BETANEWS.ID, PATI – Harga minyak goreng merek sederhana yang disubsidi pemerintah, yakni MinyaKita hingga saat ini masih melejit. Begitupun dengan pasokan yang juga masih cukup sulit, meskipun pemerintah telah menerbitkan aturan baru untuk menata distribusi.
Di Kabupaten Pati, hingga awal tahun 2026 ini, harga MinyaKita tak kunjung menyentuh batas Harga Eceran Tertinggi (HET).
HET MinyaKita diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 tahun 2024 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat, yakni dipatok seharga Rp 15.700 per liter.
Bahkan sebelumnya, pada saat MinyaKita diluncurkan tahun 2022 silam, pemerintah sempat menetapkan HET MinyaKita sebesar Rp 14.000 melalui Permendag No 49 Tahun 2022.
Namun sayangnya, harga MinyaKita terpantau selalu mahal di pasaran. Kini rata-rata harganya bisa mencapai Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per liter. Selain mahal, pasokannya pun menipis.
“Ini saya jual lagi biasanya ya Rp 18.000 sampai Rp 18.500. Barangnya juga langka, sulit. Seminggu kadang dapat sekali, ” ujar Novi usai kulakan MinyaKita di Toko Fatimah Margorejo, Pati pada Sabtu (3/1/2026).
Dengan kondisi seperti ini, ia berharap pemerintah bisa mengambil langkah, supaya MinyaKita harganya bisa sesuai HET dan barangnya juga mudah untuk didapatkan.
Menipisnya stok MinyaKita di pasaran membuat pengecer langsung menyerbu agen distributor yang mendapatkan stok. Salah satunya di Toko Fatimah yang berada di Dukuh Ngagul, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati.
“Tahun 2026 MinyaKita permintaannya masih banyak. Tapi ya harganya masih di atas HET kita jualnya. Belum bisa jual sesuai harga HET, ” ujar Rudi Sulistiyanto, Pemilik Toko Fatimah.
Dirinya menyebut, untuk satu karton atau satu dus MinyaKita, dijualnya di harga kisaran Rp 190.000 hingga Rp 195.000.
Menurutnya, masih tingginya harga MinyaKita di atas HET, karena barangnya sulit didapatkan dan juga pengambilan barang dari luar Jawa Tengah. Sehingga, ada biaya tambahan transportasi dan lain-lainnya.
Ia menyebut, pada merek-merek tertentu MinyaKita, seperti halnya yang diproduksi PT Best, Wilmar, Sinar Mas, Wings, barangnya hingga sekarang cukup sulit. Pada merek-merek tersebut, katanya banyak dicari karena isinya sesuai tulisan kemasan, yakni 1 liter.
Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia dalam seminggunya mendapatkan kiriman sekitar 5 ribu hingga 7 ribu karton MinyaKita. Berbeda ketika barang mudah, sehari bisa 2 ribu karton lebih.
Baca Juga: Tanpa Kembang Api, Warga Ketitangwetan Pati Sambut Tahun Baru dengan Doa Bersama
“Itupun, nggak sampai seminggu habis barangnya. Karena yang cari memang banyak, khususnya menegah bawah, ” ucapnya.
Lebih lanjut Rudi menyebut, meski harga MinyaKita di atas HET, ia tetap mengambil. Sebab, kalau tidak mau menyesuaikan, dirinya mendapatkan. Bukan hanya itu, ia pun menyebut, supaya masyarakat menengah ke bawah di Pati masih bisa mendapatkan MinyaKita.
Editor: Haikal Rosyada

