BETANEWS.ID, PATI – Oby Achmad Widiyanto (38) merupakan sosok di balik berdirinya kedai Jahe Rempah Tempo Doeloe, tempat kuliner yang saat ini terkenal di Kabupaten Pati.
Oby, merupakan penyandang disabilitas. Di tengah ketidaksempurnaan fisiknya, bukan berarti menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa meraih mimpi. Meskipun, ketidaksempurnaan itu pernah menjadi sempat membuat dirinya minder.
Baca Juga: Jalan ‘Jihad’ Chef Isman, Jadi Agen Kudus Asik Kampanyekan Pilah Sampah Melalui Konten
Oby pernah terpuruk hingga tak percaya diri. Tak lama, ia berhasil bangkit dan memilih mengembangkan usaha. Optimis dalam menjalani hidup terus digenggam olehnya. Di tengah kekurangannya sebagai disabilitas, ia kemudian tidak berkecil hati dan justru bangkit agar bisa berdaya.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha kuliner, Oby sempat meniti karier mapan di sektor perbankan.
Pada tahun 2010, saat ia berusia 23 tahun, kecelakaan kerja merenggut fungsi normal salah satu tangannya dan membuatnya menjadi penyandang disabilitas permanen.
Karier sebagai pegawai bank pun harus ia relakan, karena proses pengobatan dan terapi memakan waktu panjang.
Di fase paling berat hidupnya, Oby sudah menyandang dua peran besar, suami dan ayah dari seorang anak kecil. Pilihan untuk menyerah tidak pernah singgah.
“Saya hanya punya dua opsi terpuruk, atau bangkit dan cari jalan baru,” ujarnya.
Dengan disabilitas fisik yakni gangguan gerak pada tangan kanannya, Oby beradaptasi dengan realitas barunya. Tak lagi berada di ruang kerja perbankan, ia justru membuka diri pada pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan kemampuan yang ada.
Ia pernah berjualan ayam, membuka les privat, hingga mengerjakan jahit kain majun atau kain perca yang dikirim ke pabrik-pabrik menggunakan kendaraan pick-up setiap minggu.
Pengalaman bertahun-tahun bekerja serabutan itu menjadi pengalaman hidup bagi Oby. Ia belajar membaca peluang, mengenali kebutuhan pasar, hingga memahami perilaku konsumen dari berbagai lapisan.
Tahun 2019, ia menambah bekal baru dengan terjun ke dunia jurnalis, mengikuti pelatihan dan menulis isu seputar disabilitas. Selain itu, Oby juga aktif dalam komunitas difabel di wilayah Pati untuk memperjuangkan kesetaraan, bukan sekadar charity, melainkan pengakuan atas kemampuan dan kapasitas.
Langkah-langkah kecil itu perlahan menuntun Oby menemukan panggilan terbesarnya menjadi pengusaha.
Pada 23 Desember 2022, Oby bersama rekannya mendirikan usaha yang bernama Jahe Rempah Tempo Doeloe. Lokasinya berada di Jalan Kolonel Sugiono nomor 10, Desa Winong, Kecamatan Pati.
Kedai Jahe Rempah ini hadir di tengah dominasi kopi dan minuman kekinian, membawa diferensiasi minuman rempah tradisional yang dikemas modern, ramah lidah generasi muda, namun tetap berfokus pada kesehatan.
Ia terinspirasi oleh momen pasca pandemi COVID-19, ketika jahe dan rempah menjadi primadona. Namun, menurutnya, saat itu minuman rempah belum tersaji dengan citra menarik dan cenderung masih melekat pada stigma pahit seperti jamu.
Dengan riset pasar yang ia amati sendiri selama bertahun-tahun, Oby menciptakan minuman jahe yang manisnya alami, menggunakan gula batu dan gula aren tanpa pemanis sintetis, agar bisa dinikmati anak muda maupun mereka yang enggan pada rasa jamu tradisional.
Ia menambahkan, mengelola usaha dengan keterbatasan, itu bukan kendala baginya, melainkan rutinitas baru yang sudah ia kuasai.
“Saya butuh penyesuaian, tapi bukan halangan. Kalau saya bisa, teman-teman disabilitas lain juga pasti bisa,” katanya.
Kini, Jahe Rempah Tempo Doeloe bukan sekadar kedai minuman, tetapi juga simbol bahwa disabilitas tidak menghalangi seseorang untuk berkarier lebih tinggi, bahkan menjadi penggerak tren kesehatan tradisional.
Baca Juga: Deffa Aurelia, Model Menawan dari Kudus yang Juga Pegawai Bank
Ia membuktikan bahwa yang menentukan sukses bukan kesempurnaan fisik, melainkan keberanian memulai, kemampuan membaca peluang, dan keteguhan untuk terus melangkah.
Dukungan keluarga juga menjadi pondasi yang membuatnya tetap berdiri saat banyak pintu tertutup. Orang tuanya, guru-guru, teman dekat hingga komunitas difabel tempat ia berjejaring, bukan hanya memberi support moral, tetapi juga ruang mental untuk tetap percaya bahwa masa depannya masih luas.
Editor: Haikal Rosyada

