Beranda blog Halaman 1903

Saking Senangnya dengan Seni Menghias Tangan, Elsa Tak Tanya Harga untuk Lukis Henna

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Seorang perempuan mengenakan sweater warna biru tampak duduk dan tangannya dilukis henna di tepi Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Perempuan yang datang ke acara Car Free Day bersama adiknya itu sesekali tersenyum melihat tangannya dihias. Perempuan tersebut bernama Elsa Lavita (17), yang mengaku sangat senang bisa memperindah tangannya.

Elsa (kiri) melukiskan tangannya di acara Car Free Day 2017_4
Elsa (kiri) melukiskan tangannya di acara Car Free Day. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Elsa begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, sebenarnya sudah sejak lama ingin memperindah tangannya dengan seni lukis henna. Namun karena statusnya masih pelajar dan sekolahnya melarang, terpaksa keinginannya tersebut dia urungkan.

Baca juga: Laili Impor Tinta dari India untuk Lukis Tangan para Pelanggannya

“Sebenarnya aku sudah lama ingin memperindah tanganku dengan henna, tapi sayangnya sekolah kami melarang. Karena tidak ingin melanggar peraturan sekolah keinginan itu aku tahan. Karena sekarang aku sudah ujian makanya aku berani memperindah tanganku dengan henna. Aku senang sekali keinginan untuk memperindah tanganku dengan henna bisa terwujud,” ungkapnya semringah.

Perempuan warga Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus itu mengungkapkan, saking senangnya lihat penyedia jasa melukis henna di Car Free Day, dirinya mengaku tidak menanyakan harga. Dirinya langsung memilih motif yang disediakan dalam katalog dan langsung minta kulit tangannya untuk dilukis.

“Aku tadinya jalan-jalan saja di acara Car Free Day bersama adikku. Saat lewat jalan sini aku melihat ada yang melukis henna. Lalu aku mampir saja dan langsung memilih motif di album. Saat aku temukan motif yang aku suka, tanpa bertanya harga aku langsung minta tanganku dilukis. Semoga saja tidak mahal,” ungkap Elsa yang mengaku memilih motif flower.

Menurut Laili Umil Khoiriyah ( 27) penyedia jasa lukis henna mengungkapkan, dirinya menyediakan ratusan pilihan motif henna dalam foto album. Dari motif Indonesia termasuk motif batik dan motif dari negara asalnya yakni India yang jumlahnya tidak sedikit. Dia mengaku setiap hari Minggu selalu menawarkan jasa lukis henna di acara Car Free Day.

Perempuan yang akrab disapa Laili itu mengatakan, selain di Car Free Day dirinya juga menawarkan jasanya lewat online. Selain menerima order lukis di Car Free Day dan rumahnya yang berada di Desa Demangan, Kota, Kudus, dia juga menerima panggilan.

“Untuk panggilan seluruh wilayah Kudus harus minimal tiga orang. Aku juga menerima pelatihan bagi siapa saja yang ingin bisa melukis henna,” ujar perempuan yang kesehariannya berprofesi menjadi guru tersebut.

- advertisement -

Laili Impor Tinta dari India untuk Lukis Tangan para Pelanggannya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Beberapa perempuan duduk bergerombol di tepi Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Kota, Kudus pada acara Car Free Day Minggu pagi lalu. Beralaskan tikar tampak seorang perempuan mengenakan kerudung kuning sedang melukis pada telapak tangan seorang anak perempuan. Perempuan berkerudung kuning tersebut bernama Laili Umil Khoiriyah (27), penyedia jasa pelukis henna.

Lukis tangan henna hasil karya Laili 2017_4
Lukis tangan henna hasil karya Laili. Foto: Rabu Sipan

Seusai melukis tangan pelanggannya, perempuan yang akrab disapa Laili itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha jasa henna. Dia mengungkapkan, mulai menerima order jasa lukis henna sejak tahun 2014. Namun kata dia, mulai menyukai henna semasa masih sekolah aliyah pada tahun 2008. Pada saat itu dia mengaku sering melukis tangannya sendiri dengan berbagai hiasan menggunakan bubuk semir rambut.

“Aku melukis henna menggunakan bubuk semir rambut lumayan lama. Hinnga pada tahun 2013 aku mendapatkan formulasi tinta henna yang diimpor lansung dari India. Sejak itu aku makin semangat belajar melukis henna dan cari referensi di Youtube,” ungkapnya.

Warga Desa Demangan, Kota, Kudus, itu mengungkapkan, belajar melukis henna dan secara otodidak lewat tutorial Youtube selam setahun. Pada tahun 2014 dia mengaku mulai berani buka order jasa melukis henna. Untuk mempromosikannya, Laili beberapa kali tak memungut biaya para tetangganya yang ingin dilukis tangannya.

“Sejak saat itu aku mulai dikenal banyak orang sebagai pelukis henna dan dari kabar dari mulut ke mulut order berdatangan. Selain itu aku juga aktif menawarkan jasa melukis henna melalui beberapa media sosial. Di antaranya Facebook dengan akun Laili Umil Khoiriyah dan Instagram dengan dengan akun lelyinaikudus,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, mematok harga mulai Rp 10 ribu untuk jasa lukis henna pada anak-anak. Sedangkan remaja hingga dewasa yang ingin menggunakan jasanya dibebankan biaya mulai Rp 15 ribu. Selain itu, dia juga menerima jasa lukis henna untuk acara pernikahan yang ditarifnya mulai Rp 100 ribu untuk motif simpel.

“Harga tersebut tergantung dari pemilihan motif para pelanggan. Karena motif henna itu ada macam pilihannya, bahkan hingga ratusan. Dan aku siap melayani apapun motif keinginan para pelanggan. Saat ini yang paling diminati itu motif flower, motif garis dan mandal atau lingkaran,” ujarnya.

Dia mengatakan, sebenarnya melukis henna itu kegiatan sambilan di sela rutinitasnya menjadi seorang guru. Karena kalau mempunyai sampingan yang berasal dari hobi itu akan sangat mengasikkan dan tidak terbebani. Dia mengungkapkan, dalam sebulan ada sekitar 10 orang untuk dilukis henna.

“Biasanya saat ramai order itu pas acara perpisahan sekolah, menjelang Ramadhan, dan menjelang Lebaran. Pada waktu itu sehari saja aku pelanggan sampai arti. Dan sehari aku mampu melukis henna 20 sampai 25 orang,” ujarnya.

- advertisement -

Pelanggan Terbanyak Indovision Cabang Kudus Justru dari Pati dan Jepara, Lho Kok Bisa?

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di tepi Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di komplek ruko Desa Tumpang Krasak nomor 8 dan 9, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat beberapa kendaraan terpakir menghiasi halaman ruko. Di dalamnya, tampak seorang pria berkaca mata sedang duduk sambil berbincang dengan tamu. Pria tersebut tak lain Deny Setiabudi (25), HRD PT MNC Sky Vision Tbk, cabang Kudus, yang melayani pemasangan televisi berbayar Indovision.

Pelanggan Indovision Kudus 2017_4
Pelanggan Indovision Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Deny begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan tentang pelanggan di Indovision tempat dia bekerja. Dia menjelaskan, dari sekian banyak konsumen yang berlangganan, paling dominan dari Pati dan Jepara. Sedangkan untuk area Kudus, masih sedikit konsumen yang mau berlangganan.

“Pelanggan kami kebanyakan dari Pati dan Jepara, khususnya di daerah pesisir maupun pegunungan. Kalau Kudus, masih kecil minat yang berlangganan Indovision. Berhubung kami menggunakan antena frekuensi ultra tinggi, tentunya sinyal yang didapatkan sangat jernih dan tahan cuaca buruk. Jadi tak perlu khawatir tidak ada sinyal, walaupun berada di tempat minim jaringan sekalipun,” ungkap Deny.

Warga Desa Pasuruan Lor RT 2 RW 1, Kecamatan Jati, Kudus, ini mengatakan, Indovision memberikan lebih dari seratus channel acara televisi yang bervariatif kepada pelanggan. Menurutnya, berbagai segmentasi ada di Indovision, mulai dari hiburan anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia semua ada.

“Di Indovision kami memberikan paket acara super lengkap sebagai penunjang hobi. Baik berupa acara telievisi seperti hiburan, infotainment, politik, bisnis, bioskop maupun olah raga dijamin pasti ada. Kami juga menyediakan channel televisi seperti beIN sport 1 hingga 3 yang menayangkan pertandingan bola liga Inggris, Spayol, Jerman maupun liga eropa lainnya. ,” ujar Deny

Dia memberitahukan, bagi konsumen yang hendak berlangganan dengan stasiun televisi terbesar dan terlama, pihaknya memberikan tiga paket reguler. Di antaranya, ada paket Indovision, Okevision dan Top televisi (TV). Khusus paket reguler Indovision, dia mengaku memberikan tiga pilihan bagi konsumen, yakni Venus, Galaxy dan Super Galaxy.

Untuk tarif pembayaran, Dia merinci, paket reguler Okevision terdiri dari 71 channel televisi dia banderol tarif senilai Rp 149,9 ribu per bulan dan Top TV tarif pembayarannya sebesar Rp 109,9 ribu per bulan yang terdiri dari 53 channel. Sedangkan untuk tiga pilihan dari paket reguler Indovision, Venus terdiri dari 77 channel dia berikan tarif senilai Rp 179,9 ribu per bulan. Untuk tarif pembayaran Galaxy terdiri dari 93 channel dia patok senilai Rp 209,9 ribu per bulan.

“Kalau Super Galaxy terdiri dari 100 channel dengan tarif pembayaran sebesar Rp 279,9 ribu per bulan. Misal ingin diskon, bayar langsung selama sembilan bulan kami berikan free bayar selama tiga bulan. Untuk pelanggan, terhitung kurang lebih setiap bulan ada sebanyak 80 orang yang ingin berlangganan,” tambah Deny yang mengaku tempat dia juga melayani jasa penambahan channel televisi.

- advertisement -

Sekarang Sudah Ada E-Tilang, Pelanggar Lalu Lintas Tak Perlu Sidang di Pengadilan

0

SEPUTARKUDUS.COM, POLRES – Isih masih menunggu Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang dibawa anggota Polisi Lalu Lintas di ruangan Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polisi Resor Polres Kudus. Bersama temannya Andrean (17), dirinya tampak menunggu di kursi tunggu berbahan kayu. Menurut Isih, sapaan akrab Muhammad Isih Lestari (17), dirinya baru saja ditilang di Jalan Jendral Ahmad Yani, tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Iptu Sucipto, menunjukkan E-Tilang Polres Kudus 2017_4
Iptu Sucipto, menunjukkan E-Tilang Polres Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, saat ditilang petugas Sat Lantas Polres Kudus, dirinya meminta untuk membayar denda pelanggaran menggunakan E-Tilang. Dia mengatakan, dengan menggunakan E-Tilang dirinya tidak perlu ke pengadilan untuk mengikuti persidangan. “Saya tadi ketilang di dekat Alun-alun karena tidak memiliki SIM. Namun ini sudah beres,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Baca juga: Selalu Gagal Saat Ujian SIM, Nazil Kesal Harus Antre 2 Jam Saat Sidang Tilang di Kejaksaan

Dia menjelaskan, dalam pembayaran denda pelanggaran berlalu lintas, dirinya sudah tahu kalau ada aplikasi E-Tillang. Menurutnya, aplikasi tersebut sangat membantunya untuk mengurus denda pelanggaran lalu lintas yang diperbuatnya. “Sistemnya lebih singkat dan cepat. Tidak usah menunggu persidangan,” ungkapnya yang masih sekolah di SMK.

Isih menceritakan, saat dirinya diminta menunjukkan kelengkapan surat berkendara, dirinya tidak memilik SIM. Akhirnya polisi yang menilangnya, mendaftarkan dirinya lewat aplikasi E-Tilang. Setelah itu dirinya diberikan lembar tilang warna biru untuk membayar sejumlah uang ke Bank BRI. “Baru STNK yang disita untuk barang bukti saya ambil,” jelasnya.

Menurutnya, saat belum ada E-Tilang dirinya harus menunggu beberapa hari menunggu jadwal persidangan di pengadilan. Saat di pengadilan, dia harus menunggu beberapa jam untuk menunggu namanya dipanggil oleh petugas. Saat ditanya habis berapa menggunakan sistem E-Tilang, Isih mengaku mengeluarkan uang sejumlah Rp 81 ribu untuk pembayaran pelanggaran SIM. “Iya saya tadi ke BRI habis Rp 81 ribu,” tambahnya.

Sementara itu, Kaur Bin Ops (KBO) Sat Lantas Polres Kudus Iptu Sucipto menuturkan, sistem E-Tilang menurutnya sudah diberlakukan di Kudus. Nantinya pelanggar lalu lintas yang menggunakan pembayaran denda lewat E-Tilang tidak perlu lagi datang ke pengadilan untuk mengikuti sidang. “Aplikasi E-Tilang datanya terpusat di Korlantas Polri (Korps Lalu Lintas Kepolisian RI),” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat yang melanggar nanti akan didaftarkan langsung petugas di lapangan. Setelah itu petugas akan memberikan nomor ID tilang yang sesuai dengan nomor ID lembar tilang warna biru beserta nomor rekening. Nantinya denda tilang yang harus dibayar yakni denda maksimal yang sudah ditetapkan oleh pengadilan. “Setiap pelanggaran beda-beda dendanya. Intinya pembayaran denda sudah ditentukan di pengadilan,” jelasnya.

Pembayaran dilakukan di bank BRI melalui e-banking, ATM, atau datang ke teller. Iptu Sucipto mengaku juga bisa mengecek pelanggar sudah membayar denda atau belum lewat smartphone miliknya. Jika bingkai notifikasi masih warna biru berarti pelanggar belum membayar. Namun jika sudah berubah warna hijau berarti pelanggar sudah membayar. “Setelah bukti pembayaran diberikan, barang bukti yang disita bisa langsung diambil,” tuturnya sambil menunjukkan smartphone miliknya.

Iptu Sucipto mengungkapkan, masyarakat tidak bisa memiliki aplikasi E-Tilang, begitu juga dengan anggota polisi pun tidak semua memiliki. Menurutnya, yang memiliki E-Tilang hanya Polisi Sat Lantas dan sudah terdaftar di Korlantas Polri. Harapan ke depan dengan adanya aplikasi E-Tilang dapat memudahkan masyarakat dalam mengurus denda. Terutama yang ingin cepat-cepat pergi ke luar kota. “Ini juga upaya mengantisipasi petugas melakukan pungli (pungutan liar),” tambahnya.

- advertisement -

Gadis Asal Lambangan Ini Ikuti Duta Wisata Karena Ingin Angkat Potensi Wisata di Undaan

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Deretan kursi di aula Taman Budaya Sostrokartono Kudus tampak dipenuhi peserta Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus tahun 2017. Di pakaian yang mereka kenakan, rnomor undian terlekat. Satu di antara peserta yang hadir, yakni Uzis Sena Saputri (18). Gadis asal Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, itu mengikuti acara itu karena ingin mengangkat potensi Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan.

Uzis Sena Saputri, peserta Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra
Uzis Sena Saputri, peserta Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

Mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) itu mengatakan,  Desa Wonosoco yang letaknya tak jauh dari desanya, memiliki sejumlah destinasi wisata yang meemsona. Dia menyebutkan, di sana ada mata air bernama Sendang Dewot dan beberapa gua yang masih masih “perawan”. “Tempatnya bagus. Ada sendang dan gua. Menurut saya itu potensi wisata yang perlu diangkat,” tuturnya usai mengikuti Technical Meeting, Senin (17/4/2017).

Sena, betitu dirinya disapa, mengaku sering berkunjung ke lokasi wisata Desa Wonosoco. Selain Sendang Dewot, katanya, terdapat tiga gua yang sudah lama ditemukan. Tiga gua itu yakni Gua Batu Cantik, Gua Keraton dan Gua Surodipo. Gua -gua itu dihiasi susunan stalaktit dan stalakmit. “Sekarang guanya sudah tidak terurus. Ini motivasi saya mengikuti Duta Wisata,” jelasnya.

Selain itu, motivasinya mengikuti tersebut juga didapat dari teman organisasi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Divisi Broadcasting UMK. Menurutnya, secara penuh teman-temannya mendukungnya untuk mengikuti Pemilihan Duta Wisata yang dilaksanakan satu tahun sekali tersebut. “Selain dapat pengalaman baru tentu juga dapat teman baru,” tambahnya yang masih duduk di semester dua Jurusan Manajemen UMK.

Satu peserta lainnya, Muhammad Deni Setiawan (19) mengaku mengikuti Pemilihan Duta Wisata Kudus untuk mendapat pengalaman baru. Selain itu dirinya juga bisa mendapat teman baru. Deni mengikuti acara itu karena termotivasi temannya saat menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). “Namanya Handita Timur Adilma, asalnya dari Pekalongan yang pernah menjadi Duta Wisata Jawa Tengah,” ungkapnya.

Dia yang satu kampus dengan Sena mengaku juga mendapatkan dukungan di UKM Jurnalistik Divisi Broadcasting UMK. Menurutnya, bersama Sena dirinya mewakili teman-teman yang berada di organisasi kampunya. “Kalau kelebihan saya publik speaking,” ungkapnya yang juga masih duduk semester dua Jurusan Manajemen UMK.

Sementara itu, panitia kegiatan Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017 Ahmad Solikhuddin mengungkapkan, pihaknya akan menyeleksi peserta sejumlah 55 peserta dari 63 pendaftar. “Yang datang hari ini otomatis nanti yang akan mengikuti seleksi selanjutnya yakni tes tertulis dan wawancara,” tuturnya.

Menurutnya dari pelaksanaan technical meeting peserta diberi bekal untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara yang meliputi penguasaan Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, pengetahuan umum dan kepariwisataan. Selanjutnya, juga diberi pemahaman tentang busana yang nantinya akan dikenakan disetiap kegiatan. “Dari jumlah peserta yang mengikuti technical meeting didominasi oleh kalangan mahasiswa,” tambahnya.

Dia menjelaskan, setelah technical meeting peserta akan melaksanakan tes tertulis pada Selasa (18/4/2017) dan tes wawancara hari Rabu (19/4/2017) di tempat yang sama. Hari ini (20/4/2017) peserta akan diajak observasi di Wisata Desa Loram Kulon dan Museum Kretek. Nantinya akan diambil 12 pasang peserta yang akan mengikuti grand final di pendapa Kabupaten Kudus.

“Untuk waktu grand final masih menunggu persetujuan dengan waktu Pak Bupati (Bupati Kudus). Nantinya untuk kirab waktunya tanggal 3 Mei 2017,” terangnya.

- advertisement -

Pria Ini Lukis Manusia Berkepala Ayam, Memegang Buku dan Menggenggam Obor, Apa Maknanya?

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Seorang pria bertopi terlihat menggoreskan cat menggunakan kuas di tembok, Jalan dr Ramelan, Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus. Dia menggambar manusia dengan tangan kiri memegang buku, dan tangan kanan menggenggam obor, tapi berkepala ayam. Dia adalah Muhammad Danang Suryono, pegiat mural yang tergabung dalam Komunitas Kudus Bergerak.

Danang Sukoco, anggota Komunitas Kudus Bergerak 2017_4
Danang Sukoco, anggota Komunitas Kudus Bergerak. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Danangsu tersebut sudi berbagi penjelasan. Dia mengungkapkan, gambar manusia berkepala ayam tersebut sudah mereka sepakati sebagai simbol dalam menyuarakan Muda Berdaya Bukan Diperdaya. Menurutnya, ayam jantan yang digambarkan, memiliki suara yang lantang, sedangkan obor menyimbolkan semangat dan keberanian. Mereka ingin menyuarakan sesuatu dengan lantang, lepas dan berani.

Baca juga: Komunitas Kudus Bergerak Serukan Muda Berdaya Melalui Goresan Cat di Tembok

“Kami membuat mural mulai pukul 16.00 WIB, kemungkinan selesai pukul 23.00 WIB. Sebelumnya gambar ayam menggunakan pengeras suara, tapi setelah kami diskusikan sepakat untuk diganti obor. Ayamnya juga membawa buku, dan ada tulisannya ‘Bukan Ternak’, melambangkan kebebasan,” ungkapnya, belum lama ini.

Selain ikut Kudus Bergerak, Danangsu juga ikut Kudus Street Art (KSA) sejak tahun 2012. Selain menyalurkan hobi, dia juga merasa bisa belajar dengan teman-teman di komunitasnya. Dia merasa mendapat ilmu dan pengalaman baru di setiap kegiatan yang mereka buat.

“Selain karena hobi, saya juga bisa belajar sama teman-teman. Seperti saat ini saya jadi mendapat sesuatu yang baru. Karena setiap membuat mural kami konsep terlebih dahulu agar memiliki pesan,” jelas warga Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

Novian Tri Wicaksono (23), Ketua Kudus Bergerak, menambahkan, sebelum membuat mural, dirinya melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan KSA. Karena dinding yang mereka gunakan sebagai media kegiatan tersebut sebelumnya sudah ada karya komunitas dari KSA. Setelah mendapat izin, baru kemudian medeka hapus dan diganti gambar.

“Kalau mau membuat kegiatan seperti ini kami izin dulu dengan komunitas yang sudah pernah membuat gambar di sini. Biar tidak ada salah paham nantinya, kami juga menghargai karya teman-teman KSA, jadi kami merasa perlu meminta izin untuk menutup gambar mereka,” terangnya.

- advertisement -

Tak Ingin Mengecewakan Pelanggan, Bowo Malah Menolak Banyaknya Order Modif Motor Custom Di Bengkel Bow Garage.

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Dua pria tampak sedang sibuk menggerinda di bengkel yang terletak di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Mereka sedang membuat kerangka motor tanpa mesin. Tak jauh dari aktivitas mereka, tampak dua unit sepeda motor custom yang telah jadi. Tempat tersebut merupakan bengkel motor khusus modif motor custom bernama Bow Garage. Saking banyaknya pesanan, pemilik bengkel tersebut sampai menolak order.

Bowo (kiri) sedang mengerjakan custom motor di bengkelnya 2017_3
Bowo (kiri) sedang mengerjakan custom motor di bengkelnya. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Trisaksono Herbowo (31), pemilik Bengkel Bow Garage, mengatakan, sejak didirikan setahun lalu, Bow Garage sudah memiliki banyak pelanggan dan sering kebanjiran pesanan. Namun, pesanan modifikasi bodi motor untuk dijadikan motor custom diakuinya dibatasi. Hal tersebut terpaksa dilakukan untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan agar tidak menunggu terlalu lama.

Baca juga: Bowo Menyesal Tak Lulus Kuliah Karena Asyik Touring, Kini Bangkit dan Buka Bengkel Motor Custom

“Dalam sebulan kalau diterima semua bisa sampai 10 unit motor, bahkan bisa lebih. Namun kami hanya menerima sekitar empat unit saja, karena kami tidak ingin mengecewakan pelanggan yang menunggu terlalu lama. Selain itu bengkel kami juga kurang luas jadi tidak bisa menampung semua motor milik pelanggan yang ingin dimodif,” ujar Bowo.

Pria warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu mengatakan, untuk pengerjaan satu unit motor custom bisa memerlukan waktu hingga dua bulan. Namun, pengerjaan tersebut juga tergantung permintaan pelanggan. Saat permintaan pelanggan tidak berubah-ubah, pengerjaannya bisa lebih cepat.

“Untuk pembentukan modif motor custom bentuk apapun pasti kami layani. Kendala kami itu hanya permintaan pelanggan yang selalu berubah dari permintaan awal. Ini yang membuat waktu pengerjaan lebih lama. Tapi demi kepuasan pelanggan, semua komplain dan permintaan yang berubah itu tetap kami layani,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, menerima pesanan modif motor custom di antaranya, rigid, jap style, brat style, cooper, scramble, bober, flat track, trail dan cafe racer. Dalam proses modifikasi motor custom, dirinya juga mengaku siap menerima pesanan aneka mesin dengan berbagai merek untuk dipasang di kerangka motor custom.

“Biasanya yang bawa mesin itu pelanggan, tapi jika pelanggan tak ada mesin dan ingin pesan mesin dengan merek tertentu kami sanggup mencarikan. Bahkan saat pelanggan datang ke Bengkel Bow Garage tidak bawa apa-apa, hanya bawa uang jadi dengan konsep model serta mesin yang diinginkan, kami siap layani dan membuatkan motor custom sesuai pesanan pelanggan tersebut,” ungkapnya.

Dia mengatakan, lebih senang saat ada order lebih dari satu secara bersamaan dalam sebulan. Menurutnya, dengan order bersamaan tersebut pengerjaannya juga bisa bersama dan selesainya kemungkinan juga bisa berbarengan. Untuk memaksimalkan pengerjaan dan agar tepat waktu sesuai permintaan pelanggan, Bowo yang bekerja bersama adiknya, bekerja siang malam.

Dia menuturkan, pada siang hari dirinya bersama adiknya mengerjakan rangka bodi, sedangkan saat malam dengan dibantu seorang mekanik, mereka merepair mesin. Hal tersebut harus dilakukannya agar pengerjaan motor custom di Bengkel Bow Garage bisa selesai tepat waktu. Dan hasilnya juga bisa memuaskan pelanggan.

- advertisement -

Komunitas Kudus Bergerak Serukan Muda Berdaya Melalui Goresan Cat di Tembok

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di  timur tepi Jalan dr Ramelan, Desa Panjunan, Kota Kudus, tampak sejumlah pemuda sedang membuat mural di tembok ruko. Beberapa di antaranya ada yang meracik cat, dan sebagian lainnya menggores cat di tembok menggunakan kuas. Mereka adalah anggota Komunitas Kudus Bergerak, yang sedang menyerukan pesan untuk para pemuda di Kudus.

Komunitas Kudus Bergerak melakukan aksi pembuatan Mural di Panjunan 2017_4
Komunitas Kudus Bergerak melakukan aksi pembuatan Mural di Panjunan. Foto: Ahmad Rosyidi

Novian Tri Wicaksono (23), satu di antara anggota komunitas tersebut, mengungkapkan, aksi moral tersebut dilakukan berawal dari keresahan mereka melihat kondisi pemuda saat ini. Pesan yang disampaikan melalui tulisan di tembok tersebut yakni “Muda Berdaya Bukan Diperdaya”. Menurutnya, pemuda memiliki energi yang besar, sangat disayangkan jika energinya hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif, atau bahkan negatif.

“Melalui mural ini kami berharap bisa memberi penyadaran dan pengaruh bagi pemuda untuk melakukan hal-hal yang positif, kreatif dan produktif,” ujar Payon, sapaan akrab Novian Tri Wicaksono, saat berlangsungnya kegiatan tersebut, belum lama ini.

Selain membuat mural di tembok, katanya, Kudus Bergerak juga membuat lagu berkolaborasi dengan band asal Semarang The Jaka Plus, untuk menyuarakan Muda Berdaya Bukan Diperdaya. Dan saat ini masih dalam proses pembuatan video klip. Payon mengaku, dalam proses pembuatan mural dan lagu, mereka mengumpulkan uang secara kolektif untuk kegiatan tersebut.

“Kami juga menggandeng band The Jaka Plus dari Semarang. Kebetulan saudara saya ada yang menjadi personelnya, jadi saya beri tawaran untuk kolaborasi. Sudah sekitar satu bulan menyerukan Muda Berdaya Bukan Diperdaya, rencana akan terus kami serukan hingga ada perubahan,” terang ketua Kudus Bergerak itu.

Payon menjelaskan, awalnya mereka menggunakan nama Kudeta pada komunitas mereka, pada tahun 2014. Komunitas tersebut terbentuk awalnya hanya kumpulan sejumlah orang yang aktif di berbagai komunitas di Kudus. Mereka menggagas tentang penyalahgunaan taman yang digunakan, misalnya untuk tempat pacaran dan hal-hal yang tidak produktif. Karena nama itu dinilai kurang pantas, kemudian diganti menjadi Kudus Bergerak pada tahun yang sama.

“Berawal dari gerakan bersama dari berbagai komunitas pada tahun 2014, waktu itu kami menyuarakan tentang pemanfaatan taman. Karena digunakan untuk pacaran, mabuk-mabukan, jadi orang-orang yang ingin mengajak anaknya bermain di taman merasa terganggu. Dan kami menggagas tentang pemanfaatan taman untuk hal-hal yang positif,” jelas waga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus itu.

Dia menambahkan, Kudus Bergerak saat ini memiliki delapan anggota. Payon mempersilakan bagi siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang mereka buat. “Karena kami memiliki kesibukan masing-masing, jadi tidak ada pertemuan rutin yang pasti. Sekretariat kami di Gang Jambu, Desa Barongan, Kota Kudus,” tambahnya.

 

- advertisement -

Smartphone Ini Berkamera Depan 20 MP, Pantas Saja Banyak Diburu Kaum Hawa yang Hobi Selfie

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Sejumlah smartphone bermerek Vivo terlihat tertata rapi di dalam etalase kaca, di konter Davin Seluller, komplek Taman Bujana, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus. Tak jauh dari etalase, tampak seorang pria mengenakan kaus hitam sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Pria tersebut tak lain Aji Nugroho (20), Promotor Vivo sekaligus karyawan konter tersebut.

Davin Selluler, konter khusus smartphone merek Vivo
Davin Selluler, konter khusus smartphone merek Vivo. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Aji begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan produk Vivo di tempat tersebut. Dia menjelaskan, Vivo V5 merupakan seri handphone brand asal Tiongkok yang paling banyak disukai oleh pelanggan. Dari seluruh pelanggan yang membeli, yang paling dominan kalangan anak muda, khususnya perempuan.

Baca juga: Wow, Pakai Vivo V5 Plus, Hasil Jepretanmu Setara dengan Kamera DSLR

“Paling laku di sini Vivo V5, antara lima hingga delapan unit yang bisa kami jual. Sebenarnya tidak begitu signifikan, konter kami juga baru beberapa bulan berdiri. Terkait pelanggan, kebanyakan dari kalangan kaum hawa yang sering suka selfie. Sesuai dengan jargon Vivo V5 yaitu perfect selfie,” ungkap Aji yang mengaku konter resmi didirikan sejak 28 Desember 2016.

Warga desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus, ini mengatakan, keunggulan yang dimiliki handphone yang terdiri dari tiga varian warna meliputi emas, pink muda dan abu-abu itu sangat banyak. Di antaranya, dibekali kamera depan beresolusi 20 megapixel (MP) dan belakang 13 MP. Untuk memperkuat kemampuan kamera depan, katanya, disematkan beberapa fitur menarik seperti face beauty 6.0, voice shutter, touch capture, gender detection, filter dan lain sebagainya.

“Sementara itu, keunggulan lain terdapat pada layar sentuh 5,5 inch, layar kaca antigores, RAM 4 GB, penyimpanan internal berkapasitas 32 GB, baterai 3 ribu mAh, prosesor sudah octacore sekaligus terdapat teknologi sensor fingerprint untuk membuka kunci smart phone hanya dengan menempelkan jari. Selain itu, bodi handphone berbahan mental yang terlihat lebih menawan dan elegan,” ujar Aji sambil memperlihatkan keunggulan handphone Vivo V5.

Dia menambahkan, konter tempat dia bekerja buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Terkait dengan cara dia meningkatkan penjualan, katanya, dengan cara menyebarkan brosur seperti di care free day (CFD), lewat media online dan memberikan bonusan asesoris kepada setiap pembeli. Sementara itu, dia mengaku hanya menunggu calon pembeli datang ke konter.

“Pelanggan kami sementara hanya dari area Kudus yang sering membeli handphone Vivo V5. Untuk harga, setiap unit kami jual seharga Rp 3,5 juta. Bagi pembeli, nanti akan mendapatkan garansi handphone selama satu tahun,” tambah Aji.

- advertisement -

Polisi Razia Kendaraan Umum dan Pribadi, Cegah Mobilisasi Massa Ikuti Tamasya Al-Maidah

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Puluhan Polisi tampak memeriksa beberapa mobil yang melintas di Jalan Lingkar Selatan Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Selasa (18/4/2017) petang. Tak jauh dari Monumen Laka Lantas, mereka memeriksa bus dan beberapa mobil pribadi. Bahkan polisi juga memeriksa puluhan penumpang bus satu per satu. Operasi itu digelar untuk mencegah masyarakat yang hendak mengikuti Tamasya Al-Maidah ke Jakarta.

Polisi merazia mobil pribadi untuk mencegah mobilisasi massa Wisata Al-Maidah di Kudus 2017_4
Polisi merazia mobil pribadi untuk mencegah mobilisasi massa Wisata Al-Maidah di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Wakapolres Kudus Kompol Muhammad Ridwan, Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono memberi maklumat larangan masyarakat Jateng pergi ke Jakarta untuk mengikuti Tamasya Al-Maidah. Hal tersebut terjadi seiring sedang dilaksanakan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, hari ini (19/4/2017). Ridwan menegaskan, keamanan pemilihan Gubernur di Jakarta menjadi tanggung jawab Polisi dan TNI.

“Percayakan keamanan di Jakarta kepada kami,” tutur Ridwan kepada wartawan usai razia yang dimulai pukul 17.00 WIB. Dia mengatakan, bersama 132 personel gabungan Polres Kudus, pihaknya mengecek setiap kendaraan yang menuju ke Jakarta. Dirinya mengibau agar masyarakat Kudus tetap berada di Kudus dan tidak pergi ke Jakarta.

Dalam razia, pihaknya mengaku tidak menemukan masyarakat Kudus yang akan mengikuti Tamasya Al-Maidah. Kendaraan umum maupun pribadi yang melewati Jalur Lingkar Selatan yang mengarah Jakarta juga berjalan seperti biasanya. Kalau pun ada warga yang pergi ke Jakarta, dimungkinkan tidak mengikuti kegiatan tersebut. “Sementara masih kondusif. Ini juga tidak ada peningkatan kendaraan atau penumpang yang pergi ke Jakarta,” jelasnya.

Dia memperkirakan, masyarakat yang akan pergi ke Jakarta dengan tujuan tertentu, biasanya terorganisir. Hal tersebut akan terlihat peserta pergi secara bersama-sama. Ridwan mengungkapkan, pihaknya masih Siaga Satu. Pihaknya akan terus melakukan upaya pengamanan dalam momentum pemilihan Gubernur di Jakarta. “Sebelumnya kami sudah sambangi PO (Perusahaan Otobus) yang ada di Kudus. Mereka tidak ada yang berangkat (ke Jakarta),” tambahnya.

- advertisement -

Petani Undaan Minta Sungai Juwana Dikeruk, Karena Tanam Padi Selalu Penen Lumut

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Beberapa orang tampak mengangkat puluhan ikat bibit padi ke bak mobil pikap di pasar bibit padi di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya di perbatasan Desa Kalirejo dengan Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus. Di lokasi itu tampak seorang pria berkaus oblong sedang menawar harga bibit padi ke penjual. Dia bernama Sawijan (55), yang merasa terbantu adanya penjual bibit.

Jual bibit padi di Desa Kalirejo, Undaan 2017_4
Jual bibit padi di Desa Kalirejo, Undaan. Foto: Rabu Sipan

Usai tawar menawar, kepada Seputarkudus.com Sawijan sudi berbagi keluh kesah karena tanaman padinya terendam banjir. Dia mengungkapkan, memiliki sawah di Desa Wonosoco sebanyak dua petak. Namun sayangnya lokasi sawahnya di dataran rendah dan selalu terendam saat turun hujan. Karena itulah dia tidak bisa menebar benih untuk dijadikan bibit.

Baca juga: Meski Hanya Punya Sawah Satu Petak, Mbah Rukin Untung Hingga Rp 4 Juta dari Penjualan Bibit

“Berhubung tidak bisa membuat bibit, setiap masa tanam aku pasti beli bibit padi di sini. Karena aku tidak mau ambil risiko dengan menebar benih di sawahku. Dulu pernah beberapa kali mencoba, setiap ada hujan sebentar saja pasti langsung terendam,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, sejak Sungai Juwana mengalami sedimentasi, area persawahan di Desa Wonosoco dan Desa Berugenjang sering terendam banjir saat hujan turun. Dirinya tidak pernah menebar benih padi di sawah miliknya.

“Aku berharap Sungai Juwana sampai Sungai Londo yang melintasi persawahan Desa Wonososco dikeruk. Agar saat ada hujan turun sawahku dan sawah lainnya tidak tergenang banjir. Selama ini kami tanam padi, tapi penen lumut,” ujarnya.

Warga Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengungkapkan, menebar benih untuk dijadikan bibit sebaiknya berada di lahan yang agak tinggi (genengan). Tapi sawah tersebut juga harus mudah untuk dialiri air. Karena, saat benih belum tumbuh menjadi bibit padi dan tergenang air, benih tersebut bisa membusuk .

“Untuk masa tanam kedua ini aku sudah menanam bibit dua kali, dan semuanya rusak akibat banjir. Ini yang ketiga, aku beli bibit padi lagi sekitar 100 ikat untuk sulam. Saya habis Rp 170 ribu. Itu beli bibitnya saja belum ongkos pengiriman bibit ke sawah dan ongkos kuli tanamnya,” ungkapnya Sawijan.

Pria yang sudah dikaruniai satu cucu itu mengaku, memiliki sawah di tempat dataran rendah membuat tanam padinya sering gagal panen. Untuk masa tanam pertama tahun ini dia mengaku gagal tanam. Dan dirinya mengaku rugi puluhan juta rupiah.

- advertisement -

Wow, Pakai Vivo V5 Plus, Hasil Jepretanmu Setara dengan Kamera DSLR

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di ujung timur laut Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, tepatnya di komplek Taman Bojana, terlihat sebuah kios dengan dinding terbuka. Di atasnya, terdapat plang tertulis Vivo Smartphone. Kios yang berlokasi di Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus tersebut yakni Davin Selluler. Konter yang menjual berbagai handphone merek Vivo asal Tiongkok.

Vivo V5 Plus 2017 di Davin Selluler Kudus 2017_4
Vivo V5 Plus 2017 di Davin Selluler Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Promotor Vivo Aji Nugroho (20), mengatakan, pada bulan Februari kemarin, konter tempat dia bekerja resmi menjual handphone terbaru berupa Vivo V5 Plus. Menurut dia, banyak keunggulan yang dimiliki smart phone tersebut. Satu di antaranya, dibekali dua kamera depan dengan resolusi 20 megapixel (MP) plus 8 MP. Dengan kamera itu, katanya, hasil gambar yang didapatkan setara dengan kamera digital single lens reflex (DSLR).

Smart phone terbaru yang kami jual, ada Vivo V5 Plus. Keunggulan sangat banyak, hampir sama sebenarnya dengan Vivo V5, cuma yang paling menonjol terdapat pada kamera depan, beresolusi 20 MP plus 8 MP. Fungsinya, menghasilkan foto selfie maupun wefie dengan efek bokeh. Jadi background belakang bisa blur layaknya foto menggunakan kamera DSLR,” ungkap Aji begitu akrab disapa.

Warga Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus, ini melanjutkan, kamera belakang pada smartphone itu memiliki resolusi sebesar 13 MP, dengan ditambah fitur light emitting diode (LED) flash sebagai pembantu mengambil foto dalam kondisi gelap. Tidak hanya itu, Vivo V5 plus telah menyematkan RAM 4 GB, penyimpanan internal 32 GB yang dapat ditambahkan microSD sebesar 128 GB.

“Keunggulan lain, baterai berkapasitas 3.160 mAh, dilengkapi dengan sensor fingerprint, layar full high definition (HD) sebesar 5,5 inci, prosesor qualcomm snapdragon 652 octa core berkecepatan 1,8 GHz dan pada layar dilengkapi kaca anti gores corning gorilla glass. Untuk pilihan warna, hanya ada satu yang ditawarkan, berupa warna gold,” ujar Aji yang terlihat mengenakan kaus oblong warna hitam.

Dia menambahkan, harga yang ditawarkan bagi setiap konsumen yang membeli, katanya, sebanding dengan keunggulan yang diberikan, yakni seharga Rp 5 juta. Menurutnya, harga itu sudah termasuk bagian dari promo, yang sebelumnya dia mengaku menjual seharga Rp 5,5 juta.

“Selain promo, kami juga berikan berbagi bonusan. Seperti, tongsis, iring hook, garansi handphone selama satu tahun, software seumur hidup dan asesoris handphone selama enam bulan. Tapi dengan catatan, persedian masih ada. Untuk penjualan, tidak begitu signifikan sebenarnya, hanya dua sampai enam unit bisa kami jual setiap bulannya,” tambah Aji.

- advertisement -

Yaumis Baru Tahu, Masjid Menara Kudus Dibangun pada Hadi Selasa Legi, 19 Rajab 956 H

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ratusan orang mengenakan atasan koko putih berkumpul di aula Gedung Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Mereka juga mengenakan ikat kepala kain beserta sarung batik. Mereka tampak khidmat mendengarkan narasumber dalam kegiatan Sarasehan 19 Rajab peringatan hari jadi Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.

Sarasehan 19 Rajab peringatan hari jadi Masjid Al-Aqsha Menara Kudus 2017_4
Sarasehan 19 Rajab peringatan hari jadi Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Foto: Imam Arwindra

Yaumis Salam (22), adalah satu di antara ratusan pesrta yang datang. Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus mengaku datang karena ingin mengetahui secara detail waktu pendirian Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Sebelumnya, dia sudah mengetahui Masjid Al-Aqsha Menara Kudus dibangun tahun 956 hijriyah. Namun dia tidak tahu hari dan tanggal detailnya.

“Tadi habis mendengarkan penuturan narasumber ternyata Masjid Al-Aqsha dibangun Hari Selasa Legi, tanggal 19 Rajab tahun 956 hijriyah,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, pada acara yang diselenggarakan Sabtu (15/4/2017) malam.

Acara sarasehan dihadiri tak kurang 400 undangan yang datang dari berbagai kalangan dan latar belakarang. Panitia menghadirkan narasumber ahli falaq KH Saifuddin Luthfi, dosen Sejarah dan Peradaban UIN Sunan Kalijaga Riswinarno, Arsitek dan Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogjakarta Revianto Budi Santosa, budayawan Habib Abdullah Al-Hindun dan Jadul Maula.

Yaumis mengatakan, catatan waktu pendirian Masjid Al-Aqsha Menara Kudus tertulis di prasasti yang letaknya berada di atas mimbar imaman. Tulisan di maksud menggunakan huruf Arab yang bentuknya sulit untuk dibacanya. Namun sekarang dirinya sudah tahu setelah mengikuti kegiatan Sarasehan 19 Rajab yang diadakan oleh YM3SK. “Ini sebuah identitas. Anak muda seperti saya harus mengerti,” tambahnya.

Dirinya mengaku kagum saat Revianto Budi Santosa, narasumber kegiatan yang memiliki latar belakang Arsitek dan Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogjakarta, memberi pemaparan. Menurutnya saat memaparkan materi, Masjid Al-Aqsha Menara Kudus mejadi ikon masjid dari Indonesia yang berada di Malaysia. “Jadi di Malaysia itu ada tempat yang berisi masjid-masjid dari berbagai negara. Masjid Al-Aqsha menjadi ikon dari Indonesia,” ungkapnya.

Ketua YM3SK M Nadjib Hassan menuturkan, sarasehan diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Masjid yang didirikan Sunan Kudus menurutnya sudah diperingati selama 482 kali. “Masjid Al-Aqsha didirikan Hari Selasa Legi, tanggal 19 Rajab tahun 956 Hijriyah,” tuturnya di sela-sela kegiatan.

Menurutnya kegiatan itu digelar untuk merefleksikan diri terhadap cita-cita Sunan Kudus dalam mendirikan negeri Kudus dan Menara Kudus, masih sesuai jalur atau sudah menyimpang. Dijelaskan, Sunan Kudus yang dikenal bagai Walisongo dalam dakwahnya membawa perdamaian. Hal tersebut dibuktikan dari bentuk Menara Kudus yang akulturatif.

- advertisement -

Bowo Menyesal Tak Lulus Kuliah Karena Asyik Touring, Kini Bangkit dan Buka Bengkel Motor Custom

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di tepi timur Jalan Mayor Kusmanto Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus tampak dua motor custom terparkir di depan bengkel. Di samping sepeda motor tersebut tampak dua orang sibuk menggerinda rangka motor tanpa mesin. Satu di antara pria tersebut adalah Tri Saksono Herbowo (31), pemilik bengkel bernama Bow Garage, spesialis custom motor.

Bowo (kanan) pemilik bengkel motor Bow Garage 2017_4
Bowo (kanan) pemilik bengkel motor Bow Garage. Foto: Rabu Sipan

Seusai menggerinda, pria yang akrab disapa Bowo itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha bengkel sepeda motor miliknya. Dia mengungkapkan, membuka bengkel modif custom and repair itu sejak setahun yang lalu. Sebelum memiliki usaha bengkel, dirinya mengaku gemar mengendarai motor custom sejak duduk di kelas X sekolah menengah atas (SMA).

“Bahkan hobi mengendarai motor custom itu aku bawa sampai kuliah. Aku juga tergabung dengan klub motor khusus custom yang bernama MMC Outsiders. Karena kegemaranku itulah aku sering ikut touring lintas daerah hingga kuliahku tidak terurus. Akibatnya lima tahun kuliah aku tidak lulus,” ungkap pria yang kuliah di STMIK AKAKOM Yogjakarta Jurusan Teknik Informatika, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu mengatakan, setelah tidak lulus Bowo memutuskan pulang ke Kudus. Karena kecintaannya terhadap motor custom, Bowo mengaku bekerja di satu bengkel custom di Kudus. Dengan bekerja di bengkel tersebut, selain bisa dekat dengan hobinya, dia juga bisa mendapatkan penghasilan serta bisa tahu cara membuat motor custom.

“Aku bekerja hanya dua tahun, karena aku ingin berubah, aku juga berfikir jadi mekanik jangan nanggung, dan harus bisa berdiri sendiri. Lalu setelah aku rasa cukup menguasai teknik modif motor custom dan punya cukup modal, aku pun izin keluar untuk mendirikan bengkel custom sendiri. Aku bersyukur bosku malah senang dan bangga. Dia sangat mendukung keinginanku tersebut,” ungkap Bowo sambil melinting rokok.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, meski sudah membuka bengkel custom dan repair mesin sendiri, dirinya tetap aktif di club. Dengan begitu, dia bisa memperkenalkan bengkelnya kepada teman-teman sesama pecinta motor custom.

“MMC Outsiders itu satu club motor custom skala nasional. Dan setiap karesidenan pasti ada semacam cabangnya. Kebetulan di Karesidenan Pati, club cabangnya itu di Kudus. Jadi saat kopdar aku sekalian bisa promosi tentang bengkelku,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dia mengungkapkan, sudah memiliki banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya dari Kudus saja, ada juga dari Pati, Jepara, Demak, bahkan pernah ada yang datang dari Jogja. Dia mengatakan, menerima berbagai macam pengerjaan motor custom misal, model rigid, jap style, brat style, cooper, scramble, bober, flat track, trail serta cafe racer.

“Saat ini yang paling diminati itu model jap style dan brat style. Untuk biaya, biasanya kami putuskan secara kesepakatan. Karena selain ditentukan oleh bentuk, harga juga ditentukan bahan dan merek spare part yang akan dipasang di motor custom pesanan para pelanggan,” jelasnya.

- advertisement -

Meski Hanya Punya Sawah Satu Petak, Mbah Rukin Untung Hingga Rp 4 Juta dari Penjualan Bibit

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Di tepi Jalan Kudus-Purwodadi tepatnya di perbatasan Desa Medini dan Desa Kalirejo, Kecamtan Undaan, Kudus, tampak beberapa orang menaikan puluhan ikat bibit padi ke mobil bak terbuka. Tak jauh dari mobil itu, terlihat seorang pria renta memakai peci sedang mengamati kegiatan beberapa temannya tersebut. Pria renta itu bernama Rukin (60), penjual bibit padi di desa setempat.

Rukin (mengenakan peci) penjual bibit padi di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus
Rukin (mengenakan peci) penjual bibit padi di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil mengamati kegiatan tersebut Rukin sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha berjualan bibit padi. Dia mengungkapkan, menjual bibit di tepi jalan tepatnya di seberang makam Desa Medini, Undaan, Kudus sudah hampir sekitar 30 tahun. Menurutnya, sejak menekuni usaha penjualan bibit padi, sawahnya tidak pernah ditanami padi. Namun dia menebah benih, dan bibit yang padi yang tumbuh kemudian dia jual.

“Aku hanya punya sawah satu petak. Kalau aku tanami padi paling aku mendapatkan uang Rp 800 ribu dengan jangka waktu empat bulan saat panen. Berbeda saat aku tanami bibit, dalam jangka waktu sebulan saja aku bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 4 juta,” ujar Rukin sambil menyalakan rokoknya.

Warga Desa Kutuk, Undaan, Kudus itu menuturkan, penghasilan Rp 4 juta itu saat harga bibit sedang mahal, sekitar Rp 3 ribu per ikat. Sedangkan saat harga turun, dia mengaku hanya mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 2 juta sebulan.

“Saat harga anjlok sekalipun mananam bibit lalu aku jual itu tetap lebih menguntungkan. Karena lebih menguntungkan itulah, alasanku bertahan hingga puluhan tahun untuk berjualan bibit padi. Meski lebih menguntungkan, namun penjualanku waktunya terbatas hanya enam bulan saja,” jelas Rukin sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak dan dua cucu itu mengatakan, waktu berjualan yang tidak setahun penuh itu karena masa tanam padi hanya dua kali. Untuk memaksimalkan penjualan dan agar stok bibitnya selalu tersedia di lapaknya setiap hari, dia juga membeli bibit pada orang lain lalu dijualnya kembali.

Rukin mengaku memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya petani Kudus saja yang membeli bibit dari tempatnya, melainkan juga para petani dari Pati, Demak, Grobogan, Jepara dan tentunya Kudus. Dalam sehari rata-rata dirinya bisa menjual sekitar 600 ikat bibit padi.

“Aku bersyukur dengan memanfaatkan sawah yang hanya satu petak, aku mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Sekarang aku juga sudah dikaruniai dua cucu, jadi berjualan bibit ini selain menguntungkan juga bisa aku buat untuk mengisi waktu masa tua, dan tetap bertemu dengan teman lama di pasar bibit Kalirejo,” ungkapnya.

- advertisement -