Beranda blog Halaman 1907

Ingin Ajak Banyak Teman Lulus, Hadi Ciptakan Mesin Penguji Keausan Mesin

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Suara bising mesin terdengar di gedung K ruang praktik Jurusan Teknik Mesin Universutas Muria Kudus (UMK). Tampak seorang pria mengenakan baju putih bergaris-garis sedang mengoprasikan mesin. Pria itu yakni Muhammad Hadi Susanto (28), yang sedang mengerjakan proyek akhir pembuatan mesin Alat Uji Keausan Untuk Sistem Kontak Two Disc. Proyek persyaratan itu dibuatnya, karena ingin mengajak banyak temannya segera lulus.

Hadi, mahasiswa UMK menguci alat yang dia buat
Hadi, mahasiswa UMK menguci alat yang dia buat

Hadi begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang alat yang dia ciptakan tersebut. Dia menciptakan Alat Uji Keausan Untuk Sistem Kontak Two Disc karena mendapat referensi dari dosennya yang dulu pernah membuat alat serupa. Perbedaannya, alat yang dibuat dosennya berguna untuk menguji nilai koefisien gesekan, dan alat yang dibuat Hadi untuk menguji keausan dan laju keausan.

Baca juga: Hanya Bermodal Rp 5 Juta, Mahasiswa UMK Ini Bisa Buat Mesin Seperti Buatan Jerman Seharga Rp 55 Juta

“Motivasi awal saya ingin mengajak teman-teman lulus, karena alat ini bisa digunakan banyak orang untuk syarat kelulusan. Referensi saya dari dosen yang pernah membuat alat serupa, tetapi beda fungsinya. Selain itu juga dari jurnal yang saya pelajari, dari Jepang, India dan Amerika,” ungkap warga Desa Tuang, Kecamatan Karanganyar, Demak itu.

Dia mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk proses penelitian dan pembuatan. Dalam proses pembuatan alat tersebut, Hadi membutuhkan anggaran sekitar Rp 30 juta. Dana tersebut didapatnya dari iuran tim sebanyak 12 orang.

“Sebenarnya tim inti kami ada tujuh orang, tapi sebagian ikut meneliti jadi membantu semampunya. Anggaran utama kami dari tujuh orang yang masing-masing iyuran Rp 3,5 juta. Dan sisanya dari bantuan lima orang yang ikut meneliti di luar tim kami,” jalasnya.

Untuk mengetahui kinerja alat tersebut juga memerlukan program yang sudah mereka buat. Program tersebut yakni aplikasi yang mereka beri nama program Visual Basic 6.0. Tanpa program tersebut Alat Uji Keausan Untuk Sistem Kontak Two Disc itu tidak dapat diketahui hasil uji keausannya.

“Dengan progam Visual Basic 6.0, nanti akan diketahui suhu objek, kecepatan putaran satu, dua, dan torque. Dari hasil tersebut nanti kami akan tahu seberapa kuat roda gigi yang kami uji. Dengan beban sekian, kecepatan sekian, tentu butuh bahan yang tepat untuk ketahanan roda gigi. Karena semakin keras bahan belum tentu semakin baik, kita perlu menyesuaikan kecepatan dan beban yang kan ditopang,” terangnya sambil menunjukan aplikasi Visual Basic 6.0 itu.

- advertisement -

Toko Elektronik di Kudus Ini Lebih Menonjolkan Produk Arisa Karena Bagus Kualitasnya dan Harga Terjangkau

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Di tepi Jalan Pemuda Nomor 27A, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah toko bercat warna putih dengan pintu terbuka. Tampak sejumlah produk elektronik berjajar dan tersusun rapi menghiasi toko. Di dalamnya, terlihat seorang pria mengenakan kaus coklat sedang duduk di antara produk bermerek Arisa. Pria itu tak lain Hevi Riyanto (46), Karyawan Ratu Murah Elektronik.

Yanto menunjukkan produk elektronik di Toko Ratu Murah Kudus 2017_4
Yanto menunjukkan produk elektronik di Toko Ratu Murah Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Yanto, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan di toko tempat dia bekerja. Dia menjelaskan, toko yang berlokasi tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus itu, menjual berbagai produk elektronik dan alat rumah tangga. Menurutnya, dari sekian produk elektronik yang dijual, didominasi produk buatan PT Arisamandiri Pratama.

“Di toko kami ada produk Polytron, Sharp, Panasonic, LG maupun Samsung, tapi kebanyakan yang kami jual produk Arisa (PT Arisamandiri Pratama). Karena dari segi harga, Arisa lebih terjangkau dan bahan yang digunakan memakai bahan vinil (anti tikus), yang pasti sudah teruji kualitasnya,” ungkap Yanto.

Warga Desa Mijen, Kecamatan Mijen, Demak, ini memberitahukan, elektronik yang dia jual meliputi mesin cuci, kipas angin, speaker aktif, mist fan, televisi LED, lemari serba guna, kulkas dan lain sebagainya. Sedangkan untuk alat rumah tangga, ada kompor gas, mesin blender, setrika pakaian serta rice cooker. “Semua lengkap, tinggal dipilih pasti akan kami layani dengan baik,” ujarnya.

Dia mengatakan, harga yang dia jual semua bervariasi, namun bisa dibeli dengan cara tunai maupun kredit. Misalnya mesin cuci, dia jual kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta untuk dua tabung. Sedangkan mesin cuci satu tabung dia jual antara harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Kulkas dijual seharga Rp 1,3 juta hingga Rp 3,5 juta dan untuk TV LED dijual kisaran harga Rp 1,3 juta hingga Rp 2 juta, baik mulai ukuran 20 inch hingga 32 inch.

Dia menambahkan, produk yang dia jual semua didapatkan dari distributor yang berada di Semarang. Terkait dengan pelanggan, katanya, kebanyakan dari wilayah Kudus, tak jarang juga ada yang dari Demak maupun Jepara. Untuk penjualan, dia mengatakan tidak bisa dipastikan, kadang sehari laku lima unit, kadang bisa satu unit yang laku terjual.

“Kalau di rata-rata dalam sebulan, paling sebanyak 30 unit yang bisa kami jual, itu pun semua varian produk, baik elektronik maupun alat rumah tangga. Tapi kalau mau Lebaran, penjualan kami seketika meningkat, stok produk berapapun pasti cepat terjual,” tambah Yanto yang mengaku sudah lima tahun menjadi karyawan Ratu Murah Elektronik.

- advertisement -

Usaha Konveksi dan Propertinya Bangkrut, Taqin Kembali Fokus Usaha Jual Beli Mesin Jahit

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi barat Jalan Kiai Telingsing Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah toko dengan pintu kayu yang terbuka. Dia dalam toko tampak puluhan mesin jahit berjajar di lantai dan rak kayu yang menempel di dinding. Di dalam toko juga terlihat seorang pria memakai sweter merah sedang melayani pelanggan. Pria tersebut bernama Muhammad Tanwirul Mutaqin (33), pemilik usaha jual beli mesin jahit.

Taqin memperlihatkan mesin jahit di tokonya 2017_4
Taqin memperlihatkan mesin jahit di tokonya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Taqin itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya jual beli mesin jahit. Dia mengatakan, menekuni usaha jual beli mesin jahit sejak tahun 2006. Sebelum mengawali usaha tersebut, dirinya berjualan bumbu di depan emperan toko yang berada di sekitar pabrik rokok di Kudus.

“Usai mondok (pesantren) di Malang, aku minta modal orang tuaku Rp 500 ribu untuk usaha jual beli bumbu. Aku ingin merasakan bagaimana lika-liku orang berusaha dan susahnya mencari uang. Namun karena setiap menjajakan dagangan selalu diusir petugas dan terkadang juga pemilik toko, akhirnya ibuku tidak tega dan memintaku usaha jual beli mesin jahit di tempat yang sekarang,” ungkapnya.

Warga Kelurahan Purwosari, Kota, Kudus itu mengatakan, saat memulai usaha jual beli mesin jahit dirinya mengaku tak bisa fokus, hingga usaha tersebut, kata dia, dipercayakan orang lain. Sedangkan Taqin memilih membuka usaha lainnya yakni konveksi dan usaha properti. “Namun apesnya, kedua usahaku tersebut tidak berjalan sesuai harapan dan aku merugi karena ditipu,” ungkapnya.

Menurutnya, sejak kedua usahanya tersebut bangkrut, mau tidak mau dirinya kembali fokus mengelola usaha jual beli mesin jahit. Kini, Taqin bersyukur usaha jual beli mesin jahitnya mulai dikenal banyak orang. Tidak hanya di Kudus, melainkan sudah memiliki pelanggan seluruh Karesidenan Pati.

Dia mengungkapkan, di tokonya tersebut menjual aneka mesin jahit. Untuk mesin jahit kecil dan besar baru maupun bekas. Dia juga meyediakan mesin obras serta mesin jahit kancing. Selain menjual Taqin mengaku juga membeli aneka mesin jahit serta mesin obras.

Kami juga menerima servis untuk aneka kerusakan mesin jahit dan obras yang aku tarif mulai harga Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu per unit, tergantung kerusakan pada mesin jahit tersebut. Dan semua bentuk servis dan pembelian mesin jahit serta obras, aku berikan garansi selama setahun,” ujarnya.

- advertisement -

Selalu Gagal Saat Ujian SIM, Nazil Kesal Harus Antre 2 Jam Saat Sidang Tilang di Kejaksaan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Halaman Kejaksaan Negeri Kudus nampak ramai dipenuhi motor yang terparkir, Kamis (6/4/2017). Puluhan orang juga terlihat bergantian keluar masuk gedung di Jalan Jendral Sudirman, itu. Menunggu namanya dipanggil, mereka duduk di tiga kursi yang disediakan, dan ada pula yang duduk di taman. Mereka datang untuk memenuhi panggilan sidang pelanggaran lalu lintas.

Antre sidang pelanggaran lalu lintas di Kejaksaan Negeri Kudus 2017_4_4
Antre sidang pelanggaran lalu lintas di Kejaksaan Negeri Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dari balik jeruji besi, tertulis di sisi atasnya “Loket Pengambilan Tilang”. Mereka yang namanya dipanggil, menuju ke loket untuk menyerahkan uang denda. Butuh sekitar 1 menit, proses pembayaran denda tersebut berlangsung.

Nazil Fatkhul Adzim (22), adalah satu di antara pelanggar yang datang memenuhi undangan sidang. Warga Desa Jurang, Kecamatan Gebog, itu dinyatakan melanggar dalam operasi lalu lintas sebelumnya, karena tidak memiliki SIM. Dirinya mengaku selalu gagal dalam ujian SIM C. Menurutnya, dia sudah dua kali ikut ujian SIM, namun selalu gagal. “Saya sudah dua kali ikut ujian. Namun gagal terus,” ungkap Nazil dengan raut muka kesal.

Nazil menceritakan, dirinya terkena tilang di Jalan Jendral Ahmad Yani. Saat itu dia hendak pergi ke Galery Indosat untuk memperbaiki kartu simnya yang sedang rusak. “Saat masuk daerah Gang 1 (Ahmad Yani), eh ada polisi, kena deh. Baru pertama ini saya kena tilang,” tuturnya.

Menurutnya, saat berada di lokasi pembayaran denda tilang, fasilitas yang diberikan sangatlah kurang. Karena hanya ada beberapa kursi, akhirnya banyak orang yang harus duduk di tamam, ada pula yang duduk di atas aspal untuk menunggu antrean.

“Saya tadi menunggu dipanggil sekitar dua jam. Saya berharap bisa dibuatkan tempat yang lebih layak lagi,” tuturnya yang mengaku membayar denda tilang  sebesar Rp 60 ribu.

Hal senada juga diungkapkan Ahmad (23). Warga Tanjungkali, Kecamatan Karanganyar, Demak, mengaku terkena tilang karena tidak memiliki SIM C. Dirinya terkena tilang pada tanggal 29 Maret 2017 dan menghadiri persidangan pada hari Kamis (6/4/2017) pukul 08.00. “Saya sudah lima kali terkena tilang di Kudus. Semua sama, karena tidak punya SIM,” tuturnya sambil tersenyum.

Dirinya menceritakan, saat memasuki Jalan Jendral Ahmad Yani, Kudus, dirinya dihadang polisi lalu lintas. Waktu itu memang sedang digelar razia. Karena tak memiliki SIM, dirinya ditilang di tempat. Dia mengaku bersalah tidak memiliki SIM. Dia belum membuat SIM, karena khawatir tidak bisa lulus ujian SIM, dan harus mengulang ujian.

“Kalau bisa sekali datang bisa lulus dan langsung jadi sih enak. Kalau tidak lulus, harus bolak-balik. Jadi sampai sekarang saya belum membuat (SIM),” terangnya.

Dari data yang ditampilkan di papan pengumuman di depan Kejaksaan, ada 907 pelanggar yang dijadwalkan mengikuti persidangan. Pelanggaran didominasi tak bisa menunjukkan SIM dan STNK. Data tersebut dicetak di atas kertas F4 sejumlah 61 lembar. Terlihat dari tanggal pelanggaran tertulis dari tanggal 25 Maret 2017 hingga 1 April 2017.

- advertisement -

Catat, Ada Layanan SIM Keliling di Car Free Day Minggu Lusa

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah kendaraan melintas di depan pos polisi Patwal Induk Simpang Tujuh Kudus, kemarin. Kendaraan patwal polisi terparkir di depan bangunan di sisi utara Ramayana Mal Kudus. Pada Car Free Day (CFD) Minggu (9/4/2017) lusa, jalan di depan pos tersebut akan digunakan Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Kudus, untuk pelayanan perpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) Keliling.

Layanan SIM Keliling Polres Kudus 2017_4_7
Layanan SIM Keliling Polres Kudus 2017. Foto: Imam Arwindra

Hal tersebut diungkapkan Bintara Urusan SIM (Baur SIM) Aiptu Harinto Mulyo saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini. Menurutnya, tepat di sebelah pos polisi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus itu, pihaknya akan membuka pelayanan perpanjang SIM dengan mobil SIM keliling. “Kami mulai buka pukul 06.00 WIB saat kegiatan CFD,” ungkapnya.

Baca juga: Bulan Depan, SIM Keliling Kudus Mulai Beroperasi, 5 Menit Jadi

Dirinya mengingatkan, pelayanan mobil SIM keliling hanya untuk perpanjangan SIM A dan SIM C saja. Untuk pembuatan SIM baru dan selain perpanjang SIM A dan C masih harus dilakukan di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus. Pelayanan akan dilakukannya hingga CFD berakhir. “Ingat hanya perpanjang SIM A dan C saja,” tegasnya.

Rinto menjelaskan, jadwal pelayanan SIM Keliling masih tahap proses pembuatan. Menurutnya, selama jadwal pelayanan belum dikeluarkan, masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan mobil SIM Keliling yang terparkir di Mapolres Kudus. Menurutnya, dengan adanya pelayanan SIM Keliling masyarakat bisa lebih mudah mendapatkan pelayanan perpanjang SIM.

“Perpanjangan dengan mobil SIM Keliling ini lebih mudah. Jadwal SIM Keliling baru kami buat. Sementara ini layanan SIM Keliling menggunakan mobil khusus baru bisa dilakukan di depan Mapolres dan saat CFD,” jelasnya.

Menurutnya, syarat untuk perpanjangan SIM di CFD, masyarakat tinggal membawa foto copy KTP dan SIM lama yang ingin diperpanjang masa berlakunya. Untuk biaya perpanjang SIM A sebesar Rp 80 ribu dan SIM C Rp 75 ribu. Di lokasi SIM keliling nanti sudah disedikan dokter untuk tes kesehatan dan pegawai bank untuk pembayaran.

- advertisement -

Tahun Ini TMMD Dilaksanakan Tiga Kali

0

SEPUTARKUDUS.COM, KANDANGMAS – Ratusan personel TNI berbaris di depan podium inspektur upacara pada pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) regular ke-98 dan Sengkuyung Tahap I di Provinsi Jawa Tengah tahun 2017, Rabu (5/4/2017). Bertempat di Lapangan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus, mereka bersama anggota Polres Kudus dan unsur masyarakat, akan melaksanakan sejumlah progam pembangunan fisik dan nonfisik pada 5 April 2017 hingga 4 Mei 2017.

TMMD 2017 Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus 2017_4
TMMD 2017 Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus

Penanggungjawab Keberhasilan Pelaksanaan (PKP) yang juga Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama, Kolonel INF Joseph Robert Giri menuturkan, TMMD bukan lagi sekadar pelaksanaan progam, melainkan sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, progam TMMD setiap tahun dilaksanakan selama dua kali. Namun kali ini pihaknya akan menambah menjadi tiga kali. Hal tersebut dikarenakan adanya permintaan dari pemerintah daerah dan masyarakat.

“Keputusan dari Mabes (Markas Besar) TNI di Jakarta Kali ini dari yang biasanya dua kali, menjadi tiga kali (dalam setahun),” ungkapnya saat ditemui selepas upacara pembukaan TMMD regular ke-98.

Baca juga: Ilyas Berterima Kasih pada TNI, Dia Tak Lagi Waswas Susuri Jalan Setapak Menju Sawahnya

Dirinya menjelaskan, pelaksanaan TMMD benar-benar dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama pemerintahan daerah. Menurutnya, hampir keseluruhan pemerintah daerah di Indonesia menginginkan untuk diadakan TMMD selama tiga kali. Hal tersebut terlihat dari dukungan dana dan pelaksanaan yang luar biasa. Di Kudus sendiri, pemerintah daerah mengeluarkan dana hampir Rp 3 miliyar untuk TMMD. Dan dirinya meyakini, di kabupaten lain juga melakukan hal yang sama. “Jadi tidak usah bahasa lagi antara sinergitas TNI dengan pemerintah daerah. Pelaksanaanya sudah luar biasa,” jelasnya.

Perwira menengah di jajaran Komando Daerah Militer IV/Diponegoro menuturkan, Kudus bisa menjadi percontohan untuk kabupaten lain. Menurutnya, pelaksanaan TMMD dan Sengkuyung Tahap I di Provinsi Jawa Tengah di Kudus juga bermanfaat untuk masyarakat di sekitar Kabupaten Kudus.

Dirinya meyakini tanpa adanya dukungan penuh dengan Provinsi Jawa Tengah tentu progam yang dijalankan sulit. “Kesimpulannya pemerintah daerah dan provinsi (Provinsi Jawa Tengah) mendukung luar biasa. Kalau saya jadi masyarakat saya patut berbangga punya pemerintah seperti ini,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan TMMD regular ke-98 dan Sengkuyung Tahap I,  Komandan Satuan Tugas (Satgas) yang juga Komandan Distrik Militer (Dandim) 0722 Kudus Letnan Kolonel Czi Gunawan Yudha Kusuma menuturkan, kegiatan TMMD akan melakukan pembangunan fisik dan nonfisik di Desa Kandangmas.

Pembangunan fisik yang dilakukan yakni pembuatan jembatan, pembangunan jalan beton sepanjang 200 meter, pembuatan talud, Renovasi Rumah Tidak layak Huni (RTLH), pembuatan gotong-gorong beton, pembuatan jamban, renovasi poskampling, renovasi musala dan tempat wudu serta rebiosasi.

Untuk nonfisik, tambah Gunawan di antaranya, penyuluhan radikalisme, bela negara, wawasan kebangsaan, keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), narkoba dan undang-undang lalu lintas. Selain itu, juga ada penyuluhan pertanahan, pertanian, sanitasi lingkungan dan pelatihan tata boga. . “TMMD regular ke-98 tahun 2017 mulai dilaksanakan hari ini tanggal 5 April 2017 hingga 4 Mei 2017,” tuturnya saat melaporkan kegiatan TMMD di depan inspektur upacara.

- advertisement -

Produsen Genting di Ngetuk Ini Berani Garansi Produknya Hingga Dua Tahun

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Belasan orang tampak mengambil ribuan hasil cetakan genting yang dijemur di Dukuh Ngetuk, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus. Terlihat ribuan hasil cetakan genteng tersebut dibawa ke tempat pembakaran. Tak jauh dari aktivitas tersebut, tampak seorang pria memakai kaus lengan pendek, duduk di atas tumpukan genteng. Pria itu bernama Sunardi (61), pemilik usaha genting tersebut.

Genting dan terpus yang diproduksi di Ngetuk, milik Sunardi 2-17_4
Genting dan terpus yang diproduksi di Ngetuk, milik Sunardi

Sambil mengamati belasan pekerjanya, pria yang biasa disapa Nardi itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang pembelian genting di tempatnya. Dia mengungkapkan, sejak pertama membuka usaha pembuatan genting dan terpus, dirinya memberi garansi kepada para pelanggan. Menurutnya, garansinya tidak hanya sabulan atau dua bulan, namun hingga dua tahun.

Baca juga: Tekuni Pembuatan Genting Sejak Remaja, Nardi Bangga Semua Anaknya Lulus Sarjana

“Genting dan terpus hasil produksiku dijamin kuat dan tahan lama, makanya aku berani memberi garansi. Jika genting hasil produksiku saat sudah terpasang terkena hujan dan terik matahari ada yang pecah, kabari aku dan nota pembelian tunjukan padaku, berapapun itu langsung aku ganti,” ujarnya.

Warga Dukuh Ngetuk, Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus itu mengungkapkan, selama ini tidak ada satu pun para pelanggannya yang komplain tentang kualitas genteng dan terpus hasil produksinya. Menurutnya, dengan kualitas dan garansi yang diberikan tersebut, dirinya kini memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya di Kudus melainkan seluruh Karesidenan Pati. Bahkan dirinya pernah mengirim genteing dan terpus ke Bali, Kalimantan, dan kota besar di Indonesia lainnya.

Baca juga: Tempat Produksi Dibangun Rumah, Mantan Pengusaha Genting Ini Tak Canggung Jadi Kuli Lagi

Dia mengatakan, dirinya mendapat pesanan dari luar daerah melalui tengkulak dengan harga jual satu genting Rp 1.250. Menurutnya, harga tersebut biaya pengirimannya ditanggung pembeli. Sedangkan genting terpus dia jual dengan harga Rp 1.700. Harga – harga yang disebutkannya itu, minimal untuk pembelian seribu genting dan terpus.

“Harga tersebut sudah sangat terjangkau. Kualitas genting dan terpus dijamin jos. Genteng produksiku pembakarannya menggunakan daun tebu kering dan serpihan penggergajian. Sisa penggergajian aku gunakan untuk pengasapan agar kadar air berkurang setelah itu baru dibakar. Di jamin genting yang dihasil sangat ulet tidak mudah pecah dan patah. Karena memang genteng dan terpus asal Ngetuk, Ngembalrejo, Kudus itu terkenal kuat dan tidak mudah patah,” ujarnya.

Tak jauh berbeda diungkapkan oleh Misran (66), pria yang sudah menjadi perajin genting puluhan tahun di Ngetuk itu mengatakan, genteng Dukuh Ngetuk, memang terkenal ulet dan tidak mudah pecah, tahan terhadap terpaan hujan dan terik sinar matahari. Menurutnya, hal tersebut tidak bisa lepas dari proses pembakaran.

“Genting dan terpus yang bagus itu pembakarannya menggunakan daun tebu kering. Karena daun tebu mudah terbakar, api serta panasnya setabil dan awet. Daun tebu kering pembakarannya mampu menjangkau lapisan genteng terdalam dan membuat genteng benar-benar matang. Pokoknya genting yang dihasilkan dijamin kualitasnya,” ujar Misran yang mocok membuat genting dengan sistem bagi hasil dengan pemilik tempat dan alat pres genteng..

Berbeda dengan genteng yang dibakar menggunakan daun tebu, menurutnya,  genting yang dibakar menggunakan kayu hasilnya kurang masak dan genteng yang dihasilkan juga rapuh. Itu disebabkan karena pembakaran menggunakan kayu, apinya tidak stabil, hingga panasnya tidak mampu menyentuh lapisan genteng yang terdalam.

- advertisement -

Ilyas Berterima Kasih pada TNI, Dia Tak Lagi Waswas Susuri Jalan Setapak Menju Sawahnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, KANDANGMAS – Dua skop dan alat penggali tanah diberikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko kepada dua anggota TNI dan Linmas secara simbolik. Penyerahan tersebut dilakukan pada progam TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) regular ke-98 tahun 2017 di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus Rabu (5/4/2017).

Penerimaan simbolik alat penggali tanah acara TMMD Kudus 2017_4
Penerimaan simbolik alat penggali tanah acara TMMD Kudus 2017. Foto: Imam Arwindra

Ratusan masyarakat desa setempat terlihat antusias hadir dalam kegiatan pembukaan TMMD di lapangan Desa Kandangmas. Di antaranya Ilyas (48), yang datang dari Dukuh Masin, Desa Kandangmas. Dia mengku sangat senang, karena dalam acara itu disebutkan, TNI akan membangun jalan beton, pembuatan talud dan jembatan penghubung Dukuh Masin dan Dukuh Sudo.

“Saya berterima kasih sekali kepada ABRI (TNI). Saya bisa lebih mudah untuk ke Sudo (Dukuh Sudo),” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat acara tersebut.

Dia mengatakan, saat akan ke Dukuh Sudo, dirinya harus melewati jalan setapak yang belum diaspal atau dicor. Begitu juga saat pergi ke sawah, dirinya selalu waswas karena kadang debit air tiba-tiba meninggi. Di sana belum ada jembatan yang penghung. “Saya juga mau ikut kerja bakti bersama untuk membangun jalan dan jembatan. Dengan dibangunnya fasilitas tentu sangat membantu masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0722 Kudus Letnan Kolonel Czi Gunawan Yudha Kusuma menuturkan, kegiatan TMMD kali ini akan melakukan pembangunan fisik dan nonfisik. Dalam pelaksanaan akan didukung 230 orang yang terdiri dari anggota TNI, Pemerintah Kabupaten Kudus dan masyarakat setempat.

“TMMD regular ke-98 tahun 2017 mulai dilaksanakan hari ini tanggal 5 April 2017 hingga 4 Mei 2017,” tuturnya saat melaporkan kegiatan TMMD di depan inspektur upacara yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko.

Dia melanjutkan, pembangunan fisik yang dilakukan yakni pembuatan jembatan dengan panjang 12 meter, lebar empat meter dan tinggi enam meter. Selanjutnya, pembangunan jalan beton sepanjang 200 meter, lebar tiga meter dan tebal 15 meter. Selain itu juga akan ada pembabungan talud dengan panjang 50 meter, lebar 30 sentimeter dan tinggi 1,5 meter.

“Kami juga akan melaksanakan RTLH (Renovasi Rumah Tidak layak Huni), pembuatan gotong-gorong beton, pembuatan jamban, renovasi poskamling, renovasi musala dan tempat wudu serta rebiosasi,” jelasnya.

Untuk nonfisik, tambah Gunawan, pihaknya akan melaksanakan penyuluhan radikalisme, bela negara, wawasan kebangsaan, keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), narkoba dan undang-undang lalu lintas. Selain itu, juga ada penyuluhan pertanahan, pertanian, sanitasi lingkungan dan pelatihan tata boga.

Dirinya menyebutkan, dalam pelaksanaan TMMD regular ke-98 tahun 2017 pihaknya menghabiskan dana Rp 794.946.000. Anggaran tersebut didapatkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 160 juta, APBD Kabupaten Kudus Rp 594.946.000 serta swadaya masyarakat Rp 40 juta.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko menuturkan, TMMD dilakukan bukan hanya kali ini saja, melainkan sudah dilakukan setiap tahun di seluruh Indonesia. Menurutnya, subtansi TMMD yakni mendekatkan instansi pemerintahan, TNI dan Polri kepada masyarakat. Masyarakat diikutsertakan untuk bersama-sama membangun daerahnya.

- advertisement -

KLX dan D-Tracker, Motor Trabas Kawasaki yang Banyak Digandrungi Kalangan Muda

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Sejumlah kendaraan roda dua terpakir di dalam diler resmi Kawasaki Kudus, di Jalan Ahmad Yani, ruko Panjunan Blok A-11 Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota. Tak jauh dari tempat parkir kendaraan, tampak wanita berjilbab kuning sedang mencacat sesuai. Dia yakni Estri Fitriyani (22), Sales Unit PT Sinar Gemala Sakti. Menurutnya, di diler tempat dirinya bekerja, Kawasaki KLX dan D-Tracker mendominasi penjualan.

Kawasaki KLX 2017 di diler resmi Kawasaki Kudus 2017_4_6
Kawasaki KLX 2017 di diler resmi Kawasaki Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Estri kuning tersebut sudi berbagi penjelasan tentang penjualan motor di tempat dia bekerja. Dia menjelaskan, penjualan motor Kawasaki KLX dan D-Tracker berjenis trabas atai trail ini mengalami peningkatan karena dipengaruhi beberapa faktor. Satu faktor di antaranya motor ini mampu melintasi semua medan.

“Di tempat kami, sekarang yang banyak diminati berupa motor trail, Kawasaki KLX dan D-Tracker. motor ini bisa menembus segala medan. Misalnya, ingin melaju di jalan yang beraspal, D-Tracker sangat cocok untuk digunakan . Sedangkan KLX, lebih tepatnya bagi pengendara yang suka berpetualang. Misalnya melintasi jalanan berlumpur, kerikil, banjir, pasir maupun batu,” ungkap Estri waktu ditemui beberapa waktu lalu.

Terkait dengan penjualan kedua motor itu, Estri mengatakan, dalam sebulan dilernya mampu menjual 35 unit motor KLX dan sebanyak 30 unit motor D-Tracker. Pilihan warna yang ditawarkan bagi setiap pelanggan sangat beragam, KLX ada warna hijau, hitam, oranye, dan kuning. Untuk D-Tracker meliputi warna abu-abu, oranye serta hijau.

“Biasanya pelanggan lebih suka warna hijau untuk motor KLX dan abu-abu untuk motor D-Tracker. Kalau pelanggan kami menyeluruh, paling dominan memang dari Kudus. Tapi tak jarang juga ada yang dari Pati, Jepara, Rembang maupun Tegal. Pelanggan, kebanyakan dari kalangan anak muda, karena komunitas motor trail sekarang semakin banyak” ujar warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus.

Estri menambahkan, harga yang dia tawarkan untuk kedua produk tersebut berbeda-beda, tergantung jenis dan tipe motor yang hendak dibeli. Misalnya, KLX Pro, dijual seharga Rp 28 juta, KLX 150 G dipatok seharga Rp 29,3 juta, KLX BF Rp 32,8 juta, KLX BF SE Rp 34,5 juta, KLX BF SE AMA Rp 35 juta dan untuk KLX 250S dibanderol lebih mahal, yakni seharga Rp 63,9 juta.

“Harga tadi khusus motor KLX, kalau D-Tracker beda lagi harganya. D-Tracker 150 kami jual seharga Rp 31,8 juta, D-Tracker 150 SE Rp 33,4 juta dan untuk D-Trackel X Rp 64,6 juta,” tambah Estri sambil memperlihatkan brosur harga motor Kawasaki.

- advertisement -

Hanya Bermodal Rp 5 Juta, Mahasiswa UMK Ini Bisa Buat Mesin Seperti Buatan Jerman Seharga Rp 55 Juta

0

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Sejumlah mahasiswa terlihat sibuk mengerjakan prakarya di ruangan Gedung K Universitas Muria Kudus (UMK). Seorang mahasiswa duduk di sudut ruangan dengan laptop di depannya. Pria itu yakni Muhammad Hadi Susanto (28), yang tengah membuat mesin sensor torsi. Dengan alat yang dibuatnya tersebut, pengujian keausan two disc pada mesin beroda gigi bisa dilakukan tanpa harus membeli alat seharga puluhan juta rupiah.

Hadi mencoba mesin penguji keausan two disc di Gedung K UMK
Hadi mencoba mesin penguji keausan two disc di Gedung K UMK. Foto: Imam Arwindra

Hadi, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mesin yang dibuatnya untuk syarat kelulusan Jurusan Teknik Mesin di UMK. Dia mengatakan, selama proses pembuatan mesin alat uji keausan two disc, membuat sensor torsi menjadi hal yang paling sulit diantara komponen-komponen yang lain. Dia membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk membuat sensor tersebut, dan menghabiskan biaya kurang lebih Rp 5 juta.

“Kalau beli alatnya (uji keausan two disc) yang buatan Jerman harganya Rp 55 juta. Kalau buatan Tiongkok sekitar Rp 17 juta, tapi belum ongkos kirim. Saya membuat alat ini mengeluarkan dana kurang lebih Rp 5 juta,” terang Hadi saat ditemui di UMK, beberapa waktu lalu.

Hadi juga merinci jenis-jenis bahan yang sudah diuji menggunakan mesin yang dia buat. Di antaranya kuningan, aluminium, baja ST-60, baja ST-90, roda gigi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan produk pabrikan. Menurutnya, dari bahan-bahan yang sudah diuji, baja ST-90 yang paling bagus.

“Kalau menurut saya baja ST-90 yang paling bagus. Tetapi juga butuh menyesuaikan beban dan kecepatan, ada bahan yang keras tapi lebih elastis dan ada bahan yang keras kaku. Untuk harga bahan-bahan yang saya uji, kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilo gram,” ungkap Hadi saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Dia berencana menghibahkan mesin tersebut untuk digunakan adik-adik angkatannya, agar bisa dibuat bahan penelitian. Hadi ingin membuat alat serupa dan membuka usaha produksi roda gigi. Karena dengan menggunakan alat tersebut dia bisa mengetahui roda gigi yang tepat untuk kendaraan maupun alat yang membutuhkan roda gigi.

“Setelah lulus, saya ingin membuka usaha produksi roda gigi. Karena dengan alat ini saya bisa memberikan yang terbaik untuk konsumen. Saya bisa menghitung kecepatan dan beban yang dibutuhkan konsumen,” tambahnya.

- advertisement -

Desa Pedawang Andalkan Produk UMKM Pada Penilaian Lomba Desa Tingkat Kabupaten Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Sejumlah orang tampak bersiap-siap di stan pameran di Balai Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Sejumlah produk produk unggulan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Pedawang, terlihat memenuhi meja-meja stan. Pemerintah desa setempat, mengandalkan potensi UMKM untuk penilaian Lomba Desa Tingkat Kabupaten Kudus 2017.

Ketua DPRD Kudus Masan melihat produk UMKM Desa Pedawang
Ketua DPRD Kudus Masan melihat produk UMKM Desa Pedawang. Foto: Imam Arwindra

Usai pembukaan acara, tim penilai terlihat memasuki lokasi stan. Tim penilai itu di antaranya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Noor Yasin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus Masan dan beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Mereka menyapa pelaku UMKM yang memamerkan produknya. Sesekali mereka mencicipi beberapa produk kuliner yang disuguhkan di stan.

Kepala Desa Pedawang Mohammad Rifai mengatakan, potensi UMKM Desa Pedawang menjadi andalan dalam lomba desa kali ini. menurutnya, desannya ditunjuk mewakili Kecamatan Bae untuk mengikuti lomba. Desa dengan luas 103.827 hektar dan penduduk 4.591 jiwa, memiliki potensi UMKM cukup besar.

“Produk UMKM di desa kami ada pakan burung, tempe dan tahu,  mebel, konveksi, budidaya ikan, olahan makanan ringan dan beberapa produk kreatif. Pakan burung merek Krotosari milik pak Nur Rohman, pemaasarannya bahkan sudah sampai Surabaya,” jelasnya.

Sejumlah produk unggulan UMKM di desanya, Kata Rifai, ada juga yang sudah dipasarkan secara daring, yakni ceriping pisang, mebel, desain miniature,konveksi dan ikan hias. Selain UMKM, pihaknya juga sudah memiliki perpustakaan manual dan digital.

“Kami juga sudah memanfaatkan aplikasi Si Mamad (Sistem Informasi Manajemen Administrasi Desa), aplikasi Menara (Menjaga Amanah Rakyat) dan SPGDT (Sistem Penanganan Kegawatan Daruratan Terpadu Kabupaten Kudus). Itu untuk mendukung progam Kudus Cyber City dari Bupati Kudus Bapak Musthofa,” tambahnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus Noor Yasin yang turut hadir menuturkan, dalam perlombaan desa tingkat kabupaten kali ini, semua bentuk pembangunan ditampilkan untuk dinilai oleh tim. Menurutnya tim penilai akan objektif dalam melakukan penilaian.

Dirinya berharap keseluruhan desa dan kelurahan di Kudus dapat menjadi Desa Pandai OJK seperti di Desa Karangbener Kecamatan Bae. Dikatakan, dalam lomba desa yang diselenggarakan indikator laku desa pandai memiliki porsi poin penilaian yang cukup besar. Indikatornya antara lain sudah mengelola administrasi secara digital dan sudah ada koneksi wifi yang bisa diakses masyarakat. “Ini upaya mendidik untuk mendorong bersama melakukan kegiatan yang cerdas dan tuntas,” tuturnya.

Dalam kegiatan lomba desa tingkat Kabupaten Kudus 2017, tim penilai ada sebanyak 23 orang dari OPD dan penggerak PKK Kabupaten Kudus. Dari data yang ada, tim penilai di pimpin oleh  Agus Budi Satriyo, Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus dan Arief Budi Siswanto, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kudus.

Penilaian yang dilakukan meliputi bidang pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, inovasi dan ekonomi masyarakat. Selain itu juga bidang pemerintahan dan penaturan investasi, tanggap dan siaga bencana, desa berbasis teknologi dan informasi serta keamanan dan ketertiban desa. Selanjutnya, aspek yang dinilai tentang kinerja, inisiatif dan pemberdayaan masyarakat, pemerintahan desa dan kelompok penggerak PKK yang ada di desa.

- advertisement -

Tekuni Pembuatan Genting Sejak Remaja, Nardi Bangga Semua Anaknya Lulus Sarjana

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di belakang rumah berlantai keramik di Dukuh Ngetuk RT 6, RW 1 Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak bangunan tanpa dinding. Di dalamnya terlihat seorang pria sedang mencetak genting di antara ratusan ribu genting dan terpus basah yang tersusun rapi di rak kayu. Di Luar bangunan, seorang pria bercelana panjang terlihat duduk di atas tumpukan genting sambil melihat ribuan genting yang dijemur. Pria tersebut bernama Sunardi (61), pemilik usaha pembuatan genting di tempat tersebut.

Sunardi, pengusaha genting Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus 2017_4
Sunardi, pengusaha genting Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sembari duduk, pria yang akrab disapa Nardi itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang lika-liku menjalankan bisnisnya membuat genting. Dia mengatakan mempunyai empat anak yang semuanya sudah lulus perguruan tinggi. Dia mengaku tidak ingin melihat keempat anaknya putus sekolah seperti dirinya, yang hanya lulus SD.

“Aku bersyukur, ternyata semua anakku memilih melanjutkan sekolah. Karena kalau tidak lanjut, mereka harus bekerja dengan serius. Selain itu dengan memilih melanjutkan sekolah, mereka sudah membuatku bangga. Karena setidaknya keinginanku untuk menyekolahkan mereka hingga lulus sarjana bisa terwujut. Ayahnya lulusan SD tak apa, yang penting mereka sarjana,” ujarnya sambil tersenuym.

Warga Dukuh Ngetuk Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus itu mengungkapkan, mulai merintis usaha pembuatan genteng dan terpus sejak masih remaja, tepatnya pada tahun 1977. Sebelum merintis usaha, sejak lulus sekolah dasar (SD) dia mengaku bekerja membuat genteng, di sela aktivitasnya sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs).

“Tapi sayangnya sekolahku di MTs tidak lulus karena tidak punya biaya. Setelah tidak sekolah aku tekun bekerja. Hasil kerja, selain untuk membantu orang tua juga aku tabung. Dengan harapan uang tabunganku bisa untuk biaya menikah dan mendirikan usaha,” ujar Nardi, yang mengaku bekerja ikut orang mulai tahun 1969 hingga tahun 1976.

Dia mengatakan, pada tahun 1977 dirinya menikah. Karena ingin meningkatkan penghasilan keluarga dan demi masa depan anaknya, dia megaku nekat membuka usaha pembuatan genting dengan modal seadanya. Menurutnya, saat itu dirinya membuat genting dengan bermodal satu alat cetak genteng terpus.

Lambat laun, usahanya berangsur-angsur mulai berkembang. Sekarang dia mengaku memiliki 12 alat pencetak genting dan terpus dan mempekerjakan 13 orang. Dari alat itu, kata dia, mampu membuat genting dan terpus siap bakar sebanyak 15 ribu dalam sebulan dan mampu meraup omzet hingga Rp 30 juta saat musim hujan. Dan saat kemarau, jumlah tersebut meningkat menjadi 20 ribu genting dan terpus, dengan omzet Rp 40 juta.

“Aku bersyukur usaha pembuatan genting yang aku rintis sejak remaja sudah mulai berkembang. Hasilnya, mampu menyekolahkan semua anakku hingga sarjana. Alhamdulilllha setelah lulus kuliah semua anakku berwiraswasta dengan membuka usaha, ada yang usaha jual jilbab, game online dan lain sebagainya,” ungkap Nardi yang sudah menunaikan rukun Islam kelima bersama istrinya pada 2001 silam.

- advertisement -

Tempat Produksi Dibangun Rumah, Mantan Pengusaha Genting Ini Tak Canggung Jadi Kuli Lagi

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di dalam bangunan di Dukuh Ngetuk, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak ribuan hasil cetakan genting yang tersusun rapi di rak kayu. Di antara samping rak tersebut terlihat seorang pria berkaus lengan pendek sedang mencetak genting menggunakan alat pres. Pria tersebut bernama Misran (66), perajin genting yang tak canggung kerja jadi kuli lagi, meski dulu pernah merasakan menjadi juragan.

Tempat produksi genting di Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus 2017_4_5
Tempat produksi genting di Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mencetak genting, Misran sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang pekerjaannya membuat genting. Dia mengungkapkan, sebelum menjadi kuli lagi membuat genting, selama 22 tahun memiliki usaha sendiri pembuatan genting. Namun usahanya tersebut berhenti sejak pekarangan yang dibuat untuk produksi, dibangun rumah untuk anaknya.

“Pekarangan yang aku buat produksi genting itu masih satu wilayah dengan rumahku. Karena anakku ingin punya rumah, sebagai orang tua aku hanya mampu mengiyakan, karena aku juga tidak ingin mengecewakannya,” ungkapnya saat di temui, belum lama ini.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, saat itu dirinya sudah mampu produksi genting yang hasilnya terbilang bagus. Saat itu dia juga sudah memiliki tiga pekerja pencetak genting. Setelah usahanya tutup, sejak lima tahun lalu dirinya terpaksa menjadi kuli lagi membuat genting dengan sistem bagi hasil. Setiap 1.000 genting yang dia buat, hasilnya menjadi hak pemilik pekarangan dan alat pres.

“Tapi penyetorannya berupa uang dan berdasarkan harga pasaran. Misal saat ini harga genting rata-rata Rp 130 untuk setiap genting yang terjual, hasil penjualannya berarti Rp 130 ribu. Setiap kali produksi, aku mampu membuat 10 ribu genting. Itu berarti aku setor ke pemilik tanah sekitar Rp 1,3 juta,” ungkap Misran yang kerjabersama lebih dari lima orang.

Warga Ngetuk, Ngembalrejo, Bae, Kudus itu mengatakan, sehari dirinya mampu mencetak genting sekitar 300 pcs saat musim hujan. Dalam sebulan dirinya mampu membakar genting sekali saja. Sedangkan musim kemarau dirinya mengaku mampu membakar genting dua kali, dengan jumlah 15 ribu genting. Untuk bahan genting dia membeli tanah liat dari daerah Jepara dengan harga Rp 280 ribu tiap satu truk yang bisa dijadikan 2.000 genteng.

“Berbeda dengan musim hujan, meski harga sama, tanah yang dikirim saat kemarau bisa diproses menjadi 3000 genteng. Menurut si pengirim saat kemarau bisa membawa lebih banyak karena jalannya tidak ambles,” kata Misran.

Dia menambahkan, untuk pembakaran genting dirinya menggunakan daun tebu kering. Untuk membakar 10 ribu genting basah, dirinya menghabiskan sekitar 100 hingga 200 ikat daun tebu yang dibeli dengan harga Rp 10 ribu per ikat. Menurutnya, membuat genteng dengan sistemnya tersebut keuntungannya mepet saat musim hujan.

“Sebenarnya tetap masih enak punya usaha sendiri, hasilnya juga tidak usah dibagi lagi. Namun semua sudah terlanjur, semua anakku juga sudah berkeluarga dan sudah bekerja. Kini aku bekerja membuat genting hanya untuk mengisi hari tua dan hasilnya untuk makan aku dan istriku. kalau ada sisa ya bisa buat memberi uang saku cucu,” kata Misran yang memiliki 11 cucu itu.

- advertisement -

Devina dan Siswa MI NU Sholahiyah Pukau Pejabat Kudus dengan Suling Recorder

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Puluhan siswa mengenakan kaos putih terlihat berbaris menuju panggung utama Lomba Desa tingkat Kabupaten di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Mereka adalah siswa kelas tiga MI NU Sholahiyah Desa Pedawang. Masing-masing dari mereka membawa alat musik recorder suling yang akan ditiup secara bersama-sama. Saat aba-aba sudah terdengar, suara suling barnada lagu “Burung Kakak Tua” muali menggema.

Siswa MI NU Sholahiyah Pedawang mainkan suling rocorder 2017_4
Siswa MI NU Sholahiyah Pedawang mainkan suling rocorder. Foto: Imam Arwindra

Mereka tampak fasih memainkan alat musik tersebut. Satu di antara siswa yang ikut tampil, yakni Eryan Devia Nastiti (9). Menurutnya, memainkan recorder suling cukup mudah. “Saya sudah bisa lima lagu,” ungkapnya saat ditemui usai pentas di Balai Desa Pedawang, Selasa (4/4/2017).

Selama memainkan recorder suling, Devia mengaku tak merasa pusing, karena meniup alat suling. Dirinya sudah terbiasa memainkan alat musik tersebut. Saat ditanya apakah dirinya grogi ketika memainkan recorder suling, dia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Guru Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) MI NU Sholahiyah, Ilining Uswatun Khasanah (30) yang mendampingi siswanya pentas menuturkan, ada 21  siswa kelas tiga yang ikut tampil dalam Lomba Desa tingkat Kabupaten tahun 2017. Menurutnya, mereka memainkan dua lagu, “Burung Kakak Tua” dan “Ibu Kita Kartini” yang sudang diaransemen untuk dimainkan . “Di MI NU Sholahiyah, recorder suling masuk dalam mata pelajaran. Mereka belajar alat musik itu saat masuk kelas tiga,” ungkapnya.

Menurutnya, kesulitan yang dia alami saat pertama kali mengajari siswa bermain recorder suling, di antaranya mengenalkan nada dan menyamakan nada lagu. Namun setelah berlatih cukup keras, muridnya diakui bisa lancar memainkan lagu bahkan lagu-lagu terbaru. “Selain di sekolah mereka juga berlatih di rumah. Karena mereka punya recorder suling,” jelasnya.

Menurutnya, alat yang digunakan harganya sangat murah, yakni Rp 10 ribu. Selain itu, recorder suling juga tidak membuat pusih di kepala. Dia menuturkan recorder suling berbeda dengan pianika. Biasanya pianika bisa membuat peniupnya merasa pusing, karena harus meniup cukup keras. “Saya mengajarkan yang dasar-dasar, jadi tidak akan membuat kepala pusing,” tambahnya.

Dirinya berharap, di Kudus ada wadah pentas recorder suling yang bisa digunakannya untuk media ekspresi. Menurutnya, dulu saat dirinya masih kecil ada wadah untuk berekspresi. Namun saat ini sudah tidak ada, dan perlombaan-perlombaan yang berkaitan recorder suling pun juga tidak ada. “Semoga nanti Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus bisa membuat perlombaan,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Pedawang Mohammad Rifai menuturkan, Desa Pedawang mewakili Kecamatan Bae untuk ikut dalam Lomba Desa Tingkat Kabupaten Kudus 2017. Menurutnya, dalam kegiatan lomba, dirinya menyuguhkan keunggulan Desa Pedawang dalam bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di antaranya yakni pakan burung, pembuatan tahu dan tempe, mebel, konveksi dan budidaya ikan. “Melalui Kredit Usaha Produktif (KUP) usaha mereka dapat ditingkatkan,” tuturnya saat memberikan paparan di atas panggung.

Di likasi lomba, tampak stan-stan yang diisi pelaku UMKM Desa Pedawang. Selain memamerkan keunggulan UMKM, pihak desa juga menampilkan 20 siswa PAUD dan SD sederajat untuk tampil dalam kegiatan lomba desa.

- advertisement -

Kawasaki Luncurkan Versys-X 250 Tourer, Motor Garang Idaman Bagi Pecinta Adventure

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Motor berwarna oranye, memiliki dua buah boks pada bagian belakang kendaraan, terparkir di Diler Kawasaki Kudus. Tidak jauh dari motor itu, seorang pria berkemeja hijau sedang duduk sambil dengan suguhan kopi di depannya. Pria itu tak lain Anton (35), Kepala Cabang PT Sinar Gemala Sakti, diler resmi Kawasaki di Kudus. Menurut dia, motor yang memiliki ukuran panjang lebih dari dua meter tersebut yakni Versys-X 250 Tourer.

Anton, Kepala Cabang Diler Kawasaki Kudus menunjukkan produk terbaru Versys-X 250 Tourer 2017_4_5
Anton, Kepala Cabang Diler Kawasaki Kudus menunjukkan produk terbaru Versys-X 250 Tourer. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Anton sudi berbagi penjelasan tentang produk terbaru Kawasaki Versys-X 250 Tourer.  Pria yang mengaku baru tiga bulan menjabat sebagai kepala cabang itu, menjelaskan, motor ini dibekali berbagai keunggulan yang cocok digunakan untuk pecinta adventure. Satu di antaranya, mengandalkan tipe mesin double over head camshaft (DOHC) delapan katup dengan empat silinder parallel twin berkapasitas 250cc.

“Keunggulan, torsi lebih besar, lampu LED, bahkan lengkap dengan dua buah lampu kabut yang akan memberikan tambahan penerangan dalam kondisi berkabut.  Posisi berkendara juga tegak dan setang lebar, sehingga lebih nyaman untuk perjalanan jauh. Sangat cocok memang bagi pecinta adventure maupun touring karena terlihat lebih garang dibanding produk kompetitor yang ada,” ungkap Anton sambil berdiri menunjukkan keunggulan motor.

Anton melanjutkan, terkait dengan fitur keamanan berkendara, pabrikan motor asal Jepang itu sudah dilengkapi teknologi anti-lock braking systems (ABS). Menurutnya,  fitur tersebut berfungsi untuk membuat pengereman menjadi lebih sempurna sewaktu dikendarai. “Lebih tepatnya, mengurangi risiko kecelakan pada saat melakukan pengereman mendadak,” ujarnya.

Dia mengatakan, untuk menunjang kenyamanan dalam berkendara, Versyis-X 250 Tourer dilengkapi berbagai fitur pendukung. Di antaranya, fitur hand guards, engine guards, standar tengah untuk menopang motor, boks menyimpan barang dan terdapat fitur tambahan lain berupa pengisian daya handphone. “Misal kehabisan baterai sewaktu perjalanan jauh, tak perlu bingung, tinggal dicas saja,” ungkapnya.

Dia menambahkan, bagi setiap pelanggan yang ingin membawa pulang motor yang dibekali transmisi enam percepatan itu, peminat harus menyiapkan dana sekitar Rp 74 juta. Varian warna yang tersedia ada tiga, hijau, oranye dan abu-abu. Dari harga yang ditawarkan, katanya, pelanggan akan diberikan hadiah berupa full akomodasi touring ke obyek wisata Guci, Tegal.

“Baik makan, bahan bakar motor maupun penginapan semua akan ditanggung Kawasaki. Promo berlaku sebelum tanggal 20 April 2017, soalnya touring akan dilaksanakan pada tanggal tersebut,” tambah Anton yang terlihat bergegas ingin menemui pelanggan.

- advertisement -