958, dirinya tercatat pernah mengutus Ahmad (Ponakan Djamhari) untuk suatu urusan ke Kudus. Dan tahun 1962 Djamhari meninggal di Tasikmalaya di atas tanah makam keluarga Abdul Somad.

Satu di antara peserta bedah buku yang hadir, yakni Danar Ulil, yang datang dari Jekulo. Dia mengaku baru yakin bahwa sosok penemu rokok kretek Djamhari, benar-benar ada, setelah diterbitkannya buku karya Edy Supratno. Sejauh ini dirinya masih bimbang, antara sosok Djamhari sebagai mitos, atau nyata adanya.

Fifty-fifty, antara nyata dan tidak. Karena memang sering mendengar (Djamhari) namun tidak pernah melihat sosoknya seperti apa,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Menurutnya, selama ini belum adanya litelatur khusus yang membahas tentang Djamhari. Baru setelah buku tersebut diterbitkan, dirinya bisa tahu secara detail sosok Djamhari maupun silsilah keluarga. “Saya sangat kagum dengan karya ini. Senang sekali saya bisa ikut memiliki karya ini,” tambahnya yang aktif menjadi kordinator komunitas Jelajah Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank).

- advertisement -

Deadline SPT dan Tax Amnesty Bersamaan, KPP Pratama Kudus Buka Tiap Hari Tanpa Libur

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Kursi tunggu yang tersedia di ruang pelayanan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus, Jalan Niti Semito nampak penuh. Pukul 13.00 WIB para wajib pajak (WP) terlihat menunggu giliran untuk membayar pajaknya. Ada pula yang terlihat sedang berkonsultasi di ruangan pelayanan. Di ruang tersebut terdengar pembicaraan progam Tax Amnesty yang akan berakhir pada 31 Maret 2017 mendatang.

Pelayanan Tax Amnesty dan SPT di KPP Pratama Kudus 2017_3_23
Pelayanan Tax Amnesty dan SPT di KPP Pratama Kudus

Kepada Seputarkudus.com, Pelaksana Ekstensifikasi dan Penyuluhan KPP Pratama Kudus, Joko Wahyudi, memberitahukan, progam Amnesti Pajak periode ketiga ini bersamaan dengan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Pribadi 2016. Dengan waktu bersamaan, pihaknya mengaku memberikan pelayanan eksta supaya WP di Kudus.

Baca juga:

“Ini berbarengan semua di bulan Maret 2017, SPT PPh Orang Pribadi 2016 dan Amnesti Pajak. Untuk layanan yang maksimal, kami siap pelayanan ekstra,” ungkapnya saat di temui di kantor KPP Pratama, beberapa waktu lalu.

Menurut Joko, pada bulan Maret 2017 masa pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi 2016. Dia menjelaskan, setiap tahunnya WP yang sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) harus melaporkan SPT dengan diberi tenggat waktu tiga bulan. Dirinya mencontohkan, WP PPh tahun 2016 akan diberi waktu untuk pelaporan SPT hingga tanggal 31 Maret 2017. “Memang diberi tenggat waktu tiga bulan untuk melaporkan SPT,” jelas Joko.

Karena deadline yang bersamaa, pihaknya akan memberikan pelayanan lebih ekstra pada bulan Maret 2017, agar WP dapat terlayani. Menurutnya, di Kudus pelayanan dapat dilakukan di tiga tempat, yakni di kantor KPP Pratama pada Senin-Jumat pukul 7.30 WIB-17.00 WIB. Selain itu ada pelayanan ekstra pada Sabtu pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB dan Minggu mulai 08.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Selain di KPP Pratama, lanjut Joko, pihaknya juga membuka pelayanan di Pasar Kliwon setiap Senin hingga Rabu pukul 10.00 WIB-14.00 WIB. Ada juga pelayanan mobil tax unit berada di kecamatan-kecamatan atau tempat umum di Kudus, pada Kamis pukul 10.00 WIB-14.00 WIB. “Masyarakat juga bisa menggunakan pelaporan SPT secara online dengan e-Filing. Dengan aplikasi tersebut tidak usah lagi datang ke kantor pajak,” tambahnya.

Dia meceritakan, pada hari terakhir Tax Amnesty periode pertama 30 September 2016, pihaknya membuka pelayanan hingga pukul 24.00 malam. Menurutnya, itu juga akan dilakukannya nanti saat masa akhir penutupan Tax Amnesty periode ketiga tanggal 31 Maret 2017. Pihaknya merencanakan, pekan terakhir penutupan Tax Amensty, dirinya akan melakukan pelayanan hingga pukul 19.00 malam.

“Pada malam terakhir nanti kami akan membuka layanan sampai pukul 24.00 malam. Segera manfaatkan Tax Amnesty, jangan sampai dikemudian hari menyesal,” tambahnya.

Joko, sapaan akrabnya, menjelaskan, progam pengampunan pajak (Tax Amnesty) sudah dilaksanakan Direktorat Jendral (Ditjen) Pajak selama tiga periode. Menurutnya, periode pertama 1 Juli 2016 hingga 30 September 2016, periode kedua 1 Oktober 2016 hingga 31 Desember 2016 dan periode ketiga 1 Januari 2017 sampai 31 Maret 2017.

Dikatakannya, setelah periode ketiga Tax Amnesty berakhir, tidak akan lagi progam pengampunan pajak lagi. “Yang selama ini punya harta namun belum pernah dilaporkan. Segera manfaatkan progam Tax Amnesty. Mumpung masih ada,” tambahnya yang mengenakan kemeja kuning dengan tanda pengenal di saku baju sebelah kanan.

- advertisement -

Graha Muria Swasti Kirana, Tawarkan Perumahan Mewah dengan Instalasi Listrik Bawah Tanah

0

SEPUTARKUDUS.COM, KEDUNGDOWO – Ditepi Jalan Lingkar Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, terlihat perumahan terletak di atas tanah seluas 12 hektare. Sejumlah orang tampak menyelesaikan pembangunan yang belum usai. Konsep pada bagian setiap rumah, terlihat mengusung desain minimalis tropis. Perumahan yang memiliki ruas jalan cukup lebar itu yakni Graha Muria Swasti Kirana (GMSK).

Perumahan Graha Muria Swasti Kirana (GMSK) Kudus 2017_3_23
Perumahan Graha Muria Swasti Kirana (GMSK) Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Seusai melaksanankan meating, Oni Feri Setyawan (34), Realestate Unit Head, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang perumahan GMSK. Dia menjelaskan, perumahan yang dikelolanya memiliki konstruksi bangunan yang berkualitas. Bagian pondasi rumah menggunakan batu kali. Sedangkan untuk bagian struktur bangunan, menggunakan beton bertulang agar rumah menjadi kokoh.

“Perumahan kami semua berkonsep minimalis tropis. Misal pelanggan kami menginginkan desain rumah yang berbeda juga bisa, asalkan tidak merubah tatanan tampak depan rumah. Terkait dengan bangunan, bahan yang kami pakai semua berkualitas dan bermutu. Mulai pemelihan dinding, kami memakai bata merah finishing plester, aci serta cat yang pasti dengan mutu tinggi,” ungkap Oni, beberapa waktu lalu.

Oni yang saat itu mengenakan batik dan kaca mata, melanjutkan, di bagian lantai rumah, digunakan lantai granit berukuran 60×60 sentimeter. Rangka atap menggunakan baja ringan, genteng beton flat, kusen berbahan alumunium, kaca bening 5 millimeter dan untuk pemilihan plafon, dipakai rangka hollow plus gypsum board.

“Selain itu, di bagian kamar mandi juga dilengkapi shower ditambah pemilihan tempat membuang yang menggunakan kloset duduk. Ada empat tipe yang kami tawarkan, yang pertama tipe Diamond Ruko yang memiliki luas 75 persegi berlantai dua. Selanjutnya, ada tipe Ruby (45/200), Sapphire (36/150) dan yang terakhir ada tipe Amethyst (30/120), semuanya berlantaikan satu,” ujarnya.

Dia mengatakan, terkait fasilitas yang diberikan perumahan yang tidak jauh dari Sub Terminal Jetak ini, katanya, sangat banyak. Di antara fasilitas tersebut ada jaringan listrik bawah tanah, air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), internet dan juga telepon. Tidak hanya itu, konsep fasilitas perumahan yang ditawarkan berupa one gate system, keamanan 24 jam, yang dijamin seluruh penghuni akan merasa aman dan nyaman.

“Kami juga menyediakan fasilitas jaringan internet gratis dan juga CCTV (closed circuit television). Fasilitas umum lain paling ada tempat ibadah, sekolah, taman bermain, sarana olah raga, gedung pertemuan dan rencana juga ada fasilitas waterboom yang akan kami bangun mulai tahun ini,” tambah Oni yang menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Muria Kudus. (UMK)

- advertisement -

Uji Loyalitas Anggota, Vario Kudus Club Sodorkan Syarat dan Tahapan Berlapis

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Sebuah spanduk terbentang di tengah-tengah puluhan motor Honda Vario yang terparkir rapi di tepi Jalan Nendral Sudirman, di depan Rumah Sakit Kartika Husada, Desa Barongan, Kota Kudus. Di spanduk terlihat sejumlah pria berkumpul dan bercanda. Satu di antaranya yakni Dedy Noor Surahman (19), anggota Komunitas Vario Kudus.

Vario Kudus Club 2017_3_23
Vario Kudus Club. Foto: Ahmad Rosyidi

Dedy begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang komunitasnya.Dia mengatakan, untuk bergabung Komunitas Vario Kudus tidak mudah, karena butuh melewati sejumlah tahapan dan syarat yang sudah ditentukan. Itu diberlakukan, agar dirinya dan anggota lain tahu seberapa besar loyalitas calon anggota yang akan bergabung.

“Kami tidak ingin ada anggota yang hanya main-main. Jadi syarat awal calon anggota wajib menyerahkan foto copy SIM dan STNK, seperti klub motor pada umumnya. Yang kedua mereka harus ikut Kopdar tiga kali, kemudian ikut acara di luar Kota dua kali, dan berkunjung komunitas Vario di dua Kota terdekat” tuturnya, saat kopdar beberapa waktu lalu.

Dedy juga merinci jumlah anggota Komunitas Vario Kudus saat ini. Untuk anggota tetap ada 26 orang, anggota prospek ada tujuh orang, dan calon anggota ada belasan orang. Anggota prospek, katanya, yakni anggota yang masih dalam menjalankan proses untuk menjadi anggota resmi. Anggota ini memilkiki tanda setiker bertuliskan Anggota Prospek pada motornya. Dan calon anggota adalah orang yang baru ikut Kopdar, sekadar ingin tahu Vario Kudus.

Dia menjelaskan, seluruh anggota juga membayar iuran rutin Rp 10 ribu setiap bulan. Anggaran tersebut digunakan untuk melakukan kegiatan sosial, di antaranya santunan anak yatim piatu dan memberi bantuan korban bencana alam. “Selain itu juga kami gunakan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan dan membayar saat mengikuti acara Kopdar Provinsi atau Kopdar Nasional,” terang warga Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Zulkarnain (28), satu diantara tiga orang pendiri Vario Kudus, menambahkan, Komunitas Vario Kudus dirintisnya sejak tanggal 19 Mei 2013. Dia dan tiga temannya sebelumnya bergabung di klub motor lain, karena ada ketidaksepahaman, mereka mendirikan komunitas motor baru, yakni Vario Kudus.

“Tujuan berdirinya Vario Kudus untuk menjalin rasa persaudaraan. Dengan kegiatan-kegiatan positif, saya berharap teman-teman yang bergabung di Vario Kudus bisa lebih kompak dan bisa bermanfaat bagi masyarakat juga,” ungkap warga Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

- advertisement -

Roni Rela Tak Sekolah Demi Toko Raja Obral Super Murah Jaya Kembali

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi timur Jalan Ahmad Yani Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak toko dengan roling door warna biru terbuka. Di dalam toko terlihat ratusan produk sandal dan sepatu berjajar serta tersusun sesuai dengan jenis dan mereknya. Di balik meja pembayaran terlihat seorang pria memakai kaus hitam sibuk dengan handphone di tangannya. Pria tersebut bernama Muhammad Roni (20), pengelola Toko Raja Obral Super Murah. Dia rela tak melanjutkan sekolah demi megelola toko orang tuanya tersebut.

Roni, pengelola Raja Obral Kudus 2017_3
Roni, pengelola Raja Obral Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Roni itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang toko yang dikelolanya. Dia mengungkapkan, dulu ayahnya memiliki sekitar 16 toko yang tersebar di beberapa daerah. Namun. beberapa tahun terkahir toko ayahnya tersebut meunyusut, karena orang yang dipercaya untuk mengelola bermasalah dengan keuangan toko.

“Karena alasan itu, setelah lulus SMP aku diminta oleh ayahku untuk tidak melanjutkan sekolah dan bersedia membantu mengelola toko. Demi bakti kepada orang tua dan demi usaha yang telah dirintis ayahku hampir 20 tahun, aku pun tak bisa menolak,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Pria yang berasal dari Madura dan sekarang sudah menetap di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus itu mengatakan, di toko Raja Obral Super Murah menyediakan aneka model sandal dan sepatu pria dan wanita berbagai ukuran dari berbagai merek. Sandal untuk anak dia jual mulai harga Rp 10 ribu sepasang. Sedangkan sepatu anak dia lepas Rp 45 ribu sepasang.

Sandal pria dewasa paling murah harganya Rp 15 ribu sepasang, dan sandal kulit dewasa dia banderol mulai harga Rp 50 ribu sepasang. Untuk sandal perempuan dia jual mulai harga Rp 20 ribu hingga Rp 105 ribu sepasang. Sedangkan sepatu kulit perempuan dia jual antara harga Rp 70 ribu sampai Rp 175 ribu sepasang.

“Harga yang aku sebutkan untuk aneka model sandal dan sepatu yang aku jual, di antaranya, sandal jepit, sandal slop, sepatu pantovel, sepatu kets, sandal dan sepatu standar untuk perempuan hingga yang model high heels juga tersedia. Selain itu di tokoku juga menyediakan aneka sandal Eiger jepit maupun gunung yang aku jual dengan harga Rp 60 ribu dan Rp 65 ribu sepasang,” jelasnya

Menurutnya, tokonya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan tidak hanya di Kudus melainkan juga daerah Purwodadi, Pati, Demak, hingga Semarang. Tuturnya saat sepi bisa meraup Omzet tidak kurang dari Rp 500 ribu sehari. Namun saat ramai dia mengaku mampu mendapatkan omzet sekitar Rp 2 juta sehari.

“Aku berharap dengan ikut mengelola, toko Raja Obral Super Murah bisa makin jaya lagi. Dengan lenkapnya jenis dan model sandal serta sepatu yang kami sediakan, kualitasnya juga jaminan mutu serta harga pun terjangkau, aku berharap toko kami makin ramai pembeli,” harapnya.

- advertisement -

Amnesti Pajak akan Segera Berakhir, Joko: Segera Laporkan Jika Tidak Ingin Rugi

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Dua orang laki-laki dan perempuan tampak sibuk mengobrol di ruang pelayanan Tax Amnesty Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus Jalan Niti Semito, Kudus. Mereka terlihat serius membicarakan progam pengampunan pajak yang akan berakhir 31 Maret 2017 nanti. Progam periode ketiga ini, menurut Pelaksana Ekstensifikasi dan Penyuluhan KPP Pratama Kudus, Joko Wahyudi, merupakan akhir progam Amnesti Pajak di Indonesia.

Program Tax Amnesty di KPP Pratama Kudus 2017_3_23
Program Tax Amnesty di KPP Pratama Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, setelah periode ketiga ini tidak akan lagi progam Amnesti Pajak. Menurutnya Amnesti Pajak yakni progam pengampunan yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak (WP). Program ini meliputi, penghapusan pajak yang seharusnya terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan serta penghapusan sanksi pidana di bidang perpajakan atas harta yang diperoleh sebelum 2015 namun belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT).

“Caranya dengan melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan. Walau hutang pajak banyak nanti akan diampuni dengan membayar tebusan,” ungkapnya saat ditemui di KPP Pratama Kudus, beberapa waktu lalu.

Joko menjelaskan, Amnesti Pajak periode pertama berlangsung 1 Juli 2016 hingga 30 September 2016. Menurutnya, tarif tebusan yakni dua persen untuk deklarasi dalam negeri dan empat persen untuk luar negeri. Selanjutnya, periode kedua, 1 Oktober 2016 sampai 31 Desember 2016 dengan tarif tebusan tiga persen untuk dalam negeri dan enam persen luar negeri. Terakhir periode ketiga 1 Januari 2017 hingga 31 Maret 2017, tarif tebusan lima persen dalam negeri dan 10 persen untuk deklarasi luar negeri.

“Untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), tarif tebusan 0,5 persen untuk harta kurang Rp 10 miliar, dan dua persen untuk harta lebih Rp 10 miliar (1 Juli 2016-31 Maret 2017),” jelasnya.

Menurut Joko, pihaknya tidak memaksa WP yang selama ini menyembunyikan hartanya dan tidak pernah melaporkan untuk mengikuti Amnesti Pajak. Namun dia memperingatkan, setelah progam Tax Amnesty selesai, nanti akan ada era keterbukaan informasi pajak di seluruh dunia. Direktur Jendral Pajak (DJP) memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan dengan dasar hukum pasal 18 Undang-undang (UU) Pengampunan Pajak.

“Rencana nanti akan ada dua kali lipat pegawai pajak yang diterjunkan untuk pemeriksaan. Namun untuk jumlahnya berapa masih tahap pembahasan pimpinan,” tambahnya.

Dikatakan Joko, masyarakat Kudus yang mengikuti Tax Amnesty tiga periode sampai hari Senin (20/3/2017) berjumlah 2.763 orang. Secara bisnis menurut Joko, WP yang tidak ikut Amnesti Pajak akan merugi. Karena, WP akan membayar denda yang tentunya lebih banyak.

“Yang tidak ikut Tax Amnesty, harta tidak dilaporkan di SPT dan nanti ditemukan (Ditjen Pajak), maka akan dihitung pajaknya 30 persen plus sanksi bunga dua persen per bulan. Dihitung sejak ditemukan datanya sampai terbit SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar), maksimal 24 bulan,” terangnya.

- advertisement -

Jual Gorengan Tak Laku, Jumani Kembali Tekuni Jual Perlengkapan Bangunan dan Sukses

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Di Desa Jepang Wetan RT 3, RW 10, Kecamatan Mejobo, Kudus tampak sebuah rumah bercat kuning. Di samping rumah terlihat gudang beratap seng dan tanpa pintu. Di dalam gudang bagian depan tampak puluhan karung berisi begel dan besi cakar ayam. Di sana juga terlihat seorang pria memakai kaus singlet, sedang melayani pembeli. Pria tersebut bernama Jumani (37), pemilik usaha pembuatan begel dan cakar ayam di tempat tersebut.

Jumani bersama dua anak dan istrinya
Jumani bersama dua anak dan istrinya. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com Jumani sudi berbgai cerita tentang kisah hidupnya. Dia mengungkapkan, memulai usaha pembuatan begel sekitar empat tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2013. Namun sebelum menemukan usaha tersebut Jumani mengaku terlebih dulu jatuh bangun selama puluhan tahun, dari kerja hingga merintis berbagai macam usaha.

Baca juga: Warga Jepang Wetan Ini Mampu Menjual Puluhan Ribu Begel Tiap Pekan, Omzat Belasan Juta

“Saat remaja, usia 18 tahun aku mulai kerja ikut orang Demak sebagai pelayan toko bangunan. Setelah dua tahun bekerja, karena kakaku nganggur aku rela keluar dan pekerjaan sebagai pelayan toko digantikan oleh kakaku,” kenang Jumanto yang mulai kerja pada tahun 1999.

Pria yang memanfaatkan samping rumah tinggalnya sebagai tempat usaha tersebut menceritakan, seusai keluar kerja, dirinya mencoba berjualan alat pertukangan keliling di Demak dengan modal seadanya.  Dia mengaku mengambil barang dari Semarang lalu alat pertukangan tersebut dia titipkan ke toko bangunan yang tersebar di Demak.

“Saat itu aku berjualan keliling memakai motor butut. Karena sistem jualannya, dibayar setelah barang laku, karena kekurangan modal dan tidak bisa berkembang, usaha berjualan alat pertukanganku hanya bertahan tiga tahun saja,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua putra itu mengaku saat itu dirinya sudah mempunyai keluarga. Saat di tengah kebingungannya dia mencoba usaha jual beli sepeda motor. Namun karena penghasilan dari makelar motor tak tentu, Jumanto memilih pindah haluan dengan berjualan gorengan di rumah sempitnya.

“Dulu itu rumahku sangat kecil dan sempit, hanya ruang tamu dan satu kamar saja, padahal saat itu aku juga sudah dikaruniai satu anak. Dengan berjualan gorengan aku berharap bisa membangun rumah agar lebih luas. Namun ternyata harapan pupus, dan untung tak bisa aku raih bersama gorengan,” ungkap Jumani.

Menurutnya berjualan gorengan tak semudah yang dibayangkan. Selama berjualan selalu sisa, dan setiap sisa pasti dibuang karena sudah tak bisa dijual di hari esoknya. Karena ragu dengan penghasilan berjualan gorengan dan keinginan untuk bisa membangun rumah, Jumani nekat meninggalkan keluarga tercintanya untuk mengadu nasib di Negeri Jiran.

“Aku kerja di Malaysia selama dua tahun. dan alhamdulillah hasilnya bisa aku gunakan untuk membangun rumah. Dan sisanya aku buat modal untuk berjualan keliling alat pertukangan lagi. Karena sudah memiliki modal, aku kelilingannya mengguanakan mobil meski butut,” ungkapnya.

Saat berjualan alat pertukangan itu, tuturnya, para pemilik toko bangunan sering menanyakan begel dan rangakaian besi cakar ayam. Berawal dari itu dia berinisiatif melengkapi dagangannya dengan menjual begel serta rangkaian besi cakar ayam.

“Dan alhamdulillah usaha berjualan begel dan rangkaian cakar ayam itulah yang sekarang masih bertahan dan lumayan berkembang. Dalam sepekan aku bisa mengirim puluhan ribu begel dan ratusan rangkaian cakar ayam,” ucap Jumani.

- advertisement -

Warga Jepang Wetan Ini Mampu Menjual Puluhan Ribu Begel Tiap Pekan, Omzet Belasan Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Suara musik Dangdut berdentum saat beberapa orang pria tampak semangat membengkokan besi as untuk dijadikan begel, di dalam gudang yang berada di Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus. Di sudut lain tampak beberapa orang bertelanjang dada sedang memotong besi dan merangkainya menjadi cakar ayam. Tempat tersebut merupakan pembuatan begel dan rangkaian besi cakar ayam, yang mampu menjual puluhan ribu begel tiap pekan.

Produsen begel dan cakarayam di Jepang Wetan
Produsen begel dan cakarayam di Jepang Wetan. Foto: Rabu Sipan

Pemilik usaha tersebut bernama Jumani (37). Kepada Seputarkudus.com, dia menuturkan, usaha pembuatan begel dan cakar ayam yang dia tekuni sejak 2013 tersebut, setiap pekannya bisa menjual produk sebanyak dua ton. Menurutnya, dari satu kilogram besi biasanya menjadi sekitar 16 begel, sehingga dua ton besi bisa menjadi sekitar 32 ribu begel dengan berbagai ukuran.

“Harga begel itu Rp 7 ribu per kilogram, kalau sepekan bisa mengirim dua ton begel ke para pelanggan, berarti berapa omzet yang aku terima? Itu hanya untuk begelnya lho, belum rangkaian besi cakar ayam yang setiap pekannya aku bisa mengirim sekitar 500 rangkaian,” ujar Jumani.

Warga Desa Jepang Wetan, kecamatan Mejobo, Kudus mengungkapkan,  jumlah pengiriman tersebut pada waktu sepi, saat ramai pengiriman begel bisa sampai tiga hingga empat ton. Bahkan tak jarang dirinya kewalahan melayani permintaan pelanggan dan kekurangan stok begel dan rangkaian cakar ayam.

Menurutnya, permintaan meningkat itu pada bulan Mei sampai bulan November, karena antara bulan tersebut curah hujan mulai berkurang dan biasanya banyak orang bangun rumah. Dia mengungkapkan, selain bulan-bulan tersebut, pada musim panen permintaan begel dan cakar ayam meningkat. “Itu dengan catatan ya, dengan catatan harga padi tidak turun drastis,” jelasnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, selain menjual begel dengan berbagai ukuran dirinya juga menyediakan beberapa ukuran rangkaian cakar ayam, di antaranya, cakar ayam dengan ukuran 40×40 sentimeter, 50×50 sentimeter, dan 60×60 sentimeter.

Berbeda dengan begel yang terbuat dari besi as ukuran 5 sentimeter, menurutnya cakar ayam terbuat dari besi as dengan diameter lebih besar yakni delapan dan enam sentimeter. Sedangkan untuk harga rangkaian besi cakar ayam dia jual mulai harga Rp 28 ribu sampai Rp 43 ribu tergantung ukuran.

Dia mengatakan, sebenarnya dulu pada awal usaha berjualan begel dan cakar ayam, dirinya tidak memproduksi sendiri. Namun membeli dari para pembuat yang ada di Kudus, dan dijualnya kembali ke beberapa toko bangunan Langganannya.

“Karena dengan membangkel harganya tak bisa bersaing dan keuntunganku juga mepet, aku berinisiatif memproduksi begel dan rangkaian besi cakar ayam sendiri dengan mempekerjakan sekitar tujuh orang.  Sedangkan upahnya dihitung secara borongan,” ungkapnya.

Jumani mengaku bersyukur usahanya sekarang sudah memiliki banyak pelanggan yakni para pemilik toko bangunan di Demak dan Kudus. Dan dari hasil usaha tersebut, Jumani mengaku selain memiliki rumah luas dan gudang produksi sendiri, kini dia juga memiliki dua unit mobil. “Ke depan aku berharap usahaku makin berkembang dan punya gudang di pinggir jalan raya,” ungkapnya.

- advertisement -