Beranda blog Halaman 25

Porprov Jateng 2026 Diharapkan Jadi Pengungkit Perekonomian Daerah

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah menyatakan kesiapannya dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng XVII tahun 2026. Momen tersebut diharapkan menjadi daya ungkit bagi perekonomian daerah, khususnya daerah Semarang Raya yang akan jadi tuan rumah.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen disela Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Jawa Tengah Tahun 2026 di Hotel Grasia Semarang, Sabtu, 4 April 2026.

Menurut Taj Yasin, Porprov menjadi momen untuk merangkul UMKM, pengusaha, dan pedagang di lokasi tuan rumah penyelenggaraan. Sebab, olahraga tidak mungkin tanpa penonton atau tim hore. Karenanya, Porprov harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Sehingga nanti bisa menambah pendapatan daerah,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini.

Terkait imbauan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah, Gus Yasin mengatakan, pembahasan keuangan untuk pelaksanaan Porprov sudah dibahas dalam anggaran 2024. Sehingga, dengan alokasi yang ada, tinggal dimaksimalkan, karena sudah ada kesepakatan.

“Untuk Porprov ini kita sudah membahas di tahun 2024, jadi keuangan yang sudah dikelola oleh KONI, baik itu dari APBD maupun dari keuangan-keuangan yang lainnya itu dimaksimalkan saja,” imbuhnya.

Dalam arahannya, Gus Yasin memberikan semangat kepada para pengurus cabang olahraga tingkat provinsi dan pengurus KONI kabupaten/kota yang hadir. Apalagi, pelaksanaan Rakerda ini dalam rangka mempersiapkan Porprov 2026 dan menuju sukses PON 2028.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Jateng, Sudjarwanto Dwiatmoko mengatakan, Rakerprov akan membahas secara teknis penyelenggaraan Porprov 2026. Agenda yang akan dibahas antara lain penentuan hari H, cabang olahraga, dan kelas yang akan dipertandingkan.

Selain itu, Rekerprov juga akan membahas tuan rumah Porprov 2030. Hingga saat ini ada dua daerah yang menyatakan siap untuk menjadi tuan rumah, yaitu Karesidenan Kedu dan Pekalongan.

Disinggung kesiapan Semarang Raya menjadi tuan rumah Porprov 2026, Sudjarwanto mengatakan, kesiapannya sudah cukup baik. Pembagian tugas masing-masing daerah di Kota Semarang, Salatiga, Kabupaten Semarang, Kendal dan Demak juga sudah sama-sama sepakat. Venue-nya sudah siap, rancangannya masing-masing juga sudah siap.

“Hari ini kita mendeklarasikan kesiapan itu sekaligus memastikan timeline-nya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Harga Kedelai Tembus Rp11.600 per Kg, Pengrajin Tahu di Jepara Kelimpungan 

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Imbas eskalasi perang antara Amerika dan Israel melawan Iran membuat harga kedelai impor dari Amerika mengalami kenaikan. Hal itu membuat pengrajin tahu dan tempe kelimpungan, termasuk di Kabupaten Jepara.

Salah satu pengrajin tahu di Kabupaten Jepara, yaitu Ahmad Abdul Basir (42) pemilik Tahu Susu Din Yu yang berlokasi di Desa Ketilengsingolelo RT 2 RW 1, Kecamatan Welahan. 

Ditemui di tempat produksinya, Abdul mengatakan, harga kedelai impor saat ini terus merangkak naik. Kenaikan itu mulai terjadi sekitar tiga bulan yang lalu. 

“Ngga cuma naik ini (harga kedelai), sudah beda harga. Biasanya Rp8-9 ribu per kg, saat ini Rp11.600 per kg,” sebut Abdul saat ditemui pada Sabtu, (4/4/2026).

Akan tetapi meskipun mengalami kenaikan, Abdul mengatakan, kesepakatan dari Paguyuban Pengrajin Tahu dan Tempe khususnya di Kabupaten Jepara, pengrajin belum menaikkan harga jual. 

Hal itu dilakukan untuk menjaga daya beli konsumen. Abdul menyebutkan, harga satu papan tahu yang ia produksi berisi 100 buah tahu dijual seharga Rp35 ribu. Ia juga memproduksi tahu susu yang dijual dengan harga Rp60 ribu per papan berisi 110 tahu. 

Baca juga : Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang Timur Tengah

“Ini kalau nanti harga (kedelai)-nya terus naik, mencapai Rp12 ribu per kg, ya terpaksa harganya akan dinaikkan,” ungkap Abdul. 

Kenaikan harga jual tahu nantinya, Abdul memperkirakan mencapai 2-5 ribu per papan. 

Sedangkan untuk saat ini, sebagai upaya mensiasati naiknya modal produksi agar tetap memperoleh keuntungan, para perngrajin mengurangi ukuran dan timbangan bahan baku. 

Sebab, selain harga kedelai, harga plastik untuk membungkus tahu juga ikut mengalami kenaikan. Dari yang awalnya Rp7 ribu per kemasan menjadi Rp10-11 ribu per kemasan. 

“Meskipun sudah disiati, omzet produksi ini tetap turun, kisaran 20-30 persen,” ungkapnya. 

Adapun dalam satu kali produksi ia biasanya menghabiskan 3-4 kwintal kedelai yang rata-rata membutuhkan 16-20 kali proses pemasakan. 
  
Abdul mengatakan kebanyakan pengrajin tahu sebenarnya lebih menyukai kedelai lokal ketimbang kedelai impor. Sebab kedelai lokal menghasilkan sari kedelai yang lebih banyak sehingga membuat tekstur tahu lebih padat dan kenyal. 

Hanya saja, harga kedelai lokal saat ini mencapai Rp14 ribu per kilogram. Harganya yang lebih mahal, membuat pengrajin tahu akhirnya bergantung pada kedelai impor.  

“Harapannya harga bisa normal lagi, pemerintah bisa memikirkan para pengrajin biar tetap bisa berjalan, konsumen tidak terlalu mahal, produsen tetap bisa untung,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dipicu Api Cemburu, Pria di Jepara Tega Bakar Mantan Istri dan Mertua

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Peristiwa pilu dialami oleh Margi (89), Warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Margi dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami luka bakar akibat perbuatan mantan menantunya. 

Peristiwa itu terjadi pada Jumat, (3/4/2026) dini hari sekitar pukul 01.45 WIB di kediaman rumah Margi. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela menjelaskan, peristiwa itu dilakukan oleh terduga pelaku berinisial WD (64), Warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. 

Pelaku saat ini sudah berhasil diamankan. Dari hasil pemeriksaan, WD tega melakukan perbuatan tersebut akibat cemburu, mantan istrinya yaitu Sriningsih (55) yang merupakan anak Margi akan menikah kembali. 

Baca juga : Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

“Motifnya ini pelaku merasa cemburu, mantan istrinya akan menikah lagi sehingga membakar mantan istri dan mertuanya,” kata AKP Wildan pada Sabtu, (4/4/2026). 

Adapun kronologi peristiwanya, yaitu pada Jumat dini hari, WD secara diam-diam masuk ke dalam kamar korban dengan membawa BBM jenis pertalite. 

Mengetahui kedua korban sedang tidur, WD kemudian menyiram BBM ke tubuh korban dan menyulut api menggunakan kayu yang dibungkus kain. 

Korban sempat berteriak dan meminta bantuan kepada warga sekitar. Akibat peristiwa itu, kedua korban kemudian dilarikan ke RSUD RA Kartini untuk mendapatkan perawatan. Namun, Margi tidak dapat bertahan dan dinyatakan meninggal dunia. 

“Yang mertua terduga pelaku meninggal dunia tadi malam di rumah sakit,” ungkap AKP Wildan. 

Sementara Sriningsih (54) saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD RA Kartini Jepara. Dia masih berjuang untuk hidup dalam kondisi luka bakar parah di sekujur tubuhnya hingga 90 persen.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kota Salatiga Tertarik Gabung, Pertukaran Pelajar Kudus Bakal Digelar Lagi dengan Durasi Lebih Panjang

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Program pertukaran pelajar yang digagas oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris kembali bakal diselenggarakan. Program yang bertujuan untuk pemerataan pendidikan kepada siswa itu, juga menarik minat daerah  lain seperti Kota Salatiga. Mereka berniat untuk bergabung dalam program tersebut.

Menurut Bupati, program tersebut akan kembali dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2026/2027 mendatang. Konsep baru akan diusung demi menyempurnakan pelaksanaan sebelumnya.

“Setelah Lebaran kita lakukan lagi, sudah dipetakan sekolahnya (program pertukaran pelajar jenjang SD maupun SMP). Nantinya untuk durasi pelaksanaan juga akan lebih panjang dari sebelumnya yang hanya tujuh hari,” ungkapnya.

Pelaksanaan program tersebut, kata dia, akan segera dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus. Termasuk rencana durasi belajar di sekolah penempatan yang akan diperpanjang.

Baca juga : 8 Ribu Warga Kudus Diverifikasi Ulang Usai Dicoret dari JKN, Pemkab Siap Tanggung yang Tak Lolos

Ia menyebut, bahwa berdasarkan hasil evaluasi, banyak siswa merasa program itu kurang lama, karena hanya mengikuti ektrakulikuler hanya sekali saja. Sehingga perpanjangan durasi program diambil sebagai langkah agar siswa mampu belajar dengan maksimal.

“Dampaknya luar biasa, bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah baru atau yang ditempati. Terlebih rata-rata orang tua juga ikut mendukung agar pelaksanaan program bisa lebih dari sepekan,” tuturnya.

Terkait kolaborasi dengan daerah lain, Sam’ani mengatakan bahwa saat ini masih dikaji bersama. Mengingat, ketika pelaksanaan lintas daerah tentu akan membutuhkan anggaran dan persiapan yang matang.

Meski begitu, Bupati Kudus mengapresiasi kepada seluruh siswa serta sekolah yang antusias dalam melaksanakan program pertukaran pelajar.

Ia berharap, pada pelaksanaan selanjutnya bisa sukses kembali dan berjalan lancar.

“Hasil evaluasi, rata-rata mendungkung semua. Terutama dari sekolah di desa yang melakukan pertukaran dengan sekolah di kota. Ini dalam rangka pemerataan kualitas pendidikan di Kabupaten Kudus,” sebutnya.

Untuk diketahui, program pertukaran pelajar pelajar kali pertama diluncurkan 19 Januari 2026 lalu, dengan melibatkan 272 pelajar SD dan SMP. Mereka menjalani program tersebut selama tujuh hari di sekolah penempatan.

Program lokal di bidang pendidikan tersebut ditujukan untuk memberikan pengalaman kepada para pelajar, terkait nuansa dan iklim sekolah, kelilmuan, budaya hingga keunggulan yang dimiliki sekolah penempatan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Ketua Fraksi Gerindra Kudus Soroti Pemangkasan Anggaran Riset

0
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira Pramudya. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira Pramudya memberikan kritik tajam terkait tren penurunan alokasi anggaran riset dan inovasi dalam APBD tahun anggaran terbaru. Di tengah kompleksitas persoalan daerah, pemangkasan anggaran riset dinilai sebagai langkah mundur yang membahayakan masa depan pembangunan Kudus.

Valerie yang juga Anggota Komisi A yang membidangi pemerintahan, menegaskan bahwa riset melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah seharusnya menjadi dasar dari setiap kebijakan publik.

Di Kudus, menurut Valerie, ada sejumlah persoalan yang menunggu untuk dituntaskan. Sejumlah masalah tersebut, di antaranya penanganan 6.000an unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pengelolaan sampah masih konvensional (angkut-buang), hingga ancaman banjir tahunan yang merugikan warga hingga ratusan miliar rupiah.

Baca juga: 8 Ribu Warga Kudus Diverifikasi Ulang Usai Dicoret dari JKN, Pemkab Siap Tanggung yang Tak Lolos

“Kami di Fraksi Gerindra sangat menyesalkan penurunan anggaran ini. Riset jangan dianggap sebagai formalitas atau buang-buang uang. Justru dengan riset, kita bisa melakukan efisiensi. Tanpa riset, bantuan RTLH bisa salah sasaran, dan proyek penanganan banjir hanya akan menjadi proyek tambal sulam tanpa hasil permanen,” ujar Valerie, Sabtu (4/4/2026).

Untuk itu, Valeri menyampaikan dua poin utama tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Kudus. Yang pertama, revisi alokasi anggaran; menuntut eksekutif untuk mengkaji ulang pemangkasan anggaran inovasi pada perubahan APBD mendatang, terutama yang bersentuhan dengan mitigasi bencana dan pengentasan kemiskinan. Kedua sinergi Pusat-Daerah; mendorong Pemkab Kudus untuk lebih proaktif menjemput dana riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta BRIN Pusat guna menambal celah fiskal daerah.

Valerie menambahkan, Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kudus tidak akan tinggal diam melihat perencanaan pembangunan yang “berjalan dalam gelap” tanpa panduan riset yang jelas. Menurutnya, tugas kami di Komisi A adalah memastikan tata kelola pemerintahan berjalan efektif.

“Jika anggarannya turun, artinya semangat inovasi Pemkab juga turun. Gerindra akan berdiri paling depan untuk memastikan setiap rupiah uang rakyat di Kudus dibelanjakan berdasarkan data yang akurat, bukan sekadar asumsi birokrasi,” katanya.

- advertisement -

Kasus Campak di Kudus Capai 31, Dinkes Pastikan Tak Ada Kematian

0
Sekretaris Dinas (Sekdin) DKK Kudus, Nuryanto. Foto Betanews.id: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat sebanyak 31 kasus campak dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap ratusan sampel yang dikirim dari sejumlah rumah sakit. Meski demikian, hingga saat ini tidak ditemukan kasus kematian akibat penyakit tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto menjelaskan, bahwa total sampel yang diperiksa di laboratorium di Yogyakarta mencapai 464 sampel, dengan 31 di antaranya dinyatakan positif campak.

“Dari 464 sampel yang diperiksa, ada 31 yang positif campak,” ujar Nuryanto melalui sambungan telepon belum lama ini.

Ia menegaskan, meskipun terdapat kasus, kondisi di Kabupaten Kudus masih terkendali dan belum ada laporan kematian akibat campak.

“Untuk kasus di Kudus masih aman, tidak ada kematian karena campak,” tambahnya.

Baca juga : Kudus Usulkan Kecamatan Bae Jadi Lokasi Sekolah Integrasi

Sebagai upaya penanganan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi campak, terutama bagi bayi. Imunisasi ini merupakan bagian dari program dasar pemerintah dan diberikan secara gratis.

