Beranda blog Halaman 1967

Ternyata Kemeja Hitam Upacara Ngaben di Bali Dipesan dari Padurenan Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, GEBOG – Tumpukan kemeja hitam tertata rapi di
ruang tengah rumah dua lantai milik Chalimi (49), Desa Padurenan, Kecamatan Gebog,
Kabupaten Kudus.Tampak beberapa karyawan menjahit kemeja hitam serupa. Menurut Chalimi, kemeja hitam
tersebut merupakan dipesan dari Bali untuk upacara Ngaben.

jual kemeja padurenan kudus
Karyawan di konveksi Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus, mengerjakan pesanan kemeja hitam untuk upacara Ngaben di Bali. Foto: Imam Arwindra

Dia mengaku, sejak tahun 1996 konveksinya
sudah menjadi pemasok kemeja hitam yang digunakan untuk upacara Ngaben di Bali. “Minggu ini akan kirim baju lagi ke Bali.
Selain seragam sekolah ada kemeja hitam untuk upacara Ngaben,” ungkapnya ketika
ditemui di kediamannya, Selasa (10/5/2016) siang.
Chalimi menuturkan setiap pekan dia
mengirim 300 kemeja hitam ke Bali. Angka tersebut terbilang kecil, karena jika permintaan stabil bisa sampai mencapai 1.000 pcs. “Pernah dulu ketika Ngaben massal bisa
sampai 3.000 potong,” jelasnya.
Chalimi menjelaskan, dalam menjalankan usaha konveksinya itu dia dibantu
Sembilan karyawan tetap dan enam orang karyawan lepas.
Di Bali, dia mengaku memiliki tiga agen penjualan di Bali.
“Sebenarnya tidak hanya kemeja hitam untuk
Ngaben saja. Kemeja putih untuk ke pure juga saya buat,” tambahnya.

jual seragam dan kemeja hitam di Kudus
Chalimi menata kemeja hitam pesanan dari Bali untuk upacara Ngaben. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, orang-orang Bali sangat
taat beribadah. Upacara Ngaben memakai kemeja hitam dan sarung. Begitu
juga ketika mereka beibadah ke pure, mereka memakai kemeja putih.
Konveksi
dengan nama merek dagang Maxthink dan CJDW milik Chalimi, selain membuat kemeja, juga
memproduksi celana pendek. Dia menuturkan penjualannya tidak hanya
di Bali, melainkan juga di sekitar Kudus. Sebagian besar kemeja-kemeja
perusahaan dan organisasi yang terdapat tulisan bordir.
“Kami juga banyak menerima pesanan
kemeja-kemeja dari perusahaan maupun organisasi yang biasanya (tulisan) dibordir.
Rata-rata dari sekitar Kudus,” jelasnya. 

- advertisement -

Patut Dicontoh, Pemuda Ansor Gebog Kudus Ini Berdayakan Tetangganya Usaha Konvenksi

0

SEPUTARKUDUS.COM, GEBOG – Di Dukuh Kalilopo, Desa Klumpit, Kecamatan Gebok, Kudus, terdapat sebuah bercat putih berbentuk joglo. Rumah tersebut milik seorang
pemuda Ansor Gebog bernama Saefudin Nawawi (27), yang juga digunakannya untuk menggeluti usaha konveksi. Selain menggarap sendiri pesanannya, dia juga memberdayakan tetangganya.

usaha konveksi kudus
Nawawi menunjukkan tempat kerjanya pembuatan pakaian jadi. Foto Rabu Sipan.

Di ruang tamu rumah tersebut terlihat beberapa tumpukan pakaian
jadi siap kirim, Selasa (10/5/2016). Selain itu juga tampak beberapa kain bahan yang akan di potong sesuai pola.
Sedangkan di ruang sebelah terdapat banyak pakaian jadi yang belum dilipat dan
dikemas, serta beberapa mesin jahit dan mesin obras.

Nawawi , begitu dia biasa disapa, menceritakan, usahanya ini awalnya
dia kerjakan sendiri. Setelah pakaian jadi yang dia buat diminati di pasaran, dia pun
memutuskan untuk mengambil tenaga penjahit dengan memberdayakan tetangganya.

“Dengan memberdayakan beberapa ibu rumah tangga, aku berharap itu jadi pekerjaan sambilan dan hasilnya bisa buat tambah-tambah penghasilan untuk
membantu kebutuhan keluarga,” kata Nawawi yang tercatat sebagai pengurus Pemuda Ansor Kecamatan Gebog, kepada Seputarkudus.com.

Dia menjelaskan, pekerjaan menjahit pakaian itu dikerjakan ibu-ibu tetangganya di rumah
masing-masing. Dan upahnya dihitung secara borong. Biasanya mereka bisa menerima
antara Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta per bulan, tergantung banyak atau sedikitnya
pakaian yang mereka buat.

Saat ini ada empat tetangganya yang membantu mengerjakan pesanan. Mereka biasanya mengambil bahan lalu dikerjakan
di rumanya. “Untuk finishing-nya aku memperjakan anak-anak sekolah. Lumayan lah
buat bantu-bantu mereka bayar sekolah dan buat uang saku,” ujar Nawawi yang telah melepas masa lajangnya beberapa pekan lalu.

Sekarang ini ada tiga orang anak yang membantunya melakukan finishing pembuatan baju. Mereka datang ke rumahnya untuk memasang kancing, membuat lubang kancing, dan lain sebagainya.

Nawawi menambahkan, konveksinya itu saat ini hanya membuat baju seragam sekolah. Pesanan tidak hanya dari Kudus, tapi juga sejumlah daerah di luar Jawa. “Sekarang ini pesanan selain dari Kudus
juga datang dari Semarang, serta sejumlah daerah di luar Jawa” kata Nawawi, seraya berharap usahanya ini terus berkembang dan maju sehingga bisa
memberdayakan lebih banyak tetangganya.

- advertisement -

Saat Aspal Panas Itu Dituangkan di Bekas Median Jalan A Yani Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA  – Sambil membawa wadah berisi aspal panas, Yanto (46) terus menyusuri bekas median Jalan A Yani, Kudus, Selasa (20/5/2016). Aspal cair tersebut disiramkan ke jalan untuk menutupi bekas median jalan yang telah dibongkar. Selama ini median jalan tersebut digunakan pembatas antara kendaraan motor dan mobil yang melintas di jalan searah tersebut.

Median jalan A Yani Kudus dibongkar
Pekerja menuangkan aspal panas cair di bekas median Jalan A Yani Kudus, Senin (10/5/2016). Aspal tersebut untuk menutupi bekas median yang telah dibongkar. Foto: Suwoko

“Aspal ini untuk menutup bekas median jalan yang telah dibongkar. Kami menutup bekas median dari lampu merah dekat kantor Djarum hingga ke Alun-alun Simpang Tujuh,” ujar Yanto.

Selain Yanto, beberapa orang pekerja lainnya juga terlibat dalam pengerjaan penutupan bekas median tersebut. Beberapa di antaranya menggotong aspal panas dalam tong. Beberapa lainnya mengatur kendaraan yang melintas di Jalan A Yani tersebut. Tampak pula sebuah alat berat yang akan digunakan untuk meratakan permukaan aspal yang telah disiramkan.

Sejumlah kendaraan tetap melintas sebagaimana median jalan belum dibongkar. Kendaraan mobil tetap melintas di lajur kanan, dan pengendara motor melintas di lajur kiri. Meski ada kegiatan perbaikan jalan, lalu lintas di jalan tersebut tetap lancar.

Median Jalan di Kudus yang Telah Dibongkar

Selain Jalan A Yani, beberapa jalan juga telah dihilangkan mediannya. Antara lain Jalan Sunan Kudus dan Jalan Jendral Sudirman. Bekas median yang telah lama dibongkar tersebut hingga kini masih bisa dilihat. 

Jalan Jendral Sudirman, Kudus
Jalan Sunan Kudus

Di Jalan Sunan Kudus, lajur barat jalan yang dulu terdapat pembatas, kini telah dijadikan area parkir. Beberapa garis putih dipasang menyerong sebagai tanda pembatas parkir kendaraan. Beberapa kendaraan motor dan mobil tampak terparkir di lajur jalan yang dulu banyak digunakan pedagang untuk berjualan. Sebelum dibongkar, median di Jalan Sunan Muria dulu terpasang dari Alun-alun Simpang Tujuh, hingga di jembatan Sungai Gelis. 

Di Jalan Jendral Sudirman, median jalan awalnya terpasang dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, hingga di lampu merah kawasan Pentol. Median jalan tersebut juga melintasi jalan di depan Pasar Kliwon. Lajur jalan yang dulunya menjadi jalur lambat kendaraan, saat ini menyatu dengan lajur jalan yang berada di sisi sebelah barat.

- advertisement -

Hanya Lulus SD, Andi Kini Punya 9 Pegawai Memproduksi Jaket

0
SEPUTARKUDUS.COM – Puluhan jaket bermerek Gress beraneka warna tergantung rapi di sisi Jalan Jendral Sudirman, tak jauh dari SMA 1 Bae, Kudus, Senin (9/5/2016) siang. Beberapa pengendara dari arah timur tampak
pelan-pelan melihat jaket yang dipajang. Jaket-jaket tersebut milik penjual asal Kabupaten Pemalang, Andi Maulana, yang hanya lulusan SD namun kini memiliki 9 pegawai.
jual jaket kulit
Andi (bertopi) menjajakan jaket yang dia produksi, di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto Imam Arwindra


Seseorang laki-laki gemuk bertopi turun dari motor Honda Beat
putih di lapak milik Andi. Dia melihat jaket yang digantung di tengah. “Yang ini berapa mas?” Tanya dia sambil memegang jaket berwarna hitam.
“(Harga jaket) itu Rp 150 ribu mas,” jawab Andi yang menamai lapaknya Al-Hidayah.
Ketika ditemui SeputarKudus.com, Andi menceritakan suka dan duka menjalankan usahanya memproduksi jaket-jaket tersebut. Di antaranya saat banyak pelanggannya berhenti berjualan dan kini memutuskan untuk menjualnya di tepi jalan. 

“Saya sebenarnya sudah memiliki banyak pelanggan di Jakarta. Mereka yakni para PKL (pedagang kaki lima). Mereka berhenti berjualan karena banyak penertiban di Jakarta. Untuk terus menjalankan usaha ini saya putuskan untuk menjualnya bersama karyawan saya menggunakan mobil,” ujarnya.

Sebelum menjual jaketnya menggunakan mobil, dia mengatakan, dulu saat bahan baku naik, penjual
tidak mau menaikkan harga jaket. Akhirnya, dia harus menanggung rugi ketimbang
kehilangan konsumen.
“Jadi saya menyetor jaket kebeberapa toko-toko baju. Saat bahan
baku naik, toko yang saya setok tidak
mau menaikkan harga jaket. Akhirnya saya lebih memilih rugi sedikit dari pada
kehilangan konsumen,” ungkap pria yang lahir di Pemalang, 11 Mei 1969.
Andi memulai terjun bisnis tahun 2000. Dia memilih fokus
jaket karena beban produksinya lebih murah. Menurutnya, produksi jaket hanya
butuh satu mesin obras saja. Berbeda dengan kaos dan celana jins yang
membutuhkan lebih dari satu mesin.
“Jika produksi kaus dan celana (bahan jins) butuh lebih
dari satu mesin. Jadi beban produksi cukup besar,” tambah dia yang berpindah
duduk di bagasi belakang mobilnya.
Selama berjualan di Kudus, menurutnya, setiap hari mampu
menjual  lima sampai 10 jaket. Jadi
pendapatan kotor sekitar Rp 1 juta. “Saya di Kudus mulai Sabtu (7/5/2016), rencana sampai Kamis
besok (12/5/2016). Di sini (Kudus) cukup ramai. Setiap harinya sekitar lima
sampai sepuluh jaket yang terjual,” tambahnya.
Dia menuturkan, selama di Kudus dia dan satu pegawainya
tidur di SPBU, karena menginap di hotel atau kontrak rumah biayanya cukup mahal. “Sebenarnya saya domisili di Jakarta Timur. Karena berjualan
di tepi jalan Jakarta sulit, kami mencari tempat baru. Di antaranya di jalur
Pantura Timur,” ungkapnya.

Sejak Kecil Andi Sudah Mandiri

Lebih lanjut Andi menceritakan, semasa kecil dia terbiasa mandiri. Saat
kelas dua SD, dia sudah ditinggal ayahnya. Setiap hari dia diasuh oleh neneknya karena ibunya pergi bekerja di Sumatra.
Suatu ketika dia
mendapat kabar ibunya sering sakit-sakitan. Akhinya dia memutuskan untuk
berlatih menghidupi dirinya sendiri. “Saat tetangga minta dicarikan kayu, saya berangkat. Disuruh ini
dan itu saya berangkat. Supaya bisa makan,” ungkapnya sambil melepas topi hitam
yang dipakainya.
Setelah lulus SD, katanya, dia tidak melanjutkan sekolah, karena tidak mempunyai biaya. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut temannya ke
Jakarta bekerja di konveksi baju. “Saat itu saya bekerja membuang sisa-sisa jaitan di baju
yang tidak terpakai,” tuturnya.
Berawal dari bekerja di konveksi itulah, yang menuntun dirinya menggeluti bisnis pakaian. Pria yang memiliki istri asli Pemalang tersebut, saat ini mempunyai
dua orang anak laki-laki dan perempuan. Dia mengaku sudah memilik Sembilan karyawan
yang bekerja di konveksinya.
Dibalik dari semangatnya berjuang, dia mengaku teringat akan
pesan dari mendiang orang tuanya. “Jangan terpengaruh siapapun. Ikuti kata-kata yang baik dari
orang dan tinggalkan yang buruk. Tetap istiqomah dalam menjalani apapun,”
ungkapnya.

- advertisement -

Terusir dari Jakarta, Warga Pemalang Berjualan Jaket di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM – Lalu lalang kendaraan di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, tak membuatnya merasa bising atau terganggu. Justru hal itu menjadi peluang bagi Andi Maulana untuk menjual jaket-jeket miliknya. Terusir dari Jakarta karena banyaknya penertiban pedagang kaki lima (PKL), membuatnya memutuskan untuk pindah dan mencoba peruntungannya di Kudus.

jual jaket kulit dan imitasi di kudus
Andi melayani pengendara yang akan membeli jaket yang dijual di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, Senin (9/5/2016). Foto: Rabu Sipan

“Jaket ini saya produksi. Di Jakarta saya punya banyak pelanggan PKL yang membeli untuk dijual kembali. Tapi setelah banyak penertiban PKL di sana, mereka berhenti berjualan. Dan saya putuskan untuk menjual jaket ini di Kudus,” ujar Andi kepada Seputarkudus.com, Senin (9/5/2016).

Sesekali ada pengendara di jalur pantura itu berhenti dan melihat jaket yang Andi jual. Meski ada beberapa pengendara yang tertarik dan kemudian membeli, namun tak sedikit pengendara yang hanya melihat-lihat saja.

Andi sengaja memilih berjualan di tepi jalan dengan harapan ada pengendara yang berhenti dan tertarik untuk membeli jaket yang dia jual. Menurutnya, berjualan di tepi jalan sangat pas dengan jenis jaket yang dijualnya. Berbahan kulit dan mitasi, jaketnya sangat cocok untuk dikenakan saat berkendara, khususnya pengendara sepeda motor.

“Namanya juga usaha, ada (pengendara) yang berhenti kemudian membeli, tapi tak sedikit pula yang tak jadi membeli,” katanya.

Dia mengatakan, harga jaket yang dia jual antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Dalam sepekan dia mengaku bisa menjual lebih dari 70 jaket. Dan dalam sehari omzetnya bisa lebih dari Rp 1 juta, selama berjualan di Kudus. “Di Kudus aman, tidak ada pungutan liar,” kata Andi sambil berjalan menyapa calon pembeli jaketnya. 

Tidur di Dalam Mobil

Selama berjualan di Kudus, Andi mengaku tidur di dalam mobil. Seusai berjualan, dia memarkir mobilnya di area parkir stasiun bahan bakar umum (SPBU) tak jauh dari tempatnya berjualan. Itu dilakukan untuk menghemat pengeluaran.  

“Untuk menghemat pengeluaran, mau tidak mau harus tidur di mobil. Biasanya mobil saya parkir di SPBU terdekat. Agar usaha konveksi pembuatan jaket ini terus berjalan, saya harus melakukan berbagai cara. Karena sampai saat ini ada sembilan orang karyawan yang menggantungkan hidup melalui usaha konveksi saya,” tuturnya.

- advertisement -

Warga Hadipolo Ini Hanya Mendapat Rp 12 Ribu Berjualan Es Tebu

0
SEPUTARKUDUS.COM – Tangan rentanya masih sigap menggiling batang demi
batang tebu, di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, Senin (9/5/2016). Di atas gerobak kecil miliknya, Zaenal Arifin (63) dengan cepat
melayani setiap pengendara yang membeli es tebu yang dia jual. Meski hanya mendapat hasil Rp 12 ribu per hari, pak tua yang tinggal di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, itu tetap bersemangat demi mencukupi kebutuhan hidup.
penjual es tebu di kabupaten kudus
Zaenal Arifin (63) menggiling tebu di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, (9/5/2016). Foto Imam Arwindra

Di atas gerobaknya terdapat mesin penggiling yang
digunakan memeras tebu untuk mendapatkan sarinya. Mesin tersebut setiap hari digunakannya itu dia sewa dari seseorang di Pati. Hasil yang dia dapat dari berjualan dibagi 40 persen untuk pemilik mesin.

“Pendapatan saya masih sedikit. Belum bisa memenuhi
kebutuhan. Karena harus masih menanggung biaya sewa mesin sebesar 40 persen dari
jumlah pendapatan. Saya berharap mempunyai mesin sendiri,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.


Dia menjelaskan, setiap pekan dia membutuhkan tebu
sebanyak satu kwintal. Harga yang dikeluarkan untuk membeli tebu sebsar Rp 150 ribu per kwintal. Satu kwintal dapat menghasilkan 200 gelas yang dijual Rp 2.000 setiap
gelas.

“Jadi kira-kira sepekan pemasukan saya Rp 400 ribu. Kalau dikurangi
harga bahan baku dan sewa mesin, saya hanya
mendapatkan Rp 90 ribu per pekan,” tutur Zaenal dengan mata berkaca-kaca.

Zaenal mengaku, dulu dirinya pernah bekerja di parbrik rokok, Jambu Bol. Setelah perusahaan tersebut bangkrut dan tidak berproduksi, dirinya bekerja apa saja, termasuk menjual es tebu.

“Saya dulu mandor giling di Jambu Bol. Ketika sudah bangkrut
dijanjikan pesangon Rp 8 juta. Namun sampai sekarang belum diberikan. Setelah
itu saya memulung untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dan sekarang berjualan es tebu,” ceritanya.

Zaenal mempunyai empat orang anak perempuan. Tiga di antaranya sudah
menikah dan satu orang anaknya baru lulus SMK tahun ini. “Alhmdulillah yang terakhir sudah lulus SMK. Dia dapat
sekolah dan tempat tinggal gratis di Kediri,” ungkapnya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah agar dirinya bisa memiliki mesin penggiling tebu. Zaenal mengaku sudah pernah mengajukan bantuan tersebut ke Pemkab Kudus.

“Saya pernah coba meminta dari dinas terkait untuk meminta
bantuan. Tapi ketika sudah disurvei
tidak ada kelanjutannya. Semoga saya dapat bantuan,” ungkapnya.

- advertisement -

Putu Wijaya Kagumi Pentas “Petuah Tampah” di Galeri Indonesia Kaya Jakarta

0

SEPUTARKUDUS.COM, JAKARTA – Beberapa orang masuk di panggung Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu (8/5/2016). Mereka membawa tampah, alat berbentuk bundar terbuat dari anyaman bambu. Mereka adalah para pemain Teater Djarum yang tampil dalam pentas “Petuah Tampah”. Pentas tersebut juga disaksikan beberapa maestro teater Indonesia, di antaranya Jose Rizal Manua dan Putu Wijaya. 

Teater Djarum Pentas Petuah Tampah
Anggota Teater Djarum beraksi dalam pentas “Petuah Tampah” di Galeri Indonsia Kaya, Jakarta, Minggu (8/5/2016). Foto: Facebook Asa Jatmiko.

Usai pementasan yang disutradarai Asa Jatmiko itu, Putu Wijaya memberikan komentarnya. Menurutnya, pada sebuah adegan pemain merebahkan ke kakinya lalu meminta maaf, merupakan momen yang sangat bagus. Pemain dalam pentas tersebut mampu menerobos batas penonton dan membuat pemain dan penonton menjadi akrab.

“Asa, pemainmu yang rebah ke kaki saya lalu bilang maaf, itu bagus sekali, menerobos batas penonton, membuat tontonan akrab,” ujar Putu Wijaya kepada Asa melalui pesan singkat.

Tak hanya itu, menurut Putu Wijaya, pantas yang dimainkan para pemain Teater Djarum tersebut dianggap sebagai terobosan anti-teater dramaturgi Barat. Pementasan teater yang menggunakan idiom teater tradisi/rakyat tersebut sangat mungkin untuk dieksplorasi lebih dalam. 

” Asa, itu terobosan anti-teater dalam dramaturgi Barat, tapi kekayaan idiom teater tradisi/rakyat kita bisa dikembangkan,” ujar Putu Wijaya lagi melalui pesan singkat yang dikirim kepada Asa usai pementasan. 

Asa menjelaskan, pemilihan tampah dalam pentasnya kali ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, tampah merupakan alat tradisional masyarakat Indonesia yang penuh makna filosofis. Tampah tidak hanya memiliki nosi ke dalam, yakni nampa (menerima), tetapi juga memiliki nosi ke luar yang mampu menghubungkan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. 

“Dalam pentas ini, kami menawarkan kembali perenungan akan tumbuhkembangnya kepribadian anak manusia di dalam kehidupan, berdenyut, berkesinambungan dan terus hidup,” ujar Asa.

Menurutnya, kemajuan teknologi modern, terutama teknologi komunikasi, diakui maupun tidak merupakan arus besar yang menjadikan banyak nilai di dalam masyarakat terputus dan terkoyak. 

“Apalagi jika kita tidak mampu secara arif dan bijaksana menyikapinya. Oleh karenanya, tampah yang menawarkan banyak nilai diangkat dalam ‘Petuah Tampah’,” katanya.

Dia menambahkan, selain dipentaskan di Galeri Idonesia Kaya, “Petuah Tampah” juga telah dipentaskan di Gedung Kesenian Jepara pada 22 April 2016. Selanjutnya, akan dimainkan di Balai Budaya Rejosari, Kudus.

- advertisement -

Yuk Ikutan Kontes Selfie di Rumah Brownies Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM – Berfoto selfie sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang saat ini. Kebiasaan mengabadikan peristiwa melalui gambar diri ini terus berkembang seiring berkembangnya teknologi ponsel yang dilengkapi kamera. Gejala ini dimanfaatkan Rumah Brownies Amazing Kudus untuk membuat kontes selfie dalam ulang tahunnya yang kedua bulan ini.
 

selfie kontes rumah brownies kudus

Kesempatan ini tak boleh dilewatkan bagi penggila selfie di Kudus. Karena selain bisa menyalurkan hobi, peseta juga akan mendapatkan hadiah dengan total jutaan rupiah. Para peserta juga akan mendapatkan brownies gratis dari anak perusahaan jenang Mubarokfood Cipta Delicia.

Berdasarkan informasi yang diunggah di akun Facebook milik Jenang Mubarok, lomba foto selfie tersebut akan dilaksanakan pada 17 – 21 April 2016 pukul 09.00 – 20.00 WIB di Rumah Brownies Amazing, Jalan Sunan Muria nomor 29 Kudus. Bagi yang ingin mengikuti kontes tersebut, calon peserta harus mendaftar tanpa dikenakan biaya. 

Persyaratan mengikuti lomba tersebut, peserta harus berfoto selfie dengan produk Brownies Amazing di photo booth yang telah disediakan di Rumah Brownies Kudus. Foto selfie tersebut harus di-upload di akun Facebook dengan menandai akun Jenang Mubarok dengan mencantumkan keterangan menarik. Foto tersebut juga bisa diserahkan langsung ke panitia. 

Pemenang lomba akan ditentukan berdasarkan banyaknya like foto yang diunggah. Pemenang akan diumumkan pada 22 April 2016 pukul 10.00 WIB. Panitia akan menyerahkan hadiah kepada pemenang pada 23 April 2016 pukul 10.00 WIB. Sebagai catatan, kegiatan ini tidak boleh diikuti karyawan Mubarokfood Cipta Delicia. 
    

- advertisement -

Inilah Kampung dan Desa di Kudus yang Memiliki Nama Unik

0

SEPUTARKUDUS – Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Kota Kretek ini memiliki wilayah sempit, jika dibanding dengan kabupaten lain. Begitu juga luas perdesaan yang terbilang kecil dibanding desa di daerah lainnya. Meski begitu, desa-desa dan kampung di Kudus memiliki nama-nama unik, yang tak akan mudah dilupa oleh masyarakat luar daerah yang datang ke Kudus.

waduk wilalung desa kalirejo undaan kudus
Waduk Babalan Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (Foto: Seputarkudus.com)

Babalan 

Babalan atau masyarakat setempat menyebutnya Mbabalan, merupakan sebutan lain sebuah desa di Kecamatan Undaan, Kalirejo. Masyarakat di Undaan lebih mengenal nama Babalan ketimbang nama resmi desa tersebut. Bahkan, trayek bus dari desa tersebut ke Kudus kota tidak tertulis jurusan Kalirejo-Kudus, melainkan Babalan-Kudus.

Di desa tersebut terdapat lapangan sepak bola legendaris bagi masyarakat di Undaan. Lapangan tersebut dulu sering digunakan untuk pertandingan sepak bola dan acara-acara besar lainnya. Mungkin karena itulah desa tersebut memiliki sebutan Babalan. Di desa Kalirejo juga terdapat waduk peninggalan pemerintahan kolonial, yakni Waduk Babalan atau juga sering disebut Waduk Wilalung. 

angkutan umum kudus bareng
Angkutan umum jursan Terminal Kudus – Sub Terminal Bareng. (Foto: Seputarkudus.com)

Bareng  

Bareng merupakan sebuah dukuh di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo. Meski hanya nama dukuh, namun kata tersebut lebih dikenal masyarakat. Misalnya saja, pondok pesantren dan trayek angkutan umum. Masyarakat sangat mengenal istilah pondok Bareng dan trayek angkutan umum jurusan Terminal Kudus – Subterminal Bareng.

Dalam berbagai referensi, kata bareng muncul karena di Desa Hadipolo dulu terdapat tempat pemberhentian penumpang kereta api. Banyak santri luar kota yang turun dari kereta mengatakan kata bareng kepada santri lainnya untuk menuju ke pondok. Ada juga referensi lain yang menyebutkan, bareng berasal dari kata Mbahareng, empu pembuat keris di desa tersebut. 

taman kencing jati wetan kudus
Pembangunan taman kota di Perempatan Kencing Desa Jati Wetan, Kudus. (Foto: Seputarkudus.com)

Kencing

Sebuah dukuh di Desa Jati Wetan ini memiliki nama yang sangat unik, yakni Kencing. Dalam Bahasa Indonesia kata tersebut bermakna buang air kecil. Kata Kencing sering disebut masyarakat Kudus sebagai penanda kawasan. Masyarakat lebih mengenal Kencing sebagai kawasan ketimbang nama dukuh. Beberapa kata kawasan yang sering menyertai kata kencing di antaranya Perempatan Kencing dan (jalan) Lingkar Kencing.

Bae 

Kata Bae merupakan nama sebuah desa dan sekaligus kecamatan di Kudus. Nama ini sangat unik karena memiliki pengucapan yang mirip dengan kata mbahe atau dalam Bahasa Indonesia berarti kakek/neneknya. Keunikan lain, nama ini hanya memiliki tiga huruf saja, B-A-E. 

gapura desa kutuk undaan kudua
Gapura Masuk Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus.

Kutuk

Kutuk merupakan sebuah desa di ujung tenggara Kabupaten Kudus dan memisahkan Kota Kretek dengan Kabupaten Pati di Kecamatan Sukolilo. Desa Kutuk masuk dalam Kecamatan Undaan. Nama desa ini sangat unik, karena bermakna anak ayam.

Kirig 

Kirig merupakan desa berada di wilayah Kecamatan Mejobo. Nama desa yang sangat unik ini sangat dikenal masyarakat Kudus. Kenapa unik, karena pelafalan kata kirig hampir mirip dengan kata kirik, yang berarti anak anjing. Jangan salah menyebutnya ya, karena artinya akan sangat berbeda.
   

- advertisement -

Orang Undaan Pasti Tahu Patung-Patung Ini

0

SEPUTARKUDUS.COM – Kecamatan Undaan tidak hanya dikenal karena bangunan gapuranya yang megah, gang-gang yang tertata rapi dan bersih, dan jalan-jalan perkapungan yang mulus. Wilayah paling selatan di Kabupaten Kudus ini juga dikenal karena memiliki patung-patung yang dibangun di sisi barat jalan, atau di tanggul Sungai Wulan.

patung di kecamatan undaan kudus
Patung Werkudoro di depan Balai Desa Undaan Lor. (Foto: Seputarkudus.com)

Misalnya gambar patung di atas, yang terletak di depan Balai Desa Undaan Lor. Patung yang hingga hari ini (3/4/2016) masih ditutup kain merah itu, melengkapi sejumlah patung yang selama ini menjadi ciri khas Undaan. Patung yang diberada di Taman Werkudoro tersebut, membuat tanggul penahan air Sungai Wulan semakin indah.

Selain patung itu, ada pula patung sosok pewayangan lainnya. Berada di perbatasan Desa Undaan Tengah dan Undaan Lor, patung Arjuna tersebut menyambut para pengendara yang memasuki Desa Undaan Lor. Tokoh Pandawa yang digambarkan bertubuh kekar itu, tampak akan melepaskan panah dari busurnya.

patung arjuna undaan tengah
Patung Arjuna di perbatasan Desa Undaan Tengah dan Undaan Lor. (Foto: SeputarKudus,com)

Patung lain yang berada Kecamatan Undaan, yakni sosok pahlawan Pangeran Diponegoro. Patung tersebut berada di Desa Undaan Tengah, di sisi barat jalan, tapatnya di tanggul Sungai Wulan. Patung tersebut lebih lama ada ketimbang dua patung tokoh pewayangan yang tadi. Sosok Pangeran Diponegoro digambarkan mengangkat keris dan menaiki kudanya.

patung diponegoro undaan tengah kudus
Patung Diponegoro di Desa Undaan Tengah, Kudus. (Foto: SeputarKudus.com)

Patung yang terakhir ini, patung yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Undaan, terutama mereka yang sering melewati Jalan Kudus-Purwodadi. Patung tersebut berada di Desa Undaan Lor. Patung yang terakhir ini bukan tokoh pewayangan, atau sosok pahlawan nasional, melainkan patung hewan unta.

patung unta undaan lor kudus
Patung unta di Desa Undaan Lor Gang 10, Kecamatan Undaan, Kudus. (Foto: SeputarKudus.com)

Patung itu sering menjadi penanda penumpang yang akan turun dari bus mini jurusan Babalan-Kudus. Patung tersebut dibangun tepat di depan gapura masuk Desa Undaan Lor Gang 10. Selain penanda para penumpang bus, patung unta itu juga menjadi penanda kampung.

Jika punya waktu, berkunjunglah ke Undaan. Anda akan bisa melihat keindahan tanggul Sungai Wulan yang dihiasi patung-patung tersebut. Anda juga bisa melihat deretan gapura-gapura megah nan-cantik yang berada di sisi timur jalan. 

- advertisement -

Menyusuri Kota Lama Kudus, dari Bangunan Kuno Hingga Lorong Sempit

0

SEPUTARKUDUS.COM – Apa yang terlintas saat menyusuri perkampungan di sekitar Menara Kudus? Mungkin bangunan kuno, tembok tinggi dan lorong-lorong sempit akan muncul. Di sana lah kota lama Kudus yang dibangun pada masa Syekh Ja’far Shodiq atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus menyebarkan Islam di tanah Tajug.

kota lama kudus
Selumlah warga melintas di kawasan Kota Lama Kudus yang dipenuhi bangunan-bangunan kuno. (Foto Seputarkudus.com)

Bangunan-bangunan kuno menghiasi kawasan Kota Lama Kudus di sekitar bangunan Menara Kudus, di Desa Kauman, Kecamatan Kota. Ciri bangunan kuno tersebut memiliki pintu dan jendela yang terbuat dari kayu lama. Selain itu bangunan yang ditinggali penduduk sekitar Menara itu memiliki tembok tebal dan tinggi.

Ciri lain yang bisa dilihat hingga sekarang, yakni permukiman padat, lorong-lorong sempit. Jalan perkampungan yang berkelok tersebut hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, menggunakan becak atau sepeda motor. 

lorong sempit kota lama kudus
Lorong sempit dan tembok tinggi ciri khas permukiman Kota Lama Kudus. (Foto: Seputarkudus.com)

Selain memiliki ciri khas lorong-lorong sempit, permukiman yang sering disebut kawasan Kudus Kulon itu juga memiliki tembok-tembok yang tinggi. Tembok-tembok tersebut memisahkan rumah warga yang satu dengan lainnya. Tembok tersebut dibangun memiliki fungsi menyerupai pagar atau benteng sebagai pelindung atau menjaga privasi pemilik rumah.

Disebut Kota Lama, karena di sana lah Sunan Kudus membangun pusat peradaban pertama sekitar tahun 956 Hijriyah atau 1549 Masehi. Berdasarkan data yang termuat di Wikipedia, selain sebagai pusat penyebaran Islam yang berpusat di Masjid Menara Kudus, juga digunakan untuk menjalankan pemerintahan. 

menara kudus pusat peradaban
Bangunan Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsha sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam. (Foto: Seputarkudus.com)

Sunan Kudus membangun kota tersebut yang sebelumnya bernama Tajug. Disebut Tajug karena sebelumnya di sana banyak terdapat bangunan-bangunan tajug yang digunakan masyarakat pra-Islam untuk beribadah. Sunan Kudus kemudian mengganti nama Tajug menjadi Kudus, yang artinya suci.

Kultur dan kebudayaan Islam yang dibawa Sunan Kudus kemudian membentuk karakter masyarakat setempat. Karakter tersebut saat ini sering diungkapkan dalam sebuah akronim Gusjigang. Akronim itu berasal dari tiga kata, yakni bagus, pinter ngaji, dan pinter dagang. Karakter tersebut hingga kini masih dimiliki masyarakat Kudus Kulon.

Disebut Kudus Kulon, karena letak Kota Lama yang berada di sebelah barat (kulon) Sungai (kali) Gelis. Beberapa desa yang berada di Kudus Kulon di antaranya, Desa Kauman, Kerjasan, Langgar Dalem, Demangan, Janggalan, Damaran dan Kajeksan. Desa-desa tersebut dulu berada di pusat kota atau pusat pemerintahan. 

Selain desa/kelurahan tersebut, ada sejumlah desa/kelurahan yang juga masuk dalam Kudus Kulon, namun wilayahnya berada dipinggiran pusat Kota Lama. beberapa desa tersebut antara lain, Krandon, Singocandi, Purwosari, dan Sunggingan.

Kawasan Kudus Kulon saat ini disebut Kota Lama karena pusat pemerintahan telah berpindah ke timur Sungai Gelis atau Wetan Kali. Beberapa desa yang masuk kawasan Wetan Kali, dulu dihuni penduduk Tionghoa. Antara lain di Panjunan, Kramat dan Wergu Kulon.

 

- advertisement -

Ganjar Unggah Kontak Bupati Kudus, Netizen Komentari Alamat Email

0

SEPUTARKUDUS.COM – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunggah gambar yang berisi kontak Bupati Kudus Musthofa. Kontak tersebut tidak hanya nomor handphone, tapi juga alamat email, akun Facebook, Twitter, website, dan PIN BBM. Namun, sejumlah netizen tergelitik alamat email dalam gambar tersebut yang tersebut dan memberikan komentar. Alamat email tertulis musthofa_forpresident@yahoo.com.

nomor telepon bupati kudus
 Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunggah kontak Bupati Kudus Musthofa di akun Twitternya

Misalnya pemilik akun @MRamadhianK yang langsung mengomentari twit Ganjar tersebut. “Wah keren Pak Bupati Kudus punya target nyalon Presiden … Mantap Pak,” katanya dalam komentar.

Sejumlah netizen lain juga mengomentari alamat email tersebut. Seorang netizen pemilik akun @currently_off menyatakan dukungannya terhadap Bupati Kudus untuk mencalonkan diri sebagai presiden. “Alamat email-nya EPIC! SAYA DUKUNG!!!,” ujarnya.

Hingga empat jam setelah kontak Bupati Kudus tersebut diunggah Ganjar, sebanyak 40 netizen me-retwit cuitan tersebut. Sebanyak 35 netizen memberikan like pada cuitan tersebut. 

Selain di Twitter, kontak Bupati Kudus yang diuanggah politisi PDIP tersebut juga diunggah sejumlah pengguna akun Facebook di Kudus. Banyak netizen pengguna Facebook juga mengomentari alamat email musthofa_forpresident@yahoo.com.

- advertisement -

Undaan Sering Dianggap Pelosok Kudus, Padahal . . .

0

SEPUTARKUDUS.COM – Wilayah Undaan dulu sering dianggap pelosok di Kudus. Entah karena jalannya jelek, sering kebanjiran, atau karena wilayahnya di ujung selatan kabupaten. Sebutan pelosok tidak hanya menggambarkan wilayah yang jauh dari kemajuan, namun juga mendeskriditkan warganya sebagai masyarakat yang kurang maju.

Sekarang sebutan tersebut sudah tidak relevan lagi. Karena kondisi di Undaan sudah setara dengan kecamatan lainnya di Kudus dalam beberapa indikator.

banjir undaan kudus tahun 2008
Banjir di Kecamatan Undaan yang terjadi pada tahun 2007. (Foto: Seputarkudus.com)

Misalnya saja sarana umum jalan, baik jalan provinsi, jalan kabupaten, dan jalan perkampungan. Seperti jalan di sejumlah kecamatan lain, sebagian besar jalan-jalan di Undaan saat ini sudah bisa dikatakan mulus, bahkan jalan di kampung-kampung. Jalan yang dibangun tidak sekadar berbahan aspal yang cepat rusak, namun jalan beton yang ketahanannya bisa lebih lama.

jalan undaan
Jalan Kudus – Purwodadi di Kecamatan Undaan yang sudah dibeton. (Foto: Seputarkudus.com)

Tentang anggapan Undaan sering banjir, itu memang tidak dimungkiri. Terakhir kali wilayah Undaan terkena banjir besar pada tahun 2007. Saat itu tanggul di sisi barat tidak mampu menahan tekanan air di Sungai Wulan. Akibatnya, sebagian besar desa-desa di Undaan tergenang air. Bahkan ribuan warga Undaan, khususnya yang bermukim di dekat tanggul diungsikan ke sejumlah tempat.

Namun, banjir di Undaan tidak setiap tahun terjadi. Berdasarkan catatan, wilayah Undaan terkena banjir besar jika tanggul yang menjadi sabuk wilayah tersebut jebol. Sepanjang air Sungai Wulan yang memisahkan Kabupaten Kudus dan Demak tidak meluap, dan tanggul mampu menahan tekanan air, kemungkinan besar tidak akan terjadi banjir. Justru akhir-akhir ini sejumlah wilayah di kecamatan lain sering terkena banjir saat hujan turun lebat.

Gapura Undaan
Warga melintas gapura di Kecamatan Undaan yang dibangun sangat bagus. Jalan kampung di sejumlah desa di kecamatan ini juga sebagian besar telah dibeton. (Foto: Seputarkudus.com)

Sebuah fakta lainnya, wilayah Undaan sangat dikenal karena gapuranya yang dibangun megah. Sebagian besar desa-desa di Undaan memiliki gapura desa yang dibangun sangat bagus. Gapura itu dibangun secara gotong royong dan swadaya masyarakat masing-masing kampung atau desa. Bangunan-bangunan gapura yang indah itu menjadi pemandangan apik sepanjang Jalan Kudus – Purwodadi di Kecamatan Undaan.

Jika sebutan pelosok diidentikkan dengan pembangunan infrastruktur yang buruk, sebutan itu tidak relevan lagi disematkan kepada masyarakat Undaan. Pun juga jika sebutan tersebut ditujukan pada masyarakatnya. Nyatanya masyarakat di Undaan sangat memperhatikan kerapihan kampungnya, bahkan untuk urusan penanda masuk kampung, masyarakat Undaan membangunnya dengan bangunan yang megah dan indah.

 

- advertisement -

Purwoko, Dalang Muda di Kudus yang Dulu Seorang Vokalis Band Ternama

0

SEPUTARKUDUS.COM – Darah seni dari orangtuanya mengalir dalam tubuh Purwoko Riris. Ayahnya yang seorang dalang kondang di Kudus, membuatnya tak pernah meninggalkan dunia seni. Pernah menjadi vokalis band indie ternama di Kudus, Purwoko kini memilih untuk mengikuti jejak sang ayah, menjadi seorang dalang.

dalang muda kudus ki purwoko
Purwoko Riris, dalang muda di Kudus yang dulu vokalis band indie ternama. (Foto: FB)

Sekitar tiga tahun lalu, dirinya mulai belajar mendalang kepada sang ayah, Bambang Adiwijoyo. Dia mulai belajar tentang karakter wayang, cerita, suluk dan belajar memainkan wayang. Selain itu dirinya juga belajar tembang-tembang Jawa yang kerap mengiringi pementasan wayang kulit.

“Sejak tahun 2013 lalu saya mulai belajar mendalang kepada bapak. Pilihan menjadi dalang adalah panggilan jiwa,” ujar Purwoko kepada Seputarkudus.com, Rabu (30/3/2016).

Ayahnya merupakan dalang kondang yang telah lama dikenal masyarakat, khsusunya di Kudus. Selain ayahnya, leluhur Purwoko juga seorang dalang. Menjadi dalang merupakan garis hidup yang tak bisa dipisahkan dari para leluhurnya. “Buyut-buyut saya dulu juga seorang dalang. Ini (menjadi dalang) adalah panggilan jiwa dan nurani,” tutur pemuda yang lahir 1986 itu.

Menurutnya, hal paling sulit dari mendalang yakni tentang tutur sastra Jawa yang harus dia bawakan saat tampil. Pada saat awal tampil sebagai dalang, dirinya pernah beberapa kali diledek karena salah. Namun, ledekan tersebut dianggap sebagai cambuk untuk terus belajar dan memperbaiki kemampuannya.

“Pernah diledek, suluknya salah lah, bahasanya salah lah, penyanyi band lah. Dan itu terjadi dihadapan banyak penonton. Saya anggap itu menjadi penyemangat agar selanjutnya bisa tampil lebih baik. Karena kalau mau belajar, hal itu akan bisa diatasi dengan mudah,” kata alumni SMK Wisuda Karya Kudus tersebut.  

Purwoko telah banyak tampil di berbagai tempat di Kudus dan Demak. Dia terus belajar untuk menjadi dalang kondang seperti ayahnya. Tiga tahun belajar, menurutnya masih kurang. Dia terus menimba ilmu dan pengalaman dari ayahnya.

Vokalis Band Indie Ternama 

 Dia menceritakan, sudah sekitar tiga tahun dirinya meninggalkan dunia musik yang sempat membesarkan namanya di komunitas band indie di Kudus, Veho Band. Itu dilakukannya demi untuk serius belajar menjadi dalang. Meski begitu, dia tidak akan pernah melupakan band yang telah memberi banyak pelangalaman pada dirinya.

veho band kudus
Purwoko Riris saat tampil dalam sebuah acara sebagai vokalis Veho Band. (Foto: FB)

Dia mulai ngeband sejak kelas 3 SMK sebagai vokalis. Pada 2005 dia dipercaya untuk menjadi vokalis di Veho Band. Saat di Veho, dirinya sering tampil di berbagai acara dan berbagai daerah. Pengalaman di Veho diakui banyak memberi pelajaran.

“Sekarang sudah tidak ngeband lagi. Paling hanya temu kangen dengan temen-temen (band) kalau ada waktu,” tuturnya.

Menurut Purwoko, apa yang telah dilakukan demi untuk nguri-nguri kebudayaan adiluhung yang telah diwariskan para leluhur. Dia juga ingin memberi contoh kepada generasi muda, khususnya di Kudus, untuk terus menjaga adat ketimuran. 

“Jiwa boleh rocker atau apapun lah, tetapi hati dan perilaku harus tetap teguh pada kebudayaan Jawa yang adiluhung,” katanya.

- advertisement -

Mitos Larangan Pacaran di Gunung Muria Banyak Dicari di Google

0

SEPUTARKUDUS.COM – Kata kunci atau keyword dilarang pacaran di Gunung Muria Kabupaten Kudus ternyata banyak yang mencarinya di mesin pencari Google. Berdasarkan data yang kami miliki, banyak kunjungan bersumber dari Google dari kata kunci tersebut dalam beberapa varian kata dalam kalimat.

gunung muria
Makam Raden Umar Said atau Sunan Muria di Kudus. (Foto: Wisata Eksotis)

Kata kunci tersebut merupakan mitos yang berkembang di Kudus hingga saat ini. Mitos yang masih dipercaya sebagian kalangan itu menyebutkan, jika ada pasangan kekasih yang berpacaran di kawasan Gunung Muria, lebih spesifik di Desa Colo, Kecamatan Dawe, maka pasangan tersebut akan putus.

Gunung Muria merupakan lokasi dimakamkannya Raden Umar Said atau lebih dikenal sebagai Sunan Muria. Tempat itu banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Makam Sunan Muria juga sebagai satu di antara tempat wisata yang menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Kudus.

Selain wisata religi, kawasan Pegunungan Muria juga terdapat banyak lokasi wisata lain yang sangat eksotis. Di antaranya air terjun Montel, hutan pinus di Bumi Perkemahan Desa Kajar, air tiga rasa di komplek makam Syech Hasan Sadzli, Puncak Songolikur, dan lain sebagainya.

Banyaknya lokasi wisata di kawasan pegunungan unung Muria, banyak pengunjung yang datang. Namun, adanyanya mitos putus cinta setelah berpacaran di kawasan Muria, ada sebagian muda-mudi yang menjalin kasih berpikir dua kali untuk datang ke sana. Karena banyak masyarakat yang meyakini mitos tersebut benar terjadi.

  

- advertisement -