Beranda blog Halaman 1904

Ingin Dapat Produk Gratis, Fitri Ajak Putranya ke Acara Gerakan Tupperware Bawa Bekal

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di bangunan lantai dua di tepi Jalan Bhakti Nomor 89, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, sejumlah motor dan mobil terparkir di depan. Sejumlah wanita berkerumun menukarkan kupon dengan produk di kantor cabang Tupperware tersebut. Di panggung depan, tampak seorang wanita dan seorang anak sedang melihat produk. Wanita itu yakni Fitri Noor Rohmah (26), datang ke acara Gerakan Tupperware Bawa Bekal agar mendapat produk gratis.

Penukaran kupon produk Tupperware gratis di Kudus 2017-4
Penukaran kupon produk Tupperware gratis di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Fitri, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kesan terhadap Seputarkudus.com, tentang acara yang diselenggarakan Distributor PT Tiara Kinarya Sakti tersebut. Menurutnya, kegiatan itu sangat bermanfaat, karena dia menjadi tau manfaat membawa bekal bagi keluarganya. Nantinya, dia akan menggunakan Tupperware yang didapat untuk persediaan bekal makanan putranya.

“Anak saya kan susah makan kalau di rumah. Sukanya minta jalan-jalan, jadi waktu di jalan-jalan taman dia baru mau makan. Jadi selain acaranya sangat bermanfaat, Tupperware yang diberikan juga bermanfaat untuk tempat bekal makanan anak saya,” terang ibu yang dikaruniai satu anak tersebut, beberapa waktu lalu.

Fitri juga menerangkan, dalam kegiatan tersebut dia diajarkan cara memasak kue dengan produk Tupperware dan diberi penjelasan tentang pentingnya membawa bekal. “Saya suka mengoleksi produk Tupperware di rumah, kalau ada diskon biasanya saya beli,” ungkap warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus itu.

Syarif Ahmad Nur (29), panitia kegiatan, mengungkapkan, acara tersebut dilakukan serentak di 72 kantor distributor dan 60 Authorized Group Manager (AGM) diseluruh Indonesia. Dalam kegiatan serentak tersebut, Tupperware membagikan sebanyak 35.000 produk bawa bekal secara gratis.

“Kegiatan ini adalah puncak dari acara kampanye Tupperware bawa bekal, dalam rangka ulang tahun Tupperware Indonesia ke-26. Peserta akan mendapat produk senilai Rp 60 ribu, cukup mengisi absensi dengan identitas di KTP dan nomor HP aktif dan mengikuti acara selama dua jam,” jelas Manajer yang akrab disapa Syarif itu.

Acara yang di panitiai puluhan manajer Tupperware tersut dibagi menjadi dua sesi, pertama dimulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB dan dan kedua mulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Dalam kegiatan tersebut mereka menjelaskan tentang manfaat membawa bekal. “Selain hemat, tentu saja lebih higienis. Kami ingin mendorong masyarakat untuk hidup lebih sehat,” tambah pria asli Jepara itu.

- advertisement -

Hanya dengan Rp 1 Juta, Suzuki GSX-S 150, si Motor Garang Bisa Dibawa Pulang

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Satu unit kendaraan roda dua warna merah terlihat terpakir di sebuah pintu masuk diler Suzuki Kliwon Kudus, Di Jalan Jendral Sudirman 126, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Motor itu tampak masih terbungkus plastik tanpa plat nomor. Motor bergaya niked sport bike itu tak lain Suzuki GSX-S 150. Diler tersebut mengadakan promo, hanya dengan uang muka Rp 1 juta, konsumen sudah dapat membawa pulang motor motor sport garang tersebut.

Suzuki GSX-S 150 tahun 2017 di Diler Suzuki Kliwon Kudus _4_16
Suzuki GSX-S 150 tahun 2017 di Diler Suzuki Kliwon Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari sesekali mengangkat telpon dari calon pembeli, Hari Subagyo (46), Kepala Cabang Suzuki Kliwon Kudus, sudi berbagi penjelasan tentang promo tersebut kepada Seputarkudus.com. Dia menjelaskan, progam promo dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Promo itu berlaku mulai awal Maret hingga akhir mei 2017. Untuk kelengkapan, kata Hari, konsumen cukup menambahkan foto copy kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK).

“Harga on the road (OTR) Kudus sekitar Rp 24,9 juta, berhubung kami memberikan promo, pembeli cukup mengeluarkan DP Rp 1 juta sudah dapat memiliki motor sport garang tersebut. Pembeli juga akan kami berikan fasilitas pascapembelian berupa servis gratis selama empat kali dan penggantian oli. Lebih enak kan sekarang,” ungkap Hari.

Warga Desa Kupang, Kecamatan Ambarawa, Semarang, ini mengatakan, motor pabrikan asal Negeri Sakura ini memiliki sangat banyak keunggulan. Di antaranya, lampu sudah light emitting diode (LED), speedometer full digital, desain lebih menarik, mesin berkapasitas 150cc dan suspensi depan bertipe telescopic fork. Sedangkan untuk bagian belakang, disematkan suspensi bertipe monoshock.

“Dengan suspensi itu, motor dapat menahan dan meredam setiap guncangan sewaktu melintasi jalan yang bergeronjal maupun berlubang. Jadi, pengemudi akan merasakan kenyamanan pada saat berkendara. Motor juga sangat cocok untuk touring dan bermanuver, soalnya dibekali mesin yang tangguh dan tentunya memiliki berat yang lebih ringan dibanding kompetitor, yaitu 127 kilogram,” ujar Hari.

Hari menambahkan, untuk meningkatkan penjualan motor itu, dia melakukan berbagai langkah. Salah satunya, kata dia, tanggal 18 hingga 24 April yang akan datang  dia akan mengadakan touring. Menurutnya, kegiatan itu untuk mempercepat penetrasi sekaligus perkenalan Suzuki GSX-S 150.

“Kegiatan akan berlangsung selama tujuh hari, dalam kegiatan nanti akan ada test ride, fristail dan soul organ. Untuk touring, nanti hanya di wilayah Kudus saja, rencana akan diikuti oleh diler Suzuki bareng maupun Kliwon, konsumen GSX-S 150 beserta leasing. Terkait dengan penjualan, belum begitu signifikan, antara enam hingga delapan unit per bulan,” tambah Hari yang bergegas mengirimkan motor ke konsumen.

- advertisement -

Super Murah, Warung di Undaan Lor Ini Jual Mi Ayam Harga Rp 3500, Tiap Hari Selalu Diserbu Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi tampak beberapa sepeda motor memenuhi pelataran warung bakso. Di dalam warung tampak beberapa orang sedang asyik menikmati bakso serta mi ayam yang disajikan, sebagian lainnya menunggu hidangan. Terlihat seorang pria berkaus berkerah putih sedang sibuk menyiapkan mi ayam dan bakso yang dipesan pembeli. Pria tersebut bernama Turaekhan (41) penjual mi ayam dan bakso dengan harga sangat super murah.

Turaekhan bersama istri menyajikan mi dan bakso untuk pembeli 2017_4
Turaekhan bersama istri menyajikan mi dan bakso untuk pembeli. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, Turaekhan sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus tentang mi ayam yang dia jual. Dia mengungkapkan, mematok harga mi ayam itu hanya Rp 3500 seporsi. Menurutnya, harga tersebut sudah naik, dibanding saat pertama berjualan. Pada tahun 2008 saat mulai berjualan, dia hanya mematok harga Rp 2000 seporsi.

“Aku memang mematok harga mi ayam yang aku jual lebih murah dari lainnya. Hal tersebut aku lakukan karena aku ingin jualan mi ayamku itu laris. Meskipun murah dijamin rasanya enak dan tidak kalah dengan yang lainnya. Karena selain memberi harga miring, aku juga menjaga rasa dan bahan agar mi ayam jualanku diminati banyak orang,” ungkap Turaekhan, belum lama ini.

Siang itu kedai mi ayam dan bakso milik Turaekhan ramai pembeli. Bebarapa pengunjung terlihat sedang menyantap hidangan yang disajikan. Tak terkecuali empat ramaja putri berjilbab yang duduk di bangku deretan paling depan, mereka tampak asyik bersantap ria sambil ngobrol serta bercanda. Satu di antara remaja putri itu bernama Ruqi Faulida (16) yang berlangganan di kedia bakso dan mi Turaekhan karena harganya sangat murah.

Seusai menyantap habis hidangan yang dipesannya, perempuan yang akrab disapa Ruqi itu mengungkapkan, berlangganan di kedai mi dan bakso milik Turaekhan sudah sekitar lima tahun. Menurutnya, mi dan bakso yang dijual Turaekhan sangat murah namun rasanya juga tetap enak.

“Tidak terasa aku sudah berlangganan di kedai mi dan bakso di sini sudah berjalan lima tahun. aku pertama beli itu saat masih kelas tujuh MTS. Sejak saat itu setiap ingin makan bakso dan mi ayam pasti datang ke kedai mi dan bakso Pak Turaekhan. Karena cuma di sini yang harganya murah dan rasanya juga tetap enak,” ujar Ruqi siswi kelas XI MA Nahdlatul Muslimin Undaan Kidul.

Warga Dukuh Gatet, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus itu menuturkan, pertama tahu dengan warung mi dan bakso Turaekhan dari teman sekolahnya. Kata temannya tersebut di Desa Undaan Lor ada mi dan bakso yang harganya sangat murah yakni Rp 2 ribu dan Rp 3 ribu seporsi. Karena penasaran, dia serta teman lainnya pun datang ke kedai yang diceritakan temannya tersebut.

“Waktu itu harga mi ayam masih Rp 2 ribu seporsi dan Rp 3 ribu seporsi untuk bakso. Rasanya juga enak, mi ayamnya pakai daging ayam asli tidak dicampur jamur dan lainnya. Baksonya juga isi daging. Meski sekarang sudah naik Rp 1500 per porsi, menurutku harga di sini paling murah di antara kedai lainnya,” ungkap Ruqi yang di iringi anggukan tiga temannya.

- advertisement -

Pemilihan Ketua RT Ngembalrejo, Hana Senang Bisa Coblos Calon Pilihannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Sejumlah kursi tertata rapi di halaman samping rumah di RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, Minggu (16/4/2017). Terlihat pula tiga bilik dan satu kotak suara disediakan di tak jauh dari meja Panitia Pemungutan Suara Pemilihan Ketua RT. Panggung besar pun dibuat untuk penyampaian visi dan misi calon ketua RT periode 2017-2021.

Calon ketua RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul, Desa Ngembalrejo 2017_4
Calon ketua RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul, Desa Ngembalrejo. Foto: Imam Arwindra

Beberapa warga setempat tampak berbondong-bondong datang. Mereka berbaris untuk mengambil kertas suara yang disedikan petugas. Di antaranya Hana Fitria Rahmawati (21). Dia mengaku senang dapat dilibatkan dalam pemelihan ketua RT di desanya. Menurutnya, pemilihan RT secara langsung baru kali ini dilakukan. Sebelumnya pemilihan ketua RT masih hanya musyawarah.

“Ini saya sudah bisa memilih langsung ketua RT pilihan saya. Sebelumnya masih dengan musyawarah yang terkesan tertutup,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, saat ditemui usai mencoblos.

Dengan pemilihan ketua RT secara langsung, menurutnya sangat berdampak terhadap kondisi sosial yang ada di lingkungan RT-nya. Para calon ketua RT akan bersaing dengan performa terbaiknya. Nantinya setelah jadi tentu akan memberikan terbaik untuk warganya. “Selama kepengurusan organisasinya tidak monoton. Dan selalu akan memberikan yang terbaik,” tambahnya yang ternyata masih kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK).

Sementara itu, Ketua Pemilihan RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul, Desa Ngembalrejo, Hardiyanto (55) mengungkapkan, pemilihan ketua RT secara langsung di baru pertama kali diselenggarakan. Menurutnya, tahun-tahun sebelumnya pemilihan Ketua RT dilakukan secara musyawarah. “Saat masih menggunakan musyawarah hanya ada beberapa yang datang. Terus ditunjuklah sebagai ketua RT,” tuturnya.

Dalam kegiatan Pemilihan Ketua RT dijelaskan, terdapat tiga calon yang akan bersaing merebutkan kursi Ketua RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul, Desa Ngembalrejo periode 2017-2021. Yakni Maskuri (petahana), Noor Sa’di dan Fafa. Diakuinya, mereka maju karena diusulkan dari masyarakat bukan iktikad pribadi. “Ya sebenarnya cepat-cepatan pada tidak mau. Namun kalau sudah jadi mereka pasti bertanggungjawab,” tuturnya.

Selanjutnya, tiga calon tersebut akan merebutkan 130 pemilih dari 65 kepala keluarga. Waktu pemilihan dibuka dari pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB. Di Desa Ngembalrejo menurutnya ada dua RW yang sudah melakukan pemilihan kepimpinan secara langsung. Yakni RW 6 dan RW 4.

Saat masih menggunakan sistem musyawarah, katanya, pemilihan tidak kuorum. Selain itu juga terkesan eksklusif. Dampaknya, saat ketua RT menjabat, masyarakat terasa acuh tak acuh dalam mengikuti progam RT.

“Jumlah RW di Desa Ngembalrejo ada enam. RT-nya ada 41. Yang sudah melakukan pemilihan langsung RW 6 ada 7 RT dan RW 4 ada 8 RT. Namun yang ada sesi pemaparan visi-misi hanya disini saja (RT 3 RW 6 Dukuh Boto Kidul),” terangnya.

Dirinya berharap dengan adanya pemilihan langsung, masyarakat bisa belajar berdemokrasi dengan baik dimulai dari perangkat pemerintahan paling bawah. Selain itu juga dapat bersama-sama dalam menjaga kerukunan, keamanan dan kebersihan. “Apapun hasilnya nanti kita akan selalu bersama-sama,” tambahnya yang mengenakan kaos kerah putih.

- advertisement -

Fisca Tidak Pernah Share Link Berita Politik Karena Banyak Berita Bohong dan Provokatif

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah orang terlihat berfoto bersama menggunakan frame di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/4/2017). Tepat di depan panggung kegiatan Kudus Semarak Tanpa Hoax yang diadakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, masyarakat yang datang di Car Free Day (CFD) terlihat mengerumuni panggung utama. Mereka juga mendapatkan sejumlah stiker ukuran 5×4 sentimeter yang di antaranya bertuliskan ‘Berita Palsu Ojo Digugu’.

Pembagian stiker di acara Kudus Semarak Tanpa Hoax 2017_4
Pembagian stiker di acara Kudus Semarak Tanpa Hoax. Foto: Imam Arwindra

Fisca Septiyani (17), satu di antara yang mendapat stiker tersebut mengaku sangat mengapresisasi kegiatan tersebut. Dia yang datang bersama rekannya mengaku baru mengerti cara mencegah tersebarnya berita bohong. Menurutnya, selain harus membaca dulu isi berita sampai selesai, juga perlu membandingkan berita serupa di situs berita lain. Dirinya pun menuturkan punya cara tersendiri untuk mencegah pernyebarana berita hoax. Yakni tidak membagikan berita politik di akun media sosial miliknya.

 

“Saya tidak pernah share berita politik, karena pasti banyak hoax dan kebanyakan provikatif. Saya hanya share berita-berita tentang kuliner dan yang bermanfaat untuk orang lain,” jelasnya kepada Seputarkudus.com, kemarin.

Siswi Madrasah Aliyah (MA) NU Mu’allimat Kudus mengaku hanya mempunyai akun media sosial Facebook dan Instagram. Menurutnya, dengan memiliki sosial media yang sedikit juga bisa mengantisipasi tersebarnya berita palsu. “Intinya harus bijak dalam menggunakan media sosial,” tambahnya.

Ketua PWI Kudus Saiful Annas menuturkan, masyarakat hendaknya berhati-hati dalam membagikan berita melalui media sosial. Karena belum tentu berita yang beredar di benar adanya. Pengguna media sosial perlu mengkroscek dengan berita serupa di situs berita lain. “Tahun depan Kudus ada hajatan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Jadi hati-hati dan jangan buru-buru di-share,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.

Anas berharap, masyarakat bisa memahami berita mana yang layak dibagi dan yang tidak. Menurutnya, berita yang layak dibagikan yakni berita yang sudah diketahui kebenarannya dan bermanfaat bagi orang lain.

Dia memberikan tips untuk mencegah tersebarnya berita palsu. Masyarakat diminta membaca berita secara utuh, jangan hanya judulnya saja. Setelah itu, berita yang serupa dicek di situs lain. Jika belum ada, berita yang dimaksud belum bisa disimpulkan kebenarannya. Saat sudah yakin berita itu benar, masyarakat perlu juga menimbang dari segi kemanfaatan. “Yang penting yakin berita itu benar dan banyak situs berita serupa,” jelasnya.

Sementara itu Kapolres Kudus, AKBP Agusman Gurnin memberitahukan, penyebab informasi menyesatkan dan berita hoax dapat diancam pidana kurungan maksimal enam tahun maupun denda maksimal Rp 1 miliar. Dijelaskan, hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Dalam pasal ITE pasal 28 ayat 1 berbunyi setiap orang yang menyebarkan atau meneruskan berita bohong atau menyesatkan dapat dikenakan hukuman enam tahun atau denda Rp 1 miliar,” jelasnya.

Dia menghimbau, masyarakat Kabupaten Kudus lebih cerdas dalam menerima dan meneruskan berita dari siapa pun. Perlu juga dicek sumber berita dari mana setelah itu dinilai terdapat nada provokasi atau tidak. “Jika ada provokasi, tidak usah diteruskan atau bahkan hapus saja,” tuturnya.

- advertisement -

Ingin Tinggal di Kota dan Update Fashion, Misbah Betah Kerja di Distro Wannabe Believe Store

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Aneka pakaian pria terlihat tergantung sesuai jenis dan bentuknya dalam toko di tepi barat Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus. Di tempat pembayaran, tampak seorang pria memakai kemeja panjang sedang duduk menunggu pembeli. Pria tersebut bernama Muhammad Misbah (22), yang mantap pindah dari kerjaan lamanya dan memilih menjadi karyawan Distro Wannabe Believe Store karena ingin tinggal di kota.

Distro Wannabe Believe Store 2017_4
Distro Wannabe Believe Store. Foto: Rabu Sipan

Sembari menunggu pembeli datang, pria yang akrab disapa Misbah itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keinginannya tersebut. Dia mengungkapkan, bekerja di Distro Wannabe Believe Store sejak 2013. Namun sebelum bekerja di tempat tersebut, dia mengabdi pada kiainya dan mengelola seluruh usaha yang dimiliki.

“Aku ngabdi hanya setahun saja. Karena setelah itu aku ditawari kerja di Distro Wannabe Believe Store. Karena aku ingin tinggal di kota dan aku juga ingin tahu perkembangan dunia fashion pria kekinian, tawaran itu lalu aku terima,” ungkap Misbah yang mengaku tempat kerjanya terdahulu berada di Desa Jetis kapuan, Jati, Kudus.

Warga Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengaku betah kerja di Distro Wannabe Believe Store. Saking betahnya dirinya mengaku jarang pulang. Karena menurutnya, tinggal di Kota lebih asyik, tempatnya ramai. Pemilik Distro juga menganggapnya seperti saudara sendiri. Dari pekerjaannya tersebut, dia bisa belajar banyak tentang fashion kekinian dan belajar memasarkan pakaian.

“Berbeda dengan yang dulu, pekerjaan saya sekarang dituntut aktif. Karena jika bisa memasarkan produk lebih banyak, aku dapat bonus tambahan penghasilan dari gaji pokok. Jadinya aku semangat, penghasilannya juga sesuai,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, di Distro Wannabe Believe Store menyediakan aneka pakaian pria di antaranya, kaus oblong, kaus berkersah, kemeja dan lain sebagainya. Untuk produk kaus oblong dijual Rp 99 ribu hingga Rp 130 ribu, kaus berkerah dijual mulai harga Rp 140  ribu. Sedangkan kemeja pendek dan panjang yang dibanderol antara harga Rp 155 ribu sampai Rp 230 ribu, celana pendek dijual mulai Rp 185 ribu dan celana panjang dibanderol mulai Rp 240 ribu per pcs. “Semua barangnya original,” ungkapnya.

Dia mengatakan, selain menjual pakaian, di Distro Wannabe Believe Store juga menyediakan aneka perlengkapan pria lainnya, yakni jaket, switer, sandal, topi, dompet jam tangan. Menurutnya, setiap pembelian minimal Rp 500 ribu otomatis menjadi member Wannabe Believe Store.

“Menjadi member di Distro Wannabe Believe Store banyak keuntungannya lho. Setelah menjadi member, para pelanggan berhak potongan harga 10 persen, dan setiap ada promo diskon tertentu, mereka berhak potongan harga lebih besar, bisa sampai 30 persen,” ungkap Misbah yang juga mengatakan, Distro Wannabe Believe Store buka setiap hari.

- advertisement -

Sejak Kuliah Gemar Belanja, Lina Buka Butik Ega Fashion untuk Salurkan Hobinya

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Di tepi selatan Jalan Pramuka, Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah butik berwarna hijau dengan pintu kaca. Di dalam Butik Ega Fashion tersebut, terlihat seorang perempuan berjilbab warna coklat sedang sibuk mengarahkan dua karyawannya untuk merapikan beberapa pakaian. Perempuan itu bernama Lina Widiastuti (35), yang  membuka usaha butik karena suka fashion dan hobi shoping.

Produk pakaian di Butik Ega Fashion 2017_4
Produk pakaian di Butik Ega Fashion. Foto; Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya, tersebut perempuan yang akrab disapa Lina itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang hobi dan usahanya. Dia mengungkapkan, membuka butik sejak 10 tahun lalu. Menurutnya, inspirasi usahanya itu muncul karena sejak remaja dirinya menyukai fashion dan saat kuliah gemar shoping.

“Dari hobi itu, setelah lulus kuliah pada tahun 2006 dan pada tahun yang sama aku melangsungkan pernikahan. Setelah menikah aku membuka usaha butik. Jadi selain mendapatkan penghasilan lewat usaha, hobiku juga bisa tersalurkan. Memilih usaha yang baik kan yang sesuai hobi,” ungkapnya Lina sambil tersenyum, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang butiknya tak jauh dari tempat tinggalnya itu mengatakan, di butiknya tersebut menyediakan produk pakaian khusus perempuan. Di antaranya, gamis yang dijual antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per pcs dan jilbab dijual mulai harga Rp 35 ribu hingga Rp 60 ribu per pcs.

Selain pakaian, katanya, di Butik Ega Fashion juga menyediakan hot pants yang dijual dengan harga Rp 80 ribu per pcs. Untuk celana panjang, dia membanderol Rp 110 ribu per pcs, kaus perempuan dijual seharga Rp 50 ribu per pcs.

“Aku juga menyediakan tas, dompet, sepatu serta sandal serta aneka aksesoris. Di antaranya kaca mata, kalung, gelang, anting untuk aksesoris. Di Ega Fashion juga menyediakan parfum untuk pria dan wanita. Pokoknya di butiku semua ada dan lengkap, bahkan untuk pakaian dalam juga ada,” celetuk Lina.

Dia mengatakan sudah memiliki banyak pelanggan. Meskipun hanya menjual di butik saja, kata dia pelanggannya tidak hanya orang Kudus, melainkan ada yang datang dari Demak, Jepara dan Pati. Dia mengaku sejak pertama buka tidak pernah mengadakan diskon atau promo harga. Itu dilakukan karena dia tidak ingin memberikan imej pada pakaian yang dijual di Ega Fashion barang dengan kualitas jelek.

“Biasanya kan pakaian yang kualitasnya jelek yang didiskon, sedangkan semua produk pakaian, tas, sepatu, tas dan lainnya di Ega Fashion kualitasnya oke punya. Tidak ada diskon tapi saat ada pelanggan yang beli minimal tiga pcs aku beri potongan harga,” jelasnya.

Menurutnya tidak pernah ada diskon dan promo saja dalam sebulan tak kurang dari 100 pcs pakaian mampu terjual.  Dia juga mengaku tidak menjual aneka produk pakaian dan aneka aksesoris perempuan tersebut malalui online.

“Aku dulu pernah juga menjual secara online. Namun karena lakunya sering telat, soalnya pakaian yang aku uploud malah lebih dulu terjual di butik. Giliran ada pelanggan online minat dengan pakaian yang aku uploud, barangnya sudah laku. Daripada mengecewakan pelanggan, aku memutuskan untuk menjual di butik saja,” ungkapnya.

- advertisement -

Eriawan: Target Kami di Kudus, Satu Rumah Satu Produk Perkakas Krisbow

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI KULON – Sejumlah peralatan teknik, industri dan permesinan terlihat tertata rapi menghiasi ruangan toko berlantai tiga. Peralatan tersebut sebagian ada yang menempel pada dinding, ada pula yang berjajar di atas lantai. Tak berapa lama, seorang pria berkemeja panjang warna abu-abu turun dari tangga, kemudian berjalan menuju tempat kasir. Pria itu yakni Eriawan Budi Prasetyo (38), Store Manager PT Krisbow Indonesia Cabang Kudus.

Pelanggan membeli produk Krisbow Cabang Kudus 2017_4
Pelanggan membeli produk Krisbow Cabang Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Eriawan, begitu akrab disapa, mengatakan, toko perkakas Krisbow hadir di Kudus bertujuan agar semua orang kenal dan mempercayakan kebutuhan alat perkakas dari Krisbow. Menurutnya, produk Krisbow merupakan pilihan tepat untuk konsumen bagi dunia industri.

Baca juga: Toko di Jati Kulon Ini Diklaim Penjual Perkakas Terlengkap dan Berkualitas di Kudus

“Harapan terbesar kami, satu rumah satu kunci Krisbow. Artinya, semua orang itu tahu bahwa kami menjual berbagai alat perkakas Krisbow. Dengan harapan itu, minimal ke depan setiap rumah mempunyai satu produk Krisbow,” ungkap Eriawan waktu di temui di toko perkakas Krisbow, di Jalan AKBP R Agil Kusumadya nomor 32, Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, meski Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun penjualan produk Krisbow tidak kalah dengan kota besar. Hal itu terbukti, selama waktu satu tahun, setiap bulan target penjualan yang diberikan manajemen selalu bisa tercapai. “Di Kudus banyak terdapat pelaku industri, baik otomotif maupun perusahaan besar. Itu mungkin faktornya,” ujar Eriawan.

Warga Desa Mijen RT 2 RW 6, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, mengungkapkan, untuk memenuhi target, dia mengaku melakukan berbagai langkah pemasaran. Di antaranya, memberikan seminar ke sekolah otomotif tentang keunggulan yang dimiliki produk Krisbow, menyebarkan brosur, pemasaran lewat media online, memperkenalkan produk melalui sebuah acara seperti Car Free Day (CFD), ngabuburit serta bagi-bagi takjil secara gratis.

“Selain itu, setiap hari kami juga melakukan telemarketing kepada pelanggan yang sering membeli produk di tempat kami. Dengan cara, tim pemasaran sekaligus karyawan kami menghubungi dan menawarkan produk apa yang kami jual. Pelanggan kabanyakan dari area Kudus. Ada pelaku industri, pendidikan maupun instansi,” ungkap Eriawan.

Dia menambahkan, setiap hari Senin hingga Jumat, toko mulai buka pukul 8.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Khusus di hari Sabtu, toko buka tetap sama seperti hari biasa, namun tutup pada pukul 13.30 WIB. Menurutnya, selain melayani penjualan, toko juga melayani jasa perbaikan sejumlah alat perkakas, dengan catatan bermerek Krisbow.

“Asalkan produk bermerek Krisbow, dimanapun toko berada semua bisa dilayani, tidak hanya dari Kudus saja,” tambah Eriawan yang mengaku dibantu oleh 10 karyawan sebagai teknisi penjualan.

- advertisement -

Demi Sajikan Menu Fresh, Raja Iwak Bergeming Dikomplain Pembeli Karena Menunggu Lama

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN TENGAH – Di tepi sungai sebelah timur Desa Undaan Tengah Gang 13, Kecamatan Undaan, Kudus, tampak sebuah warung semi permanen. Di dalam warung tampak beberapa pelanggan duduk lesehan santai sambil menyantap aneka menu hidangan yang disajikan. Di dapur para pelayan sibuk menyediakan menu masakan yang dipesan pelanggan. Tempat tersebut yakni Rumah Makan Raja Iwak yang tetap mempetahankan cara penyajian masakan ikan segar, meski sering dikomplain pelanggan.

RM Raja Iwak yang menyajikan menu olahan ikan segar 2017_4
RM Raja Iwak yang menyajikan menu olahan ikan segar. Foto: Rabu Sipan

Alim Widiyastuti (38), pengelola Raja Iwak, mengungkapkan, semua aneka masakan yang disajikan di Raja Iwak diambil dikolam dan diolah saat ada pesanan dari pembeli. Karena alasan tersebut, proses memasak cukup menyita waktu sehingga penyajian menjadi lama. Tak jarang banyak pembeli komplain karena harus menunggu.

Baca juga: Penasaran dengan Rasa Menu Sayur Keong, Jumiah Datang ke Raja Iwak di Undaan Tengah

“Selain komplain, tak jarang juga beberapa pelanggan pergi sebelum menu yang mereka pesan dihidangkan. Saat para pelanggan komplain dan pergi, kami tidak bisa berbuat banyak karena kami memang mempertahankan cara penyajian ini. Kami ingin menu yang disajikan benar-benar fresh,” ujar perempuan yang akrab disapa Alim kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, rumah makan milik Kepala Desa Undaan Tengah itu menyajikan aneka olahan ikan segar, di antaranya, ikan nila, gurame, dan lain sebagainya. Untuk menu ikan nila kuah dijual seharga Rp 60 ribu per kilogram. Untuk nila bakar ditarif seharga Rp 55 ribu per kilogram, dan gurame bakar dan gurame kuah dijual Rp 68 ribu per kilogram.

Selain itu, kata dia, Raja Iwak juga menyediakan aneka olahan belut dan keong. Untuk menu belut pepes dijual seharga Rp 10 ribu per porsi, belut balado ditarif seharga Rp 25 ribu serta belut bakar, gorang dan krispi dijual seharga Rp 23 ribu seporsi. “Selain aneka menu ikan kami juga menyediakan masakan keong dengan harga Rp 8 rbu seporsi,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengungkapkan, olahan keong menjadi menu favorit yang banyak dipesan palanggan, selain aneka olahan belut. Menurutnya dua menu tersebut jarang ditemui di rumah makan lain.

Dia mengatakan, sejak buka empat tahun lalu, Raja Iwak sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan menurutnya yang datang tidak hanya dari Kudus, melainkan ada yang dari daerah sekitar Kudus. Saat hari Minggu dia mengaku mampu meraup omzet Rp 7 juta sehari. Sedangkan hari lainnya masih mampu mengantongi penghasilan kotor sekitar Rp 2 juta sehari.

“Raja Iwak buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB. Dan Untuk pelayanan pelanggan, kami ada tujuh orang untuk hari biasa dan 12 orang pelayan di hari Minggu yang saling berbagi tugas,” ujarnya.

- advertisement -

Toko di Jati Kulon Ini Diklaim Penjual Perkakas Terlengkap dan Berkualitas di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI KULON – Di tepi Jalan AKBP R Agil Kusumadya nomor 32, Desa Jati Kulon RT 2 RW 1, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sebuah ruko berdinding kaca. Di dalamnya, tampak sejumlah peralatan teknik, industri, dan permesinan tertata rapi menghiasai ruangan. Ruko tersebut yakni Toko Perkakas Krisbow, yang diklaim terlengkap dan berkualitas.

Eriawan Budi Prasetyo, Store Manager PT Krisbow Indonesia Cabang Kudus 2017_4
Eriawan Budi Prasetyo, Store Manager PT Krisbow Indonesia Cabang Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari sesekali melayani calon pembeli datang, Eriawan Budi Prasetyo (38), Store Manager PT Krisbow Indonesia Cabang Kudus, sudi berbagi penjelasan tentang toko tersebut. Eriawan begitu akrab disapa, menjelaskan, toko Krisbow hadir di Kudus sudah hampir berusia empat tahun, tepatnya sejak Juli 2013. Menurutnya, tujuan Krisbow membuka cabang di kabupaten terkecil di Jawa Tengah sebagai solusi terbaik bagi konsumen.

“Produk yang kami jual semua sudah memenuhi standar pasar, tentunya kuat, tangguh dan berkualitas. Kami hadir sebagai solusi terbaik untuk konsumen, yang pasti dengan harga terjangkau dan menawarkan kebutuhan alat perkakas terlengkap. Terhitung, lebih dari 10 ribu produk bermerek Krisbow yang kami jual,” ungkap Eriawan kepada Seputarkudus.com, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Mijen RT 2 RW 6, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini mengatakan, produk perkakas Krisbow tidak hanya dijual di Kudus, namun dijual di seluruh wilayah Indonesia. Khusus di area Jawa Tengah, katanya, hanya ada sekitar tujuh kota. “Di Jawa Tengah ada tujuh, yakni Semarang, Solo, Magelang, Cilacap, Purwokerto, Tegal dan Kudus,” ujarnya.

Dia memberitahukan, ada sebanyak 18 kategori produk Krisbow yang dia jual sebagai pemenuhan kebutuhan konsumen. Di antarannya, hand tool, electric tool, cleaning and hotel equipment, automotive equipment, generator dan lain sebagainya. Terkait dengan harga yang dia tawarkan berbeda-beda, tergantung produk yang hendak dibeli.

“Beda produk pasti beda harga, tidak bisa disamakan. Tapi untuk produk paling murah disini ada produk ear plug dengan harga Rp 4 ribu. Sedangkan produk paling mahal harganya bisa sampai tak terhingga, bahkan disini ada mesin genset seharga Rp 2 miliar berkapasitas satu mega volt ampere (MVA),” ungkap Eriawan yang mengaku sudah lima tahun bekerja di Krisbow.

Sementara itu, dia menambahkan, sejumlah produk yang dijual di toko, dia dapatkan  langsung dari distributor yang berada di Jakarta. Terkait dengan fasilitas paska pembelian, dia mengaku sebagian produk ada yang diberikan garansi, ada yang tidak. Menurutnya, garansi bisa berupa satu tahun, bisa enam bulan dan ada yang bergaransi selama tiga bulan. “Semua garansi kembali lagi tergantung produk apa yang dibeli oleh konsumen,” tambahnya.

- advertisement -

Penasaran dengan Rasa Menu Sayur Keong, Jumiah Datang ke Raja Iwak di Undaan Tengah

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN TENGAH – Beberapa mobil dan sepeda motor terparkir di tepi sungai samping Rumah Makan Raja Iwak di Desa Undaan Tengah Gang 13, Kecamatan Undaan, Kudus. Di satu sekat bilik rumah makan yang berada di antara sungai dan sawah itu tampak seorang perempuan berbaju merah sedang menyantap hidangan bersama keluarganya. Dia yakni Jumiah (35), yang mengaku datang pertama kali karena penasaran dengan menu olahan keong.

Menu olahan keong dan gurame bakar di RM Raja Iwak Undaan Tengah 2017_4
Menu olahan keong dan gurame bakar di RM Raja Iwak Undaan Tengah. Foto: Rabu Sipan

Seusai menyantap hidangan, Jumiah sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang rasa menu yang disajikan. Dia mengungkapkan, pertama tahu Raja Iwak dari media sosial. Namun yang membuatnya penasaran menu sayur keong. Karena menurutnya, masakan sayur keong saat ini sulit ditemukan, sehingga dirinya penasaran.

“Untuk mengobati rasa penasaran, tak lama setelah melihat posting-an tersebut aku lalu datang ke Rumah Makan Raja Iwak, dan memesan keong. Setelah mencicipi masakan keong yang disajikan menurutku rasanya enak, pas sesuai selera, dan pedasnya juga cocok. Selain itu menu lainnya juga enak kok, harganya juga sangat terjangkau,” katanya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus itu mengungkapkan, saat pertama datang dia hanya bersama suaminya. Setelah cocok dengan rasa dan harga yang yang ditawarkan, dia beberapa kali datang lagi dengan mengajak keluarga besarnya.

“Beberapa kali datang bersama keluarga besarku menu keong selalu tidak ketinggalan. Rasanya ke Rumah Makan Raja Iwak belum sempurna kalau belum mencicipi menu keongnya,” ujar Jumiah.

Tak jauh beda dengan Jumiah, Tono, pengunjung lainnya, mengaku sudah datang dua kali ke Raja Iwak. Awalnya juga penasaran dengan olahan keong yang disajikan. Namun bedanya, Tono tahu tentang Rumah Makan Raja Iwak dari beberapa temannya. Menurutnya, beberapa temannya memberitahu di Undaan Tengah ada rumah makan dengan menu keong yang rasanya enak.

“Pertama datang aku memang penasaran dengan olahan keongnya. Dan sejak mencicipi ternyata benar kata para temanku rasanya enak. Karena penasaran dengan menu lainnya, aku juga memesan Nila bakar dan aneka olahan belut, rasanya juga enak, ” ungkap Warga Desa Gondosari yang datang bersama istri dan dua anaknya.

Sementara itu, Pengelola Rumah Makan Raja Iwak, Alim Widiyaningsih (38), mengatakan, selain rasa yang enak pihaknya juga menawarkan dua pilihan tempat makan, bisa lesehan maupun duduk di kursi. Pengunjung bisa menikmati hidangan sambil menyaksikan pemandangan persawahan dan kolam ikan.

“Selain menjual aneka menu di rumah makan, kami juga menerima pesanan dan deliveri. Khusus wilayah Kecamatan Undaan akan kami antar, gratis,” jelasnya.

- advertisement -

Demi Bisa Buka Usaha Pembuatan Ornamen di Kudus, Mawan Nekat Cari Modal Hingga ke Negeri Jiran

1

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Di tepi barat Jalan Kudus – Purwodadi Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus tampak sebuah pekarangan yang dipenuhi puluhan aneka ornamen hiasan rumah. Dua orang terlihat sedang mencetak ornamen baru. Di sudut lain tampak seorang pria mengenakan celana jeans sedang mengikat aneka ornamen yang berada di mobil bak terbuka. Pria tersebut bernama Darmawan (32), yang demi bisa membuka usaha harys mencari modal hingga ke Malaysia.

Darmawan (paling kanan), pemilik UD Mulya Beton
Darmawan (paling kanan), pemilik UD Mulya Beton. Foto: Rabu Sipan

Seusai mengikat ornamen hiasan rumah, pria yang akrab disapa Mawan itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia beri nama UD Mulya Beton. Dia mengungkapkan, mulai buka usaha sejak tahun 2014. Menurutnya, sebelum membuka usaha sendiri, Mawan 10 tahun yang lalu kerja ikut tetangganya yang memiliki usaha serupa selama tiga tahun.

Baca juga: Daya Beli Tinggi, Alasan Mawan Rela Datang dari Ponorogo Produksi Ornamen Beton di Kudus

“Aku kerja ikut orang membuat aneka ornamen itu pada tahun 2007.  Tapi pada tahun 2010 aku memutuskan keluar, karena ingin memiliki usaha pembuatan ornamen sendiri. Namun karena tidak memiliki modal pada tahun yang sama aku nekat merantau ke Negeri Jiran selama empat tahun,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Pria asal Ponorogo, Jawa Timur, itu mengatakan, setelah empat tahun di negeri orang dirinya memutuskan pulang. Sampai di Indonesia dia mengaku tetap pada cita- citanya yakni membuka usaha pembuatan dan penjualan aneka ornamen rumah.

“Setelah hasil jerih payahku di Malaysia aku pergunakan menikah, sisianya aku buat untuk modal usaha, dan akupun mencari lokasi untuk memulai usaha. Dari sekian banyak lokasi yang aku survei, aku cocok buka usaha di Undaan, Kudus,” tuturnya.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, demi mewujudkan keinginannya itu dia mengaku menghabiskan modal sekitar Rp 50 juta. Menurutnya, uang tersebut dirinya gunakan untuk sewa tempat dan membeli perkakas yang dibutuhkan. Sedangkan untuk pemasaran, setiap Sabtu dan Minggu selalu keliling menawarkan aneka ornamen hasil karyanya kepada para masyarakat sekitar.

“Biasanya aku menwarkan ke toko bangunan serta masyarakat Kudus yang tiang rumahnya masih berupa cor beton. Dan aku bersyukur responnya bagus, setelah ada beberapa rumah yang dipasangi dengan ornamen, aku tidak perlu keliling lagi. Karena pemasaran lalu melalui mulut ke mulut para pelanggan,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, berkeliling menawarkan berbagai ornamen hasil karyanya hanya beberapa bulan saja, tidak sampai setahun. Para pelanggan juga sudah paham saat butuh berbagai ornamen hiasan rumah mereka biasanya datang langsung ke tempat UD Mulya beton.

“Aku bersyukur usaha yang menjadi cita-citaku sejak remaja kini sudah kelihatan hasilnya. Modalku sudah balik dan keuntungan meski sedikit-sedikit juga ada. Kini pelangganku juga tidak hanya orang Kudus saja, melainkan juga dari daerah tetangga,” ujarnya.

- advertisement -

Akan Ada Samsat Keliling di CFD Besok, Bisa Perpanjangan STNK Tanpa Antre Lama

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Bus berwarna cokelat tampak terparkir tepat di bawah jembatan penyebrangan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Bus tersebut terlihat dikerumuni warga datang di Car Free Day (CFD). Bus berplat merah dengan tulisan ‘Samsat Keliling Jawa Tengah’ tersebut digunakan untuk pelayanan pajak tahunan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Pelayanan Samsat Keliling di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus 2017_4
Pelayanan Samsat Keliling di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Bus itu dioperasikan oleh Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Kabupaten Kudus. Pelayanan Samsat keliling itu dilakukan untuk mempermudah masyarakat membayar pajak STNK. Menurut Muhammad Abdul Muntolib, masyakarat yang mencoba pelayanan perpanjang STNK, dirinya merasa terbantu.

“Saya memang biasanya berjaga di CFD. Kebetulan ada mobil Samsat Keliling, jadi saya ikut perpanjangan STNK. Saya sangat terbantu sekali,” tutur anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kudus itu, akhir pekan lalu.

Muntolib menuturkan, pajak tahunan kendaraan miliknya sebesar Rp 108 ribu. Dia membandingkan, tahun lalu dirinya membayar pajak di kantor Samsat Kudus Jalan Mejobo harus antre cukup lama hingga satu jam lebih. Namun di Samsat Keliling dirinya hanya butuh beberapa menit. “Kalau di kantor samsat bisa satu jam lebih. Kalau di sini hanya butuh waktu lima menit saja,” terangnya.

Sementara itu Purwadi, Kasir Samsat Keliling Kudus menuturkan, pelayanan ini baru dilaksanakan. Nanti, setiap Minggu akan membuka pelayanan serupa di CFD. “Ini baru di-launcing. Nanti setiap Minggu kami akan berikan layanan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pelayanan Samsat Keliling hanya untuk perpanjangan pajak tahunan kendaraan saja. Untuk pajak lima tahunan dan lainnya masih harus dilakukan di kantor Samsat Kudus. Purwadi meyakini, dengan adanya pelayanan Samsat Keliling masyarakat pasti akan antusias. “Selain lebih mudah dan efektif juga tidak perlu antre lama,” tambahnya.

Sejak pelayanan SIM Keliling dilakukan di kecamatan-kecamatan di Kudus, katanya, pada awal bulan terdapat sekitar 100 orang yang membayar pajak tahunan kendaraannya. Menurutnya, saat tanggal tua ada sekitar 50 an yang membayar melalui mobil Samsat Keliling. Dirinya memberitahukan, mobil Samsat Keliling juga melayani pembayaran pajak kendaraan tahunan dari luar Kabupaten Kudus. Namun dengan catatan masih berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. “Dari luar Kabupaten Kudus untuk perpanjangan STNK tahunan juga bisa. Asalakan masih Provinsi Jawa Tengah,” terangnya.

Purwadi menambahkan, selain di CFD hari Minggu, pihaknya juga melakukan pelayanan di Kecamatan-kecamatan se-kabupaten Kudus. Yakni  Senin di Kecamatan Jekulo, Selasa Kecamatan Gebog, Rabu di Kecamatan Undaan, Kamis di Kecamatan Dawe, Jumat di Kecamatan Kaliwungu dan Sabtu di Kecamatan Jati. Untuk Mejobo dan Kota bisa dilakukan di Kantor Samsat mengingat lokasinya yang cukup terjangkau.

- advertisement -

Thania Bersyukur Hidup Damai di Kudus dan Bisa Beribadah Paskah dengan Tenang

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Sejumlah pria mengenakan berbagai jenis seragam tampak bersiaga untuk mengamankan Gereja Santo Yohanes Evangelista di tepi Jalan Sunan Muria, Desa Barongan, Kota Kudus, Jumat (14/4/2017), sore. Ratusan orang terlihat mulai berdatangan untuk melaksanakan misa Jumat Agung. Aurynathania (17) adalah satu di antara jemaat yang datang untuk misa. Dia datang bersama kedua orang tuanya.

Misa Jumat Agung di Gereja St Yohanes Evangelista 2017_4
Misa Jumat Agung di Gereja St Yohanes Evangelista. Foto: Ahmad Rosyidi

Thania, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang perasaannya pada perayaan Paskah tahun ini. Dia mengatakan merasa bersyukur hidup di Kudus yang damai dengan toleransi antar umat beragama yang tinggi. Dia merasakan kedamaian, termasuk pada perayaan Paskah kali ini.

“Kudus itu aman, hidup di sini kami merasa damai. Meski saat ini isu perpecahan antar umat beragama cukup tinggi, tapi itu tidak terjadi di Kudus. Harapan saya masyarakat Bangsa ini bisa lebih toleran, menghormati dan menghargai sesama umat beragama. Kudus khususnya, bisa semakin toleran, semakin aman dan tentram, bisa bersama-sama menjaga keutuhan Bangsa,” ungkap warga Desa Wergu Kulon, Kota Kudus itu.

Tidak jauh dari tempat duduk Thania yang sedang menunggu giliran ibadat Jumat Agung ke-2, terlihat seorang pria mengenakan kaus merah sedang memberi arahan kepada rekannya. Dia adalah Dominikus Rohmad (43), koordinator tatatertib Tri Suci Paskah gereja setempat. Dia mengungkapkan, kegiatan ibadat berjalan dengan lancar. Kegiatan yang dimulai 13 April 2017 hingga tanggal 16 April 2017 itu mereka persiapkan selama empat bulan.

“Ini sudah menjadi agenda rutin setiap tahun, jadi kami sudah terbiasa. Semua berjalan dengan lancar. Untuk keamanan memang ketat, kami tidak khawatir, cuma kami tetap waspada. Bagi saya Kudus aman, saya juga yakin masyarakat Kudus toleransinya tinggi,” terang pria yang akrab disapa Dominikus itu.

Dominikus juga merinci kegiatan yang berlangsung selama empat hari dan melibatkan panitia kurang lebih sebanyak 65 orang tersebut. Hari Kamis, ada kegiatan Misa Kamis Putih yang dilakukan dua kali, pertama pukul 17.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB dan yang kedua dimulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB.

Pada hari kedua, katanya, ada misa Jumat Agung memperingati wafatnya Tuhan Yesus Kristus, pagi kemarin. Ada visualisasi kesengsaraan Tuhan Yesus Kristus mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, dilanjutkan misa Jumat Agung yang dilakukan dua kali, mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, dan pukul 17.30 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

“Sabtu ada Misa Malam Paskah, dilakukan dua kali, mulai pukul 17.30 WIB hingga pukul 20.00 WIB dan pukul 20.30 WIB hingga pukul 22.30 WIB. Dan terakhir, Minggu ada Misa Paskah Anak yang dimulai pukul 07.00 hingga selesai,” tambah pria yang sudah memiliki tiga anak itu.

- advertisement -

Orang Kudus Sering Berkata ‘Ibarate Ngene’, Maka Jadilah Nama Ibaratskata

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah pemuda duduk melingkar di luar ruangan Fariasi Studio Musik, Gang Abiyoso, Jati Wetan, Kudus. Mereka tampak asyik bercanda satu sama lain. Mereka tak lain adalah personel Ibaratskata, yang berkumpul setelah selesai latihan.

Grup musik beraliran SKA di Kudus, Ibaratskata 2017_4_14
Grup musik beraliran SKA di Kudus, Ibaratskata. Foto: Ahmad Rosyidi

Rian Adiel Mahendra, satu di antara personel Ibaratskata, sudi menceritakan asal-usul nama grup musiknya. Dia menjelaskan, Ibaratskata terbentuk pada 2008. Nama itu dipilih berawal dari kebiasaan masyarakay Kudus yang suka mengibaratkan saat menjelaskan sesuatu.

“Tidak ada arti tertentu nama Ibaratskata. Nama itu muncul saat orang Kudus suka menggunakan kalimat ibarate ngene, saaat menjelaskan sesuatu. Jadi muncul saja ide pemilihan nama ibarat kata. Karena genre kami juga Ska jadi kami tambahkan pada nama yang dipilih,” ungkap warga Garung, Kaliwungu, Kudus itu kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Rian menuturkan alasan dia bersama teman-temannya memilih genre Ska. Pada tahun 2007 hingga tahun 2008 musik Ska belum booming dan di Kudus belum ada pesaingnya. Menurutnya di Kudus pernah ada band Ska sekitar tahun 1998 hingga tahun 1999, kemudian meredup lagi. Dan sekarang sudah banyak band Ska di Kudus.

Personel lainnya, Doni Hermawan, menambahkan, Ibaratskata terbentuk berawal dari teman ngumpul di angkringan. Hanya teman mengobrol hal-hal tidak jelas, saling mengejek untuk menghilangkan setres. Karena jenuh dengan kehidupan masing-masing, kemudian mereka membentuk band untuk menambah kesibukan dan menghindari hal-hal negatif.

“Awalnya kami hanya teman ngumpul di angkringan, ngobrolin hal-hal yang tidak jelas. Karena jenuh dengan kehidupan, kami punya ide untuk membentuk band. Daripada kami melakukan hal-hal negatif, mending mencari kesibukan yang positif,” jelas warga Melati Lor, Kota, Kudus itu.

Doni mengatakan, awalnya mereka belum mahir bermain musik. Mereka bermain musik untuk iseng-iseng mengisi aktivitas, dan saat itu belum ada gambaran bisa serius seperti saat ini. Dia juga menjelaskan hingga saat ini Ibaratskata tidak memiliki logo resmi, setiap ada acara logonya kerab berubah-ubah.

“Kalau logo pertama gambar bulat seperti bola, malah jadi bahan tertawaan saat ngumpul,” ungkapnya sambil tertawa.

- advertisement -