“Imunisasi dasar campak diberikan kepada bayi usia 12 hingga 14 bulan, dan itu gratis karena merupakan program pemerintah,” jelasnya.

Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Nuryanto menjelaskan, campak disebabkan oleh virus yang dapat menyerang seseorang, terutama yang belum mendapatkan imunisasi. Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, mata merah, ruam pada kulit, batuk, pilek, hingga dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan sesak napas.

Pihaknya berharap, dengan berbagai upaya tersebut, jumlah kasus campak di Kudus dapat terus menurun hingga tidak ada lagi kasus yang ditemukan.

“Harapannya kasus campak bisa menurun dan tidak ada lagi, melalui edukasi dan imunisasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

8 Ribu Warga Kudus Diverifikasi Ulang Usai Dicoret dari JKN, Pemkab Siap Tanggung yang Tak Lolos

0
Ilustrasi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 8 ribu warga Kabupaten Kudus saat ini tengah menjalani proses verifikasi ulang setelah sebelumnya dicoret dari kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pemerintah Kabupaten Kudus memastikan warga yang nantinya tidak lolos tetap akan mendapatkan jaminan pembiayaan kesehatan.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus, Putut Winarno, menjelaskan, bahwa sebelumnya terdapat sekitar 12 ribu warga yang dicoret dari kepesertaan PBI JKN. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8 ribu warga kini masuk dalam proses ground checking untuk menentukan kelayakan.

“Saat ini masih proses ground checking selama satu bulan ke depan. Harapannya, 8 ribu warga ini bisa diverifikasi apakah masih layak menerima PBI JKN atau tidak,” ujar Winarno di Pendopo Kudus belum lama ini.

Proses verifikasi dilakukan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang turun langsung ke lapangan.Mereka akan mencocokkan data dengan kondisi riil warga untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Hasil dari verifikasi tersebut nantinya akan menentukan skema pembiayaan. Warga yang dinilai masih layak akan kembali dijamin oleh pemerintah pusat melalui APBN.

Sementara itu, bagi warga yang tidak lagi memenuhi kriteria PBI JKN, pembiayaan kesehatannya akan dialihkan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kudus melalui APBD.

“Yang masih layak akan dicover oleh pusat. Sedangkan yang tidak lolos, tetap akan kita tangani melalui APBD,” jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah juga memastikan perlindungan khusus bagi warga dengan kondisi kesehatan berat. Tercatat sebanyak 202 warga dengan penyakit kronis dan katastropik seperti kanker dan gagal ginjal tetap dijamin pembiayaannya oleh pemerintah pusat dan tidak terdampak proses verifikasi ini.

“Katastropik tidak melalui proses verifikasi. Kepesertaan PBI JKN sudah aktif, sehingga tak mengganggu proses pengobatan mereka,” ungkapnya.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap tidak ada warga, khususnya masyarakat kurang mampu, yang kehilangan akses terhadap layanan kesehatan. 

Editor: Kholistiono

- advertisement -

125 Kopdeskel Merah Putih di Kudus Sudah Laksanakan RAT, Tertinggi di Jateng

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 125 Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih di Kabupaten Kudus telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) hingga 31 Maret 2026. Capaian ini menjadikan Kudus sebagai daerah dengan pelaksanaan RAT tertinggi di Jawa Tengah.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Disnakerperinkop dan UKM Kudus, Muhammad Faiz Anwari, menjelaskan bahwa Kopdeskel Merah Putih merupakan program khusus yang dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025.

Program ini bertujuan mempercepat pembentukan koperasi di seluruh desa dan kelurahan sesuai arahan Presiden.

“Kopdeskel Merah Putih memiliki karakter berbeda dibanding koperasi pada umumnya. Pengurus dipilih melalui musyawarah desa (Musdes),” ujarnya di ruang kerjanya belum lama ini.

Untuk lini usaha, Kopdeskel Merah Putih tidak hanya berfokus pada simpan pinjam.

Koperasi ini diarahkan mengembangkan berbagai sektor seperti sembako, logistik, pergudangan, apotek, klinik, hingga usaha berbasis potensi desa seperti pertanian dan perikanan.

Baca juga : 21 Gerai KDMP di Kudus Sudah Selesai Dibangun, Kedatangan Pikap dari India Masih Dinanti

“Hal ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi desa secara menyeluruh,” imbuhnya.

Dari total 132 desa dan kelurahan di Kudus, seluruhnya telah membentuk Kopdeskel Merah Putih dan berbadan hukum. Nomor Induk Berusaha (NIB) juga telah dimiliki untuk mendukung operasional berbagai unit usaha.

Sebagian besar koperasi kini mulai menjalankan usaha meski masih dalam skala awal. Beberapa di antaranya bergerak di lini sembako, layanan keuangan sederhana, hingga penyaluran gas elpiji.

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan seluruh Kopdeskel sudah aktif menjalankan usaha pada Juni 2026. Target tersebut merupakan bagian dari program nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.

Terkait pelaksanaan RAT, pihaknya mewajibkan seluruh koperasi untuk segera melaksanakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada anggota. Langkah ini juga diperkuat dengan pelatihan sumber daya manusia yang telah dilakukan sejak Desember 2025.

“Walaupun masih baru dan usahanya kecil, RAT tetap harus dilakukan karena sudah ada simpanan anggota yang harus dipertanggungjawabkan. Transparansi keuangan menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat,” jelasnya.

Dengan capaian 125 koperasi yang telah RAT atau sekitar 94 persen, Kudus dinilai jauh melampaui daerah lain di Jawa Tengah. Di sejumlah kabupaten/kota lain, pelaksanaan RAT Kopdeskel masih berada di angka yang jauh lebih rendah.

“Kami menargetkan seluruh Kopdeskel Merah Putih di Kudus telah menyelesaikan RAT dalam waktu dekat. Ini penting untuk mencegah potensi konflik sekaligus memperkuat tata kelola koperasi di tingkat desa,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sebut Kesejahteraan Guru Kurang Diperhatikan, Siswa SMK di Kudus Surati Presiden Minta Hal Ini

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pelajar asal Kabupaten Kudus menyampaikan aspirasi tak biasa kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui postingan media sosial di akun pribadinya. Ia memilih menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta agar anggaran tersebut dialihkan untuk kesejahteraan guru.

Pelajar tersebut adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI di SMK NU Miftahul Falah Kudus. Dalam surat terbukanya, Arsya mengungkapkan latar belakang dirinya yang berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah seorang buruh dan ibu rumah tangga.

Unggahan yang diposting, Kamis (2/4/2026) kemarin di akun Instagramnya dengan akun arsya_graph. Unggahan itu mendapat banyak respon dari netizen. Dengan total suka sebanyak 28,9 ribu, komentar sebanyak 1.031, dan diposting ulang lebih dari 4.000 hingga Jumat (3/4/2026) sore.

Dalam postingannya ia mengatakan, bahwa sejak kecil telah diajarkan untuk menghormati guru sebagai sosok penting setelah orang tua. Menurutnya, peran guru, ustadz, hingga kiai sangat besar dalam membentuk karakter dan pengetahuan dirinya.

Namun di sisi lain, ia menyoroti kondisi kesejahteraan guru yang dinilainya masih belum memadai, termasuk di sekolah tempatnya menimba ilmu.

“Masih banyak guru yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum mendapatkan kesejahteraan yang layak,” tulisnya dalam surat tersebut.

Baca juga: WFH ASN di Kudus Ditarget Hemat BBM 25 Persen, Layanan Publik Tetap Maksimal

Melalui surat itu, murid kelas XI SMK NU Miftahul Falah Kudus itu menyatakan secara pribadi menolak menerima manfaat MBG. Ia bahkan menghitung estimasi anggaran yang seharusnya ia terima selama sisa masa sekolahnya, yakni sekitar Rp6,75 juta.

Menurutnya, nominal tersebut mungkin tidak terlalu berdampak bagi dirinya, tetapi akan lebih berarti jika dialihkan sebagai tambahan kesejahteraan bagi para guru.

“Jika dihitung secara sederhana (sisa menimba ilmu di sekolah) 18 bulan X 25 hari X Rp15.000 = Rp6.750.000. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” ujarnya.

Tak hanya menyampaikan aspirasi pribadi, Arsya juga mengajak pelajar lain untuk lebih peduli terhadap nasib guru. Ia menilai kesejahteraan guru merupakan salah satu kunci utama kemajuan pendidikan dan masa depan bangsa.

Ia menegaskan bahwa surat tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian sebagai pelajar terhadap dunia pendidikan.

“Ini bukan penolakan terhadap pemerintah, tetapi bentuk kepedulian saya terhadap kesejahteraan guru,” tulisnya.

Arsya berharap aspirasinya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan ke depan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Karateka Pati Christo Siap Ukir Sejarah di Kompetisi Dunia WPL

0

BETANEWS.ID, PATI -Dua kompetisi internasional akan diikuti karateka kebanggaan, Pati, Jawa Tengah Christopher Edbert Setiabudi pada bulan ini. Event terdekat, yakni World Premier League (WPL) di Leshan, Sichuan, Tiongkok, yang digelar pada 10–12 April 2026.

Kompetisi tersebut merupakan ajang bergengsi lantaran merupakan kompetisi ranking resmi World Karate Federation (WKF). Tidak semua atlet dapat berlaga dalam ajang bergengsi itu. WPL hanya diikuti oleh atlet yang masuk dalam peringkat 100 besar dunia. Biasanya kuota telah terisi oleh atlet papan atas, khususnya peringkat 32 besar dunia. Christo kini tercatat menduduki peringkat ke-71 dunia.

Sebagai bagian dari persiapan, karateka yang akrab disapa Christo ini mengaku, telah menjalani pemusatan latihan nasional Asian Games sejak akhir Januari 2026. Pada Kamis, 2 April 2026, tim nasional juga menggelar simulasi bersama Forki DKI Jakarta untuk persiapan menghadapi WPL dan Series A dengan hasil yang memuaskan.

“Terima kasih atas kepercayaan PB Forki serta doa dari masyarakat Pati dan Jawa Tengah. Saya akan berusaha maksimal dan memberikan yang terbaik,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Christo akan turun di nomor kata perorangan putra. Kendati bakal menghadapi rival terbaik dunia, atlet kelahiran 11 Mei 2005 ini mengaku telah siap dan tak gentar.

“Saya akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menambah pengalaman. Belajar dari atlet top dunia, serta memperbaiki peringkat, ” tandasnya.

Christo memiliki motivasi besar untuk dapat berbicara banyak di ajang dunia WPL. Meskipun, baginya tampil di kasta tertinggi kompetisi rangking resmi WKF itu, merupakan pengalaman kali pertama.

“Ini momen bersejarah, tidak hanya bagi saya tetapi juga untuk Kabupaten Pati dan Provinsi Jawa Tengah,” katanya.

Tampilnya Christo dalam ajang tersebut, juga menjadi bukti, bahwa atlet daerah mampu menembus panggung dunia melalui kerja keras, disiplin, dan konsistensi.

Sepulang dari WPL, Christo dijadwalkan melanjutkan berkompetisi di Spanyol. Dia akan bertarung dalam ajang Karate1 Series A di A Coruña pada 24–26 April 2026. Event itu sebagai bagian dari upaya menambah jam terbang dan meningkatkan peringkat dunia.

Dalam ajang tersebut, tidak hanya Christo yang ambil bagian. Atlet timnas Indonesia lainnya, yakni Ceyco dan Leica juga akan turun di nomor kumite putri -68 kg.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Soal Kasus Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pimpinan Ponpes di Jepara, Polisi Masih Tunggu Hasil Pemeriksaan Barang Bukti

0
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh salah satu oknum pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Jepara berinisial AJ terhadap santrinya sendiri saat ini sedang dalam tahap penyidikan.

Berdasarkan surat nomor: B/206/III/RES. 1. 24/2026/Reskrim yang ditandatangani oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela pada 16 Maret 2026 lalu, terdapat tujuh poin hasil perkembangan penyidikan.

Yaitu, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap lima orang saksi, pemeriksaan kepada satu orang dokter ahli, pengecekan Tempat Kejadian Perkara (TKP), mengambil hasil visum et repertum dari RSUD RA Kartini, mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Jepara, melakukan penyitaan, dan melakukan pemeriksaan barang bukti.

Adapun surat perintah naiknya kasus tersebut ke tahap penyidikan yaitu pada tanggal 23 Februari 2026. Sementara kasus tersebut sudah dilaporkan ke Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jepara pada bulan November 2025 lalu.

Baca juga: Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

“Saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan barang bukti secara digital forensik,” kata AKP Wildan pada Betanews.id, Jumat (3/4/2026).

Selain itu untuk melengkapi berkas penyidikan, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan kepada tiga orang saksi dari pondok pesantren.

Sebagai informasi, kasus dugaan pencabulan yang diduga dilakukan oleh AJ terhadap salah seorang santrinya pertama kali terjadi pada tanggal 27 April 2025 di salah satu ruangan yang ada di lingkungan ponpes.

Tindakan itu terus dilakukan berulang oleh AJ hingga tanggal 24 Juli 2025. Kasus tersebut akhirnya terungkap saat adik korban tidak sengaja melihat isi percakapan di HP korban dengan terduga pelaku dan melaporkannya kepada keluarga korban.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

27 Atlet Karate Jepara Bidik Medali Emas Dalam Kejurprov Forki Jateng

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Sebanyak 27 atlet karate asal Jepara akan bertanding dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Piala Bambang Raya Cup 2026 yang akan digelar pada 4-5 April besok di GOR Paku Bumi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Semangat dan optimisme turut mengiringi pelepasan kontingen tersebut yang bertempat di ruang serbaguna Gedung DPRD Kabupaten Jepara pada Jumat (3/4/2026). Pelepasan tersebut dilakukan oleh 

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, Agus Sutisna mengatakan,  para atlet tersebut akan bertanding di 27 kelas yang berbeda. Menurutnya, mereka sudah menunjukkan kesiapan penuh untuk bersaing di berbagai kategori.

Ia juga optimis terhadap kemampuan para atlet Jepara. Ia menilai persiapan yang telah dilakukan menjadi modal penting untuk meraih hasil maksimal.

“Dengan semangat, disiplin, dan latihan yang telah dijalani, saya optimis kontingen FORKI Jepara mampu meraih prestasi terbaik, bahkan menjadi juara umum,” ujarnya.

Baca juga : Ratusan Sekolah di Jepara Kembali Diusulkan Bantuan Revitalisasi

Tak hanya memberikan dukungan moral, Agus juga menyerahkan uang pembinaan kepada para atlet sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Ia berharap perhatian tersebut dapat menambah semangat juang para atlet dalam setiap pertandingan.

Target yang diusung pun tidak tanggung-tanggung. Kontingen FORKI Jepara membidik raihan medali emas sebanyak-banyaknya, sebagai langkah strategis untuk mengamankan posisi juara umum dalam kejuaraan tersebut.

Dengan kekompakan tim dan mental juara yang dimiliki, FORKI Jepara diyakini mampu bersaing dan membawa pulang hasil membanggakan.

Keikutsertaan dalam kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momentum untuk menunjukkan kualitas atlet-atlet muda Jepara di tingkat provinsi. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan menjadi energi tambahan bagi para atlet untuk mengharumkan nama daerah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang Timur Tengah

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Imbas bahan utama pembuat plastik, yakni minyak bumi sulit didapatkan akhir-akhir ini, membuat harga plastik di sejumlah tempat mengalami kenaikan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kudus, harga plastik kian menunjukan kenaikan drastis hingga mencapai 90-100 persen dari harga normalnya.

Dampaknya, penjualan plastik kini mengalami penurunan. Seperti yang dialami oleh pedagang plastik di Pasar Kliwon, Rohman. Katanya, penurunan daya beli hingga 40 persen. Apalagi untuk stok plastik saat ini kian sulit dijumpai.

Menurutnya, kenaikan harga plastik tersebut disebabkan adanya stok minyak di Indonesia yang semakin menipis. Hal itu dipicu karena akibat perang di timur tengah, sehingga pasokan minyak kini mulai berkurang.

“Kenaikan harga ini mulai naik pertengahan puasa. Harga berangsur-angsur naik hingga mencapai 90-100 persen,” bebernya saat ditemui di lapaknya, lantai 2 Pasar Kliwon Kudus, Jumat (3/4/2026).

Ia menuturkan, harga plastik yang sebelumnya Rp3.000 kini naik menjadi Rp6.000. Bahkan, untuk jenis plastik berbahan murni seperti PE, kenaikannya bisa mencapai 100 persen. Tak hanya itu, gelas cup yang teerbuat dari plastik juga mengalami kenaikan 100 persen, dari Rp12.500 menjadi Rp23.000 per slopnya.

Baca juga: Pengrajin Tempe di Jepara Keluhkan Harga Kedelai dan Plastik yang Naik Imbas Perang AS-Israel Vs Iran

“Harga berubah-ubah hampir setiap hari. Kami sebagai penjual juga bingung menentukan harga jual,” keluhnya.

Ia berharap kondisi harga bisa segera kembali stabil agar aktivitas perdagangan kembali normal, terutama bagi pelaku usaha kecil.

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pelaku UMKM makanan, salah satunya Romli yang berjualan cilor maklor. Ia mengaku harus menanggung kenaikan harga bahan baku tanpa berani menaikkan harga jual produknya.

“Keuntungan turun sekitar 5 persen. Harga plastik naiknya terasa sekali sejak pertengahan puasa, paling tinggi sejak awal pekan ini,” jelasnya.

Ia menyebut, harga plastik yang sebelumnya berkisar Rp13–14 ribu kini naik menjadi Rp19 ribu. Bahkan ada jenis lain yang melonjak dari Rp22 ribu menjadi Rp30 ribu.

Meski demikian, Romli tetap mempertahankan harga jual produk seperti cilok goreng (cilor), makaroni telur (maklor), dan mi telur (milor) agar pelanggan tidak berkurang.

“Kalau harga jual dinaikkan, takutnya pelanggan malah tidak beli,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Usai Viral, Keluarga Santri Korban Dugaan Pencabulan oleh Pimpinan Ponpes di Jepara Ngaku Sempat Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, JEPARA– Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh salah satu oknum pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Jepara berinisial AJ terhadap santrinya sendiri saat ini terus berlanjut.

Ditemui di kediamannya, orang tua korban yang didampingi kuasa hukum korban, Erlinawati bercerita bahwa usai kasus tersebut viral dan menjadi perhatian publik, pihaknya mengaku sempat ditawari uang sebagai tanda damai oleh kuasa hukum AJ.

Ayah korban bercerita, kuasa hukum dari AJ sempat satu kali datang ke kediamannya pada Selasa, (3/3/2026) lalu. Saat itu yang bersangkutan meminta agar kasus tersebut dihentikan.

Sebagai kompensasi, mereka memberikan penawaran uang kepada keluarga korban. Nominalnya yaitu Rp100 juta, Rp150 juta, dan Rp200 juta.

“Setelah itu pengacaranya ini pulang dan kirim WA nawari Rp150 juta, tidak saya terima,” ucap ayah korban saat ditemui Betanews.id di kediamannya pada Kamis, (2/4/2026).

Permintaan itu dengan tegas ditolak oleh keluarga korban, sebab mereka menginginkan kasus tersebut tetap berjalan hingga tuntas sampai keluar putusan dari pengadilan.

Sementara itu, ibu korban berharap, dengan terungkapnya kasus dugaan pencabulan yang diduga dilakukan oleh AJ, tidak akan ada santri lain di ponpes AJ yang menjadi korban.

