Beranda blog Halaman 111

Diduga Lakukan Penipuan dan Penggelapan, Tiga Warga Laporkan Kades di Mlonggo Jepara ke Polisi 

0
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Wildan Faizal Umar Rela. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Seorang kepala desa (Kades) di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara berinisial AS diduga melakukan tindak penipuan dan penggelapan uang serta mobil. Akibat perbuatannya, ia dilaporkan oleh tiga orang warga yang menjadi korban. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela mengungkapkan laporan dari tiga orang warga kepada AS terjadi selama tahun 2025. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Siapkan Program Inkubasi Bagi Puluhan UMKM Selama Satu Tahun

“Kami menerima tiga (laporan) atas nama kades tersebut,” ungkap AKP Wildan pada Senin, (15/12/2025). 

Wildan menyebutkan, laporan pertama yang masuk pada 25 Juni 2025. AS dilaporkan oleh Ahmad Rifa’i, warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan. Korban mengadu jika AS diduga menggelapkan mobil Grand Max warna hitam keluaran tahun 2013.

Lalu pada 19 Agustus 2025, kembali terdapat laporan dari Supriyono, warga Desa Bandengan, Kecamatan Jepara yang melaporkan AS. AS dilaporkan atas dugaan penipuan dan atau penggelapan uang sebesar Rp43 juta.

Terakhir, pada 27 September 2025, seorang warga Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Refli Tambun juga melaporkan AS atas dugaan penganiayaan dan perampasan kendaraan yang terjadi Desa Kuwasen, Kecamatan Jepara.

“Yang kasus dengan korban Ahmad Rifa’i sudah naik tahap penyidikan,” kata AKP Wildan. 

Untuk kasus yang sudah naik ke tahap penyidikan itu, Wildan menjelaskan jika AS menyewa mobil grandmax kepada korban pada 1 Agustus 2022 lalu. Perjanjiannya, mobil disewa selama dua bulan.

Akan tetapi, dua bulan berlalu, AS tidak segera membayar biaya sewa. Mobil milik korban juga tidak dikembalikan. AS kemudian meminta perpanjangan sewa sebulan lagi. Permintaan itu dikabulkan.

Setelah tambahan waktu selama sebulan, Wildan melanjutkan AS tidak kunjung membayar biaya sewa. AS diketahui hanya mengumbar janj. Saat korban meminta mobilnya kembali, AS tidak kunjung memberikan mobil tersebut 

Baca Juga: Belasan Desa di Jepara Tak Punya Lahan untuk Dirikan Gerai Koperasi Merah Putih 

“Korban mengalami kerugian sebesar Rp100 juta. Merasa tak tahan, korban kemudian melaporkannya kepada kami,” sebutnya. 

Sampai saat ini, Wildan melanjutkan pihaknya masih mendalami berbagai aduan maupun laporan yang masuk atas nama AS, seorang kades di Kecamatan Mlonggo.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Program Kampung Nelayan Prabowo Masuk Pati, 22 Desa Diusulkan untuk 2026

0
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Presiden Indonesia, Prabowo Subianto memprogramkan pengembangan kampung nelayan dan kampung budidaya di seluruh Indonesia, khususnya daerah dengan potensi perikanan. Program nasional tersebut mulai berjalan di Kabupaten Pati pada 2025, dengan Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, sebagai lokasi perdana.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa mengatakan, pemerintah daerah akan mengusulkan 22 desa sebagai calon kampung nelayan maupun kampung budidaya pada 2026 mendatang.

Baca Juga: Peringatan HDI di Pati Jadi Panggung Kreativitas Anak Disabilitas

Kampung nelayan menyasar desa-desa pesisir laut dengan mata pencaharian utama masyarakat sebagai nelayan tangkap. Sedangkan kampung budidaya difokuskan pada desa dengan aktivitas perikanan air tawar, seperti sungai, waduk, dan tambak.

“Kampung nelayan di 2025 ada 1, di 2026 kami ada 22 lokasi, belum ada keputusan. Kampung nelayan yang seperti pesisir laut atau tepi laut, serta kampung budidaya yang tambak. Instruksi Presiden Prabowo langsung memberdayakan nelayan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan di sekitarnya, karena memang di Indonesia sebagian besar laut, desa di pesisir dan masyarakat nelayan cukup banyak,” ungkapnya, Senin (15/12/2025).

Menurut Hadi, program kampung nelayan dan kampung budidaya dirancang untuk memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat. Berbagai sarana dan prasarana akan dibangun guna menunjang produktivitas nelayan.

“Programnya pembangunan infrastruktur fisik seperti pembangunan jalan lingkungan, dibuatkan fasilitas balai nelayan untuk ruang pertemuan, bengkel, fasilitas sanitasi, rumah singgah nelayan, pabrik es mini, gudang beku, tambatan kapal, SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan), pusat kuliter, peralatan tangkap mulai dari jaring, mesin, dan lain sebagainya. Kemudian, pelatihan-pelatihan yang nantinya ketika sudah jadi akan diserahkan pengelolaannya ke KDMP (Koperasi Desa Merah Putih),” kata Hadi.

Ia menambahkan, seluruh program kampung nelayan dan kampung budidaya akan terintegrasi dengan KDMP. Koperasi tersebut nantinya bertanggung jawab dalam pengelolaan fasilitas dan program yang telah dibangun.

Dari sisi pendanaan, pembangunan kampung nelayan dan kampung budidaya sepenuhnya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). DKP Kabupaten Pati berperan sebagai fasilitator dan penghubung agar program nasional tersebut tepat sasaran.

“Anggaran di Bayutowo Rp 21 miliar, langsung dari KKP. Kita (DKP Kabupaten Pati) hanya sebagai penerima, langsung diserahkan untuk KDMP,” ucap Hadi.

Adapun desa-desa yang diusulkan sebagai lokasi kampung nelayan dan kampung budidaya di Kabupaten Pati pada 2026 tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Kecamatan Juwana, Dukuhseti, Tayu, Gabus, Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Kayen, hingga Pati Kota.

Puluhan desa tersebut dinilai memiliki potensi besar, seiring melimpahnya hasil perikanan Kabupaten Pati, baik dari laut maupun daratan.

“Di Pati desa pesisir ada 52 desa dari 7 kecamatan, kemudian selain itu ada tambak-tambak di desa potensial, seperti Talun, Wuwur, Gembong, Banjarsari sehingga ada salah satu program yang diintergrasikan denagn KDMP. Kemudian muncul program ini, ada 1.000 targetnya kampung nelayan di Indonesia,” sebutnya.

Baca Juga: Truk Muatan Pupuk Terjun ke Sungai Kaliombo Pati, Sopir Diduga Mengantuk

Sebelumnya, Desa Banyutowo menjadi satu-satunya desa di Pati yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai kampung nelayan. Pemerintah daerah berharap pada 2026, kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani ini dapat memiliki lebih banyak kampung nelayan dan kampung budidaya yang maju dan berdaya saing.

“Tahun ini (2025) ada 4 desa diusulkan, tapi yang diusulkan hanya Banyutowo yang disetujui. Di 2026 kami usulkan lagi yang lainnya,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Enam Kepala Dinas Baru di Jepara Resmi Dilantik, Wiwit Minta Langsung Gaspol 

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo resmi melantik enam kepala dinas baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di Gedung Shima, Kompleks Kantor Bupati pada Senin (15/12/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Bupati Jepara, Witiarso Utomo resmi melantik enam kepala dinas baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di Gedung Shima, Kompleks Kantor Bupati pada Senin (15/12/2025). 

Sebelumnya, proses seleksi pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) itu sudah dilaksanakan sejak bulan Oktober 2025 lalu. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Siapkan Program Inkubasi Bagi Puluhan UMKM Selama Satu Tahun 

Usai dilantik, Wiwit berpesan kepada kepala dinas yang baru untuk segera bekerja melayani masyarakat.  

“Hari ini kita melantik enam kepala dinas, alhamdulillah berjalan lancar. Tadi sudah saya sampaikan, untuk bisa bekerja langsung gaspol, layani masyarakat dengan baik. Sehingga apa yang dikerjakan bisa dirasakan oleh masyarakat Jepara,” katanya saat ditemui usai kegiatan pelantikan. 

Enam kepala dinas baru yang dilantik yaitu, Budi Sulistyawan sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Arwin Noor Isdiyanto sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

Mudhofir sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Anjar Jambore Widodo sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). 

Hadi Sarwoko sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Karunatiti sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda). 

Dalam proses seleksi pengisian JPTP di Kabupaten Jepara, sebenernya terdapat delapan posisi jabatan yang dibuka. 

Dua yang lainnya yaitu Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDMD) dan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil). 

Dua posisi jabatan itu menurut Wiwit belum bisa ikut dilantik. Sebab saat ini pihaknya masih menunggu hasil rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk dua posisi jabatan tersebut. 

“(Dua posisi jabatan) masih menunggu dari Kemendagri. Sehingga kita belum bisa melakukan (pelantikan), karena surat rekomendasi dari Kemendagri belum turun,” jelasnya. 

Baca Juga: Belasan Desa di Jepara Tak Punya Lahan untuk Dirikan Gerai Koperasi Merah Putih

Wiwit berharap seluruh posisi JPTP itu dapat terisi penuh sebelum akhir Desember 2025, sehingga pada tahun 2026 Pemerintah Kabupaten Jepara sudah memiliki formasi kepemimpinan OPD yang lengkap.

“Mudah-mudahan akhir Desember sudah terpenuhi semua, sehingga 2026 kita sudah lengkap, full team,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rumah Milik Warga Desa Jrahi Rusak Parah Tertimpa Longsor, Kerugian Ditaksir Capai Ratusan Juta

0
Sebuah rumah di Dukuh Beru, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati tertimpa tanah longsor pada Minggu (14/12/2025) petang. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Sebuah rumah di Dukuh Beru, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati tertimpa tanah longsor pada Minggu (14/12/2025) petang. Akibatnya, rumah milik Soleh tersebut rusak parah dan harus mengungsi ke tempat tetangga.

Sekretaris Desa Jrahi, Pitono menyebut, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di wilayah tersebut. Ternyata, pekarangan milik Suparti longsor dan menimpa rumah milik Soleh.

Baca Juga: Peringatan HDI di Pati Jadi Panggung Kreativitas Anak Disabilitas

”Karena hujan terlalu deras antara setengah lima sampai jam lima lebih, kemudian terjadi longsor. Hujan intensitas tinggi. Rumah yng terdampak pak Soleh, Dukuh Beru, Desa Jrahi. Jadi tanah milik Ibu Suparti longsor hingga mengenai rumah Pak Soleh,” ujar Pitono.

Bagian depan hingga ruang tamu rumah milik Soleh rusak parah. Tembok sampai jebol dan kursi tamu tertimpa longsoran.

”Yang rumah rusak tembok jebol, meja kursi ruang tamu tertimbun bongkahan longsor dan tiang hampir putus. (Tanah longsor)14 meter roboh. Rumah yang atas tidak rusak cuma sandarannya saja,” sebutnya.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Saat kejadian, pemilik rumah, Soleh sedang memandikan cucunya di kamar mandi yang terletak di rumah bagian belakang.

”Pemilik rumah kebetulan mandikan cucunya di belakang. Alhamdulillah selamat,” ucapnya.

Namun, pemilik rumah ditaksir mengalami kerugian hingga ratusan juta. Saat ini, pemilik rumah sedang mengungsi di rumah tetangganya  yang lebih aman.

”Sekarang pemilik rumah ngungsi di rumah tetangga. Besok kerja bakti didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas,” katanya.

Usai peristiwa itu, pagi tadi  warga bergotong royong membersihkan material longsor Senin (15/12/2025).  Sejumlah anggota TNI-Polri pun tampak terlihat ikut membantu.

Dengan cekatan, warga berbondong-bondong mendatangi rumah Soleh. Gerimis yang turun tak menyurutkan semangat warga.

”Sebenarnya sudah tadi sore sekitar 17.30 WIB longsornya. Tapi tadi malam masyarakat belum berani kerja bakti karena kondisi rumah gelap dan rusak. Hari ini kerja bakti warga Jrahi,” ujar salah satu Perangkat Desa Jrahi, Kuntan.

Ia mengaku upaya warga ini merupakan aksi solidaritas di desa yang dijuluki Desa Pancasila tersebut. Mereka saling bahu membahu membantu membersihkan material longsor.

“Korban tidak ada. tapi korban material ada banyak. Ada TV, kulkas, lemari ada kursi rumah dan sebagainya. Bangunannya juga,” imbuhnya.

Sementara itu, Soleh, sangat pemilik rumah menceritakan kejadian longsor yang menimpa rumahnya. Ia mengaku tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan longsor menimpa rumahnya. Tembok sampai jebol, kursi tamu kulkas hingga televisi tertimpa longsoran.

Baca Juga: Truk Muatan Pupuk Terjun ke Sungai Kaliombo Pati, Sopir Diduga Mengantuk

“Saat itu saya sedang memandikan anak di belakang, ” jelasnya.

Dirinya menyebut, akibat kejadian ini, dirinya mengalami kerugian hingga ratusan juta. Saat ini, dirinya pun mengungsi di rumah tetangganya  yang lebih aman.Soleh pun berharap ada bantuan dari pemerintah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Nasi Jagung Angkringan Semar Pati, Sajikan Kehangatan Pedesaan dengan Botok dan Sayur Tradisonal

0
Angkringan Semar di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Di tengah gempuran menu kekinian, sebuah warung makan di Pati, yakni di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, sukses menarik perhatian pecinta kuliner dengan menyajikan menu khas pedesaan yang kental akan nuansa nostalgia. Nasi Jagung lengkap dengan aneka lauk tradisional.

Warung bernama “Angkringan Semar” ini menjadi magnet bagi mereka yang merindukan cita rasa “ndeso” yang otentik.

Baca Juga: Pecak Kalkun di Kudus Jadi Buruan Pecinta Kuliner dari Berbagai Daerah

Berlokasi strategis di kawasan yang mudah dijangkau dan di pinggiran area persawahan, Angkringan Semar tidak hanya menawarkan nasi jagung yang pulen dan gurih, tetapi juga “pasangan serasi” yang tak terpisahkan dari menu ini.

“Kami ingin mempertahankan cita rasa asli makanan Jawa. Nasi jagung itu bukan hanya soal makanan, tapi juga kenangan,” ujar Ayu Saka, pengelola Angkringan Semar.

Aneka lauk yang disajikan di Angkringan Semar  benar-benar memanjakan lidah. Beberapa menu andalan yang wajib dicoba, di antaranya sayur lompong. Olahan batang talas muda yang dimasak santan dengan bumbu khas, memberikan sensasi lembut dan gurih.

Kemudian ada pula sayur tempe pedes dan sayur tewel atau lodeh nangka muda dengan kuah santan kaya bumbu, salah satu menu wajib masakan Jawa.

Ada pula olahan ikan asap yang dimasak dengan kuah santan pedas merah yang menggugah selera.

Tak hanya sayuran dan lauk biasa, warung ini juga spesialis dalam aneka botok, yakni pepes parutan kelapa dengan bumbu.

“Di sini ada botok udang, botok daging, botok teri, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Sedangkan untuk minumannya, di Angkringan Semar juga menyediakan minuman tradisional khas, yakni aneka rempah. Yang menjadi favorit di antaranya adalah Semar Mesem dan Semar Mendem.

Kemudian untuk harga,pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam dalam. Satu porsi nasi jagung lengkap dengan lauk, hanya Rp 7 ribu saja. Jika ditambah minuman rempah, pengunjung cukup membayar Rp 12 ribu.

Para pelanggan mengakui bahwa makan di warung ini seolah kembali ke masa kecil. Nasi jagung yang dihidangkan hangat, dipadukan dengan kuah sayur lompong dan sentuhan pedas dari tempe pedes, menciptakan harmoni rasa yang otentik. Pilihan botok yang beragam juga membuat setiap kunjungan selalu menawarkan pengalaman rasa baru.

“Enak, kuahnya juga mantap, apalagi ditambah botoknya, ini juga makin tambah nikmat. Gak kecewa ke sini,” kata Irawati, pengunjung asal Kudus.

Hal senada juga disampaikan Arif Budiyanto. Bukan hanya nasi jagung ditambah lauk tradisional yang khas, minuman di Angkringan Semar juga menambah segar.

Baca Juga: Royal Pisang Kembung, Camilan Kekinian yang Populer di Pati

“Sangat cocok, apalagi dinikmati saat musim hujan seperti ini. Bisa menghangatkan badan,” ungkapnya.

Tertarik mencoba cita rasa nasi jagung khas Angkringan Semar? Kunjungi dan nikmati kehangatan menu jadul yang sulit ditolak. Lokasinya cukup gampang, dari Kampus STAI Pati ke arah selatan.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Nasi Kebuli Jadi Pilihan Sarapan Cepat Warga Gribig Kudus

0
Lapak nasi kebuli di Gribig, Kudus. Foto: Nania Rizka Apriliyani

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, sebuah lapak sederhana di pinggir jalan Desa Gribig tampak ramai pembeli. Dari balik meja kecil, aroma rempah khas Timur Tengah tercium menarik perhatian warga yang melintas. Lapak nasi kebuli tersebut menjadi salah satu pilihan sarapan cepat bagi masyarakat setempat.

Di sana, seorang perempuan bernama Nisa (25) tampak sigap melayani pembeli. Dengan senyum ramah, ia menyajikan nasi kebuli hangat kepada pelanggan yang datang silih berganti. Meski tampak akrab dengan lapak tersebut, Nisa mengaku bahwa usaha nasi kebuli yang dijalankannya bukan milik pribadi.

Baca Juga: Pecak Kalkun di Kudus Jadi Buruan Pecinta Kuliner dari Berbagai Daerah

“Saya cuma ikut orang,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia dipercaya untuk berjualan nasi kebuli yang seluruh proses memasaknya dilakukan oleh pihak lain. Awalnya, pekerjaan ini hanya ia jalani sebagai sampingan dari pekerjaannya di pabrik. Namun seiring waktu, Nisa memutuskan untuk fokus mengelola lapak nasi kebuli tersebut.

Soal menu, pilihan yang ditawarkan cukup beragam dengah harga yang ramah di kantong. Seporsi nasi kebuli polos dijual seharga Rp7.000. Pembeli juga dapat menambahkan lauk.

“Kalau tambah telur harganya jadi Rp11.000, tambah ayam Rp12.000, atau rendang Rp13.000,” rincinya.

Seluruh nasi dan lauk sudah dalam kondisi siap saji saat lapak dibuka. Karena itu, Nisa tidak mengetahui secara pasti berapa banyak beras yang diolah setiap harinya, ia hanya memastikan stok selalu tersedia.

Baca Juga: Royal Pisang Kembung, Camilan Kekinian yang Populer di Pati

Lapak nasi kebuli ini buka setiap hari mulai pukul 05.30 hingga 09.00 WIB. Menurut Nisa, waktu paling ramai adalah pagi hari, ketika warga mencari sarapan sebelum beraktivitas.

“Paling ramai itu pas baru buka, karena banyak yang cari buat sarapan,” tambahnya.

Penulis: Nania Rizka Apriliyani, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kisah Perjuangan Pedagang Telur Gulung Kudus Bertahan di Tengah Lonjakan Harga

0
Ali Sunarto, pedagang telur gulung di depan SD 2 Barongan Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Di balik aroma gurih jajanan telur gulung yang akrab di depan sekolah, tersimpan kisah perjuangan pedagang kecil yang harus bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Ali Sunarto, pedagang telur gulung di depan SD 2 Barongan Kudus, menjadi salah satu wajah nyata dari keteguhan hati pedagang kecil menghadapi lonjakan harga bahan pokok.

Baca Juga: Gulung Tikar di Pangkas Rambut, Mas Bro Bangkit dan Cuan dengan Rebranding Barbershop

“Telur naik sejak lama. Penghasilan berkurang, sudah sepi berkurang lagi,” keluh Ali.

Telur gulung dan pentol berlapis telur yang ia jual tetap dibanderol Rp1.000 per tusuk. Ali enggan menaikkan harga karena mayoritas pembelinya adalah anak sekolah. Ia khawatir jika harga dinaikkan, jajanan sederhana itu tak lagi terjangkau.

“Kondisinya saat ini sepi, gimana mau dinaikan. Takutnya nanti kalau dinaikan malah tidak ada pembelinya,” ujarnya.

Meski terhimpit biaya, Ali menolak mengurangi kualitas dagangannya. Ia tetap menggunakan telur murni tanpa campuran bahan lain. Baginya, menjaga kejujuran rasa adalah bentuk perjuangan agar anak-anak tetap bisa menikmati jajanan yang layak.

“Untuk porsi penyajian masih sama seperti biasa. Alhamdulillah masih untung sih, sekarang bertahan dulu lah,” katanya penuh harap.

Selain harga telur, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memengaruhi penjualan. Anak-anak yang mendapat makanan dari program tersebut kini jarang membeli jajanan sekolah. Jika dulu Ali bisa menjual 500 tusuk sehari, kini 300 tusuk pun sulit tercapai.

Baca Juga: Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner

Ali berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada pedagang kecil. Baginya, menurunkan harga telur dan minyak adalah langkah penting agar pedagang seperti dirinya bisa terus bertahan.

“Kasihan pedagang seperti saya. Kalau sudah naik, harga susah turun,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lezatnya Lontong Balungan di Warung Legendaris Mbah Rum Kropak Pati

0
Di Desa Kropak, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, terdapat sebuah warung sederhana yang menyajikan kelezatan tak tertandingi, yakni Lontong Balungan Mbah Rum. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID,PATI  – Bagi pecinta kuliner sejati, khususnya masakan khas Jawa, mencicipi hidangan otentik di warung legendaris adalah sebuah keharusan. Di Desa Kropak, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, terdapat sebuah warung sederhana yang menyajikan kelezatan tak tertandingi, yakni Lontong Balungan Mbah Rum.

Warung yang dikelola oleh Sindung ini, telah menjadi ikon kuliner lokal. Berbeda dari lontong sayur biasa, Lontong Balungan Mbah Rum menyuguhkan perpaduan yang kaya rasa dan mengenyangkan.

Baca Juga: Pecak Kalkun di Kudus Jadi Buruan Pecinta Kuliner dari Berbagai Daerah

Sindung menjelaskan, satu porsi Lontong Balungan terdiri dari beberapa komponen utama yang memanjakan lidah. Yakni, lontong yang dibungkus daun pisang, balungan sapi yang merupakan ciri khas utama hidangan ini. Tulang-tulang sapi yang dimasak hingga empuk dengan daging yang masih menempel memberikan cita rasa gurih yang mendalam.

“Selain balungan, ada juga babat, kikil, telur maupun tahu,” sebutnya.

Semua bahan tersebut disiram dengan kuah lodeh yang khas. Kuah lodeh yang kaya bumbu dan santan ini menjadi kunci utama yang membedakan Lontong Balungan Mbah Rum dari hidangan sejenis lainnya.

Untuk menikmati satu porsi Lontong Balungan yang lezat dan mengenyangkan ini, pelanggan cukup merogoh kocek sebesar Rp25.000 per piring.

Warung Lontong Balungan Mbah Rum mulai melayani pembeli setiap hari dari pukul 11.00 siang hingga habis.

Saat ditanya mengenai penjualan, Sindung menceritakan,  bahwa warungnya pernah mencapai masa kejayaan.

“Dulu, (penjualan) bisa sampai satu kuwintal sehari,” ujar Sindung.

Meski kini penjualan harian sedikit menurun, rata-rata konsumsi balungan sapi masih mencapai sekitar 20 kilogram per hari. Hal ini menunjukkan masih  tingginya permintaan dan kecintaan masyarakat terhadap hidangan legendaris ini.

Widiyanto, salah satu penikmat kuliner mengaku sangat menikmati Lontong Balungan di warung Mbah Rum tersebut. Menurutnya, rasa gurih hingga pedasnya sepadan.

“Sangat worth it lah bagi yang gak suka pedas. Karena rasanya pas, lontongnya juga gak keras, dan kuahnya juga enak banget,” ungkapnya.

Apalagi katanya, sensasi krokot balungan juga menambah nikmat menjajal kuliner yang baru pertama dirasakan itu.Dan itu katanya, mengingatkan kembali masakan-masakan khas tempo dulu.

Baca Juga: Royal Pisang Kembung, Camilan Kekinian yang Populer di Pati

Kemudian untuk harga, katanya juga sangat terjangkau di kantong. Sehingga, tidak perlu khawatir bagi pecinta kuliner untuk mencoba menikmati kuliner Lontong Balungan ini.

Jadi, jika Anda sedang berada di Pati, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir dan menikmati kehangatan serta kelezatan otentik dari Lontong Balungan Warung Mbah Rum di Kropak, Winong.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pemkab Jepara Siapkan Program Inkubasi Bagi Puluhan UMKM Selama Satu Tahun 

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara pada awal tahun 2026 berencana untuk membuat program inkubasi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang akan diselenggarakan dalam jangka waktu satu tahun. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara pada awal tahun 2026 berencana membuat program inkubasi bagi pelaku UMKM yang akan diselenggarakan dalam jangka waktu satu tahun. 

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Kabupaten Jepara, Zamroni Lestiaza mengatakan program itu rencananya akan menyasar sekitar 20-30 pelaku UMKM di Kabupaten Jepara. 

Baca Juga: Belasan Desa di Jepara Tak Punya Lahan untuk Dirikan Gerai Koperasi Merah Putih 

Mereka nantinya akan diberikan pendampingan mulai dari bagaimana merancang produk yang akan dijual, strategi bisnis dan pemasaran, hingga bisa berkembang secara mandiri.  

“Sasarannya memang UMKM yang masih diawal atau mungkin belum (berkembang besar), tapi memang dia ingin bergerak untuk bisnis. Mulai dari UMKM awal itu nanti akan kita dampingi selama satu tahun penuh sampai bisa mandiri,” kata Zamroni pada Betanews.id, Sabtu (13/12/2025).  

Dalam pelaksanaan program itu, Zamroni mengatakan pihaknya juga akan menggandeng pelaku usaha yang memang sudah berpengalaman di bidangnya.  

Zamroni mengatakan, saat ini program inkubasi bagi pelaku UMKM memang sudah banyak ada di Kabupaten Jepara. Salah satunya dari Koperasi Aroma Nusantara yang juga membuat program inkubasi. 

Salah satu produk yang ditawarkan yaitu Pindang Serani yang disajikan dalam kemasan dan mampu bertahan selama satu tahun. 

“Harapan kita, produk-produk yang nanti ditawarkan melalui program inkubasi ini bisa mengangkat potensi-potensi lokal. Karena saat ini lagi trendnya, makanan dalam kemasan,” ujar Zamroni. 

Sebagai persiapan, Zamroni mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan kepada pelaku UMKM yang nantinya akan mengikuti program inkubasi. 

Baca Juga: Kawasan Gunung Muria di Jepara Rawan Bencana Longsor 

UMKM yang mendaftar, menurut Zamroni nantinya tetap akan dilakukan proses kurasi atau seleksi. Hal itu untuk memastikan UMKM yang ikut serta memang sesuai dengan yang ditargetkan. 

“Ini kita sudah mulai pendataan calon pesertanya siapa. Nanti ada seleksi pesertanya pastinya, karena inkubasi ini kan untuk pengembangan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kisah Suwantomo Puluhan Tahun Jadi Pengukir Patung Yesus 

0
Patung Yesus Gembala setinggi 2,9 meter yang berada di halaman rumah milik Suwantomo (47), Warga Desa Bandengan RT 10 RW 3, Kecamatan/Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Patung Yesus Gembala setinggi 2,9 meter yang berada di halaman rumah milik Suwantomo (47), Warga Desa Bandengan RT 10 RW 3, Kecamatan/Kabupaten Jepara tampak gagah. 

Patung pesanan dari Kota Jakarta itu khusus dibuat dalam rangka perayaan Natal. Suwantomo, pemahat patung itu bercerita setiap tahun, menjelang perayaan Natal ia selalu mendapat pesananan Patung Yesus.  

Baca Juga: Gulung Tikar di Pangkas Rambut, Mas Bro Bangkit dan Cuan dengan Rebranding Barbershop

“Kalau buat patung sudah 10 tahun, mulai 2015. Sejak ikut Mas Dendi Sanggar Bukit Air,” katanya pada Betanews.id, Sabtu (13/12/2025). 

Suwantomo melanjutkan, dulu sebelum menjadi pemahat Patung Yesus, ia memang sudah membuat patung. Tetapi berbentuk hewan atau patung Dewi Kwam Im.  

Karena pesanan patung itu mulai berkurang, ia kemudian menerima pesanan patung dari Sanggar Bukit Akar yang berfokus pada patung atau benda kerajinan untuk Gereja.  

“Kalau pertama kali dulu awalnya dari ukiran. Itu sudah sejak SMP dari tahun 1992. Tahun 2000-an itu mulai fokus menekuni patung, karena pesanannya yang ramai itu,” ujarnya.  

Suwantomo melanjutkan, pesanan Patung Yesus yang ia terima di tahun ini merupakan Patung Yesus tertinggi yang pernah ia buat. 

Patung itu menurutnya cukup spesial, karena terbuat dari satu kayu jati utuh tanpa disambung. Sehingga, selama proses pembuatan ia mengaku cukup kesulitan apabila ingin memindah atau menggeser patung tersebut. 

“Ini patung tertinggi yang pernah saya buat. Ini dari satu kayu utuh. Kendalanya ya bikinnya berat, ngangkat-ngangkatnya yang susah,” ungkapnya. 

Untuk menyelesaikan pembuatan patung itu, Suwantomo mengaku membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Sehingga ia sudah memulai membuat patung itu sejak bulan Oktober lalu. 

Baca Juga: Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner

Sementara itu, Dandi Setyaprada (27), Pemilik Sanggar Bukit Akar mengatakan Patung Yesus Gembala itu dijual dengan harga Rp110 juta. Harga itu sudah termasuk finishing patung. 

Meskipun dibuat dalam rangka perayaan Natal, Dandi mengatakan tidak ada target khusus untuk penyelesaian patung setinggi 2,9 meter itu. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Capaian UCJ Kudus 46,55%, Jadi Salah Satu Tingkat Kepesertaan Tertinggi di Jateng

0
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kudus, Vinca Meitasari. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Kabupaten Kudus terus mencatatkan tren positif. Tingkat Universal Coverage Jamsostek (UCJ) Kudus kini mencapai 46,55 persen, menjadikannya salah satu daerah dengan capaian tertinggi di Jawa Tengah.

Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kudus, Vinca Meitasari menyebut, kenaikan UCJ tersebut didorong oleh penambahan sekitar 20 ribu pekerja baru yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan di tahun ini.

Baca Juga: Pengangguran di Kudus Masih Didominasi Tamatan Perguruan Tinggi, Ini Sebabnya

“Capaian UCJ Kudus saat ini cukup baik dan masuk kategori tinggi di Jawa Tengah. Ini menunjukkan kesadaran perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan terus meningkat,” katanya belum lama ini.

Meski demikian, Vinca mengakui tantangan terbesar masih berada di sektor informal. Jika pada sektor formal kepesertaan relatif sudah terakomodasi oleh perusahaan, maka pekerja informal seperti pedagang, pekerja mandiri, hingga pelaku usaha mikro masih memiliki tingkat kepesertaan sekitar 40 persen.

“Dari lebih 400 ribu potensi pekerja informal, sekitar 249 ribu di antaranya belum terdaftar. Ini yang menjadi fokus utama kami ke depan,” jelasnya.

Untuk mendongkrak kepesertaan sektor informal, BPJS Ketenagakerjaan Kudus terus menggencarkan kolaborasi dengan komunitas, kelompok usaha, hingga pemerintah desa. Menurut Vinca, sebagian besar pekerja informal sebenarnya mampu membayar iuran secara mandiri.

“Iurannya hanya Rp16.800 per bulan. Pedagang, PKL, maupun pelaku ekonomi digital pada dasarnya mampu. Tantangannya adalah membangun kesadaran bahwa jaminan sosial itu penting,” imbuhnya.

Selain sosialisasi langsung, BPJS Ketenagakerjaan juga memperluas edukasi hingga ke tingkat desa guna mendekatkan layanan sekaligus mempermudah proses pendaftaran bagi masyarakat.

Baca Juga: Dana Desa 2026 Dipangkas, Kades di Kudus Resah Pembangunan Terhambat

Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa peningkatan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan selaras dengan visi-misi Pemerintah Kabupaten Kudus, khususnya dalam melindungi pekerja rentan yang tidak memiliki penghasilan tetap.

“Pada tahun 2025, Pemkab Kudus meng-cover 30.264 pekerja rentan. Harapannya mereka bisa bekerja dengan lebih aman dan tenang karena terlindungi jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Peringatan HDI di Pati Jadi Panggung Kreativitas Anak Disabilitas

0
Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) digelar di Pendapa Kantor Bupati Pati, Sabtu (13/12/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) digelar di Pendapa Kantor Bupati Pati, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam pentas seni dari anak-anak penyandang disabilitas.

Berbagai kelompok disabilitas, mulai dari tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, celebral palsy, autis, hingga ragam disabilitas lainnya, tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Mereka menampilkan sejumlah pertunjukan, seperti menyanyi, ice breaking, tari tradisional, hingga fashion show.

Baca Juga: Peminat Adopsi Bayi Perempuan yang Ditemukan di Tempat Sampah Sudah Lebih 50 Orang

Salah satu panitia penyelenggara HDI, Jasmudi menyebut, persiapan pentas dilakukan secara serius untuk menghadirkan makna dalam setiap penampilan.

“Ada menari, menyanyi, modelling, ice breaking. Kita butuh waktu dua minggu menampilkan pentas, tidak hanya sekedar menari dan menyanyi tapi kira mengambil ruh pentas tersebut. Pentas ini tidak sekadar pentas tapi ada ruhnya,” ujar Jasmudi.

Jasmudi yang juga pendiri Griya Harapan menampilkan bakat-bakat istimewa dari siswa dan siswinya. Anak-anak tuna rungu tampak percaya diri melenggang di atas catwalk modelling, anak tuna netra menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan, sementara anak-anak tuna wicara tampil memukau melalui tari Kidung Aksomo.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Pati yang telah menaungi forum disabilitas serta mewadahi ide-ide komunitas penyandang disabilitas.

“Ini merupakan acara tahunan dari Forum Disapa (Disabilitas Kabupaten Pati). Kami diberi kesempatan oleh Dinsos dan mereka mendukung karena telah luar biasa sekali merangkul dan menjembatani disabilitas se-Kabupaten Pati. Terimakasih buat para donatur melalui sumbangsih mensupport HDI,”ucapnya.

Peringatan HDI 2025 tersebut dihadiri sekitar 700 undangan. Sejumlah komunitas disabilitas dari luar daerah juga turut hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Kepala Dinsos P3AKB Kabupaten Pati, Aviani Tritanti Venusia mengatakan, pihaknya terus memfasilitasi berbagai agenda untuk penyandang disabilitas. Ia mengaku bangga melihat kemampuan dan keterampilan yang ditunjukkan para penyandang disabilitas dalam peringatan HDI kali ini.

Pihaknya mengapresiasi seluruh penampilan anak-anak berkebutuhan khusus yang dinilai mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.

“Saya bangga intinya hari ini, dan juga semakin menghargai bahwa kekurangan menjadi keistimewaan. Luar biasa sekali anak-anak, kami mengapresiasi mereka, mendukung mereka,” ungkapnya.

Baca Juga: Kuasa Hukum AMPB Siapkan Langkah Praperadilan untuk Bela Botok Cs

Selain pentas seni, dalam kesempatan tersebut juga disalurkan berbagai bantuan sosial, antara lain kursi roda, bantuan uang tunai, serta peralatan penunjang kerja. Bantuan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pati, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kabupaten Pati, serta Margo Laras Kementerian Sosial (Kemensos).

“Bantuan-bantuan dari APBD ada kursi roda, bantuan uang tunai total seluruhnya Rp 600 juta untuk disabilitas, masing-masing terima Rp 1.500 ribu. Ada bingkisan dari Baznas dan Kemensos Margo Laras, lalu BPJS berupa perlengkapan pendukung usaha yang dibutuhkan mereka,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jelang Nataru, Harga Telur Ayam di Kudus Tembus Rp32 Ribu

0
Aktivitas pedagang telur di Pasar Bitingan Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang Nataru, harga telur ayam di Kabupaten Kudus, utamanya di pasar tradisional Pasar Bitingan naik tajam menjadi Rp32 ribu per kilogramnya

Salah satu pedagang telur Pasar Bitingan, Erma Siti Khoiriyah menyampaikan, harga telur terus merangkak naik sejak awal Desember 2025 ini. Salah satu penyebabnya disebut karena adanya program makan bergizi gratis (MBG). 

Baca Juga: Dana Desa 2026 Dipangkas, Kades di Kudus Resah Pembangunan Terhambat

“Apalagi mendekati natal dan tahun baru ini, harga bertambah mahal. Hingga per hari ini harga telur ayam Rp32 ribu perkilogramnya. Harga ini berangsur-angsur naik dari harga Rp27 ribu,” bebernya saat ditemui di pasar, Sabtu (13/12/2025).

Ia menyebut, harga saat ini sulit turun, mengingat beberapa waktu lagi akan masuk bulan puasa.

“Bisa dipastikan, harga ke depannya bisa naik lagi. Karena kurang sebentar lagi menjelang ramadhan,” ujarnya. 

Kenaikan tersebut membuat daya beli masyarakat mulai menurun. “Kadang 1 kuintal habis, kadang juga tidak habis. Harapannya harga secepatnya bisa turun dan stabil agar penjualan tetap bisa normal,” tuturnya.

Senada dengan Erma, pedagang telur lainnya seperti Robihatudh Dhofiroh juga mengalami hal sama. Penjualannya di lapaknya menjadi menurun akibat kenaikan harga telur saat ini. 

Meski begitu, ia mengaku lumrah, lantaran kenaikan harga telur menjelang Nataru itu menjadi agenda rutin tahunan. Menurutnya, lonjakan harga secara drastis dialami sejak tiga hari lalu. 

Tak hanya telur ayam, sebut Firoh, kenaikan harga juga terjadi pada telur puyuh. Dari semula Rp450 per butir, saat ini menjadi Rp550 per butirnya. Ia memprediksi bahwa harga bisa saja mengalami kenaikan harga, apalagi Natal masih lama.

“Kemungkinan naik ada, karena belum Natal. Namun harga telur ayam sebelumnya memang mahal adanya program MBG. Pengaruhnya besar banget,” jelasnya.

Baca Juga: Catat! Deretan Promo Spesial Pertamina untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026

Kenaikan harga itu membuat pedagang telur gulung, seperti Ali Sunarto hanya mendapatkan keuntungan kecil. Berjualan di depan SD 2 Barongan Kudus, Ali mengaku hanya bisa pasrah.

“Semoga saja harga telur bisa kembali turun. Kalau bisa pemerintah bisa menstabilkan harga agar para pedagang ini bisa terbantu,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pengangguran di Kudus Masih Didominasi Tamatan Perguruan Tinggi, Ini Sebabnya

0
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 17 ribu warga Kabupaten Kudus menganggur pada tahun 2025. Ironinya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tersebut didominasi mereka yang berpendidikan tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto menyampaikan, beberapa tahun terakhir lulusan perguruan tinggi memang jadi penyumbang tertinggi TPT di Kudus. Di tahun ini sarjana di Kota Kretek yang belum terserap di dunia kerja sebanyak 4,24 persen.

Baca Juga: Dana Desa 2026 Dipangkas, Kades di Kudus Resah Pembangunan Terhambat

“Jumlah tersebut sebenarnya turun dibanding tahun lalu yang sebanyak 7,56 persen. Tapi jumlah 4,24 persen masih tertinggi sebagai penyumbang angka pengangguran dibanding lulusan SMA/SMK yang hanya 3,78 persen,” ujar Eko di ruang kerjanya belum lama ini.

Sementara penyumbang angka pengangguran paling sedikit di Kabupaten Kudus justru mereka yang hanya tamatan SD ke bawah dengan persentase,1,88 persen. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding tamatan SMP yang sebesar 3,55 persen.

“Meski menyumbang angka pengangguran paling sedikit, tapi jumlah tamatan SD ke bawah yang menganggur di tahun 2025 ini mengalami peningkatan. Tahun lalu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SD ke bawah sebanyak 1,81 persen, tahun ini naik jadi 1,88 persen,” bebernya.

Eko mengungkap, penyebab Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Kudus didominasi lulusan perguruan tinggi. Hal tersebut tak terlepas pelaksanaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

“Pelaksanaan Sakernas biasanya kita lakukan di Bulan Agustus. Jadi memang anak SMA baru lulus dan perguruan tinggi selesai wisuda,” ungkapnya.

Baca Juga: Catat! Deretan Promo Spesial Pertamina untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026

Selain itu, kata Eko, para tamatan perguruan tinggi memang cenderung memilih-milih pekerjaan. Mereka tentu mempertimbangkan gaji dan jejang karir ketika masuk di dunia kerja yang dipilih.

“Tamatan perguruan tinggi ini berupaya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu pendidikan yang dipelajari. Mereka juga tidak terburu-buru bekerja, jika tidak sesuai dengan kualifikasi lulusan mereka,” tuturnya.  

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Truk Muatan Pupuk Terjun ke Sungai Kaliombo Pati, Sopir Diduga Mengantuk

0
Sebuah truk tronton bermuatan pupuk urea terjun bebas ke Sungai Kaliombo, Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati pada Sabtu (13/12/2025) dini hari. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Sebuah truk tronton bermuatan pupuk urea terjun bebas ke Sungai Kaliombo, Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati pada Sabtu (13/12/2025) dini hari. Kecelakaan diduga dipicu sopir yang mengantuk saat melintas di atas jembatan.

Truk bernomor polisi H 8237 OH tersebut diketahui mengangkut pupuk urea dari Palembang dengan tujuan Lasem, Kabupaten Rembang. Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB, ketika kendaraan melaju dari arah barat menuju timur di jalur Pantura.

Baca Juga: Kuasa Hukum AMPB Siapkan Langkah Praperadilan untuk Bela Botok Cs

Sebelum terjun ke sungai, truk terlebih dahulu menghantam besi pembatas jembatan hingga rusak parah. Benturan keras membuat kendaraan keluar jalur dan akhirnya jatuh ke dasar sungai.

Kondisi truk pascakecelakaan cukup memprihatinkan. Bagian kepala dan badan kendaraan terlihat berada di dalam sungai, sementara muatan pupuk urea tumpah dan berserakan di dasar sungai. Besi pengaman jembatan tampak jebol akibat tak kuat menahan benturan truk bermuatan berat tersebut.

Sopir truk, Supriyanto, mengaku kelelahan saat mengemudi. Jalan yang lengang disertai hujan membuatnya kehilangan konsentrasi hingga tidak menyadari kendaraan keluar jalur.

“Saya dari arah barat mau ke Lasem. Jalan sepi, hujan, saya ngantuk. Sudah dua hari dua malam belum istirahat. Baru sadar setelah truk jatuh ke sungai,” ujar Supriyanto.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sopir berhasil menyelamatkan diri meski truk mengalami kerusakan cukup parah.

Baca Juga: Detik-detik Botok dan Teguh Keluar dari Kejari Pati Dibawa ke Lapas

Meski demikian, kecelakaan ini sempat berdampak pada arus lalu lintas di jalur Pantura Pati–Juwana. Proses evakuasi kendaraan serta pengamanan lokasi menyebabkan arus kendaraan tersendat dan padat merayap.

Petugas kepolisian yang menangani kejadian tersebut mengimbau para pengemudi, khususnya sopir kendaraan angkutan berat, agar tidak memaksakan diri berkendara dalam kondisi lelah atau mengantuk.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -