Beranda blog Halaman 24

Rehab 47 Sekolah di Kudus Segera Berjalan, Anggaran Rp13 Miliar Disiapkan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus segera memulai proyek rehabilitasi puluhan sekolah pada tahun 2026. Proyek ini ditargetkan mulai berproses dalam waktu dekat setelah tahapan perencanaan rampung.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan sejumlah dokumen perencanaan untuk proyek tersebut telah selesai disusun. Saat ini, pihaknya tengah bersiap masuk ke tahap berikutnya.

“Perencanaan sudah ada beberapa yang selesai. Minggu ini kemungkinan mulai kita proses pemilihan penyedia melalui pejabat pengadaan barang dan jasa,” ujar Anggun melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Anggun menjelaskan, proses pengadaan akan segera diajukan kepada tim pengadaan agar pekerjaan fisik dapat segera dilaksanakan. Dengan demikian, proyek rehabilitasi bisa berjalan sesuai target yang telah ditentukan.

“Pada tahun 2026 ini, total anggaran yang dialokasikan untuk rehabilitasi sekolah mencapai sekitar Rp13 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki puluhan sekolah yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Kudus,” bebernya.

Secara rinci, lanjutnya, terdapat 47 sekolah yang menjadi sasaran program rehabilitasi. Jumlah tersebut terdiri dari 7 sekolah tingkat SMP dan 40 sekolah dasar (SD).

Beberapa sekolah yang masuk dalam daftar prioritas di antaranya SMP 1 Dawe, SD 2 Sidomulyo, serta sejumlah SD yang berada di wilayah Kecamatan Bae. Pemilihan lokasi didasarkan pada kondisi bangunan yang membutuhkan perbaikan.

Adapun jenis pekerjaan yang akan dilakukan meliputi rehabilitasi ruang kelas, ruang guru, hingga fasilitas pendukung seperti jamban. Perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan lingkungan belajar.

“Pemerintah berharap melalui program ini, kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Kudus dapat semakin meningkat. Dengan fasilitas yang lebih baik, proses belajar mengajar diharapkan berjalan lebih optimal dan mendukung peningkatan mutu pendidikan,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sidak RSUD Kartini, DPRD Jepara Pastikan Pelayanan Tetap Prima 

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, Agus Sutisna melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus monitoring terhadap fasilitas dan kualitas pelayanan di RSUD RA Kartini Jepara pada Senin (6/4/2026).

Selain memastikan standar pelayanan publik, kunjungan ini juga membawa misi kemanusiaan bagi warga dari wilayah kepulauan.

Di sela-sela pemantauannya, Agus secara khusus mengunjungi bangsal perawatan Muhammad Devan Alvaro, seorang bayi asal Desa Karimunjawa yang lahir dengan kondisi jantung tidak normal. Devan merupakan putra dari keluarga nelayan tradisional yang saat ini sangat membutuhkan penanganan medis intensif.

Agus menegaskan, bahwa DPRD Jepara memberikan perhatian khusus bagi masyarakat Karimunjawa, terutama kelompok nelayan yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Baca juga: ASN di Jepara Dipastikan Tidak Ikut WFH 

“Pemerintah secara rutin melakukan pengawasan kepada pelayanan RSUD Kartini karena ini adalah rumah sakit andalan masyarakat Kabupaten Jepara. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat nelayan yang berpenghasilan jauh di bawah kecukupan tetap bisa terlayani dengan sangat baik tanpa terkendala apa pun,” kata Agus kepada Betanews.id.

Agus mengatakan, memberikan apresiasi atas kinerja jajaran direksi RSUD Kartini yang berupaya meningkatkan mutu layanan. Khusus untuk kasus bayi Devan, Agus mengungkapkan, bahwa pemerintah daerah sedang mengupayakan langkah cepat agar beban biaya pengobatan tidak memberatkan keluarga.

“Saat ini sedang diupayakan percepatan aktivasi BPJS bagi ananda Devan agar seluruh proses pengobatannya dapat ter-cover pembiayaannya. Ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah daerah hadir untuk memberikan solusi bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan pelayanan kesehatan maksimal, terutama bagi mereka yang kurang mampu,” tambahnya.

Selain memberikan dukungan kebijakan, ia memberikan santunan kepada keluarga Devan sebagai bentuk kepedulian untuk membantu kebutuhan operasional keluarga selama di rumah sakit.

Melalui sidak tersebut Agus berharap bisa menjadi pemantik semangat bagi tenaga medis untuk terus memberikan pelayanan prima, sekaligus memastikan bahwa jarak geografis seperti dari Karimunjawa tidak menjadi penghalang bagi warga untuk mendapatkan keadilan dalam pelayanan kesehatan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kenaikan Harga Plastik Capai 90 Persen, Pedagang di Jepara Cuma Bisa Pasrah 

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Harga kemasan plastik saat ini terus merangkak naik. Kenaikan harganya bahkan sudah mencapai 90 persen sejak pertama kali naik pada pertengahan Bulan Ramadan kemarin.

Salah satu pedagang plastik di Pasar Jepara II, Ridwan Al Fattah (39), pemilik Toko Sumber Gemilang Plastik bercerita, kenaikan harga kemasan plastik saat pertama kali naik, awalnya hanya kisaran 50 persen dari harga semula. 

“Harga naik itu sekitar pertengahan Ramadan sampai sekarang. Kenaikannya kalau sampai sekarang ya sekitar 50-90 persen,” katanya saat ditemui di tokonya yang berada di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara pada Senin, (6/4/2026). 

Ridwan mencontohkan, harga kemasan plastik yang awalnya Rp3 ribu per kemasan, saat ini harga jualnya bisa mencapai Rp5-6 ribu per kemasan. 

Baca juga: Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang Timur Tengah

Akibat kenaikan tersebut, ia mengaku banyak pembeli yang komplain. Sebab kenaikan harga hampir terjadi setiap minggu. 

“Setiap kulakan (belanja) harganya pasti naik. Kalau seminggu kulakan tiga kali, ya naiknya tiga kali,” ungkapnya. 

Di tengah harganya yang terus mengalami kenaikan, stok kemasan plastik menurut Ridwan terkadang juga sempat terkendala. Sebab dari informasi yang ia terima, produksi barang dari pabrik juga dikurangi. 

“Stoknya kadang susah, order (pesan) barang kadang nyampeknya telat, seminggu kadang baru dikirim, soalnya dari sana katanya juga dikurangi (produksinya),” ujarnya. 

Ridwan mengatakan, kenaikan tersebut diprediksi masih akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Kenaikan tersebut terjadi akibat harga biji plastik saat ini ikut naik. Karena harganya menyesuaikan kondisi rupiah terhadap dollar. 

Kenaikan harga tersebut menurut Ridwan memang tidak berdampak pada jumlah penjualan. Sebab kemasan plastik tetap dibutuhkan oleh pembeli, terutama pedagang makanan dan minuman. 

Akan tetapi laba atau keuntungan bersih yang ia terima cukup terdampak. Yaitu berkurang sekitar 20-30 persen dari sebelumnya. 

“Harapannya harga bisa stabil lagi, tiga tahun merintis jualan plastik, baru ini harganya naik terus kayak gini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Demi Hemat Energi, Inilah Transformasi Budaya Kerja ASN Pemprov Jateng

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan transformasi budaya kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kerjanya, guna untuk menghemat energi.

Transformasi itu ditandaskan dalam Surat Edaran Nomor B/000.8.3/3/2026 Tentang Transformasi Budaya Kerja Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Surat tertanggal 1 April 2026 itu menindaklanjuti SE Mendagri Nomor 800.1.5/3349/SJ tentang Transformasi Budaya Kerja Aparatur Sipil Negara.

Dalam SE yang dikeluarkan oleh Pemprov Jateng tersebut, di antaranya penerapan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi sebagian ASN setiap Jumat, membatasi atau mengurangi pelaksanaan perjalanan dinas dalam negeri sebanyak 50% dan perjalanan dinas luar negeri sebanyak 70%, dan/atau mengurangi frekuensi serta mengurangi jumlah rombongan yang melakukan perjalanan dinas.

Selain itu juga mengutamakan pelaksanaan rapat, bimbingan teknis, seminar, konferensi dan lain-lain dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam SE tersebut, ASN juga perlu membatasi dan mengurangi penggunaan kendaraan dinas jabatan maksimal 50%, meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, transportasi umum, sepeda dan alat transportasi lain yang tidak berbasis bahan bakar fosil.

Selain itu, transformasi budaya kerja ASN juga dilakukan melalui :Penggunaan listrik di ruangan kerja dihidupkan pukul 06.30-15.30 WIB sesuai kebutuhan riil, dan di luar ruangan/ruang terbuka secara terbatas jam 17.30- 05.30 WIB; penggunaan AC diaplikasikan pada suhu efisien 24-26ºC sesuai kebutuhan; lampu/pendingin ruangan (AC) yang ditinggalkan 2 jam atau lebih dimatikan sesuai kebutuhan; Pemakaian air bersih dikontrol sesuai kebutuhan riil di lapangan, dan memulai inisiatif pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti Sel Surya di lingkungan kantor.

Para ASN juga dapat melakukan jalan kaki, diutamakan bagi pegawai dengan jarak tempat tinggal dan kantor kurang atau sama dengan kurang lebih 1,5 kilometer; Menggunakan alat transportasi non bahan bakar minyak seperti sepeda dan sepeda listrik, diutamakan bagi ASN dengan jarak antara tempat tinggal dan kantor kurang dari 10 kilometer dan kontur relatif datar; Menggunakan angkutan umum bagi yang memungkinkan dari aspek aksesibilitas, jarak dan waktu tempuh, serta ketersediaan sarana angkutan; dan Penggunaan kendaraan bersama (carpooling atau ride-sharing) untuk beberapa pegawai sesuai dengan kapasitas kendaraan.

“Kita mendorong teman-teman ASN ini merubah pola kerja dengan lebih mengedepankan untuk efisiensi, dan juga tidak banyak aktivitas yang pindah tempat. Kita didorong untuk mengedepankan kegiatan-kegiatan secara daring,” Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno disela acara Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jateng, Senin, 6 April 2026.

Ia menyampaikan, untuk berangkat ke kantor, ASN dapat mengurangi penggunaan kendaraan yang menggunakan bahan bakar karbon. Syukur-syukur bisa dengan jalan kaki atau bersepeda. Bahkan, kalau memang terpaksa jarak jauh, juga didorong untuk berbarengan, tidak masing-masing membawa kendaran bermotor sendiri-sendiri.

“Kita sangat mengharapkan bahwa ini akan berdampak untuk efisiensi penggunaan bahan bakar karbon,” tandasnya.

Sumarno menambahkan, Pemprov juga akan menyusulkan surat baru terkait aktivitas hari Jumat. Ada dua landasan, yaitu SE Mendagri tentang Transformasi Budaya Kerja ASN dan Menpora yang menetapkan hari Jumat sebagai Hari Krida. Hari Krida diartikan sebagai hari kesehatan dan juga hari olahraga.

Aturan tersebut akan diterapkan kepada ASN yang sedang menjalankan tugas kedinasan dari kantor atau Work From Office (WFO) dan tidak menjalani Work From Home (WFH). Pada hari Jumat, aktivitas ASN ke kantor merupakan bagian dari olahraga, misalnya, bersepeda atau berlari.

Adapun jumlah ASN yang melaksanakan WFH, saat ini belum dapat dipastikan angkanya, karena tergantung kebijakan masing-masing OPD. Terlebih, setiap OPD memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Sumarno menegaskan, dengan aturan kerja melalui daring, kepala OPD bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan kebijakan WFH. Melalui konsep tersebut, diharapkan kinerja dan aktivitas untuk kepada masyarakat tidak berkurang.

Dia menambahkan, tidak semua OPD dapat menjalankan WFH. Misalmya, rumah sakit atau layanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Misalnya, Samsat. Selain itu, pejabat Eselon 1 dan 2 di pemerintahan provinsi juga tidak dapat melaksanakan WFH. Bahkan di kabupaten/kota, pejabat eselon 3 juga tidak memiliki kesempatan menjalani WFH.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Puluhan Emak-Emak Kudus Ikut Pelatihan Bikin Jajanan Pasar, Disiapkan Jadi Wirausaha Mandiri

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kudus menggelar pelatihan pembuatan kue kering dan jajanan pasar pada Senin (5/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman rumah dinas Wakil Bupati Kudus ini diikuti puluhan ibu rumah tangga.

Ketua PKK Kudus, Endhah Endhayani Sam’ani Intakoris, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah nyata untuk memberdayakan ibu-ibu agar memiliki keterampilan yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Program ini diharapkan bisa memberikan bekal kepada ibu rumah tangga agar memiliki kemampuan berwirausaha. Dengan begitu, mereka bisa menghasilkan karya yang bernilai sekaligus membantu perekonomian keluarga,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, ke depan para peserta pelatihan didorong untuk benar-benar menekuni usaha mandiri. Selain menambah penghasilan, hal ini juga diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan keluarga di Kudus.

“Nantinya kalau produk kita bisa bantu promosi. Produknya bisa dititipkan di Dekranasda,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Disnakerperinkop dan UKM Kudus, Catur Widiyanto, menyampaikan bahwa pelatihan ini memang menyasar ibu-ibu PKK sebagai kelompok yang potensial untuk dikembangkan.

“Pelatihan ini diikuti 32 peserta dan akan berlangsung hingga 25 April 2026. Harapannya, para peserta bisa mengembangkan usaha sendiri setelah pelatihan selesai,” jelasnya.

Ia menambahkan, program pelatihan tersebut didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Alokasi tahun ini kurang lebih sebesar Rp 2 miliar.

“Selain pelatihan ini, kami juga menyelenggarakan berbagai pelatihan lain seperti montir, menjahit, konten kreator, hingga editing video. Secara keseluruhan ada 36 paket pelatihan dengan total peserta mencapai sekitar 576 warga Kudus,” rincinya.

Dia berharap, pelatihan ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para warga. Bagi mereka yang sudah punya usaha bisa untuk meningkatkan keterampilan. Sementara yang belum, bisa berlatih agar punya keterampilan sesuai yang ingin ditekuni.

“Semoga program ini mampu membuka peluang usaha baru di Kota Kretek. Sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat dari level rumah tangga,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tenggak Cairan Obat Tanaman, Tersangka Pembakar Mantan Istri dan Mertua di Jepara Meninggal

0
oplus_0

BETANEWS.ID, JEPARA– WD (64), warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, tersangka dalam kasus tindak pidana membakar mantan istri dan mertuanya dinyatakan meninggal dunia pada Senin, (6/4/2026). 

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, tersangka  meninggal dunia akibat gagal nafas sebab kondisi jantungnya dalam dua hari terakhir tidak stabil. 

“Tersangka tadi pagi sekitar pukul 07.30 WIB meninggal dunia karena diakibatkan gagal nafas, sebab beberapa hari ini kondisi jantungnya tidak stabil,” ungkap AKP Wildan saat ditemui di depan Kantor Satreskrim Polres Jepara. 

Wildan melanjutkan tersangka mengalami gagal nafas karena sebelumnya sempat mencoba bunuh diri dengan meminum cairan obat untuk tanaman, usai ia menyiram bensin jenis pertalite ke tubuh mantan istri dan mertuanya. Peristiwa itu terjadi pada Jumat, (3/4/2026) lalu. 

Baca juga : Dipicu Api Cemburu, Pria di Jepara Tega Bakar Mantan Istri dan Mertua

Setelah menenggak cairan tersebut, tersangka sempat menjalani perawatan di RS dr. Rehatta. Karena masih dalam perawatan dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia, pihak penyidik menurutnya belum sempat meminta keterangan kepada pelaku. 

“Belum sempat kami mintai keterangan karena setelah insiden yang bersangkutan langsung mencoba bunuh diri dan langsung kami larikan ke RSUD dr. Rehatta,” ujarnya. 

Saat ini karena tersangka pelaku dinyatakan meninggal dunia, penyelidikan kasus tersebut tidak dilanjutkan atau dihentikan. 

Sementara itu, kondisi korban bernama Sriningsih (54) saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD RA Kartini Jepara. Ia masih berjuang untuk hidup dalam kondisi luka bakar parah di sekujur tubuhnya hingga 90 persen.

“Korban masih dalam perawatan di RSUD. Untuk kasusnya kami hentikan karena tersangka sudah meninggal,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Hampir Punah, Hatedu Jepara Kenalkan Seni Emprak ke Kalangan Gen-Z 

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Seni pertunjukan tradisional khas Jepara, Emprak, diambang kepunahan. Saat ini jumlah kelompok seni Emprak di Bumi Kartini tinggal hitungan jari. Salah satu yang masih bergeliat yaitu kelompok Emprak Sido Mukti dari Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri.

Pada peringatan Hari Teater Sedunia (Hatedu), kesenian Emprak kembali dipentaskan. Selama 2,5 jam, seniman-seniman Emprak menghibur penonton yang sebagaian besar generasi Z dengan lakon Tresna Wurung.

Panitia kegiatan Jepara Hatedu 2026, Rhobi Shani, menyampaikan sengaja menghadirkan Seni Emprak pada gelaran Hatedu untuk mengenalkan seni pertunjukan tradisional khas Jepara pada generasi muda. Tidak hanya remaja di Jepara, tetapi juga dari luar daerah.

“Peserta Jepara Hatedu kali ini juga datang dari Kudus, Semarang, dan Solo. Tidak hanya sebagai upaya pelestarian dengan memberikan ruang pentas, tapi juga mengenalkan Emprak pada Gen Z,” ujar Rhobi Shani pada Senin, (6/4/2026). 

Peserta Jepara Hatedu 2026 juga berkesempatan menggali pengetahuan tentang seni Emprak langsung dengan senimannya usai kegiatan pentas pada Sabtu, (4/4/2026) malam. 

Salah satu peserta Jepara Hatedu, Kurniawan, mengaku baru kali pertama menyaksikan pertunjukan seni Emprak. Menurutnya sangat disayangkan apabila kesenian asli Jepara itu punah. Sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian dengan mengikuti kondisi zaman.

“Baru kali ini saya nonton Emprak, padahal ini asli Jepara tapi sudah jarang dijumpai,” kata Kurniawan.

Pimpinan Emprak Sido Mukti, Sunawi, mengatakan, kesenian Emprak sangat bisa mengikuti zaman. Pasalnya, penampilan Emprak saat ini sudah berubah dari masa lampau. Bila dulu pentas Emprak hanya menggunakan alat musik kendang dan terbang sebagai musik pengiring, saat ini ditambah dengan saron. Bahkan pada acara tertentu juga menggunakaan alat musik organ tunggal.

“Terus ini, topi bayi, dulu itu yang pakai potongan kaus bagian lengan, kemudian diikat bagian atasnya. Karena dilihat-lihat sepertinya sudah tidak zamannya, kemudian diganti dengan topi bayi,” ungkap Sunawi dalam bahasa Jawa saat sesi dialog dengan peserta Hatedu di Aula objek wisata Pantai Bandengan.

Kegiatan Jepara Hatedu 2026 sendiri digelar selama tiga hari pada Jumat – Minggu, (3-5/4/2026).

Selain menampilkan Emprak, juga diisi dengan pentas teater dan workshop keaktoran, penyutradaraan, dan tata artistik. Tidak hanya itu, juga ada diskusi penulisan naskah teater dan dipungkasi dengan peluncuruan buku kumpulan naskah teater.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ratusan Koperasi di Kudus Mati Suri

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan koperasi di Kabupaten Kudus diduga hanya “hidup di atas kertas”. Dari total 691 koperasi yang terdaftar, sebanyak 379 di antaranya berstatus tidak aktif, bahkan sebagian disebut sudah tidak lagi terdeteksi keberadaannya.

Kondisi ini memunculkan persoalan serius.  Data koperasi yang tidak produktif tetap tercatat dalam sistem dan berpotensi membebani indikator kinerja daerah.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Disnakerperinkop dan UKM Kudus, Muhammad Faiz Anwari mengakui, jumlah koperasi tidak aktif masih mendominasi.

“Yang tidak aktif masih besar. Bahkan ada yang benar-benar sudah tidak bisa dideteksi,” ujar Faiz di ruang kerjanya belum lama ini.

Status tidak aktif sendiri diberikan kepada koperasi yang tidak melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) selama tiga tahun berturut-turut. Namun, temuan di lapangan menunjukkan tidak semua koperasi tidak aktif benar-benar mati.

Sebagian koperasi masih beroperasi, tetapi abai terhadap kewajiban administrasi. Akibatnya, mereka tetap tercatat tidak aktif dalam sistem.

“Ada yang sebenarnya masih jalan, tapi karena tidak RAT, otomatis dianggap tidak aktif,” ungkapnya.

Situasi ini menciptakan kategori “abu-abu” koperasi yang secara administratif mati, tetapi secara praktik masih bernapas. Di sisi lain, terdapat koperasi tanpa aktivitas dan sulit dilacak. Ironisnya, meski tidak aktif, koperasi-koperasi tersebut tetap memiliki badan hukum dan tidak mudah dibubarkan.

Proses pembubaran harus melalui persetujuan anggota dan Kementerian Hukum dan HAM, serta dipastikan tidak memiliki persoalan keuangan.

“Kalau keuangan masih ada utang atau masalah internal, pembubarannya sulit,” jelas Faiz

Di tengah kondisi tersebut, pengawasan juga dinilai belum maksimal. Bidang koperasi di Kudus hanya ditangani oleh tiga staf, sehingga harus mengawasi ratusan koperasi dengan keterbatasan sumber daya.

” Dengan personel yang terbatas, tentu tidak bisa maksimal menjangkau semua,” ujarnya.

Persoalan lain muncul dari warisan data lama yang tidak tertata dengan baik. Perubahan kelembagaan dan minimnya dokumentasi membuat sebagian koperasi sulit ditelusuri keberadaannya.

Dampaknya, tidak hanya pada validitas data, tetapi juga pada kinerja daerah. Koperasi tidak aktif tetap masuk dalam perhitungan indikator ekonomi, meski tidak memberikan kontribusi nyata.

“Ini jadi beban. Tidak ada hasil, tapi tetap masuk dalam indikator,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus

0
Sri Wahyuni sedang melayani pembeli di warungnya, di Desa Mlati Kidul, Kota, Kudus. Foto: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di Mlati Kidul, Kota, Kudus, terdapat penjual makanan yang menyediakan menu sarapan, yakni nasi uduk, nasi lodeh, nasi bakar, dan lainnya. Warung yang terletak di dekat Rumah Sakit Aisyiyah itu terkenal memiliki cita rasa masakan yang kaya akan bumbu.

Sri Wahyuni (40), pemilik warung tersebut, menjelaskan bahwa makanan buatannya memiliki rasa dengan bumbu dan pilihan lauk yang banyak. Hal itu yang membuat pelanggannya merasa puas jika menyantap sarapan di sana.

“Untuk nasi lodehnya isiannya ada sayur siyem, nasi orek kering. Nasi uduk ada orek tempe, perkedel dan bisa request lauknya ada ayam, telur atau yang lainnya,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

Sri menjelaskan, usaha tersebut merupakan upayanya bangkit dari kegagalan. Sebelumnya, ia pernah gagal membuka usaha cucian motor dan mobil. Akhirnya, dari rasa penasaran dan kecintaan terhadap kuliner, ia memilih pindah usaha kuliner.

“Beralih ke kuliner karena memang suka jajan dan kebetulan bisa masak juga, daripada beli mahal, kalau masak sendiri lebih hemat, akhirnya buka usaha ini. Dagangan seperti ini kan harganya masih terjangkau untuk semua kalangan terutama yang ingin mencari sarapan pagi,” jelasnya.

Sri juga menjelaskan, mulai buka warung sejak tahun 2008 dan semakin berkembang hingga saat ini.  Modal awal yang hanya Rp50 ribu sekarang meningkat hingga ratusan ribu per harinya.

“Dulu awal buka hanya ayam geprek lalu dikembangkan lagi ke nasi uduk, nasi kuning. Karena nasi kuning tidak banyak yang nyari jadi buatnya tidak mesti,” terangnya.

Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

Warung makan yang buka mulai pukul 05.00 hingga 15.00 WIB itu juga melayani pesanan inline hingga pukul 18.00 WIB. Untuk online ia melayani melalui GrabFood dan ShopeeFood.

“Peminatnya paling banyak ya di nasi uduk. Tapi kalau di GrabFood nasi bakar yang banyak dibeli,” bebernya.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Laris Manis, Lentog Tanjung Bu Rina Ludes Setiap Hari

0
Turina sedang melayani pembeli lentog Tanjung yang datang ke warungnya. Foto: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Lima orang pembeli terlihat duduk memenuhi salah satu Warung Lentog Tanjung Bu Rina, di sebelah barat kampus UMK Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang meminum teh dan wanita di sampingnya itu masih menyantap kuliner khas Kudus tersebut. Sementara seorang wanita berbaju merah jambu tampak dengan ramah menyajikan lentognya. Dia adalah Turina (46), pemilik usaha kuliner lentog tanjung tersebut.

Rina sapaan akrabnya, mengaku sudah menjalankan usaha kuliner ini sejak 2015. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan tiga kilogram beras untuk dijadikan lontong.

Rina menjelaskan, bahwa lentog tanjung memiliki kuah yang gurih dan sangat kental, dengan kuah dimasak terpisah. Adapun isianya berupa sayur gori, tahu, tempe, dan bumbu cabai yang ditumbuk.

Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

“Setiap hari buat 3 kilogram lontong, hanya hari Minggu saja buat 8 kilogram karena pasti ramai dari hari biasa. Isian lentognya ada sayur gori, tahu, tempe, telur, tambahan cabai rebus, kalau ingin pedas ada gorengan dan kerupuk juga sebagai pelengkapnya,” jelasnya.

Lentog tanjung disajikan di atas piring yang sudah lebih dulu dialasi daun pisang. Hal itu membuat cita rasa gurih dari santan menjadi semakin nikmat karena aroma dari daun pisang, sehingga menambah kenikmatan saat memakannya. Ditambah dengan kuahnya yang kental dan gurih, menambah cita rasa khas saat menikmatinya.

“Alhamdulillah, kalau pelanggan ada dari berbagai daerah. Mulai dari Kudus sendiri, Pati, Jepara, Demak, dan daerah lain,” bebernya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warung yang buka setiap hari mulai pukul 05.30 WIB hingga 10.00 WIB itu menjual lentog tanjung dengan harga Rp6.000 per porsi. Pada hari biasa, warungnya bisa menjual lentog mencapai 100 porsi, sedangkan hari Sabtu dan Minggu lebih banyak lagi. Sehingga untuk hari itu ia dibantu kakak dan seorang tetangganya.

Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

“Penjualan menurun itu waktu Covid, tapi apa pun itu tetap disyukuri saja, namanya jualan pasti ada ramai dan sepinya,” tambahnya.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berawal dari Coba-Coba, Cake dan Risol Premium Salma Laris Manis

0
Kue pesanan dari pelanggan yang siap dikirim oleh Salma. Foto: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di dapur sebuah rumah yang berada di Jalan K.H. Turaichan Adjhuri, Desa Kajeksan, Kota Kudus, tampak dua perempuan sedang menghias kue ulang tahun dengan beragam ornamen. Mereka adalah Salma Zuhara (24) dan seorang karyawannya sedang sibuk menghias cake pesanan pelanggan. Ia terlihat menyusun bento cake yang kemudian ditempatkan pada lemari pendingin.

Perempuan yang akrab disapa Salma itu memang sudah merintis usaha sejak 2013 bersama mamanya. Pesanan yang datang semakin meningkat ketika ia membuka lapak di depan rumahnya dan menambah menu baru yang membuat banyak orang tertarik sehingga banyak orderan yang masuk.

“Awalnya merintis ini coba-coba dan masih bekerja. Dulu yang mengurus ini itu mama pada tahun 2013 lalu coba gali ide lagi hingga buat menu baru yaitu risol terus viral sampai pesanan membeludak hingga 1000 pcs itu di luar ekspetasi yang saya kira,” terangnya.

Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

Salma menjelaskan, dirinya membuat cake ulang tahun dan risol dengan beragam jenis dan ukuran. Meski lapaknya di rumah, usahanya itu rupanya selalu laris, setiap hari tidak pernah sepi orderan.

Di tempatnya pun selalu ready stok, baik polos atau sudah ada hiasan, sehingga pelanggan jika request gambar dan tulisan bisa menunggu paling lama 1 jam, bahkan bisa 15 menit kalau warna creamnya semua sudah ready.

“Alhamdulillah setiap hari itu selalu ada pesanan sehingga pasti ada stok yang ready, pelanggan bisa nunggu dikasih tulisan atau hiasan sesuai request-an, langsung bisa diambil tanpa perlu PO. Kalau pengen ada gambar apa tinggal kirim desain foto nanti bisa langsung diambil,” tuturnya.

Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

Di dapurnya itu, Salma membuat bento cake dengan hiasan yang beragam. Beragam varian risol mulai dari risol mayo, beef, chiken, piscok, ragut, mentai, seblak, sosis solo, dimsum, sandwich sando, dan masih banyak lagi.

“Yang membedakan dari yang lain kita membuat dengan bahan-bahan premium, creamnya dijamin tidak membuat eneg, yang tidak suka cream masih bisa memakannya. Yang paling terbaiknya itu best cake brownies dan bolu,” tambahnya saat ditemui bebebrala waktu lalu.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Kasus Perundungan Tak Hanya Rentan Terjadi pada Siswa, Tapi Juga di Kalangan Guru

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus bullying atau perundungan di lingkungan pendidikan tak hanya rentan terjadi pada siswa. Namun, kasus tersebut juga rentan terjadi di kalangan guru. Hal itu diungkapkan langsung oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris belum lama ini. Bupati menyebut, bahwa penekanan kasus perundungan di sekolah tak hanya difokuskan pada siswa, tapi juga kepada tenaga pendidik dan kependidikan.

Pihaknya mengatakan, kepada setiap kepala sekolah maupun pejabat tinggi di lembaga pendidikan agar selalu rendah hati, tidak sombong, serta tidak menyelewengkan jabatan yang dijabat.

“Ternyata kasus perundungan juga bisa terjadi kepada guru. Untuk itu kami berupaya untuk mengantisipasi kejadian agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan,” bebernya dalam kegiatan Sosialisasi Perundungan melalui Media Film di Bioskop NSC Kudus, Rabu (1/4/2026).

Sam’ani menyebut, bahwa kasus bullying masih terjadi di lingkungan pendidikan di Kabupaten Kudus. Oleh sebab itu, pihaknya mengimbau agar setiap sudut sekolah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.

“Setiap kelas harus ada CCTV, lalu di pojok kantin juga harus dikasih sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi semua aktivitas, baik siswa maupun guru dipantau,” ucapnya.

Terlebih katanya, dalam pengawasan kasus perundungan terhadap guru, kata dia, nantinya akan bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisir kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah wilayah Kabupaten Kudus.

“Jangan sampai, setelah jadi pejabat korwil atau kepala dinas malah sewenang-wenang atau bahkan memaksa. Ini kita antisipasi, biar dari sekolah atau dinas nanti membuat layanan wadul,” pesannya.

Bupati menambahkan, upaya antisipasi dan penanganan kasus perundungan di Kudus selama ini telah dilakukan dengan maksimal. Baik melalui kerjasama dengan Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak di Dinas Sosial P3AP2KB maupun Polres Kudus.

Tak hanya itu, upaya lain juga diharapkan, agar Zero bulliying di Kudus dapat tercapai optimal. Salah satunya melalui pemanfaatan media digital seperti pemutaran film Cyberbullying.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Dibayar di Perantauan, Karnan Buka Mi Dadat dan Bertahan Puluhan Tahun

0
Karnan sedang membuat mi dadat untuk pelanggannya yang datang ke warung. Foto: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Muhammad Karnan (79) bersama satu karyawan yang membantunya terlihat sibuk membuat pesanan mi dadat atau mi jawa. Mereka tampak berbagi tugas membuat mi dan mengantar minuman kepada masing-masing pelanggan.

Usai melayani pembeli, Karnan begitu ia akrab disapa, bersedia berbagi kisahnya merintis usaha kuliner yang laris manis sejak dulu itu. Ia menuturkan, awal merintis usaha karena keresahannya bekerja dengan orang di perantauan tetapi tidak dibayar. Akhirnya ia memutuskan pulang dan merintis usaha yang diberi nama Warung Mie Dadat.

“Dulu kerja merantau di Sumatera daerah bukit, ya kerjanya buat mi juga, tapi karena waktu itu tidak dibayar akhirnya lelah, lalu memutuskan pulang saja,” jelasnya saat ditemui benerapa waktu lalu.

Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

Untuk menuju itu, dirinya lantas memilih usaha mi karena ia dan temannya menyukai kuliner tersebut. Ia juga mengungkapkan, kesehariannya memang makan mie dan akhirnya mencari cara lain dengan membuat mi sendiri yang sehat untuk dikonsumsi.

“Saya aslinya orang Jepara lalu menetap di Kudus, buat usaha ini hanya ada di Kudus saja, belum ada di kota-kota lain,” tuturnya.

Ia mengaku, ide untuk membuka usaha mi sudah ada sejak merantau. Bahkan, ia membuat adonan mie sendiri hanya dengan bahan tepung terigu saja untuk menemukan rasa yang pas. Selain itu, ia juga berusaha menyajikan mi yang sehat untuk dikonsumsi.

“Kalau membuka warung Mie Dadat pertama kali di Kudus sejak tahun 1972. Jadi sudah sangat lama,” bebernya.

Karnan menilai, membuka warung di Kudus sangat cocok, karena mie Dadat rasanya begitu identik dan terkenal dengan rasa manis dan gurih. Rasa itulah yang menurutnya cocok dengan lidah masyarakat Kudus.

Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

“Setiap hari saya membuat 50 kilogram mi. Kalau untuk porsinya tidak dihitung, yang penting jualnya sampai habis, kadang pukul 20.00 WIB sudah habis,” jeasnya.

Karnan juga mengatakan ada kendala yang dialami, yaitu bersaing dengan perusahaan-perusahaan modern pembuat mi. Meski ada persaingan, ia tetap optimis dengan mi buatannya.

“Memang sulit, perusahaan besar lebih muda. Dulu pakai manual, sekarang tambah maju ya pakai alat yang bisa cepat karena sudah tua. Saya kerja lambat sudah tidak sekuat dulu,” tambahnya.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Relaksasi BOSP Disetujui, Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Kudus Dipastikan Aman

0
Ilustrasi Dana hibah. Dok Betanews.id

BETANEWS.ID, PATI – Kabar baik akhirnya datang bagi ratusan guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang berstatus PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Kudus. Setelah sempat tertunda selama tiga bulan, pembayaran gaji mereka kini dipastikan dapat segera direalisasikan menyusul disetujuinya relaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).

Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus menyebut, kebijakan relaksasi tersebut telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Surat edaran resmi terkait kebijakan ini terbit pada 11 Maret 2026.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho menjelaskan, relaksasi ini memungkinkan dana BOSP digunakan untuk membayar honor guru dan tendik yang telah diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu.

Hal itu menjadi kabar yang menggembirakan, mengingat sebelumnya BOSP tak dapat digunakan sebagai gaji PPPK Paruh waktu hingga akhirnya tiga bukan sempat tertunda.

Baca juga : 8 Ribu Warga Kudus Diverifikasi Ulang Usai Dicoret dari JKN, Pemkab Siap Tanggung yang Tak Lolos

“Kebijakan ini hanya berlaku sementara untuk Tahun Anggaran 2026,” jelasnya.

Ia menegaskan, relaksasi tersebut bukan kebijakan permanen. Pemerintah daerah tetap diminta menyiapkan langkah penguatan anggaran melalui APBD untuk keberlanjutan pembiayaan ke depan.

Sebelumnya, ratusan guru PPPK Paruh Waktu di Kudus sempat tidak menerima gaji sejak Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini terjadi akibat kendala regulasi yang membatasi penggunaan dana BOS dari APBN untuk pembayaran honor.

Dari total 1.039 guru dan tenaga kependidikan PPPK Paruh Waktu di Kudus, tercatat sekitar 574 orang terdampak keterlambatan gaji. Dengan adanya kebijakan baru ini, Disdikpora memastikan persoalan tersebut tidak akan kembali terjadi.

“Setelah relaksasi ini turun, penggajian yang sebelumnya tertunda bisa segera diselesaikan dan ke depan tidak ada lagi keterlambatan,” tegasnya.

Sementara itu, untuk guru PPPK Paruh Waktu yang gajinya bersumber dari BOS APBD, pembayaran disebut tetap berjalan normal sejak awal tahun. Besaran gaji yang diterima pun bervariasi, dengan nominal minimal yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Kudus sebesar Rp1 juta per bulan.

Kebijakan relaksasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka pendek, sekaligus memberikan kepastian bagi para tenaga pendidik agar tetap fokus menjalankan tugasnya tanpa dibayangi persoalan kesejahteraan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

ASN di Jepara Dipastikan Tidak Ikut WFH 

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengambil kebijakan berbeda terkait imbauan pelaksanaan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Sebelumya, pemerintah pusat melalui Surat Edaran (SE) nomor 800.1.5/3349/SJ tentang Transformasi Budaya Kerja ASN mengimbau agar pemerintah daerah menerapkan aturan WFH seminggu sekali pada hari Jumat. 

Kebijakan itu dilakukan sebagai upaya efisiensi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan energi di tengah kondisi perang global antara Amerika-Israel melawan Iran yang menyebabkan jalur distribusi minyak terganggu. 

Akan tetapi, di Jepara aturan tersebut tidak berlaku. ASN di lingkungan Pemkab Jepara tetap berkantor sebagaimana biasanya sebab Pemkab tidak memberlakukan aturan WFH. 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, keputusan itu diambil karena efisiensi BBM, penggunaan listrik, air, dan elektronik tidak menunjukkan pengurangan yang signifikan apabila diterapkan kombinasi tugas kedinasan dari kantor dan tugas kedinasan di rumah yang menjadi domisili pegawai ASN. 

Keputusan terkait kebijakan Pemkab Jepara tersebut juga sudah dituangkan dalam SE Nomor 100.3.4.2/12. 

“Surat Edaran tersebut mulai berlaku tanggal 2 April 2026. Pengawasan, monitoring dan evaluasi dilakukan pada tanggal 5 tiap bulannya,” kata Wiwit pada Sabtu, (4/4/2026). 

Baca juga: Soal Aturan WFH Sehari dalam Sepekan, Pemkab Jepara Masih Tunggu Arahan Pusat

Sedangkan sebagai langkah untuk efisiensi anggaran, ASN di Jepara diminta untuk mengutamakan penggunaan teknologi dalam rapat, bimbingan teknis, seminar, maupun konferensi.

Kemudian mengurangi pelaksanaan perjalanan dinas dalam negeri sebanyak 50% dan perjalanan dinas luar negeri sebanyak 70% dan mengurangi frekuensi serta jumlah rombongan.

Kemudian terkait penggunaan fasilitas perkantoran, ASN juga diminta untuk menyalakan listrik di ruangan kerja mulai pukul 07.30 – 16.00 WIB sesuai kebutuhan riil dan dapat dimatikan pada saat jam istirahat. Kecuali bagi penyelenggara pelayanan kesehatan dan server data base. Penggunan AC juga dibatasi pada suhu antara 24-26°C. 

 “ASN juga kami minta untuk melakukan car free day setiap hari Jumat, dengan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan transportasi umum untuk menuju ke perkantoran khususnya bagi ASN yang berjarak sekitar 1-3 kilometer dari rumah ke kantor masing-masing,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -