SEPUTARKUDUS.COM – Kudus memiliki banyak patung yang mempunyai bentuk futuristik. Satu di antaranya Patung Selaras dan Seimbang yang terdapat di persimpangan Penthol. Patung di tengah taman itu memiliki warna dominan hijau dan menjadi ikon kawasan tersebut. Bentuknya yang futuristik membuat banyak orang tak mengerti makna patung tersebut.
Patung Selaras dan Seimbang di Kudus. (Foto: seputarkudus.com)
Patung tersebut memiliki dua bentuk. Bentuk pertama lebih rendah dari bentuk kedua. Bentuk patung pertama menggambarkan manusia dengan bidang stilasi cengkeh. Sedangkan bentuk kedua menggambarkan manusia yang di atasnya terdapat bentuk yang mirip dengan daun tembakau dan burung dan siap terbang menuju masa depan (Kompas, 2009). (Baca juga: Inilah Patung dan Tugu di Kudus yang Menakjubkan)
Patung Selaras dan Seimbang dibangun Pemerintah Kabupaten Kudus dan sebuah perusahaan rokok ternama di Kudus. Desain patung dirancang pematung asal Jakarta bernama Benny Ronald Tahalele. Patung berbahan logam yang dicor tersebut, memiliki tinggi 5 meter. Patung Selaras dan Seimbang dibuat untuk memantapkan Kudus sebagai Kota Kretek.
Berada di pusat kawasan Penthol, Desa Rendeng, Kabupaten Kudus, Patung Selaras dan Seimbang menjadi ikon kota di sudut timur. (Foto: seputarkudus.com)
Kawasan Penthol berada di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, berada di sudut timur kawasan perkotaan yang sangat strategis. Patung Selaras dan Seimbang menjadi oase sekaligus ikon kawasan yang memiliki setidaknya tiga persimpangan tersebut. Patung yang berada di jalan nasional itu juga menjadi simbol Kudus sebagai Kota Kretek yang bisa dilihat masyarakat luar daerah dari dan menuju pusat kota.
Selain patung itu, Kudus juga semakin mantab dikenal sebagai Kota Kretek dengan dibangunnya Gerbang Kudus Kota Kretek, di sudut barat kawasan perkotaan. Gerbang yang pembangunannya menelan dana Rp 16 miliar itu menjadi ikon baru Kabupaten Kudus dan sangat populer bagi masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.
SEPUTARKUDUS.COM – Kabupaten Kudus sangat dikenal sebagai kota Industri yang banyak memiliki produk-produk unggulan. Ketenaran produk unggulan di Kudus membuat produsen lain menirunya, baik dalam kemasan maupun namanya.
Kemasan produk rokok dan jenang meniru produk dan merek terkenal.
Selain produk rokok yang membuat kabupaten ini disebut
Kota Kretek, Kudus memiliki banyak produk yang terkenal lainnya, satu di
antaranya produk jenang. Produk jenang yang sangat terkenal di Kudus yang telah melegenda yakni jenang merek Sinar 33 yang diproduksi PT Mubarokfood Cipta Delicia. Selain itu perusahaan tersebut juga memiliki merek terkenal lain yakni Jenang Mubarok.
Produk jenang yang telah menjadi merek generik tersebut membuat produsen jenang lainnya menirunya. Desain kemasan dibuat mirip dengan produk yang dibuat PT Mubarokfood Cipta Delicia. Seperti jenang merek Keris dan Nubarok, yang desain kemasannya dibuat sangat mirip dengan Jenang Mubarok.
Selain itu, produk jenang merek Sinar 33 juga banyak ditiru. Kemasan sangat dibuat dengan kertas lipat, namun merek produk jenang tiruan tersebut diberi tambahan. Ada yang diberi merek Sinar Bintang Tiga Tiga dan Jenang Kudus Tiga Kali Tiga. Manajemen PT Mubarokfood Cipta Delicia mengoleksi produk-produk tiruan tersebut.
Produk-produk tiruan Jenang Mubarok yang disimpan PT Mubarokfood Cipta Delicia.
Selain produk jenang yang sangat dikenal, produk lain yang ditiru banyak produsen yakni produk rokok. Sebagai Kota Kretek, Kudus memiliki banyak produk rokok yang sangat terkenal. Di antaranya merek rokok Djarum 76 yang diproduksi PT Djarum, Clas Mild yang diproduksi PT Nojorono Group, dan Sukun Execitive yang diproduksi PT Sukun.
Ketiga merek tersebut banyak ditiru kemasannya oleh produsen rokok lainnya. Misalnya ada yang meniru Djarum 76 dengan merek Janur 77 yang memiliki kemasan sangat mirip. Selain itu merek rokok Clas Mild yang ditiru produsen lain dengan merek Lea Mild, dan merek Sukun Executive yang ditiru merek rokok Rukun Clasic.
SEPUTARKUDUS.COM – Gambar Menara Kudus ternyata pernah diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 5000. Hal itu terjadi sekitar 20 tahun lampau, tepatnya pada 1986. Uang bergambar Menara Kudus tersebut beredar hingga tahun 1992.
Menara Kudus diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 5000.
Dalam gambar tersebut tampak sketsa gambar Menara Kudus yang di sampingnya tak tampak kubah Masjid Al-Aqsha seperti saat ini. Di depan pagar tersebut tampak sebuah pohon, yang saat ini lokasinya telah menjadi taman. Sketsa gambar tersebut sangat mirip dengan foto Menara Kudus dalam arsip yang disimpan situs online di Belanda berikut ini.
Foto bangunan Menara Kudus yang diambil pada tahun 1900. (foto KITLV)
Dalam foto di atas, kubah Masjid Al-Aqsha tidak tampak karena belum dibangun. Yang tampak hanya atap masjid cungkup. Di depan bangunan Menara Kudus tersebut juga terdapat sebuah pohon, sangat mirip dengan sketsa gambar yang ada di pecahan uang kertas Rp 5000.
Uang kertas yang diproduksi Bank Indonesia pada pemerintahan Orde Baru tersebut memiliki warna dominan hijau, coklat, dan kuning. Di samping sketsa juga tertera tulisan Menara Kudus. Sedangkan di balik sketsa gambar Menara Kudus, terdapat gambar pahlawan Indonesia Teuku Umar.
Uang kertas pecahan Rp 5000 bergambar Menara Kudus dan Teuku Umar itu hanya berdar sekitar tujuh tahun. Setelah uang tersebut ditarik dari peredaran, uang kertas dengan nilai pecahan yang sama diganti dengan gambar sasando rote dan danau Kelimutu dengan warna dominan kuning.
SEPUTARKUDUS.COM – Sejumlah nama orang Kudus ini pernah mengisi kontes ajang pencarian bakat di televisi. Beberapa nama yang pernah mengikuti ajang tersebut di antaranya Adi Dharma di Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Dara Ruliant di Kontes Dangdut TPI (KDI) dan Binta Athivata Tabriez di Akademi Syiar Indonesia (AKSI) Juniaor di Indosiar.
(Dari kiri) Adi Dharma AFI, Dara Ruliant KDI, Binta Athivata Tabriez AKSI Junior. (foto FB)
Adi Dharma (AFI) Indosiar
Adi mengikuti kontes pencarian bakat yang digelar Indosiar pada tahun 2004. Dia berhasil masuk 12 besar dan menjadi akademia dalam kontes tersebut. AFI adalah ajang pencarian bakat menyanyi. Adi harus bertarung dengan akademia yang lain untuk tampil sebagus mungkin agar mendapat dukungan SMS dari pemirsa.
12 kontestan AFI 2 tahun 2004. (Lingkaran kuning) Adi Dharma asli Kudus.
Alumni SMA 1 Kudus tersebut mengikuti audisi dari Yogyakarta, atau bisa dikatakan wakil Kota Gudeg. Namun karena dirinya berasal dari Kudus, mobilisasi SMS dilakukan secara gencar di Kota Kretek. Namun sayang, Adi gagal menjadi juara dalam kontes tersebut, dan juara AFI 2 diraih Tia.
Dara Ruliant (KDI) TPI
Kontes pencarian bakat penyanyi dangdut yang diselenggarakan TPI (sekarang MNCTV) ini sangat populer dan mampu menyaingi rating acara AFI saat itu. Pemilik nama asli Kinanti Ayu Wardani mengikuti KDI pada angkatan kegita. Sebagaimana kontes pencarian bakat lainnya saat itu, KDI juga mengharuskan dukungan SMS dari pemirsa agar bisa melaju ke posisi teratas.
Para pemain sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) SCTV.
Dara merupakan sosok bertalenta bernyanyi yang cukup dikenal masyarakat Kudus dan sekitarnya. Sebelum dirinya mengikuti kontes KDI, dirinya lebih dulu dikenal sebagai penyanyi dangdut dari panggung ke panggung. Meski tak berhasil menjadi juara KDI, dirinya tetap eksis di dunia hiburan. Buktinya dirinya juga turut bermain dalam sinetron yang sangat populer yakni Para Pencari Tuhan. Dia bermain bersama trio Bajaj dan sederet nama beken lainnya, di antaranya Dedy Mizwar, Adi Kuncoro, Zaskia Adya Mecca, dan sederet artis populer lainnya.
Binta Athivata Tabriez
Wajah belia berbalut kerudung sempat populer di Kudus pada medio 2014 lalu. Baner dan poster yang berisi wajah Binta Athivata Tabriez menghiasi sejumlah sudut kota. Poster dan baner tersebut berisi perminta dukungan masyarakat Kudus untuk Binta yang saat itu menjadi kontestan AKSI Junior Indosiar.
Binta Athivata Tabriez saat tampil pada acara AKSI Junior Indosiar tahun 2014.
Penampilannya yang memukau di hadapan juri, membuat masyarakat Kudus saat itu merasa bangga. Kepiawaiannya berceramah dipadu dengan kemampuannya memainkan alat musik biola juga sempat membuat para juri berdecak kagum. Namun sayang, kontes tersebut mengharuskan peserta mendapat dukungan pemirsa melalui SMS. Binta belum berhasil menjadi juara dalam kontes tersebut.
Bakat Binta sebagai pembawa syiar tak dapat dipandang remeh. Bagaimana tidak, siswi SD NU Nawakartika Kudus tersebut tercatat sebagai juara dalam kontes serupa tingkat nasional yang diselenggarakan Kementrian Agama pada 2013. Dia juga tercatat pernah menjadi pemenang kedua pada MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah.
SEPUTARKUDUS.COM – Gaya berfoto orang-orang Kudus tempo dulu tak kalah keren dengan gaya berfoto saat ini. Hal itu tergambar dalam sejumlah foto orang Kudus tempo dulu yang tersimpan apik dalam sebuah arsip milik KITLV. Foto tersebut diambil sekitar tahun 1800-an hingga menjelang tahun kemerdekaan Indonesia. Tak hanya keluarga pejabat, dalam arsip foto tersebut juga tampak masyarakat umum.
Pada foto di atas jelas tergambar Mas Toemenggung Tjondronegoro bergaya di depan kamera. Tangan kanannya terlihat disandarkan pada sebuah tiang dan kaki kirinya sedikit diangkat. Keris yang umumnya diletakkan di belakang, dalam foto tersebut di tampakkan di depan. Berdasarkan keterangan dalam arsip KITLV, foto tersebut diambil tahun 1862, saat dirinya menjabat sebagai Bupati Kudus.
Penari Kudus tempo dulu. Foto diambil pada tahun 1867.
Foto lain yang tak kalah menarik, yakni foto seorang penari Kudus berikut ini. Meski wajahnya tak menampakkan senyum, dari gestur tubuhnya tampak bergaya sebagai seorang penari. Kedua tangannya mengangkat sebuah sampur yang memang lazim digunakan penari Jawa. Dalam keterangan dijelaskan foto diambil pada tahun 1867.
Selain kedua foto tersebut, ada banyak foto yang menggambarkan wajah-wajah orang Kudus tempo dulu. Dalam foto tersebut tidak hanya menggambarkan wajah masyarakat Kudus kala itu, namun juga gaya berpakaian mereka. Dapat dilihat perbedaan antara gaya berpakaian kalangan ningrat, tokoh agama dan masyarakat umum.
Pada tahun 1800-an hingga tahun-tahun menjelang kemerdekaan, mereka masih mengenakan pakaian adat Jawa. Hal tersebut tampak pada kain batik, atau ikat kepala yang mereka kenakan. Hal menarik juga tampak pada pakaian yang dikenakan bupati Kudus kala itu. Pakaian kebesaran yang dikenakan sejumlah bupati saat itu sangat berbeda dengan pakaian adat resmi Kudus saat ini. (baca juga foto bangunan Kudus tempo dulu).
Berikut ini foto-foto lengkap wajah-wajah masyarakat Kudus pada tahun 1800-an hingga menjelang masa kemerdekaan Indonesia yang tersimpan di situs KITLV. Selain masyarakat Kudus, terdapat pula wajah-wajah bule yang dalam keterangan dijelaskan mereka adalah sejumlah pejabat kolonial saat itu.
Sejumlah anak Kudus tempo dulu berpose di depan pintu gerbang Makam Sunan Kudus tahun 1900.Sejumlah anak Kudus tempo dulu berpose di depan pintu gerbang Makam Sunan Kudus tahun 1900. Prosesi jamas Keris di Tajug Makam Sunan Kudus pada tahun 1941.Kusir andong Kudus di komplek Menara Kudus tahun 1900.Sejumlah tokoh (diperkirakan para kiai) di Kudus berfoto di bangunan Menara Kudus pada tahun 1880.Penjual minuman di depan Komplek Menara Kudus tahun 1880.Para pejabat dan pegawai Telkom Kudus di depan kantor pada tahun 1938.Wajah-wajah pekerja rokok kretek Kudus tahun 1931. Wajah-wajah penari Kudus tempo dulu pada tahun 1867.Anak Bupati Kudus 1865Bupati Kudus bersama pejabat di pendopo kabupaten tahun 1924Bupati Kudus dan Bupati Demak duduk di satu meja pada tahun 1868.Bupati Kudus Raden Panji Hadinoto dan keluarganya di pendopo kabupaten tahun 1924Bupati Kudus Raden Panji Toemenggoeng Hadinoto dan pejabat belanda di pendopo kabupaten tahun 1925Bupati Kudus, Raden Mas Toemenggoeng Tjondronegoro (juga disebut Poerwolelono) bersama saudara-saudaranya tahun 1867Pejabat Polisi Meneer Mr A. Stenz (duduk) bersama para pengawal tahun 1915
Demikian sejumlah foto yang menggambarkan wajah-wajah masyarakat Kudus pada medio 1800-an hingga tahun menjelang kemerdekaan Indonesia. Semoga foto-foto tersebut menambah pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Kudus pada masa lampau. Semoga bermanfaat.
SEPUTARKUDUS.COM – Tempat-tempat dan bangan di Kudus sejak dulu memang memesona. Hal itu tergambar dalam arsip milik situs Belanda KITLV. Dalam arsip tersebut terdapat beberapa foto yang menggambarkan Kudus tempo dulu.
Dalam arsip tersebut terdapat sejumlah foto alun-alun Kudus tempo dulu, Menara Kudus, Komplek Makam Sunan Kudus, Komplek Masjid Wali di Mejobo, pabrik milik “Raja” Rokok Kretek Nitisemito, stasiun kereta api, jembatan Tanggulangin, hingga kantor polisi. Tahun pengambilan foto berdasarkan arsip foto tersebut bervariasi. Foto diambil sekitar tahun 1800 hingga 1941. Berikut ini sejumlah foto tersebut.
Suasana Alun-alun Simpang Tujuh Kudus tempo dulu tahun 1936
Kondisi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus tempo dulu tahun 1936
Sejumlah masyarakat berada di depan gerbang Makam Sunan Kudus tahun 1900
Interior Pendopo Kabupaten Kudus tahun 1923
Jembatan kereta api Semarang-Joana Stoomtram Tanggulangin, Kudus, Kali Serang, tahun 1900
Gerbang Kantor Kabupaten Kudus tahun 1936
Foto ini diperkirakan Kantor Polisi Kudus tahun 1928
Komplek Masjid Wali Mejobo Kudus tahun 1941
Foto gerbang komplek Masjid Wali Mejobo Kudus tahun 1941
Foto Masjid Agung Kudus tempo dulu tahun 1971
Foto Masjid Menara Kudus tahun 1936
Foto Suasana Menara Kudus tempo dulu tahun 1880
Menara Kudus tahun 1880
Foto Menara Kudus tampak depan tahun 1890
Foto suasana Menara Kudus tahun 1900
Komplek Masjid Menara Kudus tahun 1941 dari atas
Pabrik rokok milik Nitisemito tahun 1936
Rumah Dinas Aisten Residen Kudus tahun 1936
Stasiun Kereta Api Kudus tahun 1936 yang sekarang dijadikan pasar.
Foto Tajug Makam Sunan Kudus tempo dulu tahun 1941
Suasana Tajug Makam Sunan Kudus tahun 1941
Demikianlah foto-foto Kudus tempo dulu yang disimpan di arsip situs KITLV dari sejumlah masa. Ada beberapa tempat dan bangunan yang hingga kini bentuknya masih sama. Di antaranya Menara Kudus dan Masjid Agung Kudus. Namun ada pula yang berubah, antara lain jembatan Tanggulangin, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, dan sejumlah tempat dan bangunan lainnya. Semoga foto ini bisa meningkatkan kecintaan kita pada Kudus, dan turut menjaga warisan yang telah ditinggalkan oleh para leluhur.
SEPUTARKUDUS.COM – Ada fakta menarik tentang sosok bupati Kudus dari masa ke masa. Jika dilihat dari galeri arsip foto milik situs pemkab Kudus, sosok bupati yang memiliki kumis digantikan sosok bupati berikutnya yang tidak berkumis. Demikian berulang sejak periode 1978 hingga sekarang bupati Kudus Musthofa yang dikenal tidak memiliki kumis. Lalu apakah setelah ini bupati Kudus adalah sosok yang memiliki kumis?
Bupati Kudus periode 1978 sampai 2018. (Foto arsip situs pemkab Kudus)
Bupati Wimpie Hardono (berkumis)
Dalam galeri foto yang diunggah situs pemkab tersebut, sejak periode 1978, sosok bupati dalam foto tersebut memiliki kumis, meski tidak terlalu tebal. Sosok bupati tersebut bernama Wimpie Hardono. Dia merupakan bupati dari kalangan militer berpangkat kolonel. Dirinya memimpin Kudus sejak 1978 hingga 1983.
Bupati Soehartono (tak berkumis)
Setelah Wimpie, sosok bupati selanjutnya yakni Soehartono. Dalam dalam galeri foto tersebut dia tampak tak memiliki kumis. Sosok bupati yang memimpin Kudus sejak 1983 hingga 1988 tersebut, juga dari kalangan militer berpangkat kolonel, sama dengan bupati Wimpi.
Bupati Soedarsono (berkumis)
Bupati Kudus periode selanjutnya yakni Soedarsono. Dia memimpin Kudus selama dua periode, mulai 1988 hingga 1998. Bupati yang datang dari kalangan militer berpangkat kolonel tersebut, dalam foto tampak memiliki kumis tebal. Demikianlah sosok bupati tersebut yang dikenal masyarakat Kudus karena memiliki kumis yang tebal.
Bupati Amin Munadjat (tak berkumis)
Pada periode 1998 hingga 2003, sosok pengganti bupati Soedarsono yakni Amin Munadjat. Sosok bupati berpangkat kolonel tersebut dalam foto yang diunggah dalam galeri situs pemkab Kudus tampak tak memiliki kumis. Dia dulu dikenal masyarakat Kudus dekat dengan para kiai. Pada pemilihan bupati tahun 2008 yang dipilih secara langsung oleh masyarakat, dirinya mencalonkan diri bersama calon wakil bupati Akhwan Sukandar. Namun dia gagal terpilih.
Bupati M Tamzil (berkumis)
Sosok bupati selanjutnya yang menggantikan Amin Munadjat yakni bupati M Tamzil. Dalam foto resmi yang ada di arsip situs pemkab tersebut, dia tampak berkumis. Dia berhasil terpilih dalam sidang pemilihan bupati dan wakil bupati yang digelar DPRD Kudus pada tahun 2003. Saat itu dia maju bersama calon wakil bupati Noor Hani’ah. Sosoknya bukan dari kalangan militer, namun dari kalangan sipil. Sebelum menjadi bupati dirinya merupakan seorang PNS.
Bupati Musthofa (tak berkumis)
Bupati Kudus Musthofa merupakan bupati terpilih dalam pilbup 2008 yang pertama kalinya dipilih secara langsung oleh masyarakat. Dalam foto resminya, dirinya tampak tak memiliki kumis. Pilgub 2008 merupakan periode pertama dia memimpin Kudus, yakni periode 2008-2013. Dalam pilbup 2008 tersebut, dirinya maju bersama calon wakil bupati Budiyono. Pada pilbup berikutnya tahun 2013, dirinya mencalonkan diri kembali bersama calon wakil bupati Abdul Hamid. Keduanya terpilih dan memimpin Kudus untuk periode 2013-2018.
Itulah fakta sejarah yang tak bisa dimungkiri. Secara bergantian masyarakat Kudus sejak 1978 dipimpin oleh sosok yang berkumis dan digantikan sosok yang tak berkumis, dan berulang hingga sekarang. Bupati Kudus Musthofa berdasarkan aturan tidak dibolehkan mencalonkan diri kembali pada pilbup 2018 mendatang karena telah memimpin selama dua periode. Lalu apakah sosok penggantinya nanti memiliki kumis?
Pilbup selanjutnya masih dua tahun lagi. Mungkin setelah ini sosok-sosok yang akan mencalonkan diri menjadi bupati Kudus, setelah melihat fakta ini akan memelihara kumisnya hingga dua tahun mendatang. Itu jika mereka mempercayai fakta ini sebagai mitos, bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
SEPUTARKUDUS.COM – Kabupaten Kudus sejak dulu dikenal sebagai kota industri. Produk-produk industri yang dihasilkan tidak hanya menyebar ke sejumlah daerah di sekitarnya, namun juga ke seluruh Indonesia. Ada sejumlah produk yang telah melegenda dan masih terus digunakan, meski produk dari luar membanjiri.
Produk-produk Kudus yang legendaris. Foto: Ist
Produk legendaris yang dibuat pelaku industri di Kudus tidak melulu rokok, namun juga produk makanan, peralatan dapur, hingga mesin perontok padi. Berikut ini produk-produk industri legendaris di Kudus yang telah dirangkum Seputarkudus.com.
Kecap THG
Kecap THG sudah sangat dikenal masyarakat Kudus sejak lampau. Kecap dengan nama Kecap No 1 Cap THG ini menghiasi sebagian besar warung makanan di Kudus, tak terkecuali warung-warung soto Kudus. Ciri khas kecap THG memiliki rasa yang manis, tidak terlalu hitam dan kental.
Kecap THG. Foto: Ist
Bagi para penikmat kuliner Kudus, misalnya soto kebo, sate kebo, lenthog Tanjung, tidak lengkap rasanya menikmati sajian makanan tersebut tanpa kecap THG. Kecap tersebut memberikan rasa khas yang tidak bisa didapat dari kecap lain. Bahkan sebagian pedagang soto di daerah lain tetap menyajikan kecap THG sebagai pelengkap hidangan yang dijual.
Sirup Agung
Bagi masyarakat asli Kudus tentu sangat mengenal sirup satu ini. Merek sirup Agung sangat melekat untuk sajian minuman di Kudus sejak lama. Sebelum merek-merek sirup lain membanjiri pasaran, sirup Agung menjadi sajian wajib untuk minuman masyarakat Kudus. Apalagi saat Lebaran, sirup ini wajib ada bagi tamu dan keluarga yang datang.
Sirup Agung. Foto: Ist
Tak hanya hari-hari spesial, sirup Agung juga merajai warung-warung yang menjual minuman. Misalnya untuk minuman es degan, soda gembira, atau hanya es sirup. Selain frambozen, sirup Agung memiliki tiga rasa, yakni rasa mocca, lemon, dan leci. Meski banyak merek sirup terkenal dan mahal, namun sirup agung tetap menjadi andalan hingga sekarang.
Jenang Sinar 33
Jenang merek Sinar 33 merupakan produk makanan yang dibuat PT Mubarokfood Cipta Delicia. Jenang Sinar 33 merupakan produk legendaris produsen jenang terbesar di Kota Kretek. Produk ini telah lama menjadi oleh-oleh wajib, bagi masyarakat yang datang ke Kudus. Rasa manisnya yang khas, menjadi cita rasa manakan terbuat dari tepung beras dan gula tersebut.
Jenang Sinar Tiga-Tiga. Foto: Ist
Meski Manajemen PT Mubarokfood Cipta Delicia telah memodernisasi produk jenang buatannya melalui kemasannya, namun khusus untuk jenang Sinar 33 kemasan kertas lipat tetap dipertahankan. Masyarakat sejak lama mengenal jenang merek tersebut dengan kemasan kertas lipat.
Untuk keperluan peralatan dapur, masyarakat Kudus tentu sangat akrab dengan pisau produksi masyarakat Bareng, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo. Pisau Bareng telah menjadi nama generik untuk produk besi dan baja satu ini.
Pisau Bareng. Foto: Ist
Sejak dulu pisau Bareng sangat dikenal hingga pelosok Kudus dan sejumlah daerah lain di sekitarnya. Bahkan, produk ini menjadi andalan industri UMKM yang telah mampu menembus pasar nasional. Berkembangnya produk pisau, mendorong para produsen di Desa Jekulo dan Hadipolo, menambah varian bahan pisau. Selain memproduksi pisau berbahan baja, mereka juga membuat pisau berbahan stainless.
Dos Sumanto Bareng
Petani di Undaan dan sejumlah wilayah lain di Kudus tentu sangat akrab dengan alat perontok padi atau lazin disebut dos merek Sumanto Bareng. Bagaimana tidak, mereka selalu membutuhkan alat ini untuk memanen padi yang telah mereka tanam. Alat perontok padi manual dengan warna biru bertulis Sumanto Bareng Kudus merupakan produk yang merajai pasaran sebelum munculnya alat bermesin.
Dos Sumanto. Foto: Ist
Sistem kerja alat ini, pengguna harus memutar pedal yang terhubung dengan tabung paku melalui rantai. Alat ini dioperasikan dua orang untuk memutar pedal di sisi kiri dan kanan. Padi yang telah dipotong diletakkan di atas tabung paku yang memutar, sehingga butir-butir padi bisa rontok.
Alumni Madrasah aliyah Taswiquth Thulab Salafiyah (TBS) Irsad Roxiyul Azmi (22) menjadi wisudawan
terbaik ) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Mahasiswa Jurusan
Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut
menjadi wisudawan terbaik nonakademik.
Isyad berfoto bersama saat wisuda di UIN Sunan Ampel Surabaya. (Foto Facebook)
Predikat tersebut diberikannya dalam wisuda Program Doktor, Magister dan
Sarjana ke-75 Semester, Sabtu (12/3/2016). Acara tersebut dilakansanakan di
Gedung Sport Center & Multipurpose UIN Sunan Ampel Surabaya dan diikuti 778
wisudawan.
Irsad mengalahkan kandidat lainnya karena torehan sejumlah prestasi yang
diraih. Dia tercatat menjuarai lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional
sebanyak 7 kali dalam 7 semester pada masa studinya.
Selain prestasi tersebut, dia juga tercatat pernah menjadi Juara
dalam Lomba Esai Al-qur’an
Mahasiswa tingkat Nasional di Gamais Islamic Fair (GIF) Universitas Diponegoro
2015. Selain itu juara Lomba
Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional di Unnes Islamic Fair (UIF)
Universitas Negeri Semarang 2014, juara
Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional di Scientific Writing
Competition of Politic and Law (SCEPTA) Universitas Muhammadiyah Malang 2015.
Sederet prestasi lain juga berhasil ditorehkan. Antara
lain pemenang kedua Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat
Nasional di Islamic Psychology Festival Universitas Muhammadiyah Malang 2015, pemenang ketiga Lomba
Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional di Symphony in Islamic Seminar
and Paper Competition of Airlangga Index (STEROID) Universitas Airlangga 2015.
Selain itu, dia juga pernah menerima penghargaan
karya artikel terinovatif predikat the Honorable Mention Excellent Award pada Pekan Kretivitas Masyarakat (PKM) Alumni
Universitas Soedirman 2015, dan karya
artikel terbaik predikat the Most Outsanding Award pada Lomba Artikel Nasional
Alumni Universitas Soedirman 2015.
Irsyad juga mempertahankan prestasi akademiknya dengan perolehan Nilai IPK
3,73 atau predekat magna coumload. Dia merupakan mahasiswa penerima
beasiswa santri berprestasi (PBSB) dari Kemenag RI angkatan 2012 yang memilih
UIN Surabaya sebagai kampus impiannya dan mampu menyelesaikan studinya dalam 7
semester.
“Alhamdullilah, semua ini barokahnya yai-yai TBS dan doa dari kedua orang tua saya pastinya,” ujar anak pasangan Hambali
dan Hanifah kepada Seputarkudus.com.
Irsad mengaku termotivasi banyaknya anak dari Jawa Tengah yang selama ini
kalah dari arek-arek Jawa Timur. “Selama ini kampus PTAIN di Jawa
Tengah selalu menjadi penonton bahkan tamu di rumah sendiri dalam perebutan
prestasi,” katanya.
Menurutnya, mitos anak asal Jawa Tengah yang selalu kalah dari anak Jawa
Timur bisa dipatahkan. “Bi idzinillah saya beranikan memilih UIN
surabaya yang notabetnya kampus PTAIN terbaik di jatim, saya tidak hanya
bersanding, bersama dan bersangin dengan santri-santri jatim namun menjadi yang
terbaik diantara mereka dan yang pastnyai dirumah mereka sendiri,” tambah Ketua
Comunity of Santri Scholar of Ministry of Religion Affairs (CSS MoRA) kudus
itu.
Dalam yudisium yang dilaksanakan pada 10 Marer di Fakultas Dakwah dan
Komunikasi, secara khusus Irsad mendapatkan ucapan terima kasih dan selamat
dari Dr. Sri Suhartini M.S,i selaku dekan. Dalam sambutannya dia mengungkapkan
apresiasinya kepada Irsad yang telah memaksimalkan potensinya yang tidak
diajarkan selama di kelas dan telah mengharumkan nama UIN Surabaya dengan
segala prestasinya.
“Kabarnya pak rektor bangga dengan raihan ini dan telah memamerkan prestasi
ini ke PTN lain,” ujarnya.
SEPUTARKUDUS.COM – Sering kita menjumpai tumpukan kaus bekas yang tersimpan digudang atau almari. Entah karena sudah kekecilan atau kusut, namun tumpukan kaus tersebut sering mengganggu pemandangan di rumah. Tak jarang banyak tikus membuat kaus-kaus tersebut sebagai tempat tinggal. Padahal, kaus bekas itu bisa dimanfaatkan. Satu di antaranya untuk dibuat menjadi tas.
Dalam video yang diunggah di Youtube berdurasi tiga menit oleh Cap Capung Kreatif ini, memperlihatkan bagaimana proses membuat kaus bekas menjadi tas cantik yang bisa digunakan untuk berbelanja, atau bahkan untuk kuliah.
Pertama-tama siapkan kaus bekas, gunting, jarum, benang, penggaris, spidol dan aksesoris tambahan, misalnya bunga. Potong kerah dan lengan kaos dengan jarak menjorok kedalam tiga sampai lima sentimeter. Potongan sesuaikan dengan pola kerah dan lengan.
Setelah bagian kerah dan lengan terpotong dengan rapi, potong juga kedua sudut bagian bawah kaus dengan pola miring. Jahit lewat dalam bagian bawah kaus dengan kuat. Karena jika mennjahit lewat luar akan terlihat tidak rapi.
Sebagai tips tambahan, bungan kain atau yang lainnya supaya tas anda terlihat lebih indah. Tas ini cukup menarik digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Misalnya pergi kuliah atau sekedar hangout. Yuk, buat tasmu sekarang. (Imam P Arwindra)
SEPUTARKUDUS.COM – Kudus telah dikenal sebagai kabupaten kecil yang memiliki banyak obyek wisata. Di antaranya wisata religi ke Masjid Menara Kudus dan makam Sunan Muria di Colo, Museum Kretek, air terjun Montel, dan lainnya. Namun ada satu desa memiliki banyak obyek indah yang selama ini belum banyak dipublikasikan, yakni di Kudus selatan, tepatnya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan.
Pemandangan sawah di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan. (Foto: seputarkudus.com)
Foto di atas diambil dari satu sudut di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan. Dalam foto tersebut tampak pemandangan hamparan sawah hijau menguning. Dalam obyek tersebut tampak pegunungan Kendeng di sebelah tenggara, seperti sabuk alam yang mempercantik obyek tersebut. Di atas sawah, tampak gumpalan-gumpalan awan dengan latar langit biru. Dari foto tersebut, tak berlebihan Desa Berugenjang disebut “surga” kecil di Kudus yang layak dikunjungi.
Desa Berugenjang berbatasan dengan Desa Wonosoco di sebelah selatan, Desa Lambangan dan Kalirejo di sebelah barat, Desa Glagah Waru di sebelah utara dan Desa Prawoto (Pati) di sebelah timur. Sebagian besar wilayah desa tersebut lahan pertanian. Permukiman desa tersebut berada di tengah wilayah dikelilingi hamparan sawah.
Gunung Muria tampak dari Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan. (Foto: Seputarkudus.com)
Dari sudut yang berbeda, pegunungan Muria bisa terlihat dari desa yang berpenduduk sekitar 1.500 jiwa tersebut. Jika beruntung, cuaca cerah di pagi hari, pegunungan berwarna biru di Kudus utara tersebut akan nampak dengan latar hamparan tanaman padi.
Selain itu, selain di sebelah utara, di sebelah selatan juga akan nampak Gunung Merapi dari sudut Desa Berugenjang. Gunung biru yang menjulang tinggi diselimuti awan tipis tampak sangat indah di pagi hari di desa tersebut. Lagi-lagi, latar pemandangan tersebut berupa hamparan tanaman padi yang seperti karpet hijau, menambah keindahan gunung di Provinsi Yogyakarta tersebut.
Gunung Merapi tampak dari Desa Berugenjang. (Foto: Seputarkudus.com)
Selain pemandangan alam yang memesona, kebudayaan dan tradisi masyarakat Desa Berugenjang juga tak kalah menarik. Di desa tersebut terdapat beberapa kelompok seni yang hingga kini masih nguri-uri warisan leluhur. Di antaranya kelompok seni barongan dan kethoprak. Dua kelompok seni tersebut tidak hanya tampil untuk acara-acara di desa setempat, namun juga sering tampil di acara-acara resmi tingkat kecamatan dan kabupaten. Tak jarang, dua kelompok seni itu juga tampil di luar daerah. (Baca juga: Kesenian Barongan Desa Berugenjang, Warisan Leluhur yang Masih Terjaga).
Kelompok kesenian barongan Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan. (Foto: Seputarkudus.com)
Desa Berugenjang juga memiliki sejumlah agenda acara kebudayaan yang selalu diselenggarakan setiap tahun. Di antaranya sedekah bumi menyambut masuim tanam pertama sekitar bulan September, penghormatan Danyang Desa Ki Ageng Bogo dan Mbah Kardinah, Lenthogan untuk mengusir hama tikus, Apeman di akhir Ramadan, dan sejumlah agenda kebudayaan lainnya.
SEPUTARKUDUS.COM – Pernahkah terlintas di pikiran untuk menggambar menggunakan Microsoft Excel? Mungkin sebagian besar orang akan berpikir piranti lunak tersebut hanya untuk membuat tabel, perhitungan, penyusunan data, dan berkutat pada angka-angka. Namun software tersebut nyatanya bisa digunakan untuk menggambar.
Pada sebuah tanyangan video berikut bisa dilihat bagaimana piranti lunak bawaan MS Office tersebut bisa digunakan untuk menggambar. Mulai dari pembuatan sketsa, pewarnaan, dan pengaturan tebal dan tipis sebuah grafis sesuai dengan keinginan. Berikut tayangan video proses pembuatan gambar di MS Excel.
Mula-mula, sketsa dasar dibuat sebagai proses awal pembuatan karakter. Lalu sketsa dasar tersebut diberi warna sesuai dengan keinginan. Untuk membuat gambar tampak nyata, sketsa tersebut diberi arsiran tebal dan tipis untuk memberikan efek shadow atau bayangan.
Meskipun bisa digunakan untuk menggambar, namun menggunakan MS Excel tentu akan membutuhkan waktu yang lama. Karena toolls dalam piranti lunak tersebut sangat terbatas untuk membuat grafis gambar. Butuh kesabaran dan ketelitian menggunakan MS Excel sebagai piranti menggambar.
Kebanyakan, para ilustrator desain grafis menggunakan Corel Draw atau Adobe Photoshop untuk membuat gambar. Dua piranti lunak tersebut sudah sangat lazim digunakan hingga saat ini. Di dua software tersebut tersedia banyak toolls yang dapat digunakan sesuai kebutuhan membuat sebuah desain grafis.
Meski bukan peruntukannya, nyatanya ada yang mampu membuktikan MS Excel bisa digunakan untuk menggambar. Selain mennggunakan MS Excel, ada pula yang pernah membuktikan menggambar dengan hasil yang keren menggunakan Paint yang terdapat di accessories Windows. Berikut video menggambar menggunakan piranti lunak tersebut. Hasilnya sangat keren tak kalah dengan menggunakan Corel Draw atau Adobe Photoshop.
SEPUTARKUDUS.COM – Penyanyi terkenal Isyana Sarasvati didaulat untuk menyanyikan lagu sound track film animasi 3D garapan siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus. Gadis yang akan berulang tahun pada 22 Mei tersebut akan menyanyikan lagu di film yang berjudul Pasoa & Sang Pemberan.
Isyana Sarasvati menyanyikan Ost Film Animasi Pasoa & Sang Pemberani. Sumber: Twitter
Tak berlebihan jika film garapan anak-anak SMK di Gebog, Kudus, tersebut menggandeng penyanyi top peraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award tersebut. Karena film yang dibuat di studio animasi program Kejuruan Animasi di sekolah itu, proses pengerjaannya menggunakan piranti lunak yang sama dengan yang digunakan film animasi Hollywood Frozen dan Finding Nemo. Mereka juga didampingi praktisi animasi dunia dari Walt Disney Studio.
Isyana telah datang ke Kudus pada acara Inaguration Ceremonial RUS Animation Studio pada awal Maret lalu. Dia menyanyikan lagu yang akan digunakan sebagai sound track film Pasoa & Sang Pemberani. Hadir dalam acara tersebut, sejumlah pihak yang telah mendukung pembuatan film, di antaranya dari Djarum Foundation Bakti Pendidikan.
Pasoa & Sang Pemberani digadang-gadang sejumlah pihak akan menjadi film kelas dunia. Karena proses pengerjaannya dilakukan menggunakan piranti kelas dunia, dan didukung para praktisi kelas dunia yang telah banyak menelurkan film-film animasi boxoffice. Film tersebut juga dinilai akan menjadi pendorong industri animasi di Indonesia, yang dikerjakan tangan-tangan terampil dari generasi muda.
SEPUTARKUDUS.COM – Sejumlah siswa di SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus kini tengah menyiapkan film 3D animasi kelas dunia berjudul Pasoa & Sang Pemberani. Penggarapan film tersebut ditunjang dengan piranti lunak Autodesk Maya yang juga digunakan untuk produksi film-film animasi Hollywood, di antaranya film Frozen dan Finding Nemo. Seluruh proses penggarapan film dikerjakan di studio animasi sekolah tersebut.
Proses pembuatan karakter film 3D animasi Pasoa & Sang Pemberani. Sumber: Youtube Chanel RUS Animation Studio
Para siswa SMK RUS Kudus mengerjakan seluruh proses pembuatan film di studio animasi. Mulai dari pembuatan naskah, story board, pembuatan karakter. Setelah proses tersebut selesai, proses selanjutnya pembuatan model, gerakan, pencahayaan, dan efek animasi. Para siswa mengerjakan proses itu menggunakan perangkat lunak Autodesk Maya.
Pada pascaproduksi, para siswa menyempurnakan pewarnaan, penambahan efek suara dan mengisian suara masing-masing karakter. Setelah semua proses tersebut, film kemudian akan disusun menjadi animasi lengkap dengan suara yang utuh.
Siswa SMK RUS Kudus mengerkan proses pembuatan film 3D animasi Pasoa & Sang Pemberani. Sumber: Yutube Chanel RUS Animation Studio
Pembuatan program Kejuruan Animasi di SMK RUS Kudus didukuung oleh Autodesk, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) dan Djarum Foundation Bakti Pendidikan. Program animasi itu dibuat untuk mendorong kebutuhan industri animasi yang terus berkembang di Indonesia. Dengan penyiapan program tersebut, para siswa kelak mampu memenuhi kebutuhan industri animasi di negeri ini.
Lebih dari itu, potensi yang dimiliki Bangsa Indonesia dipandang layak sebagai pusat industri animasi dunia. Selain sumber daya manusia yang telah disiapkan, satu di antaranya melalui program kejuruan animasi tersebut, Indonesia memiliki banyak potensi cerita rakyat yang mampu diangkat ke tingkat dunia melalui film animasi.
Selain itu, banyaknya relief yang terdapat di sejumlah candi, menunjukkan teknologi animasi sebetulnya telah lama dikembangkan nenek moyang bangsa ini. Contohnya di Candi Baorobudur, yang memiliki relief bergambar yang memiliki cerita telah ada sejak tahun 800 Masehi.
SEPUTARKUDUS.COM – Gambar atau foto yang dibubuhi tulisan atau lazim disebut meme, sering digunakan untuk menyindir suatu isu, peristiwa atau gejala yang sedang banyak dibicarakan masyarakat. Namun, meme juga sering dibuat sebagai bahan lucu-lucuan, seperti yang dibuat siswa Madrasah Taswiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus.
Beberapa meme yang memiliki gambar berlatar belakang sekolah khusus laki-laki tersebut, yang telah diunggah pengguna Facebook di akun miliknya. Satu di antara enam meme yang diuanggah, tampak seorang siswa mengenakan seragam TBS memampang selembar kertas bertuliskan “Sak ayu-ayune cah Banat/Mu’alimat, iku iseh luweh ayu kitab Al-Fiyyahe Mbah Malik, (Secantik-cantiknya anak Banat/Mu’alimat, masih lebih cantik kitab Al-Fiyyah Mbah Malik)”.
Berdasarkan tulisan yang ada di meme tersebut, siswa itu ingin mengungkapkan, bahwa siswi MA NU Banat Kudus dan MA NU Mu’alimat Kudus kalah cantik dibanding kitab nahwu Al-Fiyyah karangan Ibnu Malik. MA NU Banat dan Mu’alimat adalah sekolah khusus untuk perempuan.
Selain meme tersebut, ada satu meme yang juga memuat tulisan Al-Fiyyah. Di meme tersebut tampak beberapa siswa TBS tengah asyik bermain bola, dan memuat tulisan “Kangen naliko jaman semono, masalah sing abot mung ngapalno Al-Fiyyah, (Teringat masa lalu, masalah yang berat hanya menghafal Al-Fiyyah).”
Selain dua meme tersebut, ada sejumlah meme lain yang memiliki latar belakang siswa TBS. Di antaranya gambar yang menunjukkan siswa TBS yang berjubel melihat film melalui laptop, dan sejumlah meme lain yang cukup bisa membangkitkan romantisme alumni siswa TBS.
Menemukan beberapa meme di alasantri dg berlatar belakang Madrasah TBS, sedikit mengobati kerinduan dg Madrasah Tbs
Posted by Abdulloh Hamid on Tuesday, March 8, 2016