Lima orang pembeli terlihat duduk memenuhi salah satu Warung Lentog Tanjung Bu Rina, di sebelah barat kampus UMK Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang meminum teh dan wanita di sampingnya itu masih menyantap kuliner khas Kudus tersebut. Sementara seorang wanita berbaju merah jambu tampak dengan ramah menyajikan lentognya. Dia adalah Turina (46), pemilik usaha kuliner lentog tanjung tersebut.
Rina sapaan akrabnya, mengaku sudah menjalankan usaha kuliner ini sejak 2015. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan tiga kilogram beras untuk dijadikan lontong.
Rina menjelaskan, bahwa lentog tanjung memiliki kuah yang gurih dan sangat kental, dengan kuah dimasak terpisah. Adapun isianya berupa sayur gori, tahu, tempe, dan bumbu cabai yang ditumbuk.
Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang
“Setiap hari buat 3 kilogram lontong, hanya hari Minggu saja buat 8 kilogram karena pasti ramai dari hari biasa. Isian lentognya ada sayur gori, tahu, tempe, telur, tambahan cabai rebus, kalau ingin pedas ada gorengan dan kerupuk juga sebagai pelengkapnya,” jelasnya.
Lentog tanjung disajikan di atas piring yang sudah lebih dulu dialasi daun pisang. Hal itu membuat cita rasa gurih dari santan menjadi semakin nikmat karena aroma dari daun pisang, sehingga menambah kenikmatan saat memakannya. Ditambah dengan kuahnya yang kental dan gurih, menambah cita rasa khas saat menikmatinya.
“Alhamdulillah, kalau pelanggan ada dari berbagai daerah. Mulai dari Kudus sendiri, Pati, Jepara, Demak, dan daerah lain,” bebernya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Warung yang buka setiap hari mulai pukul 05.30 WIB hingga 10.00 WIB itu menjual lentog tanjung dengan harga Rp6.000 per porsi. Pada hari biasa, warungnya bisa menjual lentog mencapai 100 porsi, sedangkan hari Sabtu dan Minggu lebih banyak lagi. Sehingga untuk hari itu ia dibantu kakak dan seorang tetangganya.
Baca juga: Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan
“Penjualan menurun itu waktu Covid, tapi apa pun itu tetap disyukuri saja, namanya jualan pasti ada ramai dan sepinya,” tambahnya.
Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI
Editor: Ahmad Rosyidi

