Beranda blog Halaman 1966

Bos Barokah Toys Izinkan Produk Bonekanya Diacak-acak Anak-Anak TK

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Boneka berbagai bentuk di tertata rapi di ruangan berukuran
sekitar 10×5 meter, di sebuah toko Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, belum lama ini. Suasana dalam ruangan tampak sepi. Hanya ada seorang perempuan
berkrudung ungu dengan laki-laki bersingklet merah yang sedang berbincang soal boneka bantal.

Anak-anak TK berkunjung ke Barokah Toys. Foto: Kusnan (dokumen pribadi)

Laki-laki tersebut tak lain adalah pemilik Barokah Toys, yang memproduksi berbagai macam produk boneka. Dia menuturkan, saat itu seperti hari-hari
biasanya, hanya konsumen yang datang ke toko.

Kusnan menceritakan, toko dan tempat untuk memproduksi boneka miliknya ramai saat ada ada kunjungan anak-anak sekolah. Mereka berkunjung untuk melihat boneka yang sudah jadi dan proses pembuatannya. Mereka juga diajarkan cara membuat boneka. (Baca juga: Produsen Boneka di Loram Ini, Sebulan Omzetnya Tembus Rp 30 Juta Lebih)
“Tak jarang mereka berlari-lari, berebut boneka, dan mengacak-acak boneka yang telah tertata rapi. Ya namanya juga anak-anak, saya tidak masalah,” ungkapnya (11/5/2016).
Dia menuturkan, Barokah Toys sering dikunjungi murid-murid
TK, SD, SMP, maupun SMA. Mereka datang untuk belajar cara membuat boneka. Kadang juga ada mahasiswa yang datang untuk penelitian.
“Yang sering datang murid-murid TK. Mereka boleh memegang
dan memainkan boneka. Kami juga mengajari mereka bagaimana cara membuat boneka,”
tambah Kusnan yang mempunyai hobi Motor Cross.
Dia menjelaskan, anak-anak langsung disuruh memasukkan
isi boneka dakron ke dalam pola. Mereka tampak senang karena sambil belajar mereka bisa bermain. “Kadang dakronnya di-odal-adil. Tapi tidak
apa-apa, itulah anak-anak. Ekspresinya jangan sampai dibatasi,” ungkapnya.
Laki-laki yang memulai usaha boneka tahun 2012 ini menceritakan,
kadang ada guru yang membatasi muridnya berekspresi, tidak boleh pegang boneka ini
dan itu. “Saya bilang, ‘boleh (dibuat main) bu, tidak apa-apa’. Mau dipegang,
mau dibuat main juga tidak apa-apa,” tutur Kusnan. (Baca juga: Bermodal 1 Mesin Jahit, Lulusan UMK Ini Kini Punya 30 Karyawan dan Sedang Bangun Pabrik Boneka)
Dia menambahkan, dulu dirinya termasuk anak yang ruang geraknya
dibatasi. Hobi motor cross yang dia sukai dilarang oleh orang tuanya. “Kalau bakat berdagang kan biasanya hanya uang dan uang.
Kalau bisa saya jangan. Selama itu positif saya akan mendukung penuh anak,”
tuturnya.
Kusnan yang alumni Manajemen Universitas Muria Kudus (UMK)
dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan dari pernikahannya dengan istrinya,
Fitri. 

- advertisement -

Kisah Getir Pak Munawir Sang Penambang Pasir

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Truk dam warna hijau melaju pelan menuju Sungai Gelis di Dukuh
Plumbungan, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Sabtu (13/5/2016). Ditepi sungai, tiga truk tampak menunggu pasir yang sedang
dikumpulkan para penambang.

penambang pasir kaligelis kudus
Munawir mengumpulkan pasir dari dasar Sungai Gelis di Dukuh
Plumbungan, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Sabtu (13/5/2016)

Tak lama kemudian, seseorang laki-laki tiba-tiba muncul dari dalam sungai. Dia
menumpahkan pasir ke ban besar menggunakan pengki
yang dipegang. Ban besar tersebut digunakannya untuk mengangkut pasir basah yang telah diambil dari dasar menuju tepi sungai.

Munawir (36), penambang pasir di lokasi tersebut, mengatakan, saat musim kemarau seperti ini tak banyak penambang yang datang untuk mengambil pasir. Hal berbeda terjadi saat musim hujan, lokasi tersebut dipenuhi penambang.

“Saat musim hujan penambang banyak yang datang. Sampai malam ada yang
masih mengambil pasir,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Saat kemarau seperti ini, Munawir tak seberuntung seperti saat musim hujan. Hasil dari menambang pasir saat kemarau maksimal lima kawah pasir. Setiap kawah  ia jual seharga Rp 16 ribu. “Kalau tidak ada hujan mentok-mentoke cuma lima kawah, itu pun
susah,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, saat banjir, air membawa pasir dari hulu pegunungan Muria ke
hilir. Pasir banyak mengendap hingga ke tepian sungai, sehingga para penambang tak perlu bersusah payah mengeruk di dasar sungai.
“Kemarau seperti ini, kami harus menyelam ke tengah sungai hinga ke dasar. Kami harus mengangkut pasir basah itu menggunakan ban. Dan itu sangat berat,” ujarnya.

Munawir mengungkapkan, dia hanya mampu bekerja mengambil pasir mulai pagi hingga siang. Proses pengambilan pasir di dasar sungai membuat dirinya kelehan saat siang hari.

“Walaupun mendapat sedikit (pasir) tidak apa-apa. Karena ini
sumber penghasilan keluarga. Cukup tidak cukup harus dicukup-cukupkan,” tambahnya.

Dia mengaku tak seberuntung seperti warga Dukuh Plumbungan lainnya. Dia hanya mengandalkan penghasilan dari mengais pasir di dasar sungai. Sedangkan warga lain menjadikan pekerjaan tersebut hanya sebagai sampingan.

“Warga lain ada yang bekerja di pabrik, ada yang berdagang, dan masik banyak lainnya. Menambang pasir hanya dibuat pekerjaan sampingan. Kalau saya ini pekerjaan satu-satunya,” tutur Munawir.

- advertisement -

Ke ‘Surga’ Rahtawu Cukup Hanya dengan Uang Rp 2 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Suara klakson terdengar dari mobil pikap warna hitam yang terparkir di depan Blok 1 Rusunawa Kudus, Kamis (5/5/2016) pagi. Suara tersebut memanggil rombongan warga Rusunawa Kudus, agar segera berkumpul. Hari itu mereka akan berwisata ke air terjun Kalibanteng, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog.

air terjun kalijodo rahtawu kudus
Warga Rusunawa Kudus menikmati air terjun Kalijodo, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, beberapa waktu lalu.

Warga yang akan berwisata sekitar 15 orang. Waktu libur long week end tersebut dimanfaatkan untuk menikmati keindahan alam Rahtawu bersama keluarga. Meski libur panjang, mereka tetap berwisata di dalam daerah. Selain karena murah, Kudus menyimpan banyak tempat wisata yang indah dan begitu banyak dikunjungi.

“Kami memilih berwisata ke Rahtawu, selain karena murah, lokasi wisata air terjun di Rahtawu juga sangat indah. Kami bisa memberikan edukasi bagi anak-anak untuk mencintai lingkungan,” ujar Agus yang saat itu berangkat bersama istrinya. 

Lokasi wisata yang dituju berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Wisatawan bisa melalui jalur pusat kota ke arah Desa Gebog, hingga menemui gapura Desa Wisata Rahtawu. 

“Alasan kami memilih untuk menggunakan kendaraan bak terbuka, kami ingin bisa menikmati pemandangan alam pegunungan di Rahtawu selama perjalanan. Selain air terjun, Desa Rahtawu juga memiliki pemandangan alam yang sangat indah,” tutur Agus.

wisata desa rahtawu
Rombongan warga Rusunawa Kudus sampai di Desa Wisata Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. 

Lelah menempuh perjalanan terbayar saat warga Rusunawa Kudus melihat jernihnya air terjun Kalibanteng, tak jauh dari gapura masuk ke arah petilasan Abiyoso. Lokasi air terjun tersebut masih sangat bersih dan dikelilingi pepohonan yang tampak hijau.

“Untuk masuk ke lokasi air terjun kami hanya membayar Rp 2 ribu per orang. Ini sangat murah jika dibanding dengan lokasi air terjun di Colo,” ungkap Agus yang juga Ketua Paguyuban Warga Rusunawa Kudus.

Sesampainya di lokasi air terjun, anak-anak tampak gembira dan langsung menceburkan diri ke curug di bawah air terjun. Sementara itu, orang tua mereka asyik menikmati pemandangan dan mengamati anak mereka.

