Beranda blog Halaman 48

Jasa Penukaran Uang Pecahan Baru di Kudus Mulai Bermunculan

0
Suminah, menunjukkan uang pecahan baru. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Meski belum memasuki pertengahan Ramadan, lapak jasa penukaran uang mulai bermunculan di Kabupaten Kudus. Salah satunya berada di Jalan Sunan Kudus. Lapak milik Suminah (60) ini, bukan kali pertama menawarkan jasa penukaran uang. Suminah mengaku sudah sudah lebih dari 10 tahun menekuni usaha musiman tersebut.

Suminah mengatakatan, dirinya membuka layanan penukaran uang sejak Kamis (26/2/2026). Ia memilih kembali menjalankan usaha ini karena aktivitas jualan soto di Pedurungan, Semarang miliknya libur selama Ramadan.

“Daripada nganggur, biasanya saya jualan soto di warung. Kalau puasa libur, jadi mencari peruntungan lain dengan membuka jasa penukaran uang,” katanya saat ditemui Sabtu (28/2/2026).

Selama beroperasi, total uang yang sudah ditukarkan sudah lebih dari Rp5 juta. Menurutnya, minat masyarakat belum terlalu tinggi, mengingat lebaran juga masih lama. Terlebih biaya jasa kian tinggi.

Ia mematok biaya jasa mulai 15 persen per Rp100 ribunya, naik dari tahun lalu yang berkisar 10 persen di awal-awal buka. Kenaikan tersebut dipengaruhi harga pengambilan uang dari pengepul yang juga meningkat tinggi dan saat ini menurutnya pengambilan juga agak sulit.

Baca juga: Beri Nilai 71 Atas Kinerjanya, Ini PR Sam’ani–Bellinda

“Sekarang ambil dari pengepul sudah mahal, jadi jasanya ikut naik. Banyak yang tanya, tapi belum banyak yang jadi tukar,” katanya.

Suminah menjelaskan, pecahan yang paling banyak dicari masyarakat adalah Rp5.000 dan Rp10.000. Saat ini ia memiliki stok sekitar Rp25 juta, namun uang baru itu didapatkan dengan cara yang sulit tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

“Barangnya memang susah, pengambilannya juga sulit,” ungkapnya.

Ia memprediksi permintaan akan meningkat mendekati Lebaran, mulai H-10, puncaknya H-1 lebaran permintaan akan melonjak tajam. Bahkan, persentase jasa diperkirakan bisa naik hingga 25 persen, mengikuti tren tahun sebelumnya yang sampai menyentuh 20 persen.

Pada tahun lalu, Suminah mampu menukar uang hingga lebih dari Rp50 juta selama musim menjelang Lebaran. Namun untuk tahun ini, ia belum bisa memastikan capaian karena keterbatasan stok dan tingginya harga pengambilan.

“Biasanya nanti mendekati Lebaran baru ramai. Sekarang masih sepi,” terangnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Perbaikan Jalan Semarang-Godong Capai 75%, Siap Dilintasi H-7 Lebaran

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau progres perbaikan ruas jalan Semarang-Godong . Foto: Ist

BETANEWS.ID, GROBOGAN — Perbaikan ruas jalan Semarang-Godong yang terputus akibat tanggul jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, terus dikebut. Pekerjaan ini ditargetkan selesai H-7 Lebaran, sehingga dapat dilalui saat arus mudik.

Guna memastikannya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengecek langsung progres terkini perbaikan ruas jalan sepanjang kurang lebih 60 meter tersebut pada Senin (2/3/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, progres perbaikan tanggul yang jebol sudah tertutup dan tinggal menunggu kering atau keras. Sementara untuk perbaikan jalan masih sampai tahap proses perkerasan dasar atau landasan beton. Perkerasan sedikit mengalami kendala lantaran masih ada rembesan air sungai Tuntang.

“Ini selesai H-7 lebaran ya. Diakali, penting sudah keras dan bisa dilewati. Setelah sini selesai langsung geser ke jalan kabupaten yang jadi jalur alternatif,” kata Luthfi saat mengecek dan memberikan arahan kepada Kepala DPUPR Jawa Tengah di lokasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (DPUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro mengatakan, perbaikan ruas jalan putus tersebut dilakukan siang-malam. Saat ini progresnya sudah sekitar 75%.

Baca juga: Kemantapan Jalan Nasional di Jawa Tengah Capai 93,47 Persen, Siap Dilintasi Pemudik Lebaran

“Mudah-mudahan target kita dua minggu ini dapat terselesaikan. Jadi nanti sebelum lebaran sudah bisa kita buka lagi untuk aktivitas lalu lintas ataupun pergerakan dari Purwodadi sampai ke Semarang atau sebaliknya,” katanya.

Menurut Henggar, awalnya penanganan jalan yang putus tersebut akan menggunakan jembatan armco. Jembatan sudah sampai di lokasi, namun setelah ditinjau ulang ternyata ada badan jalan lain yang konstruksinya sudah bergeser. Maka dari itu, bagian itu ikut dihancurkan untuk dibangun kembali menggunakan konstruksi baru permanen.

“Total panjangnya ada 60 meter (badan jalan) yang kita nyatakan hilang. Armco tidak jadi dipasang, tapi dilakukan penanganan permanen dengan pengecoran beton bertulang,” jelasnya.

Seperti diketahui, tanggul sungai Tuntang yang berada di Desa Tinanding, Godong, Grobogan, jebol pada 16 Februari 2026 lalu. Peristiwa tersebut mengakibatkan ruas jalan Semarang-Godong KM35 terputus total. Luapan air juga menggenangi wilayah sekitar.

Saat kunjungan terdahulu, Ahmad Luthfi sudah meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana agar mempercepat penutupan tanggul jebol. Selain itu, ia juga mengusulkan kepada Kementerian PU untuk segera melakukan normalisasi sungai Tuntang.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Mencicipi Pindang Serani, Makanan Khas Jepara yang Cocok Jadi Menu Berbuka Puasa

0
Pindang Serani khas Jepara. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JEPARA– Berada di daerah pesisir, Kabupaten Jepara memiliki salah satu menu khas berbahan ikan, bernama Pindang Serani.

Diolah dengan campuran rempah berupa kunir dan sereh ditambah bawang merah, bawang putih, cabai, daun jeruk, tomat, serta kemangi, Pindang Serani yang disajikan berkuah bisa menjadi salah satu menu rekomendasi untuk berbuka puasa.

Menu tersebut juga menjadi salah satu menu yang paling banyak dipesan pengunjung saat datang ke Restoran Ocean View Residence yang berada di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan.

Eksekutif Chef Ocean View Residence, Khamid menjelaskan, menu Pindang Serani paling banyak dipesan oleh pengunjung dari luar kota yang penasaran dengan cita rasa Pindang Serani.

“Menu best seller kita yang paling banyak dicari pengunjung saat buka puasa ini ada Pindang Serani. Ikannya kita pakai ikan fresh, ikan tunul dari daerah pesisir Jepara sendiri,” katanya pada Betanews.id, Senin (02/3/2026).

Untuk membuat menu tersebut agar berbeda, Khamid menyajikan Pindang Serani dengan horog-horog, yang juga menjadi salah satu menu khas dari Kabupaten Jepara.

Selain Pindang Serani, Khamid melanjutkan, ia juga mengkreasikan menu baru berupa horog-horog goreng yang disajikan dengan cumi bakar sambal matah.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

“Selain Pindang Serani, ada menu baru kreasi kita, horog-horog goreng, karena sekaligus untuk mengenalkan menu khas Jepara,” ujarnya.

Satu porsi Pindang Serani dan horog-horog dibandrol dengan harga Rp75 ribu, sedangkan untuk horog-horog goreng cumi sambal matah dibandrol dengan harga Rp80 ribu per porsi.

Salah satu pengunjung, Akbar (30) asal Surabaya, mengaku baru pertama kali mencicipi menu Pindang Serani. Ia mengetahui menu tersebut dari media sosial.

“Kebetulan ini lagi di Jepara mau nyebrang ke Karimun, penasaran sama Pindang Serani, ini baru pertama nyoba,” katanya.

Cita rasa kuahnya yang segar menurutnya cocok disantap sebagai menu berbuka puasa. Akbar mengaku juga baru mengetahui jika horog-horog ternyata bisa dipadukan dengan berbagai menu.

Sebab sepengetahuannya, ia biasanya melihat Horog-horog dipadukan dengan pecel atau bakso.

“Ini dicampur sama horog-horog ternyata pas juga, saya taunya kan dimakan pakai bakso, dan rasanya enak juga, ngga nyesel sih nyobain dicampur Pindang Serani,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Puluhan Titik Rawan Macet dan Bencana di Jalur Mudik Jawa Tengah, Inilah Antisipasinya

0
Jalan Kaligawe Semarang menjadi salah satu titik rawan macet. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, pemerintah mulai memetakan ruas jalan yang rawan terhadap bencana dan kemacetan. Hal itu dilakukan sebagai upaya mitigasi lonjakan arus kendaraan sekaligus potensi gangguan akibat cuaca ekstrem.

Berdasarkan pemetaan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DI Yogyakarta, setidaknya 46 titik rawan kemacetan dan 23 titik rawan bencana di jalur nasional Jawa Tengah menjelang arus mudik Lebaran 2026.

Kepala BBPJN Jateng–DIY, Moch Iqbal Tamher mengatakan, titik rawan kemacetan tersebar di jalur pantura, jalur tengah, hingga jalur selatan. Mayoritas berada di kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, simpang padat, serta akses keluar-masuk tol.

“Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan kami siapkan agar potensi hambatan arus mudik bisa diminimalkan,” ujarnya saat keterangan pers Kesiapan Jalur Lebaran 2026 di kantor BBPJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/20260.

Menurut Iqbal, jalur Pantura menjadi koridor paling krusial karena menampung kendaraan jarak jauh dari arah barat ke timur, termasuk kendaraan logistik dan bus antarkota.

Selain kemacetan, BBPJN juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana. Jumlah itu terdiri atas 14 titik rawan banjir dan 9 titik rawan longsor.

Baca juga: Kemantapan Jalan Nasional di Jawa Tengah Capai 93,47 Persen, Siap Dilintasi Pemudik Lebaran

Untuk titik rawan banjir, sejumlah ruas yang menjadi perhatian antara lain Jalan Kaligawe Semarang, ruas Sayung di perbatasan Kota Semarang–Demak, Jalan Walisongo, serta ruas Kendal di jalur Pantura.

Selain itu, potensi genangan juga teridentifikasi di ruas Pemuda Brebes, Prupuk–Batas Kabupaten Tegal/Banyumas, Sidareja–Simpang 3 Jeruklegi, Sampang–Buntu, Klampok–Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, hingga Palur–Sragen.

Ruas-ruas tersebut umumnya berada di dataran rendah atau wilayah dengan riwayat genangan akibat hujan intensitas tinggi maupun rob.

Sementara itu, titik rawan longsor banyak berada di jalur selatan dan wilayah perbukitan. Beberapa ruas yang masuk kategori rawan longsor di antaranya Batas Jawa Barat–Karangpucung–Wangon, Ajibarang–Wangon, Wangon–Batas Banyumas/Cilacap, Patikraja–Rawalo, hingga Batas Kota Banjarnegara–Wonosobo.

Menurut Iqbal, karakteristik tanah labil dan kontur perbukitan menjadi faktor utama potensi longsor di wilayah tersebut, terutama saat curah hujan tinggi.

Iqbal berharap koordinasi lintas instansi, termasuk dengan kepolisian dan pemerintah daerah, dapat memperlancar arus mudik sekaligus meminimalisir risiko gangguan akibat faktor alam.

Untuk mendukung kelancaran mudik lebaran tersebut, pihaknya menyiapkan 18 posko Lebaran di berbagai jalur nasional wilayah Jawa Tengah. Posko tersebut tersebar di koridor strategis, mulai dari jalur Pantura barat hingga jalur selatan. Di wilayah Pantura barat, posko ditempatkan antara lain di ruas Batas Kabupaten Tegal/Kabupaten Brebes–Prupuk serta Batas Kabupaten Tegal–Kabupaten Pemalang.

Untuk Pantura tengah dan timur, posko disiagakan di kawasan Alas Roban, Jalan Walisongo, ruas Batas Kota Semarang–Batas Kota Demak (KM 13+700), hingga ruas Batas Kabupaten Kudus/Pati–Simpang 3 Lingkar Pati (KM 66+300). Posko juga berada di Pemuda Rembang (KM SMG 113+100).

Sementara di jalur tengah dan selatan, posko ditempatkan di ruas Bawen–Batas Kota Salatiga, Kartosuro–Batas Kota Klaten, Purwokerto–Patikraja, Klampok–Banjarnegara, hingga Wawar–Congot.

Iqbal mengatakan, seluruh posko dilengkapi personel teknis dan peralatan, hal ini untuk memastikan respons cepat apabila terjadi gangguan lalu lintas maupun kerusakan jalan. “Posko ini kita siagakan untuk mempercepat penanganan di lapangan, terutama di titik-titik rawan kepadatan dan gangguan,” ujarnya.

Selain posko, BBPJN juga menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta.

“Kita juga siapkan unit peralatan tanggap darurat di empat titik. Jadi kalau terjadi gangguan besar seperti banjir atau longsor, alat sudah siap digerakkan,” kata Iqbal.

Peralatan yang tersedia mencakup excavator, wheel loader, motor grader, dump truck kecil dan tronton, cold milling machine, asphalt finisher, hingga truck trailer.

BBPJN juga menyiapkan material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat bentang 30 meter, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, serta tambalan cepat mantap.

Baca juga: Genjot Investasi, Pemprov Jateng Siap Pasok Energi Baru Terbarukan di Kawasan Industri Batang

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyatakan, wilayahnya siap menyambut pemudik pada Lebaran 2026. Kini, langkah-langkah menghadapi arus mudik dan arus balik sudah disiapkan, termasuk perbaikan jalan juga dikebut.

Dikatakan Luthfi, Jawa Tengah menjadi wilayah utama perlintasan nasional, sehingga persiapan infrastrukturnya tidak boleh setengah-setengah.

Apalagi, berdasarkan proyeksi Kementerian Perhubungan, sebanyak 17,7 juta orang diperkirakanmasuk ke Jawa Tengah selama periode Lebaran 2026. Sementara secara nasional, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi tujuan favorit dengan estimasi pergerakan 38,71 juta orang.

Oleh karenanya, menghadapi lonjakan tersebut, Luthfi menekankan kondisi jalan provinsi terus dimantapkan.

“Kita mempunyai jalan hampir 2.200 kilometer yang menjadi kewenangan provinsi. Tingkat kemantapan jalan provinsi 94 persen. Tahun 2026 fokus pada perawatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Luthfi meminta kepada masyarakat agar selalu waspadai terhadap potensi cuaca ekstrem menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026.

Akhir-akhir ini, lanjut Luthfi, banyak bencana terjadi di Jawa Tengah karena cuaca ekstrem tersebut. Oleh karenanya, perlu koordinasi lintas sektor untuk menyelesaikan persoalan tersebut

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Menolak Gulung Tikar Meski Produksi Bedug dan Rebana Tak Lagi Memesona

0
Seorang perajin sedang membuat rebana. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Meski tak lagi menjadi usaha yang cemerlang seperti dahulu, produksi rebana di Kabupaten Kudus masih tetap bertahan. Sugiarto (48), perajin di Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, tetap menjalankan usahanya demi menjaga warisan keluarga.

Pemilik Istana Bedug itu mengatakan, saat ini produksi rebana masih berjalan meski penjualan atau pesanannya jauh menurun dibanding masa sebelum pandemi. Ia bertahan tak hanya menjaga warisan dari orang tuanya, namun juga demi pekerja yang telah setia ikut dengannya selama ini.

“Sekarang per bulan untuk pesanan rebana sekitar 30 set, padahal dulu sebelum corona bisa kirim ratusan set. Apalagi pesanan bedug, yang dulunya bisa mencapai 10 unit terjual, sekarang satu unit pun kesusahan,” keluhnya.

Satu set rebana terdiri dari delapan alat, yakni empat rebana, dua kaprak, satu tung, dan satu darbuka. Produk dibuat dari kayu mahoni dan nangka dengan harga sekitar Rp2,5 juta per set.

Baca juga: Ramadan Sepi Pesanan, Perajin Bedug dan Rebana di Kudus Hanya Terima Satu Order

Sugiarto menyebut, dulu pasar rebananya menjangkau hampir seluruh Indonesia. Kini permintaan paling stabil justru datang dari wilayah Kalimantan.

Penurunan produksi juga berdampak pada jumlah tenaga kerja. Jika sebelumnya ia mempekerjakan lebih dari 30 karyawan, kini hanya tersisa sekitar 15 orang.

“Masih bertahan karena ini peninggalan orang tua, dan masih ada pesanan sedikit-sedikit. Lagi pula kalau distop juga kasihan para karyawan yang hingga kini telah membersamai,” kata seorang ayah yang dikaruniai empat anak tersebut.

Saat ini, ia juga mulai mencari usaha tambahan, salah satunya di bidang travel, untuk menopang gaji karyawan dan ekonomi keluarga di tengah menurunnya industri alat musik tradisional.

“Karena sudah sepi, jadi saya mulai mencari celah usaha lain untuk menghidupi keluarga. Alhamdulillah, travel ini bisa menopang kebutuhan dapur,” ujarnya.

Ia menambahkan, ratusan set rebana dan 30 bedug masih tersimpan dengan baik sebagai stok. Artinya, ketika ada yang memesan, pihaknya baru memasang kulit kerbau dan finishing bagian yang membutuhkan kerapian.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jembatan Armco Program Presiden Prabowo Mulai Dibangun di Pedawang Kudus

0
Jajaran Kodim 0722/Kudus bersama masyarakat membangun jembatan Armco di Sungai Gembel yang selama ini menjadi penghubung penting antarwilayah. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, kini tak perlu lagi memutar jauh untuk menuju area persawahan maupun menyeberangi sungai dengan waswas. Jajaran Kodim 0722/Kudus bersama masyarakat setempat mulai membangun jembatan Armco di Sungai Gembel yang selama ini menjadi penghubung penting antarwilayah.

Pembangunan jembatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (28/2/2026). Sejak pagi, personel TNI tampak bekerja berdampingan dengan perangkat desa dan warga. Suara alat kerja dan aktivitas gotong royong mewarnai lokasi pembangunan.

Komandan Kodim 0722/Kudus, Yuusufa Allan Andriasie mengatakan, pembangunan jembatan ini merupakan bentuk dukungan TNI terhadap percepatan infrastruktur pedesaan. Ia menyebut, akses yang layak menjadi salah satu kunci pemerataan pembangunan.

“Jembatan ini nantinya bisa meningkatkan konektivitas ekonomi desa. Anak-anak sekolah juga lebih mudah beraktivitas dari rumah ke sekolah,” ujar Letkol Arh Yuusufa melalui siaran tertulisnya, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Terancam PHK Massal, Puluhan Ribu Buruh Rokok Kudus Siap Demo

Secara teknis, lanjutnya, jembatan yang dibangun memiliki bentangan sepanjang 12 meter dengan lebar sungai sekitar 10 meter. Tinggi pangkal jembatan di sisi utara maupun selatan mencapai 3,5 meter. Saat kondisi normal, kedalaman air sekitar setengah meter, namun bisa naik hingga dua meter ketika banjir.

“Keberadaan jembatan ini akan menghubungkan RT 04 RW 03 dengan area persawahan Desa Pedawang. Tak kurang dari seribu jiwa diperkirakan menjadi penerima manfaat langsung,” ungkapnya.

Hingga akhir Februari kemarin, progres pembangunan masih berjalan. Pembersihan lahan sudah mencapai sekitar 60 persen. Sementara pekerjaan bowplang 15 persen, pondasi dasar dan footplat 10 persen, serta pemasangan plat Armco sekitar 20 persen.

Dari data yang dihimpun, realisasi pembangunan berada di angka 20 persen dari rencana 26,98 persen atau terdapat deviasi minus 6,98 persen. Meski begitu, pihak Kodim memastikan pengerjaan akan terus dikebut agar segera bisa dimanfaatkan masyarakat.

Pembangunan ini melibatkan 10 personel TNI, dua tenaga teknisi, tiga perangkat desa, serta delapan warga. Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat penyelesaian proyek sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Puluhan Jemaah Umrah Asal Jepara Masih Tertahan di Arab Saudi Imbas Perang Iran Vs AS-Israel

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID,JEPARA– Perang Amerika-Israel vs Iran membuat jalur transportasi udara ditutup. Akibatnya, jemaah yang sedang menjalankan ibadah umrah di Arab Saudi terpaksa tertahan di Tanah Suci.

Direktur PT Buroq Haji dan Umroh Jepara, sekaligus Pengurus AMPHURI (Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia), Haizul Ma’arif menyebutkan, jemaah umrah dari bironya sendiri yang saat ini masih menjalankan ibadah umrah sebanyak 21 jemaah.

Haiz mengatakan, 21 jemaah itu tiba di Madinah pada tanggal 28 Februari 2026, pada saat meletusnya perang Israel-As Vs Iran.

“Dari pendataan kita, dari PT Buroq ada 21 jemaah yang saat ini menjalankan umrah,” sebut Haiz melalui sambungan telepon, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh jemaah, Haiz mengatakan, kondisi mereka saat ini baik-baik saja dan masih bisa menjalankan ibadah umrah dengan lancar.

Hanya saja, akibat situasi yang terjadi saat ini, Haiz mengatakan, terdapat jemaah umrah asal Jepara yang masih tertahan di Bandara Arab Saudi.

Baca juga: Kasus Sudewo Terus Bergulir, KPK Hari Ini Kembali Periksa Plt Bupati hingga Ketua DPRD Pati

“Kondisi mereka masih fokus ibadah tanpa ada kendala apa-apa. Hanya saja, yang kami lihat dari laporan, banyak jemaah Indonesia yang mau pulang itu tercancel,” ungkapnya.

21 Jemaah yang saat ini sedang menjalankan Ibadah Umrah, Haiz menyebut, sesuai jadwal akan kembali ke Indonesia pada tanggal 9 Maret 2026. Sesuai rencana mereka akan pulang menggunakan pesawat Qatar Airland.

Tiket pesawat untuk seluruh jemaah juga sudah dibayar lunas. Hanya saja sampai saat ini, Bandara Qatar masih ditutup imbas perang Israel-As Vs Iran. Haiz berharap, kondisi perang saat ini bisa segera membaik.

“Kami berharap, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terbang kembali, jika memang tidak nanti akan kita pulangkan dengan maskapai lain yang lebih aman,” katanya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara, Siti Zuliati mengatakan, dari laporan yang ia terima memang masih terdapat jamaah umrah asal Jepara yang masih tertahan di tanah suci.

Akan tetapi pada hari ini, terdapat 27 Jemaah Umrah yang sudah bisa tiba di tanah air.

“27 jemaah ini ada yang sedang perjalanan, Alhamdulillah sudah melewati area perang. Siang ini diperkirakan sudah transit di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta,” katanya.

Ia melanjutkan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk memastikan keselamatan jemaah yang masih menjalankan umrah di Tanah Suci.

Seusai imbauan dari Kementerian Haji dan Umrah, pihaknya mengimbau kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) agar untuk saat ini tidak memberangkatkan jemaah umrah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jateng Mantapkan Sebagai Lumbung Pangan Nasional, Lahan Sawah Dilindungi Perlu Terus Dijaga

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta kepada Kantor Wilayah Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) setempat agar terus menjaga lahan sawah dilindungi (LSD), guna memantapkan provinsi ini sebagai peumpu dan lumbung pangan nasional.

Hal itu disampaikan saat menghadiri acara pelepasan Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Jawa Tengah, Lampri di Hotel Gumaya, Kota Semarang, Sabtu (28/2/2026).

“Kolaborasi yang sudah lama terjalin ini harus ditetapkan dan ditingkatkan, terlepas ada atau tidaknya pergantian pimpinan BPN Jawa Tengah,” kata Luthfi dalam sambutannya.

Menurutnya, BPN memiliki peran strategis dalam memberikan kepastian hukum hak atas tanah di seluruh kabupaten/kota sampai desa. Maka dari itu, BPN berserta stakeholder lainnya harus terus digandeng untuk menyelesaikan berbagai persoalan pertanahan.

Baca juga: Kemantapan Jalan Nasional di Jawa Tengah Capai 93,47 Persen, Siap Dilintasi Pemudik Lebaran

Selama satu tahun Lampri menjabat sebagai Kepala Kanwil ATR/BPN Jawa Tengah, telah banyak permasalahan di kabupaten/kota yang terselesaikan. Termasuk salah satunya LSD yang menjadi bagian penting guna memantapkan Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.

Di samping lahan pertanian, Pemprov Jateng juga membangun kolaborasi dengan ATR/BPN terkait dengan dukungan investasi. Kepastian hukum hak atas tanah bagi investor menjadi salah satu elemen penting dalam realisasi investasi di Jawa Tengah. Tentunya tanpa mengubah lahan sawah dilindungi.

Diketahui, kolaborasi antara Pemprov Jateng dan ATR/BPN Jawa Tengah diwujudkan dalam nota kesepakatan Sinergitas Penyelenggaraan Urusan Agraria, Pertanahan dan Penataan Ruang, dan Perjanjian Kerja Sama Sertifikasi Hak Atas Tanah Lahan Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Realisasi sertifikasi LP2B pada 2025 di Jawa Tengah mencapai sekitar 240 bidang, meliputi 80 bidang di Blora, 80 bidang di Wonosobo, dan 80 bidang di Cilacap. Capaian secara komulatif selama periode 2023-2025 sebanyak 5.331 bidang di 22 kabupaten.

Sementara untuk tertib administrasi pertanahan, capaian yang diraih selama 2024-2025 adalah 160 bidang. Juga ada pengadaan tanah untuk kepentingan umum seperti penetapan lokasi bufferzone PT KPI RU IV Cilacap, bendungan Bodri (Kabupaten Kendal dan Temanggung), dan penetapan lahan Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1.

Adapun capaian Gugus Tugas Reforma Agraria meliputi redistribusi 1.050 bidang yang terbagi di Cilacap 616 bidang dan Brebes 444 bidang selama 2025. Kemudian penataan akses reforma agraria (ARA) sebanyak 3.700 KK.

Baca juga: Lewat D’Modifest 2026, Jateng Siapkan Fashion Muslim Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Sementara itu, Lampri mengatakan, sinergi dan kolaborasi dengan Pemprov Jateng dan Forkopimda Jateng telah membantu dalam mewujudkan kegiatan yang dilakukan oleh ATR/BPN Jateng. Selama satu tahun terkahir, ATR/BPN Jateng telah menyelesaikan sekitar 2.000 lebih kualitas data bidang tanah kelas 4, 5, dan 6 atau yang juga disebut dengan KW 456.

KW 456 adalah sertifikat tanah yang terbit pada tahun 1961-1967. Saat itu, sertifikat tanah belum memiliki peta kadaster atau yang menggambarkan informasi detail tentang tanah dan properti. Kondisi tersebut menjadikan tanah dengan sertifikat KW 456 lebih berpotensi diserobot oleh mafia tanah.

“Saya senang atas capaian untuk menekan KW 456 ini, karena merupakan potensi masalah dan persoalan,” paparnya.

Sebagai informasi, Lampri meninggalkan jabatan sebagai Kepala Kantor ATR/BPN Jawa Tengah untuk menduduki jabatan baru sebagai Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Tata Ruang Kementerian ATR/BPN. Jabatan yang ditinggalkan Lampri saat ini diisi oleh Kartono Agustiyanto sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil ATR/BPN Jawa Tengah.

Editor:Kholistiono

- advertisement -

Jelang Arus Mudik Lebaran, Pemkab Kudus Kebut Tambal Jalan Berlubang

0
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus, Harry Wibowo. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mulai mempercepat perbaikan jalan berlubang di sejumlah titik. Penambalan dikebut agar jalur yang dilintasi pemudik dalam kondisi aman dan nyaman.

Perbaikan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus melalui Bidang Bina Marga. Petugas menyisir ruas-ruas jalan yang mengalami kerusakan, terutama di jalur yang diprediksi padat saat arus mudik.

Tak hanya jalur utama, jalan alternatif juga menjadi perhatian. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan yang biasanya memanfaatkan jalur pengurai kepadatan.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus, Harry Wibowo, mengatakan, pihaknya sudah memetakan titik-titik prioritas bersama instansi terkait. Koordinasi dilakukan dengan Satlantas Polres Kudus dan Dinas Perhubungan.

“Ada sekitar empat sampai enam ruas yang diperkirakan menjadi jalur alternatif mudik. Itu yang kami prioritaskan. Kalau ada lubang, langsung kami tambal,” ujar Harry kepada Betanews.

Menurut Harry, kondisi kemantapan jalan di Kabupaten Kudus saat ini berada di kisaran 90 persen dengan kategori baik dan sedang. Meski begitu, perbaikan tetap dilakukan untuk menjaga kualitas jalan tetap optimal.

Baca juga: Ramadan Tak Halangi Layanan Publik, MPP Kudus Layani Ratusan Warga Tiap Hari

Ia menyebut perbaikan jalan dilakukan sesuai arahan Bupati Kudus agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal, khususnya menjelang momentum Lebaran yang identik dengan peningkatan mobilitas warga.

“Perbaikan terus kami lakukan meskipun kondisi anggaran tahun ini berkurang. Yang penting masyarakat tetap merasa aman saat melintas,” katanya.

Untuk tahun 2026, lanjutnya, anggaran pemeliharaan jalan dialokasikan sekitar Rp 5 miliar dari anggaran rutin Bidang Bina Marga Dinas PUPR. Dana tersebut digunakan untuk penambalan maupun perawatan berkala di berbagai ruas jalan.

“Jumlah anggaran itu hanya sekitar separo dari tahun sebelumnya. Pengurangan terjadi akibat pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan penanganan jalan rusak dan berlubang akan selalu dimaksimalkan. Hal tersebut guna memastikan warga yang melintas di jalanan Kabupaten Kudus tetap nyaman dan selamat.

“Kami berharap langkah ini bisa menekan potensi kecelakaan. Serta memberikan kenyamanan bagi warga dan para pemudik yang melintasi Kabupaten Kudus saat Lebaran nanti,” harapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Ramadan Sepi Pesanan, Perajin Bedug dan Rebana di Kudus Hanya Terima Satu Order

0
Salah seorang perajin sedang mengerjakan pembuatan bedug. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Momen bulan suci Ramadan yang biasanya menjadi puncak penjualan bedug, kini justru terasa sepi bagi perajin di Kabupaten Kudus. Hal itu dialami Sugiarto (48), pemilik Istana Bedug di Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog.

Ia mengaku, pada Ramadan tahun-tahun sebelum pandemi, pesanan bedug bisa mencapai sekitar 10 unit dan rebana hingga ratusan set. Namun, kini jumlah pesanan menurun drastis. Bahkan, sekarang hanya laku satu unit bedug saja dan untuk rebana laku puluhan unit.

“Tiga tahun lalu itu bisa sampai 10 biji, sekarang hanya satu bedug dengan ukuran pesanan 60 x 120 sentimeter, itu pun pesanan dari Palembang. Sedangkan kalau untuk rebana, saat ini laku sekitar 20 set, menurun drastis dibandingkan dengan tahun sebelum Corona,” katanya saat ditemui di gudang produksinya, Desa Kedungsari Kecamatan Gebog, Jumat (27/2/2026).

Sugiarto menjelaskan, usaha yang dirintis sejak tahun 2000 dan merupakan warisan dari orang tuanya tersebut memproduksi bedug dengan berbagai ukuran. Mulai diameter 60 sentimeter dan panjang 120 sentimeter hingga diameter bedug mencapai 160 sentimeter dan panjang 2 meter. Harga bedug pun bervariasi, mulai dari Rp10 juta hingga Rp150 juta, tergantung ukuran dan bahan.

Baca juga: Brand Fashion Ternama dan Terlengkap Kini Hadir di Kudus

“Sementara untuk harga rebana, per satu set sekitar Rp2,5 juta. Paket itu mendapatkan beberapa unit, di antaranya meliputi empat rebana hadroh (terbangan), 1 buah bass (bass habsy/bass mika), 1 buah darbuka (calti), 2 buah keprak (keplak), dan 1 buah tam,” jelasnya.

Ia menyebut, seluruh bedug dibuat di rumah produksi dari kayu trembesi utuh dengan usia bahan mencapai 100–300 tahun yang didatangkan dari berbagai daerah seperti Ciamis, Banyuwangi, Jakarta, dan lain sebagainya. Sementara bagian kulit menggunakan kulit kerbau karena dinilai lebih kuat dan menghasilkan suara lebih baik.

Lesunya pesanan, kata Sugiarto, dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Sejak 2020, tren permintaan terus menurun hingga sekarang.

“Perekonomian sekarang tidak seperti dulu. Mau tidak mau saya harus mencari celah usaha lain, karena kalau hanya bertahan di bedug dan rebana saja tidak cukup,” jelasnya.

Meski demikian, ia tetap mempertahankan produksi sebagai bentuk menjaga warisan keluarga. Saat ini masih tersisa stok ratusan set rebana dan sekitar 30 unit bedug di gudang penyimpanannya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kampung Ramadan Demaan Ramai Diserbu Warga, UMKM Lokal Kebanjiran Pembeli

0
Kampung Ramadan di Demaan, Kudus yang ramai diserbu pengunjung. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS-ID,KUDUS – Menjelang waktu berbuka puasa, sejumlah warga berburu takjil. Lokasi Kampung Ramadan pun mulai dipadati warga. Salah satu yang paling ramai adalah Kampung Ramadan di Desa Demaan, Kecamatan/Kabupaten Kudus.

Setiap sore, ratusan warga terlihat memadati deretan stand kuliner yang membentang di sepanjang Jalan Pangeran Puger. Beragam pilihan takjil tersedia, mulai dari minuman segar seperti es buah dan es cappuccino, hingga kuliner kekinian seperti dimsum, zuppa soup, kue balok, mochi, serta jajanan tradisional lainnya.

Pasar Ramadan ini digelar oleh BUMDes Semanah Berkah Desa Demaan dan berlangsung selama bulan Ramadan, yakni mulai 21 Februari hingga 18 Maret 2026.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

Direktur BUMDes sekaligus panitia penyelenggara, Ahmad Ihwan mengatakan, kegiatan ini baru pertama kali digelar dengan tujuan untuk menyejahterakan warga sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal. Menurutnya, meski baru pertamakali digelar, antusiasme pengunjung sangat bagus.

“Pasar Ramadan ini untuk mensejahterakan warga Demaan. Ini baru pertama kali digelar dan setiap hari pengunjung yang datang bisa lebih dari 200 orang, tidak hanya dari Kudus tapi juga dari luar daerah,” bebernya.

Menurutnya, keberadaan Kampung Ramadan juga menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk menjajakan produk mereka, mulai dari makanan kekinian hingga tradisional dengan harga terjangkau.

Salah satu pedagang, Gita mengaku, senang bisa berjualan di lokasi tersebut. Ia menjual berbagai olahan seperti mochi dengan tiga varian rasa, yakni cokelat, cokelat keju, dan cokelat stroberi seharga Rp6 ribu, serta varian cokelat dan cokelat keju seharga Rp5 ribu.

Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima

Selain itu, ia juga menjual cookies dengan harga Rp5 ribu hingga Rp8 ribu, serta brownies berbagai topping seharga Rp10 ribu.

“Di sini saya bawa 150 mochi, 30 brownies, dan sekitar 80 cookies. Baru buka setengah jam saja biasanya sudah hampir habis,” ungkapnya.

Gita menambahkan, selama ini ia memproduksi kue dari rumah dengan sistem pre-order. Kehadiran Kampung Ramadan dinilai sangat membantu pemasaran sekaligus menambah penghasilan.

Keberadaan Kampung Ramadan Demaan pun menjadi solusi praktis bagi warga yang melintas di pusat kota untuk mencari menu berbuka puasa. Dengan banyaknya pilihan kuliner dalam satu lokasi, masyarakat dapat berburu takjil dengan mudah dan nyaman.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jualan Kojek Bakar Sambil Sekolah, Ulin Bisa Raup Rp500 Ribu Sehari

0
Ulin Nuha membungkus kojek pesanan pembeli , di dekat wisata Kijangan, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Foto: Arum Tri Handayani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di sebuah halaman kosong dekat wisata Kijangan, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, tampak sebuah gerobak yang dipenuhi asap bakaran. Di sana, terlihat seorang pemuda sedang sibuk mengipasi bakarannya. Pemuda itu adalah Muhammad Ulin Nuha (18), penjual kojek bakar.

Di tengah kesibukannya membakar kojek, Ulin sapaan akrabnya, bercerita tentang dagangannya itu. Menurutnya, berjualan kojek bakar tidak sulit, karena jajanan tradisional tersebut digemari banyak kalangan.

Menariknya, usaha ini bukan miliknya sendiri, melainkan milik seorang pengusaha asal Dawe. Pengusaha itu telah merintis bisnis kojek bakar selama puluhan tahun dan kini telah memiliki 13 cabang di Kudus dan Jepara.

Baca juga: Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik

Ulin mengaku, berjualan kojek bakar sudah lebih dari tiga tahun. Meski harus membagi waktu dengan jam sekolah, ia mengaku tidak ada kendala. Motivasi utamanya adalah untuk mencari pengalaman kerja dan menambah penghasilan.

“Saya ingin mencari pengalaman kerja sejak muda,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kojek bakar yang dijual Ulin memiliki harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp500 per tusuk. Jajanan ini terbuat dari bahan dasar tepung tapioka yang kemudian dibakar di atas arang hingga matang. Proses pembakaran ini memberikan aroma dan cita rasa yang khas pada kojek.

Setelah matang, kojek disiram dengan saus pedas manis yang menambah kelezatannya. Kombinasi rasa gurih, pedas dan manis inilah yang membuat kojek bakar digemari banyak orang.

Baca juga: Asyiknya Bakso Tengah Sawah, Menu Beragam Harga Masuk Akal

Hampir setiap hari Ulin berjualan hingga pukul 21.00 WIB. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan omzet hingga Rp500.000.

Penulis: Arum Tri Handayani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik

0
Nabil sedang melayani pembeli yang datang ke lapak Jagung Moza Tarik, di Jalan Sunan Muria, Kudus. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di tepi Jalan Sunan Muria, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah outlet yang cukup ramai pembeli. Seorang pria mengenakan baju hitam tampak ramah melayani pelanggan. Pria itu adalah Nabil Anjas Essalafi (24), pemilik usaha Jagung Moza Tarik yang tengah mencuri perhatian warga Kudus.

Berawal dari rasa iseng, pria yang akrab disapa Nabil itu kini menjual berbagai camilan. Di antaranya pisang goreng tanduk, pisang goreng Raja madu, nanas goreng madu, potato crispy, lumpia khas Semarang, hingga martabak manis. Namun, yang menjadi primadona adalah Jagung Moza Tarik, camilan berbahan dasar jagung, susu, dan keju mozzarella.

Perjalanan bisnis Nabil dimulai pada 2020. Awalnya, ia mencoba menjual es buah dan angkringan di depan pabrik Rendeng. Namun, keinginan untuk terus berinovasi membawanya menambah menu dan akhirnya menemukan formula yang tepat untuk usaha jagung mozzarella.

Baca juga: Asyiknya Bakso Tengah Sawah, Menu Beragam Harga Masuk Akal

“Awalnya hanya iseng-iseng, tapi sekarang ini menjadi usaha yang serius. Tantangannya adalah bagaimana terus berinovasi agar pelanggan tidak bosan,” bebernya.

Inspirasi Nabil untuk menciptakan Jagung Moza Tarik datang ketika ia melihat ide serupa dari Malaysia melalui media sosial. Dengan bahan-bahan premium, proses pembuatan camilan ini dilakukan langsung di depan pembeli. Hal ini membuatnya lebih menarik dan memberikan pengalaman tersendiri bagi pelanggan.

“Yang membedakan kita adalah kualitas bahan yang premium. Kita jagungnya ambil langsung dari Jogja. Keunikan kita terletak pada penggunaan mozzarella yang melimpah,” ujar Nabil saat ditemui di outletnya beberapa waktu lalu.

Jagung Moza Tarik mendapat respons luar biasa, terutama saat mengikuti berbagai event besar seperti Hari Jadi Kota Kudus dan Dandangan. Pada event tersebut, Nabil mengaku bisa menghabiskan hingga 20 kilogram jagung dalam sehari.

Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima

“Kalau hari biasa, pembeli kami mayoritas dari Kudus. Tapi saat event besar, pembeli dari luar kota seperti Rembang juga datang. Kami buka dari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, cukup ramai, terutama di akhir pekan,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Asyiknya Bakso Tengah Sawah, Menu Beragam Harga Masuk Akal

0
Sajian menu di Bakso Tengah Sawah, Kudus, dengan pemandangan area persawahan menarik minat para pembeli. Foto: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di tengah hamparan sawah hijau dengan latar Gunung Muria yang memukau, terdapat sebuah warung bakso unik bernama Bakso Tengah Sawah. Warung ini tak hanya menyajikan bakso dan mie ayam, tetapi juga menghadirkan pengalaman makan yang berbeda bagi pengunjung. Dengan cita rasa yang khas, Bakso Tengah Sawah langsung menarik perhatian masyarakat lokal maupun luar kota seperti Demak dan Jepara.

Yuli Purwanto (43), pemilik usaha Bakso Tengah Sawah menjelaskan, bahwa ia menyajikan beragam menu, di antaranya seperti bakso balungan, bakso urat, bakso halus, serta mie ayam. Menurutnya, keistimewaan menu terletak pada penggunaan tetelan sapi seperti usus, lemak, bahkan daging, yang memberikan cita rasa gurih berbeda dari bakso pada umumnya.

“Menu andalan di sini ada bakso balungan seharga Rp26.000 per porsi. Mie ayam Rp 10.000, bakso urat dan bakso halus Rp 15.000. Dan bakso lainnya tetap menjadi favorit pembeli dengan harga terjangkau,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima

Yuli mengaku, resep bakso yang digunakan ia pelajari dari sang ibu, yang juga berjualan daging di pasar. Proses pembuatan bakso dilakukan di rumah, sementara penggilingan dagingnya dilakukan di pasar untuk menjaga kualitas.

“Dalam sehari, biasa habis hingga 70 porsi, bahkan meningkat hingga 100 porsi ketika akhir pekan. Untuk bahan baku sendiri, daging diperoleh langsung dari usaha ibu, sementara sayur-mayur beli dari pasar,” ungkapnya.

Yuli juga bercerita, sebelum sukses dengan usaha bakso, ia sempat menjajakan baju sepak bola di berbagai kota. Di antaranya Kudus, Semarang, Bali, dan Yogyakarta saat ada pertandingan besar. Namun, dorongan sang ibu untuk beralih menjual bakso mengubah jalan hidupnya.

Nama Bakso Tengah Sawah diambil dari lokasi warung yang berada di tengah-tengah sawah. Selain menikmati kelezatan bakso, pelanggan dapat merasakan suasana pedesaan yang menenangkan, ditemani pemandangan hijau persawahan yang asri dan gunung muria.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

Tak hanya mengandalkan lokasi strategis dan cita rasa, Yuli juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok untuk mempromosikan usahanya. Strategi ini terbukti efektif menjangkau pelanggan baru, termasuk mereka yang datang dari luar kota.

“Kami buka setiap hari mulai pukul 10.30 hingga 21.00 WIB. Lokasinya mudah ditemukan, berada di perempatan Jalan Pasuruan Lor, Kudus,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kisah Sri Sulasih, Buka Warung Demi Menjaga Resep Warisan Sang Ibu

0
Sri Sulasih sedang membuat lontong tahu di lapaknya, di Lapangan Rendeng, Desa Rendeng, Kudus. Foto: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Di sisi sudut Lapangan Rendeng, sebuah gerobak hitam dengan spanduk merah mencolok menarik perhatian siapa pun yang melintas. Dari balik gerobak itu, tampak Sri Sulasih (42) sibuk menyiapkan pesanan pelanggan dengan tangan cekatan.

Sri mengaku sudah sekitar tiga bulan terakhir berjualan di Lapangan Rendeng. Setiap hari, Ia membuka lapak sejak pukul 06.00 hingga 15.00 WIB.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Lontong gado-gado dan lontong tahu telur dibanderol demgan harga Rp12 ribu per porsi, sementara nasi pecel bisa dinikmati hanya dengan Rp7 ribu saja. Semua disajikan dengan bumbu kacang gurih buatan sendiri yang jadi ciri khas warung ini.

Baca juga: Kisah Didi, Warga Bandung yang Sukses Jualan Cimol & Kentang di Kudus

Sri ternyata bukanlah pendatang baru di dunia kuliner. Ia merupakan penerus usaha sang ibu, yaitu Sulastri, yang sudah hampir 45 tahun berjualan di Pasar Kliwon dulunya.

“Di sini baru berjualan sekitar tiga bulan yang lalu, tapi sebelumnya Ibu dulu yang jualan di Pasar Kliwon, itu sudah sejak lama, hampir 45 tahun jualan di sana,” ujar Sri saat di temui beberapa waktu lalu.

Pindah ke Lapangan Rendeng menjadi Keputusan besar bagi keluarga Sri. Selain mencari suasana yang lebih terbuka, mereka juga berharap bisa menjangkau pelanggan baru.

“Kalau di Pasar Kliwon dulu ramai, apalagi pas pagi-pagi. Kalau di sini masih agak sepi, biasanya yang beli ya warga sekitar yang olahraga disini. Tapi ya kami tetap bersyukur,” ujarnya.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

Bagi Sri, berjualan bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga melanjutkan perjuangan dan menjaga warisan cita rasa dari ibunya.

“Yang penting rasanya tetap sama seperti buatan ibu. Pelanggan pasti akan datang,” tambahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -