Sebut Kesejahteraan Guru Kurang Diperhatikan, Siswa SMK di Kudus Surati Presiden Minta Hal Ini

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pelajar asal Kabupaten Kudus menyampaikan aspirasi tak biasa kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui postingan media sosial di akun pribadinya. Ia memilih menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta agar anggaran tersebut dialihkan untuk kesejahteraan guru.

Pelajar tersebut adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI di SMK NU Miftahul Falah Kudus. Dalam surat terbukanya, Arsya mengungkapkan latar belakang dirinya yang berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah seorang buruh dan ibu rumah tangga.

Unggahan yang diposting, Kamis (2/4/2026) kemarin di akun Instagramnya dengan akun arsya_graph. Unggahan itu mendapat banyak respon dari netizen. Dengan total suka sebanyak 28,9 ribu, komentar sebanyak 1.031, dan diposting ulang lebih dari 4.000 hingga Jumat (3/4/2026) sore.

-Advertisement-

Dalam postingannya ia mengatakan, bahwa sejak kecil telah diajarkan untuk menghormati guru sebagai sosok penting setelah orang tua. Menurutnya, peran guru, ustadz, hingga kiai sangat besar dalam membentuk karakter dan pengetahuan dirinya.

Namun di sisi lain, ia menyoroti kondisi kesejahteraan guru yang dinilainya masih belum memadai, termasuk di sekolah tempatnya menimba ilmu.

“Masih banyak guru yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum mendapatkan kesejahteraan yang layak,” tulisnya dalam surat tersebut.

Baca juga: WFH ASN di Kudus Ditarget Hemat BBM 25 Persen, Layanan Publik Tetap Maksimal

Melalui surat itu, murid kelas XI SMK NU Miftahul Falah Kudus itu menyatakan secara pribadi menolak menerima manfaat MBG. Ia bahkan menghitung estimasi anggaran yang seharusnya ia terima selama sisa masa sekolahnya, yakni sekitar Rp6,75 juta.

Menurutnya, nominal tersebut mungkin tidak terlalu berdampak bagi dirinya, tetapi akan lebih berarti jika dialihkan sebagai tambahan kesejahteraan bagi para guru.

“Jika dihitung secara sederhana (sisa menimba ilmu di sekolah) 18 bulan X 25 hari X Rp15.000 = Rp6.750.000. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” ujarnya.

Tak hanya menyampaikan aspirasi pribadi, Arsya juga mengajak pelajar lain untuk lebih peduli terhadap nasib guru. Ia menilai kesejahteraan guru merupakan salah satu kunci utama kemajuan pendidikan dan masa depan bangsa.

Ia menegaskan bahwa surat tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian sebagai pelajar terhadap dunia pendidikan.

“Ini bukan penolakan terhadap pemerintah, tetapi bentuk kepedulian saya terhadap kesejahteraan guru,” tulisnya.

Arsya berharap aspirasinya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan ke depan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER