SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Puluhan siswa mengenakan kaos putih terlihat berbaris menuju panggung utama Lomba Desa tingkat Kabupaten di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Mereka adalah siswa kelas tiga MI NU Sholahiyah Desa Pedawang. Masing-masing dari mereka membawa alat musik recorder suling yang akan ditiup secara bersama-sama. Saat aba-aba sudah terdengar, suara suling barnada lagu “Burung Kakak Tua” muali menggema.

Mereka tampak fasih memainkan alat musik tersebut. Satu di antara siswa yang ikut tampil, yakni Eryan Devia Nastiti (9). Menurutnya, memainkan recorder suling cukup mudah. “Saya sudah bisa lima lagu,” ungkapnya saat ditemui usai pentas di Balai Desa Pedawang, Selasa (4/4/2017).
Selama memainkan recorder suling, Devia mengaku tak merasa pusing, karena meniup alat suling. Dirinya sudah terbiasa memainkan alat musik tersebut. Saat ditanya apakah dirinya grogi ketika memainkan recorder suling, dia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Guru Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) MI NU Sholahiyah, Ilining Uswatun Khasanah (30) yang mendampingi siswanya pentas menuturkan, ada 21 siswa kelas tiga yang ikut tampil dalam Lomba Desa tingkat Kabupaten tahun 2017. Menurutnya, mereka memainkan dua lagu, “Burung Kakak Tua” dan “Ibu Kita Kartini” yang sudang diaransemen untuk dimainkan . “Di MI NU Sholahiyah, recorder suling masuk dalam mata pelajaran. Mereka belajar alat musik itu saat masuk kelas tiga,” ungkapnya.
Menurutnya, kesulitan yang dia alami saat pertama kali mengajari siswa bermain recorder suling, di antaranya mengenalkan nada dan menyamakan nada lagu. Namun setelah berlatih cukup keras, muridnya diakui bisa lancar memainkan lagu bahkan lagu-lagu terbaru. “Selain di sekolah mereka juga berlatih di rumah. Karena mereka punya recorder suling,” jelasnya.
Menurutnya, alat yang digunakan harganya sangat murah, yakni Rp 10 ribu. Selain itu, recorder suling juga tidak membuat pusih di kepala. Dia menuturkan recorder suling berbeda dengan pianika. Biasanya pianika bisa membuat peniupnya merasa pusing, karena harus meniup cukup keras. “Saya mengajarkan yang dasar-dasar, jadi tidak akan membuat kepala pusing,” tambahnya.
Dirinya berharap, di Kudus ada wadah pentas recorder suling yang bisa digunakannya untuk media ekspresi. Menurutnya, dulu saat dirinya masih kecil ada wadah untuk berekspresi. Namun saat ini sudah tidak ada, dan perlombaan-perlombaan yang berkaitan recorder suling pun juga tidak ada. “Semoga nanti Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus bisa membuat perlombaan,” tuturnya.
Sementara itu Kepala Desa Pedawang Mohammad Rifai menuturkan, Desa Pedawang mewakili Kecamatan Bae untuk ikut dalam Lomba Desa Tingkat Kabupaten Kudus 2017. Menurutnya, dalam kegiatan lomba, dirinya menyuguhkan keunggulan Desa Pedawang dalam bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di antaranya yakni pakan burung, pembuatan tahu dan tempe, mebel, konveksi dan budidaya ikan. “Melalui Kredit Usaha Produktif (KUP) usaha mereka dapat ditingkatkan,” tuturnya saat memberikan paparan di atas panggung.
Di likasi lomba, tampak stan-stan yang diisi pelaku UMKM Desa Pedawang. Selain memamerkan keunggulan UMKM, pihak desa juga menampilkan 20 siswa PAUD dan SD sederajat untuk tampil dalam kegiatan lomba desa.

