BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 17 ribu warga Kabupaten Kudus menganggur pada tahun 2025. Ironinya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tersebut didominasi mereka yang berpendidikan tinggi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto menyampaikan, beberapa tahun terakhir lulusan perguruan tinggi memang jadi penyumbang tertinggi TPT di Kudus. Di tahun ini sarjana di Kota Kretek yang belum terserap di dunia kerja sebanyak 4,24 persen.
Baca Juga: Dana Desa 2026 Dipangkas, Kades di Kudus Resah Pembangunan Terhambat
“Jumlah tersebut sebenarnya turun dibanding tahun lalu yang sebanyak 7,56 persen. Tapi jumlah 4,24 persen masih tertinggi sebagai penyumbang angka pengangguran dibanding lulusan SMA/SMK yang hanya 3,78 persen,” ujar Eko di ruang kerjanya belum lama ini.
Sementara penyumbang angka pengangguran paling sedikit di Kabupaten Kudus justru mereka yang hanya tamatan SD ke bawah dengan persentase,1,88 persen. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding tamatan SMP yang sebesar 3,55 persen.
“Meski menyumbang angka pengangguran paling sedikit, tapi jumlah tamatan SD ke bawah yang menganggur di tahun 2025 ini mengalami peningkatan. Tahun lalu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SD ke bawah sebanyak 1,81 persen, tahun ini naik jadi 1,88 persen,” bebernya.
Eko mengungkap, penyebab Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Kudus didominasi lulusan perguruan tinggi. Hal tersebut tak terlepas pelaksanaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).
“Pelaksanaan Sakernas biasanya kita lakukan di Bulan Agustus. Jadi memang anak SMA baru lulus dan perguruan tinggi selesai wisuda,” ungkapnya.
Baca Juga: Catat! Deretan Promo Spesial Pertamina untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026
Selain itu, kata Eko, para tamatan perguruan tinggi memang cenderung memilih-milih pekerjaan. Mereka tentu mempertimbangkan gaji dan jejang karir ketika masuk di dunia kerja yang dipilih.
“Tamatan perguruan tinggi ini berupaya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu pendidikan yang dipelajari. Mereka juga tidak terburu-buru bekerja, jika tidak sesuai dengan kualifikasi lulusan mereka,” tuturnya.
Editor: Haikal Rosyada

