Beranda blog Halaman 1906

Wow, Warga Pedawang Ini Punya 42 Kolam Lele, Sebulan Bisa Raup Omzet Rp 100 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di pekarangan belakang rumah, tepatnya di samping rimbunan pohon bambu di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, tampak puluhan kolam ikan. Di antara puluhan kolam yang terbuat dari terpal itu, terlihat seorang pria memakai kaus oblong sedang memberi makan ikan yang dipeliharanya. Pria tersebut bernama Heri Mulyanto (31), pemilik usaha budi daya ikan lele.

Heri Mulyanto, menunjukkan ikan lele yang dibudi daya 2017_4
Heri Mulyanto, menunjukkan ikan lele yang dibudi daya. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya memberi pakan ikan lele, pria yang akrab disapa Heri itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang manis getir usaha budi daya lele. Dia mengungkapkan, mulai budi daya sejak 2013. Sebelum budi daya lele, dia mengaku pernah beberapa kali mencoba usaha ternak hewan lain, di sela aktivitasnya menjadi pengawas proyek di jakarta.

“Sejak aku putus sekolah kelas dua STM, aku memutuskan merantau di Jakarta, terakhir saya menjadi pengawas dan pemborong proyek. Karena gemar ternak hewan sejak kecil, di sela aktivitasku aku mencoba ternak ayam petelur dan mempekerjakan dua orang pada tahun 2010. Sebenarnya usaha ternakku itu terbilang sukses. Namun karena pekarangannya tidak mendukung akhirnya usaha itu aku tutup,” ujarnya.

Warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu mengatakan, setelah usaha ayam petelurnya tutup, pada 2011 dia mengaku mencoba peruntungan dengan usaha budi daya kroto. Dia memilih usaha tersebut karena kepincut dengan harga kroto yang mencapai Rp 250 ribu per kilogram. Saat itu dia sempat belajar ternak semut rangrang hingga Jogjakarta.

“Saat budi daya semut rangrang penghasil kroto itulah aku menemukan usaha lain yakni budi daya lele. Karena semut rangrang itu agar tidak liar kemana–mana, aku taruh di tengah kolam. Namun karena kolamnya dibuat sarang nyamuk, lalu aku beri bibit lele. Tapi justru usaha krotoku gagal total dan budi daya ikan lelenya menghasilkan,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai satu anak itu mengatakan, sejak itu dirinya berkomitmen untuk membesarkan usaha budi daya lele dengan membuat empat kolam sekaligus. Saat itu satu kolam diisi 5.000 ekor bibit lele. Menurutnya, usaha pertamanya itu terbilang berhasil. Saat dipanen, dari empat kolam tersebut menghasilkan sekitar dua ton lele dengan harga Rp 14 ribu-Rp 16 ribu per kilogram pada tahun 2014.

“Karena usaha budi daya lele yang pertama berhasil lalu aku menambah 22 kolam. Dan setiap kolam masih aku intruksikan diisi dengan 5.000 ekor bibit lele. Untuk budi daya ikan lele yang kedua ini juga berhasil, karena setiap sebulan aku bisa memanen tujuh ton ikan lele. Dari penjualan ikan lele itu aku mampu meraup omzet Rp 100 juta sebulan dengan penghasilan bersih sekitar Rp 25 juta,” ungkap Heri.

- advertisement -

Mbah Kesi Rela Kehujanan Demi Los Gratis di Pasar Baru Wergu Wetan

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Mendung hitam tebal terlihat di atas Pasar Baru, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, saat ratusan pedagang menunggu acara peresmian pasar. Namun, peresmian yang akan dilakukan Bupati Kudus Musthofa belum dimuali, hujan turun cukup lebat. Para pedagang berteduh di bawah tratak, namun sebagian lainnya rela menunggu acara dimulai dengan pakaian basah kuyup.

Pedagang Pasar Baru Wergu Wetan kehujanan saat peresmian pasar 2017_4
Pedagang Pasar Baru Wergu Wetan kehujanan saat peresmian pasar. Foto: Imam Arwindra

Tak lama berselang, suara drum band terdengar dari arah timur pasar. Tampak pemain drum band beserta para pedagang berjalan beriringan. Mereka membawa buah-buahan, sapu lidi dan sentir yang kemudian diterima Bupati Kudus. Di antara pedagang yang ikut arak-arakan itu, yakni Kesi. Dia mengaku tak mempersoalkan bajunya basah kuyup, demi Pasar Baru yang akan dia tempati.

“Tidak apa-apa hujan-hujan. Alhamdulillah sehat,” tuturnya yang tinggal di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, Minggu (9/4/2017) sore.

Mbah Kesi, begitu dia akrab disapa, mengaku sudah 20 tahun berjualan ikan di Pasar Wergu yang lama di Jalan Johar. Menurutnya saat berdagang di pasar yang lama, dagangannya laris. Dirinya berharap los nomor 261 yang akan ditempati di Pasar Baru bisa ramai seperti di Pasar Wergu. “Semoga laris, rezekinya banyak, dan selalu diberikan kesehatan lahir batin,” tuturnya yang sudah memiliki tujuh anak tersebut.

Hal senada juga diungkapkan pedagang Pasar Baru lainnya, Umi Rihana Rokhayati. Dia juga berharap los nomor 41 yang akan dia tempati laris seperti di Pasar Wergu. Dia mengaku berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kudus sudah memberi tempat yang bagus dan bersih untuk berjualan.

“Di Pasar Wergu (yang lama) tempatnya kurang bersih karena memang pasar tradisional dan bekas stasiun. Pasar Baru ini tempatnya bagus dan tentunya lebih nyaman,” tuturnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti mengungkapkan, terdapat 360 los dan 190 kios yang tersedia di Pasar Baru. Menurutnya, pembangunan pasar tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp 37 miliar. Untuk pedagang sepeda, mebel dan burung nantinya juga akan dibuatkan tempat di Pasar Baru.

“Pedagang sepeda, mebel dan burung nanti juga akan ditampung. Namun menunggu dianggarkan di tahun mendatang,” jelasnya.

Alasan utama pedagang Pasar Wergu dipindahkan, menurut Sudiharti, karena biaya sewa di pasar yang lama kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) semakin mahal. Dalam setahun Pemerintah Kabupaten Kudus mengeluarkan biaya Rp 850 juta untuk sewa lahan. Padahal pendapatan Pasar Wergu setiap tahun hanya Rp 125 juta saja.

“Akhirnya kami buatkan Pasar Baru. Di tempat milik Pemkab (Kudus) sendiri. Harapan kami Pasar Baru ini menjadi pasar induk di Kudus,” tambahnya.

Bupati Kudus Musthofa yang datang untuk meresmikan Pasar Baru menuturkan, warga yang menempati los maupun kios tidak dipungut biaya. Dirinya mengungkapkan, setiap bulan para pedagang hanya diminta iuran restribusi saja. Musthofa berpesan agar kondisi pasar dijaga dan dirawat dengan baik.

“Saya titip pasar kepada jenengan. Mohon untuk dijaga dan dirawat dengan baik. Nanti setiap pagi saya pasti akan lewat depan pasar,” tuturnya Musthofa kepada pedagang dalam sambutannya.

Bupati yang sudah dua periode memimpin Kudus tersebut juga meminta pedagang untuk menutup keran air saat pasar tutup. Meski diberikan gratis, para pedagang juga harus bisa berhemat. Mustofa juga menjanjikan, dalam waktu dekat ini jalan di depan Pasar Baru akan diberi penerangan.  Pe“Saya itu ingin pasar ini 24 jam nonstop. Mulai dari berjualan sayur, beras dan lainnya,” tambahnya.

- advertisement -

Di Diler Harpindo Jaya Kudus, Hanya dengan Foto Copy KTP Bisa Bawa Pulang Yamaha Mio

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di Di tepi Jalan Sosrokartono 61, Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus, ada diler resmi motor Yamaha, terlihat sejumlah motor yang masih terbungkus plastik tanpa plat nomor ada di dalam diler motor. Di bagian ujung paling depan, terpakir lima unit motor yang di antaranya berjenis matik. Motor itu yakni Yamaha Mio Z dan Mio M3 125 SP. Di diler tersebut, hanya dengan foto copy kartu tanda penduduk (KTP), konsumen bisa bawa pulang motor tersebut.

Subiyanto, Kepala Cabang Harpindo Jaya Panjang, Kudus 2017_4
Subiyanto, Kepala Cabang Harpindo Jaya Panjang, Kudus

Kepada Seputarkudus.com, Subiyanto (30), Kepala Cabang PT Harpindo Jaya Panjang Kudus, sudi berbagi penjelasan tentang promo tersebut. Dia menjelaskan, selagi ketersediaan motor masih ada, promo itu masih tetap berlaku hingga tidak lagi diproduksi oleh Yamaha. Promo itu bagian dari program diler resmi Harpindo Jaya Kudus, baik cabang Panjang maupun Rendeng.

“Promo sebenarnya sudah lama. Tidak hanya dua motor matik itu saja, bahkan semua seri Yamaha Mio dulu juga bisa dibawa pulang dengan hanya melampirkan foto copy KTP. DP (Down Payment) nol persen, jadi cukup membayar angsuran motor setiap bulannya saja,” ungkap Yanto saat ditemui di diler beberapa waktu lalu.

Warga Desa Hadiwarno RT 4 RW 1, Kecamatan Mejobo, Kudus, ini melanjutkan, angsuran motor yang dibebankan kepada setiap konsumen selama 36 kali, artinya selama tiga tahun. Menurutnya, dalam sebulan nominal yang harus dibayar sebesar Rp 641 ribu untuk Mio Z dan Rp 598 ribu untuk Mio M3 125 SP. Namun jika ada konsumen yang akan membayar langsung, untuk harga Mio Z dia sebesar Rp 16,55 juta dan Mio M3 125 SP Rp 15,15 juta.

Dia mengatakan, terkait dengan keunggulan kedua motor hampir sama, yang membedakan hanya bodi kendaraan. Dia menjelaskan, kedua produk tersebut memiliki bagasi luas, kapasitas tangki lebih dari empat liter, kapasitas mesin 125cc dan yang pasti terkenal irit. “Produk ini sudah menggunakan teknologi blue core, 50 persen lebih irit dan tenaga besar,” ujar Yanto yang mengaku menjabat sebagai kepala cabang sudah selama enam tahun.

Ayah satu anak, ini menambahkan, varian warna yang ditawarkan kedua motor cukup banyak. Untuk Mio Z terdiri dari tiga varian warna meliputi merah, putih dan hitam. Sedangkan untuk varian warna motor Mio M3 125 SP terdiri dari dua warna, hitam dan merah.

“Penjualan tidak begitu banyak, paling kisaran tujuh hingga sepuluh unit per bulan khusus penjualan kedua motor itu. Untuk pelanggan, kebanyakan dari wilayah Kudus yang sering datang di diler kami,” tambah Yanto.

- advertisement -

Mukodin, Berjualan Sate Kojek di Tepi Jalan untuk Biayai Pendidikan Anak-Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Sepeda motor dan mobil tampak berlalu lalang di Jalan Budi Utomo tepatnya di depan SMP 1 Mejobo Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Di tepi jalan itu, terlihat seorang pria setengah baya berkaus biru tampak cekatan memasukan sate kojek ke dalam kantung plastik kemudian diberikan pada pembeli. Pria tersebut bernama Mukodin (47), yang biayai pendidikan anak-anaknya dari hasil berjualan sate kojek.

Mukodin (kaus biru) sedang menjual sate kojek bersama putrinya 2017_4
Mukodin (kaus biru) sedang menjual sate kojek bersama putrinya. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Mukodin sudi berbagi kisah tentang usahanya berjualan sate kojek untuk hidupi keluarganya. Di mengatakan sudah dikaruniai tiga anak. Dia berjualan sate kojek keliling menggunakan sepeda motor, untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu, dari hasil berjualan itu dia mampu membiayai pendidikan ketiga anaknya. Dia bersyukur anak pertamanya sudah lulus kuliah.

Baca juga: Gadis Bertitel Sarjana Ekonomi Ini Tak Malu Bantu Ayahnya Jualan Sate Kojek di Tepi Jalan

“Anak pertama saya perempuan. Dia sudah lulus kuliah sekitar setahun lalu. Kini setiap hari membantu saya berjualan sate kojek, karena belum mendapat pekerjaan,” ujar Mukodin saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dua anaknya yang lain kini masih sekolah. Dia berharap penjualan sate kojeknya semakin lancar dan laris. Sehingga kedua anaknya yang kini masih sekolah bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan kakaknya yang sudah sarjana,” harapnya.

Sementara itu, sejumlah orang tampak mengantre membeli sate kojek yang dia jual. Dia mengungkapkan, sate kojek miliknya memang cukup diminati pembeli. Karena sudah memiliki banyak pelanggan, dalam sehari dirinya bisa berjualan dua kali sehari, pagi dan sore.

“Aku berjualan pagi mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Sedang sorenya aku berjualan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Dan aku bersyukur setiap kojek yang aku bawa sering habis dibeli pelanggan,” ujar Mukodin yang mengaku setiap hari berjualan di depan SMP 1 Mejobo, Desa Jepang.

Pria yang setiap berjualan pagi selalu ditemani putrinya itu menuturkan, berjualan sate kojek sejak 2005. Namun menurutnya, penjualannya meningkat drastis sejak setahun terakhir. Sebelumnya, dalam sehari dirinya hanya menghabiskan dua kilogram bahan. Kini, dalam setahun terakhir dia mengaku bisa menghabiskan sekitar 20 kilogram.

“Yang namanya orang berjualan itu pasti ada pasang surutnya. Kadang bisa sepi pembeli, kadang juga ramai. Saya ingin usaha ini bisa berkembang dan semakin banyak pelanggan. Kelak saya ingin bisa membuka frenchise agar penjualannya semakin banyak,” katanya.

- advertisement -

Terkenal Motor Jambret, KIKS Ingin Tepis Pandangan Negatif Motor Yamaha King

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANGGULANGIN – Sejumlah motor Yamaha King terlihat di tepi Jalan Raya Agil Kusumadya, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jati, Kudus. Belasan orang berkerumun tak jauh dari motor tersebut. Mereka yakni anggota King’s Independen Kudus Selatan (KIKS) yang ingin menepis stigma buruk masyarakat yang menganggap motor King, motornya jambret.

KKIS, Komunitas Yamaha King Kudus 2017_4
KKIS, Komunitas Yamaha King Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, penasihat KIKS, Andi Muhammad Yazid (30), sudi berbagi penjelasan tentang komunitasnya yang ingin memberi citra positif untuk pengguna motor King. Langkah yang ditempuh, bersama komunitas di bawah naungan Yamaha Riders Federation Indonesia (YRFI) itu, mereka selalu melakukan kegiatan yang positif.

“Kami ingin menepis pemikiran negatif tentang motor King dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Misalnya bakti sosial, santunan anak yatim, memberi sumbangan ke panti asuhan, menjaga silaturahmi antarkomunitas dan selalu tertib berlalulintas. Karena selogan kami Witing Seduluran Jalaran Seneng Motoran, jadi kami ingin bersaudara dengan seluruh komunitas motor yang ada,” terang warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, beberapa waktu lalu.

Setiap kopdar, katanya, Andi Dada, begitu dia akrab disapa, juga menekankan kepada teman-temannya untuk selalu membawa helm. Selain untuk keselamatan, dia juga tidak ingin anggotanya ada yang dikenakan pelanggaran saat ada polisi berpatroli. “Kami tidak ingin kejar-kejaran dengan polisi. Biasanya saat ada patroli banyak pemuda yang terus pergi, jadi kami tidak ingin seperti itu,” jelas guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu.

Abdul Ghofur (20), Ketua KIKS, mengungkapkan, komunitasnya berdiri sejak 1 April 2016. Kini komunitasnya sudah memiliki anggota sebanyak 28 orang. Mereka melakukan kopdar rutin setiap malam Minggu di barat jalan Raya Agil Kusumadya, Desa Tanggulangin, Jati Kudus. Kopdar dimulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 23.30 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan konvoi untuk menyapa klub motor lain, setelah itu mereka baru membubarkan diri.

Ghofur mempersilakan siapa saja yang ingin bergabung di komunitasnya. Syarat yang harus dipenuhi untuk bisa bergabung, antara lain memiliki motor King, mengisi formulir pendaftaran, mengumpulkan foto copy STNK, KTP dan SIM. Syarat itu dibutuhkan, saat touring mereka perlu mengurus perizinan dengan menyerahkan data identitas anggota dan surat kelengkapan kendaraan.

“Meski motor tua kami juga harus lengkap surat-suratnya. Kami juga berusaha tertb untuk membangun citra yang positif. Kopdar malam ini tidak seramai biasanya, karena sebagian anggota ada kegiatan lain,” tambah warga Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kudus itu.

- advertisement -

Laspani Ingin Bibir Sumbing Anaknya Sembuh Sehingga Tak Diejek Teman-Temannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Ruang operasi Rumah Sakit Aisyiyah Kudus terlihat dipenuhi dokter dan perawat yang mengenakan pakaian operasi warna biru. Tampak empat anak sedang berbaring di ranjang dengan tangan tersambung dengan infus. Empat anak tersebut sedang melakukan operasi bibir sumbing yang diadakan rumah sakit tersebut, bekerja sama dengan Djarum Foundation dan Yayasan Permata Sari Semarang.

Operasi bibir sumbing gratis di RS Aisyiyah Kudus 2017_4
Operasi bibir sumbing gratis di RS Aisyiyah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sejumlah orang tua anak tersebut terlihat menunggu di lantai dua. Raut wajah mereka tampak waswas menunggu anaknya yang sedang dioperasi. Di antaranya Laspani, warga Desa Pidodo, Kecamatan Karang Tengah, Demak. Dia bersama tiga anggota keluarganya sedang menemani anak laki-lakinya yang berusia 12 tahun. “Iya ini menunggu. Di dalam (anaknya) sedang operasi bibir sumbing,” tuturnya saat di RS Aisyiyah, Sabtu (8/4/2017).

Laspini menceritakan, sejak lahir anaknya sudah menderita sumbing langit-langit. Pada usia sembilan bulan, anaknya sudah dioperasi di Semarang. Namun karena sering memakan makanan bertekstur keras dan bekas operasi sering dipegang, akhirnya jahitan pada bibir bedah. Dirinya lantas melakukan operasi kedua yang juga dilakukannya di Semarang.

“Tapi lagi-lagi jahitan bekas operasi bedah. Anak saya sudah tiga kali ini melakukan operasi sumbing. Semoga ini yang terakhir dan bisa sembuh,” harapnya.

Dia mengatakan, bibir sumbing yang diderita anaknya cukup berdampak dalam pergaulan sehari-hari. Menurutnya, anak laki-lakinya dulu sering diejek teman bermain karena memiliki bibir sumbing. “Semoga cepat sembuh dan dapat beraktivitas seperti anak-anak pada umunya,” tambahnya.

Direktur Rumah Sakit Aisyiyah Kudus Hilal Ariyadi mengungkapkan, operasi bibir sumbing dan sumbing langit-langit baru pertama kali dilakukan di RS Aisyiyah Kudus. Dalam pelaksanaan kegiatan, pihaknya melakukan operasi penderita bibir sumbing dan sumbing langit-langit sejumlah 18 pasien. “Sebanyak 14 anak-anak dan empat dewasa,” tuturnya.

Hilal menjelaskan, syarat mengikuti operasi bibir sumbing yakni minimal usia tiga bulan dengan berat badan lima kilogram serta hemoglobin 10. Usia maksimal operasi bibir sumbing yakni 60 tahun. Untuk sumbing langit-langit minimal usia 18 bulan dengan hemoglobin 10 dan maksimal usia 12 tahun. “Penyakit bawaan ini muncul karena faktor gizi. Tentu ini menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

- advertisement -

Gadis Bertitel Sarjana Ekonomi Ini Tak Malu Bantu Ayahnya Jualan Sate Kojek di Tepi Jalan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di tepi barat Jalan Budi Utomo, tepatnya di depan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak seorang perempuan muda berbaju warna ungu. Dia sibuk melayani para pembeli sate kojek. Dia bernama Heni Dewi Utami (22), seorang sarjana yang tak malu membantu ayahnya berjualan sate kojek di tepi jalan.

Heni sedang membantu ayahnya berjualan sate kojek di tepi jalan
Heni sedang membantu ayahnya berjualan sate kojek di tepi jalan. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Heni itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keisbukannya membantu ayahnya berjualan. Dia mengungkapkan, tidak pernah merasa malu untuk membantu ayahnya berjualan sate kojek di tepi jalan. Dia mengaku tidak pernah gengsi meskipun dirinya kini sudah bertitel Sarjana Ekonomi.

“Buat apa malu, usaha bapakku kan pekerjaan mulia. Kecuali, jika usaha bapaku itu tidak halal baru aku malu. Aku membantu bapakku berjualan sejak dulu, sejak masih mahasisiwa. Saat libur kuliah atau ada waktu senggang, aku juga sering membantu ayahku berjualan,” ungkap Heni yang lulus kuliah Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Muria Kudus (UMK) tahun 2016.

Perempuan yang tercatat sebagai Warga Desa mejobo, Kecamatan Mejobo, itu menyadari, dari berjualan sate kojek itulah ayahnya mampu menghasilkan uang untuk biaya pendidikannya. Tidak hanya pendidikan Heni saja, melainkan juga adik-adiknya. Karena itu dia mengaku tidak pernah malu, dan justru merasa sangat bangga terhadap kedua orang tuanya.

Menurutnya, dengan kegigihan kedua orang tuanya, terutama bapaknya yang mencari nafkah untuk keluarga, dirinya mampu meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Kini setelah lulus, dia mengaku ingin sekali membalas jasa orang tuanya. Dia berharap secepatnya dapat dapat pekerjaan hingga tidak merepotkan orang tuanya.

“Aku berharap secepatnya dapat pekerjaan dan dapat gajian biar punya penghasilan sendiri. Agar bisa menabung dan kelak mampu membantu orang tuaku untuk mengembangkan usaha kojeknya. Aku ingin dapat pekerjaan sesuai basik pendidikan yang aku pelajari semasa kuliah,” harap Heni sambil tersenyum.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu mengungkapkan, dengan bekerja, selain ingin mendapatkan penghasilan dirinya juga ingin mendapatkan pengalaman. Setelah itu baru memikirkan cara mengembangkan usaha bapaknya.

“Karena sejak lulus kuliah pada April 2016 aku belum mendapatkan pekerjaan, jadi setiap hari aku membantu ayahku berjualan. Karena dengan cara inilah aku membalas budi dan membahagaiakan orang tua. Semoga beliau senantiasa diberi kesehatan dan kojek ayahku makin diminati dan jualannya makin laris,” harap Heni.

- advertisement -

Meski Fakum 4 Tahun, Maria Borong 5 Piala di Acara Lomba Fashion dan Pemilihan Putri Budaya

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Seorang perempuan mengenakan pakaian adat Bali tampak berjalan di panggung pada acara Lomba Tari Kretek dan Pemilihan Putra Putri Budaya tingkat Jateng dan Daerah Istimewa Yogjakarta. Peserta terakhir dalam kegiatan yang diselenggarakan Sanggar Seni Puring Sari tersebut, yakni Maria Felicia Slamet Riyanto (12). Meski sebelumnya berhenti mengikuti lomba model selama empat tahun, dirinya berhasil memborong lima tropi.

Maria saat tampil dalam lomba tari di Taman Budaya Sosrokartono, Kudus 2017_4
Maria saat tampil dalam lomba tari di Taman Budaya Sosrokartono, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Maria, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya sebagai model. Dulu, dirinya pernah mengikuti lomba model saat masih kelas dua sekolah dasar (SD). Karena dilarang oleh ibunya, dia kemudian berhenti dalam mengikuti lomba.

Baca juga: Wafda Grogi Saat Tampil Bawakan Tari Kretek Saat Ikuti Tingkat Jateng dan DIY

“Dulu pernah dilarang ibu, jadi saya fakum cukup lama. Ini kembali ikut karena bulan lalu ditunjuk dari sekolah untuk lomba Tari Kretek, jadi saya sedikit memaksa agar dapat izin dari ibu. Baru sekitar satu bulan ini saya ikut belajar di Sanggar Seni Puring Sari,” jelas Maria usai lomba yang digelar di Taman Budaya Sosrokartono, Bae Kudus, Minggu (9/4/2017) siang.

Setelah ikut latihan kurang lebih satu bulan di Sanggar Seni Puring Sari, Maria ditawari untuk mengikuti Lomba Tari Kretek dan Pemilihan Putra Putri Budaya. Karena tertarik, dia menerima tawaran tersebut dan meminta izin kepada ibunya. Perjuangan untuk mendapat izin dari ibunya tak sia-sia, karena dirinya berhasil memenangi berbagai kategori lomba, dan memborong lima tropi.

“Saya sangat senang, sekian lama fakum, akhirnya bisa mendapat lima piala. Kemarin juara satu lomba Tari Kretek perorangan tingkat SMP, hari ini dapat piala lagi juara satu kategori Busana Adat Daerah, Kasual, Pesta dan juga menjadi Best of the Best,” ungkap siswi kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Masehi Kudus itu.

Sementara itu Supriyadi Santoso (58), panitia penyelenggara acara tersebut mengungkapkan, acara diselenggarakan selama dua hari, mulai tanggal 8 April 2017 hingga tanggal 9 April 2017. Hari pertama diselenggarakan lomba Tari Kretek tingkat SD, SMP, SMA dan Umum, dengan kategori regu dan perseorangan. Sedangkan hari kedua diselenggarakan lomba Fasion Show dengan pakaian busana Muslim atau hijab, pakaian adat daerah, pesta, dan kasual.

“Acara ini bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Jumlah peserta sekitar 71 orang, mulai TK, SD, SMP, SMA dan umum, dari Jogja, Semarang, Magelang, Pati dan Kudus. Jadi setelah mendapat nama-nama juara nanti kami kirim piagamnya untuk mendapat tanda tangan kepala dinas,” tambahnya.

- advertisement -

Usai Saksikan Pementasan LOS, Laila Semakin Yakin untuk Ikut Teater Tigakoma

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ratusan penonton tampak terbelah menjadi dua bagian di timur dan barat di dalam Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Di sebelah barat, terlihat dua orang wanita sedang berdiri hendak keluar usai menyaksikan pementasan dengan naskah berjudul “LOS”. Naskah karya Putu Wijaya tersebut dipentaskan Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK (Teater Tigakoma) dan disutradarai oleh Ahmad Saiful Anam.

Laila (kanan) usai menyaksikan pentas teater Tigakoma 2017_4
Laila (kanan) usai menyaksikan pentas teater Tigakoma. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu diantara dua wanita tersebut, yakni Lailatul Fitriani (19). Dia mengaku kagum dengan pementasan tersebut. Dia juga semakin yakin untuk ikut bergabung dengan Teater Tigakoma usai menyaksikan pementasannya. Menurutnya, di antara tiga pementasan Teater Tigakoma yang pernah dia saksiakan, pementasan kali ini adalah yang terbaik.

Baca juga: Teater Tigakoma UMK Pentaskan LOS, Karya Putu Wijaya

“Ini ketiga kalinya saya nonton pementasan Teater Tigakoma. Bagus semua, tetapi menurut saya kali ini yang paling bagus. Sebelumnya saya sudah pernah ikut latihan dengan mereka, tapi belum jadi anggota. Pementasannya bagus banget, jadi tambah yakin untuk ikut menjadi anggota,” terangnya kepada Seputarkudus.com usai pementasan, Rabu (5/4/2017) malam.

Laila begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, dirinya sudah pernah ikut teater sejak sekolah menengah pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam beberapa tahun berteater, dia belum pernah mengikuti pementasan. Dan tahun ini dirinya berencana untuk bergabung menjadi anggota resmi teater Tiga Koma.

“Dulu di SMP ikut teater, di SMA juga ikut. Tapi saya belum pernah ikut pentas. Kalau dapat peran dan ikut proses latihan sudah pernah, tapi gagal karena sakit waktu pementasan. Jadi ini kuliah pengen ikut teater lagi,” jelas anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Ahmad Saiful Anam (28), sutradara pementasan tersebut, menjelaskan, butuh proses selama empat bulan untuk mementaskan naskah tersebut. Dalam proses, dia juga melakukan pergantian pemain lebih dari 10 kali. Menurutnya, proses menjadi hal yang terpenting untuk sebuah pementasan.

“Dalam proses latihan kami memang banyak ganti-ganti pemain, karena banyak anggota baru juga. Kami belum puas meski secara keseluruhan sudah bagus. Kami masih terus belajar agar semakin baik dan berkembang,” tambah warga Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamat, Jepara itu.

- advertisement -

Wafda Grogi Saat Tampil Bawakan Tari Kretek Saat Ikuti Tingkat Jateng dan DIY

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Puluhan anak terlihat menari di atas panggung aula Taman Budaya Sostrokartono, Kudus. Gerakan mereka mengikuti irama musik gending Jawa yang dibunyikan melalui pengeras suara. Dengan berpakaian adat Kudus, anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) terlihat sangat fasih membawakan tari dalam Lomba Tari Kretek tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) tersebut.

Lomba Tari Kretek tingkat Jateng DIY di Taman Budaya Sosrokartono 2017_4
Lomba Tari Kretek tingkat Jateng DIY di Taman Budaya Sosrokartono. Foto: Imam Arwindra

Peserta yang mengikuti lomba tersebut di antaranya Aulia Wafda Khoirunisa (10), siswa SD IT Faidlurrahman Dawe, Kudus. Dia mengaku grogi saat tampil di depan ratusan orang yang hadir dalam loba Tari Kretek itu. “Tadi gerogi,” ungkapnya sambil tersenyum, usai lomba Sabtu (8/4/2017).

Wafda, sapaan akrabnya, menuturkan, dirinya tampil bersama enam temannya yang masih duduk di kelas tiga. Untuk persiapan lomba, dirinya hanya butuh waktu dua pekan. Menurutnya dia sudah terbiasa mengikuti lomba Tari Kretek. “Sudah biasa ikut (lomba Tari Kretek),” ungkapnya sambil menatap wajah ibunya.

Sri Mulyani (33), orang tua Wafda, menuturkan, anaknya memang sudah terbiasa menari sejak masuk SDIT Faidlurrahman Dawe. Bakat tersebut menurutnya terlihat, seiring mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Sebagai orang tua, Sri Mulyani mengaku harus mendukung bakat yang sudah melekat pada diri anaknya.

“Kalau saya inginnya itu tahfidz. Kan di sekolahnya juga ada (ekstrakulikuler). Tapi kalau suka menari, ya harus didukung,” ungkap Sri yang rumahnya dekat dengan Pasar Dawe.

Menurutnya, di SD IT Faidlurrahman Dawe, Tari Kretek sudah mulai diajarkan sejak kelas satu. Bahkan menurut di Taman Kanak-kanak (TK) Faidlurrahman juga sudah diperkenalkan. Dirinya optimistis, siswa SD IT Faidlurrahman yang mengikuti lomba kali ini akan mendapatkan juara. “Kalau tingkat Kecamatan Dawe pasti menang. Ini sudah ada delapan piala yang didapatkan,” jelasnya.

Sementara itu, pelaksana Lomba Tari Kretek tingkat Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Supriyadi (58) menuturkan, lomba kali ini diadakan Sanggar Seni Puring Sari. Menurutnya terdapat sekitar 80 peserta yang datang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan DIY. Dijelaskan, kategori yang dilombakan beregu  dan perseorangan.

“Peserta tentu dominasi dari Kudus. Luar Kudus ada dari Yogjakarta, Semarang, Blora, Pati, Wonosobo dan ada yang lainnya,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Supriyadi menjelaskan, dalam pelaksanaan lomba pihaknya membagi beberapa tingkatan yakni SD, SMP, SMA dan umum. “Ada juga peserta dari kampus. UMK (Universitas Muria Kudus), STAIN Kudus dan PGRI Semarang (UPGRIS),” tambahnya.

Menurutnya dalam satu regu terdapat lima sampai sembilan orang yang tampil menari Tari Kretek selama 10 menit. Untuk perseorangan menurutnya sama dengan beregu tampil sekaligus lima sampai sembilan orang. Namun penilaian yang dilakukan juri secara perseorangan.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini muncul bibit-bibit muda yang dapat menjaga tari kretek,” tutur Supriyadi, suami pencipta Tari Kretek, Endang Tonny.

- advertisement -

Teater Tigakoma UMK Pentaskan LOS, Karya Putu Wijaya

0

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Riuh suara sorak-sorak dan tepuk tangan penonton terdengar usai pementaan LOS di Auditorium Universitas Muria Kudis (UMK). Pementasan yang ditutup dengan seorang pria duduk disetrum itu, merupakan pentas produksi Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK (Teater Tigakoma) yang ke-12. Ahmad Saiful Anam (28), sutradara pementasan tersebut, memilih LOS untuk dipentaskan karena keunikan ceritanya.

Pentas Teater Tiga Koma Naskah LOS 2017_4_8
Pentas Teater Tigakoma Naskah LOS di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Anam begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang naskah yang disutradarainya itu. Menurutnya, keunikan naskah LOS karya Putu Wijaya ada pada pemeran utama yang hanya tidur. Selain itu dia juga merasa ada pesan moral yang penting untuk disampaikan kepada generasi muda.

“Kami memilih naskah ini karena unik, pemeran utamanya Bandot hanya duduk saja mulai awal hingga akhir. Tetapi di sisi lain ada pesan yang menurut saya penting untuk disampaikan, tentang semangat dan perlawanan Bandot yang tidak pernah mati. Karena tubuh bisa mati, tetapi secuil idealisme tidak pernah mati,” terangnya usai acara, Rabu (5/4/2017) malam.

Anam juga menjelaskan, Bandot adalah orang yang menentang sistem, sehingga dia dihukum mati. Meski dieksekusi puluhan kali Bandot masih belum mati, dan detak jantungnya masih berdebar. “Keberanian dan idealisme Bandot ini yang perlu di miliki pemuda saat ini. Agar kita tidak menjadi generasi yang inlander dan mudah terkontaminasi budaya asing,” jelas anak kedua dari lima bersaudara itu.

Naskah LOS menjadi naskah ke-4 yang pernah Anam sutradarai. Dia merasa haru melihat apresiasi penonton dan kekompakan timnya yang ikut menyukseskan pementasan. Dia berharap pementasan selanjutnya di Magelang pada tanggal 15 April 2017 juga berjalan lancar.

“Tadi kami mulai pementasan pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB, setelah itu kami lanjutkan dengan diskusi. Penonton yang hadir mungkin sekitar kulang lebih 300 orang. Semoga di Magelang juga berjalan dengan lancar, dan saya ucapkan terimakasih untuk Djarum Foundation Bakti Budaya,” tambahnya.

Asa Jatmiko, pegiat teater di Kudus yang hadir dan ikut berdiskusi menjelaskan, banyak nilai dan makna dari setiap pementasan yang bisa untuk diambil. Dia juga mengajak seluruh teater berlomba-lomba berkarya untuk membawa teater di Kudus khususnya menjadi lebih baik. “Banyak nilai dan makna yang bisa kita ambil dari setiap pementasan. Syukur-syukur kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap penggiat teater di Kudus itu.

- advertisement -

Bosan Memiliki Wajah Berjerawat, Sylvi Pakai Produk Mariane Skin Care, Hasilnya Bikin Wajah Mulus dan Cerah

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Seorang perempuan tampak sedang duduk di sofa ruangan lobi Mariane Skin Care yang berada di Jalan Mayor Kusmanto Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Sambil menunggu customer servise, perempuan yang memiliki rambut sepunggung tersebut asyik dengan smartphone-nya. Perempuan itu bernama Sylvi Arvianti (21), yang memakai produk Mariane Skin Care karena bosan memiliki wajah buruk karena dipenuhi jerawat.

Sylvi (kanan) melakukan perwatan di Mariane Skin Care Kudus
Sylvi (kanan) melakukan perwatan di Mariane Skin Care Kudus. Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Perempuan yang akrab disapa Sylvi itu sudi berbagi kesan tentang produk Mariane Skin Care. Dia mengungkapkan, sejak kelas X sekolah menengah atas (SMA) wajahnya dipenuhi jerawat, kusam dan susah diobati hingga membuat wajahnya menjadi buruk dan bikin minder. Namun atas saran seorang teman, dia berkonsultasi ke dokter Wida Mariane Indriyana, pemilik Mariane Skin care.

Baca juga: Lulus Kedokteran, Wida Buka Mariane Skin Care dan Punya Banyak Pelanggan Meski Tak Pernah Promo

“Saat kelas XI SMA aku memutuskan konsultasi ke dr Wida, dan katanya kulit wajahku mengalami peradangan akibat setiap ada jerawat aku pencet, jadi menular kemana-mana hingga wajaku penuh dengan jerawat. Dan atas saran dr Wida aku direkomendasikan untuk memakai produk Mariane Skin Care,” ungkap perempuan yang memiliki Instagram dengan nama akun sylviarvianti.

Warga Desa Panjang, Bae, Kudus itu mengatakan, sejak menggunakan produk dari Mariane Skin Care jerawatnya berangsur-angsur menghilang. Wajahnya juga tidak kusam, dan selalu selalu terlihat fresh meski beringat. Produk yang digunakan saat itu yakni obat jerawat, krim siang dan malam, serta sabun cuci muka.

“Dengan menggunakan produk Mariane Skin Care proses menghilangkan jerawat relatif singkat. Karena dalam masa dua bulan semua jerawatku hilang, wajahku juga lebih mulus dan cerah. Pokoknya hasilnya sangat memuaskan. Dan sejak itu semua perawatan kulit aku percayakan di Mariane Skin Care. Begitu juga dengan rambutku karena Mariane Skin Care juga melayani perawatan rambut. Hasilnya juga oke banget kok,” ungkapnya.

Karena puas dengan hasilnya, dia mengaku sering merekomendasikan saudara kerabat dan temannya yang ingin perawatan kulit dan rambut di Mariane Skin care. Saat ini juga dirinya sekalian mengantar ibunya untuk perawatan rambut. “Pokoknya semua perawatan dan produk dari Mariane Skin Care oke banget, hasilnya sangat memuaskan dan harganya juga sangat terjangkau,” ungkapnya.

Sementara itu, Wida Mariane Indriyana (37), dokter sekaligus pemilik Mariane Skin Care mengungkapkan, selain melayani perawatan kulit wajah di antaranya elektrik facial, totok wajah, peeling dan sebagainya, dia juga melayani perawatan tubuh dan spa, di antaranya peeling kaki dan tangan, waxing, ratus mis V spa, body whitening treatment dan lainnya. Dirinya juga menyediakan perawatan rambut dari gunting, catok, rebonding, dan lain sebagainya.

Selain perawatan, kata perempuan yang akrab disapa Wida itu menyatakan, Mariane Skin Care juga menyediakan produk untuk perawatan kulit di antaranya, krim pagi dan malam, milk cleanser, toner, facial wash, dan serum, yang dijual antara harga Rp 35 ribu sampai Rp 60 ribu. Selain harganya terjangkau juga sering mengadakan promo harga.

“Untuk promo harga bulan April Mariane Skin Care mengadakan promo diskon 20 persen untuk aneka perawatan peeling, dan maesoterapi. Mariane Skin Care buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai 19.00 WIB,” ungkap Wida yang memiliki akun Instagram dr.widamariane_dietcoach.

- advertisement -

Lulus Kedokteran, Wida Buka Mariane Skin Care dan Punya Banyak Pelanggan Meski Tak Pernah Promo

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di tepi barat Jalan Mayor Kusmanto Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus tampak bangunan berwarna merah jambu. Di dalam bangunan terlihat seorang perempuan sedang membayar ke kasir usai perawatan dan membeli produk. Tak berselang lama datang seorang perempuan berbaju putih memakai jilbab bicara kepada kasir. Perempuan tersebut yakni dokter Wida Mariane Indriyana (37), pemilik dari Mariane Skin Care.

Wida Mariane Indriyana, pemilik dari Mariane Skin Care
Wida Mariane Indriyana, pemilik dari Mariane Skin Care. Foto: Rabu Sipan

Seusai berbicara kepada karyawannya, perempuan yang akrab disapa Wida itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha klinik kecantikan miliknyaitu. Dia mengungkapkan, memulai buka Mariane Skin Care itu pada 2010.  Menurutnya, usahanya tersebut prospeknya bagus, karena banyak perempuan dari berbagai usia banyak melakukan perawatan demi mendapatkan kulit cantik dan sehat.

“Setiap perempuan itu pasti ingin terlihat cantik dan punya kulit sehat. Dan untuk mewujudkannya mereka pasti melakukan perawatan. Bahkan perawatan itu seolah sudah menjadi kewajiban untuk perempuan yang ingin cantik. Alasan itulah, seusai lulus kuliah kedokteran, aku ikut beberapa pelatihan, workshop estetika, seminar kecantikan dan lainnya,” ungkap perempuan yang saat ini kuliah S2 Magister Biomedik di Universitas Sultan Agung, Semarang.

Perempuan yang tinggal di Perumahan Graha Kencana itu mengatakan, selain banyak peminat dirinya juga ingin memberikan perawatan serta produk kecantikan yang benar-benar aman untuk para perempuan. Karena saat ini, banyak produk kecantikan yang mengandung bahan berbahaya sehingga tidak aman untuk kulit.

“Semua produk Mariane Skin Care terbuat dari bahan yang aman untuk kulit dan kesehatan. Perawatan di Mariane Skin Care juga sudah dilengkapi dengan mesin berteknologi terbaru yang akan membuat perawatan kulit makin aman dan hasilnya makin bagus dan maksimal,” ungkapnya sambil tersenyum.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, selama ini semua pelanggannya merasa puas dengan hasil perawatan serta pemakaian produk Mariane Skin Care. Menurutnya, dengan kualitas perawatan dan hasil nyata itulah cara Mariane Skin Care menggaet para pelanggan.

Selama ini, dia mengaku tidak pernah mengadakan demo perawatan atau semacamnya untuk menarik minat pelanggan. Biasanya pelanggan datang setelah diberitahu saudara maupun teman yang terlebih dulu perawatan atau menggunakan produk Mariane Skin Care dan merasa puas.

“Promosinya itu ya dari mulut ke mulut para pelanggan. Dan alhamdulillah setiap ada pelanggan baru yang melakukan perawatan di sini, biasanya mereka sudah tak ingin berpaling. Selanjutnya mereka mempercayakan perawatan kulitnya di Mariane Skin Care,” ujar Wida yang juga mengatakan saat ini Mariane Skin Care memiliki ribuan pelanggan.

Dia menjabarkan, Mariane Skin Care melayani perawatan kulit wajah dan tubuh, serta perawatan rambut. Selain itu juga menyediakan produk kecantikan. Dikatakannya, Mariane Skin Care tidak melayani pelanggan pria, dan hanya melayani jenis perawatan kulit dan rambut perempuan.

“Aku berharap usaha Mariane Skin Care milikku ini bisa makin dikenal serta makin berkembang. Dan ke depannya semoga bisa membuka cabang di beberapa daerah, agar mimpi para perempuan untuk mempunyai kulit cantik, sehat bisa terwujut,” harap Wida.

- advertisement -

Sejak Jadi Member Shopee, Penjualan Olshop Baju Anak Milik Sarly Meningkat Tajam

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Ratusan baju anak terlipat rapi di rak aluminium putih di ruang tamu rumah di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Di sana juga tampak dua orang perempuan sedang melipat sejumlah baju untuk dikemas. Mereka sedang menjalankan bisnis online shop (olshop) bernama Hunnybunny Kidswear. Penjualan mereka meningkat sejak jadi member Shopee.

Sarly (kiri), pemilik Hunnybunny Kidswear 2017_4_8
Sarly (kiri), pemilik Hunnybunny Kidswear. Foto: Rabu Sipan

Menurut Sarly Puji  Rahayu, pemilik Hunnybunny Kidswear, sejak menjadi member Shopee sejak Desember 2016, penjualan produk baju anak miliknya meningkat tajam. Kenaikannya hingga 100 persen dibanding sebelum menjadi member. Angka tersebut melebihi ekspektasinya.

“Dulu sebelum gabung di Shopee, saat ramai kami paling hanya mampu menjual sekitar lima hinga delapan pcs baju anak. Sekarang sejak ikut Shopee permintaan meningkat, sehari saat ramai bisa menjual aneka baju anak antara 10-20 pcs. Dan dalam sebulan terhitung aku bisa menjual sekitar 400 pcs,” ungkap perempuan yang akrab disapa Sarly kepada Seputarkudus.com, saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Perempuan asal Jepara dan bekerja di Derma Skin Care Kudus itu menuturkan, sebenarnya keuntungan menjadi member Shopee, pelanggannya bisa gratis ongkos kirim untuk transaksi dengan nilai maksimal Rp 30 ribu.

“Biasanya saat transaksi biaya pengiriman ditanggung pembeli. Nah di Shopee biaya pengiriman di bawah Rp 30 ribu bisa gratis. Otomatis para pelangganku itu makin suka, karena tidak harus mengeluarkan biaya tambahan,” ujar Sarly yang mengaku mengguanakan id.sherlytitasubayu untuk berjualan di Shopee.

Perempuan yang baru dikarunai satu anak itu mengatakan, usaha olshop yang dirinya tekuni sejak tahun 2015 itu sebenarnya sudah memiliki banyak pelanggan. Namun sejak ikut member Shopee pelanggannya makin bertambah banyak. Dia mengaku pelanggannya paling banyak  berada di Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Bali dan kota besar lainnya di Indonesia.

“Yang jelas pelangganku dari Kudus juga lumayan. Namun biasanya pelangganku itu dari beberapa kota besar di Indonesia. Karena mereka tahu aneka baju yang aku jual online itu merek terkenal sisa ekspor yang biasanya dijual di mal. Sedangkan aku menjualnya dengan harga sangat terjangkau dengan kualitas dan bahan sama,” ungkapnya yang sebulan terkahir dibantu seorang admin karena makin banyaknya transaksi.

Selain memeberikan harga sangat terjangkau untuk baju anak yang dijualnya, dia mengaku juga sering memberikan promo harga. Saat ini Hunnybunny Kidswear juga ada promo Rp 100 ribu tiga dan Rp 120 ribu tiga untuk baju tertentu.

“Aku berharap usaha Olshop sampinganku ini bisa makin berkembang. Dan semoga ke depan, selain menjual baju anak secara online, aku juga bisa memiliki semacam butik ataupun toko untuk memajang dan menjual semua daganganku dan kelak tokonya tersebut bisa jadi pusat grosir,” ungkapnya.

- advertisement -

Perawat Ini Jalankan Olshop Baju Anak, Sebulan Meraup Omzet Rp 18 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di ruang tamu rumah berlantai keramik di RT 1, RW 3 Gang 10 Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, tampak dua orang perempuan sedang mengemas pakaian untuk dikirim ke pemesan. Sesekali mereka melihat pesan yang masuk di smartphone. Satu di antara perempuan tersebut bernama Sarly Puji Rahayu (30), seorang perawat yang memiliki usaha online shop (olshop) baju anak-anak dengan nama Hunnybunny Kidswear.

Sarly bersama admin Hunnybunny Kidswear menunjukkan koleksi baju anak 2017_4
Sarly bersama admin Hunnybunny Kidswear menunjukkan koleksi baju anak. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengemas pakaian, perempuan yang akrab disapa Sarly itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, selain menjadi perawat di Derma Skin Care Kudus, sejak akhir 2015 dia punya usaha sampingan olshop menjual aneka pakaian anak-anak. Menurutnya, inspirasi usaha itu timbul, karena dirinya suka belanja pakaian untuk putrinya.

“Karena sering belanja itu, aku ditegur satu temanku, ngapain belanja terus, mending sekalian jualan di olshop. Jadi sekalian biar dapat untung juga. Saat pertama aku ragu, apa mungkin laku. Tapi temanku menyakinkan dan memberi trik berjualan online, hingga aku mantab menjual pakaian anak-anak secara online,” ujar perempuan yang baru dikaruniai satu putri itu.

Perempuan asal Jepara itu menuturkan, memilih menjual pakaian anak-anak karena lebih menguntungkan. Menurutnya, biasanya seorang ibu pasti lebih mementingkan kebutuhan anaknya daripada dirinya sendiri. Hal itu dialami Sarly sendiri, yang mengaku sering tidak tahan untuk tidak membelikan putrinya saat ada produk pakaian yang bagus dan lucu.

Dia mengungkapkan, menjual produk baju anak beraneka bentuk. Untuk produk kaus dia jual dengan harga Rp 45 ribu per pcs, dres mulai harga Rp 55 ribu per pcs, leging anak ditawarkan harga Rp 38 ribu, serta piyama anak dijual mulai harga Rp 58 ribu per pcs. Sedangkan celana jeans anak dibanderol mulai harga Rp 85 ribu dan celana pendek ditawarkan mulai harga Rp 55 ribu per pcs.

“Harga yang aku berikan itu sangat murah. Karena aneka baju anak yang aku jual di olshop itu merupakan pakaian branded sisa ekspor. Ada merek GAP, Oshkosh, Gymboree dan lain sebagainya. Selain baju anak perempuan, aku juga menyediakan pakaian anak pria, di antaranya kaus dan celana yang aku jual dengan harga sama dengan baju anak perempauan,” ungkap Sarly yang menawarkan aneka barang jualannya Instagram dengan akun hunnybunny_kidswear.

Dia mengatakan, usaha olshop tersebut sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya di Kudus melainkan hampir seluruh daerah di Jawa hingga luar Jawa. Menurutnya, dari penjualan aneka produk baju anak itu Sarly mampu meraup omzet sekitar Rp 18 juta sebulan.

“Aku bersyukur usaha sampinganku sudah mulai kelihatan hasilnya. Aku berharap Hunnybunny Kidswear makin dikenal dan semua produk yang aku jual makin diminati banyak orang dan makin laris,” harapnya.

- advertisement -