Beranda blog Halaman 1909

Demi Bisa Berjualan Parfum, Mantan Karyawan Bank Ini Harus Rogoh Kocek Cukup Dalam

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di tepi barat Jalan HM subchan ZE Kelurahana Purwosari, Kecamatan Kota Kudus, tampak kios yang memasang ratusan botol kaca dan logam. Bototol-botol yang dipajang di etalase tersebut berisi parfum. Di samping etalase terlihat seorang pria memakai kaus biru sedang menunggu pembeli datang. Pria tersebut bernama Hartoko (29), pemilik toko parfum tersebut.’

Hartoko, penjual parfum di Jalan Suchan ZE Kudus
Hartoko, penjual parfum di Jalan Suchan ZE Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya menunggu pembeli, pria yang akrab disapa Harto itu sudi berbagi kisah tentang usaha toko yang menjual parfum kepada Seputarkudus.com. Dia mengungkapkan mulai merintis usaha sejak tahun 2015. Demi mewujudkan keinginannya membuka usaha penjualan parfum tersebut, dia mengaku rela merogoh koceknya lumayan dalam.

“Demi mewujudkan ambisi untuk mempunyai usaha sendiri, aku rela membongkar isi tabunganku. Karena usahaku itu lumayan memerlukan banyak modal, aku harus mengeluarkan modal sekitar Rp 60 juta. Uang itu aku gunakan untuk menyewa tempat, membeli perkakas dan tentu membeli aneka parfum untuk aku jual kembali,” ungkapnya.

Warga Honggosoco, Mejobo, Kudus itu menceritakan, sebelum membuka usaha, pada tahun 2012 dirinya bekerja di Bank Danamon.  Bekerja selama satu setengah tahun, dia pindah kerja ke perusahaan klaim asuransi di Kudus. Dan setelah menikah dia memberanikan diri membuka usaha penjualan aneka parfum.

“Aku memilih usaha penjualan parfum karena menurutku, parfum itu bukan kebutuhan utama namun kebanyakan orang pasti membeli parfum. Karena saat orang menyemprotkan parfum di badan atau pakaian, mereka jadi tambah percaya diri untuk berbaur dengan orang lain. Begitu juga saat tidak memakai parfum, mereka pasti minder, apalagi perempuan,” kata Harto.

Dia mengatakan, tokonya menyediakan aneka jenis parfum untuk pria maupun wanita. Parfum pria di antaranya, Blue Emotion, Dunhill, Bulgary Aqua dan lain sebagainya. Sedangkan parfum untuk wanita di antaranya Jello Style, Jello Platinum, Angel Heart Britney Fantasy dan lainnya. Menurutnya, semua parfum dijual dengan harga sama yakni Rp 1500 per miligram.

Usaha penjualan parfum tersebut diakuinya sudah lumayan memiliki pelanggan. Bahkan dari penjualan aneka parfum tersebut dirinya mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp 7,5 juta sebulan. “Ibarat orang menanam padi, usahaku ini sudah balik modal dan aku tinggal menanti semai dan panennya saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Harto menuturkan, tokonya buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Selain menjual ecer dia juga melayani pembelian grosir. “Beberapa bulan terakhir aku juga mulai menjual parfumku melalui online. Dan semoga usaha aneka parfum yang aku jual makin diminati serta usahaku bisa makin berkembang,” harapnya.

- advertisement -

Agar Makin Disayang Suami, Uswatun Perawatan di Derma Skin Care, Hasilnya Sangat Memuaskan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di ruang konsultasi Klinik Derma Skin Care di tepi Jalan Sunan Kudus, Desa Demaan, Kecamatan Kota, terlihat seorang perempuan berjilbab hitam sedang konsultasi kepada dokter estetika. Seusai konsultasi, dia keluar dan menuju ke tempat customer sevice untuk menebus produk kecantikan. Perempuan itu bernama Uswatun Nasriyah (33), yang mengaku melakukan perawatan agar makin disayang suami.

Uswatun (kiri) usai perawatan di Derma Skin Care Kudus 2017_3
Uswatun (kiri) usai perawatan di Derma Skin Care Kudus. Foto: Rabu Sipan

Usai membayar produk, perempuan yang akrab disapa Uswatun itu sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com selama melakukan perawatan di Derma Skin Care. Dia mengungkapkan, sudah melakukan perawatan hampir dua tahun di klinik tersebut. Dia  melakukan perawatan wajah agar terlihat lebih cerah dan segar.

“Sebagai seorang wanita yang sudah menikah aku ingin memiliki wajah yang tetap cerah dan segar. Agar saat suami memandang itu tidak terlihat kucel. Kalau punya wajah bersih dan cerah kan suami jadi betah memandangi dan yang penting agar suami makin sayang,” ungkap Uswatun yang melepas masa lajangnya tahun 2007.

Perempuan yang berasal dari Sayung, Demak, itu mengatakan, di Klinik Derma Skin Care dirinya melakukan perawatan peeling wajah. Sejak perawatan tersebut, dia merasa wajahnya terlihat lebih cerah, segar dan sehat. Dia selalu rutin melakukan perawatan peeling wajah di Derma Skin Care setidaknya sebulan sekali.

“Sejak melakukan perawatan wajah di Derma Skin Care, aku sudah tidak berpaling ke tempat lain. Selain hasil yang memuaskan, harga perawatan dan produknya juga sangat terjangkau,” ucap perempuan yang berprofesi menjadi guru itu.

Menurut Mila Ledya Luspa (33), dokter estetika di Derma Skin Care, sudah banyak pelanggan yang mengaku mendapatkan hasil memuaskan. Dan dari kepuasan tersebutlah, grafik pelanggan dari tahun ke tahun selalu naik.

Selain perwatan kulit, di Derma Skin care juga melayani bedah kulit. Layanan tersebut, di antaranya operasi buang tai lalat dan kutil. Untuk melakukan operasi itu pasien cukup membayar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Sedangkan operasi kanker kulit, tarifnya lebih mahal, yakni antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

“Pelanggan yang melakukan bedah kulit di Derma Skin Care lumayan banyak. Karena bedah kulit di Derma tidak usah rawat inap. Selesai dioperasi langsung bisa pulang hari itu juga. Tinggal datang untuk kontrol sepekan sekali,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mila tersebut.

Untuk bedah kulit, kata Mila, ditangani langsung dokter spesialis kulit. Menurutnya di Derma skin Care Kudus disediakan dua dokter, satu dokter spesialis kulit dan satu dokter estetika. “Pokoknya di Derma Skin Care siap memberi solusi para pelanggan agar memiliki kulit sehat dan cantik idaman para pelanggan,” ungkapnya.

- advertisement -

Berharap Keuntungan Lebih Besar, Didik Nekat Beli Mesin Cutting Stiker Seharga 25 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Di tepi jalan Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, tampak kios berpintu besi. Di bagian depan kios tersebut, terlihat etalase kaca berisi aneka macam stiker. Di dalam kios tampak pria sedang mendesain stiker menggunakan komputer. Sedangkan pria lainnya sedang mengoperasikan mesin pencetak stiker. Pusat pembuatan stiker tersebut bernama Raja Stiker tersebut.

Pusat cutting sriker motor dan mobil di Peganjaran, Kudus 2017_3
Pusat cutting sriker motor dan mobil di Peganjaran, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, pemilik Raja Stiker, Didik Irawan (27) mengungkapkan, setelah mampu mengembangkan usaha menjual dan pemasangan stiker, pada tahun 2010 dirinya berinisiatif untuk memproduksi stiker sendiri. Menurutnya, demi mewujudkan keinginanny tersebut, Didik mengaku rela merogoh koceknya  hingga Rp 25 juta, untuk membeli perlengkapan dan mesin pencetak stiker.

Baca juga: Didik Kembangkan Usaha Stiker Warisan Kakaknya: Kuncinya Harus Telaten

“Dengan bisa memproduksi stiker sendiri, aku pasti bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Karena dengan membeli bahan lalu aku buat stiker sesuai permintaan pelanggan, tentu lebih murah dari pada harus berbelanja stiker dan aku jual kembali,” ungkapnya, saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Pria yang tinggal di kios tempat produksi stiker itu mengatakan, setelah mengelola sendiri toko Raja Stiker warisan kakaknya itu, dia langsung ikut Komunitas Penjual dan Pemasangan Stiker Indonesia. Dari beberapa teman komunitas tersebut, dirinya mendapat info pembuatan cutting stiker.

Dia mengatakan, menerima berbagai macam stiker dengan desain apapun sesuai permintaan pelanggan. Sejak bisa memproduksi stiker, dia mengaku sering mendapatkan pesanan cutting stiker dari beberapa komunitas sepeda motor maupun mobil.

Menurutnya, pesanan itu tidak hanya datang dari para pelaku komunitas di Kudus, melainkan juga komunitas dari Jepara, Pati, Demak dan sekitarnya. “Pokoknya hampir komunitas di Karesidenan Pati pernah memesan stiker di sini. Bahkan pada tahun 2016, aku menerima order pembuatan 1.000 pcs cutting stiker untuk dikirim ke Papua,” bebernya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu menjelaskan, cutting stiker yang dia buat bisa menyala saat terkena cahaya di kegelapan. Menurutnya jenis stiker ini sekarang paling diminati. Dia mengungkapkan, menjual cutting stiker dengan harga Rp 25 per sentimeter persegi untuk satu warna.

Sedangkan untuk cutting stiker dua warna atau lebih, Didik membanderol kelipatan harga satu warna. Menurutnya, harga tersebut untuk pembelian minimal 100 pcs. Untuk pembelian cutting stiker di bawah 100 pcs dibebankan biaya kepada para pelanggan sebesar Rp 35 per sentimeter persegi.

Dia mengatakan, memproduksi stiker dalam jumlah banyak saat ada pesanan saja. Saat tidak ada pesanan, dia hanya mencetak stiker untuk dijual di toko Raja Stiker yang berada di Tepi Jalan Lingkar Utara.

- advertisement -

Ingin Menginap di Hotel yang Asri di Antara Hamparan Sawah, Ini Tempatnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di lantai dua Hotel King’s Kudus, terlihat hamparan persawahan yang begitu asri mengelilingi setiap sudut hotel. Pepohonan berdaun lebat di sekitar area parkir kendaraan, menambah kesejukan suasana dan pandangan. Operasional Manager Hotel King’s Tris Suyitno menyatakan, keindahan panorama inilah yang membedakan hotel yang dia kelola dengan hotel lain di Kudus.

Hotel King's Kudus yang asri di tengah persawahan 2017_3
Hotel King’s Kudus yang asri di tengah persawahan. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Tris begitu dia akrab disapa, menjelasakan, konsep hotelnya memang di buat sedemikian rupa, layaknya penginapan mewah. Taman di sekitar hotel sengaja dibuat, supaya terlihat asri dan suasana menjadi lebih hidup. Hal itu dilakukan, agar semua pengunjung yang hendak menginap merasakan kedamaian dan kenyamanan.

Baca juga: Hotel King’s Kudus, Fasilitas Kelas Berbintang dengan Harga Terjangkau

“Konsep kami minimalis tropis, dengan lebih menonjolkan keindahan alamnya. Ini yang membedakan hotel kami dengan yang lain. Pengunjung akan merasakan suasana damai pada saat pertama kali menginap. Dengan suguhan hamparan persawahan yang bisa dilihat dari lantai dua. Inilah keunggulan hotel kami,” ungkap Tris saat ditemui di hotel yang terletak di Jalan R. Agil Kusumadya, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.

Dia mengatakan, terkait dengan jumlah pengunjung yang menginap tidak bisa ditentukan, terkadang setiap hari naik, kadang juga menurun. Namun dia menyatakan, dalam sehari jumlah tamu yang menginap rata-rata bekisar 50 persen dari jumlah kamar yang tersedia. “Kurang lebih 16 hingga 20 kamar yang terpakai dari total 32 kamar yang tersedia,” ujar Tris.

Pria yang sudah enam tahun menjabat sebagai Operational Manager ini memberitahukan, untuk meningkatkan sejumlah pengunjung yang datang, pihaknya melakukan berbagai langkah. Di antaranya, promosi melalui media online, elektronik, radio sekaligus memberikan potongan harga bagi pelanggan dia yang sudah sering menginap.

“Pelanggan kami banyak dari PT Pura, Djarum maupun Polytron yang sudah sering kerja sama dengan kami,” ungkapnya.

Dia menambahkan, peluang bisnis perhotelan untuk ke depan masih terbuka luas. Menurutnya, peluang tersebut terlihat dari adanya dua makam Walisongo yang sering dijadikan destinasi wisata religius. Tidak hanya itu, Kudus sebagai kota industri yang terletak di jalur pantura, membuat kalangan pebisnis dari luar kota sering datang untuk menginap di hotel.

“Kami meyakini, prospek ke depan akan semakin berkembang. destinasi wisata di Kudus juga sekarang sudah bertambah. Banyak pembangunan yang dilakukan pemerintah,” tambahnya.

- advertisement -

Siswa TBS Ini Catat Semua Keterangan Mantan Teroris yang Hadir di Kantor PC NU Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Sejumlah kendaraan terparkir rapi di kantor PC NU Kudus, di tepi Jalan Pramuka Nomor 20, Desa Mlati Lor, Kota Kudus, Rabu (29/3/2017) siang. Terlihat Puluhan peserta memenuhi kursi bagian depan dalam acara Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) PC Kudus, dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) PC Kudus.

Abu Tholut memberikan pemapara dalam Sarasehan Kebangsaan di kantor PC NU Kudus
Abu Tholut memberikan pemaparan dalam Sarasehan Kebangsaan. Foto: Ahmad Rosyidi

Saat acara dimulai, tampak seorang pria mengenakan peci hitam di bagian belakang sedang mencatat apa yang disampaikan narasumber. Dia tak lain adalah Muhammad Iskandar Dzulqornain (17), dirinya merasa perlu untuk mengikuti kegiatan tersebut untuk membentengi diri agar tidak terjerumus di jalan yang salah. Karena dirinya berencana kuliah di Timur Tengah, dia ingin belajar tentang berbagai ideologi kelompok-kelompok radikal.

“Sementara ini saya baru belajar tentang ideologi Wahabi, HTI, MTA, dan Jaringan Islam Liberal. Saya cukup tahu saja, agar saya tidak mudah terpengaruh. Jadi yang bagus bisa saya ambil, yang tidak bagus bisa buat pelajaran. Saya juga ingin bergabung dengan mereka, agar tau seperti apa sebenarnya di dalamnya,” jelas siswa MA TBS tersebut kepada Seputarkudus.com.

Acara bertema “Ideologi Transnasional VS Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” itu, menghadirkan tiga narasumber. Mereka antara lain, mantan teroris Abu Tholuth (mantan teroris), Ketua ISNU Kudus Kisbiyanto dan Ketua MUI Kudus Khamdani Hasanudin.

Ain begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, saat ini dia dan 11 temannya sudah mendaftar beasiswa untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Timur Tengah. Selain mempersiapkan untuk tes seleksi, Ain juga merasa perlu persiapan pengetahuan Ideologi agar bisa membentengi diri. Menurutnya, acara Sarasehan Kebangsaan memang diperlukan bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh faham-faham radikal yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan menolak NKRI.

“Saya merasa dapat pengetahuan baru dari kegiatan ini. Narasumbernya juga ada yang mantan teroris, jadi sudah paham tentang kelompok tersebut,” terang mantan ketua OSIS TBS Kudus itu.

Dalam pemaparannya Imron Byhaqi (56) alias Abu Tholut, mantan teroris yang menjadi narasumber kegiatan tersebut, menjelaskan, radikalisme itu ada dua, konstruktif dan destruktif. Menurutnya, Radikal konstruktif juga dibutuhkan untuk hal yang positif dan kebaikan. Bukan untuk hal yang negatif dan merenggut hak orang lain.

“Radikalisme konstruktif itu yang positif, jadi untuk kegiatan yang positif kita juga perlu radikal. Seperti taat beragama dengan benar, menegakkan keadilan, kasih sayang antar sesama. Dan radikal destruktif ini yang negatif, ikut aliran sesat, berdusta, menebarkan kezaliman, menghalalkan segala cara untuk merenggut hak orang lain,” jelas Abu Tholut, sapaannya saat masih bergabung di Jamaah Islamiah (JI) dan Jamaah Ansoru Tauhid (JAT) itu.

Ahmad Hamdani, Ketua MUI Kudus yang menjadi narasumber kedua, menyampaikan, tidak semua perbuatan Rasulullah itu wajib diikuti. Bagi Rasullullah tahajud menjadi sebuah kewajiban, tetapi bagi umatnya tidak diwajibkan. “Jadi kita harus bisa memilih mana yang baik kita ikuti, dan kita sesuaikan dengan kondisi saat ini,” terangnya.

Sementara itu, Kisbianto, Ketua ISNU Kudus yang juga menjadi narasumber, mengungkapkan, sebagai negara demokrasi, masyarakat Indonesia harus mengutamakan musyawarah. Dialog menjadi hal yang penting untuk mencari sebuah solusi. “Hukum mati itu jalan terakhir, kalau semua pencuri dipotong tangannya, kita semua dipotong. Karena pernah mencuri uang orang tua,” terangnya disambut gelak tawa peserta yang hadir.

Abdur Rohman (24), ketua panitia kegiatan, mengungkapkan, kegiatan Sarasehan Kebangsaan dengan tema membutuhkan persiapan dua bulan. Dia berharap dengan adanya kegiatan tersebut, seluruh anggota IPNU dan IPPNU Kudus tidak terjerumus dan memecah belah NKRI.

- advertisement -

Demi Baktinya Pada Orang Tua, Ellen Menolak Jabatan Direktur dan Pilih Pulang ke Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di tepi utara Jalan Jenderal Sudirman Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah dua bangunan lantai dua berwarna putih. Di dalamnya terlihat beberapa pelanggan sedang menikmati hidangan yang disajikan. Di dalam pantri, terlihat perempuan setengah baya berambut sepunggung sedang sibuk mengarahkan para pelayan untuk menyajikan menu makanan yang dipesan para pelanggan. Perempuan itu bernama Ellen Trisnawati Gunarja (62), pemilik Resto Garuda dan Eagle Coffee.

Ellen Trisnawati Gunarja, pemilik Resto Garuda Kudus 2017_3
Ellen Trisnawati Gunarja, pemilik Resto Garuda Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Di sela aktivitasnya tersebutm perempuan yang akrab disapa Ellen itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com, tentang kisahnya mengelola Resto Garuda dan Eagle Coffee. Dia mengungkapkan, usaha Resto Garuda dirintis oleh orang tuanya sejak 1974. Namun pada tahun 1998, atas permintaan orang tuanya, usaha resto tersebut mulai dia kelola karena orang tuanya sakit.

“Padahal pada waktu itu aku sudah bekerja sebagai manajer di perusahaan di Jakarta yang bergerak di bidang manufaktur dan furniture selama 18 tahun. Dan pada tahun yang sama aku juga mendapatkan tawaran kenaikan jabatan menjadi direktur perusahaan di tempatku bekerja. “Namun karena ingin menyenangkan dan sekaligus merawat orang tua, aku menolak jabatan direktur dan aku pulang untuk membuat orang tuaku senang dengan harapan beliau berumur panjang,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, awal memegang kendali pengelolaan di Resto Garuda dirinya mengaku kesulitan, karena usaha kuliner sangat berbeda dengan basic pendidikan yang dia tempuh semasa kuliah. Namun demi tekad dan semangat agar bisa memajukan usaha itu, dia mengaku bekerja dan berfikir keras untuk membuat Resto Garuda semakin berkembang dan menu masakan yang disajikan diminati banyak pelanggan.

Pada enam bulan pertama, dia menuturkan, merombak sistem kerja yang ada di Resto Garuda. Bagi para pekerja yang tidak bisa mengikuti pola kerja yang diterapkan, mereka dipersilahkan untuk keluar. Karena saat itu Ellen menekankan para pekerja untuk disiplin, selalu menjaga kebersihan, dan kerja sama dalam tim. Itu dia terapkan untuk membuat pelanggan senang dengan pelayanan dan puas dalam menikmati hidangan.

“Puji tuhan, usaha kerasku membuahkan hasil. Pada tahun 1999 Resto Garuda mendapatkan pesanan katering dari Hotel Griptha Kudus sebanyak 1.000 porsi. Dan yang membuatku bangga dan senang, pihak Hotel Griptha puas dengan masakan yang kami sajikan,” ujarnya sambil tersenyum.

Ellen Menuturkan, Resto Garuda menyediakan aneka menu masakan Indonesia dengan pilihan sekitar 10 jenis, ada juga masakan Chinese yang mempunyai 15 varian menu, dan masakan Eropa memiliki 15 pilihan menu. Menurutnya, harga aneka menu yang disajikan sangat terjangkau yakni mulai Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu seporsi. Sedangkan untuk minumannya dibanderol mulai Rp 4 ribu sampai Rp 30 ribu untuk minuman kombinasi buah.

“Semua menu masakan dan minuman yang disajikan Resto Garuda semua dikerjakan oleh para koki dan bartender yang memang sudah ahli. Selain suasana tempat yang nyaman dan megah bak resto bintang lima namun harga sangat terjangkau. Aku juga mengajak para penikmat kuliner, mari datang ke Resto Garuda dan cicipi aneka menu masakan yang kami sajikan, pokoknya dijamin puas. Dan sekali lagi harga sangat terjangkau, dan bisa dinikmati bersama,” ujarnya.

- advertisement -

Hotel King’s Kudus, Fasilitas Kelas Berbintang dengan Harga Terjangkau

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di tepi Jalan Agil Kusumadya, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sebuah bangunan berlantai dua berkonsep minimalis tropis. Bangunan tersebut memiliki sekitar 32 unit kamar. Bangunan tersebut tak lain Hotel King’s Kudus. Seorang pria mengenakan kemeja turun dari mobil Grand Max warna silver, berjalan menuju tempat lobi hotel. Dia yakni Tris Suyitno, Operational Manager hotel tersebut.

Hotel King's Kudus, Jalan R Agil Kusumadya, Desa Jati Wetan, Jati
Hotel King’s Kudus, Jalan R Agil Kusumadya, Desa Jati Wetan, Jati. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai dengan secangkir kopi hitam di atas meja, Tris begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang hotel tak jauh dari PT Pura Barutama tersebut. Dia menjelaskan, hotel yang dibangun di atas tanah seluas 2.240 persegi itu berdiri sejak pertengahan oktober 2009. Menurutnya, harga yang ditawarkan bagi setiap pengunjung cukup terjangkau, namun tidak mengurangi fasilitas yang diberikan layaknya menginap di hotel berbintang.

“Sesuai dengan motto kami, yaitu Star Class With the Best Price, pengunjung akan kami berikan fasilitas sebanding dengan apa yang ditawarkan hotel berbintang. Pengunjung yang datang akan kami berikan 3S, senyum, sapa dan servis. Pelayanan yang kami berikan seperti di bank pada umumnya. Pengunjung akan kami layani pada saat pertama kali masuk di hotel,” ungkap Tris sambil sesekali meminum kopi.

Terkait dengan fasilitas lain, dia melanjutkan, semua kamar yang disediakan di Hotel King’s sudah dilengkapi air conditioner (AC), televisi, koran harian, telepon rumah, kopi dan teh, sekaligus air mandi hangat. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan diberikan sarapan pagi. Pengunjung juga akan dimanjakan dengan free wifi.

Tris memberitahukan, kamar yang disediakan bagi pengunjung terbagi menjadi tiga tipe, masing-masing tipe memiliki harga yang berbeda. Misalnya, Tipe Grand Deluxe dipatok dengan harga Rp 420 ribu per kamar per malam, Tipe Superior dengan harga Rp 295 ribu dan Tipe Bisnis dibanderol dengan harga jauh lebih murah, sebesar Rp 215 ribu per kamar per malam.

“Soalnya kapasitas tipe bisnis hanya untuk satu orang. Misal mau nambah tempat tidur juga bisa, tapi harus sewa kasur. Waktu check in kamar dimulai sejak pukul 12.00 WIB, sedangkan check out kamar dimulai pukul 12.00 WIB,” ujarnya.

Untuk pengunjung, katanya, kebanyakan didominasi oleh kalangan pebisnis dan keluarga. Di antaranya dari Jepara, Jakarta, Yogjakarta, Magelang, Surabaya maupun Surakarta. Selain menyediakan kamar, pihaknya juga menyediakan ruangan meating besar dan kecil. Tapi biasanya banyak digunakan untuk seminar, wedding, serta pertemuan kalangan pebisnis.

“Kapasitas ruangan, meating besar mampu memuat 200 orang dan meating kecil hanya mampu memuat sebanyak 50 orang.  Harga yang kami sewakan antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta khusus bagi kategori meating besar,” tambah Tris yang mengaku bekerja di Hotel King’s Kudus sudah selama enam tahun.

- advertisement -

Bulan Depan, SIM Keliling Kudus Mulai Beroperasi, 5 Menit Jadi

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Beberapa orang mengantre di dekat Mobil Isuzu ELF bernomor polisi IX-1602-43, yang terpakir di dekat Gor Bung Karno Wergu Wetan Kudus. Mobil bercat putih biru itu merupakan kendaraan yang digunakan untuk pelayanan SIM Keliling Polres Kudus. Mobil ini khusus untuk perpanjangan masa berlaku SIM, tidak melayani pembuatan baru.

Perpanjangan masa berlaku SIM Keliling Polres Kudus di GOR Bung Karno
Perpanjangan masa berlaku SIM Keliling Polres Kudus di GOR Bung Karno. Foto: Imam Arwindra

Satu demi satu masyarakat yang ingin memperpanjang SIM telihat memasuki mobil tersebut. Di antaranya Ahmad Afif (34), warga Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae. Dia sebelumnya mengkau tidak tahu ada pelayanan SIM keliling di Kudus. Dirinya datang ke GOR Bung Karno hanya bermaksud untuk memperpanjang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

“Tadi saya ke sini hanya untuk perpanjang STNK saja. Eh, malah ada mobil SIM Keliling. Mumpung ada ya sekalian saja karena Juni 2017 (masa berlaku) SIM sudah habis,” ungkapnya usai memperpanjang SIM C miliknya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya dengan adanya pelayanan SIM keliling dirinya bisa terbantu dengan mudah dan lebih praktis. Afif membandingkan, saat memperpanjang SIM di Mapolres menghabiskan waktu yang cukup lama. Namun perpanjangan di SIM Keliling hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja. “Sangat terbantu sekali dengan adanya SIM keliling. Ini SIM-nya langsung jadi,” jelasnya sambil menunjukkan SIM C-nya yang baru jadi.

Sementara itu Bintara Urusan SIM (Baur SIM) Aiptu Harinto Mulyo mengungkapkan, mobil pelayanan SIM sudah bisa digunakan masyarakat. Menurutnya, setelah dilakukan berbagai uji coba, akhirnya bersamaan di kegiatan Gebyar Simpatik Akbar 2017 sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. “Ini sudah bisa digunakan. Namun masih ada sedikit kendala,” ungkapnya.

Rinto, sapaan akrabnya, menjelaskan, kendala yang dialami yakni gangguan koneksi antara komputer dengan kamera. Namun hal tersebut bisa ditangani dengan cepat. Kini masyarakat bisa memperpanjang SIM tak hanya di Mapolres Kudus saja, melainkan bisa melalui pelayanan SIM Keliling.

Dia melanjutkan, SIM yang bisa diperpanjang hanya SIM A dan C saja. Untuk SIM tipe lain, masih harus dilakukan di Mapolres Kudus. Biaya yang harus dibayar yakni SIM A Rp 80 ribu dan SIM C Rp 75 ribu. Dalam pelayanan memperpanjang SIM juga sudah disediakan dokter dan pegawai bank untuk pembayaran. Menurutnya bank yang akan bekerja sama yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI). “Ini untuk jadwalnya masih pembahasan. Karena masih tahap survey di tiap-tiap daerah,” jelasnya.

Dirinya memastikan awal April 2017 jadwal sudah jadi dan masyarakat sudah bisa mengakses pelayanan. Menurutnya, jadwal pelayanan SIM keliling akan diketahui lewat media cetak, online maupun sosial media. “SIM-nya langsung jadi. Cukup bawa foto copy KTP dan SIM lama. Namun ingat, telah sehari saja harus membuat SIM baru,” tambahnya.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto menambahkan, dengan adanya pelayanan keliling perpanjangan SIM tentu dapat lebih memudahkan masyarakat. Selain itu, juga dapat mengurangi antrean di kantor pelayanan SIM Mapolres Kudus. “SIM langsung jadi. Dan waktunya pun singkat,” ungkapnya.

- advertisement -

Terkesan Tempat dan Menu yang Disajikan, Mima Pilih Rayakan Ulang Tahun Putranya di Resto Garuda

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Belasan orang tampak duduk sambil menyantap hidangan di Resto Garuda, di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Di antara belasan orang tersebut, terlihat seorang perempuan mengenakan baju merah, duduk bersebelahan dengan dua orang anak. Perempuan tersebut bernama Frisma Swany Amalia (32), yang tengah merayakan ulang tahun putranya.

Pengunjung di Resto Garuda, Jalan Jendral Sudirman, Kudus 2017-3
Pengunjung di Resto Garuda, Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitas bersantap makan bersama keluarganya, perempuan yang akrab Mima itu sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang perayaan ulang tahun putranya di Resto Garuda. Dia mengungkapkan, memilih restoran di pojok tenggara Alun-alun Simpang Tujuh Kudus itu, karena terkesan dengan tempat dan masakannya.

“Aku itu sudah berlangganan di Resto Garuda sejak lama. Saat aku masih kecil dulu sering diajak orang tuaku untuk makan di sini. Bahkan saat merayakan ulang tahunku yang ke-17, dulu juga dirayakan di Resto Garuda. Karena itulah saat merayakan ulang tahun putraku, aku memilih merayakannya di Resto Garuda. Semua menu yang disajikan rasanya enak dan tempatnya juga sangat nyaman,” ungkapnya.

Warga Desa Nganguk, Kota, Kudus itu mengatakan, selain merayakan ulang tahun putranya, di saat – saat tertentu dirinya juga sering mengadakan acara di Resto Garuda, misalnya makan bersama dengan keluarga besar, acara kantor dan lainnya.

“Resto Garuda itu satu di antara resto legendaris di Kudus, dan terkenal dengan sajian makanan yang enak. Saya paling suka menu di sini Udang Orienta, Sup Hipio, dan Bakmi,” kata Mima.

Hal senada disampaikan pengunjung lain, Roni Sulistio (47). Dia datang ke resto yang buka sejak tahun 1974 itu bersama teman kantor. Roni mengaku sering mengadakan acara makan bersama teman-teman sekantor ataupun menjamu klien di Resto Garuda. Menurutnya, selain cita rasa menu yang enak, sajian yang ditawarkan juga memiliki banyak pilihan.

“Selain rasa masakan yang enak, tempatnya juga luas jadi pas untuk datang rombongan. Ya seperti kami ini, yang selalu datang rombongan, jadi nyaman kalau tempatnya luas, di pusat kota lagi. Selain makan di tempat, tak jarang kami juga memesan makanan untuk diantar ke kantor,” ungkap pria yang berasal dari Demak tersebut.

Ellen Trisnawati Gunarja (62), pemilik Resto Garuda dan Eagle Coffee mengatakan, pihaknya memiliki banyak menu pilihan, baik Chinese food, European food dan Indonesian food. Di tempathnya itu, pelanggan bisa booking tempat untuk berbagai keperluan. Di antaranya, acara ulang tahun, wedding, preeweeding, meeting dan lainnya.

“Untuk booking tempat tersebut kami menawarkan beberapa ruangan. Bisa di Resto Garuda lantai bawah, atau lantai atas. Atau bisa di ruangan Eagle Coffee. Semua ruangan yang kami tawarkan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, ruangan ber-AC, wifi, dan lainnya. Semua ruangan dijamin nyaman dan hidangan dijamin enak, serta memuaskan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ellen itu.

- advertisement -

Penyandang Distabilitas di Wates Ini Berikan Garansi Sebulan Hasil Jahitannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, WATES – Seorang pria memakai berkus kuning berjalan dengan tongkat di kakinya, terlihat sedang melayani pelanggan di rumahnya, Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. Pelanggan itu minta celana jeans-nya untuk dipermak. Setelah diukur, pelanggan pamit pulang dan pria berkaus kuning berjalan tertatih menuju mesin jahitnya. Pria itu bernama Zunaidi, pemilik Pak Zu Tailor.

Zunaidi, pemilik Zu Tailor Desa Wates, Undaan
Zunaidi, pemilik Zu Tailor Desa Wates, Undaan. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Zu, begitu Zunaidi biasa disapa, mengatakan, dirinya berani memberikan garansi hasil jahitan selama sebulan. Itu dilakukan untuk menarik pelanggan. Menurutnya pelanggan tidak usah khawatir pakaian yang dijahit atau dipermak akan rusak. Jika terjadi kerusakan pada jahitannya, dia sanggup memperbaiki tanpa biaya tambahan.

Baca juga: Meski Raganya Tak Sempurnya, Zu Buktikan Bisa Mandiri dengan Menjadi Penjahit

“Garansi itu tidak hanya untuk kerusakan saja, jika hasilnya tidak cocok, pelanggan berhak komplain dan pakaian akan aku benahi sesuai keinginan pelanggan. Pokonya kepuasan pelanggan yang utama,” ungkapnya saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Wates, Undaan, Kudus itu mengungkapkan, para pealanggannya selama ini tidak ada yang komplain. Hampir semuanya merasa puas dan menjadi pelanggan tetap. Pelanggan yang datang tidak hanya warga Wates, melainkan juga banyak tetangga desa. Bahkan pelanggannya ada juga yang dari Demak dan Pati.

“Pelangganku ada beberapa yang berasal dari Desa Tanjung Kali, Karanganyar (Demak) dan beberapa orang dari Desa Galiran, Sukolilo (Pati). Bahkan kepala Desa Galiran sudah lama berlangganan, untuk membuat dan mermak pakaian di sini,” ungkapnya.

Zu menerima aneka order jahitan. Untuk tarif permak jeans pengecilan celana bagian paha ditarif Rp 25 ribu. Mengecilkan lingkar celana perut Rp 39 ribu, ganti resleting Rp 14 ribu. Sedangkan untuk memotomg celana bebankan biaya Rp 5 ribu, dan masang kancing biayanya Rp 3 ribu.

Selain permak jeans, dirinya juga menerima order pembuatan celana dan baju pria. Zu lalu merinci biayanya. Untuk membuat celana panjang dia membebankan biaya Rp 60 ribu dan celana pendek Rp 50 ribu. Untuk baju lengan panjang ditarifnya Rp 45 ribu dan baju lengan pendek Rp 40 ribu. Sedangkan pembuatan baju dengan kain batik dia meminta imbalan mulai Rp 50 ribu.

“Untuk pembuatan, harga yang aku sebutkan hanya upahnya saja, tidak termasuk kain bahan. Selain permak mengecilkan celana, aku juga menerima permak membesarkan celana yang aku tarif dengan harga Rp 25 ribu,” ujarnya.

Dia mengungkapn, dirinya kebanjiran order pada saat ajaran baru dan masuk sekolah. Karena pada saat itu banyak sisiwa yang memesan baju seragamnya. Bahkan saking banyaknya order, dia mengaku harus mempekerjakan dua tenaga jahit tambahan dan satu tenaga untuk menyeterika seragam yang sudah jadi.

“Aku berharap usaha jahit yang aku tekuni sejak lama bisa makin berkembang dan makin banyak pelanggan. Dan aku bersyukur meski ragaku kekurangan, aku masih diberi ketrampilan menjahit hingga bisa mandiri tanpa harus merepotkan orang lain,” ungkap Zu.

- advertisement -

Meski Sempat Takut dan Histeris, Fitri Akhirnya Lega Bisa Berfoto Bareng Ular 2,5 Meter

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah ular beragam jenis dan ukuran tampak dikerumuni banyak orang di Alun-alun Simpang 7 Kudus. Seorang wanita berjilbab biru tua terlihat mendekat dan meminta agar satu ular ditaruh di pundaknya. Namun, dia menjerit saat ular berukuran 2,5 meter diletakan di pundaknya. Tak beberaa lama kemudian, dirinya bisa beradaptasi dan berfoto bersama ular tersebut.

Fitri histeris saat ular diletakkan di pundaknya
Fitri histeris saat ular diletakkan di pundaknya. Foto Ahmad Rosyidi

Fitri Ratnasari (16), perempuan berjilbab biru tua tersebut. Dia sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tenatang  pengalaman pertamanya memegang ular. Dia mengku puas bisa memegang dan berfoto bersama ular. Meski sempat takut dan menjerit histeris, dia tidak merasa kapok.

“Tadi saya sempat menjerit histeris gitu. Mungkin karena ini pengalaman pertama, jadi saya reflek. Seneng sih, bisa mengobati rasa penasaran saya. Rasanya geli, tapi puas bisa foto bareng ular yang besar. Pengen lagi sih,” jelas warga Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, Kudus itu, pada Car Free Day (CFD) beberapa waktu lalu.

Fitri begitu dia akrab disapa, datang CFD bersama tujuh teman sekolahnya. Namun, hanya dia yang berani mencoba untuk memegang ular. Teman-temannya hanya berani ikut foto bersamanya.

Abdul Aziz (28), satu diantara sejumlah anggota komunitas Kota Reptil Kudus, mengungkapkan, komunitasnya membuat pertemuan rutin di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, tiap Minggu pagi di acara CFD. Tidak hanya berkumpul, komunitasnya juga memberi pengetahuan kepada masyaramat Kudus agar lebih mengenal reptil.

“Selain berkumpul, kami juga memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang reptil. Mana yang berbahaya, mana yang bisa menjadi sahabat manusia. Kalau ada yang ingin memelihara, kami juga mengajarkan cara perawatannya,” terang Aziz.

Aziz berbagi tips kepada pemelihara reptil, saat musim hujan seperti sekarang. Khusus bagi pemelihara ular, dia menyarankan untuk memperlama jarak pemberian makan ular. Karena saat musim hujan ular lebih lama mencerna makanan. Untuk pemula, menurutnya, lebih baik memelihara iguana. Selain lebih mudah perawatannya, hewan tersebut hanya makan sayur. Jadi biaya perawatannya lebih murah.

“Anggota kami saat ini ada 25 orang. Sekretariat kami di Desa Burian, RT 1, RW 1, Kota Kudus. Tiada ada syarat khusus untuk gabung, yang penting suka reptil. Tidak harus punya peliharaan hewan reptil. Selain itu mengisi formulir, dan membayar uang kas Rp 10 ribu per bulan. Uang kas digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial,” ungkap warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

- advertisement -

Ini Alasan All New Honda CBR 250RR Dibanderol Harga Selangit

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di diler resmi Honda, Astra Motor Kudus, terdapat motor sport yang dibekali dua knalpot pada bagian kendaraan. Motor garang itu terpakir tidak jauh dari tempat lobi, itu tak lain produk terbaru pabrikan Jepang berlogo sayap, All New Honda CBR 250RR. Produk ini dibanderol dengan harga selangit.

All New Honda CBR 250RR di Astra Montor Kudus 2017_3
All New Honda CBR 250RR 2017 di Astra Montor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani calon pembeli yang datang, Ahmad Ainun Nafi (30), Marketing Executive Astra Motor Kudus, sudi berbagi penjelasan terkait dengan produk tersebut. Nafi begitu akrab disapa, menjelaskan, motor yang dibekali tenaga mesin parallel twin cylinder kapasitas 250cc itu dijual hingga Rp 70 juta. Menurutnya, harga yang ditawarkan diakui cukup mahal, namun sebanding dengan keunggulan produk yang diberikan.

“Keunggulan, lampu penerangan sudah menggunakan LED. Speedometer pada bagian kendaraan full digital yang terkesan lebih gagah, mewah dan staylish. Selain itu, shock depan motor menggunakan suspensi up-side down (USD), suspensi belakang menggunakan alumunium swing arm, ban tubeless, sepion bisa dilipat 360 derajat serta tuas motor dilengkapi teknologi throttle by wire, yang artinya tanpa memakai kabel gas,” ungkap Nafi waktu ditemui di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus.

Dia melanjutkan, produk yang dirakitan Indonesia itu dilengkapi fitur keselamatan dan keamanan yang canggih. Misalnya, fitur pengereman, pada bagian depan dan belakang motor mengandalkan rem hidrolik dual piston dan single piston yang berfungsi memberikan kualitas pengereman yang lebih optimal. Dengan adanya fitur tersebut, pengendara akan lebih mudah mengontrol laju kendaraan dan mendukung keselamatan bagi pengemudi.

Tidak hanya itu, Nafi yang sudah bekerja selama empat tahun di diler berlambang sayap mengepak, memberitahukan, Honda CBR 250RR memiliki tiga varian mode berkendara yang bisa dipilih. Yang pertama, mode comfort yang cocok untuk dikendarai untuk touring maupun riding santai. “Selanjutnya, ada mode sport, untuk karakter kecepatan tinggi dan sport plus untuk kecepatan tinggi yang lebih agresif,” ujarnya.

Nafi menambahkan, terhitung sejak Oktober 2015 hingga Maret tahun ini, diler tempat dia bekerja sudah menjual sebanyak 16 unit All New Honda CBR 250RR. Pelanggan yang membeli kebanyakan dari Kudus, namun tak jarang juga ada yang dari Jepara. Menurutnya, dari ketiga varian warna yang ditawarkan, pelanggan dia lebih banyak memilih warna hitam.

“Paling laku warna hitam karena terlihat lebih garang. Terkait dengan fasilitas pasca pembelian, kami memberikan garansi mesin lima tahun, servis gratis dan yang pasti tak perlu mengantre langsung kami layani. Kami juga menyediakan test drive bagi pelanggan yang ingin merasakan akselerasi mengendarai CBR 250RR itu seperti apa,” tambah warga Dukuh Buloh, Desa Puyoh RT 1 RW 7, Kecamatan Dawe, Kudus.

- advertisement -

Meski Raganya Tak Sempurnya, Zu Buktikan Bisa Mandiri dengan Menjadi Penjahit

0

SEPUTARKUDUS.COM, WATES – Di tepi utara jalan Desa Wates Gang 1, Kecamatan Undaan, Kudus tampak rumah berdinding belum dicat dan berlantai keramik. Di dalam rumah terlihat seorang pria yang berdiri menggunakan tongkat sedang melayani pelanggan. Pria tersebut bernama Zunaidi, pemilik Zu tailor. Berkat ketekunan dan kinginannya kuat, dirinya mampu wujudkan mimpinya untuk menjadi penjahit.

Zunaidi, penyandang disabilitas yang bisa mandiri karena keterampilannya menjahit
Zunaidi, penyandang disabilitas yang mandiri karena keterampilannya menjahit. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Zu itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang kondisi dan usahanya. Dia mengungkapkan, satu kakinya mengalami lumpuh permanen sejak berusia dua tahun. Menurutnya hal tersebut dikarenakan penyakit polio.

“Saat lahir, aku normal seperti anak lainnya. Namun sejak usia dua tahun kakiku kena polio. Pada saat itu belum ada imunisasi polio, akhirnya satu kakiku mengalami kelumpuhan. Dan saat berjalan aku harus menggunakan tongkat sebagai penompang,” ungkap Zu saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, itu magatakan, meski saat berjalan harus menggunakan tongkat, dirinya memiliki keinginan kuat untuk bisa bekerja dan tak ingin menggantungkan hidup pada orang lain. Saat usianya 13 tahun, dia mengaku pernah bekerja pada orang yang memiliki usaha penjualan kertas. Namun dirinya kepincut untuk bisa menjahit, setelah melihat tukang jahit di sebelah tempat kerjanya.

“Kepincutnya itu karena bayaran menjahit  lebih besar. Saat itu bayaran sata Rp 1700 sebulan, sedangkan menjahit Rp 2000 per satu celana. Aku pun berfikir, menjahit celana kalau sudah mahir pasti sehari bisa jadi. Sedangkan upah jahit satu celana tersebut lebih banyak dari gajiku sebulan,” ungkap Zu.

Pria yang kini masih lajang itu mengatakan, dirinya bekerja memilah kertas milik orang tersebut hanya bertahan sebulan. Dirinya nekat keluar dan belajar menjahit pada penjahit di Desa Tumpang Krasak, Jati, Kudus. Menurutnya, dengan bisa menjahit dirinya bisa membuat usaha sendiri, tanpa harus bekerja ikut orang lain.

Zu belajar menjahit selama tiga bulan. Setelah merasa bisa, Zu mengaku dibelikan mesin jahit kakaknya dan menerima order jahitan di rumah. “Setelah bisa menjahit aku sempat mocok mengambil garapan milik penjahit lain. Namun hal tersebut tidak lama, karena berangsur-angsur orderan dari para tetangga semakin banyak,” ungkapnya.

Dia menerima order menjahit pakaian pria, kemeja hingga celana panjang dan pendek. Dia mengaku, menerima permak jeans, celana bahan, dan baju kemeja. Selain permak, Zu juga merenima order pembuatan aneka jenis pakaian baru.

“Aku bersyukur harapanku untuk punya keterampilan bisa terkabul. Karena dengan anggota tubuhku yang kekurangan, aku bisa mandiri dan tidak terlalu menggantungkan hidup pada keluarga. Alhamdulillah dengan menjahit hasilnya bisa aku buat bangun rumah, membeli motor roda dua yang dimodifikasi,” ujarnya.

- advertisement -

STAIN Kudus Terima Kuota 95 Beasiswa Bidikmisi, Setip Bulan Mahasantri Terima Rp 1,1 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN KUDUS – Sejumlah laki-laki sedang mengikat tali sepatu di depan gedung tiga lantai bewarna dominan hijau. Gedung tiga lantai tersebut berada di komplek kampus barat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Di lantai dua dan tiga sejumlah cucian basah tampak dijemur. Gedung yang di depannya terdapat dua tempat duduk melingkar itu, yakni asrama mahasiswa penerima Beasiswa Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi (Bidikmisi).

Direktur Ma’ad Al-Jami’ah STAIN Kudus Ma’mun Mu’min
Direktur Ma’ad Al-Jami’ah STAIN Kudus Ma’mun Mu’min. Foto: Imam Arwindra

Asrama berlabel Ma’ad Al-Jami’ah STAIN Kudus, itu menurut direkturnya, Ma’mun Mu’min, ditempati para penerima mahasiswa Bidik Misi STAIN Kudus yang di dominasi dari sejumlah kabupaten di eks-Karesidenan Pati. Tahun ini, menurut Ma’mun, STAIN Kudus memberikan kuota sebanyak 95 mahasiswa Bidik Misi untuk semua jurusan di STAIN.

“Tahun ini kami menyediakan kuota beasiswa Bidik Misi sejumlah 95 mahasiswa,” ungkapnya saat ditemui di ruangannya, belum lama ini.

Kepada Seputarkudus.com, Ma’mun, kuota yang diterima ditetapkan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementrian Agama Republik Indonesia. Pada tahun lalu, pihaknya juga mendapatkan kuota dengan jumlah yang sama. “Untuk keseluruhan penerima Bidik Misi di STAIN Kudus empat angkatan sebanyak 195 mahasantri (mahasiswa santri),” jelasnya yang mengenakan batik hitam putih.

Dia menjelaskan, pendaftaran dapat dilakukan melalui jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), jalur Ujian Mandiri dan jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN). “Untuk lebih jelas dapat dibuka di situs kementrian agama, karena itu progam nasional,” tambahnya.

Menurut Ma’mun tahun 2016 lalu, terdapat 8.400 orang calon mahasiswa. Setelah terseleksi masuk menjadi 2.200 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, yang mendapatkan Bidik Misi hanya 95 mahasiswa, sesuai kuota yang diberikan dari Kementrian Agama.

“Tahun ini (2017) setiap bulan penerima Bidik Misi akan mendapatkan beasiswa Rp 1.100.000. untuk tahun 2016 lalu Rp 1 juta. Tahun ini ada peningkatan,” terangnya.

Selama di asrama, penerima Bidik Misi untuk laki-laki akan diberikan fasilitas kamar, almari, tempat tidur dan fasilitas lainnya. Untuk perempuan masih tinggal indekos di sekitar kampus. Mahasantri, sebutan penerima Bidik Misi di STAIN Kudus, juga dibekali kegiatan penunjang bakat dan intelektual mahasiswa,  di antaranya, pengajian kitab kuning, kajian ilmiah, dan hafalan surat-surat Al-Quran.

“Progam Bidik Misi hanya untuk kalangan menengah ke bawah namun berprestasi. Intinya untuk memotong mata rantai supaya siswa miskin bisa juga melanjutkan ke perguruan tinggi,” jelasnya.

Di STAIN Kudus, pihaknya menerapkan tiga T, Tepat Waktu, Tepat Jumlah dan Tepat Sasaran. Dirinya tidak ingin progam Bidik Misi yang diperuntukkan untuk pelajar miskin tidak tepat sasaran. Selain itu diharapkan penerima Bidik Misi juga dapat lulus tepat waktu delapan semester. “Nanti kalau lebih ya harus bayar sendiri,” tambahnya.

- advertisement -

Lika-liku Mencari Sosok Djamhari Penemu Kretek, Edy Stres Hingga Tanya ke Dukun

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Suara tawa hadirin sesekali terdengar di ruang utama Wedangan Pukwe, Jalan Mulya, Getas Pejaten, Kudus. Mereka sedang menyimak cerita proses penyusunan buku berjudul “Djamhari Penemu Kretek” dari penulisnya, Edy Supratno. Duduk di panggung utama dalam bedah buku itu, Edy bercerita lika-laku proses pencarian sosok Djamhari. Saking buntunya, bahkan Edy sempat pergi ke paranormal atau dukun.

Edy Supratno saat bedah buku Djamhari Penemu Kretek di Pukwe
Edy Supratno saat bedah buku Djamhari Penemu Kretek di Pukwe. Foto: Imam Arwindra

Cerita berliku itu diawali, saat Edy bersama Basuki Sugita, temannya, mendatangi paranormal. Menurutnya, ketika itu dirinya sudah bingung mencari sosok penemu kretek tersebut. Sebelum ke paranormal dirinya sempat diskusi dengan cucu Nitisemito Yudhi Ernawan. Namun Yudhi juga tidak pernah tahu sosok Djamhari. “Kalau pendapat orang kan, mbok pergi saja ke dukun,” ungkapnya Edy disambut tawa puluhan peserta bedah buku, Rabu (22/3/2017) malam.

Ketika kunjungan pertama, dirinya mengaku ditolak. Namun Edy dan Basuki Sugita mencoba kedua kalinya. Sang paranormal menunjuk Basuki Sugita bahwa wajahnya Djamhari mirip Basuki. Saat itu pula Edy bergumam, jika memang sosok Djamhari tidak ditemukan, dirinya akan membuat sketsa wajah seperti Basuki Sugita. “Waktu itu memang saya sudah mentok. Tanya pak Yudhi (Yudhi Ernawan) tidak tahu. Ke Kertosono (Kabupaten Ngajuk) juga tidak tahu. Kemana-kemana sudah mentok,” jelasnya.

Sampai suatu ketika, dirinya bertemu dengan mantan mitra kerjanya saat masih menjadi Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus. Laki-laki yang dimaksud bernama Hariyanto. Menurut Edy, Hariyanto menjadi penerang saat dirinya menemui jalan buntu mencari penemu kretek. Dia memiliki tiga silsilah keluarga besar Djamhari. Kepada peserta bedah buku, dirinya menunjukkan buku besar berwarna coklat yang ditunjukkan Hariyanto. Di buku tersebut tertulis “Keluarga Besar Mbah Hardiwidjoyo dan Mbah Karsini”.

“Saya tidak mengira Pak Hariyanto ini menjadi pintu masuk yang efektif. Beliau dulunya sebagai pejabat di kecamatan. Dan saya yang dulu menyeleksinya,” tambahnya.

Saat Hariyanto ditanya tentang sosok Djamhari, dia tidak bisa menjawab. Namun Hariyanto merekomendasikan untuk bertemu orang bernama Ahmad di Bandung. Tanpa banyak berfikir, dirinya menuju ke Bandung untuk bertemu orang bernama Ahmad. “Ahmad sudah dianggap saudara sendiri  Djamhari. Dia juga pernah dinikahkan oleh Djamhari,” ungkapnya.

Menurut Ahmad, kata Edy, keluarga dan keturunan Djamhari masih ada di Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berbekal dari tulisan Ahmad, dengan perasaan sangat senang Edy segera pergi. Dirinya meyakini, cita-citanya sewaktu masih menjadi wartawan dulu akan segera tercapai, yakni menemukan sosok Djamhari. “Saya seolah-olah mendapatkan harta karun,” tambahnya yang nampak bersemangat.

Edy Setres, Djamhari Lahir di Singaparna

Sesampainya di Singaparna, Edy bertemu dengan anak Djamhari bernama Kardini. Menurut Edy, saat kedatangan Edy di Singaparna, tanggapannya sangat bagus. Sampai pada akhirnya dirinya diajak untuk mengobrol di rumahnya. Namun sayang, Kardini justru mengatakan, sosok Djamhari yang selama ini dicari-carinya lahir di Singaparna, bukan dari Kudus. Kardini mengakui Djamhari memang mempunyai keluarga besar di Jawa Tengah. Namun Kardini masih bersikeras ayahnya dilahirkan di Singaparna, bukan di Kudus. “Waduh, tengah malam saya setres,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Edy tidak menyerah, dia kemudian bertemu dengan anak Djamhari lain bernama Suaedah. Diberitahukan, anak Djamhari yang masih hidup tinggal dua, yakni Kardini dan Suaedah. Saat Edy menanyakan perihal nama Djamhari ayah kandungnya, dia dengan tegas menyatakan bahwa nama Djamhari sosok ayahnya dilahirkan di Kudus.

Suaedah, kata Edy, juga bisa menyebutkan Masijah, ibunya (istri Djamhari) berasal dari Demak. “Nenek Suaedah sekarang sudah tua. Dia juga sering sakit-sakitan. Saat saya berkunjung ke rumahnya pun dia sering jatuh di kamar mandi. Namun sambutannya luar biasa. Saya seolah-olah menjadi bagian dari keluarga besarnya,” jelasnya.

Edy menjelaskan, Suaedah adalah adik Kardini yang selalu diajak bepergian oleh Djamhari. Jumlah anak dari perkawinan Djamhari dan Masijah ada 13 orang. Tidak memungkinkan bila ke-13 anak tersebut selalu semuanya diajak, karena akan merepotkan. “Nenek Suaedah bisa dibilang anak yang paling disayang. Dia selalu diajak kemana-mana oleh Djamhari,” tambahnya.

Suaedah, kata Edy, mampu menjelaskan rumah Djamhari yang ada di Kudus dengan detail. Tentu hal ini membuktikan Suaedah tidak mengada-ngada.

Suatu sore, keluarga besar Kardini dan Suaedah dikumpulkan di rumah Kardini. Edy menuturkan dirinya bertanya tentang sosok Djamhari sang penemu kretek. Sampai pada akhirnya, jam dinding yang berada di ruangan rumah berdentang keras. Menurut Edy sebagian besar orang yang berada di ruangan melihat ke arah jam dinding berada.

Dia kemudian melihat jam dinding yang berdentang tersebut. Dia melihat jam kuno itu ada logo Bal Tiga, produk rokok kretek milik Nitisemito. Menurut Kardini jam tersebut diberikan oleh Karmain (sepupu Djamhari) dari Kudus. Menurut Edy, saat sudah menemukan titik cerah, dirinya masih ada perasaan ragu. Lantas Edy ingin ditunjukkan makam Djamhari yang dimakamkan di Tasikmalaya.

Edy menjelaskan, makam Djamhari berada di komplek makam keluarga milik Abdul Somad di Tasikmalaya. Di kompleks tersebut terdapat nama-nama kerabat Djamhari yang sesuai dengan buku silsilah yang dipegang Edy. Pada akhirnya, pembicaraan mereka menyinggung tradisi merokok Djamhari yang khas. Kardini teringat, beberapa orang pernah diberi rokok oleh bapaknya, rokok racikan yang diberi campuran cengkeh.

“Sebelum kuburan Djamhari ketemu di Tasikmalaya, saya bersama teman-teman juga pernah mencari kuburan Djamhari di Bakalan Krapyak sampai di Kertosono. Kami mencari makam-makam tua yang kemungkinan kuburan Djamhari,” ungkapnya.

- advertisement -