Beranda blog Halaman 54

Pemkab Kudus Bakal Pasang 130 LPJU Tenaga Surya di Wilayah Perbatasan

0
Petugas sedang melakukan perawatan Lampu Penerangan Jalan Umum. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan memasang sekitar 130 Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) berbasis solar cell atau tenaga surya pada 2026. Lampu-lampu tersebut diprioritaskan untuk wilayah perbatasan yang masih terkendala jaringan listrik konvensional.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus melalui Kasi Sarpras LLAJ Dishub Kudus, Muchlisin menjelaskan, pemasangan LPJU tenaga surya menjadi solusi untuk daerah yang sulit dijangkau jaringan PLN.

“Anggaran untuk pemasangan LPJU solar cell tersebut mencapai sekitar Rp5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni 2026,” ujar Muchlisin saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Baca juga: Jateng Mulai Panen Raya Padi, Diperkirakan Bisa Panen 3,35 Juta Ton Selama 3 Bulan

Adapun lokasi-lokasi yang menjadi prioritas pemasangan solar sell antara lain, jalan penguhubung antara Desa Undaan Kidul- Dukuh Gatet, kemudian jalan penghubung antara Desa Beru Genjang dan Desa Wonosoco, Serta Dukuh Kambangan-Dukuh Lundrak Desa Menawan.

“Secara tipikal memang wilayah-wilayah itu terkendala energi listrik konvensional. Sehingga untuk pemasangan LPJU-nya memang lebih baik menggunakan lampu solar sell,” bebernya.

Menurut Muchlisin, penggunaan tenaga surya bukan hal baru di Kudus. Namun, pada 2026 jumlahnya akan diperluas sebagai bagian dari upaya pemerataan penerangan jalan sekaligus penggunaan energi ramah lingkungan.

“Kita juga punya kewajiban menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Tahun ini kita coba maksimalkan di wilayah perbatasan,” katanya.

Terkait pemeliharaan, ia mengakui masih ada tantangan dari sisi sumber daya manusia (SDM). Namun, dalam proses pengadaan nanti, pihak penyedia akan memberikan jaminan pemeliharaan minimal lima tahun.

Baca juga: Usai Dandangan, 150 Petugas Diterjunkan untuk Bersih-bersih

“Dengan garansi lima tahun, paling tidak untuk periode itu biaya perawatan masih ditanggung penyedia. Sambil berjalan, kami tingkatkan kemampuan SDM untuk pemeliharaan,” jelasnya.

Sebagai informasi, saat ini total ada 13 ribu LPJU di Kota Kretek yang tersebar di jalan nasional, provinsi, kabupaten, dan desa. Jalan kabupaten menjadi yang terbanyak dengan sekitar 7 ribu titik, disusul jalan desa sekitar 6 ribu titik.

Meski jumlahnya sudah cukup banyak, permintaan tambahan lampu jalan masih terus masuk dari masyarakat. Terutama untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan pada malam hari

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Ahmad Luthfi Minta KONI Jateng Lindungi Atlet

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat menghadiri acara pemberian tali asih kepada atlet taekwondo berprestasi di Gedung PGRI, Kompleks GOR Wujil Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu (21/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) wilayah setempat, dan seluruh pengurus cabang olahraga (cabor) untuk melindungi para atlet-atletnya, supaya tidak pindah ke daerah lainya.

Upaya perlindungan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan apresiasi dan perhatian serius kepada atlet-atlet berprestasi.

“Saya berpesan kepada KONI Jateng dan pengurus (masing-masing cabor), jangan sekali-kali atlet kita yang berprestasi kabur dari Provinsi Jawa Tengah,” kata Luthfi saat menghadiri acara pemberian tali asih kepada atlet taekwondo berprestasi di Gedung PGRI, Kompleks GOR Wujil Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu (21/2/2026).

Dikatakan Luthfi, hal yang telah dilakukan oleh Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia Jawa Tengah merupakan salah satu contoh nyata, untuk memberikan apresiasi sekaligus melindungi para atlet berprestasi. Sudah seharusnya hal yang sama dilakukan oleh cabor lainnya.

Baca juga: Gara-gara Ini Kinerja Pemprov Jateng di Sektor Industri dan Pariwisata Menuai Apresiasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berkomitmen mendukung pengembangan olahraga. Hal ini sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia unggul dan berkarakter. Komitmen itu dilakukan dengan cara penguatan pembinaan berjenjang, peningkatan sarana dan prasarana, serta dukungan anggaran. Termasuk akan memberikan tali asih sebesar Rp150 juta sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan dedikasi para atlet mengharumkan nama Jawa Tengah.

“Nanti tanggal 5 Maret 2026, kami undang semua atlet berprestasi ke provinsi,” ujar Luthfi.

Adapun dalam acara tersebut, tali asih diberikan secara simbolis kepada atlet taekwondo berprestasi. Di antaranya peraih medali emas Sea Games yang menerima uang pembinaan sebesar Rp12,5 juta, peraih medali perak Sea Games menerima Rp10 juta, dan peraih medali perunggu Sea Games menerima Rp7,5 juta.

Selain itu, tali asih juga diberikan kepada peraih medali emas, perak, dan perunggu pada gelaran PON Beladiri di Kudus dan Popnas. Tali asih juga diberikan kepada pelatih berprestasi yaitu Indra Darmawan. Ada juga bantuan 1 set matras kepada pengurus taekwondo Kabupaten Wonogiri.

“Selamat kepada atlet yang telah mengukir prestasi, kemudian yang belum juga harus tetap semangat untuk mengejar prestasi. Semakin berprestasi maka semakin berkarakter dan punya sesuatu yang bisa dibanggakan,” kata Ahmad Luthfi.

Baca juga: Jateng Mulai Panen Raya Padi, Diperkirakan Bisa Panen 3,35 Juta Ton Selama 3 Bulan

Sementara itu, Ketua KONI Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, atlet taekwondo Jawa Tengah memang sangat berprestasi, baik dalam event nasional maupun internasional. Dalam gelaran Sea Games 2025 di Thailand, atlet taekwondo Jateng menyumbangkan 1 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu bagi Indonesia.

Sementara pada PON Beladiri, atlet taekwondo menyumbang 4 medali emas, 6 perak, dan 9 perunggu bagi Kontingen Jawa Tengah..

“Kami mengapresiasi kepada pengurus cabor yang sudah bisa secara mandiri memberikan tali asih seperti Pengprov Taekwondo Jateng ini,” katanya.

Lebih lanjut, Sujarwanto mengatakan, KONI Jateng telah bertekad memikirkan masa depan para atlet. Tidak boleh lagi atlet menderita pada masa tuanya. Ia berharap ke depan negara memberikan ruang hidup yang cukup bagi profesi atlet.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Satu Tahun Wiwit-Hajar, Persolan Lingkungan hingga Perlindungan Sosial Masih Jadi PR

0
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan sambutan. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Satu tahun kepemimpinan Witiarso Utomo – Muhammad Ibnu Hajar sebagai Bupati dan Wakil Bupati Jepara dinilai berhasil menata fondasi ekonomi daerah. Namun, masih banyak pekerjaan rumah di sektor esensial yang menunggu untuk segera diselesaikan.

Hal itu seperti dikatakan oleh Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Jawa Tengah, Mayadina Rohmi Musfiroh.

Mayadina mengatakan, apresiasi patut diberikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di bawah kepemimpinan Wiwit-Hajar atas keberhasilannya menguatkan kemandirian fiskal daerah.

Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta tren positif pertumbuhan ekonomi yang naik menjadi 5,91 persen dari sebelumnya di angka 4,22 persen menunjukkan komitmen tata kelola yang pro investasi.

Baca juga: Satu Tahun Wiwit-Hajar Pimpin Jepara, Apa Saja Capaiannya?

Langkah kepala daerah dalam mendisiplinkan birokrasi melalui pakta integritas kinerja OPD juga menjadi starting point yang baik untuk menciptakan pemerintahan yang lebih akuntabel dan berorientasi pada impact.

“Namun di sisi lain, angka makro tersebut belum sepenuhnya menjawab kerentanan yang terjadi di tengah masyarakat,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Betanews.id, Sabtu (21/2/2026).

Sektor esensial yang menurutnya perlu untuk segera diselesaikan yaitu pada sektor ketahanan lingkungan, inklusivitas ekonomi, hingga perlindungan sosial.

Pada sektor lingkungan hidup, krisis pengelolaan sampah menjadi persoalan mendesak yang bisa menjadi bom waktu. Daerah-daerah yang terdampak bencana banjir atau tanah longsor, baik karena aktivitas tambang atau fenomena alam menurutnya harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Volume sampah di TPA yang terus melampaui batas juga menuntut pemerintah untuk segera membuat regulasi dan infrastruktur tata kelola limbah yang terintegrasi,” ujarnya.

Di sektor perlindungan sosial, Mayadina menyoroti masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta masih masifnya pengajuan dispensasi perkawinan usia anak.

Persoalan itu menurutnya memerlukan intervensi yang menyentuh akar budaya serta mental masyarakat.

“Gerakan edukasi sistematis di masyarakat tentang pentingnya membangun keluarga yang membawa kebaikan dan manfaat dengan mengedepankan prinsip berkeadilan guna memutus mata rantai kekerasan domestic sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Baca juga: 9 Daerah di Jateng Akan Ajukan Pembentukan Kawasan Industri

Kemudian di sektor ekonomi, pemberdayaan ekonomi kerakyatan menurutnya perlu didorong lebih jauh. UMKM lokal, khususnya kelompok perempuan pengolah hasil pertanian, kelautan dan perikanan tidak hanya membutuhkan bantuan fisik tetapi pendampingan dalam hal literasi digital.

“Ini penting agar kelompok UMKM lokal mampu bertransformasi menjadi entitas bisnis yang modern dan berdaya saing,” katanya.

Untuk menyelesaikan berbagai persoalan itu, menurutnya dibutuhkan upaya kolaborasi. Salah satunya dengan perguruan tinggi melalui hasil kajian dan riset serta memasukkan program pengabdian masyarakat ke dalam agenda pembangunan daerah.

“Kebijakan yang dilahirkan dari kolaborasi berbasis data empiris ini akan memastikan bahwa visi pembangunan Jepara benar-benar terukur, lestari, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kisah Didi, Warga Bandung yang Sukses Jualan Cimol & Kentang di Kudus

0
Kuliner cimol dan kentang di depan SMPN 4 Kudus, Jalan Dewi Sartika, Singocandi, Kudus. Foto: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Sore itu, di depan SMPN 4 Kudus, Jalan Dewi Sartika, Singocandi, Kudus, tampak sebuah gerobak sederhana dengan seorang bapak berpakaian oranye yang sibuk melayani pembeli. Aroma gurih cimol dan kentang goreng menguar, menarik perhatian para siswa yang baru pulang sekolah. Dia tak lain adalah Didi (30), pemilik usaha Cimol & Kentang yang kini menjadi favorit anak-anak sekolah di kawasan tersebut.

Perjalanan Didi menuju kesuksesan tidaklah mulus. Pria asal Bandung ini harus menelan pil pahit ketika terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja saat pandemi COVID-19 melanda.

Namun, di tengah keterpurukan itu, datang secercah harapan. Seorang teman menawarkannya untuk bergabung dalam usaha cimol dan kentang.

Baca juga: Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

“Lalu saya ditawari temen untuk gabung usaha cimol & kentang ini, awalnya saya coba-coba lalu nyaman sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Didi mengaku, bahwa cimol & kentang yang ia jual merupakan produksinya sendiri. Dan sejak awal berjualan, ia memilih lokasi di depan SMPN 4 Kudus.

Menurut Didi, yang membedakan cimol & kentang buatanya terletak pada bumbu rahasia. Keunikan inilah yang membuat pelanggannya terus kembali dan betah dengan cita rasa khas yang ditawarkan.

 “Sebenernya cimol & kentang di sini biasa, tapi yang bikin beda di sini itu bumbunya. Untuk bumbunya kita bikin sendiri dan olah sendiri. Kebanyakan kan bumbunya instan, tapi kalau ini bumbu racikan sendiri dan olahan sendiri,” bebernya.

Untuk bumbu, Didi menawarkan dua varian, yaitu original cimol dan bumbu jagung. Dua pilihan bumbu ini memberikan variasi rasa yang membuat pelanggan tidak bosan.

Ia mengaku sangat memperhatikan kualitas produknya mulai dari pemilihan bahan hingga proses pengolahan. Untuk cimol, ia menggunakan bahan-bahan seperti tepung tapioka, garam, micin, dan bahan lainnya.

“Lalu dibuat adonan, setelah itu saya dibikin bulat-bulat. Kalau penggorengan cimol kurang lebih 10 menitan,” bebernya.

Sementara untuk kentang, prosesnya sedikit lebih lama. Untuk pembuatan kentang, ia menggunakan tepung bumbu untuk melapisi kentangnya agar tidak cepat lembek.

“Kalau penggorengan kentang butuh waktu sekitar 20 menit,” ujar Didi.

Menyadari target pasarnya adalah pelajar, Didi menetapkan harga yang lebih terjangkau. Ia menjual dagangannya mulai harga Rp3.000 hingga Rp7.000.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

“Sebenarnya satu porsi Rp 7.000, tapi kalau anak-anak ya boleh beli Rp3.000” katanya.

Dalam sehari, ia mengaku bisa memproduksi 3 kilogram cimol dan membawa 10 kilogram kentang. Dari dagangannya itu, ia bisa mengantongi uang ratusan ribu rupiah setiap hari.

“Biasanya saya buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Untuk omzet tergantung saya bawanya, biasanya dalam 1 hari omzetnya di bawah Rp1.000.000,” bebernya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Martabak Ketan Hitam, Jadi Favorit Baru di Martabak Kue Bangka YY

0
Roti bangka berbagai varian rasa yang dijual di Martabak Kue Bangka YY, Jalan Veteran, tepatnya di depan Alfamidi Demaan, Kudus. Foto: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Menjelang sore hingga malam hari, sebuah gerobak berwarna pink di Jalan Veteran, tepatnya di depan Alfamidi Demaan, Kudus, selalu tampak ramai pembeli. Aroma martabak yang baru matang berpadu dengan suara spatula lengiringi kesibukan Imam Wahyudi (50) melayani pesanan pelanggan yang datang silih berganti. Gerobak itu dikenal dengan nama Martabak Kue Bangka YY, salah satu kuliner yang cukup terkenal di Kudus.

Bagi Imam sapaan akrabnya, usaha ini bukanlah perjalanan singkat. Pengalamannya berjualan martabak bermula saat ia merantau dan bekerja di Bekasi. Dari sanalah ia belajar seluk-beluk usaha martabak hingga akhirnya merasa punya cukup bekal untuk berdiri sendiri.

“Dulunya saya kerja sama dengan orang di Bekasi di tempat martabak seperti ini. Terus pulang karena sudah merasa bisa dan pengen mandiri. Lalu saya cari modal dan alhamdulillah bisa buka sendiri,” ujar Imam.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

Sejak tahun 2004, Imam memberanikan diri membuka usaha martabak di Kudus. Sebelumnya, ia berjualan di kawasan Ramayana Kudus dan memiliki banyak pelanggan, bahkan dari luar kota. Namun sekitar satu tahun terakhir, ia memutuskan pindah ke lokasi Jalan Veteran karena adanya aturan baru di tempat lama.

Menurutnya, keunggulan Martabak Kue Bangka YY terletak pada tekstur martabaknya yang tebal dengan isian melimpah. Meski begitu, ia tetap menjual dengan harga terjangkau. Hal inilah yang membuat pembeli terus berdatangan.

“Martabaknya tebal, isinya banyak, dan harganya insyaallah lebih murah daripada yang lain. Ini termasuk martabak legendaris,” tutur Imam saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pilihan menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari martabak coklat, coklat kacang keju, hingga berbagai kombinasi topping lainnya. Tak hanya itu, Imam juga menghadirkan menu baru berupa martabak ketan hitam dengan kelapa yang kini menjadi favorit baru pelanggannya.

Dalam proses pembuatannya, Imam menggunakan bahan-bahan dasar berkualitas seperti terigu, gula, garam, telur, dan bahan pengembang kue. Isian martabak pun variatif, mulai dari coklat, keju, kacang, oreo, hingga varian lainnya. Proses pemanggangan sendiri memakan waktu sekitar 10 menit hingga martabak matang sempurna.

Baca juga: Dari Hobi Jajan, Nadia Kini Sukses Dagang Sempolan di Gor Kudus

Soal harga, Martabak Kue Bangka YY tergolong ramah di kantong. Martabak mini dijual mulai Rp2.000 hingga Rp3.000, sedangkan martabak ukuran besar dibanderol Rp24.000 hingga Rp47.000, tergantung varian dan isian.

“Pembeli bisa memilih martabak ukuran besar atau yang mini, sesuai selera dan menyesuaikan kantong. Kalau bukanya setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB,” terangnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Suwoko

- advertisement -

Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

0
Roti bakar yang dijual di halaman Indomaret Burikan di Jalan Bhakti, Kudus. Foto: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Sore itu, teras Indomaret Burikan di Jalan Bhakti, Kudus, selalu tampak ramai. Terlihat antrean pembeli di depan sebuah gerobak kebab dan roti bakar. Di balik antrean itu, tampak seorang perempuan muda bersama karyawannya cekatan melayani para pelanggan.

Dia tak lain adalah Dialah Gita (25), pemilik Kebab & Roti Bakar yang baru beroperasi sejak Juni 2025. Siapa sangka, usaha yang kini ramai pembeli itu justru berawal dari kebingungan dan keputusan untuk mengalah.

Ia sempat berjualan cireng di kawasan PPRK Kudus dengan sebuah gerobak. Namun, masalah dengan pedagang lain membuatnya memilih mundur.

Baca juga: Dari Hobi Jajan, Nadia Kini Sukses Dagang Sempolan di Gor Kudus

“Ada problem, akhirnya aku ngalah dan tutup. Awalnya bingung mau kerja apa,” beber Gita sapaan akrabnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Keputusan itu justru menjadi titik balik. Dari situ, Gita mulai memikirkan usaha baru yang lebih tepat sasaran.

“Habis ngalah itu aku mikir, jualan apa ya yang cocok ditaruh di Indomaret. Terus kepikiran kebab,” ujarnya.

Pilihan itu bukan tanpa pertimbangan. Menurut Gita, kebab relatif minim risiko karena bahan banyak yang frozen.

“Jadi usaha ini minim buang dan minim rugi,” jelasnya.

Dari ide tersebut, lahirlah usaha kebab dan roti bakar dengan sentuhan berbeda. Gita menghadirkan menu unik seperti roti bakar asin spesial berisi daging dan sayuran lengkap dengan saus, hingga nachos ala coffee shop yang biasanya jarang ditemui di gerobak kaki lima.

Gita mengaku awalnya belum mahir menggulung kebab. Beruntung, latar belakang pendidikannya di bidang Tata Boga membantunya lebih cepat beradaptasi.

“Aku benar-benar modal nekat. Belajar dari tutorial YouTube bareng karyawanku,” katanya sambil tersenyum. 

Soal rasa, kebab racikan Gita punya ciri khas tersendiri. Sementara itu, menu roti bakar menjadi favorit pelanggan dan hampir selalu ludes setiap hari.

“Yang paling unik, kebab kami pakai kentang goreng di dalamnya,” ungkapnya. 

Heru (25), karyawan sekaligus tangan kanan Gita, menjelaskan variasi menu yang tersedia. Di antarnya, ada kebab ada isi beef, chicken, dan mix beef-chicken. Sementara roti bakar ada roti bakar sosis, beef, daging, dan mix special. Nachos ada chicken, beef, sosis, dan mix special.

Setiap menu dibuat dengan proses yang teliti. Kebab diracik dari kulit kebab, selada, kentang goreng, isian daging, dan saus. Roti bakar dibelah dua lalu dipanggang sekitar 10 menit sebelum diberi isian. Sementara nachos disajikan dengan chips, selada, timun, saus, kentang, dan topping sesuai pilihan pelanggan.

Baca juga: Cireng Isi Dapina, Favorit Baru Siswa SD Negeri Pati Kidul 01

Terkait harga, kebab dijual dengan harga mulai Rp13.000 hingga Rp22.000. Sementara roti bakar Rp13.000 hingga Rp20.000, dan nachos Rp12.000 hingha Rp20.000.

“Biasanya kami buka setiap Senin hingga Jumat, pukul 16.00–22.00 WIB. Alhamdulillah, per hari bisa mengantongi sekitar Rp700 ribu,” tambahnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kisah Sri, Penjual Tahu Uap yang Sukses Buka Tiga Cabang di Kudus

0
Lapak Tahu Uap Mas Heri di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: herly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di depan pabrik Mulyatek, tampak sebuah gerobak berwarna kuning bertuliskan Tahu Uap Mas Heri. Di sana terlihat banyak pembeli yang sedang menunggu pesanan mereka.

Di balik gerobak, tiga orang yang sedang sibuk menggoreng tahu dengan dua wajan dalam api yang besar. Satu di antaranya adalah Sri (40), Pemilik Tahu Uap Mas Heri. 

Di tengah kesibukannya, ia sudi berbagi cerita tentang usaha tersebut. Sri menjelaskan, bahwa usaha franchise yang ia buka sejak 2023 berawal dari Fyp yang pernah viral di TikTok, sehingga membuat Sri tertarik untuk mencobanya.

Baca juga: Kopi Khas Turki Kini Hadir di Kudus, Sensasi Kopi Ala Timur Tengah yang Jadi Idaman Baru

“Sudah berjalan lebih satu tahunan, awalnya sering lihat di TikTok-nya Mas Heri, terus jadi tertarik buat coba jualan ini,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Sri mengaku sudah mempunyai tiga cabang franchise Tahu Uap Mas Heri, tiga cabang itu berada di Purwosari, Gor Kudus, dan Getas Pejaten. Ia juga menambahkan, bahwa sebelum membuka usaha franchise yang sekarang ini, dirinya sempat menyuplai telur puyuh di rumah.

“Tapi sekarang saya merasa lebih cocok dengan usaha Tahu Uap Mas Heri. Jadi saya fokus ini saja,” bebernya.

Selain tahu uap, outlet ini juga menjual otak-otak uap yang dibandrol dengan harga Rp660 per biji, selain itu ada beberapa harga paket mulai Rp5.000 dapat 7 biji, hingga paket Rp20.000 dapat 30 biji.

“Aslinya franchise ini hanya menjual tahu saja, tapi kita juga menambahkan otak-otak, jadi sebelum menambahkan harus ada izin dulu agar tidak disalahgunakan. Kalau bahan tahunya ini sama kaya tahu pada umumnya tapi yang membedakan bumbu dari rempah-rempah yang berkualitas, ditambah kita pakai minyak yang berkualitas,” terangnya.

Baca juga: Laris Manis, Cireng Kuah Creamy di Tayu Ini Ludes Setiap Hari

Sri menambahkan, dalam sehari ia mampu menjual sebanyak sekitar 3.000 biji sampai 4.000 biji. Menurutnya rasa kriuk dari tahu ini mampu bertahan sampai satu hari  sehingga banyak pelanggan yang cocok akan rasa gurih kriuknya.

“Biasanya kami buka mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Disini pembeli lebih banyak yang suka campur dua-duanya, tahu uap sama otak-otak, banyak dari remaja sampai orang tua suka berlangganan disini,” tambahnya.

Penulis: Sherly Nabela Octavia, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Ribuan PPPK Paruh Waktu di Kudus Dipastikan Tak Terima THR, Begini Penjelasannya

0
Ilustrasi sejumlah pegawai PPPK Paruh Waktu. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus memastikan tunjangan hari raya (THR) tahun ini hanya diberikan kepada pegawai berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan PPPK penuh waktu. Sementara itu, tenaga honorer serta PPPK paruh waktu dipastikan tidak masuk dalam daftar penerima.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Kudus, Djati Solechah menjelaskan, bahwa penganggaran THR memang hanya diperuntukkan bagi aparatur sipil negara (ASN) yang berstatus PNS dan PPPK penuh waktu.

“Yang kami anggarkan hanya PNS dan PPPK penuh waktu. Untuk PPPK paruh waktu memang tidak masuk dalam skema penganggaran sesuai regulasi,” ujarnya saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Baca juga: Usai Dandangan, 150 Petugas Diterjunkan untuk Bersih-bersih

Djati menambahkan, proses pencairan THR bagi ASN masih menunggu surat edaran resmi dari Kementerian Keuangan. Hingga saat ini, pihaknya belum dapat memastikan jadwal penyaluran bagi ribuan PNS dan PPPK penuh waktu di lingkungan Pemkab Kudus.

Di sisi lain, sebanyak 2.606 PPPK paruh waktu yang baru menerima surat keputusan (SK) Bupati pada akhir 2025 dipastikan belum memperoleh THR. Menurut Djati, status paruh waktu tersebut membuat mereka tidak termasuk dalam kategori penerima tunjangan hari raya.

“PPPK paruh waktu tidak mendapatkan THR karena formasi pekerjaannya masih sama seperti sebelumnya,” jelasnya.

Meski demikian, Pemkab Kudus telah mulai membayarkan gaji pokok PPPK paruh waktu sejak Januari 2026. Besaran gaji yang diterima berkisar minimal Rp1 juta hingga setara upah minimum kabupaten (UMK).

Baca juga: Warga Karangrowo Kudus Rogoh Kocek Pribadi Urug Jalan Kabupaten, Dinas PUPR Angkat Suara

Terkait pencairan THR bagi PNS, Djati kembali menegaskan, bahwa pemerintah daerah masih menunggu regulasi teknis dari pemerintah pusat. Ia belum dapat memastikan kapan dana tersebut akan disalurkan.

Sementara itu, dalam pemberitaan nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi disebut menyampaikan bahwa penyaluran THR PNS direncanakan pada pekan pertama Ramadan. Namun, mekanisme dan waktu pencairan tetap menyesuaikan dengan kesiapan serta kondisi masing-masing daerah.

Selain PPPK paruh waktu, tenaga honorer di lingkungan Pemkab Kudus juga dipastikan tidak menerima tunjangan hari raya tahun ini

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Oknum Pimpinan Ponpes di Jepara Diduga Lecehkan Santri, Kakemenag : ‘Izin Operasional Bisa Dicabut’

0
Kepala Kantor Kemenag Jepara, Akhsan Muhyiddin. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh oknum salah satu pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Jepara, saat ini sudah menjadi perhatian dari Kementerian Agama (Kemenag).

Kepala Kantor Kemenag Jepara, Akhsan Muhyiddin mengatakan, saat ini pihaknya sudah menugaskan timnya untuk mengumpulkan data atau informasi terkait dugaan kasus tersebut.

Hasil informasi yang didapatkan, nantinya akan disampaikan kepada Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Tengah dan Kemenag RI untuk dilakukan pengkajian penyelesaian kasus tersebut.

Baca juga: Diperiksa Polisi, Begini Pengakuan Oknum Pimpinan Ponpes yang Diduga Cabuli Santrinya

Akhsan mengatakan, jika dugaan kasus itu terbukti benar, sesuai regulasi yang berlaku, pondok pesantren akan diberikan sanksi.

“Ya, dimungkinkan bisa juga dicabut atau nanti ada keputusan seperti apa, ini berproses. Saat ini kita sedang mengumpulkan bahan, nanti akan kita sampaikan dan koordinasikan dengan Kanwil dan pusat. Kita kaji dengan regulasi yang ada. Nanti kita akan ambil keputusan sesuai ketentuannya,” kata Akhsan melalui pesan tertulis pada Betanews.id, Sabtu (21/2/2026).

Akhsan melanjutkan, sebagai upaya pencegahan tindakan kasus kekerasan di pondok pesantren, pihaknya sebenarnya sudah melakukan deklarasi pendidikan yang ramah dan anti kekerasan.

Akan tetapi, merespon adanya kasus tersebut, pihaknya berencana untuk melakukan sosialisasi kembali terkait pencegahan kasus kekerasan di pondok pesantren.

“Untuk langkah pencegahan kita segera lakukan rapat koordinasi dan pembinaan kepada pengelola lembaga pendidikan,” ujarnya.

Baca juga: Buntut Kasus Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pimpinan Ponpes, Pemkab Jepara Siapkan Langkah Pencegahan

Terkait upaya penyelesaian kasus melalui jalur hukum, Akhsan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Kasus itu saat ini juga sudah dilaporkan dan sedang dalam tahap penyelidikan oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara.

Pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara juga sudah memberikan perlindungan kepada korban.

“Kasus hukum kita serahkan ke pihak berwenang karena sudah masuk laporan. Kita kerjasama dengan PPA untuk memberikan pendampingan korban,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Masih Merangkak Naik, Harga Daging di Kudus Bikin Pedagang Mengeluh

0
Salah satu warga terlihat sedang membeli daging di Pasar Bitingan Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Harga daging di awal bulan Ramadan kali ini masih terbilang stabil, meski mengalami kenaikan harga. Di Pasar Bitingan, Kudus, harga daging terpantau mengalami kenaikan harga sekitar Rp 3-5 ribu per kilogramnya.

Meski mengalami kenaikan tidak terlalu signifikan, namun hal tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

Salah satu pedagang ayam Pasar Bitingan, Eny Handayani menyampaikan, harga ayam saat ini mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp36 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram, sebelum puasa.

“Sekarang sudah Rp 40 ribu. Kalau ayam tanpa tulang atau filed bisa sampai Rp60 ribu per kilogram,” ujarnya.

Baca juga: Jateng Mulai Panen Raya Padi, Diperkirakan Bisa Panen 3,35 Juta Ton Selama 3 Bulan

Ia mengaku, kenaikan harga berdampak pada jumlah pembelian masyarakat yang cenderung menurun. Di mana, di hari normalnya sehari bisa menjual hingga 200 kilogram atau 2 kuwintal, kali ini hanya dapat menjual sampai 1,5 kuwintal.

“Pembeli jelas menurun. Biasanya bisa beli dua kuwintal, sekarang paling sekitar satu setengah kuwintal,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena hampir semua bahan pangan mengalami kenaikan harga, sehingga masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran.

Sementara itu, salah satu pembeli, Boby mengaku kenaikan harga ayam potong terjadi sejak sebelum Ramadan. Setiap harinya yang membeli daging ayam untuk kebutuhan usahanya katering, membuat ia memutar otak agar pelanggan tetap terlayani dengan baik.

“Sehari kadang membeli 8-10 kilogram daging ayam, untuk kebutuhan katering di rumah. Semoga saja harga secepatnya kembali normal seperti biasanya,” ujarnya.

Senada dengan Eny, pedagang daging kambing, kerbau, dan sapi, Sofiah menyebut, harga daging juga mulai naik sekitar Rp5 ribu per kilogram sejak sebulan sebelum Ramadan.

Baca juga: Upaya Pemprov Jateng Intervensi Kenaikan Harga Pangan Pokok, dari GPM hingga Operasi Pasar

Saat ini harga daging sapi mencapai Rp135 ribu per kilogram, kerbau Rp155 ribu, dan kambing Rp145 ribu. Sebelumnya, harga masing-masing berada di kisaran Rp130 ribu, Rp150 ribu, dan Rp140 ribu per kilogram.

“Kenaikan biasanya masih terjadi lagi menjelang Lebaran, terutama sekitar H-3, bisa naik hampir Rp10 ribu,” jelasnya.

Meski harga meningkat, Sofiah mengatakan permintaan daging biasanya tetap naik saat mendekati Lebaran karena kebutuhan masyarakat untuk konsumsi dan tradisi memasak hidangan hari raya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

UMK Raih Penghargaan Collaborative Awards Jawa Tengah 2026

0
Universitas Muria Kudus (UMK) meraih penghargaan dalam ajang Collaborative Awards Jawa Tengah 2026. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Universitas Muria Kudus (UMK) meraih penghargaan dalam ajang Collaborative Awards Jawa Tengah 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur, Jumat (20/2/2026) sore.

Penghargaan tersebut diberikan kepada perguruan tinggi yang dinilai berhasil membangun kolaborasi strategis bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan di Jawa Tengah.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/38 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 13 Februari 2026, UMK ditetapkan sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik se-Jawa Tengah dalam kategori Collaborative Award 2026.

Atas capaian tersebut, UMK menerima penghargaan berupa piagam dan piala yang diserahkan dalam seremoni penghargaan.

Rektor UMK, Prof Darsono menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diterima. Ia menyebut, penghargaan itu menjadi bentuk pengakuan atas komitmen kampus dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah.

Baca juga: Gara-gara Ini Kinerja Pemprov Jateng di Sektor Industri dan Pariwisata Menuai Apresiasi

“Kami berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah. Kolaborasi pentahelix penting untuk mempercepat inovasi dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat,” ujarnya melalui siaran tertulisnya, Sabtu (21/2/2026).

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam kesempatan yang sama menegaskan, bahwa pembangunan daerah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah provinsi sendiri. Diperlukan kolaborasi aktif dengan pemerintah kabupaten/kota serta perguruan tinggi untuk mewujudkan program pembangunan yang efektif.

Selain UMK, sejumlah perguruan tinggi lain yang turut menerima penghargaan serupa antara lain Universitas Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Acara juga diisi dengan penandatanganan Nota Kesepakatan dan Rencana Kerja antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan LLDIKTI Wilayah VI, sebelum ditutup dengan kegiatan buka bersama yang diikuti para tamu undangan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Satu Tahun Wiwit-Hajar Pimpin Jepara, Apa Saja Capaiannya?

0
Bupati Jepara Witiarso Utomo saat memberikan sambutan. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Bupati-Wakil Bupati Jepara, Witiarso Utomo-Muhammad Ibnu Hajar kini sudah satu tahun mmeimpin Kabupaten Jepara. 20 Februari 2026, menjadi momen tepat satu tahun masa kepimpinan Wiwit-Hajar usai dilantik pada tanggal yang sama di tahun lalu.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, salah satu capaian yang berhasil ia wujudkan di masa satu tahun kepemimpinannya yaitu terciptanya suasana masyarakat yang kondusif serta terealisasinya pembangunan infrastruktur jalan.

Khusus hal itu, Wiwit mengatakan, jika perbaikan jalan di Jepara mendapat respon yang positif dari masyarakat.

Baca juga: Pembayaran Pajak Kendaraan di Jepara Masih Tinggi, Diskon 5% Belum Berlaku

“Alhamdulillah hari ini kita genap satu tahun memimpin Jepara. Apa yang menjadi capain kita yaitu masyarakat yang kondusif. Bulan Desember sebelum hujan, capaian Jepara Mulus lewat infrastruktur juga sangat bagus responnya, pembangunan infrastruktur (jalan) juga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya usai kegiatan 1 Tahun Kepemimpinan Wiwit-Hajar di Anjungan Jepara, Pura Maerokoco Semarang, Jumat (20/2/2026).

Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara, pada tahun 2024, kondisi jalan di Jepara yang tercatat dalam kondisi mantap yaitu sepanjang 703,091 kilometer, sementara 150,936 kilometer lainnya masih dalam kondisi tidak mantap.

Memasuki tahun 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengalokasikan anggaran sebesar Rp139,60 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan.

Alokasi itu digunakan untuk pembangunan, pemeliharaan, serta peningkatan ruas jalan sepanjang 421,84 kilometer yang tersebar di 146 titik. Dengan rincian, penanganan klinis sepanjang 355 kilometer serta peningkatan sepanjang 66,84 kilometer.

Kemudian di tahun 2026, Wiwit menyebutkan, Pemkab Jepara kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp197,16 miliar untuk perbaikan ruas jalan sepanjang 185 km di 116 ruas.

“Tahun ini kita juga alokasikan lagi untuk infrastruktur sebesar Rp197,16 miliar.Itu sepenuhnya berasal dari APBD,” sebutnya.

Tidak hanya itu, dana bagi hasil dari pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB), juga sepenuhnya akan dialokasikan untuk pembangun jalan.

Baca juga: Dua Mobil Polres Jepara Disulap Jadi Dapur Umum Selama Ramadan

Selain di bidang infrastruktur, beberapa capaian yang menurutnya sudah terlaksana di masa satu tahun kepemimpinannya yaitu revitalisasi 58 SD Negeri dan 39 SMP Negeri yang bersumber dari APBN.

Beasiswa bagi 2.398 siswa dan mahasiswa dengan anggaran sebesar Rp1,712 miliar dan pemberian insentif bagi 10.827 guru non-ASN dengan anggaran sebesar Rp19,488 miliar.

Di sektor pertanian yaitu tersalurkannya 169 alat pertanian bantuan dari pemerintah pusat serta pembangunan 64,47 km irigasi pertanian.

Di sektor ekonomi, pembanguan ekonomi Jepara meningkat menjadi 5,91 persen pada tahun 2025 dari sebelumya 4,22 persen pada tahun 2024. Angka kemiskinan turun dari 6,09 persen menjadi 5,79 persen. Realisasi investasi mencapai Rp1,995 triliun dan menyerap 36.550 tenaga kerja.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

9 Daerah di Jateng Akan Ajukan Pembentukan Kawasan Industri

0

BETANEWS.ID,SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, adanya kawasan industri masih menjadi penopang penting dalam menumbuhkan perekonomian. Rencananya, ada sembilan daerah kabupaten/kota di wilayahnya yang mengajukan pembentukan kawasan industri.

“Kawasan industri menjadi primadona untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi baru. Ada sembilan kabupaten/kota yang nanti akan mengajukan menjadi kawasan industri,” kata Luthfi saat menerima  Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR di kompleks Kantor Gubernur Jateng, di Kota Semarang pada Jumat (20/2/2026).

Sembilan daerah tersebut meliputi  Rembang, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, Brebes, Cilacap, Banyumas, dan Kebumen.

Baca juga: Berkat Kerja-Kerja Kolaboratif, Pembangunan Jawa Tengah Menunjukkan Tren Positif

Ia menjelaskan, pengembangan kawasan industri akan disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah. Dengan hadirnya kawasan industri, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru akan terbentuk secara lebih merata.

Selain kawasan industri, Luthfi menekankan penguatan sektor UMKM yang jumlahnya hampir 4 juta unit di Jawa Tengah. Menurutnya, UMKM harus menjadi penggerak ekonomi di level bawah, sekaligus naik kelas ke skala yang lebih besar.

“Sehingga perlu ada pendampingan, modal, kemudian pemasaran, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Pemprov Jateng juga terus mendorong ekonomi kreatif di wilayahnya. Sebab, sektor tersebut bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Di sektor pariwisata, Luthfi memastikan pengembangan lebih dari 1.000 desa wisata tidak berhenti pada pembentukan semata, melainkan diperkuat melalui pembinaan teknis, pengelolaan, pendanaan, hingga promosi.

“Seribu desa wisata sudah kita ciptakan. Tidak bisa kita lepas begitu saja. Harus ada pembinaan teknis, penguatan pemasaran, pendanaan, pengelolaan, dan promosi,” tegasnya.

Luthfi menyebut kunjungan Komisi VII juga momentum penting untuk memperkuat langkah strategis Pemprov Jateng.

Baca juga: Upaya Pemprov Jateng Intervensi Kenaikan Harga Pangan Pokok, dari GPM hingga Operasi Pasar

Anggota Komisi VII DPR, Yoyok Riyo Sudibyo menyatakan, siap mengawal penguatan kawasan industri di Jawa Tengah, termasuk jika diperlukan penyempurnaan regulasi agar investasi semakin kondusif.

Sebab, kata dia,  Jawa Tengah kini menjadi tujuan relokasi industri. Karenanya, perlu didukung dengan sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah agar tidak terjadi tumpang tindih aturan.

“Jawa Tengah sekarang menjadi primadona investasi. Kawasan industri berkembang luar biasa, termasuk di Batang. Industri dari Jawa Barat dan Jakarta pasti bergeser ke Jawa Tengah karena upah kompetitif dan lahan masih tersedia,” ujar eks Bupati Batang 2012-2017 itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hari Ketiga Ramadan, Harga Cabai hingga Bawang Masih Tinggi, Sedangkan Telur Berangsur Turun

0
Harga cabai hingga bawang merah masih tinggi. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Memasuki hari ketiga Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok sayur-mayur di Pasar Bitingan masih bertahan di harga yang tinggi. Kondisi ini sudah mulai dirasakan sejak bebrapa hari sebelum Ramadan.

Salah satu pedagang sayur Pasar Bitingan, Ngatin menyampaikan, hampir seluruh komoditas sayuran mengalami kenaikan harga. Kondisi ini merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi di bulan Ramadan hingga Lebaran.

“Sayur-mayur naik semua. Biasanya memang mulai naik sebelum atau menjelang puasa dan bertahan sampai habis Lebaran,” bebernya saat ditemui di lokasi, Sabtu (21/2/2026).

Baca juga: Lewat QRIS BRI, UMKM Kudus Disebut Bisa Terbantu Naik Kelas, Begini Penjelasannya

Dia merincikan, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga. Mulai harga cabai rawit putih dan cabai keriting merah kini Rp40 ribu per kilogramnya dari sebelumnya di angka Rp33 ribu. Lalu, cabai keriting hijau Rp20 ribu, tomat berkisar Rp7-10 ribu per kilogram, kentang Rp17 ribu, bawang merah Rp40 ribu, dan bawang putih sekitar Rp32 ribu per kilogram.

Meski harga naik, kata Ngatin, masyarakat tetap membeli kebutuhan dapur. Hanya saja jumlahnya lebih sedikit dibandingkan hari biasanya. “Jadi mereka menurunkan porsi belanjaannya. Kalau biasanya setengah kilogram, sekarang tidak sampai segitu,” jelasnya.

Sementara itu, kondisi berbeda justru terlihat pasa komoditas telur ayam yang mengalami penurunan harga dari sebelumnya. Hal itu disampaikan oleh pedagang pasar Bitingan, Solgiati.

Baca juga: Upaya Pemprov Jateng Intervensi Kenaikan Harga Pangan Pokok, dari GPM hingga Operasi Pasar

Menurutnya, harga telur hari ini mulai menurun dari sebelumnya sebelum puasa. “Sekarang harga telur ayam eceran turun jadi Rp31 ribu per kilogram, sebelumnya harga di angka Rp32-33 ribu. Turunya baru hari ini,” terangnya.

Ia memperkirakan, fluktuasi harga bahan pokok masih akan terus terjadi hingga Lebaran, seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama bulan Ramadan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Buntut Kasus Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pimpinan Ponpes, Pemkab Jepara Siapkan Langkah Pencegahan

0
Ibnu Hajar, Wakil Bupati Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA – Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum salah satu pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Jepara kepada santrinya sendiri menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah. 

Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara untuk menangani kasus tersebut. 

Sebagai upaya pencegahan, pihaknya bersama Kemenag serta melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat akan melakukan sosialisasi kepada ponpes di Jepara agar kasus serupa tidak semakin meluas. 

Baca juga: Diperiksa Polisi, Begini Pengakuan Oknum Pimpinan Ponpes yang Diduga Cabuli Santrinya

“Kita sudah kerja sama dengan Kemenag yang membidangi itu (Ponpes), nanti akan ada sosialisasi kepada ponpes-ponpes agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” katanya pada Betanews.id, Sabtu (21/2/2026). 

Terpisah, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin mengatakan, terkait sosialisasi itu, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan koordinasi terlebih dahulu kepada pengelola lembaga pendidikan agama di Kabupaten Jepara. 

Meskipun selama ini, Akhsan menyebut, pihak Kemenag sudah melakukan deklarasi pendidikan yang ramah dan antri kekerasan jenis apapun di lembaga pendidikan yang ada di Jepara. 

“Untuk langkah pencegahan kita segera lakukan rapat koordinasi dan pembinaan kepada pengelola lembaga pendidikan. Walau sebenarnya kita juga sudah lakukan deklarasi pendidikan yang ramah. Anti kekerasan apapun,” katanya melalui pesan tertulis. 

Sementara, untuk upaya penanganan, Akhsan melanjutkan saat ini pihaknya masih mengumpulkan informasi detail terkait kasus tersebut. Hasil informasi itu, nantinya akan diteruskan kepada Kemenag Jawa Tengah dan Kemenag RI untuk pengambilan keputusan. 

Baca juga: Ajak Damai, Pimpinan Ponpes di Jepara yang Diduga Cabuli Santrinya Pernah Tawari Uang hingga Tanah ke Korban

“Saat ini kita sedang fokus mengumpulkan informasi atau materi untuk melakukan penyelesaian kasus ini, saat ini masih berproses,” lanjutnya. 

Untuk penyelesaian kasus melalui jalur hukum, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Terlebih saat ini kasus itu juga sudah dilaporkan dan sedang dalam tahap penyelidikan oleh pihak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara. 

“Kasus hukum kita serahkan ke pihak berwenang karena sudah masuk laporan. Kita kerjasama juga dengan Dinas PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) untuk memberikan pendampingan kepada korban,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -