Beranda blog Halaman 1910

Tampil Lebih Elegan dan Mewah, Honda PCX 150 Banyak Diminati Ibu-Ibu Muda

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Dua unit motor Honda PCX 150 warna hitam terlihat terpakir di depan pintu masuk diler resmi penjualan motor Honda, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak di sisi lobi, seorang pria mengenakan kaus berkerah motif garis-garis sedang berbincang dengan pelanggan. Pria tersebut yakni Amad Ainun Nafi (30), Marketing Executive Astra Motor Kudus. Menurut dia, motor yang memiliki bodi tambun itu banyak diminati kalangan ibu-ibu muda.

Honda PCX 150 2017 Astra Motor Kudus 2017_3
Honda PCX 150 2017 Astra Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sambil melayani calon pembeli yang datang, Nafi begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi penjelasan terkait sekmen pasar tang membeli produk Honda PCX 150. Dia menjelaskan, pembeli produk motor berbodi ytambun itu, didominasi kalangan menengah ke atas yang di antaranya kalangan pengusaha. Mereka di antaranya, pengusaha  konveksi, gebyok, transportasi dan lain sebagainya.

“Honda PCX 150 ini banyak diminati kalangan ibu-ibu muda. Ini soal gengsi, kalau motor yang dikendarai bukan Honda PCX 150 mereka kurang pede. Untuk harga, cukup fantastik, yang pasti sesuai apa yang ditawarkan, yaitu kisaran Rp 40 juta,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Untuk penjualsan, dia mengungkapkan, setiap bulan dilernya mampu menjual tak kurang dari 10 unit motor Honda PCX 150. Pelanggan yang membeli paling dominan dari Kudus, tak jarang ada yang dari Jepara dan Rembang.

Motor yang jenis matik itu, kata Nafi, dibekali kemampuan mesin yang cukup tangguh dengan fitur tambahan berteknologi tinggi. Perpaduan warna yang terlihat tajam, katanya, diklaim memberikan kesan lebih mewah.

“Keunggulan, lampu depan sudah menggunakan LED dan lampu belakang dibekali konsep dual tail light with separate winker, sehingga memberikan pencahanyaan yang lebih terang. Selain itu, pada bagian dashbord terdapat power charger handphone, bagasi cukup luas, pemilihan roda memakai velg racing dan ban tubles. Yang paling menonjol, desain yang ditampilkan terlihat lebih elegan dan mewah,” ungkap Nafi.

Warga Dukuh Buloh, Desa Puyoh RT 1 RW 7, Kecamatan Dawe, Kudus, ini melanjutkan, keunggulan lain yang dimiliki motor yang berukuran panjang berkisar 2 meter itu terdapat pada bagian fitur kendaraan. Fitur tersebut meliputi, answer back system, yang fungsinya memudahkan pengendara dalam menemukan lokasi motor sewaktu di parkir. Selain itu fitur idling stop system (ISS) serta tambahan fitur sensor alarm anti maling yang membuat kendaraan semakin aman dari tindakan kejahatan.

Dia memberitahukan, motor pabrikan asal Jepang itu memiliki kapasitas mesin 150cc dan berat 131 kilogram. Menurutnya, dengan keunggulan yang dimiliki produk premium berlambang sayap tersebut, menjadikan motor in sangat nyaman digunakan untuk perjalanan jauh maupun dekat. “Jok pada motor juga luas, pengendara tidak akan merasa lelah ketika digunakan untuk touring,” ujarnya.

Terkait dengan varian warna, dia mengatakan ada tiga warna yang tersedia. Varian warna itu di antaranya putih, hitam serta abu-abu sebagai warna baru pengganti warna silver.

- advertisement -

Ada ‘Antasari Azhar’ Dalam Pentas Semangkuk Sup Makan Siang Atau Cultuurstelsel di Rejosari

0

SEPUTARKUDUS.COM, REJOSARI – Sejumlah properti pewayangan tampak di belakang dua orang narasumber dan moderator diskusi, di Balai Budaya Rejosari, Dawe, Kudus, Sabtu (25/3/2017) malam. Diskusi yang dihelat usai pementasan Teater Whanidproject itu, diselenggarakan Teater Djarum didukung Djarum Foundation. Suara tawa peserta terdengar saat seorang pria di antara puluhan peserta menyebut narasumber yang berkumis dengan sebutan Antasari Azhar.

Pentas teater naskah Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel
Pentas teater naskah Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel. Foto: Ahmad Rosyidi

Pria bernama Ali Rohman (30) itu mengungkapkan, narasumber diskusi yang sekaligus pembuat naskah berjudul “Semangkuk Sup Makan Siang Atau Culturstelsel” itu memiliki wajah yang mirip dengan Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Narasumber yang dimaksud bernama Hedi Santoso. “Wajah Pak Hedi memang mirip Antasari Azhar, kalau saya lihat dari samping tadi. Cuma beliau terlihat sedikit lebih tua sepertinya,” ungkapnya.

Ali Rege, begitu Ali Rohman akrab disapa, sangat mengapresiasi pementasan tersebut. Menurutnya, naskah yang dipentaskan sangat bagus untuk ditonton kalangan pemuda, karena memiliki pesan-pesan tentang semangat nasionalisme. Dia yang saat ini mengajar kelompok seni di Madrasah Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, ingin mengajak murid-muridnya berkesenian dengan muatan nilai-nilai nasionalisme.

Dalam acara yang dimoderatori anggota Teater Djarum Asa Jatmiko itu, Hedi mengatakan, naskah yang dia buat diilhami peristiwa tanam paksa pada masa penjajahan Belanda. Semangkuk sup makan siang dalam judul naskahnya, bisa dimaknai kemakmuran yang hanya dinikmati penjajah. Dengan pementasan itu dirinya ingin memberi pesan, agar masyarakat tidak lagi berwatak inlander. Masyarakat harus memahami jati diri bangsa.

Hedi menambahkan, naskah ini dipentaskan di empat kota, satu di antaranya di Kudus. Khusus untuk pementasan di Kudus, durasinya dipersingkat. Naskah yang seharusnya berdurasi kurang lebih dua jam itu, diperpendek menjadi sekitar satu jam.

“Kami mempersingkat durasi, karena pementasan di Kudus di luar ruangan, agar efektif. Meski begitu saya hanya pengulangan-pengulangan saja yang saya potong, jadi tidak mengurangi substansi dari naskah tersebut. Tetapi pementasannya menjadi linier tadi,” jelas pria asli Jogja tersebut.

Sejarawan Kudus Edy Supratno, yang hadir sebagai narasumber diskusi, mengaku heran dengan pementasan teater tersebut. Menurutnya, kalimat yang diucapkan para pemain persis dengan naskah. Dia juga sangat mengapresiasi pementasan dengan naskah yang memiliki muatan sejarah itu.

“Saya sangat mengapresiasi pementasan kali ini. Biasanya kita belajar sejarah di bangku sekolah, kali ini kita bisa belajar dengan menikmati pementasan. Jadi teater juga bisa menjadi media kita untuk belajar sejarah,” terangnya.

Dia juga merasa ironi dengan kondisi bangsa saat ini. Saat zaman kerajaan rakyat merasakan tanam paksa, karena hasil tanam diserahkan kepada kerajaan. Saat dijajah Belanda juga diperlakukan sama, rakyat mengalami tanam paksa hingga Belanda sanggup melunasi hutang-hutang negaranya.

“Sebenarnya Belanda tidak sesadis seperti yang sering kita dengar, yang sadis itu malah kaum elit dari bangsa kita sendiri. Dari zaman kerajaan hingga zaman penjajahan kita mengalami tanam paksa, dan kita tidak ada kemerdekaan untuk menikmati ‘sup’ dari hasil bumi kita,” tambahnya.

- advertisement -

Tak Lulus SD, Karmijan Mampu Mendirikan Usaha Produksi Gula Tumbu dan Bertahan Hingga Sekarang

0

SEPUTARKUDUS.COM, PUYOH – Di tepi timur jalan Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus, tampak sebuah rumah bertembok kuning. Di samping rumah, terlihat dua orang di bawah bangunan tak berdinding sedang memasukan batang tebu ke mesin penggilingan. Di antara rumah dan bangunan tampak seorang pria tua memakai berkaus lengan pendek sedang mengecek ampas tebu sisa penggilingan. Pria tersebut bernama Karmijan (70), pemilik usaha pembuatan gula merah.

Karmijan, produsen gula tumbu Desa Puyoh, Dawe, Kudus
Karmijan, produsen gula tumbu Desa Puyoh, Dawe, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Karmijan sudi berbagi kisah tentang usaha pembuatan gula tumbu miliknya. Dia mengungkapkan, memulai usaha pembuatan gula merah pada tahun 1965. Pada saat itu dirinya belum menikah dan baru berusia 20 tahun. Saat itu dirinya nekat memulai usaha, karena sudah bosan menjadi kuli.

“Sebelum membuka usaha sendiri, aku kerja ikut orang yang memiliki usaha pembuatan gula merah selama lima tahun. Di situ aku menjadi kuli serabutan. Karena aku juga ingin memiliki usaha serupa, saat bekerja, semua aku pelajari dari pembuatan hingga penghitungan biaya produksi,” ungkap Karmijan yang mengaku tak lulus sekolah dasar (SD) itu.

Warga Desa Puyoh, Dawe, Kudus itu mengatakan, sejak masih kerja dirinya mulai berbisnis tebu. Dirinya membeli tebu milik warga untuk disetorkann ke pembuat gula di tempat dia bekerja. Dari bisnis tersebut dia mengaku bisa mendapatkan keuntungan yang kemudian dikumpulkan untuk dijadikan modal usaha.

“Setelah aku rasa modal sudah cukup terkumpul aku keluar dan buka usaha pembuatan gula merah. Meski begitu aku masih menjadi penebas tebu, selain untuk produksi gula merah sendiri, tebu hasil tebasan tersebut aku kirim ke pabrik gula,” ungkapnya.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, pada awal merintis usaha pembuatan gula hanya mampu memproduksi sekitar 400 kilogram gula merah sehari. Menurutnya, saat itu gula hasil produksinya dia kirim ke beberapa toko milik warga Tionghoa yang berada di Pasar Kliwon Kudus.

Berbeda dengan dulu, katanya, saat ini hasil produksi gula merah miliknya bisa menghasilkan sekitar 18 ton sebulan dengan harga gula merah saat ini Rp 700 ribu per kwintal. Menurutnya, sekarang dirinya juga tak perlu repot mengirim, karena setiap hari gula hasil produksinya langsung diambil para tengkulak.

“Aku bersyukur usaha yang aku rintis puluhan tahun silam masih bertahan hingga sekarang. Dari usaha pembuatan gula merah aku mampu hidup berkecukupan, bangun rumah, punya truk untuk operasional, dan mobil keluarga. Sekarang, satu diantara tiga anaku juga mengikuti jejaku mendirikan usaha pembuatan gula merah,” ungkapnya.

- advertisement -

Harapan Karmijan Pupus, Harga Gula Merah Jatuh di Saat Banyak Pengusaha Tak Produksi

0

SEPUTARKUDUS.COM, PUYOH – Tiga pria paruh baya tampak sibuk di tempat usaha pembuatan gula merah di Desa Puyoh, Kecataman Dawe, Kudus. Tampak mereka berbagi tugas, dua pria di penggilingan dan satu orang kebagian merebus air tebu hingga menjadi gula merah. Tak berselang lama datang seorang pria berkaus lengan pendek mengecek gula merah yang sudah jadi. Pria tersebut bernama Karmijan (70), pemilik usaha pembuatan gula tumbu.

Produksi gula tumbu Desa Puyoh, Kecamatan Bae, Kudus 2017_3
Produksi gula tumbu Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengecek gula merah hasil produksinya, Karmijan sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang harga gula merah saat ini. Dia mengungkapkan, harga gula saat musim hujan ini jatuh. Padahal beberapa pemilik usaha serupa memutuskan tidak produksi. Diakuinya, hal itu di luar prediksinya.

“Aku sebenarnya berharap saat beberapa pengusaha pembuat gula tak produksi, harusnya gula merah harganya bisa naik, minimal stabil. Namun ya itu, harapan tinggal harapan, harga merah malah turun dibanding saat kemarau,” ungkapnya sambil geleng kepala, beberapa hari lalu.

Warga Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus, itu mengatakan, harga gula merah saat kemarau tahun lalu harganya Rp 900 ribu per kwintal. Sedangkan saat nini jatuh, seharga Rp 700 ribu per kwintal. Menurutnya, jatuhnya harga gula merah tersebut imbas dari melimpahnya produksi gula kelapa dari daerah Banyumas.

Meskipun harga jual gula kelapa lebih tinggi dari pada gula merah, menurutnya masyarakat atau para pemilik usaha yang menggunakan gula merah biasanya beralih menggunakan gula kelapa. Itu karena gula merah memiliki rasa lebih enak, kwalitasnya bagus, dan bentuknya juga rapi. “Bahkan produksi kecap ternama di Kudus tidak mau menggunakan gula merah,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, meskipun saat ini harga jual gula merah jatuh, dirinya memutuskan untuk tetap berproduksi. Karena saat dikalkulasi dirinya masih mendapat keuntungan meskipun menyusut. Itu tak lepas banyaknya stok ampas tebu kering saat kemarau, dan selalu menyempatkan menjemurnya saat cuaca tak lagi hujan.

“Enaknya ya itu limbah ampas tebu bisa untuk memasak sari tebu hingga menjadi gula merah. Jadi aku tidak perlu beli kayu bakar yang tentu akan menambah biaya produksi. Dan untuk bisa mendistribusikan gula merah produksiku, aku punya pelanggan yang menyuplai gula merah ke Jakarta. Percuma juga kan bisa produksi tapi tidak bisa menjual ditengah melimpahnya produksi gula kelapa,” tuturnya.

Karmijan mengatakan, mempekerjakan tiga orang untuk bagian produski yang diupah dengan sistem borongan, serta dua kuli harian untuk menjemur ampas tebu. Selain itu, dia juga mempekerjakan satu tim penebang tebu yang terdiri dari delapan orang.

- advertisement -

Dwi Ingin Bengkel Knalpotnya Jadi Laborat untuk Yatim Piatu Menempa Kemandirian

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Beberapa orang tampak sibuk di bengkel knalpot yang di Jalan Suryo Kusumo Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus. Mereka mengerjakan perbaikan dan pemasangan knalpot mobil. Di bawah mobil, terlihat seorang pria memakai kaus gari-garis sedang mengelas knalpot. Pria itu bernama Dwi Sulistiyono (40), pemilik bengkel knalpot Wisma Jaya, yang ingin mendidik yatim piatu agar bisa mandiri.

Dwi Sulistiyono, ahli knalpot di Jepang Wetan, Kudus
Dwi Sulistiyono, ahli knalpot di Jepang Wetan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Pria yang akrab disapa Dwi itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keinginannya tersebut. Dia mengungkapkan, ingin sekali bisa membantu anak yatim piatu. Namun kata dia membantunya tidak dengan memberikan uang, melainkan membekali mereka dengan ketrampilan. Menurutnya, ketrampilan tersebut bisa memberi mereka peluang untuk bisa bekerja sekaligus berlatih membuat knalpot di bengkel miliknya.

Baca juga: Ahli Knalpot Itu Mirip Dokter, Harus Bisa Menerima Keluhan dan Mampu Memperbaikinya

“Aku berfikir, kalau menolong anak yatim piatu dengan memberi uang justru mendidik mereka menjadi peminta-peminta dan tentu tidak baik untuk jiwa mandiri mereka. Oleh karena itu, aku ingin membekali mereka dengan ketrampilan, karena dengan modal ketrampilan mereka kelak bisa mencari kerja atau justru mendirikan usaha sendiri,” jelasnya.

Pria yang memiliki bengkel tepat di depan rumahnya itu menuturkan, ingin sekali bisa bekerja sama dengan pemilik yayasan yatim piatu, agar menyalurkan anak yatim piatu untuk belajar ketrampilan membuat kanlpot miliknya. Menurutnya, selain belajar, mereka bisa magang dan mendapatkan gaji dan makan. “Selama ini aku masih kesulitan untuk mencari yayasan yatim piatu yang mau diajak kerjasama,” ungkapnya.

Karena mendapat kesulitan itu, dia membuka lowongan khusus untuk yatim piatu tanpa melalui yayasan untuk datang ke bengkelnya. Menurutnya, syarat bekerja di Wisma Jaya Knalpot tidak harus membawa ijazah.

“Syarat bekerja di bengkel miliku itu sangat mudah, yang penting rajin, jujur, dan punya loyalitas. Saat ini aku juga membuka lowongan untuk tiga orang bagi masyarakat umum yang ingin bekerja di bengkel, dan syaratnya sama,” ungkap Dwi yang mengaku bengkelnya buka setiap hari kecuali Jumat.

- advertisement -

Seumur Hidup Tak Pernah Disuntik, Kribo Nekat Donor Darah Karena Tak Tahan Diledek Teman

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sebuah mobil putih tertulis Palang Merah Indonesia terlihat di depan pintu masuk gedung Auditotorium Universitas Muria Kudus (UMK), beberapa hari lalu. Di dalam gedung, sejumlah mahasiswa tampak terbaring di tempat yang disediakan panitia donor darah. Pada Kegiatan yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kudus bekerjasama dengan Korps Suka Rela (KSR) itu, terlihat pria berambut keriting, ikut mengantre untuk donor.

Kribo (tengah) mengikuti donor darah di Auditorium UMK 2017_3
Kribo (tengah) mengikuti donor darah di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Ria berambut keriting itu bernama Adi Nugroho (20). Dia mengaku baru pertama kali melakukan donor darah. Selain pertama kali melakukan donor darah, dia juga untuk pertama kali disuntik selama hidupnya. Meski awalnya takut, namun dia nekat ikut donor karena tak tahan diledek teman-temannya.

“Saya diledek terus sama teman-teman. Ini pertama kali saya disuntik. Seumur hidup saya belum pernah disuntik. Waktu di sekolah ada vaksinasi saya kabur karena takut,” terangnya kepada Seputarkudus.com usai donor darah, Kamis (23/3/2017).

Kribo, begitu Adi Nugroho biasa disapa, mengungkapkan, dirinya merasa lega dan puas sudah pernah donor darah. Menurutnya, rasanya sedikit nyeri, tetapi tidak sakit. Kribo juga ingin ikut donor darah lagi setelah tiga bulan. “Tidak sakit, cuma sedikit nyeri. Mungkin karena daya tahan tubuh saya kuat, saya juga jarang sakit,” tutur warga Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

Ernis Solikah (20), Ketua KSR UMK, menjelaskan, setiap orang yang ingin donor harus di periksa terlebih dahulu. Dalam kegiatan tersebut, dari 101 orang yang mendaftar, ada 16 orang yang gagal karena belum memenuhi syarat pendonor. Dia juga merinci hal-hal yang biasanya membuat gagal untuk mendonorkan darah.

“Biasanya karena tensi darahnya rendah, berat minimal 45 kilogram, haru lebih dari satu pekan sesudah menstruasi, setelah minum obat tidak boleh, kalau darahnya terlalu encer juga tidak boleh,” jelas Ernis.

Dalam kegiatan yang dimulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB tersebut, setiap peserta yang ikut donor akan mendapat kupon hadiah dari Extra Joss Blend. Dan kupon tersebut akan diundi pada tanggal 2 April 2017 di Alun-alun Kudus. Dia juga berpesan, bagi mahasiswa yang terlambat mendaftar, masih ada kesempatan tanggal 29 Maret 2017, akan diadakan donor darah lagi di UMK.

“Bagi teman-teman yang belum bisa donor tadi, karena terlambat untuk daftar. Tanggal 29 Maret 2017 ada donor darah lagi di sini. Selain itu ini juga kegiatan rutin setiap bulan, jadi jangan kapok, masih ada kesempatan,” tambahnya.

- advertisement -

@Hom Kudus Memanjakan Pengunjung dengan Jenang dan Becak Wisata ke Menara

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Di tepi Jalan Tanjung, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah bangunan warna putih berpadu merah tampak menjulang tinggi. Di atas pintu masuk lantai dasar, terdapat tulisan @Hom hotel by Horison. Kepada Seputarkudus.com, Marketing Manajer, Tika Encim (24) menyatakan, @Hom selalu memanjakan pengunjung dengan banyak fasilitas.

Hotel @Hom 2017_3
Hotel @Hom Kudus

Dia menjelaskan, keramahan menjadi fasilitas utama pihaknya memberikan pelayanan. Selain itu, pihaknya juga memberikan fasilitas berupa gula tumbu lounge, becak Wisata ke Menara Kudus serta Jenang Mubarok dan berbagai fasilatas lainnya.

“Kami memposisikan @Hom Kudus ini ibarat rumah bagi pengunjung, dan keramahan pelayanan utama bagi kami. Ada tempat karaoke, restoran, meating room, ruang seminar, wedding room, dan tentunya wifi dan parkir gratis. Untuk fasilitas kamar, kami memberikan fasilitas berupa kamar ber AC, televisi, air minum, lemari, kamar mandi dalam serta berbagai sofa bed bagi penerimaan tamu,” ungkap Tika.

Warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, ini mengatakan, berdirinya hotel tempat dia bekerja di Kudus sudah tiga tahun lebih, sejak bulan desember 2013. Kapasitas kamar yang tersedia sekitar 87 unit kamar dengan mempekerjakan karyawan sebanyak 50 orang. “Kami mempunyai 87 kamar dan 50 orang karyawan yang bekerja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, harga kamar yang ditawarkan bagi setiap pengunjung yang hendak menginap sangat beragam, tergantung tipe kamar yang hendak di pesan. Misalnya, tipe superior dengan harga Rp 400 ribu per kamar, deluxe Rp 550 ribu dan tipe executive dia patok harga Rp 900 ribu per kamar. “Tapi bagi yang sudah menjalin kerjasama dengan kami, tentunya harganya yang kami tawarkan beda lagi,” ujarnya.

Untuk pengunjung, kebanyakan didominasi dari wilayah luar Kudus, meliputi Jakarta, Surabaya maupun Yogjakarta. Sedangkan kalangan pengunjung yang menginap, biasanya dari kalangan pebisnis, kunjungan pemerintahan dan berbagai instansi-instansi. Menurutnya, dalam satu hari pengunjung yang menginap sekitar 60 persen dari semua jumlah unit kamar yang tersedia.

Wanita yang sudah satu setengah tahun menjabat sebagai marketing manajer @Hom Kudus ini menambahkan, lokasi yang strategis ditengah-tengah kota menjadi pengaruh bagi pengunjung untuk menginap di hotel. Untuk check in kamar di mulai pukul 14.00 WIB, sedangkan check out kamar pada pukul 12.00 WIB. “Lokasi kami ditengah-tengah kota, jadi banyak pengunjung yang datang menginap,” tambahnya.

- advertisement -

Ahli Knalpot Itu Mirip Dokter, Harus Bisa Menerima Keluhan dan Mampu Memperbaikinya

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG WETAN – Di tepi utara jalan Suryo Kusumo Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak bengkel ramai aktivitas. Di dalamnya terlihat beberapa mobil terparkir. Di bawah mobil dua orang sibuk memperbaiki knalpot kendaraan roda empat tersebut. Di sudut lain terlihat beberapa orang lainnya mengelas dan merangkai knalpot. Bengkel knalpot mobil itu yakni Wisma Jaya Knalpot.

Bengkel knalpot Wisma Wijaya, Desa Jepanng Wetan, Mejobo 2017_3
Bengkel knalpot Wisma Wijaya, Desa Jepanng Wetan, Mejobo. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya di bengkel tersebut, pemilik Bengkel Wisma Wijaya, Dwi Sulistiyono (40) sudi berbagi kisah usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, membuka usaha bengkel knalpot mobil sejak tahun 2000. Menurutnya, memiliki bengkel knalpot itu mirip dengan dokter, karena harus siap menerima keluhan para pelanggan tentang knalpot mobil mereka yang rusak. Tidak hanya itu, selain menerima keluhan dia juga harus bisa memberikan solusi yang tepat untuk kerusakan maupun pemasangan knalpot baru agar para pelanggan puas.

“Dokter itu kan harus sabar dan telaten mendengar semua keluhan para pasiennya, lalu memberikan obat. Begitu juga dengan diriku, yang siap mendengarkan keluhan dan merealisasikan permintaan suara knalpot yang diinginkan para pelanggan, agar mereka tidak kecewa,” ungkap pria yang akrab disapa Dwi kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Jepang Wetan, Mejobo, Kudus itu mengungkapkan, usai lulus sekolah teknik mesin (STM) tahun 1994, dia mengaku kerja di bengkel knalpot di Kudus milik orang Purbalingga selama dua tahun. Menurutnya, setelah keluar dia pindah ke bengkel serupa namun pemiliknya berbeda. Di tempat kerjanya yang kedua itu dia betah hingga empat tahun.

“Pada tahun 2000 aku menikah. Dan setelah menikah, di tahun yang sama aku nekat membuka usaha bengkel knalpot sendiri. Karena menurutku, setelah menikah dan punya anak kebutuhan makin meningkat. Dengan memiliki usaha dan berharap bisa berkembang, tentunya penghasilanku bisa meningkat. Memiliki usaha sendiri juga tidak terikat,” ujarnya.

Pria yang kini telah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, setelah memiliki usaha para pelanggannya sewaktu masih bekerja pada orang lain banyak yang mencarinya. Menurut Dwi, setelah ada satu pelanggannya menemukan bengkel Wisma Jaya, dari mulut ke mulut bengkelnya mulai ramai pelanggan. “Maklum saat itu belum ada handphone jadi informasi menyebar dari mulut ke mulut,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan,  sejak mulai buka hingga sekarang, bengkel Wisma Jaya sudah memiliki banyak pelanggan, tidak hanya dari Kudus melainkan juga seluruh daerah di Karesidenan Pati. Dia mengatakan, mematok harga sangat miring untuk pemasangan knalpot mobil yakni berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 2 juta. Menurutnya, harga yang dipatok tergantung bahan dan suara yang dihasilkan. Dia mengaku saat ramai bisa memasang knalpot mobil sekitar 150 unit dan mampu meraup omzet Rp 40 juta sebulan.

“Sebagai pemilik bengkel aku selalu mengedepankan pelayanan terbaik untuk para pelanggan. Karena bagiku pelayanan dan kualitas nomer satu sedangkan uang nomor sekian. Pokoknya aku siap melayani permintaan dari suara kenalpot dan bentunya. Dijamin kualitas bagus dan harganya miring,” ungkap Dwi.

- advertisement -

Popda Kudus 2017, Putri Anggap Jadi Srikandi Panahan Lebih Menantang

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Sejumlah anak berkaus merah tampak berbaris menghadap arah selatan di Lapangan Panahan SMA 2 Bae. Mereka memegang busur, bersiap-siap meluncurkan anak panah yang di pegangnya. Mereka adalah para atlet yang tengah mengikuti pertandingan panahan pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kudus 2017 tingkat SD, SMP.

Pertandingan panahan Popda Kudus 2017 _3_27
Pertandingan panahan Popda Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat peluit terdengar, anak panah mulai dilesatkan beberapa kali menuju target yang berjarak puluhan meter di depan mereka. Satu atlet di antara yang melesatkan anak panah, Agustin Dwi Putri Ana Rosita (12), siswa kelas enam SDN Kayuapu, Desa Gondang Manis. Dirianya mewakili Kecamatan Bae dalam Popda Cabang Panahan tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dirinya mengaku suka olahraga panahan karena menantang. “Memanah lebih menantang dan seru. Saya senang,” ungkapnya saat jeda pertandingan, Sabtu (25/3/2017).

Untuk mengikuti pertandingan tersebut, Putri, begitu dirinya akrab disapa, tidak ingin mencoba cabang olahraga lain. Dia ingin fokus untuk menjadi srikandi panahan yang andal. Khusus untuk mengikuti Popda, dia sudah mempersiapkan diri jauh hari. Letak sekolahnya yang cukup dekat dengan lapangan panahan di SMA 2 Bae, hampir setiap sore dia latihan.

Ariftini, guru olahraga SDN Kayuapu yang ikut menemani Putri menuturkan, pihaknya mengirimkan delapan atlet panahan untuk mengikuti lomba. Menurutnya, dari delapan atlet terdapat tiga atlet pemula. Dirinya mengeklaim sekolahnya memang spesialis untuk membibit atlet panahan. Popda tahun 2016 lalu, dirinya mengaku mendapatkan enam emas di semua cabang panahan. “Untuk Popda tahun ini ikut di cabang tingkat SD 30 meter, 25 meter dan 20 meter,” jelasnya.

Khusus untuk Popda tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017, pihaknya sudah melakukan latihan khusus. Empat bulan sebelum pelaksanaan, pihaknya melakukan latihan rutin setiap sore. Setelah itu, dua pekan sebelum pelaksanaan lomba melakukan latihan setiap pagi dan sore. Ariftini ingin dalam pelaksanaan lomba memberikan penampilan yang maksimal. “Semoga mereka (siswa) bisa menjadi atlet nasional kelak,” tambahnya.

Hadi Sunaryo ketua panitia pelaksana pertandingan cabang panahan mengatakan, terdapat dua kategori yang dilombakan, yakni Nasional dan Compound. Dua kategori tersebut akan diikuti tingkat SD, SMP dan SMA sederajat. Untuk tingkatan SD ada tiga jarak yang dilombakan, yakni 30 meter, 25 meter dan 20 meter dengan diikuti 21 peserta perwakilan dari kecamatan di Kudus. “Peserta tingkat SD maksimal lahir 2005,” ungkapnya.

Hadi yang juga Tetua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kudus itu, melanjutkan tingkatan SMP dan SMA terdapat jarak 50 meter, 40 meter, 30 meter dan total jarak. Peserta yang mengikuti tingkat SMP sejumlah 18 atlet dan SMA delapan atlet. Menurutnya, setiap tahun minat siswa dalam mengikuti olahraga panahan meningkat. Dengan kondisi tersebut, dia sangat yakin Kudus mampu bersaing di Pra-Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah. “Semoga banyak generasi penerus yang mampu bersaing di tingkat nasional dan international,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) SD, SMP, dan SMA Tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2017 terdapat 18 cabang olahraga yang ditandingkan. Di antaranya tenis meja, renang, panahan, bola voli mini, tenis lapangan, taekwondo dan catur. Kegiatan tahunan tersebut akan berakhir 26 Maret 2017.

- advertisement -

Ria Bisa ‘Sulap’ Wajah Pelanggan yang Tembem Berubah Tirus

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Tiga perempuan tampak sibuk di dalam sebuah ruangan rumah di Gang Sugipati II Desa Tumpang Krasak, Kecamatan jati, Kudus. Terlihat di ruangan tiga perempuan tersebut berbagi tugas untuk merias dua pelanggannya. Dua orang sedang memasang hijab, sedangkan satu perempuan sibuk merias wajah. Perempuan itu bernama Ria Candra Kirana (22), yang mengaku bisa “menyulap” wajah para pelanggannya menjadi tirus atau cuby, sesuai permintaan pelanggan.

Ria, pemilik Riakirana Make Up sedang merias wajah pelanggannya
Ria, pemilik Riakirana Make Up sedang merias wajah pelanggannya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa Ria itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, dirinya selalu memenuhi permintaan kemauan pelanggan. Bahkan pernah ada pelanggan yang minta wajahnya dibuat tirus meski pipi pelanggannya tersebut tembem, begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Berawal Suka Berdandan, Mahasiswi UMK Ini Tak Ragu Terima Make Up Wisuda dan Pernikahan

“Sebagai perias yang menjalani usaha secara profesional, aku tidak mungkin menolak permintaan pelanggan tersebut. Dengan pengalaman dan ilmu teknik make up yang aku dapatkan beberapa kali ikut seminar, aku pun bisa mewujudkan permintaan para pelanggan. Coba saja lihat di Instagramku di situ aku unggah foto para pelanggan sebelum dan sesudah di-make up. Hasilnya pasti bikin kagum,” ungkapnya.

Perempuan yang masih tercatat sebagai mahasisiwi UMK tersebut menuturkan, selama menjalani usaha jasa make up, semua pelanggannya mengaku puas dengan hasil kerjanya. Bahkan pernah beberapa kali menerima order make up dari luar daerah, di antaranya Pati, Purwodadi, Semarang.

“Di Semarang ada acara wisuda, jadi ada beberapa orang yang akan wisuda dan untuk make up dipercayakan kepadaku. Di Purwodadi itu pelanggan lama, acara wisuda temannya. Karena hasilnya memuaskan, saat tunangan aku tetap dipercaya untuk meriasnya. Sedangkan di Pati aku harus kerja keras, karena harus merias orang sekampung untuk acara karnaval,” jelasnya.

Dia mengatakan, saat ini selain menerima jasa make up juga menerima pelatihan bagi orang yang ingin belajar. Menurutnya, untuk pelatihan tersebut dia menerima untuk personal dan pelatihan profesional make up artis (MUA), yaitu untuk merias untuk orang lain.

“Tarif kedua jenis pelatihan tersebut berbeda, untuk personal aku mematok harga Rp 750 ribu untuk tiga kali pertemuan. Sedangkan untuk pelatihan make up profesional, aku bebankan biaya Rp 1,5 juta untuk lima kali pertemuan. Untuk pelatihan profesional model bisa bawa sendiri bisa juga aku sediakan,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah mengikuti pelatihan dijamin langsung bisa make up diri sendiri maupun orang lain, harga tersebut juga sangat terjangkau. “Selain itu ruangan yang aku sediakan untuk para pelanggan yang ingin make up dan mereka yang ingin ikut pelatihan sangat nyaman, ruangan AC, serta free wifi,” ujarnya.

- advertisement -

Kepincut Harga Mede, Warga Demak Ini Setia Berlangganan Produk Roti Desa Ngemplak

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMPLAK – Ratusan kardus merah dengan tulisan Mulia Bakery tampak tersusun rapi di ruang tamu rumah di Desa Ngemplak Gang 7, Kecamatan Undaan, Kudus. Tak berselang lama datang perempuan bersama saudaranya untuk mengambil ratusan roti yang sudah dikemas tersebut. Perempuan itu bernama Erna Purnamasari (22), warga Demak yang berlangganan di Mulia Bakery karena harganya lebih mede (murah).

Pelanggan Mulia Bakery Desa Ngemplak, Undaan, Kudus 2017_3
Pelanggan Mulia Bakery Desa Ngemplak, Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil mengamati dan menghitung ratusan dus roti yang dia pesan, perempuan yang akrab disapa Erna itu sudi berbagi kesan selama berlangganan di Mulia Bakery kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan, sudah beberapa kali dirinya memesan roti di sana. Menurutnya, pertama mengetahui Mulia Bakery dari adik iparnya, saat itu dirinya sedang mencari roti untuk hajatan pindah rumah.

Baca juga: Sempat Mati Suri, Usaha Roti Mulia Bakery Bangkit Lagi Setelah Wati Masuk BLK

“Adik iparku bilang di Desa Ngemplak, Undaan, Kudus ada produksi roti rumahan yang menerima pesanan aneka jenis roti dan harganya juga jauh lebih murah dari lainnya. Saat diberi tahu, aku langsung mencari alamat yang disebutkan itu. Aku sampai bertanya beberapa kali untuk menemukannya. Dan saat ketemu dan diberi daftar harga, Mulia Bakery harganya lebih mede, rasanya juga enak,” ungkap perempuan yang berasal dari Karang Anyar, Demak Tersebut.

Perempuan yang sedang mengandung anak pertama itu mengatakan, sejak saat itu setiap ada hajatan atau acara keluarga, dirinya selalu memesan roti di Mulia Bakery. Dan saat ini, dia mengaku mengambil memesan 100 dus roti untuk hajatan tiga hari kerabatnya yang meninggal.

Menurut Laili Rahmawati (36) pemilik usaha Mulia Bakery mengungkapkan, dirinya tidak mematok harga mahal untuk aneka roti yang diproduksinya. Karena dirinya berfikir lebih baik mendapat keuntungan sedikit yang penting pesanan lancar. Dia mengungkapkan, menyediakan aneka jenis roti di antaranya, roti pisang aneka rasa, roti lima rasa, roti buaya kecil dan besar, roti kepala panda  dan lainnya.

Dia mebambahkan, ada juga roti kembang bertabur keju, aneka donat, bolu ban polos, bolu ban seres, serta bolu ban keju. Dia juga menerima pesanan aneka kue basah, di antaranya, putri ayu, nagasari, bugis, jentik manik, jentik jagung manis, lapis, klepon, dan lainnya. “Dari aneka kue yang aku sebutkan tadi, satunya aku jual mulai harga Rp 1 ribu hingga paling mahal Rp 30 ribu untuk roti buaya besar,” ungkap perempuan yang akrab disapa Wati itu.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, aneka roti produksinya, tidak menggunakan bahan pengawet dan kuat bertahan selama sepekan. Namun kata dia, roti hasil produksinya akan lebih enak dan lezat saat disantap sebelum sepekan.

- advertisement -

Berawal Suka Berdandan, Mahasiswi UMK Ini Tak Ragu Terima Make Up Wisuda dan Pernikahan

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di tepi jalan gang Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah rumah bercat warna hijau. Di satu ruangan rumah tersbeut terlihat penuh hiasan serta manekin. Di ruangan tersebut tampak seorang perempuan berambut pirang sedang merias wajah seseorang. Perempuan tersebut bernama Ria Candra Kirana (22), pemilik usaha jasa make up wajah Riakirana.

Ria Candra Kirana (baju merah) tengah merias pelanggan
Ria Candra Kirana (baju merah) tengah merias pelanggan. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitas memoles wajah pelanggannya, perempuan yang akrab disapa Ria itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, memulai usaha make up sejak tahun lalu, tepatnya pada Juli. Menurutnya, usaha sambilan itu dipilih karena dirinya suka berdandan.

“Aku itu saka berdandan dan suka banget terlihat cantik. Tapi aku juga merasa puas dan senang saat bisa membuat wanita lain juga terlihat cantik. Makanya meski aku masih kuliah, aku mencoba menerima order make up,” ungkap Mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, untuk menjadi penata rias, sebelumnya dia kursus dan mengikuti seminar di sejumlah kota besar. Seminar yang pernah dia ikuti antara lain, Make Up Suhaibdaud di Semarang, Magicial Beauty Class Make Up dan Beauty Class Inivindy di Jogjakarta. Menurutnya di seminar tersebut dirinya dilatih merias dengan cakap dan mendapatkan sertifikat.

Ria mengatakan, setelah mendapatkan tiga sertifikat tersebut dirinya makin percaya diri dengan kemampuannya dan berani menerima order make up. Dia menerima tatarisa untuk wisuda, tunangan, atau pesta. Untuk make up wisuda dia memasang tarif Rp 200 ribu, tunangan Rp 350 ribu, untuk make up pesta Rp 200 ribu. “Harga itu hanya untuk make up saja, untuk hijab stylish dan hair do masing-masing aku kenakan tambahan biaya Rp 50 ribu,” jelasnya.

Selain menerima job aneka tata rias tersebut dia mengaku juga menerima permintaan make up prewedding dan wedding. Menurutnya, untuk make up prewedding dirinya mematok harga Rp 500 ribu, dan Rp 5 juta untuk jasa make up pernikahan. Harga make up pernikahan tersebut dijelaskannya meliputi make up dua mempelai, orang tua mempelai, lengkap dengan busana yang dikenakan.

Dia menuturkan, selama ini dirinya menawarkan jasanya tersebut melalui Instagram dengan akun riakiaranamakeup. Sejak mempromosikan jasanya tersebut, dia mengaku sering mendapatkan permintaan, tidak hanya di Kudus melainkan daerah sekitar, di antaranya Semarang, Pati, hingga Purwodadi.

“Harga make up-ku itu sangat terjangkau dan lebih murah dibanding yang lainnya. Meskipun murah tapi tidak murahan, hasilnya dijamin sangat memuaskan karena berkualitas,” tuturnya.

- advertisement -

Sempat Mati Suri, Usaha Roti Mulia Bakery Bangkit Lagi Setelah Wati Masuk BLK

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMPLAK – Di tepi utara jalan Desa Ngemplak Gang 7, Kecamatan Undaan, Kudus, tampak sebuah rumah bertembok putih. Di dalam rumah terlihat dua orang wanita sedang memasukan roti ke dalam kardus kecil. Di dapur tampak seorang perempuan memakai jilbab coklat sedang memasukan adonan kue ke dalam mesin oven. Dia bernama Laili Rahmawati (36), pemilik usaha Mulia Bakery.

Lail Rahmawati, pemilik Mulia Bakery Kudus 2017_3_25
Lail Rahmawati, pemilik Mulia Bakery Kudus. Foto: Rabu Sipan

Perempuan yang akrab disapa Wati itu, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha pembuatan roti. Dia mengungkapkan, memulai usaha membuat roti sejak tahun 2002. Dia menuturkan, sebelum membuka usaha terlebih dulu ikut kerja kakaknya selama setahun.

“Saat itu aku masih lajang, dengan bekal pengalaman ikut kerja kakak, aku memutuskan membuka usaha membuat kue bersama ibuku. Saat itu roti hasil produksi aku titipkan ke warung dan toko seluruh Kecamatan Undaan. Sedangkan ibuku kebagian tugas menjual aneka roti produksiku ke Pasar Wates dan Pasar Kalirejo,” ungkap Wati yang mengaku menikah pada tahun 2013.

Dia menuturkan, saat itu roti hasil produksinya berukuran kecil dan banyak diminati orang, bahkan sehari dirinya mampu memproduksi sekitar 900 roti dengan harga satuan Rp 400. Namun katanya, setiap usaha pasti menemui rintangan. Usaha pembuatan rotinya sempat berhenti karena ada toko roti terkenal Kudus yang buka cabang tak jauh dari desanya.

“Sejak satu di antara toko roti terkenal Kudus buka cabang di Jalan Kudus-Purwodadi. Roti hasil produksiku kurang begitu diminati, dan aku rugi karena banyak roti yang retur hingga aku memutuskan untuk berhenti produksi dan hanya menerima pesanan saja,”ungkap Wati.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, pada 2012 ada perangkat desa yang menawarinya untuk ikut pelatihan home industry. Dirinya, saat itu sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Dan setahun kemudian dia mengikuti pelatihan kerja yang diadakan Pemerintah Kudus Kabupaten Kudus di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Di kedua pelatihan tersebut aku diajari banyak tentang membuat aneka macam roti dengan pilihan rasa yang tentunya lebih enak. Aku juga diajari membuat roti dengan tampilan yang menggoda,” katanya.

Setelah ikut dua pelatihan tersebut, dia bersyukur ada orang yang memesan roti hingga dirinya berkesempatan mempraktikan ilmu yang didapatkannya. Dan dirinya bersyukur yang pesan tersebut puas dan suka dengan rasa roti buatannya, hingga dari kabar mulut ke mulut roti buatanya yang diberi nama Mulia Bakery makin diminati dan dipesan banyak orang.

Menurutnya pemesan roti Mulia Bakery tidak hanya orang Kudus, tapi juga Demak, Purwodadi, Pati dan lainnya. Saat ramai Wati mengaku mampu menerima pesanan hingga 3.000 kardus roti sebulan, dan saat sepi, masih mampu menerima sekitar 1000 kardus roti.

“Aku bersyukur roti Mulia Bakery hasil produksiku diminati banyak orang. Dan hasilnya juga sudah lumayan, termasuk untuk biaya bangun toko untuk menjual aneka roti produksiku yang berada di Desa Jetis Kapuan, Jati, Kudus. Semoga nanti saat aku pasarkan di toko, rotiku makin laris dan usahaku tambah berkembang,” harapnya.

- advertisement -

Ingin Keliling Kota Naik Delman Hanya Bayar Rp 10 Ribu, ke Taman Wergu Saja Tiap Minggu

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Beberapa delman terlihat terparkir di pojok timur Gedung Olahraga (Gor) Bung Karno Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, pukul 09.00 WIB. Para kusir tampak menunggu penumpang yang ingin menggunakan jasanya untuk berwisata keliling Kudus. Suasana cukup ramai oleh masyarakat yang berwisata di Taman Wergu dan Taman Krida.

Wisata di Taman Wergu Kudus naik delman 2017_3
Wisata di Taman Wergu Kudus naik delman. Foto: Imam Arwindra

Tak berapa lama, seorang wanita bersama dua anak kecil berjalan menuju delman yang terparkir. Dia bernama Mareta Nurul Emaroh, yang mengaku ingin berwisata keliling kawasan taman menaiki delman bersama anaknya. Selain itu, dia ingin anaknya tidak takut lagi dengan kuda. “Sebenarnya dia suka kuda, namun dia juga takut. Maklum masih anak-anak. Ini saya ajak naik delman,” ungkapnya sambil mempobong satu anaknya, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, bersama anaknya dia baru pertama kali naik delman. Menurutnya, delman yang ada di Taman Wergu menyenangkan dan mengasyikkan. Rekreasi yang tak perlu merogoh kocek dalam ini bisa dinikmati orang dewasa dan juga anak-anak. Anak-anak juga bisa belajar mengenal lingkungan di Kabupaten Kudus. “Pelayanannya pun sudah bagus. Baguslah pokoknya,” tambah warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota.

Dedi Susanto (54),kusir delman di Taman Wergu menuturkan, dirinya bersama tujuh orang temannya melayani pengunjung yang datang di Taman Wergu setiap Minggu dan hari libur. Menurutnya, dia sudah berada di kawasan Taman Wergu sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 siang. Tarif yang diberikan yakni Rp 10 ribu setiap kali keliling. “Rp 10 ribu sudah bersama anaknya. Jadi Rp 5 ribu tarifnya,” tuturnya.

Dedi yang lengkap menggunakan blangkon, menjelaskan, jalur yang akan dilalui untuk wisata yakni dari Taman Wergu melewati Jalan Johar, kemudian Jalan Pramuka dan berhenti di Taman Wergu kembali. Dirinya juga bisa disewa khusus untuk ke Alun-alun Simpang Tujuh atau ketempat lain yang ada di Kudus. “Disewa khusus juga bisa. Kalau tidak disewa khusus ya nunggu penumpang penuh dulu baru jalan. Satu delman muat lima orang,” tambahnya.

Khumaidi (53), kusir yang juga menyediakan layanan wisata keliling, menuturkan, wisata yang disediakan antusias masyarakat baik. Menurutnya, selain harga yang murah pihaknya juga menyediakan pelayanan yang bagus. Setiap delman diberikan kantong kotoran kuda tak mengotori jalan. Selain itu delman yang dikemudikan dilengkapi pernak-pernik supaya menarik. “Delmannya masih klasik. Bannya tidak pakai ban mobil,” ungkapnya.

- advertisement -

Joni Modifikasi Motor Vario Miliknya dengan Sound System Senilai Rp 700 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Suara musik terdengar dari satu di antara puluhan motor Honda Vario yang terparkir rapi di tepi Jalan Nendral Sudirman, Desa Barongan, Kota Kudus. Tak jauh dari puluhan pria sedang duduk bergerombol, terlihat tiga orang pria sedang berjoget menikmati alunan musik. Satu di antaranya, Joni Adi Purnama (23), pemilik motor Vario yang sudah memodifikasi motornya menggunakan speaker aktif.

Modivikasi motor Honda Vario 2017_3_25
Modivikasi motor Honda Vario 2017. Foto: Ahmad Rosyidi

Joni, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang modifikasi Honda Vario miliknya. Dia mengatakan, itu berawal saat dirinya ikut klub motor Vario Kudus sekitar satu tahun lalu. Saat kopdar berlangsung, dia merasa sepi. Kemudian dia berinisiatif untuk memberi speaker aktif pada motornya agar sedikit ada hiburan.

Baca juga: Uji Loyalitas Anggota, Vario Kudus Club Sodorkan Syarat dan Tahapan Berlapis

“Saya ikut Vario Kudus sudah sekitar satu tahun. Karena saya merasa sepi saat kopdar, jadi saya ingin memodifikasi Vario milik saya dengan memberi speaker aktif. Ini saya buat sendiri, belajar dari kakak saya yang memiliki usaha servis elektronik,” terang pria asli Blora itu.

Dia menjelaskan, proses modifikasi itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Menurutnya, yang paling membutuhkan waktu lama saat membentuk tabung sound agar bisa pas dimasukan di dalam jok motor. “Yang membutuhkan proses lama ya membentuk tabung sound agar pas di dalam jok. Untuk membuat sepeaker aktif di motor saya mengeluarkan dana sekitar Rp 700 ribu,” terang pria satu anak itu.

Meski sudah berkeluarga, Joni ikut klub motor karena senang bisa memiliki banyak teman. Selain itu, dia juga tertarik dengan kegiatan-kegiatan sosial yang ada di klub motor. Dia merasa banyak hal positif yang bisa dia dapat di klub Vario Kudus.

Dedy Noor Surahman (19), Wakil Ketua Vario Kudus Club mengungkapkan, komunitasnya melakukan kopdar rutin setiap malam Minggu di depan Rumah Sakit Kartika Husada. Selain itu, mereka juga sering mengikuti kopdar Vario tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (V-Jay), serta Kopdar Paguyuban Vario Nusantara (PVN), untuk tingkat Nasional.

“Jadi kami ada naungan tingkat Nasional. Di Kudus juga ada yang menaungi kami, yaitu Paguyuban Honda Kudus (PHK). Kami juga sudah mendapat perizinan dan diakui Polres Kudus,” jelasnya.

- advertisement -