Baca juga: Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

Sebab dari informasi yang ia peroleh, ibu korban mengatakan, kasus tersebut tidak hanya menimpa putrinya dan bukan pertama kali terjadi di lingkungan ponpes milik AJ.

“Tindakan ini harus dihentikan, jika tidak diberantas takutnya korban semakin banyak,” ucapnya dengan tegas namun menahan tangis.

Sementara itu, Kuasa Hukum Korban, Erlinawati mengatakan, penawaran uang damai tidak hanya disampaikan oleh kuasa hukum AJ kepada keluarga korban.

Sebelum datang ke kediaman keluarga korban, pada Ramadan kemarin, Erlina mengaku, bahwa kuasa hukum dari AJ juga sempat beberapa kali datang ke kediamannya. Tujuannya sama yaitu meminta agar laporan kasus tersebut dihentikan serta menawari sejumlah uang.

“Pengacara (terduga) pelaku juga sempat beberapa kali datang ke rumah saya, sama sempat menawari juga uang Rp150 juta,” ungkapnya.

Erlinawati melanjutkan, pada Senin, (16/3/2026) lalu ia menerima surat pemberitahuan perkembangan penyidikan dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara.

Dalam surat tersebut tertulis, perkembangan penyidikan yang telah dilakukan penyidikan yaitu pemeriksaan terhadap lima orang saksi, pemeriksaan kepada ahli dokter, pengecekan Tempat Kejadian Perkara (TKP), mengambil hasil visum et repertum dari RSUD RA Kartini, mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Jepara, melakukan penyitaan, dan melakukan pemeriksaan barang bukti.

“Harapannya kasus ini secepatnya segera di proses, karena sudah terlalu lama, sudah hampir satu satu tahun sejak kejadian pertama di bulan April 2025,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Taj Yasin Sebut Penguasaan Bahasa Arab Bisa Sebagai Alat Diplomasi

0
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong para mahasiswa penggiat bahasa Arab untuk tidak sekadar menguasai bahasa arab secara lisan, tetapi juga melestarikan khazanah tulisan Arab Pegon.

Sebab, menurutnya, Bahasa Arab bukan sekadar warisan pesantren, melainkan instrumen penting untuk diplomasi, terutama dengan negara-negara yang berbahasa Arab.

Hal tersebut ditegaskan Taj Yasin saat menghadiri acara Pelantikan Serentak dan Rakernas Dewan Pimpinan Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab se-Indonesia atau Ittihadu Tholabah Al-Lughah Al-Arabiyah bi Indonesia (Ithla)di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat (3/4/2026).

Sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini memaparkan, Arab Pegon memiliki nilai historis yang luar biasa sebagai alat komunikasi lintas budaya.

Sebagai informasi, Arab Pegon adalah sistem penulisan menggunakan abjad hijaiyah yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa lokal seperti Jawa, Melayu, dan lainnya. Tradisi ini masih berjalan di peseantren-pesantren di Indonesia.

Bahkan, di masa lalu Pegon digunakan sebagai bahasa pengantar delegasi antar-kerajaan di wilayah Nusantara, mulai dari Jawa hingga Semenanjung Melayu.

“Pegon ini dulu di era kerajaan menjadi forum (instrumen komunikasi) antar-kerajaan di Nusantara,” ujar Gus Yasin.

Karenanya, Ia berharap Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab se-Indonesia tidak hanya terpaku pada penerjemahan secara letterleg dengan abjad Latin, tetapi juga menginovasikan penggunaan Pegon dalam platform digital.

Baca juga: Jurus Pemprov Jateng Dongkrak PAD Melalui Optimalisasi Aset

Selain aspek budaya, Wagub menyoroti peran strategis Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab se-Indonesia sebagai organisasi yang mampu mencetak delegasi internasional. Mengingat posisi Timur Tengah yang krusial dalam geopolitik dan ekonomi global. Karenenya, penguasaan bahasa Arab menjadi modal diplomatik yang kuat.

Gus Yasin mengapresiasi langkah Ithla yang telah konsisten mendelegasikan pengajar bahasa Arab ke berbagai negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Ia berharap, peran ini meluas hingga ke kancah politik internasional.

“Organisasi Ithla bisa menjadi delegasi utusan Indonesia untuk melakukan politik internasional. Jika kita memiliki kompetensi bahasa yang kuat di kampus-kampus, mahasiswa kita bisa menjadi penyambung lidah Indonesia untuk mengomunikasikan berbagai permasalahan global,” imbuhnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen mendukung pengembangan sumber daya manusia berbasis pesantren dan bahasa Arab.

Gus Yasin memaparkan saat ini Pemprov Jateng melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergis Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, telah membuka beasiswa untuk jenjang S1 hingga S3, baik di dalam maupun luar negeri.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 439 pendaftar yang tengah mengikuti tahapan seleksi. Wagub berharap Ithla dapat bersinergi dengan Pemprov Jateng dalam program-program penguatan pendidikan ke depan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -