BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat sebanyak 31 kasus campak dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap ratusan sampel yang dikirim dari sejumlah rumah sakit. Meski demikian, hingga saat ini tidak ditemukan kasus kematian akibat penyakit tersebut.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto menjelaskan, bahwa total sampel yang diperiksa di laboratorium di Yogyakarta mencapai 464 sampel, dengan 31 di antaranya dinyatakan positif campak.
“Dari 464 sampel yang diperiksa, ada 31 yang positif campak,” ujar Nuryanto melalui sambungan telepon belum lama ini.
Ia menegaskan, meskipun terdapat kasus, kondisi di Kabupaten Kudus masih terkendali dan belum ada laporan kematian akibat campak.
“Untuk kasus di Kudus masih aman, tidak ada kematian karena campak,” tambahnya.
Baca juga : Kudus Usulkan Kecamatan Bae Jadi Lokasi Sekolah Integrasi
Sebagai upaya penanganan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi campak, terutama bagi bayi. Imunisasi ini merupakan bagian dari program dasar pemerintah dan diberikan secara gratis.
“Imunisasi dasar campak diberikan kepada bayi usia 12 hingga 14 bulan, dan itu gratis karena merupakan program pemerintah,” jelasnya.
Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Nuryanto menjelaskan, campak disebabkan oleh virus yang dapat menyerang seseorang, terutama yang belum mendapatkan imunisasi. Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, mata merah, ruam pada kulit, batuk, pilek, hingga dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan sesak napas.
Pihaknya berharap, dengan berbagai upaya tersebut, jumlah kasus campak di Kudus dapat terus menurun hingga tidak ada lagi kasus yang ditemukan.
“Harapannya kasus campak bisa menurun dan tidak ada lagi, melalui edukasi dan imunisasi kepada masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

