Subarkah, Dosen Hukum UMK Prihatin Stan Bazar Buku Murah Sepi Pengunjung

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sebuah stan dengan ratusan buku tertata rapi terlihat di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (17/3/2017) siang. Usai Salat Jumat, sejumlah mahasiswa dan dosen datang bergantian melihat bazar buku murah tersebut. Satu di antaranya Subarkah (57), Dosen Fakultas Hukum UMK. Dia mengaku prihatin, ada bazar buku murah, tapi stan terlihat sepi.

Bazar buku murah di UMK sepi pengunjung 2017_3_18
Bazar buku murah di UMK sepi pengunjung. Foto: Ahmad Rosyidi

“Ada bazar buku murah tapi kok sepi. Ini mungkin karena minat baca mahasiswa di UMK rendah,” ujar Subarkah kepada Seputarkudus.com, saat mengunjungi stan bazar buku murah, kemarin.

-Advertisement-

Barkah begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya mengajak mahasiswa untuk membaca. Saat mengampu mata kuliah, dia sering mengajak mahasiswanya untuk membedah buku dan menyarankan mahasiswa untuk membaca terlebih dahulu. Tetapi hanya sebagian kecil mahasiswa yang mau melakukannya.

“Biasanya saya mengajak mahasiswa untuk membedah buku saat proses belajar, dan saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu. Tapi hanya sebagian kecil yang mau membaca. Saya prihatin dengan mahasiswa UMK, tapi mereka sudah mengemban gelar maha, jadi sudah bukan saatnya ditekan untuk membaca,” jelas dosen lima anak itu.

Barkah membeli buku yang berjudul Babat Tanah Jawa seharga Rp 100 ribu. Dalam sehari, Dia meluangkan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk membaca buku. Dia lebih senang membaca buku-buku sejarah, karena menjadi pengetahuan yang penting untuk pondasi ilmu pengetahuan.

“Saya lebih suka membaca buku sejarah, karena penting bagi saya untuk mengetahui sejarah bangsa ini. Karena saya orang hukum jadi di rumah lebih banyak koleksi buku-buku hukum. Saya sering menyampaikan, banyak membaca banyak lupa, sedikit membaca sedikit lupa. Mahasiswa saya banyak yang tidak tidak membaca, jadi tidak pernah lupa,” ungkap warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu sambil tertawa.

Dia berharap kedepan UMK menyediakan ruang seperti gazebo khusus untuk membaca. Agar suasana kampus lebih hidup dan budaya membaca mahasiswa bisa meningkat. Tidak seperti sekarang, yang hanya berkumpul dan asyik dengan hal-hal yang tidak produktif.

Abdul Aziz Masruri (23), satu di antara penjual buku dalam bazar tersebut, mengungkapkan, minat beli buku di UMK terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain. Menurutnya, rendahnya minat beli buku berbanding lurus dengan rendahnya minat baca. Dia juga berharap organisasi yang ada di UMK bisa membuat kegiatan-kegiatan yang bisa merangsang minat baca mahasiswa, misalnya bedah buku dan pelatihan menulis.

“Kami menjual buku murah selama lima hari di sini, mulai tanggal 13 Maret 2017 hingga 17 Maret 2017. Jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain, UMK terbilang cukup sepi. Mungkin karena minat baca mahasiswa UMK rendah, jadi minat beli buku juga rendah. Hari ini baru laku sekitar 30 hingg 40 buku, baru mendapat uang sekitar Rp 600 ribu,” terang pria asal Rembang itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER