Beranda blog Halaman 1901

Keluar Kerja Karena Ingin Jadi Suami Siaga, Agus Malah Bisa Buka Usaha Pelatihan Setir Mobil

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Dua mobil tampak terparkir di tepi Jalan HOS Cokroaminoto Kelurahan Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kudus. Kendaraan roda empat tersebut terparkir di depan Lembaga Pendidikan Keahlian (LPK) Arra Corses. Di dalamnya tampak seorang pria memakai kemeja lengan pendek sedang mengamati seorang perempuan sedang melayani pelanggan. Pria tersebut bernama Agus Suprayitno (25), pemilik lembaga tersebut.

Agus Suprayitno, pemilik Arra Courses setir mobil 2017_4
Agus Suprayitno, pemilik Arra Courses setir mobil. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Agus itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha lembaganya itu. Dia mengungkapkan, mulai buka usaha pelatihan sopir itu Bulan Agustus 2016. Niat awal membuat lembaga itu, dirinya ingin menjadi suami siaga.

“Saat aku menikah pada tahun 2015 dan istriku hamil setahun berikutnya, aku lalu memutuskan keluar dari kerjaan agar aku bisa siaga, menjaga, menemani dan mengantar istriku kemana saja. Karena menganggur dan tidak ada penghasilan, lalu aku berinisiatif membuka pelatihan sopir memanfaatkan mobil yang aku miliki saat masih lajang,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, itu mengatakan, saat itu belum menyewa tempat untuk kantor. Agus hanya mengabari para koleganya melalui HP, bahwa dirinya menerima privat pelatihan sopir mobil. Menurutnya, responnya bagus saat ada saudara dan teman para pelangganya tersebut yang ingin belajar menyetir dikenalkan padanya.

“Sebelumnya saya bekerja di lembaga serupa selama lima tahun. Intinya pada waktu itu, istilahnya aku menjemput bola. Terkadang juga menawari teman, saudara yang ingin bisa menyetir bisa aku bimbing. Selain itu aku juga mempromosikan di Facebook. Karena memang tidak punya kantor dan keterbatasan modal, jadi promosi ya dari mulut ke mulut,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, setelah berjalan sebulan dan sudah memiliki kepercayaan dari pelanggan, dirinya mengaku menyewa tempat untuk kantor. Demi keinginannya tersebut, dia mengeluarkan modal hingga Rp 100 juta, untuk menambah armada dan sewa tempat.

“Total uang tersebut hasil dari aku menabung selama bekerja dan patungan dari istriku. Aku bersyukur sejak ada kantor, usaha LPK setir mobilku mulai dikenal. Sekarang aku sudah memiliki lebih dari 100 member,” ungkap Agus yang memberi nama usahanya Arra Courses.

Dia mengungkapkan, melayani kursus setir mobil dengan dua intruktur berpengalaman, dengan biaya yang terbagi dalam beberap paket. Di antaranya, paket biasa dengan tarifnya Rp 300 ribu latihan selama empat jam. Paket ekonomis pertemuan delapan jam dengan biaya Rp 500 ribu. Sedangkan paket privat biayanya Rp 640 ribu untuk 12 jam.

“Ada juga paket khusus seharga Rp 70 ribu sejam. Lama waktu pertemuan bisa disesuaikan, sesuai keinginan pelanggan. Begitu juga dengan jadwal, kami sangat fleksibel. Itu semata-mata demi kenyamanan dan kepuasan para pelanggan,” ungkapnya.

- advertisement -

Kios Belum Teraliri Listrik PLN, Saiful Kerepotan Beli Bensin dan Sewa Genset Rp 25 Ribu Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Suara genset terdengar dari ruko utara Pasar Baru Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak beberapa pedagang sedang menjahit karung yang sudah diisi beras. Alat jahit beras tersebut terhubung dengan listrik yang bersumber dari genset. Menurut pedagang beras Muh Saiful (32), di kios Pasar Baru yang ditempatinya belum ada instalasi listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Aktivitas pedagang beras di ruko utara Pasar Baru Wergu Wetan 2017_4
Aktivitas pedagang beras di ruko utara Pasar Baru Wergu Wetan. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, selama berdagang di Pasar Baru selama dua pekan lebih, dirinya mengandalkan genset untuk mengoperasikan alat jahit karung dan timbangan beras digital. Dia mengaku sangat sangat kerepotan dengan belum tersedianya jaringan listrik dari PLN yang terhubung di kios yang ditempatinya. “Pokoknya ribet. Dan tentunya boros,” ungkapnya saat ditemui di kios nomor 94, Rabu (26/4/2017).

Sambil duduk di depan rukonya, Saiful memberitahukan, semua kios pedagang beras yang berada di ruko utara belum teraliri listrik dari PLN. Para pedagang beras mengandalkan genset untuk mengoperasikan peralatan. Menurut Saiful, tidak semua pedagang beras mempunyai genset. Pedagang yang tidak memiliki genset harus menyewa milik pedagang lain, agar aktivitas perdagangan bisa berjalan.

“Kalau punya sih enak. Yang tidak punya harus menyewa Rp 10 ribu. Bensin tanggung sendiri,”  jelasnya yang berasal dari Desa Temulus, Kecamatan Mejobo.

Saiful melanjutkan, untuk kios bagian selatan dan beberapa los dekat dengan kantor pasar semua sudah teraliri listrik dari PLN. Dia mengaku tidak tahu menahu kenapa hal tersebut bisa terjadi. Yang jelas, diketahuinya Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus menjanjikan setelah Lebaran, kios bagian utara akan diberi jaringan listrik. “Katanya setelah Lebaran listrik sudah ada. Namun ya saya tidak tahu bagaimana nantu,” ungkapnya sambil mengehela nafas.

Saiful menuturkan, alat jahit karung memiliki daya listrik sekitar 250 watt. Sedangkan alat timbang digital hanya memiliki daya listrik 50 watt yang dicas sepekan dua kali. “Kalau genset yang saya gunakan berdaya 900 watt. Satu hari kira-kira butuh dua liter bensin,” tambahnya.

Dia membandingkan, penggunaan genset dengan listrik dari PLN. Menurutnya, jika menggunakan listrik dari PLN, setiap harinya dia memperkirakan mengeluarkan uang sekitar Rp 2 ribu untuk listrik. Sedangkan, genset setiap harinya dia mengeluarkan uang sekitar Rp 15 ribu untuk beli bensin dan Rp 10 ribu untuk sewa.

“Kalau pakai alat jahit, satu menitnya bisa empat zak (karung). Kalau manual pakai tangan tiga menit baru dapat satu (karung),” ungkapnya  yang dulu pernah berjualan di Pasar Wergu Jalan Johar.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Dinas Perdangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus Andy Imam Santoso saat ditemui di ruangannya, menuturkan, untuk pemasangan instalansi listrik dilakukan secara mandiri oleh pedagang Pasar Baru. Menurutnya, di manapun lokasi pasarnya, untuk listrik pedagang sendiri yang memasang.

“Dinas sudah menghibahkan kios tersebut kepada pedagang. Jadi untuk listrik dipasang sendiri dengan datang ke PLN. Logikanya, namanya yang tertera pada meteran listrik ya nama pedagang, bukan Dinas Perdagangan,” ungkapnya.

Adanya tiang listrik di sisi selatan Pasar Baru, tuturnya, karena para pedagang di sisi selatan dan beberapa los yang teraliri listrik sudah mengajukan pemasangan listrik ke PLN. Menurutnya, jika pedagang di sisi utara juga mengajukan ke PLN tentu akan segera di pasang jaringan listriknya.

Dijelaskan, lambatnya istalansi listrik di Pasar Baru bagian utara, juga dipengaruhi tiang listrik dari PLN belum tersedia. Menurut Andy pihaknya akan mengupayakan untuk meminta PLN segera memasangnya di sisi utara pasar. “Untuk pal (tiang) listrik itu kewenangan PLN. Kami hanya bisa menyediakan jaringan saja. Untuk pemasangan listrik dilakukan sendiri oleh pedagang,” tuturnya.

- advertisement -

Puas dengan Hasilnya, Pekerja Salon di Pati Ini Pilih Perawatan Rambut di Salon Yanti

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Beberapa perempuan tampak melakukan perawatan rambut di Salon Yanti yang berada di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Di antara prermpuan yang melakukan perawatan rambut itu, terlihat seorang perempuan mengenakan jaket jeans dengan rambut tergelung ke atas. Perempuan itu bernama Valentina Yeni (30), yang mempercayakan perawatan rambut ke Salon Yanti karena cocok dengan pelayanan dan hasilnya.

Valentina Yeni melakukan perawatan rambut di Salon Yanti 2017_4 (2)
Valentina Yeni melakukan perawatan rambut di Salon Yanti. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut perempuan yang akrab disapa Valen itu sudi berbagi serita kepada seputarkudus.com tentang perawatan rambut yang dilakukannya. Dia mengungkapkan, berlangganan di Salon Yanti sejak dua tahun silam. Menurutnya, sejak berlangganan dirinya sudah tidak pernah berpaling dengan melakukan perawatan rambut di tempat lain.

Baca juga: Tak Ingin Bebani Suami, Yanti Buka Salon Sejak Masih Single

“Padahal aku juga kerja di salon di Pati. Namun karena sudah cocok dengan pelayanan serta hasil dari perawatan rambut di sini (Salon Yanti), jadi aku mempercayakan perawatan rambutku di sini. Pokoknya perawatan rambut di Salon Yanti hasilnya oke dan sangat memuaskan,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, selain hasilnya yang memuaskan. Menurutnya, harga perawatan rambut di Salon Yanti juga relatif terjangkau. Karena harga perawatan rambut di salon di seluruh Kudus hampir sama. “Yang membedakan itu memang pelayanan dan hasilnya, harga itu hampir merata sama di Kudus,” ucapnya.

Dia mengatakan, sudah sering melakukan perawatan rambut di Salon Yanti. Saking seringnya sudah tak terhitung lagi berapa kali dirinya melakukan perawatan rambut di sana. Dia mempercayakan perawaatan rambut di Salon Yanti dari hairmask, creambath, rebonding, pewarnaan dan lainnya.

“Aku setiap datang ke Salon Yanti itu hari Jumat. Karena salon tempat kerjaku di Pati itu liburnya hari Jumat. Setidaknya sebulan sekali aku datang ke Salon Yanti untuk melakukan perawatan,” ungkap perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Menurut Nuryanti (37), pemiliki dari Salon Yanti menuturkan, dirinya memang sangat mengutamakan pelayanan para pelanggan. Selain itu dia juga memperhatikan hasil agar tidak ada satupun pelanggannya yang kecewa dengan hasil perawatan di Salon Yanti. Karena diakui selain tidak pernah promo harga, pengenalan Salon Yanti itu dari hasil yang dikabarkan dari mulut ke mulut para pelanggan.

Alhamdulillah sampai saat ini belum ada satupun pelanggan yang komplain dengan hasil perawatan dan pelayanan di sini. Dan semoga ke depannya aku dengan dibantu dua karyawanku selalu bisa memberikan yang terbaik kepada para pelanggan,” ujar perempuan yang akrab disapa sama dengan nama salonnya tersebut.

- advertisement -

Duku Sumber Buah Asli Kudus Pertama Kali Ditanam Kiai Mukharam, Prajurit Mataram

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Akar pohon duku di Dusun Sumber Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus terlihat menyebar tak beraturan. Dahannya yang rindang dengan daun yang lebar meneduhi apa pun benda yang berada di bawahnya. Pohon duku tersebut tumbuh di pekarangan dekat rumah warga. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama pohon duku Sumber. Buah yang dihasilkan banyak yang mengatakan lebih unggul dibanding duku dari tempat lain.

Penjual buah duku Sumber di Desa Hadipolo, Kudus 2017_4
Penjual buah duku Sumber di Desa Hadipolo, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Tak sembarang orang yang membawa bibit pertama kali di dusun tersebut. Diceritakan Solikin (56) Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jaya Makmur Desa Hadipolo, bibit pohon Duku Sumber pertama kali dibawa oleh Kiai Mukharam, seorang prajurit dari kerajaan Mataram. Menurutnya, karena jasanya dia mendapatkan hadiah dua buah bibit pohon duku dari Kerajaan Mataram.

Baca juga:

Saat melakukan perjalanan, dia beristirahat di lokasi cikal bakal Dukuh Sumber. Di sanalah dia menanam kedua pohon tersebut. Namun pada akhirnya dia dikenal menjadi tokoh yang babat alas dukuh tersebut. “Kiai Mukharam sosok yang babat alas Dukuh Sumber. Dan kedua pohon ditanam di Dukuh Sumber,” ungkapnya saat ditemui dikediamannya, beberapa waktu lalu.

Sekarang kedua pohon tersebut sudah tidak ada. Lokasi yang dulu ditumbuhi pohon duku sudah beralih menjadi rumah warga. Namun anak cucunya sempat membibitkan pohon, dan sampai sekarang masih dapat dinikmati. Solikin menuturkan duku yang berasal dari Dukuh Sumber Desa Hadipolo dikenal orang dengan sebutan duku Sumber. Menurutnya, secara kualitas duku ini memiliki rasa lebih manis, harum dengan daging tebal dan biji kecil.

“Duku Sumber juga memiliki ukuran lebih besar, tiga sampai empat sentimeter. Duku Sumber kualtitasnya lebih bagus ketimbang dengan duku dari daerah lain,” tambahnya.

Sementara itu, pengurus Gapoktan lainnya, Suparto Mutohar, menambahkan, buah duku Sumber awal bulan Maret 2017 lalu mendapatkan juara dua dan tiga Festival Buah Jawa Tengah 2 yang digelar di Halaman Pendopo Gubernur Jawa Tengah. Tidak bisa mengalahkan duku dari Karanganyar karena Duku Sumber yang dilombakan dengar kabar terdapat bercak hitam pada kulit luar duku. “Mungkin saat yang dibawa ada bercaknya. Namun saya yakin kalau soal rasa Duku Sumber tidak tertandingi,” ungkapnya.

Suparto menuturkan, pohon duku Sumber ditanam di pekarangan rumah. Jika ditanam di perkebunan atau sawah akan gampang mati karena kadar airnya terlalu banyak. Selanjutnya, harga jual Duku Sumber dari petani yakni Rp 25 ribu per kilogram. Jika sudah di toko akan naik menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Menurutnya, selama ini Duku Sumber paling banyak dikirim ke Jakarta. “Kalau model tebas antara Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Ada juga yang sampai Rp 9 juta,” terangnya.

Solikin menambahkan dalam satu pohon yang sudah berumur di atas 10 tahun terdapat sekitar empat kwintal lebih buah duku. Menurutnya, buah tersebut hanya dipanen satu tahun sekali. Bisa dua tahun sekali, namun efeknya pohon akan cepat mati. “Buah Duku Sumber sudah banyak dikenal orang. Semoga terus dibudidaya, karena tumbuhan asli Dusun Sumber ini tergolong sulit perawatannya,” ungkapnya.

- advertisement -

Ingin Pijat Sekaligus Perawatan Wajah dan Telinga, Pondok Bugar Reflexology Tempatnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Beberapa sepeda motor terparkir di depan ruko di Jalan HM Basuno Keluarahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Di dalam ruko berlantai dua tersebut terlihat seorang terapis sedang memijat kaki pelanggan. Tempat tersebut merupakan tempat pijat Pondok Bugar Reflexology  yang selalu ramai dikunjungi pelanggan, 30 orang datang setiap hari.

Pengunjung sedang melakukan pijat kaki di Pondok Bugar Reflexologi 2017_4
Pengunjung sedang melakukan pijat kaki di Pondok Bugar Reflexology. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Darmoyo (25) pengelola Pondok Bugar, mengungkapkan, sejak buka dua tahun lalu, tepatnya pada tahun 2015, pihaknya sudah memiliki banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya orang Kudus saja melainkan juga ada yang datang dari dareah lain, di antaranya Blora, Demak, Jepara dan lainnya.

“Sejak buka hingga sekarang, Pondok Bugar Reflexology sudah memiliki hingga 200 orang lebih. Dan dari seluruh member tersebut setiap harinya sekitar 30 orang datang untuk melakukan treatment reflexologi di Pondok Bugar,” ungkap pria yang akrab disapa Yoyok saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang asal Wonosobo itu mengatakan, jumlah pengunjung yang disebutkannya itu saat ramai. Sedangkan saat sepi Pondok Bugar Reflexiolgi mendapat kunjungan sekitar 20 pelanggan. Menurutnya, selain menerima perawatan pijat, ihaknya juga melakukan perawatan lainnya.

Yoyok merinci, perawatan yang tersedia di Pondok Bugar di antaranya foot reflexologi atau biasa disebut pijat kaki. Biaya perawatan ini ditarif Rp 40 ribu untuk waktu 60 menit. Sedangkan untuk waktu 90 menit harganya Rp 60 ribu dan 120 menit dibebankan biaya Rp 75 ribu. Selain itu Pondok Bugar juga menyediakan layanan pijat seleuruh tubuh (body massage) yang ditarif Rp 60 ribu untuk durasi 60 menit. Untuk durasi 90 menit dibebankan biaya Rp 90 ribu sedangkan untuk jangka waktu 120 menit tarifnya Rp 115 ribu.

“Selain pelayanan massage itu, Pondok Bugar juga melayani terapi telinga ear candle), tarifnya Rp 40 ribu utuk durasi 30 menit. Sedangkan totok wajah dibebankan biaya kepada para pelanggan Rp 35 ribu untuk durasi yang sama,” jelas Yoyok.

Dia mengungkapkan, Pondok Bugar juga menyediakan paket perawatan lainnya, di antaranya, refleksi dan totok wajah dengan tarif Rp 65 ribu. Untuk refleksi dan ear candle dibebankan biaya Rp 70 ribu. Sedangkan body massage dan totok wajah ditarif Rp 85 ribu serta body massage dan ear candle harganya RP 90 ribu.

“Semua harga tersebut untuk durasi waktu yang sama yakni 90 menit. Di Podok Bugar juga ada pelayanan massage baru yakni hot stone massage yakni pijat menggunakan batu hangat yang ditarif dengan harga Rp 110 ribu untuk durasi 90 menit dan harga Rp 135 ribu untuk waktu 120 menit,” jelas Yoyok yang mengaku setiap member pijit 10 kali gratis sekali untuk durasi satu jam.

- advertisement -

Tak Ingin Bebani Suami, Yanti Buka Salon Sejak Masih Single

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di tepi selatan Jalan Mayor Kusmanto gang Flamboyan Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus tampak bangunan berpagar besi. Di dalamnya terlihat tiga orang perempuan sedang memberi perawatan rambut pelanggan yang datang. Satu di antara tiga perempuan tersebut yakni Nuryanti (37). Dia adalah pemilik tempat perawatan rambut tersebut, Salon Yanti.

Yanti sedang memotong rambut pelanggan di salon miliknya 2017_4
Yanti sedang memotong rambut pelanggan di salon miliknya. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pelanggan, perempuan yang akrab disapa Yanti itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha salonnya. Dia mengungkapkan, memulai usaha salon sudah lebih dari 10 tahun dan usaha salon tersebut dia rintis sejak masih single. Sebelum membuka salon, dia mengaku pernah ikut kursus dan sempat kerja di salon.

“Aku kerja dan ikut pelatihan hanya setahun saja. Setelah itu aku membuka usaha salon sendiri karena aku suka dengan dunia kecantikan. Aku juga bangga saat bisa membuat perempuan lain tampil cantik.  Selain itu, dengan memiliki usaha sendiri, aku bisa punya penghasilan sendiri. Jadi aku tidak perlu menggantungkan penghasilan suamiku,” kata perempuan yang kini sudah dikaruniai anak tersebut.

Warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu mengtakan, di Salon Yanti menyediakan aneka perawatan rambut di antaranya, smoothing yang ditarif mulai harga Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Untuk hairmask atau masker rambut dibebankan biaya Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu. Sedangkan creambath pria harganya Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu dan untuk perempuan ditarif antara Rp 25 ribu sampai Rp 40 ribu.

Selain itu, kata Yanti, salonnya juga melayani potong rambut yang biayanya Rp 8 ribu, dan Rp 10 ribu potong termasuk keramas. Untuk pewarnaan rambut, tuturnya, dibebankan biaya antara Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Sedangkan catok ditarif Rp 20 ribu dan cuci blow dihargai Rp 10 ribu.

“Kami juga melayani sambung rambut yang perhelainya aku hargai Rp 3 ribu hingga Rp 11 ribu. Selain perawatan rambut aku juga melayani facial wajah yang aku bebankan biaya mulai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, saat ini Salon Yanti sudah memiliki banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya itu tidak hanya warga Pedawang, namun ada yang datang dari desa di Kecamatan Kota, Jati, dan tentu Kecamatan Bae. Setiap hari, dia mengatakan tak kurang dari 10 pelanggan datang untuk perawatan rambut di salon miliknya.

Dia mengungkapkan, dari pertama buka hingga sekarang Salon Yanti tidak pernah mengadakan promo. Menurutnya, harga perawatan yang ditawarkan sudah sangat terjangkau. Dia juga mengandalkan pelayanan terbaik untuk menggaet para pelanggan. Karena kepuasan pelanggan menjadi yang ter.

“Aku bersyukur usaha salon yang aku rintis sejak masih single kini sudah memiliki banyak pelanggan. Hingga dari hasil usahaku tersebut aku bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkap Yanti.

 

- advertisement -

1.282 KTP El Sudah Dicetak, yang Sudah Perekaman Bisa Ambil di Kecamatan

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Tumpukan blangko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP El) masih terikat karet gelang di ruang perekaman Kantor Kecamatan Kota, Kudus. Blangko tersebut baru saja dicetak untuk segera dibagikan kepada masyarakat yang masih memegang Surat Keterangan (Suket) pengganti KTP El.

KTP El yang sudah dicetak di Kecamatan Kota Kudus 2017_4
KTP El yang sudah dicetak di Kecamatan Kota Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut petugas perekaman KTP-El Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kudus yang ditugaskan di Kantor Kecamatan Kota, Edy Prastyo, terdapat 269 blangko KTP El yang sudah dicetak dan siap dibagikan kepada 25 desa dan kelurahan di kecamatan Kota. Menurutnya, KTP El yang siap edar tersebut akan dikirim ke desa atau kelurahan untuk nantinya masyarakat bisa mengambil.

Baca juga: Blangko KTP El Belum Tersedia, Masyarakat Bisa Gunakan Surat Pengganti untuk Keperluan Perbankan

“Ini Kecamatan Kota ada 269 KTP El yang siap kirim. Nanti ambilnya langsung di balai desa,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Kota, Rabu (26/4/2017).

Dia menjelaskan, data KTP El yang sudah dicetak tersebut sudah masuk daftar print ready record (PRR). Menurutnya, di Kecamatan Kota data penduduk yang sudah masuk PRR tapi belum dicetak sejumlah 439 jiwa. Masyarakat yang KTP El-nya sudah jadi, nantinya akan mendapatkan surat undangan dari desa untuk mengambil KTP El. “Angka 439 (jiwa) itu termasuk blangko 8.000 (KTP El) yang diberikan untuk Kudus,” tambahnya sambil menunjukkan angka 1.282 KTP El yang sudah tercetak di surat edaran dari Dinas Dukcapil Kudus.

Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Dukcapil Kudus Putut Winarno saat ditemui pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2017 di Aula Sekretaris Daerah lantai empat menuturkan, Kabupaten Kudus mendapatkan  8.000 keping blangko KTP El dari Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Menurutnya, dari jumlah 8.000 keping tersebut baru tercetak 1.000 keping KTP El.

“Sebanyak 1.000 keping (KTP El) sudah tercetak. Pembagian kami alihkan ke kecamatan. Selain bisa lebih mudah nanti perlu dilakukan validitas data,” tutur Win, sapaan akrab Putut Winarno kepada Seputarkudus.com.

Dia memberitahukan, hasil rapat di Provinsi Jawa Tengah memutuskan untuk percetakan KTP El  dan distribusi dialihkan ke setiap kecamatan. Menurutnya, selain akses lebih dekat, pihaknya mengaku perlu melakukan validitas data supaya jika ada perubahan data, kartu tidak terbuang sia-sia.

“Misal, saat perekeman dulu belum menikah, tapi saat pengambilan KTP El sudah menikah, datanya kan perlu dirubah. Supaya blangko yang terbatas ini tidak hilang sia-sia,” jelasnya.

Win menjelaskan, jumlah masyarakat Kabupaten  Kudus yang sudah melakukan perekaman namun belum mendapatakan blangko KTP-El sebanyak 19.437 jiwa. Dari jumlah blangko 8.000 keping KTP EL yang diberikan tentu masih sangat kurang. Dari jumlah blangko yang ada akan langsung dicetak dan distribusikan di setiap kecamatan yang ada di Kudus. Pihaknya mengaku sudah mengirimkan petugas Dukcapil untuk ditugaskan di setiap kecamatan.

“Yang dicetak nanti yang sudah masuk daftar PRR. Nanti masyarakat akan diberi undangan untuk datang ke kecamatan,” tambahnya.

Dia melanjutkan, list daftar warga yang masuk PRR sudah disiapkan dan dikirimkan ke setiap kecamatan. Menurutnya, warga tidak usah jauh-jauh datang ke kantor Dukcapil Kudus. Kecamatan yang bisa diakses warga yakni seluruh kecamatan yang ada di Kudus.

Diceritakan, sebelumnya ada dua kecamatan yang belum bisa memproses pendistribusian KTP El karena permasalahan sinyal. Dua kecamatan tersebut Kecamatan Jekulo dan Dawe. Namun menurut Winarno, kekurangan sarana prasarana tersebut sudah bisa diatasi dengan  disediakannya modem dari Dukcapil Kudus. “Sekarang  sudah bisa semua,”  tambahnya.

- advertisement -

Sudah Naik Turun Tangga Hingga Lantai Tiga, Saidah Kecewa Tetap Tak Bisa Donor Darah

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Enam orang terlihat berbaring mendonorkan darah di ruang Minihospital Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cendekia Utama (Setikes Cenud) Kudus, Selasa (25/4/2017) pagi. Tak jauh dari mereka terlihat sejumlah orang sedang duduk menunggu giliran. Satu di antaranya Nur Saidah (20).

Donor darah di Stikes Cenud Kudus 2017_4
Donor darah di Stikes Cenud Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Namun sayang, setelah diperiksa dia tidak diizinkan untuk melakukan donor. Kepada Seputarkudus.com, Saidah mengaku kecewa karena tidak bisa menyumbangkan darahnya. Padahal dirinya sangat ingin berpartisipasi, tapi karena tensi darahnya rendah dia tidak dibolehkan.

Saidah adalah mahasiswi Stikes Cnud dan juga ketua pelaksana kegiatan tersebut. Dia tidak menyangka tekanan darahnya begitu rendah, sehingga tidak bisa ikut donor. Sebenarnya dia sudah berupaya untuk menaikkan tekanan darahnya. Upaya dilakukan dengan naik turun tangga ke lantai tiga, dan jalan keliling kantin.

Selain itu Saidah juga sudah minum sari kedelai dan minum air putih, tetapi tiga kali ditensi tetap tidak ada perubahan. “Saya sedikit kecewa, karena saya ingin sekali ikut donor darah. Saya sudah pernah dua kali donor dan tidak ada kendala, sebelumnya darah saya juga stabil kisaran 120. Tapi kali ini berbeda, tekanan darah saya cuma 90, jadi belum bisa ikut donor,” ungkap anak terakhir dari lima bersaudara itu.

Saidah menjelaskan, satu pekan sebelum kegiatan donor darah dia sering begadang. Menurutnya, hal tersebut yang membuat tekanan darahnya menjadi turun. Dia tidak menyadari karena tidak ada perubahan yang dirasakan. Saidah merasa baik-baik saja, dan tidak ada gejala darah rendah yang dirasakan.

“Satu pekan ini saya begadang, karena ada pemadatan jadwal dan banyak tugas. Tapi saya merasa baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda darah rendah. Padahal tadi saya sudah datang sejak awal, berharap bisa ikut donor,” terang warga Desa Bologarang, Kecamatan Penawangan, Grobogan itu.

Meski begitu, Saidah merasa puas dengan antusiasme teman-temannya yang ikut berdonor. Dia mengatakan ada sekitar 90 orang yang mendaftar, dan 29 orang di antaranya belum bisa ikut donor. Dari 29 orang yang belum bisa donor, sebagian banyak dikarenakan memiliki tekanan darah rendah.

“Kami mulai pukul 8.30 WIB dan pendaftaran kami tutup pukul 12.00 WIB. Jadi ada beberapa orang yang terlambat sudah tidak bisa. Panitia kegiatan ini ada 16 orang, kami mulai publikasi satu pekan sebelum kegiatan. Semua berjalan dengan lancar, karena sudah biasa, menjadi kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali,” tambahnya.

- advertisement -

Produsen Bakso di Kudus Ini Buat Ratusan Ribu Butir Tiap Hari, Merek Produk Sering Dibajak

0

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG CANGKRING – Beberapa kendaraan terparkir di depan rumah berlantai dua di Desa Bulung Cangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus. Di dalam bangunan sebelah rumah bertingkat tersebut terlihat beberapa perempuan sibuk membuat bakso. Bangunan tersebut merupakan tempat produksi bakso daging merek Ada Rasa, yang mampu menjual ratusan ribu pentol daging sehari.

Produksi pentol bakso Ada Rasa di Kudus 2017_4
Produksi pentol bakso Ada Rasa di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Tak jauh dari tempat mengemas produk bakso, tampak seorang pria berkaus garis-garis. Dia adalah Sutarwi (56), pemilik usaha tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dia mengungkapkan, usaha pembuatan bakso daging yang dia rintis dari berjualan keliling itu, banyak diminati masyarakat. Menurutnya, itu terbukti dari jumlah produksi dan berbagai resep.

Baca juga: Pernah Rasakan Pahitnya Perceraian, Tarwi Bangkit dan Kini Sukses Produksi Pentol Bakso Daging

“Satu resep itu isinya 30 bungkus dan dalam satu bungkus berisi 30 butir bakso daging. Jadi setiap hari aku mampu menjual sekitar 4500 bungkus yang berisi sekitar 135 ribu pentol bakso daging. Dan setiap bungkusnya aku jual ke agen dengan harga Rp 8500,” ungkap pria yang akrab disapa Tarwi beberapa waktu lalu.

Warga Desa Bulung Cangkring, Jekulo, Kudus, itu mengungkapkan, sedangkan untuk harga pedagang ecer dia menjual produknya seharga Rp 9500 per bungkus. Menurutnya, pentol bakso daging produksinya tidak hanya digemari masyarakat di Kudus saja, melainkan masyarakat di seluruh Karesidena Pati, bahkan Semarang dan Tuban.

“Untuk distribusi penjualan pentol bakso Ada Rasa tidak hanya di Kudus saja. Melainkan sudah sampai seluruh Karesidenan Pati. Bahkan aku punya beberapa agen penjualan pentol bakso produksiku di setiap daerah Karesidenan Pati, Semarang serta Tuban,” katanya sambil menyalakan rokok.

Pria yang sudah dikaruniai delapan anak dan lima cucu itu mengukapkan, karena banyaknya peminat dan suka dengan rasa pentol bakso daging produksinya, tak jarang Bakso Ada Rasa dibajak. Menurutnya, sering beberapa oknum memproduksi pentol bakso yang dilabeli bahkan diberi merek sama dengan bakso daging produksinya.

Dia mengaku sangat jengkel dengan perbuatan para oknum tersebut. Karena dengan memberi merek hampir sama bahkan serupa merupakan perbuatan melanggar hukum. Dan tentu kata Tarwi, perbuatan tersebut sangat merugikannya. Dia khawatir para pelanggan mengira pentol bakso KW itu hasil produksi Ada Rasa.

“Aku tidak masalah orang lain membuka usaha serupa, tapi berlakulah jujur jangan merusak citra usaha milik orang lain. Mari merintis usaha sama-sama dan cari rezeki bareng. Kalau memang rezekinya kita ada di usaha pentol bakso, Allah pasti akan memberikan jalan dan insyaallah usaha kita akan bisa berkembang,” ungkapnya.

Dia mengatakan, para pesaingnya tersebut selain membuat kemasan mirip, mereka juga menjatuhkan harga dengan menjual pentol bakso yang mereka produksi dengan harga murah. Namun rasa yang dihasilkan sangat jauh berbeda atau tidak enak. Sebenarnya hal tersebut tidak masalah, asal logo dan mereknya tidak dibuat serupa dangan Ada Rasa.

“Aku juga mengimbau kepada para pelanggan untuk cermat dalam mengenali kemasan produk pentol Bakso Daging Ada Rasa yang asli. Dan jangan terkecoh dengan harga yang lebih murah. karena kemasan boleh saja ditiru tapi cita rasa pasti tetap beda,” ujarnya.

- advertisement -

Di Sinilah Yasin Bertemu Mantan Pacarnya untuk Pertama Kali 34 Tahun Silam

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Dentuman suara musik Reggae terdengar keras di SMK Taman Siswa Kudus, Jalan Veteran Desa Demaan, Kecamatan Kota. Ratusan siswa tampak berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik. Terlihat pula beberapa orang mengenakan seragam warna-warni saling menyapa dan bersalaman. Mereka adalah alumnus sekolah tersebut yang lama tak bersua.  Mereka hadir di sekolahnya menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Taman Siswa ke-95.

HUT SMK Taman Siswa Kudus dan temu alumni 2017_4
HUT SMK Taman Siswa Kudus dan temu alumni. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara alumni yang hadir yakni Muhammad Yasin (56). Dirinya terlihat berdiri sambil mengobrol dengan teman-temannya sesama alumnus di halaman sekolah. Dia mengaku sangat senang bisa bertemu dengan teman-temannya angkatan 1982. “Tadi ketemu teman lama. Sudah lama tidak kumpul-kumpul,” ungkapnya sambil menunggu doorprize setelah jalan sehat bersama, Minggu (23/4/2017).

Kepada Seputarkudus.com, Yasin mengaku masuk di SMK Taman Siswa Kudus tahun 1982. Menurutnya, ketika itu namanya belum SMK melainkan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Saat dirinya masuk di SMEA hanya ada dua jurusan, yakni Jurusan Tata Buku dan Tata Niaga. Satu angkatan dengannya sekitar 100-an siswa. “Waktu itu gedungnya masih lantai satu. Belum lantai tiga seperti sekarang,” tambahnya.

Ada kenangan manis yang menurutnya sulit terlupakan di sekolah tersebut. Yakni menemukan istri yang ternyata teman sesama siswa di sana. Dia menceritakan, saat masih kelas dua SMEA, dirinya berpacaran dengan wanita bernama Titik Darsini. Sampai pada akhirnya, Yasin menikahi wanita yang dimaksud, dan kini mereka mememiliki empat anak. “Itu kenangan indahnya. Pertemuan itu juga berkat selalu dijodohkan oleh guru,” tuturnya sambil menunjuk wanita yang duduk dengan kerudung putih.

Menurutnya, kegiatan mengundang alumni semacam ini sangat bagus. Selain untuk mempererat silaturahmi juga dapat mendukung pengembangan lembaga sekolah. Dalam mengikuti kegiatan HUT Taman Siswa ke-95 yang dikemas jalan santai, Yasin mengakui mempersiapkan khusus dengan meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan. Karena kegiatan semacam ini sangat penting.

Sebenarnya dirinya bersama angkatan 1982 biasa sering berkumpul pada kegiatan-kegiatan tertentu. Namun kali ini dianggap momennya berbeda. Menurutnya, terdapat 40 an teman satu angkatan yang hadir dalam kegiatan setahun sekali tersebut. “Semoga adik-adik angkatan setelah saya juga bisa menjaga keakraban antaralumni,” tambah warga Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Sementara itu Kepala SMK Taman Siswa Kudus Untung Sutrisno menuturkan, dalam HUT Taman Siswa ke-95 pihaknya menyelenggarakan jalan sehat dan Panggung Gembira. Selain diikuti 1.000 siswa dan guru, pihaknya juga mengundang 750 alumni dari berbagai angkatan. “Alumni yang hadir dari angkatan 74 (1974) sampai angkatan tahun akademik 2015-2016,” ungkapnya.

Dirinya sengaja mengundang alumni karena menurutnya alumni merupakan tiang penyangga lembaga pendidikan. Untung menjelaskan, dengan adanya upaya untuk mempererat dan membangun ikatan alumni tentu SMK Taman Siswa akan berkembang menjadi besar.

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para alumni yang hadir. Tanpa dukungan panjenengan (anda) semua perguruan Taman Siswa ini tidak akan berkembang besar dan eksis,” tuturnya di depan para undangan yang hadir.

Dia menuturkan setiap tahun pihaknya menyelenggarakan peringatan serupa. Dirinya merencakan, tahun 2020 pihaknya akan merencanakan ulang tahun emas 50 tahun SMK Taman Siswa Kudus dan tahun 2022 merayakan satu abad Peruruan Taman Siswa. Dia memberitahu, perguruan Taman Siswa didirikan Ki Hadjar Dewantara tanggal 3 Juli tahun 1922. Untuk SMK Taman Siswa Kudus berdiri 1 Januari 1971.

“Sebenarnya sebelum SMK Taman Siswa ada SMP Taman Dewasa Tanggal 17 September 1945. Satu bulan setelah kemerdekaan (Indonesia),” jelasnya.

Jurusan pertama kali saat nama SMK Taman Siswa masih SMEA menurut Untung yakni Tata Buku (Akuntansi) dan Tata Niaga (Pemasaran). Dalam perkembangannya tahun 1985 membuka Jurusan Akademik Perkantoran, 2006 Jurusan Multimedia, 2008 Perbankan Syari’ah dan 2014 Tata Kecantikan Kulit. “Saat ini ada 633 siswa yang belajar di SMK Taman Siswa Kudus,” tambahnya.

- advertisement -

Pernah Rasakan Pahitnya Perceraian, Tarwi Bangkit dan Kini Sukses Produksi Pentol Bakso Daging

0

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG CANGKRING – Di dalam bangunan sebelah rumah berlantai dua Desa Bulung Cangkring RT 2, RW 1, Kecamatan Jekulo, Kudus tampak beberapa perempuan sedang membuat butiran bakso. Terlihat juga di ruangan tersebut ribuan butir bakso daging yang sudah dikemas. Di luar bangunan terlihat pria berkaus garis-garis sedang sibuk berbicara di sambungan telepon. Pria tersebut bernama Sutarwim pemilik usaha pembuatan bakso merek Ada Rasa.

Tarwi (kaus garis-garis) pengusaha bakso, bersama karyawannya 2017_4
Tarwi (kaus garis-garis) pengusaha bakso, bersama karyawannya. Foto: Rabu Sipan

Seusai menelepon, pria yang akrab disapa Tarwi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, mulai produksi pentol bakso pada tahun 2007. Namun sebelum membuat usaha itu, dirinya mengalami merasakan kegagalan dalam usaha, serta pahitnya perceraian.

“Aku menikah dengan istri pertamaku pada tahun 1981, dulu aku punya usaha toko sembako lumayan besar dan lengkap. Namun usahaku tersebut hancur dan bangkrut, aku pun bercerai dengan istriku. Tak lama mantan istriku itu meninggal. Aku sangat terpukul saat itu,” ungkapnya saat ditemui di tempat produksi bakso miliknya, beberapa waktu lalu.

Setelah istri pertamanya meninggal, dia mengaku menikah lagi pada tahun 1991. Menurutnya, saat menikah kedua kalinya tersebut dirinya mulai kehidupan dari nol. Dia bersama istrinya hidup sangat sederhana dengan penghasilan yang pas-pasan. Saat itu untuk menghidupi keluarga dirinya bekerja serabutan. Karena saat pernikahannya yang kedua berjalan tiga tahun, Tarwi dikaruniai anak.

“Saat anakku lahir itu aku bahagia sekaligus bingung. Dan saat anakku kelas lima SD, aku berfikir kalau aku kerja serabutan terus seperti ini apa nanti aku bisa menyekolahkan anakku. Dari itulah timbul keinginanku untuk berjualan lagi. Namun aku juga bingung jualan apa dan modal dari mana,” kenangnya.

Pria yang sudah dikaruniai delapan anak dan lima cucu itu mengungkapkan, hingga satu hari saat pergi ke pasar dia melihat orang menjual pentol bakso. Dia mengaku membeli bakso tersebut, namun dia menilai rasa pentol yang dibelinya kurang enak. Saat itulah terlintas dipikiran Tarwi untuk berjualan pentol bakso namun dengan rasa yang lebih enak.

“Tak berselang lama tepatnya pada tahun 2004 aku mulai bejualan pentol daging keliling dengan modal Rp 90 ribu hasil menjual kalung istriku. Saat pertama berjualan keliling aku sempat malu dan memakai helm. Jualan keliling yang aku mulai pukul 9.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB itu juga tidak laku,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, karena sepi pembeli, dirinya kemudian pulang untuk saalat Dzuhur. Setelah salat, dia bertekad untuk berjualan lagi dan tidak memakai helm. Saat itulah tetangganya mengenali dirinya dan membeli bakso daging yang dia jual.

“Saat itu seketika bakso dagingku laris dan habis terjual. Dan dari mulut ke mulut bakso dagingku mulai dikenal banyak orang dan jualanku juga makin laris. Alhamdulillah dari berjualan bakso daging keliling itu aku mampu mendirikan usaha produksi pentol bakso daging. Kini dari usaha tersebut aku mampu beli tanah, bangun rumah bertingkat dan punya beberapa mobil meski aku beli secara kredit,” ungkapnya sambil tersenyum.

- advertisement -

Raungan Knalpot Kuda Besi Kawasaki Menggema saat KDC Mampir ke Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Suara raungan knalpot motor terdengar keras saat puluhan kendaraan roda dua berbodi bosngosr melintas di Jalan Jendral Sudirman. Motor-motor tersebut melintas dari arah Kudus bagian timur dan berhenti di Diler Kawasaki Kudus, Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus. Para penunggang kuda-kuda besi tersebut merupakan peserta touring Kawasaki Dealers Community (KDC) dan Kawasaki Motor Indonesia (KMI).

Peserta touring Kawasaki Dealers Community (KDC) dan Kawasaki Motor Indonesia (KMI) di Kudus
Peserta touring Kawasaki Dealers Community (KDC) dan Kawasaki Motor Indonesia (KMI) di Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai di tempat lobi diler, wakil ketua KDC Albert (50), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang kegiatan tersebut. Dia menjelaskan, touring dilakukan untuk perkenalan produk motor terbaru dari Kawasaki, yakni Versys-X 250. Selain itu, dengan touring pihaknya bisa lebih dekat dengan beberapa pelanggan.

Baca juga: Kawasaki Luncurkan Versys-X 250 Tourer, Motor Garang Idaman Bagi Pecinta Adventure

“Jadi seperti ini, KDC itu sebuah perkumpulan pemilik diler Kawasaki seluruh Indonesia. Kalau KMI itu pabrikannya, yang memproduksi motor. Touring kali ini kami di temani komunitas motor Ninja Organization asal Semarang. Selain memperkenalkan produk terbaru berupa Versys-X 250, kami ingin lebih mendekatkan diri dengan pelanggan,” ungkap Albert, Sabtu (22/4/17) siang.

Dia memberitahukan, peserta yang mengikuti touring sekitar 30 orang, baik dari pemilik maupun penanggung jawab diler. Menurutnya, touring dilakukan selama empat hari mulai tanggal 20 hingga 23 April 2017. Terkait rute yang dia lewati, katanya, di mulai dari Jakarta menuju Cikampek, Cirebon dan kumpul jadi satu di Guci, Tegal.

“Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Pekalongan hingga Semarang. Berhubung di Kudus ada tempat diler terbaru Kawasaki, kami sekalian berkunjung dan meninjau hasil renovasinya. Iya, sekalian kami silaturahmi, menjalin hubungan baik sekaligus sering dengan beberapa komunitas dengan cara touring seperti ini.” Ujar Albert yang mengaku sudah dua tahun menjabat sebagai wakil ketua KDC.

Pria asal Jakarta, ini menambahkan, setiap tahun KDC maupun KMI selalu mengagendakan kegiatan touring bersama. Menurutnya, kegiatan itu tidak tertuju pada satu lokasi saja, namun dilakukan di tempat yang berbeda. Di antaranya, pada tahun 2015 touring Jakarta – Bali dan tahun 2016 melakukan touring ke tiga negara, yakni Thailand, Malaysia serta Singapura.

“Ini pertama kali kami datang ke Kudus. Terkait dengan kesan, cukup bagus antusias yang diberikan masyarakat. Mereka ramah dan kotanya juga lebih modern dibandingkan dengan kota lainnya,” tambah Albert yang mengaku sebagai owner diler Kawansakti, Jakarta.

- advertisement -

Ternyata Kalangan Ini yang Banyak Menginap di Hotel Kenari Asri Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi Jalan Kenari, Desa Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah bangunan warna kuning berpadu putih tampak menjulang tinggi. Beberapa mobil terlihat berjajar menghiasi setiap sudut area parkir kendaraan. Bangunan tersebut yakni Hotel Kenari Asri Kudus. Seorang pria berkacamata dan berkemeja lengan pendek, berjalan menuju tempat lobi hotel. Dia yakni Anwar (44), General Manager hotel tersebut.

Kamar tidur dobel bed Hotel Kenari Asri Kudus 2017_4_26
Kamar tidur dobel bed Hotel Kenari Asri Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai di tengah aktivitasnya, Anwar sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang hotel yang berlokasi tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus tersebut. Dia menjelaskan, hotel yang diketahui memiliki 40 unit kamar itu berdiri sejak 2004. Menurutnya, banyak keunggulan yang ditawarkan bagi setiap pengunjung yang hendak menginap. Satu di antaranya, memiliki lokasi yang sangat strategis dekat dengan perkotaan.

Baca juga: Hotel Kenari Kudus Tawarkan Fasilitas Super Lengkap dengan Restoran untuk Umum

“Keunggulan hotel kami di banding dengan lainnya, kami merupakan satu-satunya hotel di Kudus yang berlokasi di tengah kota, dekat dengan Alun-alun Kudus yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari hotel. Lokasi kami dekat dengan perkantoran, perbankkan, kantor Kabupaten Kudus sekaligus pusat kuliner makanan khas daerah,” ungkap Anwar saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, kalangan yang banyak menginap di hotel Kenari Asri yakni kalangan pebisnis. Mereka ada yang datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Surakarta maupun Yogjakarta. Menurutnya, selain dari pebisnis, tak jarang ada beberapa artis ibu kota juga menginap di sana. “Dodit Mulyanto pernah menginap di sini. Selain itu juga pernah ada grup band Last Child dan Souljah.

Dia menambahkan, tempat parkir kendaraan bagi tamu yang menginap cukup nyaman. Menurutnya, area parkir yang berada tepat di depan hotel sudah terdapat atap sebagai tempat berteduh. Kendaraan nantiya yang terpakir di halaman hotel tidak akan kepanasan maupun kehujanan.

Dia menambahkan, dari beberapa kamar yang dia sediakan, katanya, setiap hari tamu yang menginap rata-rata berkisar 65 persen. Jika di hitung, jumlah kamar yang terpakai ada sebanyak 26 unit setiap harinya. Menurut dia, untuk meningkatkan sejumlah pengunjung yang datang, pihaknya melakukan berbagai langkah. Satu di antaranya, dengan cara mengenalkan hotel melalui sebuah reklame.

“Reklame itu iklan yang di pajang di baliho pinggir jalan, seperti yang kami terapkan di pertigaan pada saat masuk hotel.  Tidak hanya itu, kami juga melakukan pemasaran melalui electronic commerce, media sosial maupun dengan cara menyebar sejumlah brosur,” tambah Anwar.

- advertisement -

Pemilik Kopi Saqinano Tak Menyangka Namanya Disebut Saat Perayaan Hari Kartini di Alun-alun

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Perempuan berkerudung merah jambu berjalan menuju lapangan dekat tiang bendera. Dia berjalan bersama dua perempuan lain yang mendapatkan penghargaan dari Bupati Kudus. Penghargaan tersebut diberikan saat kegiatan upacara peringatan Hari Kartini ke-138 tahun 2017 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Perempuan tersebut yakni Nano Anik Sulastri, pemilik kopi rempah Saqinano.

Anik berfoto bersama Bupati Kudus 2017_4
Anik berfoto bersama Bupati Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat protokoler memanggil satu persatu dari ketiga nama perempuan tersebut, Bupati Kudus memberikan piagam penghargaan dan berfoto. Para penerima penghargaan tersebut tampak mengumbar senyum, tak terkecuali Nono Anik Sulastri, penerima penghargaan sebagai Wanita Berprestasi dengan kategori Nomine Produk Unik Tingkat Nasional.

Baca juga: Penerima Penghargaan Wanita Berprestasi Ini Hanya Tidur Tiga Jam Sehari

Saat di temui Seputarkudus.com usai kegiatan, Anik sapaan akrabnya, mengaku tidak menyangka dirinya mendapatkan penghargaan Wanita Berprestasi pada peringatan hari Kartini di Kudus. Menurutnya, dirinya hanya diberi undangan untuk hadir dalam kegiatan upacara. “Saya kaget saat dipanggil ke depan untuk diberi penghargaan,” ungkapnya sambil tersenyum, Jumat (21/4/2017).

Menurutnya penghargaan yang diberikan yakni Wanita Berprestasi kategori produk unik tingkat Nasional. Dia menuturkan, dari tahun 2011 dirinya membuat minuman kopi yang dicampur rempah-rempah. Berjalannya waktu Anik juga mengembangkan dengan membuat produk teh rempah. Produk-produk tersebut diproduksinya dengan label Saqinano. “Produk-produknya unik, minum jamu seperti minum kopi. Inilah kopi rempah-rempah” tutunya.

Perempuan yang aktif dalam Kordinator Pengembang Usaha di Forum UMKM Jawa Tengah itu menuturkan, kopi yang dibuatnya diberi campuran 11 rempah-rempah pilihan. Di antaranya, jahe merah, kayu manis, cinnamon, habbaussauda dan lemon grass. Sekarang lanjut Anik, dirinya menciptakan produk baru yakni roti kopi. “Jadi kopinya itu ada rotinya,” jelasnya yang tinggal di Desa Bakalan Krapyak RT 7 RW 3, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Menurutnya kopi yang digunakan yakni kopi original yang tumbuh di Kabupaten Kudus. Dia menjelaskan, tanaman kopi tumbuh sumbur di kaki Muria. Tidak hanya di Desa Colo saja, tapi di Desa Japan, Desa Ternadi dan desa-desa di kaki Muria. Distribusi produk Saqinano sudah sampai Jakarta dan Bali. “Namun yang paling dominan di Kudus sendiri,” tambahnya

Selain membuat produk kopi, dirinya juga sedang fokus membuat olahan ikan dengan masyarakat di Desa Ternadi. Menurutnya, saat ada perlombaan desa lalu Desa Ternadi mendapat penghargaan olahan masakan Ikan Manyung. “Desa wisata Ternadi sangat potensial untuk dikembangkan,” tuturnya yang ikut menjadi penggerak sadar wisata di Desa Ternadi.

Pada peringatan Hari Kartini ke-138, itu selain Anik ada dua wanita laing yang mendapatkan penghargaan. Mereka yakni Kastini kategori pengusaha hiasan berbahan aklirik dan Erwin Anjastuti wanita berprestasi penggerak pemberdayaan perempuan.

Bupati Kudus Musthofa yang datang sebagai pemimpin apel berpesan kepada peserta terutama perempuan untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Agar nantinya tidak dipandang sebelah mata dan ikut memberikan kontribusi untuk pembangunan bangsa. “Seorang ibu harus bisa memberikan porsi yang tepat sesuai kebutuhan anak. Sikap dan perilaku harus dijadikan contoh bagi anak-anaknya,” tuturnya.

- advertisement -

Gadis Undaan Ini Berencana Beli Motor King Agar Bisa Touring Bareng Anak-Anak KKIS

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANGGULANGIN – Suara knalpot motor Yamaha King terdengar keras saat belasan pria yang sedang berkumpul di tepi Jalan Raya Agil Kusumadya, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jati, Kudus. Di dekat mereka, terlihat sejumlah motor King yang diparkir rapi. Mereka adalah anggota King’s Independen Kudus Selatan (KIKS) yang sedang melakukan kopi darat (kopdar).

Anika berkumpul dengan anggota KKIS 2017_4
Anika berkumpul dengan anggota KKIS. Foto: Ahmad Rosyidi

Tidak lama berselang, datang seorang perempuan mengenakan kaus lengan panjang dan berjilbab ikut duduk di antara anggota KIKS. Perempuan tersebut yakni Anika Nofiyana (20), dirinya mengaku sudah terbiasa kumpul dengan anak-anak KIKS. Tidak hanya ikut kumpul, dia juga berencana membeli motor King agar bisa menjadi anghota dan ikut touring.

Baca juga: Terkenal Motor Jambret, KIKS Ingin Tepis Pandangan Negatif Motor Yamaha King

“Saya sudah biasa kumpul dengan mereka, keluarga juga sudah kenal jadi mengizinkan. Saya belum menjadi anggota karena belum punya motor King. Ini baru berencana nabung buat beli motor King agar bisa ikut touring juga,” ungkap warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus itu, belum lama ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Anika itu, motor King adalah motor yang unik dan jarang disukai kaum perempuan. Sedangkan dirinya menyukai hal-hal yang unik, sehingga dirinya tertarik dan menabung agar bisa membeli motor tersebut. Selain itu dia juga merasa tertarik karena kegiatan di KIKS positif.

“Yang terpenting itu keluarga dibuat percaya, apalagi anak perempuan seperti saya. Kalau kita bisa menjelaskan dan kita juga bisa menjaga kepercayaan orang tua pasti mengizinkan,” terangnya.

Abdul Ghofur (20), Ketua KIKS, menambahkan, menjaga persaudaraan dan komunikasi dengan keluarga anggota dinilai sangat penting. Untuk itu pihaknya berencana akan melakukan anjang sana ke rumah seluruh keluarga komunitas saat Lebaran nanti. Itu dilakukan agar mengenal keluarga anggota.

“Di sini kami mengutamakan untuk saling menjaga silaturahmi. Lebaran nanti kami mengagendakan untuk ke rumah anggota satu persatu. Tidak hanya sesama anggota saja, tapi dengan komunitas lain juga,” tambahnya.

- advertisement -