Beranda blog Halaman 117

Dua Bocil Gangster Diamankan Warga Karaban, Nyaris Jadi Bulan-bulanan Massa

0
Dua bocah baru gede yang diduga anggota salah satu kelompok gangster diamankan warga Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Minggu (7/12/2025) malam. Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Dua bocah baru gede yang diduga anggota salah satu kelompok gangster diamankan warga Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Minggu (7/12/2025) malam. Keduanya kemudian digiring ke Balai Desa Karaban sebelum akhirnya dijemput aparat kepolisian.

Kepala Desa Karaban, Kusnan mengatakan, ia menerima laporan warga sekitar pukul 22.00 WIB mengenai tertangkapnya dua bocah yang diduga bagian dari kelompok gangster. Mendapat informasi itu, ia segera menuju balai desa.

Baca Juga: Warga Pati Kembali Geruduk KPK, Pertanyakan Kelanjutan Kasus DJKA yang Diduga Melibatkan Sudewo

”Tadi malam jam sepuluh dapat telepon anggota gangster tertangkap. Awalnya di luar ruangan, kemudian saya masukkan ke dalam ruangan agar tidak menjadi bulan-bulanan warga,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Ratusan warga dilaporkan telah memenuhi area balai desa. Demi menghindari amukan massa, Kusnan memastikan kedua pemuda tersebut diamankan terlebih dahulu.

’’Tadi malam saya datang, massa sudah kumpul dan kemudian kami amankan kedua bocah. Hampir ribuan massanya,” ucapnya.

Setelah kondisi terkendali, Kusnan melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian. Tak berselang lama, petugas Polresta Pati tiba di lokasi dan mengevakuasi kedua pemuda tersebut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kusnan mengaku belum mengetahui detail kronologi penangkapan. Namun ia menyebut, dua hari sebelumnya, warga diresahkan oleh masuknya sejumlah terduga anggota gangster ke Desa Karaban sambil membawa senjata tajam dan mercon.

”Sebelumnya ada masuk Karaban membawa mercon dan sajam. Itu kalau ndak salah malam Sabtu,” katanya.

Ia pun bersyukur dua remaja yang diamankan warga dapat segera dibawa ke kantor polisi. Kusnan berharap penyelidikan dapat mengungkap jaringan gangster yang diduga melibatkan para remaja tersebut.

”Mungkin agar dikembangkan agar tahu gengster dan bisa dibina,” tambahnya.

Sementara itu, KA SPKT Polresta Pati, Ipda Sismiyarto menjelaskan, bahwa identitas kedua pemuda telah diketahui. Mereka berinisial NAP (14) dan AH (13), keduanya berasal dari Kecamatan Tambakromo. Polisi mengevakuasi keduanya untuk mencegah terjadinya aksi main hakim sendiri.

”Kami langsung merespons laporan masyarakat dan mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi,“ ungkapnya.

Baca Juga: Pasca Dipolisikan, Aktivis Kendeng Justru Makin Bersemangat Tolak Tambang

Ia menegaskan, bahwa Sat Reskrim Polresta Pati kini mendalami dugaan keterlibatan kedua remaja tersebut dalam aksi gangster. Hingga saat ini tidak ditemukan adanya korban maupun kerugian materiil.

”Untuk dugaan keterlibatan para remaja ini dalam aksi gangster masih kami dalami. Semua proses akan dilakukan secara profesional,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Gulung Tikar di Pangkas Rambut, Mas Bro Bangkit dan Cuan dengan Rebranding Barbershop

0
Di sudut area Taman Balai Jagong Kudus, berdiri sebuah tenda sederhana bertuliskan Barberstreet. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu suasana adem menyelimuti area Taman Balai Jagong Kudus. Di satu sudut duduk di samping tenda sederhana, Aris Widodo atau yang akrab disapa Mas Bro sedang menunggu pelanggan. Julukan itu melekat karena nama barbershop miliknya, Bro Barbershop, yang membuat banyak pelanggan otomatis menyapanya dengan panggilan khas, Mas Bro.

Sebelum merintis usaha jasa barbershop, Mas Bro, mengaku usahanya dulu adalah menawarkan jasa pangkas rambut, namun sayangnya sepi. Meski tarif cukup murah yakni Rp 10 ribu, tetapi pelanggan seolah enggan datang, sehingga ia pun minim pendapatan.

Baca Juga: Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner

“Sementara adik saya yang barbershop dengan tarif Rp 25 ribu selalu kebanjiran pelanggan. Terinspirasi hal tersebut saya juga berniat membuka barbershop,” ujarnya kepada Betanews.id di Balai Jagong Kudus, belum lama ini.

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, ia harus belajar lagi terkait seni memangkas rambut ke Solo dan Jogjakarta. Ketika sudah mahir tekniknya, pada tahun 2017 Mas Bro mulai membuka usaha barbershop yang diberi nama Mas Bro.

“Saya membuka usaha barbershop di dalam gang 1 Keluarahan Mlati Norowito, Kecamatan Kota. Meski di dalam gang, tetapi saya yakin akan ramai. Sebab saat itu barbershop di Kudus masih jarang sekali,” beber pria yang juga menginisiasi barber street di Balai Jagong Kudus tersebut.

Dia mengungkapkan, awal membuka usaha memang tidak langsung ramai. Tetapi progresnya bagus, tiap hari sedikit demi sedikit pelanggan berdatangan. Dua bulan pertama, jumlah pelanggan masih hanya sekitar 15–20 orang per hari.

“Titik balik datang, ketika saya mengikuti event barbershop keliling se-Karesidenan Pati. Nama saya mulai dikenal, apalagi setelah rajin mempromosikan karya di media sosial (medsos),” sebutnya.

Enam bulan kemudian, kursi barbernya tak lagi banyak waktu kosong. Pelanggan bisa tembus 40–50 pelanggan per hari. Mulai tahun 2018, pelanggannya makin banyak, apalagi ketika momen menjelang lebaran.

“Sejak tahun 2018, setiap menjelang lebaran selalu kebanjiran pelanggan. Setiap hari pelanggan yang datang bisa lebih dari 100 orang. Mulai bekerja dari pukul 09:00 WIB hingga 03:00 WIB,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, kata Mas Bro, pelanggan yang datang mulai berkurang karena banyak pesaing. Tetapi bisa dianggap masih stabil di angka 40 pelanggan per harinya.

“Tarif barbershopnya kini sudah Rp40 ribu. Tarif tersebut untuk potong rambut saja. Saya juga melayani hair tatto dengan tarif mulai Rp50 ribu. Selain itu juga ada hair potret dengan harga Rp1 juta,” rincinya.

Dia berharap, usahanya tersebut selalu lancar. Serta tetap bisa jadi jujugan para cowok yang ingin ganteng maksimal dengan gaya rambut necis nan modis.

“Slogan saya adalah lungguh anteng mulih ganteng. Pria yang datang ke barbershop Mas Bro dijamin pulang jadi ganteng maksimal,” ucapnya tersenyum.

- advertisement -

Warga Pati Kembali Geruduk KPK, Pertanyakan Kelanjutan Kasus DJKA yang Diduga Melibatkan Sudewo

0
Seratusan warga Pati kembali menggeruduk Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (8/12/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Seratusan warga Pati kembali menggeruduk Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (8/12/2025). Mereka mempertanyakan kelanjutan dugaan suap pada proyek di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) yang melibatkan Bupati Pati Sudewo, yang kala itu masih menjabat sebagai anggota DPR RI.

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) ini berangkat ke Jakarta sejak Minggu (7/12/2025) malam. Kemudian sampai di Gedung Merah Putih ke pada Senin pagi tadi.

Baca Juga: Jalani Pemeriksaan Sejam Lebih, Gunretno: ‘Ada 20 Pertanyaan, Saya Hanya Didampingi Anak-Istri’

”Ini ada dua bus di KPK. Tambah teman-teman yang di Jakarta. Jadi seratusan lebih. Kami berharap akhir 2025 ada keputusan. Agar fokus memimpin,” kata Suharno, Koordinator AMPB.

Ia menyebut, pihaknya berencana berada di Jakarta setidaknya minimal 13 hari ke depan. Selain menggelar aksi di Gedung Merah Putih KPK, AMPB juga bakal keliling meminta dukungan kepada sejumlah pihak, termasuk ICW.

”Kita menggelar aksi setidaknya 13 hari ke depan. Selain  ke KPK, kami juga bakal ke beberapa pihak untuk meminta dukungan. Termasuk mengikuti Kamisan dan ke ICW,” ujar Suharno, Senin (8/12/2025).

Pihaknya berharap agar kasus DJKA yang diduga melibatkan Sudewo diusut tuntas.

”Beberapa kali KPK menyampaikan rilis terkait DJKA ada setidaknya 12 orang yang ditetapkan tersangka. KPK juga beberapa kali mengatakan Sudewo menjadi salah satu yang terlibat sebelum mencalonkan diri pada pilkada,” ucapnya.

Dirinya tidak mau nasib Bupati Pati Sudewo digantung oleh KPK. AMPB meminta KPK segera memberikan kejelasan nasib Sudewo, terlibat kasus DJKA atau tidak.

”Jadi kami ingin KPK tidak menggantung nasib Bupati kami. Kalau menggantung, dia tidak fokus memimpin. Baik terlibat atau tidak, saya berharap ada kejelasan dari KPK terkait Sudewo. semoga pak Sudewo tidak koruptor dan tidak terlibat,” ucapnya.

Ia pun berharap praktik dugaan ’Commitment Fee’ yang mengalir ke Sudewo diusut tuntas. Agar praktik serupa tak terjadi di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Pati.

”Agar commitment fee yang diindikasikan KPK saat DJKA tidak terulang lagi saat memimpin Pati. Kami menduga conmitment fee itu berpotensi dipraktikkan di Pemkab Pati,” ungkapnya.

Baca Juga: Pasca Dipolisikan, Aktivis Kendeng Justru Makin Bersemangat Tolak Tambang

Ia menyampaikan, upaya ini agar praktik korupsi tak terjadi di Pemkab Pati. Dirinya juga menegaskan tidak mempunyai tendensi kepada Bupati Pati Sudewo. Siapapun yang memimpin Pati bakal dikritik bila adanya dugaan penyelewengan kebijakan.

”Kalau ada praktik penyelewengan, kebijakan kami merespon dan kritisi. Tidak melihat bupatinya siapa,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terinspirasi Coffee Street yang Booming, Mas Bro Gagas Barber Street di Balai Jagong Kudus

0
Di sudut area Taman Balai Jagong Kudus, berdiri sebuah tenda sederhana bertuliskan Barberstreet. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sudut area Taman Balai Jagong Kudus, berdiri sebuah tenda sederhana bertuliskan Barberstreet. Di tenda tersebut juga terdapat mini banner yang menunjukan tarif barbershop dan di bawahnya terdapat tulisan slogan, “Lungguh Anteng Muleh Ganteng”.

Di bawah tenda tampak seorang pria memegang mesin pangkas dan dengan cekatan memangkas rambut pelanggan. Pria tersebut yakni, Aris Widodo, penggagas baber street di Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Bupati Kudus Gelar Retreat, Bangun Soliditas dan Tumbuhkan Jiwa Korsa Antar OPD

Pria yang akrab disapa Mas Bro tersebut menyampaikan, barberstreet sudah berjalan sekira sepekan. Ia memilih konsep ini karena di Kota Kretek belum ada dan kemungkinan akan booming (ramai) seperti coffee street.

“Coffee street kan sudah ada dan booming. Jadi saya nangkap peluang tersebut untuk barber, makanya saya namai barber street. Insyallah akan booming dan ditiru yang lain,” ujar Mas Bro kepada Betanews.id di Taman Balai Jagong, belum lama ini.

Ia menuturkan, konsep barber street dianggapnya lebih simpel dan terjangkau. Sehingga bisa jadi inspirasi bagi pelaku barber yang belum mampu menyewa ruko untuk menjalankan usahanya.

“Dengan konsep street, modalnya paling tenda sederhana sama retribusi saja. Tidak perlu nyewa ruko. Kalau peralatan pangkas dan potong rambut, saya yakin semua pelaku barber sudah memiliki semua,” bebernya.

Terkait pemilihan lokasi di Balai Jagong Kudus, pemilik usaha Barbershop Bro tersebut menganggap tempat tersebut selama ini jadi berkumpulnya warga Kota Kretek. Baik untuk jalan – jalan maupun berolahraga. Sehingga, barber street miliknya akan diketahui banyak orang.

“Terkait slogan Lungguh Anteng Mulih Ganteng, ini sebagai jaminan bagi pelanggan untuk mendapatkan hasil maksimal dan tidak mengecewakan,” tandasnya.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2025, Lebih 100 Penindakan Dilakukan Satpol PP Kudus, Ini Hasilnya

Dia mengungkapkan, selama sepekan beroperasi hasilnya lumayan. Beroperasi mulai pukul 06:00 WIB sampai 12:00 WIB masih dapat enam pelanggan.

“Baru sepekan lumayan lah. Setiap harinya ada enam orang yang motong rambut dengan harga Rp20 ribu. Tak hanya pangkas, kami juga menerima hair tatto dan hair potret,” imbuhnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pecak Kalkun di Kudus Jadi Buruan Pecinta Kuliner dari Berbagai Daerah

0
Pecak kalkun di Warung Ratu Pecak yang berada di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pecinta kuliner pedas kini memiliki destinasi baru di Kabupaten Kudus. Warung Ratu Pecak yang berada di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan ini menawarkan menu unik yang jarang ditemui, yakni pecak kalkun. Dengan harga mulai Rp30.000–Rp40.000 per porsi, sajian ini menarik minat pembeli dari Kudus hingga luar kota.

Sajian pecak kalkun disajikan di atas tampah beralas daun pisang, lengkap dengan nasi putih. Perpaduan sambal pecak yang pedas segar dan daging kalkun yang juicy membuat hidangan ini cocok disantap di berbagai waktu.

Baca Juga: Mi Ayam di Pati Ini Cuma Rp5 Ribu Seporsi, Kisah di Baliknya Menyentuh Hati

Pemilik warung, Awan Binuko mengatakan, pecak kalkun dibuat dengan proses khusus agar menghasilkan cita rasa khas dan daging ayam kalkun yang empuk. Dari tingkat kepedasannya, warung tersebut siap membuat sambal yang sesuai dengan permintaan pembeli. 

“Daging kalkun kami kasih bumbu rempah, direbus sampai empuk, baru digoreng. Setelah itu dibuatkan sambal pecak yang dicampur santan, lalu kalkunnya kami penyet atau pecak di atas cobek,” jelasnya.

Awan menyebut, peminat pecak kalkun datang dari berbagai daerah, seperti Semarang, Jepara, Purwodadi, Pati, hingga Demak. Menurutnya, menu kalkun masih jarang dibuat sebagai hidangan, sehingga keunikan itulah yang membuat orang datang jauh-jauh ke sana.

“Di Ratu Pecak ini kami ingin memberi sensasi kuliner berbeda. Sambalnya juga bisa request, sesuai permintaan pelanggan,” ungkapnya.

Warung Ratu Pecak mengusung konsep rumah jadul dengan bangunan kayu, dekorasi tempo dulu, dan nuansa Jawa yang adem. Awan mengaku konsep itu awalnya tidak sengaja, namun justru jadi favorit pelanggan.

“Tadinya rumah biasa, lalu saya buat warung. Ternyata pelanggan suka karena suasananya masih ada kesan tempo dulu,” katanya.

Baca Juga: Cilok Celup, Jajanan Baru yang Sedang Ngetren di Mayong Jepara

Salah satu pengunjung asal Jepara, Faza, mengaku datang karena penasaran dengan menu kalkun yang tidak biasa. Bahkan menurutnya tingkat kepedasan masakannya sangat cocok bagi pecinta kuliner pedas.

“Rasanya enak, dagingnya empuk, tidak alot sama sekali. Pecinta pecak wajib banget coba ke sini karena tingkat pedasnya bisa request. Suasananya juga masih sangat Jawa, adem dan nyaman,” tuturnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Royal Pisang Kembung, Camilan Kekinian yang Populer di Pati

0
Royal Pisang Kembung di Jalan Kolonel Sunandar, Ngagul, Winong, Pati. Foto: Melly Andila Putri

BETANEWS.ID, PATI – Gerimis sore itu mulai membasahi Jalan Kolonel Sunandar, Ngagul, Winong, Pati. Di teras Indomaret depan SMKN 3 Pati, sebuah booth kuning milik Royal Pisang Kembung terlihat mencolok. Aroma pisang goreng hangat dengan aneka topping menarik perhatian para pelajar dan warga yang melintas.

Di balik meja kedai, Asa (20) sedang sibuk melayani pesanan. Meski ramai, ia tetap melayani pelanggan dengan ramah.

Baca Juga: Mi Ayam di Pati Ini Cuma Rp5 Ribu Seporsi, Kisah di Baliknya Menyentuh Hati

“Alhamdulillah ramai terus, apalagi kalau cuaca mendukung,” ujarnya sambil menata topping di atas pisang yang baru digoreng.

Ia bercerita, bahwa usaha itu bermula dari percobaan membuat camilan di rumah. Camilan itu lalu dibagikan ke tetangga dan keluarga. Dukungan positif dari orang-orang yang mencoba, membuatnya memberanikan diri untuk membuka usaha.

“Awalnya iseng-iseng. Kita pakai tepung racikan sendiri biar hasilnya kembung dan renyah,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Asa mulai berjualan sejak awal 2025, dan Royal Pisang Kembung cepat mendapatkan pelanggan. Booth kuningnya kini menjadi salah satu pilihan kuliner ringan yang cukup populer, terutama bagi pelajar dan anak muda.

Keunikan produk ini terletak pada ukuran dan topping yang melimpah. Selain itu, tepung racikan sendiri membuat tekstur pisang menjadi kembung dan renyah.

“Konsepnya kan ‘royal’. Jadi ya topping-nya nggak pelit,” jelasnya.

Menu yang ditawarkan cukup beragam. Ada pilihan rasa seperti cokelat, taro, strawberry, dan matcha, dengan tambahan topping keju, oreo, dan varian lain. Dua menu yang paling banyak diminati adalah cokelat keju dan tiramisu keju.

“Itu kombinasi manis dan renyah, jadi banyak yang suka. Untuk bahan dasarnya itu tepung racikan sendiri, mentega, vanili, air, dan pisang nangka yang dipotong kecil lalu digoreng sekitar lima menit hingga kecokelatan,” tambah Asa.

Meski tampil menarik dengan topping yang banyak, harganya tetap terjangkau. Satu porsi ia jual mulai Rp12.000 hingga Rp15.000.

Baca Juga: Cilok Celup, Jajanan Baru yang Sedang Ngetren di Mayong Jepara

Gerai ini buka setiap hari pukul 11.00–21.00 WIB, kecuali hari Minggu. Dalam kondisi cuaca mendukung, Asa menyebut bisa menjual 20–30 porsi per hari.

“Semoga kualitas tetap terjaga, pelanggan makin loyal, dan ke depan bisa buka cabang,” katanya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPl PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Ahmad Luthfi Tegas, Tidak Boleh Ada Penambangan di Kawasan Gunung Slamet

0
Ahmad Luthfi saat menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa dalam acara Ngobrol Seru Bareng Gubernur Jawa Tengah di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (6/12/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, JAKARTA – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan kembali bahwa kawasan Gunung Slamet telah berproses untuk menjadi taman nasional, sehingga tidak boleh ada aktivitas penambangan di kawasan tersebut.

“Gunung Slamet itu sudah (diproses) menjadi kawasan taman nasional. Jadi kalau kawasan maka tidak boleh ada penambangan. Ini menjadi prioritas,” kata Ahmad Luthfi saat menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa dalam acara Ngobrol Seru Bareng Gubernur Jawa Tengah di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (6/12/2025).

Lebih lanjut, Ahmad Luthfi mengatakan, yang disampaikan mahasiswa bernama Dikri Mulia tersebut merupakan masukan yang sangat berharga untuk melakukan tindakan pencegahan bencana.

Kepala daerah yang memiliki wilayah di kawasan Gunung Slamet juga sudah diinstruksikan untuk melakukan mitigasi, agar praktik perusakan lingkungan di kawasan tersebut tidak terjadi.

“Sudah kita lakukan konservasi. Bupati-bupati yang melingkupi wilayah Gunung Slamet, kita minta melakukan mapping wilayah. Mana yang nanti menjadi spot untuk kegiatan revitalisasi, agar nanti tidak terjadi adanya suatu bencana yang berulang,” jelasnya usai acara.

Jauh sebelum itu, Ahmad Luthfi juga sudah memberikan peringatan kepada seluruh daerah di Jawa Tengah untuk waspada terkait wilayah rawan longsor dan banjir.

Ia juga meminta seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan, baik di wilayah pegunungan, dataran tinggi, maupun wilayah pesisir.

Sebelumnya, dalam dialog tersebut seorang mahasiswa Universitas Indonesia asal Pemalang, Dikri Mulia, melontarkan pertanyaan. Pertanyaan itu terkait santernya informasi yang ia lihat dan baca di media terkait penambangan pasir di kawasan Gunung Slamet.

Dikri menyampaikan keprihatinan dan was-was dengan kondisi tersebut, apalagi akhir-akhir beberapa daerah seperti di Sumatra sedang berduka lantaran banjir bandang yang merenggut ratusan orang meninggal dan hilang.

“Dengan adanya tambang di lereng Gunung Slamet, bukan tidak mungkin (kejadian serupa) itu terjadi di Jawa Tengah kawan-kawan, terutama di Brebes. Sejauh mana Gubernur mengetahui soal kasus ini, langkah apa yang sudah dilakukan oleh Gubernur, lalu langkah apa yang akan dilakukan agar bencana-bencana jangan sampai terjadi,” ujar Dikri saat berdialog dengan Gubernur Ahmad Luthfi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kisah Dimas, Sulap Tugas Kuliah Jadi Cuan Lewat Angkringan Sate Taichan

0
Angkringan Sate Taichan di tepi Jalan Kampus UMK, Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Melly Andila Putri

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kampus UMK, Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus, tepat di depan Cafe Kopcil, tampak sebuah angkringan yang dikelola oleh Dimas (20). Meski belum lama buka, angkringan ini sudah menuai respons positif dari pelanggan.

Saat di temui di angkringannya beberapa waktu lalu, Dimas bercerita, bahwa lapak yang ia beri nama Angkringan Sate Taichan itu bermula dari tugas kuliah. Melalui mata kuliah kewirausahaan, Mahasiswa UIN Sunan Kudus ini mengubah konsep bisnis yang awalnya hanya tugas menjadi usaha nyata.

Baca Juga: Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner

“Awalnya kan saya kuliah di UIN Sunan Kudus, ada mata kuliah kewirausahaan dan saya mengambil bisnis sate taichan. Terus saya ajak teman-teman saya buat kolaborasi. Kita buat usaha angkringan sate taichan biar ilmunya tidak menjadi tugas saja, tapi biar berkelanjutan,” ujar Dimas.

Ia juga membeberkan, yang membedakan Angkringan Sate Taichan miliknya dengan lainnya adalah cita rasa sambal yang khas. Selain itu, berkat lokasinya yang strategis, usahanya tidak butuh waktu lama untuk mendapat pelanggan.

“Keunikan sate taichan ini ada pada sambalnya, beda dari yang lain. Dan di tusukan sate taichannya, di bagian tengah kita kasih daun bawang biar lebih sedap,” jelasnya.

Meski namanya Angkringan Sate Taichan, Dimas juga menyajikan beragam menu yang cocok untuk anak muda dan mahasiswa. Mulai dari sate taichan sebagai menu utama, nasi kucing, mie, berbagai cemilan, es, hingga kopi.

Baca Juga: Jalan ‘Jihad’ Chef Isman, Jadi Agen Kudus Asik Kampanyekan Pilah Sampah Melalui Konten

Harga yang ditawarkan pun bersahabat, satu porsi sate taichan ia jual dengan harga Rp10 ribu, jika tambah nasi menjadi Rp14 ribu. Sedangkan mie ia jual dengan harga Rp6 ribu, dan nasi kucing Rp3 ribu.

“Untuk semua minuman saya jual Rp5 ribu. Best seller di sini mie dan sate taichan. Biasanya saya buka setiap hari mulai pukul 19.00 hingga habis. Kalau habis bisa mengantongi sekitar Rp270 ribu, itu sudah bersih,” tambahnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Forda Jateng 2025 Resmi Dibuka, Hadirkan Peserta Terbanyak Sepanjang Penyelenggaraan

0
Festival Olahraga Daerah (Forda) Jawa Tengah 2025 resmi dibuka di Kota Surakarta, Sabtu (8/12/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SURAKARTA – Festival Olahraga Daerah (Forda) Jawa Tengah 2025 resmi dibuka di Kota Surakarta, Sabtu (8/12/2025). Ketua Pelaksana Forda Jateng 2025, Valerie Yudistira Pramudya, menyampaikan bahwa tahun ini menjadi momentum istimewa bagi KORMI Jawa Tengah karena jumlah peserta mencapai rekor tertinggi.

“Tahun ini Forda menghadirkan 8.601 peserta dari 35 kota dan kabupaten se-Jawa Tengah. Mereka berasal dari 47 Inorga perlombaan dan 5 Inorga kategori eksibisi. Ini adalah jumlah terbanyak sepanjang penyelenggaraan Forda,” ujar Valerie dalam sambutannya saat pembukaan.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2025, Lebih 100 Penindakan Dilakukan Satpol PP Kudus, Ini Hasilnya

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah peserta menunjukkan semakin berkembangnya hobi masyarakat menjadi aktivitas olahraga yang kompetitif, menarik, sekaligus mengandung unsur budaya.

Menurut Valerie, penunjukan Kota Surakarta sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. “Surakarta adalah kota kreatif dan kota budaya. Ini sangat selaras dengan semangat KORMI Jawa Tengah yang tidak hanya menonjolkan kompetisi, tetapi juga keberagaman budaya dan kreativitas masyarakat,” jelasnya.

Berbagai perlombaan Inorga tahun ini dipastikan menampilkan kearifan lokal, seni, dan kekhasan budaya Jawa Tengah.

Selain sebagai ajang olahraga masyarakat, Forda 2025 juga diproyeksikan memberi dampak ekonomi bagi Kota Surakarta. Valerie menyampaikan harapannya agar ribuan peserta dan pendamping membawa multiplier effect bagi sektor pariwisata dan UMKM.

“Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak positif bagi pariwisata dan UMKM, sehingga berkontribusi langsung pada peningkatan PAD Kota Surakarta,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa pembiayaan Forda 2025 berasal dari dana hibah APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2025 yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Forda Jateng 2025 akan dilaksanakan di 30 venue yang tersebar di berbagai fasilitas pemerintah provinsi, pemerintah kota, universitas, sekolah, hingga fasilitas swasta. Valerie menekankan bahwa Forda adalah wadah kebersamaan, bukan sekadar persaingan.

“Di Forda tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Semua harus senang, semua harus bahagia, dan pulang membawa pengalaman terbaik,” katanya.

Baca Juga: 1.200 Anak Kudus Diajak Gerak Aktif Sejak Dini

Menutup laporannya, Valerie menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya Forda Jateng 2025, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, DPRD, Pemerintah Kota Surakarta, aparat keamanan, sponsor, hingga seluruh panitia.

Ia juga memohon maaf jika terdapat kekurangan dalam persiapan dan pelaksanaan. “Semoga Forda Jawa Tengah 2025 berjalan lancar dan memberi manfaat bagi masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mahasiswa Doktor Studi Islam UIN Kudus Luncurkan Buku Nalar Integratif Interdisipliner Ilmu Islam Terapan

0
Mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Kudus resmi meluncurkan buku berjudul Nalar Integratif Interdisipliner: Filsafat Ilmu Islam Terapan Menuju Islam Solutif, Progresif, dan Kontekstual. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS — Mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Kudus resmi meluncurkan buku berjudul Nalar Integratif Interdisipliner: Filsafat Ilmu Islam Terapan Menuju Islam Solutif, Progresif, dan Kontekstual. Buku kolektif ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dalam Mata Kuliah Ilmu Islam Terapan diampu oleh Prof. Dr. H. Ihsan, M.Ag. dan Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag.

Penulisan buku dilakukan melalui pembagian tema sesuai bidang keilmuan masing-masing mahasiswa, sehingga menghasilkan perspektif yang beragam, integratif, dan berbasis interdisipliner.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2025, Lebih 100 Penindakan Dilakukan Satpol PP Kudus, Ini Hasilnya

Peluncuran buku yang berlangsung di Kafe Bondjati Kudus diawali dengan sambutan Prof. Ihsan. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa mata kuliah Ilmu Islam Terapan merupakan bagian dari penguatan paradigma keilmuan yang telah dirintis oleh Prof. Muslim A. Kadir melalui karya dan pemikirannya tentang Ilmu Islam Terapan sebagai kerangka berfikir ilmiah berbasis wahyu.

“Melalui kegiatan kajian ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu Islam sesuai kaidah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis,” ujarnya saat menyampaikan pengantar kuliah, Sabtu (6/11/25).

Selain penjelasan tersebut, Prof. Ihsan juga menekankan bahwa pengembangan ilmu dalam konteks kekinian tidak cukup hanya berhenti pada tataran teks, tetapi juga harus menyentuh ranah praksis sosial masyarakat.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa doktoral perlu mampu menyusun karya yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga solutif dan kontekstual.

Para penulis yang terlibat dalam penyusunan buku ini antara lain: Husnurrosyidah, Sri Suwitaningsih, Agus Wahyudi, H. Muhammad Agus Yusrun Nafi’, Dita Kurniawati, Abdullah Ma’ruf, Sigit Muttaqin, Muhammad Nabil, Muhammad Nur Salim, Khoirul Muslimin, Tina Martini, Anis Fitriyah, Ahmad Sirojudin Abbas, Nur Burhanuddin, Syahrial Hasanuddin Pohan, dan Miftahul Huda. Buku ini ditulis sebagai pemenuhan Tugas Akhir Ujian Akhir Semester, namun sekaligus menjadi bentuk kontribusi ilmiah mahasiswa terhadap pengembangan Ilmu Islam Terapan.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Muslim A. Kadir, MA menjelaskan bahwa Ilmu Islam Terapan tidak boleh dipahami sebatas rangkaian konsep atau informasi, melainkan harus menjadi disiplin yang dapat diuji secara ilmiah.

Ia menyampaikan bahwa integrasi ilmu dan wahyu membutuhkan keberanian untuk menguji teori secara empiris.

Menurutnya, Ilmu Islam Terapan berangkat dari pendekatan monisme filosofis, yakni pandangan bahwa realitas bersifat satu dan saling terhubung. Ia mencontohkan simbol lingkaran yang bermakna bahwa ilmu sejatinya tidak memiliki batas luar sehingga terus berkembang mengikuti dinamika zaman.

Prof. Muslim juga menekankan pentingnya membangun ilmu Islam yang tidak hanya normatif tetapi juga aplikatif. Ia mengatakan bahwa teori harus mampu diuji, diturunkan ke dalam praktik, dan memberi dampak nyata dalam kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Agus Wahyudi selaku ketua kelas menyampaikan bahwa penyusunan buku ini menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa doktoral harus produktif berkarya.

Baca Juga: 1.200 Anak Kudus Diajak Gerak Aktif Sejak Dini

“Ini karya pertama kelas kami. Semoga buku ini memberi manfaat bagi pembaca dan menjadi inspirasi bagi angkatan berikutnya,” ujarnya.

Dengan hadirnya buku ini, mahasiswa berharap dapat memperkuat tradisi akademik yang progresif, serta meneruskan gagasan Ilmu Islam Terapan sebagai pendekatan keilmuan yang relevan, solutif, dan responsif terhadap tantangan intelektual dan sosial kontemporer.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pelunasan Ibadah Haji Mulai Dibuka, Kuota Jepara Bertambah Jadi 1.568 Calhaj 

0
Bimbingan Manasik Haji Tingkat Kabupaten Jepara di Gedung Wanita RA Kartini, Selasa (23/4/2024). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Kementrian Haji dan Umroh Kabupaten Jepara sudah membuka pelunasan pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. 

Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Jepara, Sri Yuliati saat ini proses pelunasan ibadah haji tahap pertama sudah dimulai sejak tanggal 24 November – 23 Desember 2025. 

Baca Juga: Viral, Pembangunan Gerai Kopdes di Jepara Ditolak Warga 

Yuli menjelaskan, syarat utama bagi calon jemaah haji (calhaj) agar bisa melakukan pelunasan yaitu harus dinyatakan istitaah. Pemeriksaan itu bisa diurus di Dinas Kesehatan (Dinkes) Jepara. 

“Calhaj yang sudah dinyatakan istitaah, saat ini sudah bisa mulai melakukan pelunasan,” kata Yuli pada Sabtu, (6/12/2025). 

Jika di waktu yang sudah ditentukan, terdapat calhaj yang belum mendapatkan istitaah atau gagal sistem, maka mereka akan diberi kesempatan pelunasan di tahap ke 2, yang dibuka selama rentang waktu 2-9 Januari 2026.

Kemudian untuk kuota Calhaj, pada tahun 2026, kuota Kabupaten Jepara mendapat tambahan. Jumlah totalnya yaitu sebanyak 1.568 calhaj yang berhak melakukan pelunasan. 

Rinciannya, jemaah reguler sebanyak 1.496 orang, sedangka jemaah prioritas lanjut usia (lansia) 72 orang.

“Totalnya (kuota) sebanyak 1.568 jemaah. Ini ada penambahan,” 

Yuli menyebutkan, kuota jemaah haji untuk Jawa Tengah (Jateng) bertambah 4.000 kursi. Untuk Kabupaten Jepara, mendapatkan bagian dari tambahan itu sebanyak 200 jemaah reguler dan 34 prioritas lansia.

Yuli menambahkan, untuk pelaksanaan ibadah haji tahun 2026, diharapkan Calhaj yang berangkat ke Tanah Suci bisa mandiri. Artinya, para jemaah bisa mandiri dalam aktivitas harian dan ibadahnya.

Baca Juga: Sudah Terlanjur Jalankan Proyek, Kades di Jepara Bingung Dana Desa Tak Bisa Cair 

Pada saat bersamaan, lanjut Yuli, pihaknya juga sudah memproses paspor dan visa calhaj. Yuli memastikan sejauh ini belum ada kendala berarti dalam penerbitan dua dokumen wajib itu.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hasil Studi Kelayakan Pelabuhan di Jepara Belum Singgung Dampak Lingkungan 

0
Pemaparan hasil studi kelayakan yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Feasibility Study atau Studi Kelayakan pembangunan pelabuhan di Kabupaten Jepara akhirnya selesai dilakukan. Hasilnya pun sudah disosialisasikan kepada pihak terkait di Aula Lantai 2 Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara pada Jumat, (5/12/2025).  

Dalam hasil studi kelayakan yang digarap oleh PT. Java Desain Consultant dari Kota Semarang dengan nilai anggaran sebesar Rp500 juta, rencana pembangunan pelabuhan di Kabupaten Jepara dinyatakan layak secara finansial dan strategis. 

Baca Juga: Viral, Pembangunan Gerai Kopdes di Jepara Ditolak Warga 

Hasil itu dinyatakan dengan mempertimbangkan tren pendapatan, efisiensi operasional, dan dampak ekonomi yang dihasilkan. 

Dalam sosialisasi hasil studi kelayakan itu, sejumlah kelompok nelayan yang hadir menyoroti belum adanya kajian dampak lingkungan terkait rencana pembangunan pelabuhan di Kabupaten Jepara. 

Hal itu seperti dinyatakan oleh Dwiyanto dari Persatuan Kelompok Nelayan Jepara Utara (PKNJU). Ia mengatakan dari hasil peta rencana titik lokasi pembangunan pelabuhan yang ia terima, peta-peta terumbu karang yang semestinya ada di titik yang rencananya dijadikan sebagai lokasi pembangunan pelabuhan justru tidak ada.  

Jika sesuai hasil kajian, titik koordinat yang rencananya akan dijadikan sebagai lokasi pembangunan pelabuhan yaitu di Pantai Njlamon, Desa Balong, Kecamatan Kembang.  

Di titik itulah, menurut Dwiyanto lokasi yang paling banyak ditemukan terumbu karang. 

“Kemarin ada peta yang muncul, peta-peta terumbu karang ternyata tidak dimunculkan disana. Padahal itu ada, dan kalau tidak percaya ayo survey bersama, kita lihat karang itu. Paling banyak di daerah pelabuhan itu nanti, itu memang daerah karang, banyak sekali,” katanya saat ditemui di Kantor Bappeda Jepara. 

Sorotan yang sama juga turut disampaikan oleh Sunarto, Ketua Forum Nelayan (Fornel) Jepara Utara. Ia khawatir pembangunan jetty pelabuhan nantinya akan berdampak pada semakin berkurangnya wilayah tangkap para nelayan. 

Selain itu, selama ini 90 persen nelayan di wilayah Jepara Utara banyak yang menggunakan jaring apung untuk mencari ikan. 

Jika nantinya pelabuhan jadi dibangun, maka nelayan mau tidak mau harus mengganti alat tersebut. Sebab jika tidak diganti, maka akan berbenturan dengan kapal yang keluar masuk ke area pelabuhan. 

“Kalau merubah alat, artinya merubah kehidupan. Karena satu alat apung biasanya kita beli Rp500 ribu per unit, kalau diganti pakai alat dasar itu per unit sekitar Rp1,5 juta,” sebut Sunarto. 

Untuk itu, Sunarto berharap ke depan ada keterbukaan dan solusi nyata bagi para nelayan yang nantinya akan terdampak langsung dengan adanya pembangunan pelabuhan di Kabupaten Jepara. 

Menanggapi itu, Kepala Bidang Perekonomian, Infrastruktur, Sumber Daya Air (SDA) dan Kewilayahan (Pisdak) pada Bappeda Jepara, Dwi Yogo Adiwibowo mengatakan laporan akhir studi kelayakan pelabuhan Kabupaten Jepara memang belum membahas terkait dampak lingkungan. 

Hasil Studi Kelayakan itu menurutnya baru tahap awal dalam persyaratan pengajuan pembangunan pelabuhan ekspor-impor di Kabupaten Jepara agar masuk dalam draft Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN). 

Baca Juga: Sudah Terlanjur Jalankan Proyek, Kades di Jepara Bingung Dana Desa Tak Bisa Cair 

Jika nantinya, pengajuan itu sudah disetujui oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Dwi Yogo menjelaskan baru nantinya akan dilakukan studi kelayakan lingkungan atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).  

“Ini prosesnya baru tahap awal untuk pengusulan RIPN. Setelah itu kalau disetujui, baru tahap lanjutan sesuai arahan dari Kemenhub nanti akan dibuat kelayakan lingkungan atau dokumen Amdal dan dokumen seterusnya,” jelas Dwi Yogo.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Operasi Pemberantasan Rokok Ilegal Sasar Pulau Karimunjawa Jepara, Hasilnya Nihil 

0
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara menggelar operasi pemberantasan rokok ilegal di Pulau Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa pada Jumat (5/12/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara menggelar operasi pemberantasan rokok ilegal di Pulau Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa pada Jumat (5/12/2025). 

Operasi ini dilakukan secara terpadu dengan menyasar beberapa titik strategis yang diduga menjadi titik lokasi peredaran rokok ilegal di Kecamatan Karimunjawa. 

Baca Juga: Viral, Pembangunan Gerai Kopdes di Jepara Ditolak Warga 

Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan, Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat pada Satpol PP Jepara, Heri Prasetyo mengatakan bahwa operasi pemberantasan rokok ilegal akan terus dintensifkan. 

Kegiatan operasi nantinya akan diintensifkan untuk menyasar para aktor peredaran rokok ilegal di wilayah hulu. Yaitu para pemasok rokok ilegal yang selama ini menjadi pendorong utama peredaran produk tanpa pita cukai.

Dalam kegiatan operasi di Karimunjawa, Heri menyebutkan ia membawa dua kelompok tim. Tim pertama bertugas di Desa Karimunjawa dengan wilayah sasaran sebanyak 10 titik. Sisanya di Desa Kemujan sebanyak 5 titik lokasi.

“Operasi ini kita lakukan dengan humanis, karena ini sifatnya sosialisasi dan mengedukasi masyarakat,” katanya pada Sabtu, (6/12/2025). 

Dari 15 titik yang menjadi sasaran operasi, Heri mengatakan timnya tidak mendapatkan hasil. Namun, ia tetap mengingatkan pedagang kecil untuk waspada dan tidak tergiur menjual rokok ilegal dengan harga murah. Ia menekankan pentingnya memastikan seluruh produk yang dijual telah dilekati pita cukai resmi. 

Menurutnya, keterlibatan pedagang kecil dalam peredaran rokok ilegal sering kali terjadi karena ketidaktahuan, sehingga edukasi dan sosialisasi tetap diperlukan.

“Kami mengimbau pedagang di kios-kios kecil untuk memastikan barang dagangannya legal. Jangan karena murah lalu mengambil risiko menjual barang yang melanggar aturan,” tegasnya.

Baca Juga: Sudah Terlanjur Jalankan Proyek, Kades di Jepara Bingung Dana Desa Tak Bisa Cair 

Ia juga mengedukasi pedagang mengenai risiko hukum dan dampak ekonomi dari peredaran produk ilegal. Dari sosialisasi itu, Heri mengklaim saat ini jumlah temuan barang ilegal mengalami penurunan. 

“Operasi ini merupakan bentuk komitmen kami menjaga kesehatan masyarakat dan mendukung perekonomian daerah. Cukai itu akan kembali ke masyarakat dalam bentuk berbagai program pembangunan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pasca Dipolisikan, Aktivis Kendeng Justru Makin Bersemangat Tolak Tambang

0
Aktivis Kendeng, Gunretno. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Aktivis lingkungan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Gunretno menyatakan penolakannya terhadap aktivitas tambang kian menguat, meski ia telah dilaporkan ke polisi oleh pemilik tambang.

Gunretno dilaporkan oleh Didik Setiyo Utomo pada awal November 2025. Ia dituduh menghalang-halangi kegiatan usaha pertambangan berizin, sebagaimana tertuang dalam laporan bernomor LI/152/XI/RES.5.5./2025/Ditreskrimsus tertanggal 18 November 2025.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2025, Lebih 100 Penindakan Dilakukan Satpol PP Kudus, Ini Hasilnya

”Saya dianggap menghalang-halangi kegiatan tambang legal. Masalah tidak suka tambang, aku sudah dari dulu. Baik legal maupun ilegal itukan menggali dan tetap merusak,” ujar Gunretno, Sabtu (6/12/2025).

Ia menegaskan, laporan tersebut tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, Gunretno mengaku semakin bersemangat menolak aktivitas tambang di Pegunungan Kendeng.

”Tetap menolak tambang legal maupun ilegal. Ini malah tambah semangat berupaya melestarikan Kendeng,” ucapnya.

Gunretno menilai, tambang yang legal maupun ilegal, memberi dampak kerusakan yang sama. Ia menyebut sejumlah petani di kawasan Kendeng gagal panen akibat kondisi lingkungan yang memburuk.

Menurutnya, aktivitas tambang membuat daya serap air Pegunungan Kendeng menurun. Dampaknya, beberapa kecamatan di Kabupaten Pati kerap mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

”Kita bersuara bahwa karena tambang teman-teman petani tidak panen karena situasi banjir dan kekeringan menghantui kita di Kendeng. Maka saya berharap (tambang) itu untuk ditutup,” sebutnya.

Gunretno menambahkan, berdasarkan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), wilayah Pegunungan Kendeng seharusnya tidak lagi diberikan izin tambang karena tingkat kerusakannya telah dinilai parah.

”Isi rekomendasinya ditemukan kerusakan begitu besar dan tidak boleh ada izin yang keluar lagi. Itu tahun 2017 sampai 2019 itu sudah keluar. Lha, sedangkan izin (tambang) itu tahun 2023. Kenapa pemerintah mengeluarkan izin yang dilarang yang direkomendasikan tidak boleh. Dasarku menolak tambang itu,” jelasnya.

Baca Juga: 1.200 Anak Kudus Diajak Gerak Aktif Sejak Dini

Ia juga mengingatkan potensi bencana yang bisa terjadi bila tambang terus beroperasi. Gunretno mencontohkan, bencana banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera yang dikhawatirkan bisa terjadi pula di Pati.

”Di luar itu tentang kebencanaan. Jadi kalau kita tidak menolak tambang dari awal kejadian di Sumatera lebih dulu di Pati. Faktanya banyak pertanian yang tidak panen kan,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bupati Kudus Gelar Retreat, Bangun Soliditas dan Tumbuhkan Jiwa Korsa Antar OPD

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menggelar Retreat Wawasan Kebangsaan dan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di Pijar Park pada Sabtu (6/12/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menggelar Retreat Wawasan Kebangsaan dan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di Pijar Park pada Sabtu (6/12/2025). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan sinergi pimpinan daerah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih solid.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menjelaskan bahwa retreat tersebut digelar untuk memperkuat persatuan antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ia menegaskan bahwa kekompakan internal menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2025, Lebih 100 Penindakan Dilakukan Satpol PP Kudus, Ini Hasilnya

“Kegiatan ini kita laksanakan sebagai upaya membangun soliditas dan menumbuhkan jiwa korsa di antara seluruh OPD Kabupaten Kudus,” ujar Sam’ani di Pijar Park, Sabtu (6/12/2025).

Bupati menambahkan bahwa kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi bencana. Ia menekankan perlunya koordinasi lintas sektor agar respons kedaruratan semakin cepat dan terarah.

“Retreat ini kita gelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana melalui konsolidasi lintas sektor agar penanganan kedaruratan dapat berjalan lebih efektif,” bebernya.

Selain memperkuat kebersamaan, Bupati menilai bahwa pemilihan Pijar Park sebagai lokasi retreat memiliki tujuan strategis. Tempat tersebut menjadi bagian dari penguatan sektor wisata daerah yang terus dikembangkan pemerintah.

“Kita memilih Pijar Park karena merupakan destinasi unggulan yang perlu terus dikenalkan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata di Kudus,” sebutnya.

Bupati berharap seluruh peserta memperoleh manfaat nyata dari rangkaian kegiatan tersebut. Ia menilai retreat dapat menjadi sumber energi baru dalam memperkuat kolaborasi antar instansi.

“Semoga retreat ini memberi manfaat, memperkuat kerja sama, dan menjadi langkah bersama menuju Kudus Sehat yang sejahtera, harmoni, dan takwa,” harapnya.

Sementara itu, Plt Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus, Andrias Wahyu Adi Setiawan mengatakan, rangkaian retreat berlangsung selama dua yakni mulai Sabtu – Minggu (6-7/12/2025). Kegiatan retreat diisi dengan sesi refleksi kinerja, pemaparan kebangsaan, serta kegiatan motivasi kepemimpinan.

Agenda outbound juga disiapkan untuk memperkuat kekompakan tim antar-OPD. Pada malam pertama, kegiatan Jagong Api Unggun menjadi ruang kebersamaan yang menghadirkan interaksi lebih hangat antarpejabat. Suasana ini dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan sosial antarpimpinan daerah.

“Hari kedua diisi dengan tracking, olahraga pagi, dan penyebaran biji anek pohon, di anyaranya, nangka, durian, pete, dan lain sebagainya. Tujuannya agar biji tersebut bisa tumbuh dan nanti jadi penghijauan,” ujar Andrias.

Baca Juga: 1.200 Anak Kudus Diajak Gerak Aktif Sejak Dini

Retreat ini diharapkan menjadi momentum pemantapan sinergi kepemimpinan daerah. Pemerintah menargetkan hasil kegiatan ini dapat mengakselerasi terwujudnya visi Kudus Sehat yang sejahtera, harmoni, dan bertakwa.

“Total peserta yang ikut retreat di hari pertama ada 152 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Kudus. Mereka terdiri Forkopimda, seluruh Pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Kudus, tiermasuk direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Nanti di hari kedua, seluruh ASN eselon tiga juga bergabung. Jadi total peserta retreat kurang lebih 200 orang,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -