Beranda blog Halaman 1902

Wow, Hari Pertama Buka, Toko Phy Shop Kudus Diserbu Pembeli dan Raup Omzet Rp 2 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Di tepi barat Jalan Kudus – Colo Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus tampak beberapa sepeda motor berjajar memenuhi halaman sebuah toko berwarna merah jambu. Di dalam toko tampak beberapa perempuan sedang memilih dan mencoba sepatu dan sandal yang terpajang. Itulah suasana Toko Phy Shop Kudus, yang buka pada hari pertama langsung laris diserbu pembeli.

Pelanggan di Toko Phy Shop Kudus, Jalan Kudus-Colo 2017_4
Pelanggan di Toko Phy Shop Kudus, Jalan Kudus-Colo

Menurut Sulias Anggianingsih (20) pemilik Toko Phy Shop Kudus, setelah merintis usaha olshop di Instagram melalui akun physhop_kudus, dirinya berinisiatif membuka toko. Dan toko yang menyediakan aneka sepatu dan sandal khusus perempuan itu, baru dibuka Senin (18/4/2017).

Baca juga: Meski Sudah Jadi Karyawan dan Bergaji Lumayan, Anggi Berbisnis Olshop untuk Masa Depan

“Aku baru buka toko pada hari ini Senin (18/4/2017) dan Alhamdulillah hari pertama buka, antusiasme pembeli bagus. Mereka datang dan membeli sepatu serta sandal yang aku jual. Tercatat sekarang aku sudah menjual sekitar 40 pasang dan mendapatkan omzet sekitar Rp 2 juta pada hari pertama berjualan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Anggi kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu mengungkapkan, untuk memantik minat pembeli agar sudi datang ke tokonya pada hari pertama buka, selama sepekan sebelumnya dia menginformasikan pada pengikutnya di Instagram. Para pengikut yang ingin melihat koleksi sepatu dan sandal bisa datang langsung ke tokonya langsung.

Dia mengunkapkan, sebenarnya inisiatif membuka toko yang diberi warna merah jambu itu saran dari para pelanggan olshopnya. Agar mereka, khususnya yang berasal dari wilayah Kudus serta daerah sekitar, bisa datang langsung melihat dan mencoba sepatu juga sandal yang mereka minati supaya pas dan nyaman saat dipakai.

Dia mengatakan, di tokonya tersebut dia menjual sepatu dan sandal perempuan dengan berbagai bentuk. Ada aneka sandal yang dijual dengan harga Rp 35 ribu sepasang, dan sepatu flat shoes yang dibanderol dengan harga sama.

“Harga tersebut untuk pembelian sepasang. Sandal dan sepatu dengan bentuk tertentu aku tawarkan dengan harga lebih murah saat pelanggan membeli tiga pasang sekaligus, yakni Rp 100 ribu per tiga pasang. Sedangkan untuk sepatu tali dan sepatu cat aku jual dengan harga Rp 50 ribu sepasang” ujarnya.

Anggi mengatakan, harga yang ditawarkannya sangat terjangkau. Sepatu yang dijualnya juga sangat modis, kekinian serta berkualitas. Menurutnya, itu terbukti dengan banyaknya para pelanggan yang datang langsung ke toko Phy Shop Kudus di hari pertama buka.

“Aku berharap minat para pelanggan yang datang ke toko Phy Shop Kudus makin meningkat. Dan aneka sepatu dan sandal juga makin laris terjual. Semoga saja kelak usahaku bisa makin berkembang dan mampu buka cabang,” harap Anggi yang mengaku tokonya tersebut buka setiap hari.

- advertisement -

Sempat Ingin Copot Pakaian Adat Kudus Karena Gerah, Jafda Akhirnya Tampil Usai Dibujuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, PENDOPO – Ratusan orang berkerumun di dekat panggung uatama di depan Pendapa Kabupaten Kudus. Tampak seorang guru sedang mengusap air mata muridnya yang usai tampil di acara lomba fashion show pakaian adat Kudus memperingati Hari Kartini. Guru itu yakni Maria Ulfa (33), yang mendampingi muridnya Jafda Zahira Salma Zuhan (5), dan Muhammad Zulfar Sultan (5), peserta dari RA NU Banat Kudus.

Lomba Fashion Show pakaian adat Kudus di pendapa 2017_4
Lomba Fashion Show pakaian adat Kudus di pendapa. Foto: Ahmad Rosyidi

Ulfa begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang muridnya yang sedang sakit mata. Sebelum mengikuti lomba pada Ajang Kreativitas Seni Anak RA (AKIRA) itu. Murid perempuannya memang sudah sakit mata. Muridnya itu juga merasa capek dan minta ganti pakaian karena sudah dandan sejak pukul 6.00 WIB.

Baca juga: Javier Mewarnai Gambar Sambil Menangis Sesenggukan Saat Ikuti Lomba Gebyar Akira

“Murid saya yang perempuan memang sedang sakit mata, jadi keluar air mata terus. Dia juga sudah capek dan minta ganti pakaian, padahal ini belum selesai. Tapi setelah saya beri pengertian akhirnya dia mau bersabar,” ungkap Ulfa usai acara yang diselenggarakan yang Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) tersebut, akhir pekan lalu.

Sri Kholis Tiani (43), kepala sekolah RA NU Banat, menambahkan, proses persiapan mengikuti lomba berjalan lancar. Meski muridnya ada yang sakit mata, tetapi masih bersemangat. Wali murid yang ikut mendampingi juga mendukung.

“Semua lancar, anak-anak kami beri semangat terus agar mau latihan. Semua juga tidak lepas dari dukungan wali murid. Karena berkat dukungan dan terus didampingi, jadi anak-anak melakukan persiapan dengan baik,” terang warga Desa Krandon, Kota Kudus itu.

Siti Alimah (48), Ketua IGRA, mengaku sempat khawatir dengan cuaca yang tidak menentu. Dia takut hujan akan turun saat pelaksanaan kegiatan Gebyar Akira yang sudah mereka persiapkan kurang lebih selama tiga bulan.

“Panitia kegiatan ini ada sekitar 20 orang, dan kami sudah persiapkan kurang lebih selama tiga bulan. Saya sempat khawatir kalau turun hujan saat pelaksanaan kegiatan. Alhamdulillah tidak, dan semua berjalan dengan baik,” ungkap guru yang akrab disapa bu Alim itu.

- advertisement -

Javier Mewarnai Gambar Sambil Menangis Sesenggukan Saat Ikuti Lomba Gebyar Akira

0

SEPUTARKUDUS.COM, PENDAPA – Waktu menunjukan pukul 11.00 WIB saat puluhan anak mewarnai di Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (22/4/2017) siang. Mereka adalah peserta lomba mewarnai diselenggarakan Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA). Satu di antara peserta, yakni Nabil Javier Prayitno (5), yang terlihat mewarnai sambil menangis sesenggukan.

Javier mewarnai gambar sambil menangis sesenggukan 2017_4
Javier mewarnai gambar sambil menangis sesenggukan. Foto Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Malia Ristini, ibu dari Javier, mengatakan, anaknya menangis karena belum selesai dan takut tertinggal. Selain karena capek, putra bungsunya itu juga takut ditinggal karena banyak teman-teman yang sudah selesai.

“Ini pertama kali Javier ikut lomba mewarnai. Kalau di rumah memang suka mewarnai gambar. Dia menangis karena takut ditinggal, teman-temannya sudah banyak yang selesai. Dia juga lelah karena sudah disini dari tadi pagi,” jelas ibu yang memiliki tiga anak itu.

Siti Alimah (48), Ketua IGRA, mengungkapkan, kegiatan Ajang Kreatifitas Seni Anak RA (AKIRA) Kabupaten Kudus itu diselenggarakan memperingati Hari Kartini. Selain lomba mewarnai, ada juga lomba fashion show, lomba gerak dan lagu. Acara juga dimeriahkan drum band.

“Lomba mewarnai ini dengan kami memilih tema Kartini Kudus. Pesertanya datang dari 115 RA. Ada 230 peserta yang mengikuti lomba, 115 putra dan 115 putri. Sedangkan lomba fashion show dengan pakaian adat Kudus, diikuti 9 RA perwakilan setiap Kecamatan, putra dan putri. Untuk lomba gerak dan lagu pesertanya datang dari 9 RA perwakilan setiap kecamatan, dan satu kelompok terdiri dari 9 anak,” terang warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Kegiatan tersebut dimulai pukul 7.30 WIB, dengan upacara pembukaan dan penampilan drum band. Kemudian dilanjutkan dengan acara lomba-lomba. “Tadi dipembukaan ada konser drum band, nanti acara penutupan juga ada konser drum band lagi. Keseluruhan ada 19 kelompok drum band yang tampil hari ini,” jelasnya.

Tujuan dari kegiatan Gebyar Akira, katanya,  selain menjadi panggung berekspresi, juga untuk meningkatkan kreativitas, serta kemandirian anak di bidang seni. Selain itu juga untuk mengajarkan anak bersosialisasi dan berinteraksi. Dia juga berharap, usai kegiatan tersebut peserta bisa meningkatkan ketrampilan dan meningkatkan prestasinya dibidang seni.

- advertisement -

Meski Sudah Jadi Karyawan dan Bergaji Lumayan, Anggi Berbisnis Olshop untuk Masa Depan

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Seorang perempuan memakai jilbab pink dan baju merah terlihat sibuk melayani pelanggan yang datang di tokonya, di tepi Jalan Kudus-Colo Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus. Dengan sabar dirinya memberi penjelasan kepada pelanggan satu ke pelanggan lainnya. Di sela memberi penjelasan tersebut, dia melihat layar smartphone dan membalas pesan. Perempuan tersebut bernama Sulias Anggianingsih (20), pemilik usaha olshop dan toko Toko Phy Shop Kudus.

Anggi, pemilik toko dan olshop Phy Shop Kudus 2017_4
Anggi, pemilik toko dan olshop Phy Shop Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pelanggannya, perempuan yang akrab disapa Anggi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha olshop yang dijadikan pekerjaan sampingan tersebut. Dia mengungkapkan, sudah bekerja menjadi seorang admin di sebuah perusahaan produksi sirup sejak tahun 2014. Meskipun gaji menjadi admin lumayan besar, dia mengaku tetap ingin punya penghasilan tambahan dan usaha sendiri.

“Niat awal usaha olshop itu untuk mendapatkan penghasilan tambahan serta punya usaha sendiri untuk masa depan lebih bagus. Pada tahun 2015 itulah, aku memutuskan berjualan aneka jenis sepatu secara online. Karena belum tahu trik berjualan online, aku pun memutuskan menjadi reseller orang dulu,” ungkap dara lajang tersebut.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu mengungkapkan, salama menjadi reseller orang, Anggi menjual aneka sepatu melalui media sosial Instagram dengan akun physhop_kudus. Dia mengaku selama menjalani usaha sambilannya tersebut dirinya harus benar – benar cermat membagi waktu untuk kerja serta jaualan sepatu online-nya.

Menurut Anggi, jika tidak pintar membagi waktu, tentu akan berimbas dengan pekerjaannya di kantor dan pasti jualan olshopnya juga tidak bisa maksimal. Menurutnya, saat awal menjalani usaha sampingan berjualan sepatu secara online dirinya belum memiliki banyak pelanggan. Sehari paling bisa menjual sekitar dua sampai tiga pasang sepatu atau pun sandal.

“Itu pada saat awal, namun enam bulan belakangan penjualan olshopku meningkat. Followerku juga makin banyak. Bahkan sekarang aku sudah punya sekitar 50 orang reseller,” ungkap dara yang sudah dilamar pacarnya tersebut.

Dia menuturkan, untuk mempromosikan aneka sepatu yang dia jual, dirinya tak segan masang iklan di Instagram milik orang Kudus yang sudah terkenal dan punya follower banyak. Menurutnya sejak iklan tersebut, dia mengaku mampu mendongkrak penjualan olshopnya. Sejak enam bulan lalu, tuturnya secara rutin mampu menjual sekitar delapan pasang sepatu dan sandal setiap hari.

“Aku bersyukur usaha sambilanku dengan menjual aneka jenis sepatu perempuan lewat onlin sudah mulai banyak dikenal orang. Dan semoga aneka produk sepatu jualanku makin laris. Sekarang aku juga sudah punya toko yang juga menjual aneka koleksi sepatu perempuan,” ujar Anggi yang mengaku tokonya tersebut berada .

- advertisement -

Hotel Kenari Kudus Tawarkan Fasilitas Super Lengkap dengan Restoran untuk Umum

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Sejumlah kendaraan roda empat terpakir di halaman depan hotel berlantai tiga, di Jalan Kenari nomor 2, Desa Panjunan, Kecamatan Kota Kudus. Hotel itu menyediakan sebanyak 40 unit kamar bagi pengunjung yang akan menginap. Hotel tersebut yakni Kenari Asri, hotel yang diklaim menawarkan fasilitas super lengkap bagi setiap pengunjung.

Hotel Kenari Asri Kudus 2017_4
Hotel Kenari Asri Kudus

Kepada Seputarkudus.com, Anwar (44), General Manager Hotel Kenari Asri, sudi berbagi penjelasan terkait dengan sejumlah fasilitas yang ditawarkan. Dia menjelaskan, satu di antara fasilitas yang disediakan, semua area hotel sudah dilengkapi free wifi berkecepatan tinggi. Selain itu, pihaknya juga menyediakan fasilitas restoran chinese food, yang halal dan terbuka bagi umum.

“Fasilitas hotel di tempat kami semua lengkap, ada akses wifi, kafe, ruang pelayanan, laundri pakaian, toko obat, mini bar, rental mobil, penukaran uang, menjual tiket pesawat maupun cuci mobil gratis. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan resto yang tentunya halal. Untuk resto tidak hanya kami peruntukkan bagi tamu saja, tapi terbuka untuk umum,” ungkap Anwar.

Sembari duduk santai di tempat lobi hotel, dia melanjutkan, pihaknya menawarkan tiga kategori kamar dengan harga yang berbeda. Di antaranya, tipe kamar Superior dipatok dengan harga Rp 350 ribu per malam, tipe Deluxe dengan harga Rp 500 ribu dan tipe Suite dibanderol dengan harga jauh lebih mahal, sebesar Rp 600 ribu per kamar per malam. “Untuk tipe Suite harga memang lebih mahal, soalnya tempat tidur maupun kapasitas ruangan lebih luas,” ujarnya.

Pria berkaca mata itu memberitahukan, waktu check in kamar dimulai sejak pukul 2.00 WIB, sedangkan check out kamar dimulai pukul 12.00 WIB. Terkait dengan fasilitas kamar, katanya, semua kamar dilengkapi air conditioner (AC), televisi 42 inch, telepon, perlengkapan sekolah, kopi dan teh sekaligus air mandi hangat. Menurut dia, setiap tamu yang menginap di hotel nantinya juga akan diberikan sarapan pagi.

“Selain tempat menginap, hotel kami juga menyediakan ruangan serba guna. Tapi biasanya banyak digunakan untuk meating, seminar, wedding, lamaran serta peranyaan ulang tahun,” ungkap Anwar yang mengaku menjadi karyawan hotel sejak 2004, sekaligus awal mula berdirinya hotel Kenari Asri di Kudus.

Dia menambahkan, kapasitas ruangan serba guna yang disediakan mampu memuat sebanyak 500 orang. Tempat disediakan secara gratis. Namun, pengunjung akan dibebani tarif harga untuk membeli makanan dan minuman. “Harga yang kami tawarkan antara Rp 60 ribu hingga Rp 120 ribu per orang,” tambahnya.

- advertisement -

Warga Janggalan Diteror, Pakaian dan Sandal Hilang Sebelah

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Seorang perempuan berkaus hijau tampak mengambil pakaian yang dijemur di belakang rumah. Setelah diambil, dirinya mengecek pakaian satu demi satu. Perempuan tersebut yakni Umi Masruroh (29), warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota. Pakaian yang baru saja diambil dicek, karena menurutnya sejak pekan lalu, masyarakat desa setempat mendapat “teror”, banyak pakaian dan sandal milik warga hilang. Namun anehnya pakaian yang hilang hanya sebagian.

Warga Janggalan mengambil pakaian di jemuran 2017_4
Warga Janggalan mengambil pakaian di jemuran. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dirinya menceritakan, pada Rabu (19/4/2017) malam beberapa pakaian yang dijemur hilang. Hal tersebut diketahuinya pada Kamis (20/4/2017) pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Selain pakaian, sandal yang berada di depan rumah pun ikut raib. Anehnya, sandal yang hilang hanya sebelah.

“Ini pakaian saya belum ketemu. Terutama seragam anak saya. Bawahannya hilang namun atasannya masih,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya RT 2 RW 1, Desa Janggalan, belum lama ini.

Umi mengaku geram dengan pelaku yang berbuat iseng tersebut. Menurutnya, pakaian yang diambil pelaku sebagian dibuang di area persawahan, kolam lele, selokan dan di atap rumah. “Pakaian saya yang hilang ada sekitar 30,” jelasnya.

Karena pakaian hilang, anaknya Darul Ilmi (8) tidak bisa masuk sekolah di SDN 2 Purwosari. Menurutnya, seragam yang akan dikenakan anaknya untuk sekolah belum juga ketemu. “Tadi pagi sekitar 05.00 WIB saya keluar rumah. Saat buka pintu saya kaget seluruh baju di jemuran hilang. Saya teriak-teriak, eh malah hampir keseluruhan (warga),” terangnya.

Menurutnya, kejadian ini baru pertama kali. Di lingkungannya tinggal warga memang sering menjemur pakaiannya saat malam hari. Karena biasanya saat sore hari baju dicuci, dan paginya biasanya sudah kering. “Di sini sudah biasa menjemur pada malam hari. Biasanya juga tidak ada apa-apa,” tambahnya.

Solikin (65) tokoh desa setempat yang pernah menjabat sebagai Ketua RW 1 Desa Janggalan tak menampik adanya kejadian tersebut. Menurutnya, kejadian itu hampir merata di RW 1 Desa Janggalan. “Di RW 1 ada enam RT. Yang pakaiannya tidak hilang hanya di RT 5 saja. Jumlahnya ada 19 KK,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, kejadian hilangnya pakaian di jemuran diperkirakan dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB sampai 04.00 WIB. Hal tersebut dilakukan lebih dari dua orang. Seluruh pakaian yang ada di jemuran diambil dan dibuang di sawah, kolam lele, selokan air, atap rumah sampai di Taman Ganesha dan Mall Ada. Selain itu, juga ada ayam warga yang hilang namun ditemukan di Mall.

Dengan adanya kejadian tersebut pihaknya belum melaporkan kepada pihak yang berwajib. Menurutnya, dirinya masih perlu melakukan koordinasi internal warga untuk mencari tahu penyebab teror tersebut dilakukan. Dia mengaku, warga yang terkena teror tidak pernah berkonflik dengan desa atau kelompok lain. “Saya akui, di sini memang jarang ada siskampling,” tambahnya.

- advertisement -

Penerima Penghargaan Wanita Berprestasi Ini Hanya Tidur Tiga Jam Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Setelah mendapatkan penghargaan dari Bupati Kudus Musthofa, Nono Anik Sulastri terlihat berfoto dengan sejumlah undangan yang hadir. Dia Piagam Penghargaan Wanita Berprestasi Nomine Produk Unik Tingkat Nasional. Penghargaan itu diberikan saat upacara peringatan Hari Kartini ke-138 tahun 2017 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (21/4/2017).

Anik menunjukkan piagam perhargaan yang diterimanya saat Hari Kartini 2017_4
Anik menunjukkan piagam perhargaan yang diterimanya saat Hari Kartini. Foto: Imam Arwindra

Selain Anik, penghargaan juga diberikan dua wanita lainnya. Mereka yakni Kastini, penerima penghargaan kategori pengusaha hiasan berbahan aklirik dan Erwin Anjastuti wanita berprestasi penggerak pemberdayaan perempuan.

Baca juga: Kopi dan Teh Rempah Saqinano, Produk Kudus yang Memiliki Peminat Hingga ke Manca Negara

Setelah selesai berfoto bersama, Nono Anik Sulastri sudi berbagi cerita dengan Seputarkudus.com tentang penghargaan yang dia dapat. Menurutnya, kategori yang didapatkan dapat menciptakan produk unik tingkat Nasional. Dia membuat kopi dan teh rempah. Menurutnya, Kudus tidak hanya memiliki rokok dan jenang, tapi juga kopi. “Namun kopi yang saya buat ini unik, kopi rempah. Jadi minum jamu seperti minum kopi,” tuturnya sambil tersenyum.

Dia menceritakan, ide kopi rempah tersebut digelutinya sejak tahun 2011. Bersama suaminya Wachid Noor Rozaq, dia mendirikan brand bernama Saqinano. Selain kopi dan teh rempah, dirinya juga memproduksi roti kopi. Selain itu, dirinya juga sedang merambah produksi olahan ikan.

“Kopi yang digunakan kopi lokal (Kudus). Dan Kopi di Kudus bukan hanya di Muria (Desa Colo dan Desa Japan) saja. Melainkan ada juga di Desa Rahtawu dan Desa Ternadi,” terangnya.

Selain urusan bisnis, dirinya juga sering melakukan pendampingan masyarakat di Desa Ternadi dan Desa Rahtawu. Anik yang juga menjadi penggerak desa sadar wisata di Ternadi mengaku tempat di Desa Ternadi dan Rahtawu sangat indah dan wajib dikunjungi. Selain itu, ibu dua anak tersebut juga melakukan kampanye kepada masyarakat untuk memakan makanan sehat dan bergizi.

“Ini di Ternadi (Desa Ternadi) kemarin bersama masyarakat sekitar habis dapat penghargaan lomba desa dengan masakan Ikan Manyung,”tuturnya yang juga Koordinator Pengembangan Usaha Forum UMKM Jawa Tengah.

Anik sapaan akrabnya, mengaku untuk melakukan hal tersebut bukanlah perkara mudah. Dirinya harus membagi waktu antara menjadi ibu rumah tangga yang harus mengurus kebutuhan rumah dengan aktivitasnya yang lain. Menurutnya dalam 24 jam dirinya hanya tidur selama tiga jam saja.

“Tidak saya tidak pernah tinggalkan urusan rumah. Saya itu kalau tidur pukul 12.00 WIB dan bangun 03.00 WIB,” jelasnya yang tinggal Desa Bakalan Krapyak RT 7 RW 3, Kecamatan Kaliwungu, Kudus

Dirinya meyakini tubuhnya yang sehat selain untuk keluarga juga harus bermanfaat bagi orang lain. Suaminya pun diakui Anik sangat mendukung. Suaminya tidak pernah mengeluh dengan aktivitas istrinya yang dibilang ekstra. “Banyak orang di luar sana yang tidak memiliki tangan dan kaki ingin sekali membantu orang lain. Masa saya yang lengkap tidak memberikan manfaat untuk orang lain,” tuturnya sambil tersenyum.

Suami Anik, Wachid Noor Rozaq yang datang bersamanya mengakui, istrinya yakni wanita hebat. Selain tidak meninggalkan tugas utamanya, dirinya juga dapat bermasyarakat dan membangun bisnis. Menuturnya, dalam menjalankan produk kopi dan the rempah Saqinano, dirinya membantu di produksi saja. Untuk manajemen penjualan, istrinya yang menghandle. “Dia memang wanita hebat,” tuturnya sambil memegang kamera digital single lens reflex (DSLR).

Selain penghargaan dari Bupati Kudus, istrinya di antaranya juga pernah mendapatkan penghargaan serupa yakni produk unik dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan terpilih menjadi penyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Pertanian Kementrian Pertanian dan Kementrian Ketenagakerjaan. “Dia juga jadi ketua paguyuban pedagang car free day tiap minggu di alun-alun Kudus,” terangnya.

 

- advertisement -

Setelah Lulus Pendidikan, Shanta Mantap Membuka Salon Kecantikan Bermodal Rp 500 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Di tepi barat Jalan Lingkar Ngembal Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah salon kecantikan bercat putih. Di dalamnya terlihat seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna merah sedang melakukan treatmen pada pelanggannya. Perempuan tersebut bernama Shanta (23), pemilik dari salon kecantikan Shanta Beauty Center (SBC).

Shanta (tengah), pemilik Shanta Beauty Center (SBC)
Shanta (tengah), pemilik Shanta Beauty Center. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pelanggan, Shanta sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha salon kecantikan. Dia mengungkapkan, usaha salaon kecantikan miliknya buka sekitar tiga tahun yang lalu. Menurutnya, keinginan memiliki salon tersebut karena dirinya suka dengan kecantikan, dan menurutnya cantik itu tidak harus menggunanakan make up berlebih.

Baca juga: Shanta Beauty Center Klaim Sulam Bibir hingga Alis Tanpa Sakit dan Bengkak

“Untuk mewujudkan keinginanku tersebut aku menempuh pendidikan aestetika di Surabaya dan Jakarta. Di dua kota tersebut aku belajar banyak hal tentang kecantikan, sulam, penggunaan laser dan lainnya. Aku bersyukur orang tuaku juga sangat mendukung dan mau memberi modal sekitar setengah miliar rupiah untuk buka usaha salon kecantikan,” ungkapnya.

Warga Ngembal Kulon, Jati, Kudus itu mengatakan, uang tersebut digunakannya untuk membeli berbagai macam mesin, sulam, laser dan lainnya yang harga satu unitnya mencapai Rp 300 juta rupiah. Dan sisanya kata Shanta, untuk membangun tempat salonnya.

Pada awal buka dan untuk menggaet pelanggan datang ke SBC, dia mengaku melakukan berbagai macam promo dari sebar brosur, iklan radio, pasanga baliho, dan tentunya juga memasarkannya lewat media sosial. Selain itu, menurutnya, SBC juga sering mengadakan promo harga.

“Seperti salon kecantikan pada umumnya, kami melayani berbagai macam perawatan di antaranya, body treatment yang meliputi body massage, lulur full body, bleaching, waxing, ratus dan lainnya. Sedangkan face treatment terdiri dari aneka facial, totok aura, Radio Frekuensi (RF), chemical peeling, hingga terapi telinga,” ungkapnya.

Selain itu, kata Sahnta di SBC juga melayani berbagai macam treatment sulam, dan menghilangkan bulu secara permanen serta treatment menghilangkan tato. Dia mengaku tidak mematok harga mahal untuk semua treatment yang ada di salonnya. Selain harga yang terjangkau, kualitas layanan berbagai macam perawatan hasilnya juga dijamin memuaskan.

Di mengatakan, saat ini SBC sudah memiliki banyak pelanggan, dari para remaja hingga para ibu–ibu. Tuturnya, Shanta Beauty Center tercatat memiliki lebih dari 300 member. Untuk menjadi member tuturnya, para pelanggan yang bertransaksi minimal Rp 300 ribu otomatis menjadi member SBC.

Menurutnya, keuntungan menjadi member SBC yakni bisa mendapatkan potongan harga hingga 10 persen setiap melakukan perawatan dan pembelian produk SBC. kata dia, dari total member tersebut antara 20 sampai 50 pelanggan datang ke SBC setiap bulannya.

“Selain melayani berbagai macam perawatan, SBC juga menjual aneka produk kecantikan, serta produk perawatan rambut. Aku berharap usaha salon kecantikanku ini bisa makin berkembang dan makin dikenal serta memiliki banyak cabang,” ujar Shanta yang mengaku SBC dalam proses buka cabang di lantai dasar Mall Matahari Kudus.

- advertisement -

Shanta Beauty Center Klaim Sulam Bibir hingga Alis Tanpa Sakit dan Bengkak

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL KULON – Tangan seorang perempuan berbaju merah terlihat terampil memoles bibir seorang pelanggan. Beberapa kali dipoles, berangsur-angsur bibir pelanggan berubah warna sesuai, tinta yang dipoleskan meski sudah dibersihkan menggunakan tisu. Itu merukapan aktivitas sulam bibir di Shanta Beauty Center (SBC), yang menyediakan jasa sulam yang diklain tanpa sakit dan bengkak.

Sulam bibir di Shanta Beauty Center Kudus 2017_4
Sulam bibir di Shanta Beauty Center Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Shanta, pemilik dari SBC, mengungkapkan, selain menyediakan aneka perawatan rambut, kulit wajah, dan kulit badan, SBC juga menyediakan jasa aneka sulam, di antaranya sulam bibir, sulam alis, serta sulam eyeliner. Menurutnya, di SBC proses penyulaman tersebut dijamin tidak sakit dan bengkak.

“Selain ditangani oleh tenaga profesional, proses penyulaman di SBC juga ditunjang oleh bahan dan mesin yang berkualitas yang jarang dimiliki pusat kecantikan lainnya. Maka dari itu kami berani memberi jaminan sulam bibir, sulam alis dan sulam eyeliner di SBC tanpa bengkak dan tanpa sakit,” ungkapnya.

Warga Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu mengungkapkan, karena jaminan tanpa rasa sakit dan bengkak tersebut, Shanta mengaku sudah memiliki banyak pelanggan khusus sulam. Apalagi sekarang ini tren sulam sangat digemari para kaum hawa, remaja hingga ibu-ibu.

Selain memberi jaminan tanpa sakit dan bengkak, menurutnya SBC juga memtok tarif sulam dengan harga yang terjangkau yakni mulai Rp 900 ribu untuk sulam alis dan bibir. Sedangkan sulam eyeliner ditarif lebih mahal yakni Rp 1,2 juta.

“Dari harga tersebut dan jaminan tanpa rasa sakit, dalam sebulan aku mampu melayani tak kurang dari 22 orang pelanggan khusus sulam. Sedangkan untuk warna kami sepenuhnya mengikuti keinginan pelanggan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, selain sulam, Shanta Beauty Center juga menyediakan layanan laser hair removal untuk menghilangkan bulu secara permanen. Menurutnya, penghilangan bulu dengan menggunakan mesin laser tersebut selama enam kali dijamin bulu yang diinginkan akan hilang secara permanen dan tidak bakal tumbuh lagi.

“Untuk tarif menghilangkan bulu menggunakan laser aku mematok harga Rp 300 ribu sekali treatment. Dan itu harus diulang salam enam kali dalam jarak tempo sebulan sekali. Untuk hasil yang maksimal harus dilakukan tepat sebulan sekali jangan kurang dan lebih,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sama dengan sulam, proses penghilangan bulu di SBC menggunakan laser juga sama sekali tidak sakit. Menurutnya, selain melayani berbagai macam perawatan, Shanta juga melayani pelatihan aestetika, sulam dan laser.

“Untuk pelatihan kecantikan atau aestetika, aku mematok tarif mulai Rp 7 juta. Sedangkan pelatihan sulam dan penghilangan bulu menggunakan laser hair removal, aku membebankan biaya mulai Rp 10 juta. Tarif tersebut untuk pelatihan selama sepekan, dan dijamin bisa dan handal,” ungkap Shanta.

- advertisement -

Siswa Madrasah NU TBS Bagi-Bagi Sembako Murah Tanpa Memandang Status Agama

0

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Sejumlah ibu-ibu berkerumun memilih pakaian di halaman Masjid Attaqwa, Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Tak jauh dari kerumunan, di lapak Murah Gebyar Sandang, terlihat tumpukan sembako yang siap ditukarkan dengan kupon. Bazar dan Bagi-bagi sembako murah tersebut merupakan rangkaian kegiatan Bakti Sosial yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Madrasah NU TBS Kudus.

Siswa Madrasah NU TBS Kudus jual sembako murah di Rahtawu 2017_4
Siswa Madrasah NU TBS Kudus jual sembako murah di Rahtawu. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu di antara ibu-ibu yang datang ke acara tersebut, yakni Sri Patimah (37). Dia mengaku membeli celana kolor untuk anaknya. Karena mendengar ada bazar dengan harganya murah, dirinya kemudian datang dan membeli dua celana sekaligus. Selain membeli celana, dia juga menukarkan kupon dengan sembako murah.

Baca juga: Meski Gusinya Terluka, Farid Senang Bisa Ikuti Lomba Ambil Koin yang Diselenggarakan TBS

“Ini memeli celana untuk anak saya. Lumayan murah, jadi saya beli dua. Harga celananya Rp 5 ribu, karena membeli dua jadi Rp 10 ribu. Ditambah membayar sembako Rp 10 ribu, dapat beras, gula, dan mi. Saya senang ada yang jual murah-murah seperti ini,” ungkap ibu satu anak itu kepada Seputarkudus.com, Selasa (18/4/2017) siang.

Muhammad Nabil Fahmi (17), ketua panitia kegiatan, mengungkapkan, mereka membagikan sebaknyak 200 kupon sembako murah di tiga RT. Mereka dibantu Ansor Ranting Desa Rahtawu. Kegiatan bagi-bagi sembako murah ditujukan kepada seluruh masyarakat di desa setempat tanpa memandang setatus keagamaan.

Kegiatan tersebut, kata Nabil. sudah menjadi kegiatan rutin Madrasah NU TBS setiap tahun. Fokus dalam kegiatan bakti sosial kali ini melingkupi tiga bagian, yakni bagian keagamaan Islam, ekonomi dan pendidikan. Menurutnya, di antara tiga desa yang mereka survei, Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, dinilai paling tepat untuk kegiatan tersebut.

“Kami sudah survei di tiga tempat. Selain karena lokasinya yang jauh dari perkotaan, kami tertarik karena ada keberagaman beragama di sini. Ada tiga agama, Islam, Budha dan Kristen, semua toleran dan bermasyarakat dengan baik,” terang Nabil sapaan akrabnya.

Dia menambahkan, panitia mencari desa yang dinilai masih membutuhkan bantuan, lebih khususnya dalam bidang keagamaan. Mereka melakukan kegiatan di antaranya, pengajian dan diskusi Aswaja, khataman Al-Quran, mengirim doa untuk arwah jama’, kuliah tujuh menit (kultum) setiap pagi, pelatihan bilal, pelatihan rebana, mengajar di madrasah, dan pengajian Isro’ Mi’roj.

“Kegiatan ini kami laksanakan mulai 16 April 2016 hingga 20 April 2017. Selain membuat kegiatan keagamaan, kami juga ada kegiatan bersih-bersih Desa, pembenahan masjid, penyuluhan perkebunan, lomba anak-anak, bazar murah, bagi-bagi buku dan sembako murah. Kami mempersiapkan kegiatan ini selama tiga bulan, dan semua berjalan dengan lancar. Hanya ada sedikit kendala transportasi, karena jalan yang sempit untuk mobil lewat,” tambah pria asli Demak itu.

 

- advertisement -

Meski Gusinya Terluka, Farid Senang Bisa Ikuti Lomba Ambil Koin yang Diselenggarakan TBS

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENAWAN – Riuh sorak-sorak penonton terdengar menyemangati peserta lomba ambil koin di Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu, Kecamatan Menawan, Kudus. Seorang anak laki-laki dengan mulut berlumuran kecap sedang berusaha mengambil sejumlah uang koin yang ditancapkan di buah pepaya. Lomba itu diselenggarakan saat acara Bakti Sosial Persatuan Pelajar Madrasah NU TBS Kudus.

Peserta berusaha mengambil koin dari pepaya dalam lomba 2017_4
Peserta berusaha mengambil koin dari pepaya dalam lomba. Ahmad Rosyidi

Muhammad Abdul Farid (8) adalah satu di antara sejumlah anak yang mengikuti acara tersebut. Dia mengaku senang mengikuti lomba, meski gusinya terluka. Farid begitu dia akrab disapa, mengatakan, itu terjadi karena terlalu bersemangat. Koin yang ditancapkan di buah pepaya, bergerak-gerak karena digantung dan sempat menghantam gusinya. Meski begitu dia tetap senang, dan berhasil mengumpulkan tujuh uang koin.

“Saya senang, bisa ikut main dan lolos kebabak selanjutnya. Gusi saya berdarah karena terkena uang koin yang gerak-gerak. Saya terlalu bersemangat, karena ingin cepat mendapat koin, tapi malah semakin goyang-goyang buah pepayanya,” ungkapnya sambil menunjukan gusinya yang luka, saat digelarnya acara, Selasa (18/4/2017) siang.

Setelah mengikuti lomba mengambil koin, Farid akan ikut lomba pecah balon. Dia juga yakin bisa memecahkan balon dengan cepat. “Saya pasti bisa memecahkan balonnya,” seru Farid dan disambut dengan tawa teman-temannya.

Muklis Muafianto (11), teman Farid yang juga menjadi peserta, merasa puas bisa mengambil Sembilan koin. Dia merasa tidak ada kesulitan, dan sudah siap melaju kebabak selanjutnya. “Tadi lancar-lancar saja, dan saya sudah siap ke babak selanjutnya. Saya senang ada lomba-lomba seperti ini, jadi seru, bisa kumpul ramai-ramai,” ungkap Muklis.

Muhammad Nabil Fahmi (17), ketua panitia kegiatan, menjelaskan, acara lomba tersebut adalah rangkaian kegiatan Bakti Sosial Persatuan Pelajar Madrasah NU TBS Kudus. Dia merasa senang karena perlombaan yang diikuti puluhan anak-anak tersebut berjalan dengan lancer dan sangat meriah.

“Anak-anak di sini semangat mengikuti lomba, jadi sangat meriah. Semua peserta lomba kami bagikan makanan ringan, biar tidak kecewa ketika kalah, karena masih senang dapat jajan. Dan untuk pemenang kami sudah menyiapkan hadiah berupa perlengkapan sekolah,” terang Pria yang akrab disapa Nabil itu.

- advertisement -

Sebelum Sukses dengan Mi Setan, VJ Harus Jatuh Bangun dengan Banyak Usaha yang Gagal

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Di tepi Jalan Kampus UMK, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, tampak bangunan dengan dinding bercat hitam. Di dalam bangunan tersebut tampak beberapa orang sedang sibuk mengantarkan aneka menu kepada para pelanggan, yang saat itu memenuhi hampir semua tempat duduk yang tersedia. Di kasir telihat seorang perempuan mengenakan kaus oblong warna hitam sedang melayani pemesan. Perempuan tersebut bernama Ana Puji Lestari (23) pemillik Cafe Mungil VJO Mi Setan.

Ana Puji Lestari (kaus hitam) sedang melayani pembeli
Ana Puji Lestari (kaus hitam) sedang melayani pembeli. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab disapa VJ itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan membuka usaha kuliner yang diberi nama Cafe Mungil VJO Mi Setan pada tahun 2015. Namun usaha kuliner dijalaninya secara tak sengaja, karena dirinya sebenarnya bercita-cita memiliki usaha distro. Namun karena tidak punya modal, setelah lulus sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) tahun 2007, dia lalu kerja kepada orang.

Baca juga: Menyajikan Menu Pedas Berlevel, Omzet Cafe Mungil Tak Seimut Tempatnya

“Waktu itu aku kerja di konter selama setahun dengan gaji Rp 250 ribu per bulan. Setelah setahun bekerja aku memutuskan keluar dan pindah kerja di rumah makan di Pati. Namun karena tidak kerasan dua hari aku langsung keluar. Setelah keluar, dengan modal Rp 1 juta hasil kerja di konter selama setahun itu aku buat modal usaha olshop pakaian pria dan jualan pulsa,” ungkapnya saat ditemui belum lama ini.

Warga Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus itu mengungkapkan, saat itu usaha olshopnya lumayan laris, sehari bisa menjual sekitar 10 pcs. Dan usaha penjualan pulsanya juga punya banyak pelanggan, terutama tetangga dan temannya. Karena ingin cepat mendapatkan modal usaha, pada tahun yang sama, dia menerima tawaran kerja di distro di desanya.

Menurutnya, selain ingin dapat tambahan penghasilan, bekerja di distro itu juga agar dirinya bisa mendapatkan pengalaman mengelola usaha distro. Dia mengaku bekerja di distro selama dua setengah tahun. Setelah itu dia kerja pada penjual jus buah. Namun karena tidak cocok dengan pemiliknya, dia memutuskan untuk keluar.

“Dari penghasilan kerja yang aku tabung, dan jualan olshop serta pulsa aku punya tabungan Rp 6 juta. Karena nominal tersebut masih kurang untuk buka distro, lalu aku mulai usaha berjualan jus buah,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah menikah enam bulan lalu itu mengatakan, berjualan jus buah selama dua bulan. Dan selama itu dia mengaku rugi dan modalnya hanya tersisa Rp 2 juta. Setelah itu, untuk memutar uangnya lagi VJ buka usaha patungan bersama temannya dengan membuka semacam terminal es. Namun sayang, usaha tersebut gagal total dan uangnya habis.

“Setelah modal awal habis, aku mulai usaha lagi berjualan jus buah di depan UMK dengan modal dari jualan olshop sebesar Rp 1 juta. Namun karena ada masalah, saya diusir. Padahal waktu itu jualan jus buahku lumayan laris. Setelah itu aku mencoba peruntungan dengan menjual nasi goreng,”

Dia mengatakan, awal jualan nasi goreng itu lumayan laris, bahkan bisa meraup omzet Rp 1,5 juta sehari. Namun karena panasnya, persaingan akhirnya jualan nasi gorengnnya sepi pembeli. VJ kemudian berinisiatif berjualan mi setan di depan Kampus UMK dengan harga Rp 5 ribu seporsi. Menurutnya, inspirasi itu timbul karena anak muda saat ini gemar dengan masakan pedas.

“Mi Setan jualanku sangat diminati mahasiswa. Dan pelangganku juga sudah banyak. Karena tempat jualanku dulu sangat sempit dan kecil lalu aku namakan Cafe Mungil VJO Mi Setan. Di tempat mungil tersebut aku mampu menjual 100 porsi mi setan sehari,” ungkapnya.

- advertisement -

Menyajikan Menu Pedas Berlevel, Omzet Cafe Mungil Tak Seimut Tempatnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Puluhan kendaraan roda dua tampak terparkir di halaman kafe di Jalan UMK Desa Gondangmanis, Kecamatan Undaan, Kudus. Terlihat beberapa orang keluar dan masuk bangunan berdinding warna hitam tersebut. Di dalamnnya terlihat sejumlah pengunjung sedang asyik menyantap hidangan, dan sebagian lainnya sedang menunggu hidangan sembari selfi serta ngobrol bersama temannya. Kedai tersebut yakni Cafe Mungil VJO Mi Setan, yang menghidangkan aneka masakan pedas berlevel.

Cafe Mungil VJO Mi Setan Jalan UMK, Kudus 2017_4
Cafe Mungil VJO Mi Setan Jalan UMK, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Ana Puji Lestari (23) pemiliki Cafe Mungil VJO Mi Setan sudi berbagi penjelasan tentang kedainya tersebut. Dia mengungkapkan, kafenya tersebut menyajikan aneka masakan unggulan yang memiliki rasa ekstra pedas. Rasa pedas  yang disajikan memiliki level. Level pedas tertinggi yang ditawarkan kepada pengunjung mencapai hingga level 100.

“Setiap level itu takarannya satu sendok sambal cabai setan. Dan setiap naik level berarti tambah takaran cabainya. Jadi saat ada pelanggan ada yang berani pesan menu dengan pedas level 100, berarti masakan tersebut dikasih 100 sendok,” jelas perempuan yang akrab disapa VJ kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Cendono, Dawe, Kudus itu mengatakan, sejak buka pada tahun 2016 di depan kampus Universitas Muria  Kudus (UMK), dan sekarang pindah di sebelah timur kampus, belum pernah ada satupun pelanggan yang berani mencoba pedas level 100. Menurutnya, paling banyak dipesan pelanggan itu level satu hingga enam.

“Meski belum pernah ada yang mencoba menu dengan tingkat kepedasan level 100, namun pernah ada pelanggan yang memesan menu dengan kepedasan level 31, 60 , bahkan ada yang nekat sampai menghabiskan mi setan level 80,” ujarnya.

Perempuan yang melepas masa lajangnya enam bulan lalu itu mengungkapkan, Cafe Mungil menyediakan aneka menu di antaranya, Mi Setan, Mi Iblis, Mi Malaikat, Mi Bentrok, yang dijualnya dengan harga Rp 6 ribu seporsi. Untuk ukuran jumbo ditawarkan dengan harga Rp 11 ribu seporsi.

Selain itu, Cafe Mungil juga menyediakan aneka mi goreng, nasi ayam geprek, aneka nasi goreng, serta mi kuah yang dijual antara Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu seporsi. Menurutnya aneka menu tersebut bisa disajikan dengan rasa original dan pedas berlevel sesuai pesanan pelanggan.

“Sebegai penawar pedas kami juga menyediakan aneka minuman, di antaranya, Es Pocong, Es Tuyul, Es Sundel Bolong, Es Genderuwo. Selain itu kami juga menyediakan es capucino, es coklat, es sirup, es jeruk dan es teh,” urainya.

Dia mengatakan, dia pindah di sebelah timur kampus atas saran pelanggan, karena tempatnya yang sempit, Cafe Mungil tidak pernah sepi pembeli. bahkan dia mengaku, mampu menjual aneka menu disajikan di Cafe Mungil sekitar 600 porsi sehari dan mampu meraup omzet sekitar Rp 3 juta sehari.

“Itu omzet rata-rata sehari, sedangkan sebulan aku mampu mendapatkan omzet sekitar Rp 70 juta. Kami berjualan sepekan enam hari, Minggu kami libur,” ungkapnya.

Dia berharap aneka menu di Cafe Mungil makin diminati banyak orang dan kelak bisa makin berkembang dan membuka cabang. “Sebenarnya sudah ada beberapa orang yang datang untuk menawarkan kerjasama. Namun aku tolak, sebelum aku punya cabang di lain daerah,” ungkapnya.

- advertisement -

Belasan Tahun Atun Rela Jadi Juru Parkir Demi Biayai Anaknya Hingga Perguruan Tinggi

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Seorang perempuan berambut sepunggung tampak memberi aba-aba pada pengendara di Jalan Johar, kemarin. Dengan mengenakan baju biru dan celana merah, dia tampak mahir mengarahkan pengendara yang hendak parkir di kawasan tersebut. Dia yakni Mistakhiyatun (42), yang belasan tahun menjadi juru parkir demi pendidikan anak-anaknya.

Atun sedang menjalani pekerjaannya sebagai juru parkir di Jalan Johar 2017_4
Atun sedang menjalani pekerjaannya sebagai juru parkir di Jalan Johar. Foto: Rabu Sipan

Usai memberi aba-aba pada pengendara, perempuan yang akrab disapa Atun itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkduds.com tentang pekerjaannya menjadi juru parkir. “Aku jadi juru parkir sekitar 15 tahun. Saat itu aku ingin membantu suamiku yang juga menjadi juru parkir. Namun beberapa tahun belakangan suamiku kena penyakit diabetes,” ungkap Atun yang menjadi juru parkir di tiga toko yang berada di tepi Jalan Tanjung Desa Kramat, Kota, Kudus.

Warga Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus itu mengatakan, meski lazimnya pekerjaan menjadi juru parkir dikerjakan pria, namun dirinya merasa tidak malu ataupun canggung. hal tersebut demi keluarganya.

Dia mengungkapkan, tidak mematok harga tertentu untuk ongkos parkir di depan tiga toko dirinya bertugas. Dia mengaku menerima imbalan seikhlasnya dari para pengendara pelanggan tiga toko tersebut. Menurutnya dengan keiklasan para pengunjung toko tersebut, dia berharap bisa diberi keberkahan.

“Menjadi juru parkir itu penghasilannya tidak tentu. Saat ramai aku biasanya mampu mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu sehari. namun saat sepi penghasilanku kurang dari nominal tersebut, apalagi saat hujan, dapat Rp 25 ribu sehari itu sudah bagus,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, dari penghasilannya yang tidak seberapa itu, kini dia mampu menyekolahkan anak sulungnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Demi bisa membiayai anaknya mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi tersebut, dia bersama suaminya terkadang harus menahan lapar.

Menurutnya, hal tersebut harus dilakukannya agar tetap bisa menabung dan ketiga anaknya bisa makan serta mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi semua. Dia mengaku, bersama suaminya bertekad menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus kuliah meski hanya mengandalkan penghasilan dari juru parkir.

“Dengan mampu menyekolahkan ketiga anaku hingga lulus kuliah, aku berharap mereka tidak mengalami nasib sama seperti orang tuanya yang miskin, bodoh, dan hanya jadi tukang parkir. Aku berharap, kelak anaku mampu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dan semoga saja suamiku juga cepat sembuh dan bisa bekerja lagi mencari uang untuk biaya sekolah anak kami” harapnya.

- advertisement -

MNC Sky Vision Cabang Kudus Berikan Garansi Alat Seumur Hidup

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Sejumlah kendaraan terlihat berlalu lalang melintasi Jalan Jendral Sudirman. Di ujung selatan jalan, tampak beberapa ruko berlantai dua berjajar menghadap ke utara, tepatnya ruko di Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus. Satu di antara ruko merupakan kantor MNC Sky Vision, yang melayani jasa pemasangan televisi berbayar Okevision, Top televisi (TV) dan Indovision.

HRD Skyvision Kudus, Deny Setiabudi Foto Sutopo Ahmad
HRD Skyvision Kudus, Deny Setiabudi. Foto: Sutopo Ahmad

Menurut HRD PT MNC Sky Vision Tbk, Cabang Kudus, Deny Setiabudi (25), dalam memberikan pelayanan terbaik, pihaknya memberikan garansi alat seumur hidup bagi konsumen. Garansi itu diberikan dengan catatan konsumen masih setia berlanggan dengan stasiun televisi yang diklaim terbesar dan terlama tersebut.

Baca juga: Pelanggan Terbanyak Indovision Cabang Kudus Justru dari Pati dan Jepara, Lho Kok Bisa?

“Salah satu pelayanan terbaik dari kami, konsumen yang masih berlangganan, kami berikan garansi alat seumur hidup. Untuk alat, konsumen tak perlu susah payah untuk membeli, cukup dengan rutin membayar iuran setiap bulan, alat akan kami pinjami. Sedangkan untuk pemasangan alat, semua gratis tidak dipungut biaya sama sekali,” ungkap Deny begitu akrab disapa kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Pasuruan Lor RT 2 RW 1, Kecamatan Jati, Kudus, ini menjelaskan, alat yang nantinya dipinjamkan bagi konsumen yang berlangganan di antaranya ada decorder digital. Menurut dia, alat itu berfungsi mengembalikan sinyal dari bentuk teracak ke bentuk semula, sehingga dapat dinikmati oleh konsumen. Untuk mengakses dan membuka kode tayang sehingga tayangan menjadi aktif, dia mengaku memberikan alat berupa viewing card.

“Selain alat itu, nanti konsumen juga akan kami pinjami konektor sebagai alat menyambung hantaran listrik, kabel 20 meter, remote control serta alat mini out door unit. Fungsi dari alat, nantinya sebagai penerima sinyal yang dilengkapi dengan low noise block feed horn (LNBF) yang dipasang pada para bola mini berdiameter 80 sentimeter,” ujar Deny yang mengenakan kaus berkerah warna abu-abu memakai kaca mata.

Dia menambahkan, terkait dengan cara dia mengenalkan televisi berbayar kepada konsumen, pihak dia melakukan berbagai langkah pemasaran. Di antaranya, membagikan brosur, memperkenalkan produk melalui penjual alat-alat elektronik dengan cara menanyangkan program televisi maupun pemasaran secara door to door. Menurutnya, pemasaran itu dilakukan di sebuah komplek perkantoran dan perumahan.

“Selain itu, paling hanya menunggu konsumen yang datang. Terkait dengan cara berlangganan cukup mudah, konsumen tinggal foto copy kartu tanda penduduk (KTP), nanti akan di verifikasi oleh kantor pusat dan besok bisa dilakukan pemasangan,” ungkap Deny yang mengaku sebagai karyawan di tempat itu sudah selama 10 bulan.

- advertisement -