31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Tekuni Pembuatan Genting Sejak Remaja, Nardi Bangga Semua Anaknya Lulus Sarjana

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di belakang rumah berlantai keramik di Dukuh Ngetuk RT 6, RW 1 Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, tampak bangunan tanpa dinding. Di dalamnya terlihat seorang pria sedang mencetak genting di antara ratusan ribu genting dan terpus basah yang tersusun rapi di rak kayu. Di Luar bangunan, seorang pria bercelana panjang terlihat duduk di atas tumpukan genting sambil melihat ribuan genting yang dijemur. Pria tersebut bernama Sunardi (61), pemilik usaha pembuatan genting di tempat tersebut.

Sunardi, pengusaha genting Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus 2017_4
Sunardi, pengusaha genting Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sembari duduk, pria yang akrab disapa Nardi itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang lika-liku menjalankan bisnisnya membuat genting. Dia mengatakan mempunyai empat anak yang semuanya sudah lulus perguruan tinggi. Dia mengaku tidak ingin melihat keempat anaknya putus sekolah seperti dirinya, yang hanya lulus SD.

“Aku bersyukur, ternyata semua anakku memilih melanjutkan sekolah. Karena kalau tidak lanjut, mereka harus bekerja dengan serius. Selain itu dengan memilih melanjutkan sekolah, mereka sudah membuatku bangga. Karena setidaknya keinginanku untuk menyekolahkan mereka hingga lulus sarjana bisa terwujut. Ayahnya lulusan SD tak apa, yang penting mereka sarjana,” ujarnya sambil tersenuym.

-Advertisement-

Warga Dukuh Ngetuk Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus itu mengungkapkan, mulai merintis usaha pembuatan genteng dan terpus sejak masih remaja, tepatnya pada tahun 1977. Sebelum merintis usaha, sejak lulus sekolah dasar (SD) dia mengaku bekerja membuat genteng, di sela aktivitasnya sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs).

“Tapi sayangnya sekolahku di MTs tidak lulus karena tidak punya biaya. Setelah tidak sekolah aku tekun bekerja. Hasil kerja, selain untuk membantu orang tua juga aku tabung. Dengan harapan uang tabunganku bisa untuk biaya menikah dan mendirikan usaha,” ujar Nardi, yang mengaku bekerja ikut orang mulai tahun 1969 hingga tahun 1976.

Dia mengatakan, pada tahun 1977 dirinya menikah. Karena ingin meningkatkan penghasilan keluarga dan demi masa depan anaknya, dia megaku nekat membuka usaha pembuatan genting dengan modal seadanya. Menurutnya, saat itu dirinya membuat genting dengan bermodal satu alat cetak genteng terpus.

Lambat laun, usahanya berangsur-angsur mulai berkembang. Sekarang dia mengaku memiliki 12 alat pencetak genting dan terpus dan mempekerjakan 13 orang. Dari alat itu, kata dia, mampu membuat genting dan terpus siap bakar sebanyak 15 ribu dalam sebulan dan mampu meraup omzet hingga Rp 30 juta saat musim hujan. Dan saat kemarau, jumlah tersebut meningkat menjadi 20 ribu genting dan terpus, dengan omzet Rp 40 juta.

“Aku bersyukur usaha pembuatan genting yang aku rintis sejak remaja sudah mulai berkembang. Hasilnya, mampu menyekolahkan semua anakku hingga sarjana. Alhamdulilllha setelah lulus kuliah semua anakku berwiraswasta dengan membuka usaha, ada yang usaha jual jilbab, game online dan lain sebagainya,” ungkap Nardi yang sudah menunaikan rukun Islam kelima bersama istrinya pada 2001 silam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER