31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Demi Perankan Karakter Salie, Mitha Rela Potong dan Warnai Rambutnya Secara Permanen

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sorak-sorak penonton terdengar meriah saat perempuan berambut hitam berpadu pirang dam bercelana hot pants, melepas jaket merah. Seorang pria kemudian memeluk jaket merah dengan penuh gairah mengundang tawa ratusan penonton pentas teater di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (17/3/2017) malam. Itu merupakan satu adegan yang dipentaskan Teater Kembali 1 (K-1) mengusung naskah Rumah yang Dikuburkan.

Mitha (tengah) saat tampil dalam pentas teater di Auditorium UMK
Mitha (tengah) saat tampil dalam pentas teater di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Perempuan tersebut yang mengenakan hot pants itu bernama Nurul Paramitha (20), anggota Teater K-1. Kepada Seputarkudus.com, Mitha, begitu dirinya akrab disapa, mengaku memberi warna permanen dan memotong rambutnya demi pentas teater tersebut. Dalam pentas itu, dirinya memerankan karakter Salie.

-Advertisement-

“Sosok Salie ini jauh dari karakter kaya, jadi saya butuh proses yang lama untuk pendalaman karakternya. Saya melakukan observasi, latihan cara berjalan dan cara berpenampilan juga. Agar tampil maksimal, rambut saya beri warna permanen dan dipotong juga,” ungkap Mitha yang juga seorang pelatih tari itu.

Mitha menceritakan, dirinya baru mulai mengenal teater sejak sekolah menengah pertama (SMP). Tetapi baru mendapat peran setelah Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas dua. Selama berproses di teater, dia sudah ikut pentas sekitar kurang lebih 15 kali. Dan pernah mendapat aktris pembantu terbaik di sebuah festival teater di Jakarta.

Dia bergabung di Teater K-1 berawal dari ajakan temannya, dan langsung tampil dalam pentas yang membawakan naskah Rumah Yang Dikuburkan. Untuk menerima tawaran tersebut, Mitha mengaku butuh waktu tiga pekan untuk menjawabnya. Setelah tidak ada kesibukan, kemudian dia mengiyakan dan mulai ikut gabung dengan Teater K-1.

“Selain masih ragu, waktu itu saya juga masih ada kesibukan. Setelah tiga pekan baru saya menerima tawaran teman saya itu. Di teater K-1 saya yang paling muda, jadi saya banyak belajar dari teman-teman yang sudah berpengalaman,” terang warga Kelurahan Kebun Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta itu.

Zakaria (45), sutradara pada pentas tersebut mengungkapkan, naskah Rumah Yang Dikuburkan memberikan pesan moral tentang persoalan sosial saat ini. “Saat ini manusia melupakan tubuhnya, jadi keterasingan. Semua asik dengan smartphone, membeuat acuh dengan orang-orang sekitar,” jelas pria anak satu itu.

Mamek begitu Zakaria akrab disapa, menjelaskan, naskah tersebut karya Sam Shepard dari Amerika, yang sudah diterjemahkan Akhudiat, dan disadur dari Afrizal Malna. Mereka akan mementaskan naskah tersebut di tiga Kota, di antaranya Kudus, Tegal dan Cirbon.

“Saya berterimakasih kepada Djarum Fondation yang sudah mendukung pementasan kami. Teater Tiga Koma juga yang sudah bekerjasama dan membantu dalam pementasan di Kudus,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER