BETANEWS.ID, KUDUS – Di balik aroma gurih jajanan telur gulung yang akrab di depan sekolah, tersimpan kisah perjuangan pedagang kecil yang harus bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Ali Sunarto, pedagang telur gulung di depan SD 2 Barongan Kudus, menjadi salah satu wajah nyata dari keteguhan hati pedagang kecil menghadapi lonjakan harga bahan pokok.
Baca Juga: Gulung Tikar di Pangkas Rambut, Mas Bro Bangkit dan Cuan dengan Rebranding Barbershop
“Telur naik sejak lama. Penghasilan berkurang, sudah sepi berkurang lagi,” keluh Ali.
Telur gulung dan pentol berlapis telur yang ia jual tetap dibanderol Rp1.000 per tusuk. Ali enggan menaikkan harga karena mayoritas pembelinya adalah anak sekolah. Ia khawatir jika harga dinaikkan, jajanan sederhana itu tak lagi terjangkau.
“Kondisinya saat ini sepi, gimana mau dinaikan. Takutnya nanti kalau dinaikan malah tidak ada pembelinya,” ujarnya.
Meski terhimpit biaya, Ali menolak mengurangi kualitas dagangannya. Ia tetap menggunakan telur murni tanpa campuran bahan lain. Baginya, menjaga kejujuran rasa adalah bentuk perjuangan agar anak-anak tetap bisa menikmati jajanan yang layak.
“Untuk porsi penyajian masih sama seperti biasa. Alhamdulillah masih untung sih, sekarang bertahan dulu lah,” katanya penuh harap.
Selain harga telur, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memengaruhi penjualan. Anak-anak yang mendapat makanan dari program tersebut kini jarang membeli jajanan sekolah. Jika dulu Ali bisa menjual 500 tusuk sehari, kini 300 tusuk pun sulit tercapai.
Baca Juga: Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner
Ali berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada pedagang kecil. Baginya, menurunkan harga telur dan minyak adalah langkah penting agar pedagang seperti dirinya bisa terus bertahan.
“Kasihan pedagang seperti saya. Kalau sudah naik, harga susah turun,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

