Beranda blog Halaman 1905

Pasarkan Produk Furniture dan Elektronik Lewat Bazar, Produk Podojoyonyo Group Laris Manis

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Sejumlah produk furnitur, elektronik dan handphone (HP) terlihat terpajang di sebuah tenda berukuran sekitar 12×4 meter. Produk ditata sesuai jenis dan mereknya. Produk itu merupakan usaha milik Wahyu Tahsi Wibowo (31), owner Podojoyonyo Group.

Podojoyony Furniture Kudus 2017_4_14
Podojoyony Furniture Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Wahyu begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan terkait bazar yang dibuat untuk penjualan produknya. Dia menjelaskan, kegiatan bazar dilakukannya untuk mendekatkan diri dengan pelanggan. Dengan melakukan hal seperti itu, katanya, produk dia akan mudah dilihat dan pembeli tidak akan merasa canggung walaupun hanya sekedar melihat-lihat.

Baca juga: Awalnya Ragu, Setelah Dapat Restu Ibunya, Wahyu Tetap Nekat Buka Usaha dan Kini Sukses

“Yang pertama, pastinya biar mudah dilihat orang banyak. Kalau di toko orang mau mampir kan serba malu, mungkin takut kalau tidak jadi beli juga. Dengan melakukan bazar seperti ini, pembeli mau mampir kan tidak akan malu lagi, pelayanan juga lebih ekstra dan tentunya mindset dari bazar terkenal lebih murah,” ungkap Wahyu waktu ditemui di Jalan Ronggo Lawe, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.

Dia mengatakan, mendirikan bazar di tempat yang tidak jauh dari komplek pertokoan Agus Salim sejak pertengahan bulan Maret 2017. Menurutnya, berkat adanya pemasaran itu, dia sekarang memiliki pelanggan hingga di eks Karesidenan Pati dan sekitarnya. Dalam sebulan, dia mengaku tak kurang dari 150 produk semua varian laku terjual. Baik dari furnitur, elektronik maupun dari handphone.

“Pelanggan saya menyeluruh wilayah Karesidenan Pati, tapi tetap yang paling dominan membeli dari Kudus, wilayah Demak juga banyak yang sering membeli ditempat saya. Ada yang membeli berupa springbad, sofa, kulkas, kasur busa, HP dan ada juga yang berupa mesin cuci. Untuk bazar, rencana selesai di bulan April,” unjar Wahyu warga Desa Gribig RT 4 RW 3, Kecamatan Gebog, Kudus.

Pria mengenakan kemeja panjang warna abu-abu lengan dilipat, menambahkan, bazar buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga 21.00 WIB. Keunggulan toko dia dibanding dengan tempat lain yang sejenis terletak pada pelayanan yang diberikan. Menurutnya, pihak dia memberikan pelayanan berupa jasa free ongkos kirim barang bagi setiap pembeli dengan catatan jarak tempuh rumah sejauh 10 kilometer.

“Misal pembeli ingin barangnya dikirim dulu, namun pembayaran dilakukan di rumah juga bisa. Bahkan kalau tidak jadi membeli sekalipun tidak masalah bagi saya, tapi biasanya kalau seperti itu malahan tetanggnya yang nanti akan membeli,” tambah Wahyu sambil sesekali harus melayani calon pembeli yang datang.

- advertisement -

Awalnya Iseng Unggah Gambar Pakaian di Facebook, Ana Kini Punya 20 Reseller

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEDINI – Puluhan pakaian masih terbungkus plastik tampak tersusun di ruang tamu rumah di gang 16 Desa Mendini, Kecamatan Undaan, Kudus. Di sampingnya terlihat seorang perempuan berjilbab dengan seorang anak usia lima tahun sedang mengemasi pakaian tersebut. Sesekali dia juga melihat dan membaca pesan yang ada di monitor laptopnya. Perempuan tersebut bernama Ana Nuryani Latifah (30), penjual baju dan jilbab.

Ana, penjual jilbab di Pasar Kalirejo, Undaan, Kudus
Ana, penjual jilbab di Pasar Kalirejo, Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mengasuh putranya, perempuan yang akrab disapa Ana itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha penjualan baju online tersebut. Dia mengungkapkan, berjualan pakaian secara online sejak akhir November 2016. Menurutnya, awal berjualan secara daring itu  tidak awalnya coba-coba.

Baca juga: Jenuh Ditinggal Suami Bekerja ke Korea, Ana Berjualan Jilbab Sambil Mengasuh Anak

“Awalnya aku membeli pakaian untuk diriku sendiri, lalu aku foto dan aku unggah ke Facebook lengkap dengan size serta harganya. Saat aku posting itulah banyak temanku yang ingin membelinya. Lalu aku pun bersemangat untuk posting pakaian lainnya. Saat itu seingatku, aku posting tiga pakaian dan di hari yang sama aku langsung mendapatkan order pembelian 20 pcs,” ungkapnya.

Warga Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, tiga pakaian yang di-posting, dibelinya di kios tetangga. Karena banyak peminat, dia mengaku berinisiatif untuk berbelanja pakaian ke pusat grosir di Pasar Kliwon. Menurutnya, dengan belanja sendiri dirinya bisa memilih bentuk dan keuntungan yang didapatkan pasti lebih besar.

Dia menuturkan, menyediakan pakaian pria dan wanita. Untuk produk rok dia jual antara harga Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per pcs. Celana pendek dan panjang Joger yang dijual antara Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per pcs dan celana jenas yang dijualnya mulai Rp 80 ribu sampai Rp 125 ribu per pcs.

“Aku juga menjual gamis yang aku tawarkan dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu per pcs. ada juga mini dres yang aku bandrol dengan harga Rp 35 ribu, serta ada kaus branded yang aku jual mulai harga Rp 70 ribu per pcs,” ungkapnya sambil sesekali membantu anaknya untuk membuka chanel youtube film kartun.

Perempuan yang baru dikaruniai satu anak itu mengatakan, dirinya juga menyediakan tas branded perempuan. Selain itu dia mengaku juga menyediakan aneka pakaian atasan pria branded dibanderol antara harga Rp 75 ribu sampai Rp 90 ribu per pcs. Sejak berjualan online sekitar lima bulan lalu, Ana sudah memiliki banyak pelanggan dan reseller.

“Terhitung sekarang aku itu mempunyai sekitar 20 reseller aktif. Dan setiap hari aku mampu menjual sekitar 40 pcs dari pakaian yang aku posting, sebulan kalau di rata-rata aku mampu menjual sekitar 1.000 pcs baju pria dan wanita,” ungkapnya.

“Aku bersyukur jualan baju secara online yang aku temukan karena tidak sengaja kini sudah mulai banyak pelanggan. Aku juga bisa menjaga amanah suami, karena selain miliki kegiatan yang menghasilkan  aku tetap bisa mengurus anaku. Ke depannya aku berharap usaha onlinku makin berkembang dan aku bisa memiliki web sendiri,” tambah Ana.

- advertisement -

Daniel Tenang Rayakan Paskah Dikawal Personel Polres Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Dua buah mobil Mitsubishi Lancer EX dan Mazda double cabin terlihat terparkir di halaman Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Rayon II Kudus, Jalan Diponegoro. Tampak keluar dari mobil, delapan anggota Polres Kudus bersenjata laras panjang dengan membawa seekor anjing jenis Belgian Malinois, perlengkapan metal detector, inspection mirror. Mereka adalah Satuan Samapta Bhayangkara (Sat Sabhara) Polres Kudus yang sedang melakukan sterilisasi gereja untuk ibadah rangkaian Paskah di Kudus.

Personel Polres Kudus melakukan penyisiran gereja di Kudus 2017_4_14
Personel Polres Kudus melakukan penyisiran gereja di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Polisi terlihat menyisir ke sudut-sudut ruangan hingga tempat-tempat yang terindikasi bahan peledak. Sambil melihat polisi sedang bertugas, jemaat gereja setempat, Daniel Hary (40) tampak sedang mempersiapkan kegiatan Paskah. Dia mengaku tenang dapat mengikuti perayaan Paskah yang dimulai Kamis Putih, kemarin. “Merasa tenang dengan adanya kegiatan sterilisasi,” tuturnya, Kamis (13/4/2017).

Daniel mengaku, setiap momen Paskah tempat ibadahnya sering didatangi polisi untuk diberi bantuan pengamanan. Dari mulai sebelum kegiatan hingga saat pelaksaan kegiatan, dia merasa khawatir jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dirinya mengucapkan terima kasih atas pengamanan yang diberikan Polres Kudus. “Jumlah  jemaat ada 1.000 lebih. Kegiatan dimulai Kamis Putih sore (13/4/2017) nanti 17.30 WIB hingga 21.00 WIB dan Jumat Agung jam 07.30 WIB sampai 09.00 WIB,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Unit (Kanit) Turjawali Sat Sabhara Polres Kudus Ipda Anton menuturkan, dirinya bersama tujuh orang anggotanya melakukan stelirisasi atau penyisiran menjelang peryaan Paskah di dua gereja, yakni GKMI Rayon II dan Gereja Katolik Santo Yohanes Evangelista. Menurutnya, kegiatan sterilisasi itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama benda mencurigakan bahkan bahan peledak.

“Nanti sore di sini (Gereja Katolik Santo Yohanes Evangelista) sudah ada Misa Kamis Putih satu pukul 17.00 WIB dan Misa Kamis dua pukul 20.00,” ungkapnya.

Dalam penyisiran yang dilakukannya tidak ditemukan benda-benda yang mencurigakan bahkan bahan peledak. Dia mengimbau kepada para jemaat saat perayaan Paskah agar tidak mengenakan perhiasan yang menyolok. Cukup mengenakan pakaian ala kadarnya. “Terutama untuk sekuriti dan jemaat untuk meningkatkan kewaspadaan,” tambahnya.

- advertisement -

Jenuh Ditinggal Suami Bekerja ke Korea, Ana Berjualan Jilbab Sambil Mengasuh Anak

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Di sebelah barat Pasar Kalirejo, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, tepatnya Kios Nomor 42 tampak seorang perempuan sedang merapikan dagangannya. Perempuan berbaju putih dan berjilbab itu sedang sibuk melipat dan menata puluhan jilbab yang akan dijualnya. Perempuan itu bernama Ana Nuryani Latifah (30). Dia berjualan, awalnya hanya ingin mengisi waktu luang.

Ana menata produk jilbab yang akan dia jual di kios Pasar Kalirejo
Ana menata produk jilbab yang akan dia jual di kios Pasar Kalirejo. Foto: Rabu Sipan

Sambil terus mengemas dagangannya, perempuan yang akrab disapa Ana itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya berjualan jilbab. Dia mengungkapkan, niat awal berjualan jilbab hanya untuk membuang kejenuhan, karena menjadi ibu rumah tangga. Menurutnya, saat anak semata wayangnya pergi ke sekolah dirinya merasa jenuh, karena tidak ada memiliki kegiatan.

“Selain itu, sudah dua tahun suamiku bekerja di Korea (Korea Selatan). Karena itulah setelah anaku pergi ke sekolah, aku tidak punya kegiatan dan merasa jenuh. Tapi suamiku melarangku kerja. Karena aku juga ingin punya kegiatan yang menghasilkan, lalu aku izin suamiku untuk berjualan,” ungkapnya.

Perempuan lulusan Sarjana Ekonomi Islam UIN Walisongo Semarang itu mengaku, suaminya mengizinkan dirinya berjualan dengan syarat, mengurus anak tetap prioritas utama. Setelah izin dari suami didapat, dia mulai berjualan di Pasar kalirejo. Kebetulan, mertuanya punya kios kosong tak terpakai.

Warga Desa Medini, Undaan, Kudus itu mengatakan, menjual produk jilbab di antaranya, jilbab pasmina yang dijual dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu per pcs. Jilbab syar’ i dijual mulai harga Rp 90 ribu sampai Rp 150 ribu. Dan jilbab Casablanka Omama serta Omama Platinum ditawarkan dengan harga antara Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per pcs.

Di kiosnya, dia juga menyediakan jilbab syiria yang dibanderol Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu. Jilbab serut pet antem dan jilbab lazer jeblok, dijual mulai Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu per pcs. “Selain jilbab dewasa aku juga menyediakan jilbab untuk anak-anak. Aku juga menjual jilbab untuk seragam sekolah,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, saat ramai dirinya mampu menjual jilbab sekitar 20 pcs sehari. Dan saat sepi, sehari hanya mampu menjual sekitar 10 pcs. Dia mengatakan, tidak menawarkan jilbab dagangannya melalui online. Namun, tak jarang dia menerima pesanan dari sahabat, kerabat dan lainnya dari media sosial.

- advertisement -

Di Single Terbarunya, Ibaratskata Beri Pesan untuk Para Jomblo Agar Tetap Bahagia

0

SEPUTARKUDUS.COM, SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Alunan musik Ska menggema di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) beberapa waktu lalu. Sejumlah penonton berjingkrak-jingkrak mengikuti irama terompet yang berpadu dengan alat musik lainnya. Seorang pria berkaca mata hitam melantunkan lagu single terbaru berjudul “Sendiri”. Dia tak lain Eko Listianto, vokalis Ibaratskata.

Ibaratskata saat tampil di Auditorium UMK, beberapa waktu lalu. Foto Ahmad Rosyidi
Ibaratskata saat tampil di Auditorium UMK, beberapa waktu lalu. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai tampil, Eko, begitudia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang lagu terbarunya tersebut. Lagu itu diciptakan oleh satu diantara delapan personel Ibaratskata yang terinspirasi dari kisah temannya yang masih jomblo.

“Lagu ini diciptakan personil ibaratskata, dia terinspirasi personel kami yang masih jomblo tetapi hidupnya bahagia. Kami juga berharap para jomblo yang mendengarkan lagu ‘Sendiri’ juga tetap bahagia,” ungkap warga Desa Garung Lor, Kaliwungu, Kudus itu, saat tampil di acara Authenticity, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, setiap lagu yang diciptakan Ibaratskata pasti akan mendapat evaluasi bersama. Setelah evaluasi, mereka melakukan aransemen dan kemudian proses recording. Eko mengatakan, dalam proses pembuatan lagu, antar personel harus saling melengkapi dan memberi masukan agar lagunya lebih variatif.

Dani Charis yang juga menjadi vokalis Ibaratskata, menceritakan, mereka mulai membuat mini album pada tahun 2009. Lagu pertama mereka berjudul “Lupakan Regina”. Dia menyebutkan, personel Ibaratskata ada delapan orang. Mereka antara lain Anom, pemain keyboard, Tora drum, Doni bass, Rudi gitar, Eko vocal satu, Dani vocal dua, Gilang Seksofon, Rian Trompet, dan saya manajer.

“Saat ini kami sudah memiliki sembilan lagu yang sudah recording. Rencana pada tahun 2017 ini akan meluncurkan album kedua. Kami juga pernah ikut Ska Kompilasi Indonesia,” jelas Dani sapaan akrabnya.

Dia juga menceritakan perjalanan Ibaratskata. Mereka besar dari komunitas musik hardcore di Kudus KDHC. Meski komunitas musik genre hardcore, KDHC memberi ruang untuk segala genre musik yang ingin bergabung. Menurut Dani, dari acara-acara komunitas itulah Ibaratskata mendapat ruang untuk berkembang hingga seperti saat ini.

Manajer IbaratSKAta Awaludin Jauhari menambahkan, mereka mulai banyak job sejak tahun 2010. Bahkan dalam waktu satu pekan bisa tiga kali manggung, dan tarif pada saat itu sekitar Rp 300 ribu. Hingga saat ini tarif Ibaratskata menyesuaikan acara dan lokasi. Mereka juga pernah sepi job, sekitar pertengahan tahun 2014 hingga berganti tahun 2015 baru mulai ramai job lagi.

Awang begitu Awaludin Jauhari akrab disapa, mengaku hanya latihan saat ada job manggung saja. Menjelang acara kurang sepekan atau dua pekan biasanya mereka baru mengagendakan untuk latihan.

- advertisement -

Wow, Realisasi Pajak Tembus 400 Persen dari Target, KPP Pratama Kudus Terbaik di Indonesia

0

SEPUTARKUDUS.COM, KLIWON – Letak lokasi layanannya berada di lantai tiga Blok A Pasar Kliwon Kudus. Di los berpintu rolling door warna putih itu, digunakan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kabupaten Kudus untuk pelayanan pajak bagi pedagang. Selain itu, KPP Pratama Kudus juga melakukan pelayanan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus, Jalan Niti Semito dan menggunakan fasilitas mobil tax unit untuk pelayanan di setiap kecamatan dan tempat umum.

Kepala KPP Pratama Kudus 2017_4
Kepala KPP Pratama Kudus Bernadette Ning Dijah Prananingrum. Foto: Imam Arwindra

Dari pelayanan yang diberikan KPP Pratama Kudus, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pendaftaran Ekstensifikasi dan Penilaian Kanwil Direktoral Jendral Pajak Jateng 1, Lidia Kuntjahjaningtyas, KPP Pratama Kudus mendapat predikat terbaik tingkat nasional. Predikat tersebut diberikan pada kategori realisasi penerimaan pajak. Menurutnya, realisasi penerimaan pajak di Kudus tahun 2016 mencapai 400 persen dari target yang ditentukan.

Baca juga: Sepi Pengunjung Kalangan Remaja, KPP Pratama Gelar Fashion Show di Pasar Kliwon

“Realisasi penerimaan pajak KPP Pratama Kudus tahun 2016 mencapai 400 persen lebih dari target yang direncanakan,” ungkapnya saat ditemui di kegiatan Tax Goes to School dan Business Development Service di Pasar Kliwon belum lama ini.

Menurutnya, pencapaian penerimaan pajak tersebut mengalahkan 341 kantor pajak yang ada di Indonesia. Hal tersebut dikatakan karena adanya dukungan progam Amnesti Pajak yang selesai pada 31 Maret 2017 lalu. “Responnya sangat baik. Wajib banyak memiliki niat untuk menjalankan kewajibannya,” tuturnya.

Kesadaran para wajib pajak di Kabupaten Kudus, dikatakan, perlu mendapatkan apresiasi. Karena dengan kesadaran membayar pajak oleh wajib pajak dapat mengantarkan KPP Pratama Kudus meraih predikat terbaik kategori realisasi penerimaan pajak.

Dalam pencapaian tersebut, Lidia mengatakan tidaklah mudah. Menurutnya, petugas KPP Pratama Kudus harus  membuka pelayanan khusus di Pasar Kliwon untuk menyasar pedagang yang berada di Pasar Kliwon. Selain membuka layanan di sana, petugas pajak juga sampai mengunjungi setiap los dan kios secara door to door.

“Temen-temen itu (petugas pajak) sampai melalukan door to door ke pedagang Pasar Kliwon. Mereka menemui mereka, menjelaskan sampai buka counter di sini (Pasar Kliwon) untuk menerima laporan, pertanyaan,” ceritanya.

Selain itu, katanya, KPP Pratama Kudus juga membimbing para pedagang untuk membuat ID E-Billing guna membayar pajak lewat ATM. Menurutnya meningkatnya wajib pajak di Kudus yang membayar pajak maupun pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) terlihat semakin banyak dibanding tahun sebelumnya.

Kepala KPP Pratama Kudus Bernadette Ning Dijah Prananingrum menuturkan kehadirannya di Pasar Kliwon memang membawa dampak positif. Menurutnya, banyak dari pedagang ambil peran dalam mengikuti Amnesti Pajak.

Dikatakan, terdapat 100 pedagang lebih yang mengikuti progam Amnesti Pajak. Nominal yang dicapainya mencapai Rp 200 juta lebih. Walau terbilang sedikit, namun dirinya bersyukur para pedagang di Pasar Kliwon sudah sadar akan membayar pajak.

Dalam penerimaan pajak tahun 2016, target yang diberikan KPP Pratama Kudus yakni sebesar Rp 1,7 triliun. Menurutnya, target tersebut sudah dapat dilaluinya. “Jumlah wajib pajak di Kudus ada 60 ribu lebih,” tambahnya.

- advertisement -

Selain Cepat dan Praktis, Layanan Mobil SIM Keliling Juga Bisa Digunakan Masyarakat Luar Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah orang tampak duduk di kursi tak jauh dari Mobil Isuzu ELF bernomor polisi IX-1602-43, saat berlangsungnya Car Free Day (CFD) di Simpang Tujuh Kudus, akhir pekan lalu. Mobil SIM Keliling warna putih bergaris biru dan merah itu digunakan Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Kudus untuk pelayanan perpanjang masa berlaku Surat Izin Mengemudi (SIM). Masyarakat tampak antusias menggunakan layanan tersebut, karena dinilai lebih cepat dan praktis.

Layanan Mobil SIM Keliling Kudus di CFD Alun-alun SImpang Tujuh 2017_4
Layanan Mobil SIM Keliling Kudus di CFD Alun-alun SImpang Tujuh. Foto: Imam Arwindra

Di antara yang memanfaatkan pelayanan mobil SIM keliling yakni Laila Suci Amalia (29) warga Desa Barongan, Kecamatan Kota. Menurutnya, adanya pelayanan mobil SIM keliling sangat membantunya dalam memperpanjang SIM A miliknya. Dirinya menuturkan, tanggal 17 Mei 2017 lusa SIM A yang dimilikinya masa berlakunya sudah habis. “Iya sangat membantu. Cepat dan praktis,” ungkapnya saat ditemui selepas perpanjang SIM A.

Baca juga:

Menurutnya, adanya pelayanan SIM Keliling saat car free day juga mempermudahnya dalam mengakses layanan. Menurutnya, selain hari Minggu dirinya harus bekerja di kantor. Dirinya berharap setiap Minggu di car free day ada pelayanan SIM yang dilakukan Polres Kudus. “Iya berharap setiap car free day ada pelayanan SIM. Karena pasti sangat membantu masyarakat yang libur kerja di hari Minggu,” tambahnya.

Bripka Susilo Operator Mobil SIM Keliling menuturkan, sejak pukul 06.00 WIB pihaknya sudah membuka pelayanan SIM keliling di kegiatan car free day Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Menurutnya, terdapat sejumlah 30 orang yang memanfaatkan layanan perpanjang SIM A maupun SIM C. “Disini sudah tersedia dokter dan pegawai bank untuk pembayaran,” tuturnya.

Menurutnya, selama hari Minggu saat car free day pihaknya akan memberikan pelayanan perpanjangan SIM A dan C. Bripka Susilo mengingatkan, untuk pelayanan selain perpanjang SIM A dan C masih harus dilakukan di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus. “Syarat perpanjangan SIM A dan C, foto kopi KTP dan SIM lama dibawa,” tambahnya.

Dia menjelaskan, mobil SIM Keliling juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luar Kabupaten Kudus. Menurutnya, sistem pelayanan mobil SIM keliling terkoneksi langsung dengan data yang ada di Korps Lalu Lintas Kepolisian RI (Korlantas Polri). Jadi masyarakat luar Kabupaten Kudus juga bisa melakukan perpanjangan SIM A dan SIM C di mobil SIM keliling Polres Kudus. “Harganya pun sama SIM A sebesar Rp 80 ribu dan SIM C Rp 75 ribu,” tambahnya.

Ke depan menurut Bripka Susilo pelayanan SIM juga akan dilakukan di setiap kecamatan di Kabupaten Kudus. Jadwal yang digunakan rencananya disamakan dengan bus Pelayanan Samsat Keliling. Diketahui, pelayanan Samsat Keliling di Kudus yakni Senin Kecamatan Jekulo, Selasa Kecamatan Gebog, Rabu Kecamatan Undaan, Kamis Kecamatan Dawe, Jumat Kecamatan Kaliwungu dan Sabtu Kecamatan Jati. “Jadi nanti pelayanan bersama-sama dengan mobil Samsat,” tuturnya.

- advertisement -

Arema Motor Purwosari, Terkenal Spesialis Modif Mesin Motor Sport dan Klasik

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Seorang pria berambut gondrong tampak sibuk memperbaiki mesin sepeda motor di bengkel yang berada di tepi Jalan Kudus-Jepara Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Di bengkel tersebut juga terlihat beberapa sepeda motor yang terparkir dengan kondisi mesin terbongkar. Bengkel tersebut bernama Bengkel Arema, yang terkenal dengan bengkel modif mesin sepeda motor.

Roni (kiri) memperbaiki motor tua di Arema Motor Purwosari 2017_4
Roni (kiri) memperbaiki motor tua di Arema Motor Purwosari. Foto: Rabu Sipan

Menurut Ahmad Zamroni (47), pria berambut gondrong pemilik Bengkel Arema mengungkapkan, sejak bengkelnya dia dirikan sembilan tahun lalu, Bengkel Arema memang lebih dikenal sebagai bengkel spesialisasi modif mesin sepeda motor. Menurutnya, dari dulu banyak pemilik sepeda motor yang minta tolong untuk memodifikasi mesin kendaraan roda duanya.

Baca juga: Sebagai Pengingat Awal Bertemu Pujaan Hati, Roni Namai Bengkelnya Arema Motor

“Pelanggan yang datang ke Bengkel Arema itu lumayan banyak. Bahkan pelanggan yang ingin memodifikasi mesin sepeda motornya tidak datang dari Kudus saja, melainkan daerah sekitar, di antaranya, Jepara, Demak dan Purwodadi,” ungkapnya.

Pria yang tercatat sebagai Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, Bengkel Arema menerima order aneka modifikasi mesin sepeda motor, di antaranya penambahan perseneling dengan biaya Rp 300 ribu. Ada juga modif pergantian piston yang dibebankan biaya mulai Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu, tergantung CC yang ingin dicapai.

Sedangkan untuk modif pengapian dia mengaku minta upah sebesar Rp 300 ribu. Dan untuk modif mesin keseluruhan dibebankan biaya Rp 3 juta. Tapi order modif mesin keseluruhan sangat jarang. Yang sering itu kata dia modif mesin dengan tarif harga sekitar Rp 500 ribu.

Menurutnya, harga tersebut hanya untuk tenaga saja. Sedangkan spare part tambahan yang perlu dipasang di mesin semua harus dibeli pemilik sepeda motor, karena tersedianya spare part tambahan  itu merupakan kunci suksesnya modif mesin. Dia mengaku memberikan garansi untuk semua modif mesinnya.

“Aku menggaransi mesin yang aku modifikasi dengan jangka waktu yang ditentukan. Saat terjadi kerusakan atau tidak kepuasan dalam masa waktu yang disepakati bersama, bawa lagi sepeda motor tersebut ke Bengkel Arema pasti aku perbaiki dan gratis,” ujarnya.

Dia mengatakan, bengkelnya tersebut juga menyediakan aneka onderdil sepeda motor, di antaranya sil yang dijual mulai harga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Oli mesin yang dibanderol antara Rp 28 ribu hingga Rp 55 ribu per botol. Menurutnya, spare part yang dirinya jual ada sekitar 500 item, di antaranya, lampu, busi, ban sok dan lain sebagainya.

“Aku menerima modif semua jenis sepeda motor, dari sepeda motor tua hingga sepeda motor terbarukan. Insyaallah dengan pengalamanku aku bisa memenuhi permintaan para pelanggan. Lihat saja aku juga siap memodif mesin sepeda motor tua,” ujar Roni sambil menunjuk sepeda motor jadul yang terparkir di Bengkel Arema.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengungkapkan, saat ramai dirinya bisa memodif mesin sepeda motor sekitar empat unit sepeda motor dalam sepekan, dengan kisaran harga tenaga modif Rp 500 ribu per unit.

“Itu saat ramai, tak jarang sepekan malah kurang dari empat unit, namun pengerjaannya lebih rumit dan ongkosnya juga lebih mahal. Aku juga masih mendapatkan keuntungan dari penjualan aneka spare part” ungkapnya.

- advertisement -

Tampilan Lebih Klasik dan Elegan, All New Honda Scoopy 2017 Hadir dengan Fitur Canggih

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Motor berwarna putih kombinasi hijau terlihat terpakir di diler resmi penjualan motor Honda Jaya Motor (JM) Kudus. Motor itu terpakir di ujung pintu masuk diler tanpa plat nomor. Motor yang memiliki kapasitas mesin 110cc tersebut yakni All New Honda Scoopy. Motor yang diproduksi tahun 2017 ini hadir dengan kelebihan fitur canggih.

All New Honda Scoopy 2017 di diler JM Honda Kudus 2017_4
All New Honda Scoopy 2017 di diler JM Honda Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Supervisor CV Jaya Kudus Asyrofi (35) sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang keunggulan All New Honda Scoopy. Dia menjelaskan, dibandingkan dengan motor keluaran sebelumnya, motor itu sekarang memiliki tampilan yang lebih elegan dan klasik. Menurut dia, banyak perubahan yang dilakukan, satu di antaranya pada bagian kunci terdapat fitur anti theft alarm with answer back system.

“Adanya fitur tersebut berguna untuk mencegah terjadinya pencurian pada motor. Selain itu, fitur juga berfungsi mempermudah pencarian posisi motor pada saat terparkir. Keunggulan lain, tersedia pula fitur idling stop system yang membuat motor lebih irit bahan bakar,” ungkap Asyrofi saat ditemui di di diler JM Kudus, Jalan Sunan Kudus nomor 100, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus.

Dia mengatakan, produk milik pabrikan motor asal Jepang itu sekarang terdapat fitur power charger yang bisa mengisi ulang smartphone dengan daya maksimal 12 watt. Selanjutnya, motor dibekali speedometer semi digital, ban tubelles, daya tampung bahan bakar sampai empat liter, bagasi semakin luas dan menggunakan lampu berteknologi light emitting diode (LED) projector.

“Untuk mengoptimalkan sistem pengereman, Honda Scoopy kini dilengkapi teknologi combi brake system (CBS). Sedangkan untuk rangka bodi motor, memakai tipe tulang punggung yang dijamin kokoh dan sangat kuat dalam menahan beban pengemudi,” ujar Asyrofi Warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Menambahkan, All New Honda Scoopy tersedia dalam tiga varian corak yang berbeda, yakni sporty, stylish, dan playful. Menurutnya, sporty cocok digunakan untuk tipe orang enerjik, yang terdiri dari tiga varian warna meliputi merah, hitam dan putih biru. Stylish didesain untuk berkendara santai yang terdiri dari tiga warna yakni cokelat, hitam dan putih.

“Sedangkan bagi orang yang bertipe ceria cocok menggunakan playful, yang memiliki warna krem dan putih hijau. Semua varian kami banderol dengan harga Rp 18,65 juta. Berhubung motor berjenis matik, jadi lebih simpel, praktis serta nyaman sewaktu dikendarai. Baik dikendarai untuk pria maupun wanita semua sangat cocok,” tambah Asyrofi.

- advertisement -

Sebagai Pengingat Awal Bertemu Pujaan Hati, Roni Namai Bengkelnya Arema Motor

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di tepi Jalan Kudus-Jepara Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah bengkel dengan pintu terbuka. Di Bengkel tersebut terlihat beberapa sepeda motor dengan kondisi mesin terbongkar. Tampak juga seorang pria berambut gondrong sedang memperbaiki mesin-mesin tersebut. Pria itu bernama Ahmad Zamroni (47), pemilik bengkel Arema Motor.

Ahmad Zamroni (kanan) pemilik Bengkel Arema Motor di Purwosari Kudus 2017_4
Ahmad Zamroni (kanan) pemilik Bengkel Arema Motor di Purwosari Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Roni itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang bengkelnya. Dia mengungkapkan mulai buka bengkel sepeda motor pada tahun 1998. Menurutnya, sebelum membuka bengkel dirinya bekerja di bengkel di Malang selama 20 tahun. Namun karena ada masalah di bengkelnya tersebut, dia pindah kerja menjadi leasing.

“Tapi aku kerja jadi leasing tidak lama karena pada tahun 1998 Indonesia terjadi krisis moneter. Karena itu aku kena PHK, dan pulang ke Kudus. Karena aku punya bekal pengalaman kerja di bengkel selama di Malang, lalu aku memutuskan buka usaha bengkel sepeda motor yang aku beri nama Arema,” ungkapnya.

Warga Purwosari, Kota, Kudus itu mengatakan, memilih nama Arema karena sejak di Malang dirinya suka dengan klub bola setempat. Selain itu sebagai pengingat awal bertemunya Roni dengan istrinya, saat berada di Malang. Sekaligus juga sebagai pengingat ilmu montir yang dia dapatkan untuk memperbaiki sepeda motor didapat dari kota penghasil apel itu.

Dia mengungkapkan, pertama buka bengkel di Kudus berada di Jalan Ganesha. Menurutnya, pada waktu itu pelanggannya lumayan banyak, karena saat itu jumlah bengkel masih sedikit, sehingga minim persaingan. Di Arema Motor, dia menerima servis dan perbaikan untuk segala macam kerusakan sepeda motor.

“Servis berat, servis ringat, bongkar mesin, semua aku layani. Dari bebek hingga motor sport semuanya aku layani. Aku juga menerima perbaikan aneka sepeda motor tua. Yang penting tidak Vespa ya, soalnya aku tidak menerima jasa servis Vespa,” ujar Roni.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu merinci, untuk servis ringan atau umum dirinya memberi tarif Rp 35 ribu. Harga tersebut dikatakan tidak termasuk harga oli. Untuk turun mesin standar dibebankan biaya sekitar Rp 150 ribu dan turun mesin berat dia mengaku minta imbalan harga Rp 200 ribu.

“Harga tersebut hanya untuk tenaga saja. Kalau saat perbaikan ada spare part yang harus diganti, biaya dibebankan kepada pelanggan. Untuk melengkapi, kami juga menyediakan aneka spare part sepeda motor agar mempercepat proses perbaikan serta agar pelanggan tidak ribet,” ungkap Roni yang mengaku dalam kurun sebulan ada sekitar 150 unit motor yang datang ke Arema Motor untuk diservis.

- advertisement -

Honda Beat, Motor yang Banyak Diminati Pelajar dan Tak Bikin Kantong Bolong

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sejumlah kendaraan roda dua tanpa plat nomor terlihat terpakir di sebuah diler resmi penjualan motor Honda, Jaya Motor (JM) Kudus, di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Di dalamnya, tampak beberapa karyawan sedang berbincang dengan pelanggan. Satu di antaranya, Asyrofi (35), Supervisor Jaya Motor Kudus.

Asyrofi (35) menunjukkan Honda Beat di diler Jaya Motor (JM) Kudus
Asyrofi (35) menunjukkan Honda Beat di diler Jaya Motor (JM) Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, produk motor yang paling banyak diminati pembeli dan banyak terjual di dilernya yakni Honda Beat. Dalam sebulan, tak kurang dari 170 unit motor tersebut terjual. Dia menjelaskan, faktor yang membuat motor berbodi ramping itu sangat diminati karena bermesin matik, yang nyaman dikendarai. Selain itu, harga yang ditawarkan cukup terjangkau.

“Penjualan paling banyak Honda Beat. Dari segi harga lebih terjangkau dan yang pasti nyaman dikendarai karena berjenis matik. Baik dikendarai pria serta wanita, kalangan tua, muda maupun remaja semua cocok. Tapi yang sering membeli, kebanyakan untuk anak sekolah,” ungkap Asyrofi sewaktu ditemui di diler yang bertempat di Jalan Sunan Kudus nomor 100.

Warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini mengatakan, motor yang dibekali mesin berkapasitas 110 cc itu terkenal lebih irit, bertenaga dan ramah lingkungan. Fitur canggih idling stop system pada kendaran, membuat konsumsi bahan bakar motor menjadi jauh lebih irit. “Per liter, jarak yang dapat ditempuh bisa sampai 63 kilometer,” ujarnya.

Dia memberitahukan, harga yang dia tawarkan bagi setiap pelanggan yang hendak membeli berbeda-beda, tergantug tipe Honda Beat yang dibeli. Misalnya, New Beat Esp CW dan New Beat Esp CBS dijual pada kisaran harga Rp 16 juta. Sedangkan untuk New Beat ESP Iss dijual lebih mahal, kisaran harga Rp 17 juta.

“Untuk varian warna ada banyak, ketiga motor tersebut masing-masing mempunyai warna yang berbeda, tinggal dipilih sesuai selera,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk meningkatkan penjualan motor berlambang sayap mengepak itu, dia melakukan berbagai langkah. Di antaranya, menggelar sebuah even, mengikuti pameran di berbagai tempat maupun mengadakan roadshow. Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk menjaring pelanggan yang lebih banyak.

“Pelanggan kami seluruh area Kudus, tak jarang juga ada yang dari Demak serta Jepara, tapi untuk penjualan kami tetap lebih fokus di wilayah Kudus,” tambah Asyrofi.

- advertisement -

Cukup dengan Rp 250 Ribu, Masyarakat Bisa Menjadi Agen Pos

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Dua truk bercat oranye nampak terparkir di depan halaman Kantor Pos Kudus Jalan Jendral Sudirman, pukul 07.30 WIB. Truk tersebut tampak posisi tertutup. Menurut Staf Pemasaran Kantor Pos Kudus Pujiono, truk tersebut sudah diisi paket barang. Dia mengatakan, selain melayani pengiriman barang, kantor Pos Kudus di juga melayani pengiriman pos surat, wesel, giro, ritel emas dan pembayaran tagihan masyarakat.

Masyarakat mengirim barang di Pos Kudus 2017_4
Masyarakat mengirim barang di Pos Kudus. Foto: Imam Arwindra

Pujiono melanjutkan, pelayanan yang disediakan PT Pos Indonesia (Persero), tidak hanya dilakukan di Kantor Pos pusat saja, melainkan bisa dilakukan di 50 agen yang tersebar di Kabupaten Kudus. Dia menuturkan, masyarakat juga bisa mengajukan usulan menjadi agen pos baru di Kudus. “Kami ada progam namanya Agen Pos. Masyarakat bisa membuka pelayanan pos di rumahnya. Nanti mereka bisa mendapat kentungan,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Syarat yang diperlukan untuk menjadi agen pos, katanya, yakni identitas diri, memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), mempunyai perlengkapan komputer atau cukup laptop, printer, alat timbang dan terpenting ada lokasi. Menurut Pujiono, setelah berkas diajukan di kantor Pos Kudus, akan dilakukan survei untuk mempertimbangkan kelayakan pengajuan. “Untuk pendaftaran cukup Rp 250 ribu,” jelasnya.

Dijelaskan, setiap agen pos dapat melakukan pelayanan di antaranya pengiriman barang, pos surat dan pembayaran tagihan masyarakat. Layanan pembayaran tagihan itu antara lain untuk PLN, PDAM, Speedy, kartu kredit, angsuran kredit dan tv kabel, dan lain sebagainya. Untuk biaya pengiriman barang maupun surat, sama seperti yang berada kantor Pos pusat. “Untuk agen belum bisa melakukan pelayanan Giro Pos dan Wesel,” tambahnya.

Dia menambahkan, untuk distribusi barang petugas Pos akan datang ke tiap-tiap agen untuk mengambil barang yang akan dikirim. Pihaknya sangat mempertimbangkan lokasi yang akan dijadikan agen Pos, terlebih tempat yang berada di sisi jalan. “Hal ini untuk distribusi barang supaya lebih mudah,” tuturnya.

Dia membeberkan, untuk bagi hasil dengan agen pos, pihaknya sudah mengaturnya. Di antaranya pengiriman paket pos biasa 3 persen, kilat khusus dan express sebesar 15 persen. Progam ini untuk mempermudah masyarakat dalam menggunakan jasa Pos Indonesia. “Di Kudus sudah ada 50 agen. Saya persilahkan masyarakat jika ingin menjadi agen pos,” tambahnya.

- advertisement -

Sepi Pengunjung Kalangan Remaja, KPP Pratama Gelar Fashion Show di Pasar Kliwon

0

SEPUTARKUDUS.COM, KLIWON – Panggung fashion show yang berada di parkir depan Pasar Kliwon Kudus tampak megah. Dihiasi ornamen putih dan lampu-lampu, memberikan kesan elegan pada kegiatan Tax Goes to School dan Business Development Service, Selasa (11/4/2017) itu. Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kabupaten Kudus tersebut, juga mensosialisasikan materi perpajakan, dengan peserta pelajar SMA.

KPP Pratama gelar Fashion Show di Pasar Kliwon Kudus 2017_4
KPP Pratama gelar Fashion Show di Pasar Kliwon Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Kepala KPP Pratama Kudus Bernadette Ning Dijah Prananingrum, kegiatan diselenggarakan guna mengajak para remaja di Kudus untuk berbelanja di Pasar Kliwon. Dia menceritakan, selama membuka loket pelayanan di lantai tiga Pasar Kliwon dirinya kerap dicurhati para pedagang pasar tentang sepinya kalangan remaja yang berbelanja di Pasar Kliwon.

Dari itulah dirinya tergerak untuk membuatkan kegiatan di pasar terbesar di Kudus, dengan peserta kalangan remaja. Akhirnya pihaknya memilih kegitan fashion show yang pesertanya yakni para remaja SMA. “Ini upaya kami supaya para remaja mau berbelanja di Pasar Kliwon,” ungkap Ning, di sela-sela kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, kata Ning, terdapat 14 peserta yang terbagi dalam dua kategori, yakni busana hijab tujuh orang dan kebaya tujuh orang. Nantinya peserta dinyatakan menang, selain mendapatkan piagam juga akan mendapatkan voucer belanja gratis di Pasar Kliwon. “Pakaian yang dikenakan peserta itu sponsor dari pedangan Pasar Kliwon,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan, dalam kegiatan itu para pedagang juga akan diajarkan bagaimana berjualan online. Menurutnya, dalam program Business Development Service akan ada narasumber pengusaha online dari Solo yang akan membimbing untuk mengembangkan omzet penjualan. Dengan adanya kegiatan yang diselenggarakan, dirinya bermaksud untuk memberi perhatian lebih para pedagang supaya omzetnya juga meningkat. “Jadi tidak hanya menarik pajak saja, melainkan juga perlu memperhatikan mereka,” tuturnya.

Ning, begitu dia akrab disapa, menuturkan, kegiatan yang dilakukan sebenarnya bentuk terima kasih KPP Pratama Kudus kepada pedagang di Pasar Kliwon karena keikutsertaan para pedagang menyukseskan progam Tax Amnesty yang berakhir pada 31 Maret 2017 lalu. Menurutnya, 100 lebih pedagang di Pasar Kliwon mengikuti perogam Amnesty Pajak. Nilai uang yang disetorkan sekitar Rp 200 juta.

“Saat kami buka pelayanan di lantai tiga (Pasar Kliwon) ada bapak-bapak yang hanya punya satu los. Dirinya ingin sekali ikut Tax Amnesty,” jelasnya. Menurutnya, selain membuka pelayanan Amnesty Pajak dirinya juga melayani pembuatan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).

 

- advertisement -

Awalnya Ragu, Setelah Dapat Restu Ibunya, Wahyu Tetap Nekat Buka Usaha dan Kini Sukses

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi Jalan Ronggo Lawe, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sebuah tenda warna biru beratapkan terpal. Di dalamnya, tampak seorang pria mengenakan kemeja panjang lengan dilipat, sedang duduk sambil berbincang dengan karyawan. Pria itu yakni Wahyu Yahsi Wibowo (31), pemilik usaha Podojoyonyo Group yang menjual berbagai produk furnitur, elektronik maupun handphone.

Wahyu Yahsi Wibowo, pemilik usaha Podojoyonyo Group
Wahyu Yahsi Wibowo, pemilik usaha Podojoyonyo Group

Sembari menunggu calon pembeli datang, Wahyu, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang awal mula membuka usaha tersebut. Dia menceritakan, memulai usaha sudah berlangsung sekitar satu tahun, terhitung sejak bulan Mei 2016. Pada saat memutuskan diri untuk terjun didunia usaha. Awalnya dia sempat ragu tak dapat untung, tapi setelah mendapat restu dari ibunya dia nekat memulai usaha.

“Terus terang awalnya saya ragu membuka usaha furnitur ini. Namanya orang pasti takut kalau tidak mendapatkan untung. Angan-angan saya dulu malah ingin membuka usaha restoran, tapi berhubung orang tua tidak mendukung. Ibu saya menyuruh untuk membuka usaha furnitur saja, ya sudah akhirnya saya ikuti saja keingginan beliau,” ungkap Wahyu, anak pertama dari tiga bersaudara.

Warga Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengatakan, sebelum membuka usaha, dulu dia sempat menjadi karyawan bagian staf accounting Bigland di Semarang selama setengah tahun. Setelah itu, dia ikut menjadi penjual produk Bigland di kegiatan bazar sekitar enam tahun. “Berawal dari itu, saya banyak belajar tentang marketing dan cara demikian juga saya terapkan di usaha saya sekarang ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, modal awal merintis usaha berkisar Rp 300 juta, baik untuk membeli sejumlah produk maupun kebutuhan yang lainnya. Untuk omzet, dia mengaku tidak bisa memastikan. “Kadang bisa mencapai Rp 400 juta per bulan. Allhamduliah, semua berkat ridho dari orang tua, khususnya ibu,” tambah Wahyu yang sekarang dibantu oleh 13 karyawan sebagai penjualan.

Dia mengatakan, harga produk furnitur yang ditawarkan bagi setiap konsumen sangat terjangkau, baik dibayar tunai maupun kredit semua bisa dilakukan. Misalnya tunai, katanya, Spring Bigland 160 dia jual seharga Rp 1,25 juta dan untuk ukuran 180 x 200 sentimeter dia jual seharga Rp 1,5 juta. Televisi LED Samsung 32 inch dia jual seharga Rp 2,4 juta, Mesin cuci satu tabung seharga Rp 2,7 juta, sedangkan kursi jati Jokowi lengkap dengan meja dia jual senilai Rp 3,5 juta.

“Semua yang saya jual bergaransi, ada yang garansi satu tahun, ada yang garansi sampai 15 tahun, tergantung produk apa yang dibeli. Pembelian juga lebih mudah, cukup mengeluarkan uang Rp 200 ribu bisa bawa pulang berbagai furnitur maupun elektronik. Tapi kalau handphone, ada biaya administrasinya, sebesar Rp 100 ribu,” ungkap Wahyu yang mengaku menggandeng Federal International Finance (FIF) Spektra dan Kredit Plus sebagai pembayaran sistem kredit.

 

- advertisement -

Danar: Sejarah Kudus Sangat Lengkap, Tak Berlebihan Menyandang Gelar Museum Peradaban

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Layar putih 4×4 meter menampilkan visual dari proyektor pada acara Bioling (Bioskop Keliling) dan Diskusi Budaya, di Universitas Muria Kudus (UMK). Layar itu menampilkan film dokumentasi sosok pencari batu candi bernama Rabiman, dengan judul “Tangan-Tangan Terpilih”. Setelah pemutaran film, puluhan peserta yang hadir disuguhi video dokumentasi cagar budaya yang dibuat oleh Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank).

Pemutaran film Tangan-Tangan Terpilih di UMK 2017_4
Pemutaran film Tangan-Tangan Terpilih di UMK. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Kordinator Jenank Kudus Danar Ulil sudi berbagi penjelasan tentang video dokumentasi tersebut. Menurutnya, video itu sengaja dibuat untuk diputar dalam kegiatan bertema “Kudus Museum Peradaban” tersebut. Menurutnya, Kudus sangat relevan menyandang predikat tersebut, jika dilihat dari berbagai fase dalam masa-masa sejarah.

“Dokumentasi tersebut memperlihatkan beragam tempat sejarah dan cagar budaya yang ada di Kudus. Maka tak berlebihan jika Kudus mendapat predikat sebagai museum peradaban,” ungkapnya saat ditemui di tempat kegiatan Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (8/4/2017).

Danar menjelaskan, setiap fase dalam sejarah dibuktikan dengan adanya bangunan yang masih bisa dijumpai di Kota Kretek hingga sekarang. Fase masa itu dimulai dari masa purbakala. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil purbakala di daerah Desa Terban, Kecamatan Jekulo.

Selanjutnya, kata Danar, fase masa Hindu-Budda. Fase tersebut disimbolkan adanya Langgar Bubrah di Desa Demangan, Kecamatan Kota. Pada peninggalan sejarah tersebut dapat dijumpai Lingga dan Yoni. Sedangkan setelah itu, pada masa Islam terdapat peninggalan Raden Ja’far Shohdiq (Sunan Kudus) yakni Masjid dan Menara Kudus.

Sedangkan masa kolonial, terdapat parik gula Rendeng dan Stasiun Kudus. Masa Revolusi Kemerdekaan terdapat Tugu Komando Daerah Muria Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe dan terakhir pada masa kontemporer pasca kemerdekaan berdirilah Museum Kretek dan Gerbang Kudus Kota Kretek di perbatasan Kudus Demak. “Jadi sangat relevan jika Kudus disebut museum peradaban,” terangnya.

Sementara itu, dalam kegiatan yang diselenggarakan BEM UMK Kudus, menurut Presiden Mahasiswa Syafiq Bulloh Amin menuturkan, kegiatan yang dihgelar di lapangan basket UMK itu untuk meningkatkan perhatian serta kepedulian terhadap cagar budaya yang ada di Indonesia.

“Kami bekerja sama dengan Jenank, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Dinas Budaya dan Pariwisata Kudus (Disbudpar) dan Malam Museum Yogjakarta. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan generasi muda mampu merawat dan menjaga cagar budaya yang ada,” ungkapnya.

Dalam diskusi yang dilakukan di atas karpet biru mengundang sebagai narasumber Sutiyono, Kepala Seksi Sejarah dan Peninggalan Purbakala Disbudpar Kudus, sejarahwan Kudus Edy Supratno dan akademisi Nur Said.

- advertisement -