Beranda blog Halaman 93

Taman Bojana Kudus Dikabarkan Diminati Investor, Bakal Dibangun Hotel

0
Taman Bojana Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Taman Bojana Kabupaten Kudus dikabarkan diminati investor. Pusat kuliner yang cukup legendaris di Kota Kretek tersebut rencananya bakal dirobohkan dan akan dibangun hotel.

Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus melalui Kasubid Pemberdayaan dan Perubahan Status Hukum Aset Daerah, Marinda Agustina membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, investor sangat tertarik dengan Taman Bojana yang lokasinya sangat strategis.

Baca Juga: 100 Gerobak dan Tenda BPKH Disalurkan untuk PKL Kudus

“Investor tersebut sama dengan yang menyewa lahan eks Ngasirah. Mereka tertarik juga untuk berinvestasi di Taman Bojana guna dibangun hotel,” ujar Marinda di ruang kerjanya, Selasa (6/1/2025).

Lebih lanjut, Marinda menuturkan, mekanisme investasinya nanti sewa lahan Taman Bojana. Hal tersebut sama dengan yang diberlakukan pada lahan eks Ngasirah dan eks SMP 3 Kudus.

“Jadi nanti bangunan yang ada kami robohkan. Setelah itu, investor mulai bangun hotel,” bebernya.

Terkait harga sewa lahan, kata Marinda, nantinya yang menentukan bukanlah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, melainkan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Sehingga nilainya nanti bisa sama atau juga berbeda dengan lahan eks SMP 3 Kudus.

“Untuk masa sewa, tentu sesuai ketentuan yang berlaku. Dan tentunya, cukup menarik bagi investor,” sebutnya.

Disinggung hotel bintang berapa dan berapa lantai, Marinda mengaku belum mengetahui secara detail. Sebab belum ada proposalnya. Namun, investor tersebut sudah menaruh minatnya terhadap Taman Bojana.

“Adanya ketertarikan tersebutlah, lahan parkir Taman Bojana di 2026 dilelang tidak full satu tahun, tetapi enam bulan. Tujuannya, ketika investor masuk, lahan parkir tersebut sudah bebas pengelolaan dari pihak ketiga,” jelasnya.

Baca Juga: Tinggal Dua Hari, Pedagang Sayur Malam Pasar Bitingan Akan Direlokasi ke Pasar Swasta

Dia mengatakan, adanya investor yang tertarik terhadap TAman Bojana ini sangat bagus bagi Kudus. Apalagi, bangunan yang ada di pusat kuliner tersebut sudah sangat lama dan banyak yang rapuh dan bocor.

“Bangunan di Taman Bojana itu sudah sangat tua. Sehingga cukup menghawatirkan. Bangunan juga banyak yang bocor. Ketika ada investor yang masuk tentu sangat bagus, sepanjang sesuai aturan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terpuruk di Klasemen, Persipa Wajib Menang atas Dejan FC Malam Ini 

0
Latihan tim Persipa Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Persipa Pati kembali dihadapkan pada ujian berat saat menjamu Dejan FC pada Rabu (7/1/2026) malam di Stadion Moch Soebroto Magelang. Pelatih Persipa, Nazal Mustofa, menegaskan bahwa target meraih poin penuh menjadi harga mati bagi timnya.

Tekad tersebut disampaikan Nazal Mustofa dalam konferensi pers yang digelar Selasa (6/1/2026) siang. Ia mengakui Persipa berada dalam situasi sulit setelah gagal meraih kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir.

Baca Juga: Sempat Bawa Persipa Promosi Liga 2, Nazal Mustofa Kembali Ditunjuk jadi Pelatih Laskar Saridin

“Sebenarnya anak-anak fighting spiritnya ada. Maka kami tekankan motivasi harga mati untuk poin penuh,” ujar pria yang pernah membawa Persipa promosi ke Liga 2 tersebut.

Nazal menyebut tim pelatih telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi laga penting ini. Persiapan dilakukan melalui peningkatan intensitas latihan serta penyusunan skema antisipasi terhadap kekuatan lawan.

“Kami telah pelajari kelemahan sekaligus kelebihan. Kami akan antisipasi,” ucapnya.

Namun demikian, upaya Persipa dipastikan tidak mudah. Dejan FC yang dijuluki The Careguard tampil impresif sepanjang kompetisi dan belum tersentuh kekalahan. Klub asal Depok, Jawa Barat itu masih kokoh di puncak klasemen sementara Grup A Liga 3 Nusantara 2025/2026 dengan koleksi 20 poin.

Dari delapan pertandingan yang telah dijalani, Dejan FC mencatat enam kemenangan dan dua hasil imbang. Capaian tersebut membuat jarak poin dengan Persipa terpaut cukup jauh, yakni 17 poin.

Baca Juga: Lima Laga Tanpa Kemenangan, Persipa Pati Pasang Tekad Bangkit di Magelang

Sementara itu, Persipa yang juga berjuluk Laskar Kebo Landoh masih berkutat di papan bawah dan belum mampu keluar dari zona degradasi. Hingga pekan kedelapan, Persipa belum meraih satu pun kemenangan, dengan catatan tiga kali imbang dan lima kali kalah.

Laga melawan Dejan FC menjadi momentum krusial bagi Persipa untuk menjaga peluang bertahan. Tambahan tiga poin diharapkan mampu mendongkrak posisi Persipa agar keluar dari zona degradasi, sekaligus mengejar PSDS Deli Serdang yang kini berada di peringkat keempat dengan lima poin atau selisih dua poin di atas Persipa.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Viral Jamaah Dzikir di Candi Prambanan, Pimpinannya Ternyata dari Jepara 

0
Tangkapan layar video viral berdzikir di Candi Prambanan. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JEPARA – Video yang memperlihatkan sekelompok orang sedang berdzikir dengan mengucapkan lafadz La ilaha illallah di area Candi Prambanan, Yogyakarta viral di media sosial. 

Dalam video berdurasi 22 detik dari akun Tiktok bernama @neveralOnely, tampak 11 orang dengan mengenakan kain sorban berbagai warna dan motif sebagai penutup kepala mengucapkan lafadz dzikir dengan suara cukup keras. 

Baca Juga: Dibuka Hingga Rabu Depan, Pemkab Jepara Lelang Puluhan Kendaraan Dinas 

Sehingga menimbulkan rasa penasaran para pengunjung yang saat itu juga sedang berada di area Candi Prambanan. Video itu kemudian viral dan menimbulkan beragam komentar dari warganet. 

Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin mengatakan dari informasi yang ia dapat pimpinan majelis dzikir  tersebut ternyata merupakan warga yang berdomisili di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. 

“Terkait video viral yang ada di Candi Prambanan, (pimpinan majelis) memang mukimnya, punya majelis di Jepara, tepatnya di Desa Karangrandu. Namun KTP-nya bukan KTP Jepara. Jadi ketua dan istrinya bukan KTP Jepara,” kata Akhsan saat ditemui di Kantor Kemenag Jepara, Selasa (6/1/2025). 

Setelah menerima informasi itu, pada Kamis (1/1/2026) lalu, penyuluh agama dari Kemenag Jepara bersama pihak terkait termasuk pemerintah desa melakukan dialog dengan pihak yang bersangkutan atau pimpinan majelis dzikir tersebut. 

https://youtu.be/RN6fmLsXh68

Dari hasil dialog, Akhsan mengatakan peristiwa viral itu terjadi pada Kamis, (25/12/2025) lalu. Sebelumnya, pada Rabu (24/12/2025) malam rombongan majelis dzikir sempat pergi ke Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 

“Kemudian paginya, setelah pulang dari Pantai Parangtritis, mereka mampir ke Candi Prambanan,” ujar Akhsan. 

Akhsan melanjutkan, secara administrasi majelis dzikir itu belum tercatat di Kemenag Jepara. Sehingga ia sendiri tidak mengetahui aliran atau nama dari majelis dzikir tersebut.  

“Majelis dzikirnya kalau kita cek belum terdaftar, yang kami tahu hanya majelis dzikir,” ungkapnya. 

Namun meski tidak terdata di Kemenag Jepara, Akhsan memastikan kelompok majelis dzikir tersebut tidak termasuk dalam kelompok yang membawa aliran menyimpang dari nilai atau ajaran Agama Islam.  

Baca Juga: Resmi Dihapus, Pemkab Jepara Masih Tunggu Hasil Usulan 88 Guru Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu 

Hanya saja, ke depan Akhsan mengaku pihaknya akan melakukan pembinaan secara intensif agar peristiwa tersebut tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.  

“Dari hasil diskusi kemarin, amalannya memang tidak ada yang menyimpang. Tapi kita sudah wanti-wanti betul ke teman-teman penyuluh agar tidak muncul aliran yang bisa mengganggu stabilitas. Kita harus saling menghargai dan menghormati sesama, tetapi ketika melaksanakan ajaran agama, jangan sampai keluar (dari ajaran agama Islam),” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pembangunan Kopdes Merah Putih di Tambaharjo Pati Ditolak Warga

0
Lapangan Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Penolakan pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, mendadak menjadi sorotan publik. Sebuah video yang memperlihatkan protes warga terhadap rencana pembangunan tersebut viral di media sosial dan memantik perdebatan luas di jagat maya.

Penolakan itu muncul karena pembangunan Kopdes Merah Putih dinilai akan memakan area lapangan sepak bola desa serta mengancam keberadaan sejumlah ruko di sekitarnya. Dalam video yang beredar pada Senin (5/1/2026), tampak sejumlah warga terlibat adu argumen dengan beberapa orang yang diduga merupakan perwakilan Pemerintah Desa (Pemdes) Tambaharjo.

Baca Juga: Potret Kemeriahan Haul Sunan Prawoto, Jadi Magnet Wisata Budaya dan Religi

Warga, khususnya dari kalangan pemuda, menyatakan keberatan keras atas rencana pembangunan tersebut. Sebab, lapangan sepak bola yang terdampak merupakan fasilitas olah raga yang aktif digunakan dan menjadi pusat kegiatan kepemudaan desa.

”Lama-lama tak ada lapangan sepakbola gara-gara diserobot kopdes merah putih. Sudah terjadi di berbagai daerah, gerai koperasi desa merah putih dibangun di lapangan sepakbola yang seharusnya dibuat olahraga. Kali ini terjadi di desa tambaharjo pati jawa tengah,” tulis pemilik akun Instagram @feedgramindo.

Salah satu warga yang terdampak, Sutarno, turut menyuarakan penolakannya. Ia mengungkapkan bahwa warung nasi miliknya yang berdiri di samping lapangan berpotensi tergusur jika pembangunan kopdes tetap dilanjutkan di lokasi tersebut.

”Orang terlantar dipelihara negara, orang sudah berdiri (mandiri) jangan ditelantarkan. Dan bangun ini harusnya pakai logika. Harusnya ada pro dan kontra antara pemdes dan BPD. Kenapa harus setuju semuanya,” ujarnya, Selasa (6/1/2025).

Sutarno menegaskan, bahwa dirinya tidak menentang program Kopdes Merah Putih secara keseluruhan. Namun, ia keberatan jika pembangunannya harus mengorbankan fasilitas umum yang sudah ada, terlebih ketika masih tersedia banyak lahan alternatif milik desa.

”Lebih baik KDMP itu dipindah di lokasi lain. Jadi tidak mengganggu fasilitas umum. Di sebelah utara juga ada tanah desa, di sebelah barat lapangan ada, terus di belakang ruko Jalan Payang juga ada. Banyak sekali lokasinya. Saya ndak tahu kenapa dipaksakan di sini,” imbuhnya.

Penolakan serupa juga disampaikan Abdul Jabar, perwakilan warga sekaligus pengurus sepak bola Desa Tambaharjo. Ia khawatir pembangunan Kopdes Merah Putih akan mematikan perkembangan olah raga sepak bola yang selama ini tumbuh aktif di desa tersebut.

”Kalau sepakbola sudah dibunuh karakternya, nanti kita mau olahraga di mana gitu enaknya,” ucapnya.

Sementara, Pemdes Desa Tambaharjo mengungkapkan pihaknya dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sudah rembugan menentukan lokasi Kopdes Merah Putih. Mereka akhirnya menetapkan pembangunan Kopdes Merah Putih di lapangan desa.

Hal ini karena, lokasi tersebut strategis dan dekat dekat dengan jalan raya. Sehingga, dinilai lokasi tersebut cocok untuk pendirian Kopdes Merah Putih Desa Tambaharjo.

”Yang pertama sudah Musyawarah Desa (Musdes) ditentukan di sini yang notabene-nya yang kemaunya desa. Itu penataan di wilayah Dukuh Beran sini ini biar rapi tambah bagus ada Koperasi bisa meningkatkan perekonomian di wilayah Dukuh Beran utamanya,” ujar Sulono, Perangkat Desa Tambaharjo.

Ia juga membantah isu keberadaan pembangunan Kopdes Merah Putih nanti merusak lapangan sepak bola. Sulono mengakui, sebagian lahan lapangan sepak bola ikut terkena proyek kopdes.

Dari luas gerai Kepdes Merah Putih selebar 20 × 30 meter, lahan lapangan sepabola yang terkena sekitar 2 × 30 meter. Sulono mengatakan nantinya lapangan bakal digeser ke utara agar sesuai standar.

”Yang kedua lapangan itu bukannya dirusak mas, ya maaf itu hanya digeser toh itu lokasinya masih digeser ke kiri kanan itu masih sangat luas,” katanya.

Baca Juga: Rp5 Miliar DD untuk 22 Desa di Pati Tidak Cair

Pemdes Tambaharjo juga berjanji bakal menata lapangan sepakbola agar lebih indah. Pihaknya berkomitmen ikut mengembangkan sepabola.

”Jadi nanti ditata oleh desa dengan lokasi yang strategis ditata. Nanti pinggirannya ditata biar nanti kedepannya lebih bagus lagi lapangannya,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

100 Gerobak dan Tenda BPKH Disalurkan untuk PKL Kudus

0
50 gerobak dan 50 tenda resmi diserahkan kepada PKL di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (6/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan kembali dilakukan melalui penyaluran bantuan sarana prasarana bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kabupaten Kudus. Sebanyak 100 unit sarpras berupa 50 gerobak dan 50 tenda resmi diserahkan di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (6/1/2025).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang ditujukan untuk mendukung keberlangsungan usaha pelaku ekonomi kecil, khususnya PKL.

Baca Juga: Pasca Geger Dancesport, Rapat DPRD–KONI Kudus Berlangsung Panas

Penyerahan bantuan dihadiri Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid selaku mitra kerja BPKH, Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi serta Pelaporan Kemaslahatan BPKH Dyah Rahayu, serta CEO LAZ Solopeduli Sidik Anshori sebagai mitra penyalur. Turut hadir Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama perwakilan PKL penerima manfaat.

Ketua Forum PKL Kudus, Mundloha, mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi para pedagang, terutama untuk mengganti sarana berdagang yang sudah tidak layak.

“Alhamdulillah terima kasih kepada Pak Abdul Wachid dan BPKH. Bantuan ini gratis dan sangat membantu, karena banyak gerobak PKL yang memang sudah waktunya diganti,” ujarnya.

Menurut Mundloha, jumlah PKL di Kabupaten Kudus saat ini mencapai sekitar 12 ribu orang yang tersebar di berbagai paguyuban. Meski bantuan yang diberikan masih berupa sarana prasarana dan belum menyentuh permodalan, ia menilai program ini sudah cukup mendorong semangat para pedagang.

“Memang belum bantuan modal, masih sarpras. Tapi ini sudah sangat bermanfaat dan menambah motivasi teman-teman PKL untuk terus berjualan,” katanya.

Ia menjelaskan, tenda yang dibagikan berukuran 2×2 meter, sementara gerobak yang diterima PKL merupakan gerobak dorong yang dilengkapi lampu penerangan. Penyaluran bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pedagang.

“Ada yang dapat tenda, ada yang dapat gerobak. Saya sendiri dapat gerobak. Gerobak lama saya bantuan tahun 2012 dan kondisinya sudah rusak,” jelas Mundloha.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi atas perhatian BPKH dan DPR RI terhadap pelaku usaha kecil di daerahnya. Ia menilai program tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah.

“Hari ini disalurkan 50 gerobak dan 50 tenda. Kami juga mengusulkan agar ke depan jumlahnya bisa ditambah menjadi 200 unit untuk PKL Kudus,” kata Sam’ani.

Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan pedagang, tetapi juga mendorong terciptanya kawasan PKL yang lebih tertib, bersih, dan higienis.

“Semoga PKL semakin sejahtera, perekonomiannya meningkat, serta tetap menjaga kebersihan dan ketertiban,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid menegaskan bahwa bantuan sarpras PKL tersebut merupakan alokasi program tahun 2025. Penyaluran dilakukan untuk dua daerah, yakni Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara.

“Kudus mendapat 50 tenda dan 50 gerobak. Jepara juga mendapatkan jumlah yang sama,” jelasnya.

Wachid juga memastikan komitmennya untuk menambah bantuan serupa pada tahun berikutnya, khususnya bagi PKL di Kudus.
“Insyaallah tahun 2026 nanti akan kami tambah menjadi 200 unit khusus untuk PKL Kudus,” tegasnya.

Selain sektor ekonomi kerakyatan, Wachid mengungkapkan rencana penguatan program pendidikan dan keluarga melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Program tersebut menyasar siswa madrasah tsanawiyah, aliyah, hingga mahasiswa.

Baca Juga: 63.493 Warga Kudus Masuk Kategori Sangat Miskin, Penghasilan Kurang Rp800 Ribu Sebulan

“Tahun 2026 kami siapkan sekitar 25 ribu kuota PIP. Mohon datanya disiapkan sejak awal, karena tahun lalu dari 10 ribu kuota yang terserap hanya sekitar 1.300,” ungkapnya.

Ia menambahkan, berbagai program kemaslahatan lain seperti bantuan rumah tidak layak huni juga akan terus didorong. Melalui sinergi antara BPKH, DPR RI, dan Pemerintah Kabupaten Kudus, diharapkan PKL semakin berdaya dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat di daerah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tinggal Dua Hari, Pedagang Sayur Malam Pasar Bitingan Akan Direlokasi ke Pasar Swasta

0
Pedagang sayur Pasar Bitingan saat menjajakan jualannya. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan pedagang sayur malam di Pasar Bitingan Kabupaten Kudus dipastikan bakal direlokasi ke Pasar Saerah. Rencananya relokasi bakal dilakukan pada Kamis atau tanggal 8 Januari 2025.

Relokasi pedagang sayur Pasar Bitingan tersebut dalam rangka penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kudus Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pasar Rakyat. Yang mana pada Perda tersebut juga mengatur jam operasional pasar yang dikelola oleh pemerintah daerah, yakni mulai pukul 06:00 WIB sampai 18:00 WIB.

Baca Juga: Pasca Geger Dancesport, Rapat DPRD–KONI Kudus Berlangsung Panas

Pelaksana Harian (Plh) Dinas Perdagangan (Disdag) Kudus, Djati Solechah memastikan bahwa relokasi pedagang sayur di Pasar Bitingan akan segera dilakukan. Waktunya sudah ditentukan.

“Relokasi bakal dilakukan pada tanggal 8 Januari 2025. Dilakukan pada malam hari, agar tidak mengganngu aktifitas warga,” ujar Djati.

Relokasi tersebut, lanjut Djati, akan dilakukan oleh masing-masing pedagang. Sebab, sudah terjadi kesepakatan antara pihak pedagang dan pengelola Pasar Saerah.

“Relokasi dilakukan mandiri oleh pedagang. Kami hanya memantau dan memastikan keadaan tetap kondusif,” bebernya.

Meski begitu, kata dia, nantinya tetap ada petugas yang berjaga. Selain, untuk kondusifitas, juga untuk memastikan tak ada lagi pedagang sayur malam yang berjualan di Pasar Bitingan.

“Kita tetap kerja sama dengan petugas, baik dari Satpol PP, kepolisian dan TNI. Supaya kondusif saja,” jelasnya.

Diwawancara sebelumnya, Djati mengatakan, mayoritas pedagang sayur malam di Pasar Bitingan Kudus bersedia untuk direlokasi. Informasi dari pihak Pasar Saerah, sudah ada 530 pedagang yang mendaftar.

“Mayoritas pedagang telah sepakat pindah. Dan pihak Pasar Saerah juga memastikan bahwa lokasi muat untuk menampung semua pedagang yang telah mendaftar,” sebutnya.

Sebagai informasi, relokasi pedagang sayur malam.Pasar Bitingan sejatinya bagian dari rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus yang bakal memperluas RSUD Loekmono Hadi dengan membangun gedung baru di lahan eks Matahari Mall.

Baca Juga: 63.493 Warga Kudus Masuk Kategori Sangat Miskin, Penghasilan Kurang Rp800 Ribu Sebulan

Rencananya gedung rumah sakit baru tersebut ada tujuh lantai dan pembangunan bakal dimulai pada tahun 2026. Pembangunan tersebut diperkirakan menelan anggaran kurang lebih sebesar Rp125 miliar.

Dana tersebut bersumber dari hutang Rp85 miliar dan sisanya menggunakan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Loekmono Hadi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kepengurusan KONI Kudus Disebut Tak Solid, Wacana Anggaran 2026 Tak Dicairkan Mengemuka

0
Rapat koordinasi antara Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus, Senin (5/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus menyoroti kondisi kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus periode 2023–2027 yang dinilai tidak solid. Bahkan, wacana penahanan anggaran KONI Kudus tahun 2026 mulai mengemuka jika persoalan internal tidak segera dibenahi.

Sorotan tersebut mencuat dalam rapat koordinasi antara Komisi D DPRD Kudus bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) serta KONI Kudus. Rapat digelar di Aula Gedung DPRD Kudus, Senin (5/1/2025).

Baca Juga: Pasca Geger Dancesport, Rapat DPRD–KONI Kudus Berlangsung Panas

Rapat koordinasi itu sejatinya membahas polemik penampilan atlet dancesport dalam sebuah acara di Pendopo Kudus beberapa hari lalu. Namun dalam perkembangannya, rapat justru mengerucut pada evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan soliditas kepengurusan KONI Kudus.

Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, menilai kepengurusan KONI Kudus di bawah kepemimpinan Sulistyanto belum berjalan solid. Ia menyebut, salah satu anggota Komisi D bahkan mengusulkan agar anggaran tidak dicairkan apabila kondisi tersebut terus berlanjut.

“Usulan itu masuk akal. Kepengurusan KONI Kudus harus solid, apalagi yang dikelola adalah anggaran cukup besar,” tegas Mardijanto.

Ia menambahkan, Komisi D DPRD Kudus berencana turun langsung untuk menelusuri manajemen KONI Kudus. Langkah itu dilakukan guna mengetahui akar persoalan yang menyebabkan munculnya penilaian ketidaksolidan organisasi.

“Kami ingin olahraga di Kudus berprestasi dan bebas konflik. Kami juga tidak ingin ada persoalan serius, termasuk kasus korupsi seperti periode sebelumnya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, alokasi anggaran untuk KONI Kudus pada tahun 2026 kurang lebih sebesar Rp 8 miliar. Besarnya anggaran tersebut menjadi perhatian DPRD agar pengelolaannya benar-benar dilakukan secara profesional dan transparan.

Sementara itu, Ketua KONI Kudus Sulistyanto membantah anggapan bahwa kepengurusan yang dipimpinnya tidak solid. Ia menegaskan, saat ini seluruh pengurus dan cabang olahraga berada dalam kondisi kompak.

“Bisa dilihat saat persoalan dancesport muncul, bukan hanya saya yang menjawab. Pengcab-pengcab juga ikut memberikan klarifikasi. Itu menunjukkan KONI Kudus solid,” kata Sulis.

Baca Juga: 63.493 Warga Kudus Masuk Kategori Sangat Miskin, Penghasilan Kurang Rp800 Ribu Sebulan

Menurutnya, keterlibatan aktif pengurus cabang justru menandakan rasa memiliki terhadap organisasi. Ia juga menilai wajar apabila ada pihak-pihak yang tidak sepakat dengan kebijakan yang diambil.

“Secara umum kami solid. Kalau ada yang tidak puas, itu hal biasa dalam organisasi. Namanya juga banyak orang,” tandasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kurangi Pengangguran, Pelatihan Napos di RSMR Kudus Bekali Warga Siap Kerja dengan Upah Minimal Sesuai UMK

0
Pelatihan tenaga pendamping orang sakit (Napos) yang digelar oleh RS Mardi Rahayu. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit (RS) Mardi Rahayu Kudus mengadakan program pelatihan tenaga pendamping orang sakit atau nurse assistant profesional (napos). Program ini menjadi salah satu layanan unggulan rumah sakit dan telah berhasil mencetak puluhan tenaga kerja yang terserap di dunia kerja.

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, mengatakan para peserta yang telah lulus pelatihan dinyatakan siap bekerja sebagai napos. Terlebih pihaknya memastikan mitra itu bisa mendapatkan upah minimal sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Baca Juga: TP PKK Kudus dan RS Mardi Rahayu Gelar Pelatihan Napos

“Dari hasil pelatihan yang kami lakukan, sejak angkatan pertama sampai keempat kalinya, 100 persen sudah terserap sebagai tenaga kerja, baik di Kudus maupun hingga luar kota Kudus,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan data RS Mardi Rahayu, dalam kurun tiga hingga empat tahun terakhir, sedikitnya sudah ada sekitar 30 peserta yang mengikuti pelatihan napos dan seluruhnya telah bekerja.

“Nanti setelah pelatihan mereka akan mendapatkan sertifikat bahwa sudah mengikuti pelatihan dan siap bekerja sebagai tenaga pendamping orang sakit,” jelasnya.

Program pelatihan napos ini awalnya disiapkan untuk mendukung layanan unggulan RS Mardi Rahayu, yakni Pusat Layanan Stroke Terintegrasi. Menurut Pujianto, rumah sakit memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari pasien atau Activity Daily Living (ADL), sehingga keberadaan napos sangat dibutuhkan.

“Utamanya kami siapkan untuk pasien stroke yang menjalani perawatan di RS Mardi Rahayu. Karena rumah sakit tidak bisa melakukan ADL pasien secara penuh, maka dibantu dengan adanya napos,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, cakupan layanan napos pun semakin berkembang. Tidak hanya mendampingi pasien stroke, napos juga melayani perawatan pasien bayi, perawatan luka, diabetes, alih baring, hingga berbagai kebutuhan perawatan lainnya yang dibutuhkan oleh pasien usai melakukan perawatan di rumah sakit.

Bahkan, peserta pelatihan tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari keluarga pasien. Hal ini karena banyak keluarga pasien yang belum memiliki pengalaman dalam merawat anggota keluarganya yang sakit.

Penyaluran tenaga napos dilakukan melalui layanan homecare RS Mardi Rahayu. Meski pelatihan diberikan secara gratis, dr. Pujianto menyebut jika dihitung secara biaya, nilai pelatihan tersebut bisa mencapai sekitar Rp3 juta per orang.

“Peserta harus menandatangani kontrak kerja sama sebelum pelatihan. Ini untuk menjamin mutu layanan. Kalau di lapangan ada yang tidak baik, bisa dilaporkan dan akan kami coret,” tegasnya.

RS Mardi Rahayu juga memastikan seluruh napos yang bekerja mendapatkan upah sesuai UMK. Pihaknya menegaskan, tidak ingin tenaga napos yang telah dilatih dibayar di bawah standar.

“Kami ingin menjamin mereka mendapatkan upah UMK. Kami tidak ingin mereka dibayar di bawah UMK,” imbuhnya.

Baca Juga: Viral Video Mesum Oknum Nakes yang Diduga di RSUD Kudus, Begini Respon Bupati

Meski kebutuhan napos cukup tinggi, dr. Pujianto mengakui tidak mudah mencari peserta yang benar-benar berminat bekerja di bidang ini. Oleh karena itu, RS Mardi Rahayu menjalin kerja sama dengan Tim Penggerak PKK untuk menjaring calon peserta pelatihan.

“Pasien yang pulang setiap hari selalu ada, tapi memang tidak semua orang berminat menjadi napos. Karena itu kami bekerja sama dengan TP PKK,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Potret Kemeriahan Haul Sunan Prawoto, Jadi Magnet Wisata Budaya dan Religi

0
Haul Sunan Prawoto Raden Bagus Hadi Mukmin di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Kirab budaya dalam rangka Haul Sunan Prawoto Raden Bagus Hadi Mukmin di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati, berlangsung meriah. Acara yang rutin digelar setiap tahun itu diselenggarakan pada Senin (5/1/2026).

Ribuan warga tumpah ruah ke jalanan yang dilintasi peserta kirab. Mereka tak hanya dari desa setempat saja, namun kirab budaya ini juga menjadi magnet wisatawan dari berbagai desa dan daerah.

Baca Juga: Rp5 Miliar DD untuk 22 Desa di Pati Tidak Cair

Kirab dimulai dari balai desa setempat yang berada di kawasan Alun-Alun Desa Prawoto. Pelepasan peserta kirab ditandai dengan penyerahan kain luwur oleh Kepala Desa Prawoto Achmad Hyro Fachrus kepada pengurus yayasan makam Sunan Prawoto.

Tampak beragam kreativitas, ditampilkan oleh peserta kirab. Mulai dari busana ramah lingkungan, busana adat, drum band, seni barongan, Rog Ponorogo, hingga sejumlah sound horeg.

Ratusan pelajar dari tingkat TK, SD, hingga SMP juga ikut berbaris dalam rombongan kirab. Begitu pula dengan warga dari berbagai RT dan dukuh yang ada di Desa Prawoto. Setidaknya, ada 2 ribuan peserta yang mengikuti kirab budaya tersebut.

Kepala Desa Prawoto, Achmad Hyro Fachrus menyampaikan, kirab budaya itu digelar bertepatan Haul Sunan Prawoto.

Tradisi itu telah menjadi salah satu kalender kegiatan yang rutin digelar setiap tahunnya. Hyro menyebut, acara tersebut ikut diramaikan ribuan masyarakat. Selain itu banyak juga pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk ikut serta menikmati suguhan budaya dalam kirab tersebut.

Dia meyakini tradisi itu tak hanya mengangkat wisata religi yang saat ini sudah muncul, namun juga memperkuat saya tarik melalui sisi budaya.

“Pawai budaya ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata di desa Prawoto. Selain wisata religi desa ini juga kaya akan budaya,” ujarnya.

Dia juga bersyukur lewat tradisi itu dapat ikut meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Prawoto. Di antaranya kian larisnya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ikut menikmati keberkahannya.

“Kirab budaya ini memang sengaja dikemas untuk menjadi saya tarik baik warga lokal maupun luar daerah. Harapan selain ngalap berkah juga meningkatkan taraf perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Anggota DPRD Jateng M Ali Wafa menyebut kirab budaya itu tak sekadar digelar untuk pesta namun lebih pada mengenang sosok Sunan Prawoto. Terlebih sosok Sunan Prawoto memiliki peran penting.

“Sunan Prawoto selain seorang sultan juga putra Sultan Trenggono. Lebih dari itu beliau memiliki akhlak karimah serta sosok mendalami spiritual,” ungkapnya.

Pria yang karib disapa Gus Wafa mengajak generasi muda bisa meneruskan perjuangan dari Sosok Sunan Prawoto. Terutama dalam dakwah agama.

“Kirab budaya ini juga diharapkan tetap bisa lestari. Terutama dalam nguri uri adat ketimuran,” jelasnya.

Baca Juga: Pembangunan Gerai Kopdes di Pati Dikebut, Ratusan Desa Masih Cari Tempat

Seperti diketahui, dikutip dari berbagai sumber, Raden Bagus Hadi Mukmin adalah raja keempat Kesultanan Demak yang memerintah pada 1546 hingga 1549 atau sepeninggal Sultan Trenggono.

Dia dikenal sebagai sosok yang lebih suka hidup sebagai ulama ketimbang menjadi raja. Haul Sunan Prawoto diperingati setiap tanggal 17 Rajab. Adapun tahun ini merupakan seremoni peringatan haul yang ke-45.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pasca Geger Dancesport, Rapat DPRD–KONI Kudus Berlangsung Panas

0
Rapat koordinasi antara Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus, Senin (5/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Rapat koordinasi antara Komisi D DPRD bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus memanas.

Sejumlah perwakilan pendemo yang menuntut adanya reformasi kepengurusan dan pencopotan Ketua KONI Kudus ikut dalam rapat.

Baca Juga: Video Asusila Hebohkan Kudus, Begini Tanggapan RSUD Dr. Loekmono Hadi 

Rapat digelar di Aula Gedung DPRD Kudus, Senin (5/12/2025). Rapat itu dalam rangka koordinasi paska geger penampilan dancesport pada acara KONI Kudus Award di Pendopo Kudus beberapa hari lalu.

Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto menyampaikan, bahwa memanasnya rapat kordinasi dengan KONI merupakan hal biasa. Menurutnya hal tersebut bagian dari dinamika bagian dari demokrasi.

“Pada intinya, semua aspirasi akan kami akomodir. Baik yang dari Pengcab KONI maupun dari perwakilan pendemo,” ujar Mardijanto usai acara.

Dari rapat koordinasi ini, Mardijanto menilai bahwa kepengurusan KONI Kudus di bawah nahkoda ketua Sulistyanto tidak solid. Tadi ada usulan dari anggota Komisi D, ketika tidak solid anggaran jangan dicairkan.

“Usulan tersebut masuk akal. Jadi kepengurusan KONI harus solid. Karena ini termasuk anggaran yang cukup besar,” tandasnya.

Lebih lanjut, Mardijanto menuturkan, bahwa Komisi D DPRD akan turun untuk memeriksa manajemen KONI Kudus. Sehingga bisa sampai tidak solid.

“Kita akan lihat manajemen KONI Kudus ini. Kami ingin olahraga di Kudus ini berprestasi dan tak ada konflik. Apalagi sampai ada kasus korupsi seperti periode sebelumnya, kami.tidak ingin hal.itu terjadi,” sebutnya.

Sementara Ketua KONI Kudus, Sulistyanto mengucapkan terima kasih kepada Komisi D DPRD Kudus karena telah diberi kesempatan klarifikasi terkait penampilan Dancesport di acara KONI Kudus Award. Selain itu, ia juga meminta maaf atas kejadian tersebut sehingga bikin publik ramai.

“Ke depan tentu akan kami evaluasi. Serta kami juga akan menjalin komunikasi lebih baik lagi dengan stakeholder,” ujar Sulis.

Baca Juga: Viral Video Mesum Oknum Nakes yang Diduga di RSUD Kudus, Begini Respon Bupati

Terkait dorongan reformasi di tubuh KONI Kudus, Sulis menuturkan, bahws hal itu sah-sah saja. Tetapi tidak bisa serampangan, sebab di sebuah organisasi resmi itu ada aturan yakni Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

“Tuntutan reformasi silahkan saja. Tetapi, acuannya tetap AD/ART. Kalau keluar dari AD/ART, gak bisa,” tandasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dibuka Hingga Rabu Depan, Pemkab Jepara Lelang Puluhan Kendaraan Dinas 

0
Beberapa kendaraan yang akan dilelang Pemkab Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara membuka lelang untuk puluhan kendaraan dinas, baik roda dua maupun roda empat. 

Lelang itu dilakukan secara terbuka, dengan atau tanpa kehadiran peserta lelang secara online melalui alamat website www.lelang.go.id.

Baca Juga: Karimunjawa Jepara Bakal Diusulkan Jadi Lokasi Sekolah Unggul Terintegrasi Non Asrama 

Dalam pengumuman resminya, Pejabat Pejual Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Jepara, Yuni Astuti Rahayu menyebutkan total terdapat 36 unit kendaraan dinas yang dilelang. 

Terdiri dari 30 unit kendaraan roda dua berbagai merk, lima unit kendaraan roda empat, dan satu unit kapal. 

“Ada Yamaha RX King, Honda, Suzuki, Yamaha, Toyota Kijang, Mitsubishi, dan Speed Boat atau motor tempel,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2025).

Yuni memaparkan, penawaran lelang itu dibuka mulai Selasa, (30/12/2025) – Rabu, (7/1/2026) pukul 11:00 WIB.

Calon peserta lelang wajib menyetorkan uang jaminan lelang ke nomor Virtual Account (VA) masing-masing. 

“Jumlah atau nominal yang disetorkan harus sama dengan besaran uang jaminan yang diisyaratkan penjual dan disetor sekaligus (bukan dicicil) dan harus sudah efektif diterima oleh KPKNL selambat-lambatnya satu hari kalemder sebelum pelaksanaan lelang,” terangnya. 

Lelang kendaraan ini dilakukan karena kondisi kendaraan dinas sudah tidak layak pakai dan usia yang terlalu tua.

Kendaraan tertua yang dilelang kali yaitu kendaraan roda empat yang dikeluarkan tahun 1994 berjenis Toyota Kijang. 

Baca Juga: Bantuan Revitalisasi 103 Sekolah di Jepara Rampung 100 Persen 

Kendaraan yang dilelang ini dalam kondisi apa adanya dengan segala konsekuensi biaya tertunggak atas obyek lelang.

“Penjelasan lelang dan informasi lainnya dapat menghubungi kantor Bidang Akuntansi dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jepara Jalan Kartini No. 1 Jepara,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Resmi Dihapus, Pemkab Jepara Masih Tunggu Hasil Usulan 88 Guru Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu 

0
1.202 tenaga honorer di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dilantik menjadi PPPK. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Perekrutan Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) atau tenaga honorer baik berupa tenaga teknis maupun guru resmi dihapus mulai per 1 Januari 2026. 

Di Kabupaten Jepara, jumlah tenaga honorer yang kontraknya resmi tidak diperpanjang ada 155 orang. Terdiri dari 103 guru yang masuk kategori R5 dan 52 pegawai Non Database Badan Kepegawaian Negara (BKN) terdiri dari tenaga teknis dan guru. 

Baca Juga: Pembangunan Gerai Kopdes di Pati Dikebut, Ratusan Desa Masih Cari Tempat

Dari 103 orang yang masuk kategori R5, sebanyak 88 guru diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB) agar bisa diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. 

Sedangkan sisanya, 15 orang tidak bisa diusulkan karena masa kerjanya tidak memenuhi syarat untuk diusulkan sebagai PPPK Paruh Waktu. 

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar mengatakan terkait usulan itu, sampai saat ini pihaknya belum mendapat jawaban dan masih menunggu arahan dari kementrian terkait. 

“88 Guru (yang masuk kategori) R5 sudah kita usulkan ke KemenPAN RB untuk penempatan formasi. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” kata Ary saat ditemui di Depan Gedung Shima, Kompleks Kantor Bupati Jepara, Senin (5/1/2026). 

Lebih lanjut Ary mengatakan sesuai ketentuan dalam penataan ASN di lingkungan pemerintah, yang diprioritaskan sebenarnya hanya tenaga honorer yang masuk kategori R3 atau terdata dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN). 

Sedangkan untuk R4 atau tenaga honorer yang tidak terdaftar dalam database BKN dan R5 atau lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), sebenarnya tidak masuk prioritas penataan ASN. 

“Tapi kita atas arahan dari Pak Bupati berusaha untuk mengusulkan (tenaga R5) ke KemenPAN RB, hanya saja belum dijawab,” ujarnya.

Baca Juga: Merajut Kasih Natal, Umat Kristen-Katolik Pati Berbagi Kasih di Lumbungmas 

Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan sesuai arahan dan ketentuan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor : 800/32 tentang Penegasan Status Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) Pasca Pelaksanaan Pengadaan Calon ASN Tahun Anggaran 2024 di Lingkungan Pemkab Jepara, baik guru maupun tenaga teknis untuk saat ini sudah tidak diperbolehkan mengajar atau bekerja di instansi pemerintah. 

“Ngga boleh, kita sudah ada juga surat edaran ke sekolah-sekolah. Kalau boleh, gajinya nanti gimana? nanti kita malah menyalahi aturan,” kata Wiwit. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rp5 Miliar DD untuk 22 Desa di Pati Tidak Cair

0
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Pati, Tri Hariyama. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Dana Desa (DD) di 22 desa di Kabupaten Pati untuk tahun 2025 tidak bisa cair. Total DD untuk puluhan desa yang tidak cair tersebut jumlahnya mencapai sekitar Rp5 miliar.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Pati, Tri Hariyama menyampaikan, DD untuk 22 desa yang tidak cair ini merupakan pencairan termin kedua. Ia menyebut tidak cairnya dana desa tersebut karena kebijakan pemerintah pusat.

Baca Juga: Pembangunan Gerai Kopdes di Pati Dikebut, Ratusan Desa Masih Cari Tempat

“DD pencairan 2 termin. Yang termin pertama sudah cair semua se-Kabupaten Pati, termin kedua ada 22 desa. Sebetulnya tanpa pemberitahuan awal, tahu-tahu pencairan ada kebijakan dari pusat, sehingga 22 desa kurang lebih Rp5 miliar,” ujarnya.

Pihaknya mengaku tidak mengetahui secara persis alasan tidak cairnya DD tersebut. Namun, ia menyebut persoalan ini tak hanya dialami 22 desa desa di Bumi Mina Tani ini saja, melainkan juga terjadi di daerah lain.

“Setahu saya kebijakan fiskal. Mungkin yang tahu persis pusat. Tapi tidak hanya di Pati. Blora lebih banyak di banding Pati,” ucapnya.

Tri Hariyama menjelaskan, proses pencairan dana desa dilakukan dalam dua termin. Desa sebelumnya mengusulkan pencairan setelah memenuhi persyaratan.

“Hanya saja yang pengajuan awal sebelum September sudah clear semua. Termin kedua, bagi selain 22 desa kebetulan pengajuannya sebelum September. Termin 1 maupun termin 2,” sebutnya.

Baca Juga: Merajut Kasih Natal, Umat Kristen-Katolik Pati Berbagi Kasih di Lumbungmas

Dispermades pun tidak bisa berbuat banyak terkait tidak cairnya DD untuk 22 ini. Mengingat, pencairan DD merupakan ranah dari pemerintah pusat.

“Awalnya tidak ada tanda apa-apa. 22 desa otomatis bertanya ke sini semua. Tapi karena itu kebijakan pusat,  kita tidak bisa berbuat apa,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

63.493 Warga Kudus Masuk Kategori Sangat Miskin, Penghasilan Kurang Rp800 Ribu Sebulan

0
Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus, Putut Winarno. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 22.610 keluarga di Kabupaten Kudus masuk dalam desil 1 pada sistem pengelompokkan kesejahteraan masyarakat. Angka tersebut berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) 2025

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus, Putut Winarno, mengatakan, Desil 1 merupakan kondisi ekonomi paling bawah atau sangat miskin. Hingga pertengahan Desember 2025 terdapat 22.610 keluarga di Kota Kretek masuk kategori sangat miskin.

Baca Juga: TP PKK Kudus dan RS Mardi Rahayu Gelar Pelatihan Napos 

“Sementara untuk individu, terdapat 63.493 jiwa yang masuk desil 1 atau sangat miskin. Dinyatakan sangat miskin, karena warga tersebut mempunyai pendapatan di bawah Rp800 ribu sebulan per kapita,” ujar Winarno kepada Betanews.id di ruang kerjanya belum lama ini.

Sementara yang masuk desil 2, lanjut Winarno ada 25.262 keluarga atau 76.681 jiwa. Desil 2 ini merupakan kategori rumah tangga miskin.

“Mereka masuk kategori miskin karena memiliki pendapatan antara Rp 800 ribu sampai Rp1,2 juta sebulan per kapita,” bebernya.

Untuk desil 3 yakni keluarga dengan kategori hampir miskin ada 24.802 keluarga atau 74.794 jiwa. Kategori hampir miskin adalah mereka yang mempunyai penghasilan antara Rp1,2 juta sebulan per kapita.

“Sedangkan desil 4 itu kategori keluarga rentan miskin. Jumlahnya ada 23.626 keluarga atau 72.421 jiwa. Kategori rentan miskin, karena penghasilan mereka antara Rp1,8 juta hingga Rp2,5 juta sebulan per kapita,” jelasnya.

Winarno mengungkapkan, bahwa selama ini sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna pengentasan kemiskinan. Di antaranya adalah bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Tahun 2025 lalu kurang lebih ada 25 ribu keluarga yang menerima bantuan dari pemerintah pusat tersebut melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Ada juga bantuan sembako, serta beberapa kali ada bantuan langsung tunai (BLT),” tuturnya.

Baca Juga: 141 Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi dari Pusat

Pihaknya saat ini sedang gencar melakukan pemutakhiran data. Tujuannya agar data bisa valid, dan upaya pengentasan kemiskinan dapar tepat sasaran.

“Masyarakat Kudus juga bisa ikut aktif berperan dalam pemutakhiran data bantuan sosial. Warga dapat mengajukan usulan maupun sanggahan melalui aplikasi CekBansos milik Kementerian Sosial,” imbaunya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Resmi Dihapus, Kontrak Kerja 155 Tenaga Honorer di Jepara Tak Diperpanjang 

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara resmi melantik 1.813 tenaga honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) resmi tidak memperpanjang atau melanjutkan kontrak bagi ratusan tenaga honorer, baik tenaga guru maupun tenaga teknis. 

Ketentuan itu tertulis dalam Surat Edaran (SE) Nomor : 800/32 tentang Penegasan Status Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (ASN) Pasca Pelaksanaan Pengadaan Calon ASN Tahun Anggaran 2024 di Lingkungan Pemkab Jepara. 

Baca Juga: Karimunjawa Jepara Bakal Diusulkan Jadi Lokasi Sekolah Unggul Terintegrasi Non Asrama

Kebijakan itu merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN dan SE Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor:B/5993/M/SM/01.00/2024 tentang Penganggaran Gaji Bagi Pegawai Honorer/Non ASN Tahun 2025. 

Dalam SE itu tertulis bahwa kepala perangkat daerah dan pejabat lain dilarang mengangkat dan atau menggantikan pegawai non-PNS dan atau non-PPPK untuk mengisi jabatan ASN atau Tenaga Non ASN yang tidak terisi karena pegawai non-PNS dan atau non-PPPK tidak diterima menjadi ASN/Pensiun/Mengundurkan diri atau sebab lainnya. 

Kepala Sekolah juga dilarang merekrut tenaga Non ASN/Guru tidak tetap atau guru tamu atau guru bantu karena proses pengadaan pegawai hanya dapat dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan melalui mekanisme rekrutmen yang ditetapkan oleh pemerintah. 

Berdasarkan Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB) Nomor B/185/M.SM.02.03/2022, dalam hal instansi pemerintah membutuhkan tenaga lain dapat dilakukan melalui tenaga alih daya (Outsourching) oleh pihak ketiga. Namun tenaga yang diperbolehkan hanya pengemudi, tenaga kebersihan, dan satuan pengamanan (Satpam). 

Plt Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Kabupaten Jepara, Florentina Budi Kurniawati menyebutkan tenaga honorer yang kontraknya tidak bisa dilanjut terdiri dari 103 orang R5 (Guru) dan 52 orang Non Database Badan Kepegawaian Negara (BKN) terdiri dari tenaga teknis dan guru. 

“Iya (Per 1 Januari 2026 103 R5 dan 52 tenaga teknis dan guru Non Database BKN) tidak bisa dilanjutkan atau diperpanjang,” kata Florentina saat dikonfirmasi melalui Pesan WhatsApp pada Senin, (5/1/2026). 

Untuk kekurangan tenaga ASN, Florentina melanjutkan akan diisi melalui mekanisme pengadaan CASN dari pusat dengan ketentuan masih ada kebutuhan dan kekuatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam hal penggajiannya.

Baca Juga: Bantuan Revitalisasi 103 Sekolah di Jepara Rampung 100 Persen 

Hanya saja, sampai saat ini ia mengatakan belum terdapat arahan resmi dari pemerintah pusat apakah di tahun 2026 ini akan dibuka seleksi CPNS atau tidak. 

“Sampai kami konsultasi kemarin, belum ada keputusan karena masih fokus penataan pegawai yang diterima baik CPNS, PPPK dan PPPK Paruh Waktu,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -