Beranda blog Halaman 94

Video Asusila Hebohkan Kudus, Begini Tanggapan RSUD Dr. Loekmono Hadi 

0
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi, dr. Abdul Hakam menanggapi video viral yang sudah tersebar di media sosial. Diduga video asusila itu melibatkan karyawan di sana dilakukan di salah satu ruangan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tersebut.

Ia menjelaskan, bahwa video yang diunggah tersebut merupakan video lama yang telah direkam sebelum Oktober 2020 silam dan baru-baru ini diposting ke media sosial. Hanya saja, dalam postingan yang diunggah oleh oknum tak bertanggung jawab itu tidak menyertakan kapan kejadian itu dilakukan.

Baca Juga: TP PKK Kudus dan RS Mardi Rahayu Gelar Pelatihan Napos 

Pihaknya mengaku bahwa kedua oknum yang terekam CCTV itu keduanya merupakan pegawai RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Saat ini pihaknya telah memeriksa beberapa orang terkait viralnya video yang dianggap mengganggu pelayanan dan citra rumah sakit. Ia menyebut, aksi asusila tersebut dilakukan di ruangan Rumah Tangga samping ruang Pemulasaran Jenazah RSUD Kudus.

Saat aksi itu dibuat, kedua oknum itu merupakan karyawaan di bagian yang sama. Namun saat ini keduanya ditugaskan di bagian yang berbeda.

“Perlu kami sampaikan, bahwa video itu direkam di tahun 2020, sebelum Oktober. Tapi kami dalam menajemen ini kami tetap bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Hari ini kami lakukan pemeriksaan terhadap lima orang, meliputi, orang di unit ruang Rumah Tangga, satpam, mantan satpam, dan salah satu oknum dalam aksi tersebut,” jelasnya saat jumpa pers di Ruang Bima Lantai 2 RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, Senin (5/1/2026).

Ia menyampaikan, bahwa sebelumnya memang sudah tersebar isu adanya video tersebut. Hanya saja, karena kabar burung dan tidak ada bukti yang kuat, sehingga ia belum bisa memastikan kebenarannya.

Ia merasa viralnya video yang menyeret pegawainya itu menjadi citra buruk dan bisa mengganggu pelayanan rumah sakit. Tidak seharusnya rumah sakit menjadi tempat tindak asusila yang dilakukan oleh pegawai. Untuk itu pihaknya kini telah membebas tugaskan oknum dalam aksi tersebut.

“Kedua oknum yang ada dalam video itu kami bebastugaskan sampai ada keputusan dari pemeriksaan yang kami lakukan. Terlebih agar tidak menggangu pelayanan bagi warga yang berobat di sini,” terangnya.

Baca Juga: 141 Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi dari Pusat

Untuk penyebar video asusila, pihaknya mengaku masih mendalami dan menelusuri kasus tersebut. Jika terbukti ada indikasi orang dalam, baik sengaja maupun tidak sengaja mengirim video yang dapat meresahkan masyarakat tersebut, pihaknya akan menindak tegas.

“Saat ini kami masih melakukan penyelidikn dan penelusuran. Kalau terbukti, akan kami berhentikan sebagai pegawai di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kedisiplinan Karyawan sebagai Fondasi Kinerja Organisasi, Tinjauan Psikologi dan Regulasi Ketenagakerjaan

0
Suasana di pabrik Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

Shofiatu Qothrun Nada, Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus

Seiring dengan meningkatnya tuntutan profesionalisme dalam dunia kerja, kedisiplinan karyawan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga efektivitas dan keberlangsungan organisasi. Kedisiplinan tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap jam kerja, tetapi juga mencakup tanggung jawab dalam menjalankan tugas, konsistensi terhadap prosedur, serta komitmen dalam mendukung tujuan organisasi. Artikel ini membahas isu kedisiplinan karyawan ditinjau dari perspektif psikologi serta regulasi ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Isu Kedisiplinan Karyawan

Kedisiplinan karyawan merupakan bagian integral dari budaya kerja organisasi. Dalam praktiknya, disiplin kerja berperan sebagai pedoman perilaku yang membantu menciptakan keteraturan dan kelancaran proses kerja. Isu kedisiplinan sering kali dikaitkan dengan beberapa aspek utama, antara lain:

  • Kepatuhan terhadap aturan kerja, seperti jam masuk, jam istirahat, dan penyelesaian tugas sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
  • Konsistensi dalam pelaksanaan tanggung jawab, di mana karyawan diharapkan mampu menjalankan peran dan tugasnya secara berkelanjutan sesuai standar kerja.
  • Sikap profesional dalam lingkungan kerja, termasuk etika kerja, kerja sama tim, serta komitmen terhadap kualitas hasil kerja.

Isu kedisiplinan perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika organisasi yang terus berkembang, seiring dengan perubahan sistem kerja dan tuntutan kinerja yang semakin kompleks.

Perspektif Psikologi terhadap Kedisiplinan Karyawan

Dari sudut pandang psikologi kerja, kedisiplinan karyawan berkaitan erat dengan motivasi, sikap kerja, dan persepsi terhadap lingkungan organisasi. Menurut teori penguatan (reinforcement theory) dari Skinner, perilaku disiplin dapat terbentuk dan dipertahankan melalui sistem penghargaan dan konsekuensi yang diterapkan secara konsisten. Lingkungan kerja yang memberikan apresiasi terhadap perilaku positif cenderung mendorong karyawan untuk menjaga kedisiplinan.

Selain itu, teori motivasi kerja Herzberg menekankan bahwa faktor-faktor seperti pengakuan, tanggung jawab, dan kondisi kerja yang mendukung dapat memengaruhi sikap disiplin karyawan. Karyawan yang merasa dihargai dan dilibatkan dalam organisasi cenderung menunjukkan komitmen kerja yang lebih baik.

Kedisiplinan juga berhubungan dengan kontrol diri dan regulasi emosi. Dalam konteks ini, karyawan yang mampu mengelola tuntutan kerja secara adaptif akan lebih mudah mempertahankan perilaku kerja yang tertib dan profesional.

Kedisiplinan Karyawan dalam Kerangka Regulasi Ketenagakerjaan

Di Indonesia, aspek kedisiplinan karyawan tidak terlepas dari kerangka hukum ketenagakerjaan, khususnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang-undang ini mengatur hak dan kewajiban pekerja serta pemberi kerja, termasuk ketentuan mengenai tata tertib kerja dan sanksi yang proporsional.

Beberapa ketentuan yang relevan dengan kedisiplinan karyawan antara lain:

  • Kewajiban pekerja, yaitu melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian kerja dan menaati peraturan perusahaan.
  • Hak pekerja, termasuk perlakuan yang adil dan kesempatan untuk bekerja dalam lingkungan yang kondusif.
  • Pengaturan tata tertib dan sanksi, yang bertujuan menjaga ketertiban kerja tanpa mengabaikan prinsip keadilan dan perlindungan pekerja.
    Dengan demikian, regulasi ketenagakerjaan berfungsi sebagai pedoman dalam menciptakan keseimbangan antara kepentingan organisasi dan kesejahteraan karyawan.

Upaya Penguatan Kedisiplinan Karyawan

Penguatan kedisiplinan karyawan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pendekatan psikologis, melalui pembinaan, pelatihan motivasi kerja, serta penguatan kesadaran akan tanggung jawab profesional.
  • Pengembangan sistem kerja yang jelas, termasuk kejelasan tugas, prosedur, dan standar kinerja.
  • Penerapan komunikasi organisasi yang efektif, agar setiap kebijakan dan aturan kerja dapat dipahami dengan baik oleh seluruh karyawan.
  • Evaluasi dan pembinaan berkelanjutan, sebagai upaya menjaga konsistensi disiplin tanpa pendekatan yang bersifat represif.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu membangun kedisiplinan sebagai bagian dari budaya kerja positif, bukan sekadar kewajiban formal.

Kedisiplinan karyawan pada akhirnya merupakan tanggung jawab bersama antara organisasi dan individu. Dengan dukungan sistem kerja yang adil, pendekatan psikologis yang humanis, serta regulasi yang jelas, kedisiplinan dapat menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kinerja dan profesionalisme organisasi secara berkelanjutan.

- advertisement -

Viral Video Mesum Oknum Nakes yang Diduga di RSUD Kudus, Begini Respon Bupati

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris angkat suara terkait adanya video viral perilaku mesum tenaga kesehatan yang diduga dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi. Sam’ani tegas meminta untuk dilakukan pemeriksaan.

Orang nomor satu di Kabupaten Kudus, mengaku prihatin adanya kejadian tersebut dan viral di media sosial. Ia pun memerintahkan kepada pihak Inspektorat dan Direktur RSUD Loekmono Hadi untuk melakukan pemeriksaan secara mendalam.

Baca Juga: 141 Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi dari Pusat

“Saya sudah perintahkan Inspektorat dan Direktur RSUD Loekmono Hadi untuk melakukan pemeriksaan,” tegas Bupati Sam’ani kepada awak media di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Senin (5/1/2025).

Meski begitu, kata dia, pemeriksaan tentunya mengacu pada peraturan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Termasuk nanti adanya klarifikasi terduga oknum yang ada di dalam video.

“Dalam pemeriksaan tentu ada hak jawab dari yang bersangkutan (orang dalam video). Termasuk juga pasti ada kemungkinan penyangkalan-penyangkalan,” bebernya.

Namun, lanjutnya, dalam pemeriksaan tentu bakal ada pembuktian-pembuktian. Jika hasil pemeriksaan nanti terbukti, tentu baka ada sanksi.

“Jika nanti terbukti tentu bakal ada sanksi untuk yang bersangkuran. Baik sanksi sesuai peraturan ASN, maupun BLUD,” tegasnya.

Sebelumnya, Jagat media sosial di Kabupaten Kudus kembali ramai diperbincangkan menyusul beredarnya sebuah video bernuansa asusila yang dikaitkan dengan oknum pegawai RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Tayangan tersebut menyedot perhatian publik lantaran menyeret nama institusi pelayanan kesehatan milik pemerintah daerah.

Video yang beredar luas itu berdurasi kurang lebih 50 detik dan pertama kali diunggah oleh akun media sosial bernama @ketutdewi_99. Dalam rekaman tersebut, tampak seorang pria dan seorang perempuan berada di dalam sebuah ruangan tertutup, memperlihatkan adegan berpelukan hingga berciuman.

Baca Juga: Hampir 300 Ribu Warga Kudus Masuk Kelompok Miskin dan Rentan Miskin

Unggahan video tersebut disertai narasi bernada keras yang mengecam dugaan tindakan tidak pantas di lingkungan rumah sakit. Dalam keterangannya, pemilik akun menyoroti aspek moral dan etika, serta menyayangkan apabila perilaku tersebut benar terjadi di fasilitas publik yang seharusnya mengedepankan profesionalisme dan empati terhadap pasien.

Berdasarkan pantauan, video itu telah ditonton sekitar 9 ribu kali dan dibagikan puluhan kali oleh warganet. Namun, kolom komentar pada unggahan tersebut diketahui dalam kondisi dinonaktifkan oleh pengunggah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pembangunan Gerai Kopdes di Pati Dikebut, Ratusan Desa Masih Cari Tempat

0
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop UMKM) Kabupaten Pati, Siti Subiati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Pati terus dikebut. Hingga akhir November 2025 lalu, ratusan titik telah masuk dalam sistem, dengan sebagian besar di antaranya sudah memasuki tahap pembangunan gerai.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop UMKM) Kabupaten Pati, Siti Subiati mengungkapkan, bahwa per 30 November 2025 tercatat 244 titik Kopdes Merah Putih telah terdaftar dalam portal pembangunan gerai. Dari jumlah tersebut, 175 Kopdes saat ini tengah berproses membangun gerai.

Baca Juga: Merajut Kasih Natal, Umat Kristen-Katolik Pati Berbagi Kasih di Lumbungmas

“Data per 30 November kemarin itu sudah 244 titik masuk dalam portal pendaftaran pembangunan gerai merah putih. Kemudian sekitar 175 berproses pembangunannya,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, percepatan pembangunan Kopdes Merah Putih merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 Tahun 2025. Kebijakan tersebut menekankan percepatan pembangunan gerai maupun gedung Koperasi Merah Putih di seluruh daerah.

“Untuk pembangunan Gerai Merah Putih sesuai Inpres 17 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan gerai maupun gedung Koperasi Merah Putih itu, kan yang diberi tugas oleh Bapak Presiden adalah PT Agrinas Pangan Nusantara untuk di daerah bekerjasama dengan Kodim (Komando Distrik Militer),” ungkapnya.

Meski demikian, Atik mengakui masih terdapat sejumlah desa yang belum menetapkan lokasi pembangunan gerai. Saat ini, desa-desa tersebut masih dalam tahap pencarian titik yang dinilai paling tepat dan aman untuk pembangunan.

“Yang sisanya di luar 244 itu masih berproses mencari titik tempat untuk gerai merah putih. Berproses mencari titik itu dikawal oleh teman-teman pemerintah desa untuk Musdes,” ungkapnya.

Baca Juga: Harga MinyaKita Melejit, Pemerintah Diminta Buka Nomor Layanan Aduan

Ia menambahkan, pemerintah desa diwajibkan menggelar Musyawarah Desa (Musdes) terlebih dahulu guna meminimalisir potensi konflik di kemudian hari. Selain itu, pendamping Kopdes Merah Putih juga diminta aktif mengingatkan pemerintah desa agar segera memulai pembangunan apabila lahan dan perizinan telah rampung.

“Kami sampaikan kepada teman-teman melalui pendamping koperasi yang ditunjuk oleh Kementerian Koperasi yang kebetulan harus dikoordinasikan dengan dinas kami. Silahkan dilakukan pembangunan terhadap lahan yang sudah siap bangun, yang masih dalam proses perizinan kita tunggu dulu,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

TP PKK Kudus dan RS Mardi Rahayu Gelar Pelatihan Napos 

0
Pelatihan tenaga pendamping orang sakit (Napos) yang digelar oleh RS Mardi Rahayu. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pelatihan tenaga pendamping orang sakit (Napos) kembali digelar oleh RS Mardi Rahayu. Pelaksanaan pelatihan tersebut bekerjasama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kudus yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, utamanya pendapatan bagi peserta.

Tercatat, pelatihan yang digelar oleh RS Mardi Rahayu itu sudah kali kelima dan diadakan tanpa dipungut biaya. Tentu hal itu sangat membantu bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan, serta dapat meningkatkan penghasilan bagi mereka. 

Baca Juga: 141 Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi dari Pusat

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto mengatakan, ada sebanyak 15 orang yang mengikuti pelatihan, baik pria maupun wanita dengan usia mulai 20-50 tahun. Pelatihan itu diperuntukan bagi masyarakat Kudus dengan pendidikan minimal lulusan SMP sederajat serta lolos persyaratan administrasi dan pemeriksaan fisik. 

Menurutnya, pelatihan Napos tersebut diselenggarakan secara intensif selama satu bulan penuh, terhitung mulai 5 Januari 2026. Mereka akan mendapatkan materi, baik secara teori maupun praktek 

“Dengan pelatihan Napos ini diharapkan berhasil mencetak tenaga yang siap kerja dan mampu melaksanakan pemeriksaan tanda-tanda vital kehidupan. Meliputi, pemberian asupan makanan, minuman, obat termasuk dengan selang (sonde),” katanya saat jumpa pers, Senin (5/1/2026).

Kemudian, lanjutnya, mereka dapat melakukan perawatan luka sederhana, pembersihan berkala saluran nafas dengan alat bantu, memandikan, mencuci pakaian terkontiminasi, mengangkat, memobilisasi dan alih barang dengan benar, serta lain sebagainya dengan memperhatikan etika dan sopan santun,” ungkapnya.

Ia menuturkan, selain peserta mendapatkan ilmu tanpa mengeluarkan biaya, peserta juga dapat mendapatkan keuntungan lainnya, seperti uang saku Rp30 ribu perhari selama pelatihan berlangsung, kepesertaan BPJS Kesehatan, kepesertaan BP Jamsostek, rekomendasi dan penyaluran kerja dalam naungan pelayanan home care RS Mardi Rahayu. 

“Ini salah satu upaya pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan Napos serta membantu keluarga pasien yang membutuhkan tenaga pendamping orang sakit. Peserta pelatihan ini akan siap bekerja mulai Februari 2026. Apabila ada yang membutuhkan layanan dapat menghubungi tim Homecare RS MArdi Rahayu di nomor 088806500777,” jelasnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani, menjelaskan, bahwa kegiatan itu merupakan salah satu program PKK Kudus di Pokja 4. Sebelumnya, pihaknya telah merencanakan program itu di tahun 2025 lalu, namun karena kesulitan mendapat peserta, sehingga realisasinya berlangsung di tahun ini.

“Harapannya, pelatihan ini inputnya dapat menjadi tambahan penghasilan para peserta. Ini dibantu RS Mardi Rahayu, karena memang kami telah bekerjasama untuk bisa membantu mensejahterakan keluarga para kader PKK Kabupaten Kudus,” terangnya.   

Ia menyampaikan, para peserta yang terlibat dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus. Ketika sudah lulus, peserta pelatihan Napos ini dapat memberikan bantuan untuk mereka yang membutuhkan pertolongan pasca perawatan di rumah sakit.

“Karena usai pulang dari rumah sakit, mereka sangat membutuhkan sekali adanya tenaga pendamping orang sakit. Antusias mereka sebenarnya tinggi, tapi memang harus mengikuti full satu bulan untuk mengikuti pelatihan ini,” ujarnya.

Baca Juga: Hampir 300 Ribu Warga Kudus Masuk Kelompok Miskin dan Rentan Miskin

Sementara itu, salah satu peserta Zumaroh (46) senang bisa mengikuti pelatihan tersebut. Warga SIdorekdo itu mengaku dari kecil sudah bercita-cita untuk menjadi perawat. Akhirnya, keinginan itu bisa tersampaikan melalui pelatihan Napos yang digelar itu.

“Bisa mendapat ilmu, kemudian diupdate dan mungkin dapat bermanfaat bagi orang lainserta bernmanfaat bagi keluarga saya dengan tambahan penghasilan. Sebelumnya tidak mempunyai pengalaman, tapi di kader posyandu saya sedikit-sedikit mengetahui tentang kesehatan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Merajut Kasih Natal, Umat Kristen-Katolik Pati Berbagi Kasih di Lumbungmas

0
Badan Kerjasama Kristen Katolik Kabupaten Pati (BKKKKP) bersama Rumah Sakit Budi Agung Juwana menebarkan kasih Natal dengan menggelar bakti sosial (baksos) di Desa Lumbungmas, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Sabtu (3/12/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Badan Kerjasama Kristen Katolik Kabupaten Pati (BKKKKP) bersama Rumah Sakit Budi Agung Juwana menebarkan kasih Natal dengan menggelar bakti sosial (baksos) di Desa Lumbungmas, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Sabtu (3/12/2026). Aksi ini menyentuh masyarakat lintas agama yang berada di sekitar gereja.

Sejak pagi, seratusan masyarakat sekitar berbondong-bondong mendatangi Gereja Isa Almasih (GIA) Lumbungmas untuk mendapatkan berbagai layanan gratis. Ada yang mengecek kesehatan, mengecek mata, pijat, potong rambut, hingga makan bergizi.

Baca Juga: Harga MinyaKita Melejit, Pemerintah Diminta Buka Nomor Layanan Aduan

Ketua Panitia Baksos, Pendeta Agus P Telaumbanua, menjelaskan, menurut Tuhan, yang mendasari kegiatan baksos ini adalah semangat Natal. Bahwa Natal tidak boleh hanya dinikmati oleh orang-orang yang percaya saja, tapi juga harus berbagi kepada sesama.

“Sehingga, suasana sukacita Natal yang dinikmati dengan berbagi itu bisa dirasakan oleh semua orang, semua kalangan,” katanya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat sekitar sangat bagus untuk mengikuti baksos ini. Mereka tanpa sekat berbaur untuk menunjukkan semangat toleransi beragama.

“Bisa disaksikan sendiri begitu tingginya antusiasme masyarakat, khususnya di GIA Lumbungmas Pucakwangi ini. Dan ini semua anugerah Tuhan bagi kita semua,” ujar Pendeta Agus.

Tak hanya itu, lanjut dia, baksos ini jadi bukti bahwa gereja harus bisa hadir untuk menjadi jawaban dalam melakukan kebaikan bagi banyak orang di sekelilingnya.

“Ini yang harus kita taburkan bahwa, ayo berbagi sebagai tanda bahwa Allah itu hadir untuk menyelamatkan,” katanya.

Baca Juga: Harga MinyaKita di Pati Masih Melejit, Pasokan juga Sulit

Dokter RS Budi Agung, Riza Lutfi, menambahkan, dalam baksos itu, pihaknya melayani 150an warga sekitar. Mereka mendapatkan pemeriksaan kesehatan, laboratorium, pemeriksaan mata, sampai pemberian obat. Semua itu didapatkan warga secara gratis.

“Acara pada pagi hari ini berjalan dengan lancar dan khidmat. Harapan kami, semoga acara ini dapat berjalan setiap tahun dan dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat sekitar,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

141 Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi dari Pusat

0
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Foto: Khoirul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – 16.175 satuan pendidikan di seluruh Indonesia mendapatkan program bantuan revitalisasi sekolah dengan total anggaran sebesar Rp16,9 miliar di tahun 2025. 

Terkhusus di Kabupaten Kudus, sebanyak 141 satuan pendidikan mulai jenjang Paud, SD, SLB, SMP, hingga SMA mendapatkan bantuan tersebut dengan nilai anggaran Rp94,2 miliar. Dari total 141 sekolah itu, rinciannya Paud ada sebanyak 9 sekolah, SD ada 71 sekolah, SMP ada 50 sekolah, SMA ada 6 sekolah, SMK ada 4 sekolah, dan SLB ada satu sekolah. 

Baca Juga: Hampir 300 Ribu Warga Kudus Masuk Kelompok Miskin dan Rentan Miskin

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Abdul Mu’ti saat meresmikan revitalisasi gedung di SD 1 Muhamadiyah Kudus, Jumat (2/1/2025) sore. Menurutnya, bantuan revitalisasi sekolah tersebut untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang bermutu. 

“Ini termasuk bagian program dari pemerintah, utamanya Kemendikdasmen untuk mewujudkan mutu pendidikan di Indonesia yang jauh lebih baik. Melalui sarana dan prasarana yang memadai, serta fasilitas yang lengkap peserta didik akan lebih bersemangat dalam belajar,” bebernya. 

Revitalisasi gedung satuan pendidikan, katanya, bagian dari usaha pemerintah untuk tidak terlepas atau kehilangan identitas, nilai, tradisi, dan kearifan lokal yang menjadi fondasi jati diri Negara Indonesia. Pihaknya berkomitmen merawat tradisi, serta berpegang teguh dalam tiga pilar Badan Bahasa Indonesia, dengan slogannya Trigatra Bangun Bahasa.

“Revitalisasi ini bagian dari usaha kita bersama, agar dapat lebih baik lagi. Terlebih supaya kita tidak tercerabut dari akar budaya,” ungkapnya.

Baca Juga: Panen Raya Duku Sumber Kudus, Punya Cita Rasa Manis dan Segar

Abdul Mu’ti mengatakan, anak perlu bangkit dan semangat dalam belajar. Berasal dari manapun mereka harus bisa menjadi hebat melalui pendidikan yang bermutu, sesuai dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi Indonesia berkualitas.

Untuk itu, pihaknya menuturkan, bahwa program itu akan terus dilanjutkan di tahun 2026. Setidaknya, sebanyak 71 ribu satuan pendidikan menjadi target revitalisasi di tahun ini. “Semoga saja sekolah di Kudus salah satunya yang mendapatkan bantuan revitalisasi sekolah di tahun ini,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Es Teler Sandi Karangbener Kudus, Cuma Rp5.000 dan Siap COD

0
Es Teler yang berlokasi di Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Foto: Nania Rizka Apriliyani

BETANEWS.ID, KUDUS – Di bawah terik matahari siang, seorang pria berbaju hitam sabar menanti pembeli di sebuah lapak sederhana. Ia adalah Sandi (34), pemilik usaha Es Teler yang berlokasi di Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. 

Sandi menuturkan, usaha es teler tersebut baru ia jalani sejak bulan Ramadhan lalu. Meski tergolong baru, ia mengaku sudah mulai punya pelanggan.

Baca Juga: Punya Lima Varian Rasa, Bikang Cungkel Ambar Jadi Favorit di Kudus

Ia juga menjelaskan, bahwa dunia jualan bukanlah hal baru baginya. Sekitar lima tahun sebelumnya, ia sempat berjualan berbagai minuman seperti es oplos, es dawet, hingga es anggur.

“Kalau jualan memang sudah lama, tapi kalau es teler baru mulai dari puasa kemarin,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menu yang ditawarkan cukup beragam. Selain es teh yang dibanderol Rp3.000 per gelas, Sandi menyediakan es teler dalam tiga ukuran, yakni cup kecil seharga Rp5.000, cup sedang Rp8.000, dan cup besar Rp10.000. Dari ketiga pilihan tersebut, es teler ukuran kecil menjadi menu paling diminati pembeli.

“Dari semua ukuran, yang paling laku itu es teler harga Rp5.000,” katanya.

Soal isian, Sandi tak setengah-setengah. Setiap cup es teler diisi potongan nangka, alpukat, cincau, biji selasih, mutiara, serta bahan pelengkap lain yang menghadirkan rasa segar dan manis alami.

“Semua sudah full topping. Porsinya saja yang berbeda,” bebernya.

Dalam kesehariannya, Sandi membuka lapak es teler mulai pukul 09.00 WIB hingga menjelang Magrib. Sementara untuk penjualan es teh, ia masih melayani pembeli hingga tengah malam.

Baca Juga: Serunya Kulineran Sambil Belajar Membatik di Omah Sate Pak Taman Pati

Saat ini, Sandi melayani pembelian secara langsung di tempat maupun melalui pemesanan WhatsApp dengan sistem antar pribadi atau COD. Ia mengaku belum memanfaatkan platform daring atau aplikasi pesan antar untuk memasarkan produknya.

“Kalau pelanggan saya dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa juga banyak,” tambahnya.

Penulis: Nania Rizka Apriliyani, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Menikmati King of Fruit di Pondok Durian Bu Yati, Gak Enak Langsung Diganti

0
Menikmati durian di Pondok Durian Bu Yati. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah warung penjualan durian yang berada di Dukuh Pelang, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus diserbu pembeli. Pembeli yang berdatangan silih berganti tanpa henti hingga tempat duduk yang disediakan penuh terisi.

Walaupun cuaca tampak gerimis, antusias pembeli di Pondok Durian Bu Yati tersebut tinggi. Tempat yang dikenal dengan menawarkan garansi bisa ditukar ketika durian terasa kurang itu menjadi jujugan bagi pecinta durian. Tak hanya dari Kudus, pembeli luar kota bahkan sengaja datang ke tempat tersebut untuk menikmati durian yang disediakan.

Baca Juga: Punya Lima Varian Rasa, Bikang Cungkel Ambar Jadi Favorit di Kudus

Pemilik warung, Maryati menyampaikan, berlokasi di Jalan Bareng-Colo dia menyediakan beragam rasa durian dari jenis durian lokal yang ada. Mulai rasa pahit manis, manis saja, dan pahit saja tersedia di sana. Apalagi dengan penawaran garansi yang ditawarkan cukup membuat pembeli tanpa ragu berlangganan di sana. 

“Kalau rasanya gak enak, bisa diganti atau kami berikan garansi untuk ditukar dengan yang baru. Durian di sini manis, pahit, legit, dan jenisnya lokalan saja,” bebernya, saat ditemui, Kamis (1/1/2026).

Ia menyebut, bahwa pembeli tak hanya dari masyarakat Kudus saja, melainkan dari luar daerah juga. Bahkan pembeli berasal dari Sidoarjo di hari itu menurutnya sengaja datang ke sana untuk menikmati durian di tempatnya.

“Alhamdulillah tahun ini, lebih ramai dibandingkan tahun lalu. Pengunjung dari Kudus, Pati, Demak, Grobogan, bahkan dari Sidoarjo pun ke sini, mereka suka ke sini karena duriannya enak dan bergaransi,” katanya. 

Jenis durian yang tersedia, katanya, lokalan yang diambil dari wilayah sekitar Kecamatan Dawe. Untuk harga dipatok cukup beragam, ada yang tersedia mulai Rp25 ribu, Rp100 ribu dapat tiga, hingga ada pula durian yang satu bijinya tembus harga Rp225 ribu. 

“Paling banyak diminati durian yang Rp100 ribu dapat tiga. Daya tariknya durian di sini fresh dari kebun langsung dan meski bentuk durian kecil, tapi rasanya enak,” jelasnya.

Dalam penjualannya itu, Maryati sanggup menjual 200-300 biji dalam sehari saat ramai seperti ini. Sedangkan untuk hari biasa bisa menjual 100 biji.

Baca Juga: Serunya Kulineran Sambil Belajar Membatik di Omah Sate Pak Taman Pati

Salah satu pembeli asal Grobogan, Nastiti (30) mengaku pertama kalinya membeli durian di sana dari rekomendasi adiknya yang tahu dari media sosial TikTok. Menurutnya, rasanya enak sehingga bersama keluarganya ia membeli banyak durian untuk dimakan di tempat.

“Yang terpenting di sini itu bergaransi, jadi silahkan datang ke sini langsung untuk menikmati duriannya, dijamin puas,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Selain Pesona Alamnya, Wisata Petik Jambu jadi Magnet Baru Desa Jrahi Pati

0
Wisata petik jambu di Jrahi, Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Selama ini, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, yang terletak di lereng Pegunungan Muria dikenal dengan wisata alamnya yang memikat. Selain itu, desa tersebut juga dikenal sebagai penghasil durian dan alpukat.

Namun, di balik popularitas dua buah tersebut, tersimpan komoditas lain yang kini tengah naik daun, yakni jambu Madu Deli. Buah bercita rasa manis ini semakin diburu, baik untuk konsumsi langsung maupun dijadikan buah tangan khas daerah.

Baca Juga: Rp20 Miliar Bakal Digelontorkan untuk Penataan Kota Pati, Jalan Jenderal Sudirman Jadi Sasaran Pertama

Permintaan jambu Madu Deli tak hanya datang dari masyarakat lokal. Buah ini bahkan telah menembus pasar antar daerah dan diminati konsumen dari berbagai kota besar di Indonesia.

“Jambu Madu Deli memang menjadi potensi besar. Saat ini banyak dikirim ke Jakarta, Surabaya, hingga Bojonegoro,” ujar Yusuf Heri Novianto, salah seorang petani Jambu Madu Deli asal Desa Jrahi.

Selain dipasarkan ke luar daerah, wisatawan yang berkunjung ke Desa Jrahi juga dapat merasakan sensasi memetik jambu langsung dari kebunnya. Aktivitas ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman wisata edukatif sekaligus rekreasi.

Harga jambu Madu Deli pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

“Pengunjung yang ingin bisa petik sendiri. Salah satunya di kafe GMJ Jrahi. Bawahnya ada kebun. Bisa juga untuk oleh-oleh,” imbuhnya.

Dari sisi kualitas, jambu Madu Deli memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jenis jambu lainnya. Selain rasanya yang manis, tampilannya pun cukup khas dengan warna hijau kemerahan.

“Warnanya hijau kemerahan. Mungkin tidak semenarik jambu citra tapi rasanya manis,” jelasnya.

Tak hanya itu, ukuran buahnya tergolong besar. Untuk kelas tertentu, berat jambu Madu Deli bahkan bisa mencapai lebih dari dua ons per buah. Keunggulan lain terletak pada siklus panennya yang relatif sering.

“Setahun bisa panen tiga kali setahun. Jadi hampir setiap bulan bisa kalau ingin petik di kebun. Berbeda dengan alpukat dan durian yang musiman,” imbuhnya.

Daya tarik wisata petik jambu ini juga dirasakan langsung oleh para pengunjung. Salah satunya Kamelan, warga Kecamatan Margorejo, Pati, yang mengaku sengaja datang untuk mencoba pengalaman tersebut.

Baca Juga: Tanpa Kembang Api, Warga Ketitangwetan Pati Sambut Tahun Baru dengan Doa Bersama

“Menyenangkan lihat pohon jambu yang berbuat banyak. Bisa milih dan metik langsung. Baru tahu ini kalau di Jrahi selain durian dan alpukat ada jambu Deli Madu juga,” ucapnya.

Dengan potensi alam dan pertanian yang terus dikembangkan, Desa Jrahi tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman wisata berbasis hasil bumi yang menjanjikan bagi masyarakat maupun wisatawan.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jadi Favorit Keluarga, Wisata Petik Buah Naga Jollong Pati Ramai Diserbu Wisatawan

0
Wisata petik buah naga di Bukit Naga Jollong di Desa Sitilihur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Masa liburan dimanfaatkan banyak keluarga untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Kabupaten Pati. Salah satu yang jadi favorit adalah Bukit Naga Jollong di Desa Sitilihur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Apalagi, saat ini bertepatan dengan musim panen buah naga.

Momen panen buah naga inilah yang dimanfaatkan Novi Afidah dan keluarganya untuk berlibur ke perkebunannya milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Jollong. Dengan dibantu pemandu, dia memilih buah yang sudah ranum dan berukuran besar.

Baca Juga: Liburan Sekolah, Joglo Dopang Jadi Destinasi Wisata Idaman di Kudus

“Lagi petik buah naga yang saat ini sedang musim. Seru bisa metik sendiri, bisa pilih besar kecilnya. Harganya terjangkau, Rp15 ribu per kilogram,” ujarnya.

Warga Kabupaten Kudus itu mengaku tak sia-sia jauh-jauh datang ke Kebun Naga karena mendapatkan buah dengan kualitas bagus. Apalagi, tempat tersebut sejuk dan nyaman dan punya berbagai spot foto atau video yang menarik.

“Menurut saya sangat menarik, soalnya suasananya sejuk, nyaman. Buat keluarga dan remaja pasti suka kalau ke sini. Tadi juga sempat foto-foto di beberapa titik,” katanya.

Pemandu Agrowisata Bukit Naga, Winardi, menjelaskan, selama libur sekolah dan Nataru ini kunjungan wisatawan memang meningkat pesat dibanding hari biasa. Bahkan, dia memperkirakan bisa mencapai 6.000 pengunjung.

“Agro Jolong untuk Nataru tahun ini alhamdulillah bisa meningkat. Kurang lebihnya yang tahun kemarin 5 ribuan, sekarang insyaAllah menjadi 6 ribuan pengunjung,” ucapnya.

Menurutnya, Kebun Naga Jollong memang jadi salah satu tempat favorit liburan keluarga karena punya berbagai fasilitas menarik, seperti wisata petik buah naga dna jeruk, camping ground di Buba’an Hills, dan wahana air yang disukai anak-anak.

“Untuk puncak kunjungan biasanya pada tanggal 1 Januari. Pengunjung biasanya datang dari Pati sendiri dan luar daerah,” kata Winardi.

Untuk petik buah naga dan jeruk, pengunjung akan dibekali keranjang dan gunting. Mereka bisa memilih untuk didampingi pemandu atau mencari sendiri.

“Para pengunjung bisa memetik buah naga dan langsung memakannya di lokasi. Selain itu juga bisa dibawa pulang dengan harga, untuk yang merah Rp15 ribu per kilogram dan yang putih Rp25 ribu,” ungkap Winardi.

Pengunjung juga bisa menyantap berbagai olahan makanan berbahan buah naga seperti nasi goreng, jus, hingga bakwan. Semuanya bisa disantap dengan harga yang ramah kantong.

Baca Juga: Libur Sekolah, Wisata Sumber Pelangi Soneyan Pati Diserbu Pengunjung

“Jus jeruk juga ada, bisa langsung petik, terus langsung dijus di warung sini,” ujarnya.

Untuk menikmati berbagai fasilitas itu, wisatawan bisa datang setiap hari pada pukul 7.00 sampai 17.00 WIB. Tiket masuknya juga sangat terjangkau yakni Rp10 ribu per orang dan biaya parkir Rp2 ribu.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hampir 300 Ribu Warga Kudus Masuk Kelompok Miskin dan Rentan Miskin

0
Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus, Putut Winarno. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah warga Kabupaten Kudus yang masuk kategori miskin hingga rentan miskin masih tergolong tinggi. Berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), hampir 300 ribu jiwa di Kudus masuk dalam kelompok desil 1 hingga 4.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus, Putut Winarno, menyebutkan bahwa berdasarkan data pertengahan Desember 2025, jumlah keluarga yang masuk desil 1 hingga desil 4 mencapai 96.355 keluarga, dengan total individu sekitar 287.389 jiwa.

Baca Juga: Panen Raya Duku Sumber Kudus, Punya Cita Rasa Manis dan Segar

“Desil 1 sampai desil 4 ini masuk kelompok miskin sampai rentan miskin. Data ini menjadi dasar utama dalam penyaluran berbagai bantuan sosial,” ujar Winarno di ruang kerjanya belum lama ini.

Winanrno menjelaskan, data DTSEN merupakan hasil pengolahan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengintegrasikan sejumlah basis data nasional, mulai dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Pendataan Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), hingga hasil Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek).

Dari data tersebut, tercatat jumlah keluarga pada masing-masing desil cukup signifikan. Desil 1 atau kategori sangat miskin sebanyak 22.610 keluarga atau 63.493 jiwa. Desil 2 kategori miskin sebanyak 25.262 keluarga atau 76.681 jiwa.

“Sementara desil 3 kategori hampir miskin ada 24.802 keluarga atau 74.794 jiwa. Sedangkan desil 4 kategori rentan miskin ada 23.626 keluarga atau 72.421 jiwa,” rincinya.

Menurut Putut, pemerintah daerah terus berupaya melakukan pemutakhiran data agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menindaklanjuti aduan masyarakat yang masuk melalui layanan Wadul K1 dan K2.

“Setiap aduan kami verifikasi di lapangan, kemudian kami usulkan. Kewenangan daerah adalah mengusulkan, sedangkan penetapan akhir tetap dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemutakhiran data DTSEN dilakukan secara berkala, dengan perubahan data yang bisa terjadi setiap tiga bulan sekali. Oleh karena itu, proses pengusulan terus dilakukan agar data semakin valid.

Baca Juga: 14 Perkara Menonjol di Kudus Sepanjang 2025, Kasus Peredaran Narkoba dan Curanmor Meningkat

Winarno juga mengajak masyarakat untuk aktif berperan dalam pemutakhiran data bantuan sosial. Warga dapat mengajukan usulan maupun sanggahan melalui aplikasi CekBansos milik Kementerian Sosial.

“Kalau ada warga yang layak tapi belum menerima bantuan, atau sebaliknya ada yang tidak layak namun masih menerima, bisa disanggah melalui aplikasi. Ini penting agar bantuan tepat sasaran dan tepat manfaat,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Harga MinyaKita Melejit, Pemerintah Diminta Buka Nomor Layanan Aduan

0
Harga MinyaKita di Pati melambung. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Dalam beberapa bulan terakhir ini, harga minyak goreng sederhana yang disubsidi pemerintah, yakni MinyaKita, harganya masih melejit. Bahkan di agen distributor pun, harganya masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

HET MinyaKita diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 tahun 2024 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat, yakni dipatok seharga Rp 15.700 per liter.

Baca Juga: Rp20 Miliar Bakal Digelontorkan untuk Penataan Kota Pati, Jalan Jenderal Sudirman Jadi Sasaran Pertama

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah diminta untuk turun tangan agar harga MinyaKita bisa sesuai HET. Begitupun dengan pasokan minyak goreng subsidi itu bisa normal, sehingga masyarakat bisa lebih mudah untuk mendapatkannya.

Rudi Sulistiyantono, Pemilik Toko Fatimah yang agen distributor MinyaKita menyampaikan, melihat situasi yang berkembang, pihaknya menyarankan agar pemerintah membuat nomor layanan aduan atau hotline terkait peredaran MinyaKita.

“Sebaiknya pemerintah buat hotline pengaduan. Biar harganya (MinyaKita) sesuai HET. Biar pemerintah tahu langsung keluhan masyarakat, ” ujar pemilik toko yang berada di Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati, Sabtu (3/1/2026).

Dirinya menyebut, untuk satu karton atau satu dus MinyaKita, dijualnya di harga kisaran Rp 190.000 hingga Rp 195.000.

Menurutnya, masih tingginya harga MinyaKita di atas HET, karena barangnya sulit didapatkan dan juga pengambilan barang dari luar Jawa Tengah. Sehingga, ada biaya tambahan transportasi dan lain-lainnya.

Ia menyebut, pada merek-merek tertentu MinyaKita, seperti halnya yang diproduksi PT Best, Wilmar, Sinar Mas, Wings, barangnya hingga sekarang cukup sulit. Pada merek-merek tersebut, katanya banyak dicari karena isinya sesuai tulisan kemasan, yakni 1 liter.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia dalam seminggunya mendapatkan kiriman sekitar 5 ribu hingga 7 ribu karton MinyaKita. Berbeda ketika barang mudah, sehari bisa 2 ribu karton lebih.

“Itupun, nggak sampai seminggu habis barangnya. Karena yang cari memang banyak, khususnya menegah bawah, ” ucapnya.

Lebih lanjut Rudi menyebut, meski harga MinyaKita di atas HET, ia tetap mengambil. Sebab, kalau tidak mau menyesuaikan, dirinya mendapatkan. Bukan hanya itu, ia pun menyebut, supaya masyarakat menengah ke bawah di Pati masih bisa mendapatkan MinyaKita.

Sementara itu, Novi, salah satu warga mengaku, sebagai pengecer, nantinya ia jual MinyaKita ke konsumen dengan harga di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per liter.

Baca Juga: Tanpa Kembang Api, Warga Ketitangwetan Pati Sambut Tahun Baru dengan Doa Bersama

“Ini saya jual lagi biasanya ya Rp 18.000 sampai Rp 18.500. Barangnya juga langka, sulit. Seminggu kadang dapat sekali, ” ujar Novi usai kulakan MinyaKita di Toko Fatimah.

Dengan kondisi seperti ini, ia berharap pemerintah bisa mengambil langkah, supaya MinyaKita harganya bisa sesuai HET dan barangnya juga mudah untuk didapatkan. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Harga MinyaKita di Pati Masih Melejit, Pasokan juga Sulit

0
Harga MinyaKita di Pati melambung. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Harga minyak goreng merek sederhana yang disubsidi pemerintah, yakni MinyaKita hingga saat ini masih melejit. Begitupun dengan pasokan yang juga masih cukup sulit, meskipun pemerintah telah menerbitkan aturan baru untuk menata distribusi.

Di Kabupaten Pati, hingga awal tahun 2026 ini, harga MinyaKita tak kunjung menyentuh batas Harga Eceran Tertinggi (HET).

HET MinyaKita diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 tahun 2024 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat, yakni dipatok seharga Rp 15.700 per liter.

Baca Juga: Rp20 Miliar Bakal Digelontorkan untuk Penataan Kota Pati, Jalan Jenderal Sudirman Jadi Sasaran Pertama

Bahkan sebelumnya, pada saat MinyaKita diluncurkan tahun 2022 silam, pemerintah sempat menetapkan HET MinyaKita sebesar Rp 14.000 melalui Permendag No 49 Tahun 2022.

Namun sayangnya, harga MinyaKita terpantau selalu mahal di pasaran. Kini rata-rata harganya bisa mencapai Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per liter. Selain mahal, pasokannya pun menipis.

“Ini saya jual lagi biasanya ya Rp 18.000 sampai Rp 18.500. Barangnya juga langka, sulit. Seminggu kadang dapat sekali, ” ujar Novi usai kulakan MinyaKita di Toko Fatimah Margorejo, Pati pada Sabtu (3/1/2026).

Dengan kondisi seperti ini, ia berharap pemerintah bisa mengambil langkah, supaya MinyaKita harganya bisa sesuai HET dan barangnya juga mudah untuk didapatkan.

Menipisnya stok MinyaKita di pasaran membuat pengecer langsung menyerbu agen distributor yang mendapatkan stok. Salah satunya di Toko Fatimah yang berada di Dukuh Ngagul, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati.

“Tahun 2026 MinyaKita permintaannya masih banyak. Tapi ya harganya masih di atas HET kita jualnya. Belum bisa jual sesuai harga HET, ” ujar Rudi Sulistiyanto, Pemilik Toko Fatimah.

Dirinya menyebut, untuk satu karton atau satu dus MinyaKita, dijualnya di harga kisaran Rp 190.000 hingga Rp 195.000.

Menurutnya, masih tingginya harga MinyaKita di atas HET, karena barangnya sulit didapatkan dan juga pengambilan barang dari luar Jawa Tengah. Sehingga, ada biaya tambahan transportasi dan lain-lainnya.

Ia menyebut, pada merek-merek tertentu MinyaKita, seperti halnya yang diproduksi PT Best, Wilmar, Sinar Mas, Wings, barangnya hingga sekarang cukup sulit. Pada merek-merek tersebut, katanya banyak dicari karena isinya sesuai tulisan kemasan, yakni 1 liter.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia dalam seminggunya mendapatkan kiriman sekitar 5 ribu hingga 7 ribu karton MinyaKita. Berbeda ketika barang mudah, sehari bisa 2 ribu karton lebih.

Baca Juga: Tanpa Kembang Api, Warga Ketitangwetan Pati Sambut Tahun Baru dengan Doa Bersama

“Itupun, nggak sampai seminggu habis barangnya. Karena yang cari memang banyak, khususnya menegah bawah, ” ucapnya.

Lebih lanjut Rudi menyebut, meski harga MinyaKita di atas HET, ia tetap mengambil. Sebab, kalau tidak mau menyesuaikan, dirinya mendapatkan. Bukan hanya itu, ia pun menyebut, supaya masyarakat menengah ke bawah di Pati masih bisa mendapatkan MinyaKita.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Karimunjawa Jepara Bakal Diusulkan Jadi Lokasi Sekolah Unggul Terintegrasi Non Asrama 

0
Mendikdasmen usai meresmikan bantuan revitalisasi sekolah di SMP Negeri 1 Tahunan, Jepara pada Sabtu (3/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah pusat berencana untuk membangun sekolah unggul terintegrasi non asrama di daerah yang termasuk dalam golongan 3T, yaitu Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. 

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat meresmikan hasil program revitalisasi sekolah di SMPN 1 Tahunan, Jepara pada Sabtu, (3/1/2025). 

Baca Juga: Bantuan Revitalisasi 103 Sekolah di Jepara Rampung 100 Persen

Abdul Mu’ti mengatakan di Kabupaten Jepara lokasi yang akan diusulkan untuk pembangunan program tersebut yaitu di Kecamatan Karimunjawa. 

Seperti diketahui, Kecamatan Karimunjawa merupakan pulau yang berada di daerah terluar Kabupaten Jepara.  

Lebih lanjut ia mengatakan, program sekolah unggul terintegrasi non asrama sendiri merupakan program yang baru akan dijalankan pada tahun 2026 ini. 

Untuk itu ia meminta, agar pemerintah daerah bisa segera mengusulkan masterplan atau rencana terkait pengusulan Karimunjawa sebagai lokasi program tersebut. 

“Nanti pak bupati kami mohon untuk menyiapkan masterplan. Ini juga memang bagian dari program kami di tahun 2026 dan seterusnya, termasuk dengan teman-teman DPR yang punya Pokja khusus untuk sekolah-sekolah di 3T,” katanya saat ditemui usai peresmian hasil program revitalisasi sekolah. 

Abdul Mu’ti menjelaskan program sekolah unggul terintegrasi non asrama merupakan program yang menggabungkan berbagai jenjang satuan pendidikan dalam satu wilayah, namun tanpa asrama. 

Untuk menjalankan program itu, Abdul Mu’ti mengatakan sebelumnya ia telah melakukan kajian bersama dengan beberapa kementerian terkait. Salah satunya dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

“Dengan program pak presiden yaitu sekolah unggul terintegrasi non asrama, itu modelnya satu paket dan kita juga sudah ada beberapa kali pengkajian dengan kemenko PMK dan kementerian terkait,” ujarnya. 

Baca Juga: 47 Ribu Wisatawan Padati Jepara Selama Libur Nataru 2026 

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan saat ini usulan atau masterplan terkait program tersebut memang belum dilakukan. Akan tetapi, ia mengaku akan segera melakukan pembahasan terkait usulan tersebut dengan dinas-dinas terkait. 

“Untuk pendalaman dan seatplant nya nanti segera kita laksanakan,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -