31 C
Kudus
Minggu, Februari 22, 2026

Kisah Didi, Warga Bandung yang Sukses Jualan Cimol & Kentang di Kudus

Sore itu, di depan SMPN 4 Kudus, Jalan Dewi Sartika, Singocandi, Kudus, tampak sebuah gerobak sederhana dengan seorang bapak berpakaian oranye yang sibuk melayani pembeli. Aroma gurih cimol dan kentang goreng menguar, menarik perhatian para siswa yang baru pulang sekolah. Dia tak lain adalah Didi (30), pemilik usaha Cimol & Kentang yang kini menjadi favorit anak-anak sekolah di kawasan tersebut.

Perjalanan Didi menuju kesuksesan tidaklah mulus. Pria asal Bandung ini harus menelan pil pahit ketika terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja saat pandemi COVID-19 melanda.

Namun, di tengah keterpurukan itu, datang secercah harapan. Seorang teman menawarkannya untuk bergabung dalam usaha cimol dan kentang.

-Advertisement-

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

“Lalu saya ditawari temen untuk gabung usaha cimol & kentang ini, awalnya saya coba-coba lalu nyaman sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Didi mengaku, bahwa cimol & kentang yang ia jual merupakan produksinya sendiri. Dan sejak awal berjualan, ia memilih lokasi di depan SMPN 4 Kudus.

Menurut Didi, yang membedakan cimol & kentang buatanya terletak pada bumbu rahasia. Keunikan inilah yang membuat pelanggannya terus kembali dan betah dengan cita rasa khas yang ditawarkan.

 “Sebenernya cimol & kentang di sini biasa, tapi yang bikin beda di sini itu bumbunya. Untuk bumbunya kita bikin sendiri dan olah sendiri. Kebanyakan kan bumbunya instan, tapi kalau ini bumbu racikan sendiri dan olahan sendiri,” bebernya.

Untuk bumbu, Didi menawarkan dua varian, yaitu original cimol dan bumbu jagung. Dua pilihan bumbu ini memberikan variasi rasa yang membuat pelanggan tidak bosan.

Ia mengaku sangat memperhatikan kualitas produknya mulai dari pemilihan bahan hingga proses pengolahan. Untuk cimol, ia menggunakan bahan-bahan seperti tepung tapioka, garam, micin, dan bahan lainnya.

“Lalu dibuat adonan, setelah itu saya dibikin bulat-bulat. Kalau penggorengan cimol kurang lebih 10 menitan,” bebernya.

Sementara untuk kentang, prosesnya sedikit lebih lama. Untuk pembuatan kentang, ia menggunakan tepung bumbu untuk melapisi kentangnya agar tidak cepat lembek.

“Kalau penggorengan kentang butuh waktu sekitar 20 menit,” ujar Didi.

Menyadari target pasarnya adalah pelajar, Didi menetapkan harga yang lebih terjangkau. Ia menjual dagangannya mulai harga Rp3.000 hingga Rp7.000.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

“Sebenarnya satu porsi Rp 7.000, tapi kalau anak-anak ya boleh beli Rp3.000” katanya.

Dalam sehari, ia mengaku bisa memproduksi 3 kilogram cimol dan membawa 10 kilogram kentang. Dari dagangannya itu, ia bisa mengantongi uang ratusan ribu rupiah setiap hari.

“Biasanya saya buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Untuk omzet tergantung saya bawanya, biasanya dalam 1 hari omzetnya di bawah Rp1.000.000,” bebernya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER