31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Kurangi Pengangguran, Pelatihan Napos di RSMR Kudus Bekali Warga Siap Kerja dengan Upah Minimal Sesuai UMK

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit (RS) Mardi Rahayu Kudus mengadakan program pelatihan tenaga pendamping orang sakit atau nurse assistant profesional (napos). Program ini menjadi salah satu layanan unggulan rumah sakit dan telah berhasil mencetak puluhan tenaga kerja yang terserap di dunia kerja.

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, mengatakan para peserta yang telah lulus pelatihan dinyatakan siap bekerja sebagai napos. Terlebih pihaknya memastikan mitra itu bisa mendapatkan upah minimal sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Baca Juga: TP PKK Kudus dan RS Mardi Rahayu Gelar Pelatihan Napos

-Advertisement-

“Dari hasil pelatihan yang kami lakukan, sejak angkatan pertama sampai keempat kalinya, 100 persen sudah terserap sebagai tenaga kerja, baik di Kudus maupun hingga luar kota Kudus,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan data RS Mardi Rahayu, dalam kurun tiga hingga empat tahun terakhir, sedikitnya sudah ada sekitar 30 peserta yang mengikuti pelatihan napos dan seluruhnya telah bekerja.

“Nanti setelah pelatihan mereka akan mendapatkan sertifikat bahwa sudah mengikuti pelatihan dan siap bekerja sebagai tenaga pendamping orang sakit,” jelasnya.

Program pelatihan napos ini awalnya disiapkan untuk mendukung layanan unggulan RS Mardi Rahayu, yakni Pusat Layanan Stroke Terintegrasi. Menurut Pujianto, rumah sakit memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari pasien atau Activity Daily Living (ADL), sehingga keberadaan napos sangat dibutuhkan.

“Utamanya kami siapkan untuk pasien stroke yang menjalani perawatan di RS Mardi Rahayu. Karena rumah sakit tidak bisa melakukan ADL pasien secara penuh, maka dibantu dengan adanya napos,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, cakupan layanan napos pun semakin berkembang. Tidak hanya mendampingi pasien stroke, napos juga melayani perawatan pasien bayi, perawatan luka, diabetes, alih baring, hingga berbagai kebutuhan perawatan lainnya yang dibutuhkan oleh pasien usai melakukan perawatan di rumah sakit.

Bahkan, peserta pelatihan tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari keluarga pasien. Hal ini karena banyak keluarga pasien yang belum memiliki pengalaman dalam merawat anggota keluarganya yang sakit.

Penyaluran tenaga napos dilakukan melalui layanan homecare RS Mardi Rahayu. Meski pelatihan diberikan secara gratis, dr. Pujianto menyebut jika dihitung secara biaya, nilai pelatihan tersebut bisa mencapai sekitar Rp3 juta per orang.

“Peserta harus menandatangani kontrak kerja sama sebelum pelatihan. Ini untuk menjamin mutu layanan. Kalau di lapangan ada yang tidak baik, bisa dilaporkan dan akan kami coret,” tegasnya.

RS Mardi Rahayu juga memastikan seluruh napos yang bekerja mendapatkan upah sesuai UMK. Pihaknya menegaskan, tidak ingin tenaga napos yang telah dilatih dibayar di bawah standar.

“Kami ingin menjamin mereka mendapatkan upah UMK. Kami tidak ingin mereka dibayar di bawah UMK,” imbuhnya.

Baca Juga: Viral Video Mesum Oknum Nakes yang Diduga di RSUD Kudus, Begini Respon Bupati

Meski kebutuhan napos cukup tinggi, dr. Pujianto mengakui tidak mudah mencari peserta yang benar-benar berminat bekerja di bidang ini. Oleh karena itu, RS Mardi Rahayu menjalin kerja sama dengan Tim Penggerak PKK untuk menjaring calon peserta pelatihan.

“Pasien yang pulang setiap hari selalu ada, tapi memang tidak semua orang berminat menjadi napos. Karena itu kami bekerja sama dengan TP PKK,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER