Beranda blog Halaman 1908

Wow, Pengelola Wisata Sungai Jurang Akan Gandeng Jasaraharja, Pengunjung Dapat Asuransi

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Mobil Avanza putih terlihat terparkir di lokasi start wisata River Tubing di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Mobil dengan tulisan stiker Jasaraharja Putera Semarang terlihat membawa beberapa penumpang yang ternyata karyawan perusahaan asuransi itu. Para pegawai asuransi tersebut sedang melakukan survei lokasi untuk perencanaan kerja sama dengan pengelola wisata River Tubing di Desa Jurang.

Objek wisata sungai di Desa Jurang, Gebog, Kudus
Objek wisata sungai di Desa Jurang, Gebog, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Staf Marketing PT Asuransi Jasaraharja Putera Dewi Forismasari, pihaknya sedang melakukan tinjauan lokasi wisata terkait kerjasama pemberian asuransi kepada pengunjung wisata River Tubing Desa Jurang. Menurutnya setelah meninjau lokasi wisata ada kemungkinan pihaknya akan mengabulkan kerja sama dengan pihak pengelola. ā€œIni baru tahap suvei lokasi. Tempatnya cukup bagus,ā€ tuturnya di sela-sela melaksanakan survei, akhir pekan lalu.

Baca juga:Ā VIDEO Wisata River Tubing Desa Jurang Resmi Dibuka, Wahyudi: Gak Jatuh, Gak Seru!

Dewi, begitu dia akrab disapa, menuturkan, jadi atau tidaknya pihak Jasaraharja Putera bekerja sama dengan pengelola wisata di sana, tergantung dengan pimpinan perusahaan. Nanti dirinya akan melakukan pembicaraan dengan pimpinan dengan pedoman hasil survei. Hasil tersebut diperkirakan akan keluar di pertengahan April 2017. ā€œYa fifty-fifty lah,ā€ jelasnya.

Dalam penetapan kerja sama, dirinya mempertimbangkan kelayakan tempat dan sarana yang digunakan. Menurutnya, pihaknya juga memperhitungkan risiko yang akan terjadi jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan di lokasi wisata. Namun berdasarkan pantauan singkat, prasarana yang disediakan sudah cukup memadai. ā€œAsuransi kan menjual risiko. Jadi harus matang,ā€ tambahnya.

Dalam asuransi wisata, pihaknya memberikan dua pilihan yakni sistem eksidentil dan borongan. Dewi menjelaskan, untuk asuransi eksidentil premi yang harus dibayar yakni saat ada wisatawan yang datang ke tempat wisata. Namun jika borongan, setiap bulannya pengelola harus membayarkan premi sejumlah uang yang telah disepakati. ā€œSistem borongan seperti (wisata) kolam renang. Setiap bulannya mereka rutin setor kepada kami. Biasanya Rp 1 juta,ā€ terangnya.

Untuk eksidentil premi biasanya Rp 10 ribu dari setiap pengunjung. Nantinya jika ada kecelakaan pihaknya akan memberikan santunan Rp 1 juta untuk perawatan, maksimal Rp 5 juta untuk cacat tetap dan Rp 5 juta bagi yang meninggal. ā€œNanti nunggu keputusannya seperti apa,ā€ tuturnya.

- advertisement -

Tak Dinyana, Awalnya Jual Pakan Burung Hanya Pelengkap, Kenton Raup Omzet Rp 90 Juta Sebulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Beberapa orang tampak mengantre di dalam toko beratap seng di tepi Jalan Lingkar Utara Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus. Mereka antre untuk membeli pakan hewan peliharaan. Di dalam toko terlihat beberapa baskom besar berisi pakan. Di dalam rak kayu juga tampak puluhan kardus pakan burung dengan merek terkenal tersusun rapi. Tempat tersebut yakni Toko Maju Lancar, yang menjual aneka pakan hewan peliharaan dengan omzet Rp 90 juta sebulan.

Kenton melayani pembeli pakan burug di tokonya 2017_4_4
Kenton melayani pembeli pakan burug di tokonya. Foto: Rabu Sipan

Menurut Sumardi (48), pemilik toko Maju Lancar, sejak dibuka pada 2002 silam, selain menjual aneka burung dan sangkar, dia juga menjual pakan untuk hewan peliharaan. Menurutnya pakan itu awalnya untuk melengkapi toko penjualan burung dan sangkar miliknya. Awalnya dia hanya menyediakan pakan burung, tapi karena ada permintaan untuk pakan hewan peliharaan lain, dia melengkapi tokonya. Kini, penjualan pakan di tokonya mampu meraup omzet hingga Rp 3 juta sehari.

Baca juga:Ā Berawal Dari Hobi, Kenton Nekat Jual Burung, Hasilnya Mampu Beli Ruko dan Mobil

ā€œItu (omzet) rata-rata saja, yang namanya berjualankan ada saat ramai dan sepi. Saat ramai bisa mendapatkan uang lebih dari yang aku ucapkan tadi, dan saat sepi juga lebih sedikit. Pokoknya kalau tak rata-rata, omzet dari penjualan pakan itu Rp 3 juta sehari, jadi sebulan ya omzetku Rp 90 juta,ā€ ungkap pria yang akrab disapa Kenton kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus itu menjual aneka pakan produksi pabrik maupun produksi rumahan dan pakan dari hasil tani. Menurutnya pakan dari hasil tani di antaranya, jagung, gandum, padi, kacang dan lainnya. Dalam sehari, dirinya mampu menjual pakan ayam dan ikan masing-masing 50 kilogram, dengan harga antara Rp 1.000-Rp 5.000 per kilogram. Sedangkan pakan burung hasil produksi pabrik, Kenton mengaku mampu menjual lima dus, tiap dus berisi 30 kemasan.

ā€œPakan burung produksi pabrik aku jual dengan harga Rp 6 ribu sampai Rp 15 ribu perkemasan. Aku juga menyediakan pur hasil produksi rumahan yang aku jual mulai harga Rp 1.000,ā€ ujar pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.

Dia mengatakan, di tokonya tersebut juga menyediakan jangkrik yang dia jual dengan harga Rp 50 ribu. Menurutnya, sehari toko Maju Lancar mampu menjual sekitar 8Ā kilogram jangkrik. Selain itu dia mengaku juga menjual kroto yang dijual seharga Rp 250 ribu. Dalam sehari, dia mampu menjual sekitar 3 kilogram kroto.

Kenton menambahkan, di Toko Maju Lancar juga menyediakan ulat hongkong, pisang dan lainnya. ā€œSelain pakan hewan peliharaan berkaki dua, aku juga menyediaka pakan untuk hewan peliharaan kaki empat yakni kucing. Selain pakan, aku juga menyediakan obat untuk semua hewan peliharaan, khususnya burung kicau dan ayam petarung,ā€ ungkap Kenton.

- advertisement -

Sebelum Launching Wisata Sungai Jurang, Karang Taruna Bersihkan Satu Pikap Popok dan Pembalut

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Tulisan larangan membuang sampah ke sungai terlihat tergantung di jembatang utama penghubung di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Larangan tersebut juga terlihat dipasang di beberapa titik sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Gelis. Menurut Pengurus Karang Taruna Gelora Mahardika Desa Jurang Ahmad Kurniawan, imbauan tersebut dibuat agar masyarakat sekitar DAS Gelis tidak membuang sampah sembarangan ke sungai.

Bersih-bersih sungai Karang Taruna Desa Jurang 2017_3
Bersih-bersih sungai Karang Taruna Desa Jurang. Foto: Dokumentasi Karang Taruna Desa Jurang

Menurutnya, sungai diĀ Desa Jurang tersebut sekarang ini telah dibuka wisata river tubing. Wisata tersebut sudah dibuka resmi sejak Sabtu (1/4/2017) lalu. Sebelum dibuka secara umum, pihaknya mempersiapkan secara matang agar wisata baru di Kudus tersebut diminati para pengunjung.

Baca juga:Ā VIDEO Wisata River Tubing Desa Jurang Resmi Dibuka, Wahyudi: Gak Jatuh, Gak Seru!

ā€œSebelum dibuka secara umum, kami melakukan pemetaan sungai, berdoa bersama dan bersih-bersih sungai. Saat bersih-bersih tersebut,Ā kami mendapat popok bayi satu mobil pikap,ā€ ungkapnya saat ditemui di lokasi wisata.

Wawan, sapaan akrab Ahmad Kurniawan menjelaskan, kegiatan bersih-bersih sungai dilakukannya bersama anggota Karang Taruna Desa Jurang di sepanjang aliran sungai yang digunakan jalur river tubing. Menurutnya, selain membersihkan sungai dari sampah, pihaknya juga mengedukasi masyarakat sekitar dan pengguna jalan yang melewati Desa Jurang untuk tidak membuang sampah sembarangan di sungai. ā€œKami sudah memasang imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saat bersih sungai kemarin 70 persennya popok bayi,ā€ jelasnya.

Rencananya, di kanan dan kiri jembatan desa akan dipasang jaring. Hal tersebut supaya ketika ada pengendara yang masih bandel membuang sampah di sungai dapat tertahan oleh jaring. Selain bersih-bersih sungai, pihaknya juga melakukan doa dan ritual untuk para nenek moyang Desa Jurang.

Menurutnya, pada hari Kamis (23/3/2017) dirinya bersama tokoh masyarakat di Desa Jurang melakukan syukuran dengan membaca manaqib dan berkunjung ke punden desa setempat Buyut Sigro Mulyo. Hal tersebut dilakukannya supaya wisata yang baru di Desa Jurang dapat berjalan dengan aman dan nyaman. ā€œKami juga menyebar kembang setaman di beberapa titik. Intinya untuk izin. Supaya tidak ada gangguan,ā€ terangnya.

- advertisement -

Berawal Dari Hobi, Kenton Nekat Jual Burung, Hasilnya Mampu Beli Ruko dan Mobil

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di tepi utara Jalan Lingkar Utara Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus tampak beberapa orang keluar masuk di toko beratap seng. Puluhan sangkar berisi burung dipajang di pelataran toko. Di dalam toko tampak seorang pria berkaus oblong sibuk melayani pelanggan. Pria tersebut bernama Sumardi (42), penjual aneka jenis burung.

Kenton, penjual burung di Kudus 2017_4_4
Kenton, penjual burung di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, pria yang akrap disapa Kenton itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha penjualan burung. Dia mengaku gemarĀ memelihara burung sejak duduk di sekolah dasar (SD). Menurutnya, kegemaran tersebut berlanjut hingga sekarang. Bahkan sebelum memulai usaha jual burung, dirinya tetap menyempatkan memelihara burung di sela aktivitasnya menjadi sopir.

ā€œKarena hobi itulah pada tahun 2002 aku tidak lagi jadi sopir truk dan memulai usaha jualan burung. Karena menurutku usaha jualan burung sangat menguntungkan. Apalagi sejak burung kicau mulai hit. Banyak pecinta burung yang datang ke tokoku,ā€ ungkap Kenton yang memberi nama tokonya Maju Lancar, beberapa waktu lalu.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Panjang, Bae, Kudus itu mengatakan, selain berjualan dirinya juga aktif ikut di komunitas dan perlombaan burung kicau. Karena dengan aktif ikut komunitas dan perlombaan, dia bisa kenal banyak orang sesama pecinta burung serta bisa memperkenalkan burung yang dia jual. Dengan pengalamannya merawat burung sejak SD, Kenton mengaku sering menang saat ikut lomba burung berkicau.

Namun sejak lima tahun lalu, Kenton mengaku sudah tidak aktif ikut lomba dan komunitas kicau burung. Menurutnya, sejak setengah dasawarsa tersebut dirinya mulai fokus di toko Maju Lancar karena makin banyak pelanggan. ā€œKini yang aktif ikut komunitas dan perlombaan burung digantikan putraku,ā€ ujarnya.

Pria yang dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, menjual berbagai jenis burung, di antaranya, burung Murai Batu yang dia jual mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta. Burung Cucak Ijo dijual mulai harga Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, dan Kacer ditawarkan mulai harga Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Selain itu, dirinya juga memilikiĀ stok Beo yang dijual mulai Rp 2 juta sampai Rp 5 juta.

ā€œSelain jenis burung yang aku sebutkan tadi, aku juga menjual aneka jenis burung lainnya. Pokoknya Ā hampir semua jenis burung kicau ada di tokoku. Aku juga menyediakan sangkar burung yang aku jual dengan harga mulai Rp 35 ribu sampai Rp 300 ribu,ā€ tuturnya.

Dia mengatakan, selain menjual burung dan sangkar, dirinya juga menjual aneka aksesoris sangkar di antaranya, tempat pakan, tempat air, gantungan sangkar dan lainnya yang dijual terpisah. Selain menjual ecer, Kenton mengaku juga menerima pembelian dalam partai besar. Diungkapkannya, tokonya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan, tak jarang para pelanggannya membeli dagangannya dalam jumlah banyak.

ā€œAku bersyukur berawal dari kegemaran, kini usaha jualan aneka burung dan sangkar yang aku rintis selama 15 tahun sudah terlihat hasilnya. Dari hasil penjualan aneka burung dan sangkar aku juga sudah mampu membeli ruko dan mobil. Ruko, aku buat cabang untuk berjualan lagi. Mobil aku buat untuk operasional,ā€ ujarnya yang mengaku dari berjualan burung, sangkar dan aksesorisnya mampu meraup omzet Rp 15 juta sebulan.

- advertisement -

VIDEO Wisata River Tubing Desa Jurang Resmi Dibuka, Wahyudi: Gak Jatuh, Gak Seru!

0

SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Wajahnya tampak semringah saat ban yang dikendarainya menepi di dekat Bendungan Karang Gayam Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus. Dengan masih mengenakan pelampung dan helm, Wahyudi menarik ban yang telah digunakkanya. Dia bersama lima temannya dan tiga pemandu usai melakukan river tubing sejauh empat kilometer lokasi wisata X-Juranx desa setempat.

Wisata arung jeram di Green Canyon Desa Jurang, Kudus 2017_4
Wisata river tubing di Green Canyon X-Jurang Desa Jurang, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Wisata sungai yang baru dibuka di Desa Jurang, menurut Wahyudi sangat indah. Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Gelis itu, dirinya melihat green canyonĀ setinggi 30 meter. Dengan suasana alam yang menghijau dan arus sungai yang cukup deras, bersama teman kerjanya di PT Bumen Redja Abadi, dirinya mengaku puas menikmati wisata yang baru di-launcing awal bulan ini. ā€œTempatnya sangat bagus. Puas pokoknya,ā€ ungkapnya saat ditemui akhir pekan lalu.

Baca juga:Ā Tak Disangka Desa Jurang Punya Green Canyon Sebagus Ini, Cocok untuk Arung Jeram

Dirinya mengaku sempat terjatuh beberapa kali karena bebatuan danĀ arus yang deras. Namun Wahyudi mengaku tidak mempermasalahkan. Dirinya justru merasa seru saat ban yang dikendarainya terbalik. ā€œGak jatuh, gak seru. Asiknya memang saat jatuh,ā€ tambahnya yang terlihat senang.

Bersama temannya dirinya meminta kepada pengelola agar sepanjang jalur untuk dijaga kebersihannya. Dikatakan, saat melakukan perjalanan di sungai, di beberapa titik dirinya sejumlah sampah. Padahal potensi wisata sungai di Desa Jurang sangatlah indah. ā€œTadi juga ada spot yang diameternya sempit sekali, kira-kira satu meter. Kalau bisa sih diperlebar lagi. Karena hanya bisa dilewati satu ban saja,ā€ harapnya kepada pengelola pariwisata.

Sementara itu, pengelola wisata sungai X-Jurang Rudi Setiawan (30) menuturkan,tempat itu baru dibuka secara umum pada Sabtu (1/4/2017). Menurutnya, sejak beredarnya gambar dan video di media sosial, minat pengunjung terus meningkat. ā€œPembukaan hari pertama sudah ada yang booking. Untuk hari Minggu empat session pun sudah di-booking. Saya sampai kewalahan melayani permintaan,ā€ ungkapnya sambil menunjukkan jadwal booking pengunjung.

Dirinya menjelaskan, wisata sungai yang dikelola Karang Taruna Gelora Mahardika Desa Jurang mengusung konsep river tubing. Menurutnya, pengunjung bisa meluncur bebas di atas permukaan sungai yang berarus cukup deras menggunakan ban. Pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan green cayon yang masih alami sepanjang sungai. ā€œWaktu tempuhnya kira-kira dua jam,ā€ jelasnya.

Untuk keamanan, katanya, setiap pengunjung akan dilengkapi dengan pelampung dan helm. Selain itu, ada pemandu perjalan yang akan mendampingi dari awal hingga akhir. Menurutnya, biaya yang berikan yakni Rp 50 ribu setiap pengunjung. ā€œKami ada jumlah minimal yakni lima orang dan maksimal 10 orang. Harga Rp 50 ribu sudah termasuk fasilitas keamanan, dokumentasi, welcome drink dan hot drink,ā€ tuturnya yang mengenakan kaos hijau.

Selanjutnya, jadwal yang diberikan hanya Sabtu dan Minggu saja. Rudi menjelaskan, pada Sabtu hanya ada dua sesi yakni pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB. Selanjutnya sesi kedua pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB. Pada hari Minggu, pengelola menyediakan empat sesi, yakni mulai pagi pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB, sesi kedua 10.00-12.00 WIB, sesi ketiga 13.00-15.00 WIB dan terakhir pukul 15.00-17.00 WIB.

ā€œDiharapkan pengunjung yang sudah booking untuk datang 30 menit sebelum dimulai. Karena sebelum masuk sungai ada pengarahan dulu dari tim guide (pemandu),ā€ terangnya.

- advertisement -

Koleksi Motor Pemilik Tempat Cuci Motor dan Mobil di Dersalam Ini Bikin Geleng Kepala

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Ā Di tepi barat Jalan Kampus UMK, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus, tampak tempat cucian motor dan mobil beratap seng. Di tempat tersebut tampak tiga orang sedang sibuk mencuci dua unit mobil. Di sana juga terlihat dua unit Harley Davidson yang terparkir di sebelah mobil sedan. Tiga unit kendaraan itu bukan antre untuk dicuci, tapi koleksi pribadi pemilik usaha cuci motor dan mobil tersebut.

Koko sedang membersihkan interior mobil di tempat usahanya
Koko sedang membersihkan interior mobil di tempat usahanya. Foto: Rabu Sipan

Satu di antara tiga orang yang sedang mencuci mobil, yakni pemilik tempat usaha itu. Dia bernama Joko Purwadi (29) atau sering dipanggil Koko. Meski dirinya memiliki karyawan, setiap hari dirinya tetap ikut mencuci kendaraan pelanggan.

Di sela aktifitasnya tersebut, Koko itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang usaha dan koleksi moge (motor gede) miliknya. Dia mengungkapkan, saat ini dirinya tidak hanya memiliki dua moge yang terparkir di tempat cucian motor dan mobil. Dia memiliki satu unit lagiĀ bermerk BMW R 27.

ā€œYang aku pajang di tempat cucian Monaliza itu merk Harley Davidson semua. Satu jenis Fat Boy dan satunya lagi Harley Davidson jenis police. Sedangkan dua unit moge koleksiku berada di rumahku yang berada di Jogjakarta,ā€ ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Dersalam, Bae, Kudus itu mengatakan, sebelum membuka usaha cucian motor dan mobil dirinya mempunyai bisnis properti dan jual beli tanah. Menurutnya, koleksi moge yang dia punya merupakan hasil usahanya properti dan jual beli tanah. Koleksi moge miliknya saat ini, harganya tak kurang dariĀ Rp 300 juta per unit.

Koko mengatakan, usaha cuci motor dan mobil untuk mengisi waktu luang. Dia memilih usaha cuci mobil dan motor karena menurutnya di Dersalam belum ada usaha serupa. ā€œKebetulan waktu itu aku juga memiliki tanah dan bangunan di tepi jalan yang belum difungsikan,ā€ ungkapnya.

Pria lajang itu mengungkapkan, di Monaliza, untuk cuci sepeda motor dipatok biaya Rp 10 ribu per unit. Sedangkan untuk mobil dia membebankan biaya Rp 30 ribu per unit. Menurutnya, harga tersebut sudah termasuk lemon, sedangkan untuk mobil sudah termasuk vacum, pewangi, serta semir ban.

Setiap hari, kata Koko, tempat usahanya itu mampu mencuci sekitar 15 unit mobil dan 20 sepeda motor. Dia mengaku, menerima antar jemput semua kendaraan yang akan dicuci dengan menghubungi nomor 082227718805.

ā€œDijamin kendaraan sampai rumah dalam keadaan kinclong. Dan setiap mencuci kendaraan 10 kali gratis sekali,ā€œ ungkap Koko yang mengaku Monaliza buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB,ā€

 

 

 

- advertisement -

Pernah Jadi Orang Tak Punya, Gondrong Gratiskan Potong Rambut untuk Yatim Piatu dan Duafa

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Di tepi timur jalan Dukuh Conge, Desa Ngembalrejo Gang 10, Kecamatan Bae, Kudus, tampak sebuah bangunan beratap esbes. Di dalam bangunan terlihat seorang pria berambut gondrong sedang memotong rambut anak kecil. Pria itu bernama Ridwan (35), pemilik tempat potong rambut Ganteng. Pernah merasakan susahnya jadi orang tak punya, dia menggratiskan potong rambut untuk yatim piatu dan kaum duafa.

Gondrong memotong rambut anak kecil di tempat potong rambut miliknya
Gondrong memotong rambut anak kecil di tempat potong rambut miliknya. Foto: Rabu Sipan

Seusai memotong rambut pria yang akrab disapa Gondrong itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang idenya tersebut. Dia mengatakan, sejak membuka usaha potong rambut tujuh bulan lalu, dirinya memang berniat menggratiskan biaya potong rambut untuk yatim piatu dan orang-orang tak mampu. Dia ingin bekerja sambil beramal dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

ā€œSelain ingin berbagi, inspirasi tersebut juga datang saat aku mengingat dulu jadi orang tak punya. Karena setelah aku keluar dari perusahaan rokok tempatku bekerja, pada tahun 2014 aku mengalami kecelakaan sepeda motor hingga tulang kakiku patah dan membuatku cacat. Di saat tidak punya penghasilan, ibuku yang sudah lama lumpuh akibat stroke juga harus terus berobat. Saat itulah, aku bertekat bila bisa keluar dari ujian akan senang hati membantu sesama,ā€ ungkapnya beberapa waktu lalu.

Warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus itu mengatakan, karena sekarang dia memiliki usaha potong rambut, dirinya membantu sesama dengan menggratiskan biaya potong rambut. Menurutnya, bagi siapa saja yang masuk kategori tidak mampu atau yatim piatu,Ā boleh potong rambut di tempatnya tanpa dipungut biaya, seumur hidup.

Dirinya berharap, orang yang potong rambut dan masuk kriteria, agara berbicara, agar dirinya bisa menjalankan niatnya. ā€œKarena untuk yang belum aku kenal, aku kan tidak tahu pelanggan tersebut yatim, piatu dan duafa apa tidak. Ngomong itu ya agar orang yang masuk dalam kategori tidak ada yang terlewatkan satupun,ā€ ungkapnya.

Pria lajang itu berujar, tidak merasa terbebani sama sekali dengan ide menggratiskan ongkos potong rambut bagi orang yang masuk kategori itu. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur dan tidak mungkin tertukar. Manusia tugasnya hanya berusaha dan berdoa dan jangan takut beramal.

Selama ini, dia mengaku hampir setiap pekan ada sekitar tiga hingga empat orang yang masuk kategori datang untuk potong rambut. Sedangkan yang bayar biasanya sehari bisa mendapatkan pelanggan sekitar 15 orang dengan tarif Rp 7 ribu per orang.

ā€œSelain di sini, aku juga menerima panggilan dengan syarat yang potong rambut minimal ada tiga orang dengan tarif Rp 10 ribu per orang.Ā Untuk lima orang harga perkepala Rp 8 ribu, sedangkan 10 orang tarifnya makin murah yakni Rp 6 ribu per orang,ā€ jelasnya.

- advertisement -

Menikah di Tahun Duda, Hasan: Semua Hari Itu Baik

0

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGMALANG – Kedua mempelai terlihat duduk di sofa warna coklat dengan ornamentbunga di belakangnya. Mempelai laki-laki nampak mengenakan baju dan peci serba putih, demikian pula memempelai perempuan. Mereka yakni pasangan Achmad Hasan dan Fitriani Khomsah, yang baru saja melangsungkan pernikahan belum lama ini, di kediaman mempelai wanita, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus.

Hasan dan Pipit merayakan pernikahan
Hasan dan Pipit merayakan pernikahan. Foto: Imam Arwindra

Wajah kedua mempelai itu tampak semringah saat beberapa undangan datang dan bersalaman di atas pelaminan. Sesekali sesi foto mereka lakukan untuk mengabadikan momen bahagia tersebut.

Berdasarkan penanggalan Jawa, saat ini memasuki tahun 1950. Banyak masyarakan mengatakan, tahun ini berdasarkan penanggalan Jawa sebagai tahun duda. Hal tersebut juga sudah disadari Hasan, panggilan akrab Achmad Hasan.

ā€œIya saya tahu saya menikah pada tahun duda. Tapi ya positif thingking saja, semua hari itu baik,ā€ ungkapnya selepas melaksanakan pernikahan.

Dia melanjutkan, memang ada mitos yang menyatakan jika menikah di tahun duda, umur pernikahan tidak berlangsung lama. Sebagai orang Jawa, Hasan antara percaya dan tidak percaya. Dirinya tetap menikah pada tahun ini karena mendapat wasiat dari mendiang ibunya. ā€œSebelum meninggal, ibu berwasiat untuk menikah satu tahun setelah bapak meninggal. Ya karena sudah wasiat, harus dijalankan,ā€ jelasnya.

Selain itu, kata Hasan, kakak-kakaknya juga mendukung untuk melangsungkan pernikahan, walau bertepatan dengan tahun duda. Menurutnya, semua hari itu baik. Tinggal nanti bagaimana menjalaninya. ā€œSudah lama saya berpacaran dengan istri saya. Dan memang hari ini yang kami nantikan,ā€ tambahnya.

Terpisah, Dian Arum, warga Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, juga melangsungkan pernikahan pada tahun duda. Dia mengaku sempat khawatir karena mitos tahun duda. Namun karena banyak saran dari orang tua, saudara dan pemuka agama, akhirnya pernikahannya dapat tetap dilangsungkan. ā€œNikah kan baik. Kalau bisa jangan ditunda-tunda,ā€ tutur Dian yang dipersunting Bayu Hidayat.

Dian melanjutkan, dalam penentuan hari pernikahannya juga sama seperti masyarakat Jawa pada umumnya. KeluarganyaĀ menghitung wetonĀ dirinya dan suaminya. Sebenarnya, tanggal pernikahannya akan dilangsungkan di akhir tahun 2017, namun dengan perhitungan ulang dan pertimbangan yang matang dari keluarga besar, akhirnya pernikahan dilangsungkan pada Februari 2017.

ā€œSaya juga tahu tentang adanya tahun duda, tapi ya antara percaya dan tidak. Setahu saya semua hari itu baik,ā€ terangnya.

Sementara itu,Ā ahli penanggalan Jawa yang juga guru Bahasa Jawa Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Waluyo menjelaskan, yang dimaksud tahun duda, yakni setiap sewindu (delapan tahun) terdapat dua kali tahun yang dinamakan tahun duda. Menurutnya, tahun duda yakni tahun yang jatuh pada 1 Suro dalam sewindu dengan hitungan tahun Alif hingga Jim-2, namun tidak mempunyai pasangan pasaran dengan tahun lain.

ā€œJadi awal tahun Jawa ada alif, ha, jim-1, za, dal, ba, wawu dan jim-2. Tahun dudanya atau kurup asapon pada za dan wawu yang tidak mempunyai pasangan pasaran,ā€ tambahnya.

- advertisement -

Guru Lulusan UGM Ini Tetap Tekuni Hobi Crafting Karena Kuntungan Menggiurkan

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Tiga bingkai putih berkaca tampak berjajar di satu ruangan rumah di Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus. Dalam bingkai tersebut terdapat gambar bertumpuk yang biasa disebut scrapframe. Di ruangan lain tampak seorang perempuan memakai jilbab sedang memberi les pelajaran tambahan kepada tiga siswa. Perempuan tersebut bernama Mamila Ziyyit Tuqo (25), seorang guru lulusan UGM yang punya hobi membuat kerajinan dari kertas.

Scrap Frame hasil karya Mila warga Cendono, Kudus
Scrap Frame hasil karya Mila warga Cendono, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai memberikan les, perempuan yang akrab disapa Mila itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha sambilannya tersebut. Dia mengungkapkan, sebenarnya sebelum menjadi guru dirinya telah pembuat kerajinan kertas. Di antara kerajinan yang dia buat itu, karikatur timbul, scraftframe, dan siluet. Menurutnya, membuat tiga kerajinan tersebut dijadikan sambilan sejak masih kuliah. Dan setelah lulus dan mengajar dirinya tetap menekuni usaha tersebut.

Baca juga:Ā Awalnya Iseng Buat Scrapframe, Kini Mila Punya Banyak Pelanggan di Seluruh Indonesia

ā€œMembuat kerajinan ini tidak membutuhkan banyak waktu, reseller dan pelangganku juga sudah lumayan banyak. Keuntungannya juga lumayan. Pengerjaannya juga sangat menyenangkan. Sejak dulu aku suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan desain,ā€ ungkap perempuan yang sekarang mengajar di MA NU Miftahul Falah tersebut, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Cendono, Dawe, Kudus, itu mengungkapkan, menyukai dunia desain sejak masih kuliah. Bahkan setelah lulus kuliah dan belum mengajar, dia mengaku ikut pelatihan kerja untuk desain grafis yang diadakan Pemerintah Kabupaten Kudus. Karena dengan mampu mendesain dengan hasil yang bagus dan indah, akan sangat berpengaruh terhadap keindahan aneka craft yang dia buat.

Dia menjelaskan, harga produk kerajinan yang dia buat dinilai cukup terjangkau. Untuk produk scrapframe ukuran 25×20 sentimeter dia jual mulai Rp 60 ribu, ukuran 30×25 sentimeter ditawarkan mulai Rp 70 ribu. Sedangkan ukuran 35×25 sentimeter dibebankan biaya mulai Rp 80 ribu. ā€œHarga dihitung per kepala, setiap tambah satu kepala biayanya Rp 10 ribu,ā€ jelasnya.

Untuk craftframe ditawarkan dengan dua ukuran yakni 25×20 sentimeter seharga Rp 130 ribu dan ukuran 30×25 sentimeter dibebankan biaya Ro 150 ribu. Harga tersebut, kata Mila sudah termasuk bingkai 3D. Sedangkan, untuk produk sileutĀ  dengan ukuran 20×25 sentimeter dijual mulai harga Rp 50 ribu. Menurutnya harga dihitung dari banyaknya sileut dan background.

Menurutnya, sekarang banyak anak muda yang memesan aneka craft hasil karyanya tersebut. karena tiga kerajinan tersebut cocok untuk dijadikan kado untuk sahabat, orang yang dicintai, mengabadikan momen pernikahan, wisuda, ulang tahun dan lainnya. Pemesannya juga tidak hanya orang Kudus saja melainkan juga orang lain daerah.

ā€œAku berharap usaha sambilanku yang membuat aneka craft bisa makin dikenal banyak orang. Mampu merambah ke semua kalangan dan diminati banyak orang hingga makin berkembang dan mampu menciptakan lowongan kerja baru untuk orang lain,ā€ harap perempuan lajang tersebut.

- advertisement -

Kini Ami Tahu Cara Merawat Wajah yang Aman dan Sehat Usai Ikuti Beauty Class Bersama Jafra

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di lantai tiga kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Cendekia Utama, di tepi Jalan Lingkar Selatan, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, sejumlah perempuan mengacungkan jari saat narasumber menawarkan contoh facial, Sabtu (1/4/2017) pagi. Dalam acara Beauty Class tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menggandengĀ pihak Jafra Kosmetik untuk memberikan pemaparan kepada peserta.

Elyta Handayani, Jafra Profesional Consultan
Elyta Handayani, mencontohkan penggunaan produk. Foto: Ahmad Rosyidi

Sri Aminingsih (20), Satu diantara dua orang yang dipilih untuk maju ke depan, sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang pertama kali mencoba facial. Menurutnya, usai mencoba dengan produk Jafra, wajahnya terasa lebih segar. Dia juga mengaku komedonya banyak yang keluar.

ā€œIni saya mencoba masker lumpur, wajah saya terasa segar, dingin, enak, kencang tetapi dibuat ngomong tidak pecah seperti masker-masker yang saya lihat sebelumnya. Saat di-facial tadi komedo saya banyak yang keluar, jadi terasa bersih. Setelah ini saya mau beli produk yang untuk wajah rencana,ā€ ungkap wanita asli Pati itu.

Ami begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, biasanya dia menggunakan bedak bayi di wajah. Dan ini pengalaman pertama dia mencoba facial menggunakan produk Jafra. Sebelumnya dia merasa takut salah menggunakan produk yang mengandung bahan kimia, sehingga memilih bedak bayi. ā€œKarena Jafra menggunakan bahan-bahan alami dan aman, jadi saya tertarik untuk mencobanya,ā€ jelas anak kedua dari tiga bersaudara itu, ditemui usai acara.

Jafra Professional Consultant, Elyta Handayani, yang menjadi narasumber acara Beauty Class dengan tema “Change From The Beast Beauty and Succes”, memaparkan, banyak manfaat yang akan didapat jika bergabung dengan Jafra. Manfaat itu di antaranya, bisa belajar tentang cara merawat wajah, mendapat sejumlah produk dari Jafra dan mendapat uang saku dari hasil penjualan produk.

ā€œCaranya mudah untuk gabung dengan kami, cukup mengisi formulir dan hanya membayar Rp 299 ribu. Nanti akan mendapat 16 produk skin care empat tipe kulit, yakni kulit kering, normal, berminyak, dan sensitif. Member nanti akan mendapat apron, head band, katalog dan buku Jafra, lipstik, gentle scrub, brosur, spatula, magic towel, cermin, dan bussines basic,ā€ terag Elta sapaan akrabnya.

Dia menambahkan, dari sejumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, kurang lebih sekitar 10 orang mendaftar untuk bergabung dengan Jafra. Dia juga merasa senang dengan antusiasme peserta yang hadir. ā€œPeserta kali ini sangat antusias, tadi banyak yang mencoba produk terbaru kami yang memang sedang banyak diminati, yaitu masker lumpur,ā€ tambah wanita kelahiran Jakarta itu.

Diana (20), ketua panitia kegiatan, mengaku ada sedikit kendala dalam urusan publikasi karena persiapan acara yang cukup singkat. Mereka mempersiapkan kegiatan tersebut sekitar empat hari. Dengan minimnya waktu untuk publikasi, mereka mendapat peserta kurang lebih sekitar 30 orang.

ā€œTadi dimulai pukul 8.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Semua terbilang lancar. Cuma kendala waktu persiapan yang singkat itu saja. Harapannya setelah mengikuti kegiatan ini mahasiswa Stikes bisa membedakan produk yang baik dan berkualitas,ā€ ungkapnya usai acara.

- advertisement -

Awalnya Iseng Buat Scrapframe, Kini Mila Punya Banyak Pelanggan di Seluruh Indonesia

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Di tepi jalan RT 5 RW 5 Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus terlihat sebuah rumah bercat merah jambu di bagian depan. Di satu ruangan tersebut tampak seorang perempuan berjilbab sedang menyusun kertas warna-warni pada kayu berlapis kertas. Perempuan tersebut bernama Mamila Ziyyit Tuqo, perajin scrapframe.

Mila menunjukkan scapframe hasil kreasinya 2017_3
Mila menunjukkan scapframe hasil kreasinya. Foto: Rabu Sipan

Di sela kesibukannya membuat kerajinan, perempuan yang akrab disapa Mila itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang bisnis yang dia tekuni saat ini. Dia mengaku mengenal scrapframe saat masih kuliah S2 di Universitas Gajah Mada (UGM). Teman semasa sekolahnya dulu adalah orang yang mengenalkan dirinya pada kerajinan kertas tersebut.

ā€œPertama itu aku iseng saja membantu temanku membuat scrapframe untuk mendokumentasikan persahabatan kami. Konsepnya saat itu juga masih sangat sederhana. Dan setelah itu, aku mencoba membuat sendiri dengan tema keluarga yang berisi fotoku dan adiku, setelah jadi lalu aku foto dan aku buat profil BBM,ā€ ujar perempuan yang lulus S2 jurusan Fisika UGM pada tahun 2016.

Warga Desa Cendono, Dawe, Kudus itu mengisahkan, saat di pasang menjadi foto profil itulah, ada satu temannya yang bertanya dan memesan untuk dibuatkan scrapframe dengan tema berbeda. Kata dia, temannya tersebut memesan dengan tema perjalanan cinta dengan kekasihnya untuk hadiah wisuda pacarnya. Karena dirinya tahu tentang scrapframe dari teman lamanya, dia mengaku jujur pada pemesan bahwa yang membuat pertama itu bukan dirinya.

ā€œNamun temanku yang memesan itu tidak peduli dan ingin agar aku yang membuatkan scrapframe. Karena aku tidak ingin mengecewakan teman, aku pun menyetujui untuk membuatkan scrapframe sesuai keinginan temanku tersebut dengan tarif yang ditentukan bersama,ā€ ungkap Mila yang mengaku bingung memberikan tarif, karena temannya tersebut merupakan pemesan pertama dan dirinya tidak tahu sama sekali tentang harga.

Perempuan lajang itu mengungkapkan, setelah pemesan pertama itu dirinya mulai menyadari bahwa scrapframe banyak diminati. Itu terbukti dengan setiap mengunggah foto hasil karyanya ke BBM, Instagram, Facebook, banyak temannya yang berminat untuk memesan. Menurutnya, saat ini dirinyaĀ sudah memiliki resseler. Bahkan pelanggan pertamanya juga ikut memasarkan scrapframe buatannya.

ā€œSekarang pemesan scrapframe hasil karyaku sudah lumayan banyak, selain orang Kudus aku juga pernah menerima pesanan dari Semarang, Jogja, Jakarta, Bandung, Bogor dan kota lainnya di pulau Jawa. Karena aku menawarkan secaraĀ online, tak jarang aku juga menerima pesanan dari luar Jawa, di antaranya, Lampung, manado dan kota besar lainnya di Indonesia,ā€ ungkap Mila yang selalu memajang hasil karyanya di Instagram dengan akunĀ mamicraft.

Dia mengakuĀ selalu mencari referensi bahan dan tema di Google dan Youtube, agar scrapframe yang ditawarkannya tidak melulu itu-itu saja. ā€œPembuat kerajinan itu kan harus selalu berinovasi, agar karyanya tidak monoton dan membosankan. Karena itulah di waktu senggangku sering aku buat searching di dunia maya mencari referensi. Agar bisa memberikan banyak pilihan kepada para calon pemesan scrapframe,ā€ ungkapnya.

- advertisement -

Abu Tholut, Guru Imam Samuda yang Kini Suarakan Nasionalisme dan Lawan Terorisme

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Sebuah gedung berlantai dua di tepi Jalan Pramuka nomor 20, Desa Mlati Lor, Kota Kudus, tampak dipadati puluhan orang. Suara tepuk tangan terdengar saat seorang narasumber memberi pemaparan dalam acara Sarasehan Kebangsaan. Narasumber tersebut yakni Imron Byhaqi alias Abu Tholut, seorang mantantan teroris.Ā Guru Imam Samudra itu kini banyak memberikan ceramah tentang nasionalisme dan mengecam aksi teror.

Abu Tholut dalam seminar kebangsaan di Gedung NU Kudus 2017-3
Abu Tholut dalam seminar kebangsaan di Gedung NU Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

“Imam Samudra itu murid saya, mungkin dia tidur waktu mata pelajaran saya dulu, jadi dia meneror bangsa sendiri,” kata Abu Tholut yang kemudian diikuti tepuk tangan dan tawa pesertaĀ yang sebagian besar kader Nahdhatul Ulama (NU).

Baca juga:Ā Siswa TBS Ini Catat Semua Keterangan Mantan Teroris yang Hadir di Kantor PC NU Kudus

Dalam acara Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) PC Kudus, dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) PC Kudus itu, pria berjenggot panjang tersebut mengungkapkan, dirinya pernah beberapa kali selamat dari maut. Sejak 2014 dia keluar dari kelompok garis keras dan memilih untuk independen. Dia juga menjelaskan, sudah menjadi narasumber di 17 Kabupaten, menyuarakan tentang nasionalisme dan melarang terorisme.

“Saya bergabung dengan Jamaah Islamiah tahun 1985. Karena di Indonesia saat itu semua dibungkam, saya mau saja diajak Ustad Abdullah Sungkar ke Afganistan. Semua lini sudah pernah saya coba, termasuk medan pertempuran. Beberapa kali saya hampir mati, Alhamdulillah saya masih selamat. Allah belum menghendaki saya meninggal,” terang Abu Tholut dalam acara bertemaĀ ā€œIdeologi Transnasional VS Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegaraā€.

Pada 2009 dia keluar dari Jamaah Islamiyah (JI) yang dipimpin Abdullah Sungkar. Dia kemudian bergabung dengan (JI) dan Jamaah Anshrut Tauhid (JAT), karena diajak langsung oleh Abu Bakar Ba’asyir saat bertemu di Kudus. Dia kemudian keluar dari JAT pada tahun 2014, saat JAT menyatakan bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Saya keluar karena saya tidak mau bergabung dengan ISIS tahun 2014. Teman-teman saya yang tidak mau bergabung dengan ISIS juga banyak, mereka mendirikan kelompok baru. Tapi saya memilih untuk independen, jadi saya bisa berbaur dengan semua golongan,” ungkap pria kelahiran Semarang itu.

Menurutnya, masyarakat perlu menjaga kehormatan agama, bangsa, dan kehormatan orang lain. Jadi harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, tidak boleh merenggut hak untuk hidup orang lain. “Bangsa kita kan sudah tidak seperti pada tahun 1985, semua dibungkam tidak bisa bersuara. Jadi tidak perluĀ lagi ada teror, bom, dan sebagainya. Kita sudah bisa bebas berpendapat sekarang,” tambah warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu.

Abu Tholut juga menjawab pertanyaan satu di antara puluhan peserta tentang cara recruitment jamaah tersebut. Yang pertama memunculkan rasa simpati, yang kedua memunculkan rasa untuk membela, dan terakhir baru keyakinan. “Kalau sudah simpati, ingin membela, dan seiman, pasti tertarik untuk bergabung,” jelasnya.

- advertisement -

Ida Pilih Nama Distro Magnetic, Agar Tempat Usahanya Seperti Magnet Menarik Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Wanita berkaus hitam berjalan menuju tempat kasir di Distro Magnetic, Jalan Pattimura 67 D, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Sesekali diaĀ terlihat melihat layarĀ handphone, dan melihat sekeliling ruangan yang penuh dengan produk pakaian, sepatu dan tas. Wanita itu tak lain Widyastuti (30), pemilik distro tersebut.

Distro Magnetic, Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kudus 2017_3
Distro Magnetic, Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Ida begitu dirinya biasa disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha itu. Dia menjelaskan, membuka usaha distro di Kudus sudah berlangsung sejak 11 tahun lalu, tepatnya sejak tahun 2005. Dia mengatakan, memilih nama Distro Magnetic agar tempatnya seperti magnet yang bisa menarik pembeli.

ā€œNama ini sebenarnya rekomendasi dari teman juga, sewaktu awal membuka usaha. Kata magnetic kan bisa berarti sebuah magnet, jadi dengan nama ini saya berharap usaha saya kelak punya daya tarik dan mampu menarik konsumen untuk membeli,ā€ ungkap Ida waktu ditemui.

Wanita yang mengaku sudah dikaruniai dua orang anak, ini mengatakan, sebelum membuka usaha distro, dia sempat berjualan grosir pakaian di kios Pasar Kliwon. Seiring berjalannya waktu, dia beralih berjualan pakaian asal Bandung yang dia anggap lebih menjajikan. ā€œKualitas bahan yang digunakan lebih bagus dan respon masyarakat juga cukup baik,ā€ ujarnya.

Dia memberitahukan, kebanyakan pelanggannya datang dari Kudus, tapi tak jarang ada juga dari Pati dan Jepara. Untuk jenis pakaian yang paling diminati penjualĀ yakni produkĀ kaus. ā€œKaus itu kan pakaian sehari-hari, simpel, jadi semua orang pasti pakai dalam kesehariannya,ā€ ungkap Ida.

Ida menambahkan, Distro Magnetic buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga 21.00 WIB. Menurutnya, distronya selalu ramai pembeli pada saat akhir pekan. Pembeli yang sering datang, kata dia, didominasi kalangan anak muda.

ā€œPelanggan saya kebanyakan dari kalangan muda. Saya mempromosikan produkĀ melalui media online, Instagram dan Facebook. Saya juga promo le teman-teman dekat, kalau tidak ya hanya menunggu calon pembeli yang datang saja,ā€ tambah Ida.

- advertisement -

Meski Jarang Promo, Tak Kurang 1.000 Pengunjung Datang Tiap Bulan untuk Perawatan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi selatan Jalan Sunan Kudus Desa Demaan, Kecamatan Kota tampak sebuah gedung berlantai dua berwarna oranye. Di satu ruangan tampak seorang dokter perempuan berjilbab sedang memberi konsultasi pada pasien. Tempat tersebut yakniĀ Derma Skin Care and Treatment,Ā yang tiap bulan tak kurang dari 1.000 pengunjung datang untuk treatmentĀ atau membeli produk kecantikan.

Customer service Derma Skin Care Kudus 2017_3
Customer service Derma Skin Care Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Mila Ledya Luspa (33) satu di antara dokter di pusat kecantikan ituĀ  mengungkapkan, sejak dibuka pada tahun 2012, antusiasme pengunjung yang datang untukĀ treatment dan membeli produk selalu naik tiap tahunnya. Bahkan pada tahun lalu pengunjung menyentuh angka sekitar 1.000 orang dalam sebulan saat ramai, dan sekitar 800 pengunjung sebulan saat sepi.

Baca juga:Ā Ā Agar Makin Disayang Suami, Uswatun Perawatan di Derma Skin Care, Hasilnya Sangat Memuaskan

ā€œSehari itu biasanya pengunjung di Derma Skin Care sekitar 30 orang di hari biasa. Saat akhir pekan bisa sampai 50 pengunjung untuk perawatan dan pembelian produk,ā€ ungkap perempuan yang akrab disapa Mila, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang berasal dari Palembang dan kini menetap di Desa Kramat, Kota, Kudus itu mengatakan, sejak mulai buka hingga sekarang, Derma Skin Care jarang mengadakan promosi harga. Karena menurutnya, harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Seingatnya, promo hanya dilakukan pada saatĀ soft lounching. Saat itu Derma Skin Care mengadakan perawatan gratis, itu pun hanya berlangsung sehari.

ā€œDerma Skin Care juga tidak menggunakan media sosial untuk berpromosi. Dengan memberikan perawatan serta produk yang juga berkualitas, harga terjangkau dan tentu hasilnya juga memuaskan para pelanggan. Dan dari informasi mulut ke mulut para pelanggan itulah Derma Skin Care makin banyak pelanggan yang datang,ā€ ucapnya.

Dia menjelaskan, Derma Skin Care melayani perawatan dan penanganan masalah kulit.Ā Layanan yang tersedia di antaranya facial yang ditarif seharga Rp 80 ribu. Selain ituĀ Chemical peeling dibebankan biaya pada pelanggan sebesar Rp 120 ribu.

Mila menambahkan, di Derma Skin Care juga tersedia layanan Micro Derma Brasi yang harganya Rp 200 ribu dan RF Lifting untuk perawatan kulit kerut seharga Rp 250 ribu. Dan untuk perawatan jerawat harganya lebih mahal, yakni Rp 300 ribu, karena khusus perawatan jerawat, harga tersebut berikut dengan pembelian produk.

ā€œDi Derma Skin Care selain melayani perawatan masalah kulit juga melayani perawatan rambut. Selain itu juga menjual aneka produk untuk kulit dan rambut.Ā  Tentunya pembelian produk itu rekomendasi sesuai resep dokter yang ada di Derma Skin care,ā€ ungkap perempuan yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2007 itu.

 

- advertisement -

Meski Demam, Varo Memaksa Datang ke UMK untuk Jadi Model Lomba Fotografi

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah pria tampak sibuk mencari posisi untuk mengambil gambar di sebuah ruangan di lantai dua gedung N Universitas Muria Kudus (UMK). Di ruangan tersebut terlihat seorang wanita dan anak laki-laki sedang bermain. Mereka akan menjadi objek lomba fotografi yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi. Kigiatan itu diselenggarakan bertepatan denganĀ Diesnatalis ke-15 Fakultas Psikologi UMK.

Lomba fotografi BEM Psikologi UMK 2017_3
Lomba fotografi BEM Psikologi UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Di luar ruangan, terlihat seorang wanita sedang duduk dengan tas berwarna hitam di sampingnya. Wanita itu yakni Harmiasih (41), ibunda Alvaro Septrihadi Putra (5). Dia mengakuĀ sedang menunggu putranya yang sedang menjadi model lomba foto di ruangan tersebut. Putranya menjadi model karena diajak kakaknya, yang juga menjadi panitia dalam kegiatan tersebut.

“Anak saya Varo tidak ada persiapan. Tadi pagi diajak kakaknya yang jadi panitia kegiatan ini, kemudian pukul 10.00 WIB ke sini ternyata belum mulai, disuruh pukul 13.00 WIB ke sini lagi. Sebelum pukul 13.00 WIB, Varo sudah minta ke sini terus, padahal dia lagi sakit demam,” terang ibu yang memiliki tiga anak itu.

Harmi, sapaan akrabnya, mengatakan, selain suka difoto, putra terakhirnya itu suka kesenian. Sebagai orang tua ingin selalu mendukung kegiatan anaknya, asalkan positif. Dia tidak ingin mengarahkan atau melarang hal-hal yang disukai anak-anaknya.

“Saya mendukung saja asalkan itu positif. Kalau Varo putra terakhir saya ini, selain suka difoto, dia juga suka seni, suka nonton ketoprak dan menari. Anaknya percaya diri, jadi saya juga seneng. Ini difoto sudah dua jam tidak rewel,” jelas warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus itu.

Yayan Wahyu Hidayat (20), koordinator lomba fotografi, mengungkapkan, lomba tersebut menjadi rangkaianĀ acara diesnatalis. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB itu diikuti 29 peserta dari Kudus, Jepara dan Pati. Seluruh peserta akan melakukan pemotretan di dua lokasi yang disediakan, dan mengumpulkan dua foto untuk dinilai oleh juri.

“Lomba Fotografi ini dengan tema ‘All About Psychology‘. Jadi peserta mengambil gambar di dua lokasi dengan model yang sudah kami sediakan,” jelas anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Damalena Afiani (21), ketua panitia, menambahkan, kegiatan yang mereka persiapkan selama dua bulan tersebut berjalan dengan lancar. “Tema besar acara Diesnatalis kali ini ‘Merajut Generasi Berprestasi Menuju Indonesia Hebat’. Harapannya, semua masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini mulai anak TK hingga mahasiswa bias berprestasi dan menjadi generasi yang hebat, tidak melupakan budayanya,” terang warga Jepara itu.

Dia juga merinci serangkaian kegiatan Diesnatalis ke-15 yang dimulai tanggal 27 Maret 2017 hingga 29 Maret 2017 tersebut. “Hari pertama ada seminar nasional, hari kedua ada lomba bercerita dan cerdas cermat, siangnya ada lomba fotografi dan fesyen. Hari terakhir ada lomba mewarnai dan donor darah. Semala Diesnatalis juga ada ekspo tiga hari,” tambahnya.

- advertisement -