BETANEWS.ID, JEPARA– Seni pertunjukan tradisional khas Jepara, Emprak, diambang kepunahan. Saat ini jumlah kelompok seni Emprak di Bumi Kartini tinggal hitungan jari. Salah satu yang masih bergeliat yaitu kelompok Emprak Sido Mukti dari Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri.
Pada peringatan Hari Teater Sedunia (Hatedu), kesenian Emprak kembali dipentaskan. Selama 2,5 jam, seniman-seniman Emprak menghibur penonton yang sebagaian besar generasi Z dengan lakon Tresna Wurung.
Panitia kegiatan Jepara Hatedu 2026, Rhobi Shani, menyampaikan sengaja menghadirkan Seni Emprak pada gelaran Hatedu untuk mengenalkan seni pertunjukan tradisional khas Jepara pada generasi muda. Tidak hanya remaja di Jepara, tetapi juga dari luar daerah.
“Peserta Jepara Hatedu kali ini juga datang dari Kudus, Semarang, dan Solo. Tidak hanya sebagai upaya pelestarian dengan memberikan ruang pentas, tapi juga mengenalkan Emprak pada Gen Z,” ujar Rhobi Shani pada Senin, (6/4/2026).
Peserta Jepara Hatedu 2026 juga berkesempatan menggali pengetahuan tentang seni Emprak langsung dengan senimannya usai kegiatan pentas pada Sabtu, (4/4/2026) malam.
Salah satu peserta Jepara Hatedu, Kurniawan, mengaku baru kali pertama menyaksikan pertunjukan seni Emprak. Menurutnya sangat disayangkan apabila kesenian asli Jepara itu punah. Sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian dengan mengikuti kondisi zaman.
“Baru kali ini saya nonton Emprak, padahal ini asli Jepara tapi sudah jarang dijumpai,” kata Kurniawan.
Pimpinan Emprak Sido Mukti, Sunawi, mengatakan, kesenian Emprak sangat bisa mengikuti zaman. Pasalnya, penampilan Emprak saat ini sudah berubah dari masa lampau. Bila dulu pentas Emprak hanya menggunakan alat musik kendang dan terbang sebagai musik pengiring, saat ini ditambah dengan saron. Bahkan pada acara tertentu juga menggunakaan alat musik organ tunggal.
“Terus ini, topi bayi, dulu itu yang pakai potongan kaus bagian lengan, kemudian diikat bagian atasnya. Karena dilihat-lihat sepertinya sudah tidak zamannya, kemudian diganti dengan topi bayi,” ungkap Sunawi dalam bahasa Jawa saat sesi dialog dengan peserta Hatedu di Aula objek wisata Pantai Bandengan.
Kegiatan Jepara Hatedu 2026 sendiri digelar selama tiga hari pada Jumat – Minggu, (3-5/4/2026).
Selain menampilkan Emprak, juga diisi dengan pentas teater dan workshop keaktoran, penyutradaraan, dan tata artistik. Tidak hanya itu, juga ada diskusi penulisan naskah teater dan dipungkasi dengan peluncuruan buku kumpulan naskah teater.
Editor : Kholistiono

