BETANEWS.ID, KUDUS – Semangat menggali dan mendokumentasikan kearifan lokal terus diperkuat melalui gerakan literasi di Kabupaten Kudus. Bunda Literasi Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Tahun 2026 di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kudus, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 50 peserta yang berasal dari kalangan umum maupun pelajar. Mereka tampak antusias mengikuti rangkaian pelatihan yang difokuskan pada penguatan kemampuan menulis dengan mengangkat potensi budaya lokal sebagai tema utama.
Endhah menekankan pentingnya literasi sebagai sarana untuk melestarikan budaya daerah. Menurutnya, kekayaan budaya lokal Kudus memiliki nilai yang sangat besar, namun belum sepenuhnya terdokumentasikan secara optimal.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk menulis dan mengangkat potensi budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Setelah adanya bimtek ini, peserta bisa membukukannya sehingga hasilnya dapat menjadi koleksi perpustakaan daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tulisan-tulisan yang dihasilkan peserta diharapkan mampu menjadi rekaman berharga tentang tradisi, kearifan lokal, hingga sejarah yang hidup di tengah masyarakat Kudus. Dengan demikian, generasi mendatang tetap dapat mengenal identitas daerahnya.
Baca juga : Valerie Temui Wamendiktisaintek: Amankan 5 Pilar Riset Strategis untuk RKPD 2027 dan RPJMD Kudus
Lebih lanjut, Endhah menilai bahwa literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat karakter dan jati diri masyarakat. Dengan menulis tentang budaya sendiri, masyarakat diajak untuk lebih mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Selain itu, karya tulis berbasis budaya lokal memiliki potensi besar dalam mendukung promosi pariwisata daerah. Melalui tulisan yang menarik dan informatif, berbagai potensi wisata berbasis budaya dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas, bahkan hingga tingkat nasional,” terangnya.
Pemerintah Kabupaten Kudus pun menunjukkan komitmennya dalam mendukung gerakan literasi ini, salah satunya dengan memfasilitasi hasil karya peserta untuk dibukukan dan dipublikasikan melalui program “Pojok Kudus”.
Program tersebut menjadi wadah dokumentasi kearifan lokal yang diharapkan mampu menjadi referensi bagi masyarakat sekaligus media promosi budaya daerah. Dengan adanya ruang publikasi ini, karya peserta tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi dapat memberikan dampak nyata.
“Harapannya, kegiatan semacam ini menjadi langkah awal untuk melahirkan lebih banyak penulis lokal yang mampu mengangkat kekayaan budaya Kudus ke dalam karya tulis yang berkualitas,” jelasnya.
Editor: Kholistiono