Menurut Agus, selain air terjun Kalibanteng, di lokasi yang sama juga terdapat air terjun lain yang tak kalah indah, yakni Kalijodo. Lokasinya berada di atas air terjun Kalibanteng. Untuk menuju ke sana, wisatawan harus menapaki bebatuan searah dengan aliran air terjun Kalibanteng.

    

- advertisement -

Jamu Nyah Bancan Diwariskan Generasi Keempat, Perlengkapan Gong Masih Tersimpan (2)

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Suasana pagi, Jumat (13/5/2016), di Jalan Agus Salim, Kelurahan Panjunan, Kota Kudus, tampak sepi. Beberapa orang memarkir sepeda motor di depan sebuah gerbang tua warna hijau yang di atasnya terdapat patung singa, harimau dan burung. Gerbang tersebut merupakan pintu masuk rumah milik Nyah Bancan, penjual jamu yang kaya raya di Kudus yang sangat melegenda.

rumah nyah bancan
Rumah milik Nyah Bancan di Jalan Agus Salim, Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di balik gerbang, duduk lima orang laki-laki tua sedang
asik berbincang. Seorang lelaki tua di antaranya tengah duduk membersihkan kutu anjing. Di sebelah barat gerbang terdapat dua batu nisan bertuliskan huruf Mandarin. Di bagian bawah nisan tersebut terdapat tulisan Tjan
Ban Tjoan dan Go Ging Nio.

Menurut E Gua (70), laki-laki tua yang membersihkan kutu anjing, Tjan
Ban Tjoan dalam nisan tersebut nama asli Nyah Bancan. Sedangkan Go Ging Nio adalah istri Nyah Bancan. E Gua mengaku generasi ketiga, atau cucu Nyah Bancan.

“Saya ini cucunya (Nyah Bancan). Orang tua saya dipercaya untuk meneruskan penyewaan gong. Sedangka saudara orang tua saya dipasrahi untuk mengelola jamu,” kata E Gua kepada Seputarkudus.com. (Baca juga: Kaya Raya, Nama Nyah Bancan Menjadi Legenda (1))

Seingat E Gua, Nyah Bancan meninggal sekitar tahun 1914 dan
istrinya Go Ging Nio tahun 1935. “Seingat saya Tjan Ban Tjoan meninggal 1914, istrinya
sudah jelas di batu nisan tertulis tanggal 23 April 1935,” ungkapnya.

makam nyah bancan kudus
Nisan Nyah Bancan bersama istrinya. Foto: Imam Arwindra
Menurutnya, gong dan perlengkapan pertunjukan wayang milik Nyah Bancan masih
tersimpan di dalam rumahnya. “Gongnya di dalam, tapi tidak usah dilihat ya, di sini saja,” katanya.

Di sebelah barat pintu gerbang rumah milik E Gua, terdapat pintu gerbanng yang di depannya ada sebuah plang bertulis “Jamu Mbancan”. Di balik gerbang tersebut terdapat sebuah rumah tua. Di depan rumah terlihat seorang lelaki memindahkan kandang burung di dekat pohon mangga. Di bagian depan kiri dan kanan rumah puluhan kandang burung digantungkan. Pria tersebut bernama Chan Yan Sin, generasi keempat, atau buyut Nyah Bancan.

Di
depan ruang utama, ada beberapa produk jamu di atas meja yang dipersiapkan untuk pembeli yang datang. Sebagian jamu ada yang telah dikemas dan sebagian di antaranya belum dikemas.

Jamu Nyah Bancan Kudus
Pintu gerbang rumah Nyah Bancan yang hingga kini digunakan untuk menjual jamu. Foto Imam Arwindra

Tak jauh dari rumah milik Nyah Bancan, tepatnya sekitar 100 meter di Jalan A Yani, Kudus, terdapat sebuah klenteng bernama Hok Hien Bio. Penjaga klenteng tersebut, Kundori, menceritakan, keluarga Nyah Bancan hingga kini masih sering datang ke klenteng untuk bersembahyang. 

“Terutama Yan Shin, dia sering datang ke sini untuk bersembahyang,” kata Kundori kepada Seputarkudus.com, saat ditemui di klenteng.

Kundori mengatakan tahu banyak tentang Nyah Bancan yang namanya menjadi legenda bagi sebagian masyarakat di Kudus dan sekitarnya. Klenteng yang masuk dalam wilayah Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, dan berbatasan dengan Kelurahan Panjunan, di mana rumah milik Nyah Bancan terletak di sana.

Menurutnya, rumah milik Nyah Bancan kini dibagi dua. Saat ini ditempati E Gua dan Yan Shin. E Gua yang merupakan generasi ketiga mewarisi gong milik Nyah Bancan, dan Yan Shin yang merupakan generasi keempat melanjutkan penjualan jamu yang membuat Nyah Bancan tersohor.

- advertisement -

Royal Wijaya Residence Kudus, Perumahan Mewah di Antara Kebun-Kebun Tebu

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Komplek perumahan yang berdiri di atas tanah seluas lima hektar itu terlihat begitu asri. Tampak puluhan rumah gaya minimalis berjejer sesuai tipe dan ukuranya. Perumahan itu bernama Wijaya Royal Residence, di Jalan Kampus UMK Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk setempat dan masih dikelilingi kebun tebu.

perumahan royal wijaya residence kudus
Gerbang masuk Perumahan Wijaya Royal Residence di Jalan Kampus UMK Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut General Marketing (GM) PT Wijaya Royal Residence, Yosef Aditya, perumahan ini dibangun pada tahun 2013. Perumahan tersebut terdiri dari 145 rumah dan rencananya akan dibangun dalam dua tahap. 

“Ada beberapa tipe rumah yang ditawarkan di  Wijaya Royal Residence, di antaranya tipe valencia (95/105). Tipe tersebut banyak diminati konsumen saat ini. Rumah minimalis ini dibangun di atas tanah seluas 105 meter persegi ini, dibangun dua lantai dan kami dengan harga  sekitar Rp 450 juta,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Selain tipe tersebut, katanya, ada juga tipe monaco (138/120). Rumah dua lantai ini dijual lebih mahal, yakni Rp 550 jutaan. Lebih mahal karena tanahnya lebih luas.  Selain itu ada lagi tipe monte carlo (300/242) yang saat ini lagi sepi peminat. 

perumahan royal wijaya residence kudus 2

“Rumah-rumah di Wijaya Royal Residence inidi bangun dengan gaya minimalis, ala rumah-rumah eropa dengan selalu mengedepankan mutu dan kekuatan bangunan. Kami menggunakan bahan-bahan yang berkualitas,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pondasi bangunan menggunakan batu kali plus cakar ayam, dinding menggunakan bata merah plus plaster aci. Rangka atap menggunakan baja ringan, dan atap menggunakan genteng cor.

“Selain fasilitas tersebut, kami juga memberikan layanan-layanan lainya. Di antaranya sertifikat tanah per rumah, IMB tiap rumah,” kata pria yang akrab disapa Adyt tersebut.

Dia menambahkan, untuk kenyamanan dan keamanan tinggal, pihaknya memberikan fasilitas penjagaan 24 jam dan kamera CCTV. Ada juga layanan  akses wify gratis 24 jam yang bisa digunakan seluruh penghuni rumah. 

- advertisement -

5 Bulan Tekun Berjualan Online, Hida Kini Raup Jutaan Rupiah Sebulan

0
SEPUTARKUDUS.COM, FACEBOOK – Gambar busana muslim tampak memenuhi dinding akun
Facebook Elheeda Fashionkudus. Gambar yang diunggah di antaranya kerudung, kemeja
panjang, dan gamis. Akun Facebook tersebut
milik Hida Sundusiyatin Ni’mah (22) yang selama lima bulan terakhir menekuni bisnis online shop. Setiap bulan kini dirinya memperoleh pemasukan hingga Rp 2 juta.

bisnis online busana muslim kudus
Hida Sundusiyatin Ni’mah, pemilik olshop Elheeda Fashionkudus. Foto: Facebook

Hida menceritakan, bisnis online yang dia jalani baru sekitar lima bulan. Kini dalam sebulan
dirinya mampu meraup omzet hingga Rp 2 juta lebih. “Bisnis online ini terbilang baru bagi saya. Alhamdulillah dalam sebulan omzet yang saya dapat Rp 2 juta lebih,”
ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Jumat (12/5/2015).

Hida menuturkan, fokus pejualannya hanya pada busana muslim
perempuan. Produk-produk yang dijual di antaranya, gamis, jilbab dan kemeja. “Sebagian besar perempuan sekarang lebih banyak berhijab. Jadi itu
peluang besar yang harus saya manfaatkan,” ungkap Hida yang sekaligus
menjadi model produk yang dipasarkan.

Busana muslim perempuan yang sedang banyak diminati, kata perempuan asli Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, itu antara lain gamis-gamis simple, jilbab instan dan pashmina. Pengakuannya, dalam
sebulan mampu menjual satu kodi per produk.

Alasan dirinya memilih berjualaan secara online, karena saat ini banyak orang mengalami ketergantungan terhadap media sosial. Peluang tersebut
dia berfikir untuk berjualan secara online.

Dia menambahkan, selain tidak rumit, jangkauan media sosial
sangat luas dan gratis. “Tinggal upload, orang suka, bisa langsung diproses,” ungkap Hida lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Bimbingan Konseling (BK) tahun 2015.

jual busana muslim
Timeline Facebook Elheeda Fashionkudus

Dia menuturkan, media sosial yang digunakan hanya Facebook
dan Instagram. Di Facebook terdapat fasilitas fanspage dan grup serta
Instagram aksesnya lebih menarik dan mudah. “Yang penting sering upload
produk terbaru dan layani respon para konsumen,” ungkapnya.


Dia menambahkan, trik yang biasa dia lakukan yakni sering mengadakan
promo-promo supaya terkesan murah. Dia juga membuka peluang bagi reseller yang
ingin bergabung. “Pastinnya juga memberikan diskon untuk barang-barang
tertentu,” tambahnya.

- advertisement -

Kaya Raya, Nama Nyah Bancan Menjadi Legenda (1)

0
SEPUTARKUDUS.COM, KOTA – Nama Nyah Bancan cukup melegenda bagi sebagian masyarakat di Kudus. Bahkan namanya sangat akrab di telinga masyarakat karena sering disebut dalam ungkapan bahasa tutur hingga saat ini. 

nyah bancan kudus
Kundori, penjaga Klenteng Hok Hien Bio, Jalan A Yani Desa Getas Pejaten, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Tuku mobil, duite Nyah Bancan tah piye?” Demikian masyarat Kudus menggunakan ungkapan itu untuk menggambarkan hal yang sulit dilakukan terkait keuangan. Ungkapan tersebut juga menunjukkan nama Nyah Bancan lekat di telinga masyarakat karena kekayaannya.

Di Jalan A Yani Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, berdiri sebuah kelenteng bernama Hok Hien Bio. Kelenteng tersebut menandai lingkungan Getas Pejaten yang berbatasan dengan Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, yang banyak dihuni masyarakat etnis Tiong Hoa.

Kundori (64) penjaga Klenteng Hok Hien Bio menuturkan, Nyah
Bancan di zamannya termasuk orang yang tersohor karena kaya raya. Dia terkenal karena menjual
jamu dan menyewakan perangkat gong untuk pertunjukan wayang kulit.
“Menurut cerita, Nyah Bancan orang yang sangat kaya raya pada zamannya. Dia memiliki usaha penjualan jamu yang sangat laris. Jamu yang dibuat Nyah Bancan bahkan terdengar hingga ke daerah sekitar Kudus,” ungkap Kundori, Kamis (12/5/2016).
Kundori melanjutkan, selain warga Kudus, warga daerah lain berdatangan untuk membeli jamu Nyah Bancan. Bahkan karena banyaknya masyarakat, mereka harus antre untuk membeli jamunya.

Selain menjual jamu, kata Kundori, Nyah Bancan juga
menyewakan Gong untuk pertunjukan wayang kulit. Seiring perkembangan, tidak hanya gong, tapi juga menyewakan seluruh perlengkapan pertunjukan wayang.

“Kalau ada pertunjukan wayang kulit di Kudus dan sekitarnya pada zaman dulu, pasti
itu miliknya Nyah Bancan,” tambahnya.
Dahulu, katanya, jika ada orang memiliki gong, termasuk orang
kaya. Apalagi gongnya banyak, orang tersebut pasti terkenal. “Zaman dulu
perlengkapan pertunjukan wayang masih langka, tidak seperti sekarang. Jadi gong dan perlengkapan pertunjukan wayang banyak disewakan ke daerah-daerah Kudus dan sekitarnya,” tambahnya.

Rumah Nyah Bancan Hingga Kini Masih Ada

Kundori mengungkapkan, rumah milik Nyah Bancan hingga saat ini masih ada, tak jauh dari
klenteng. “Dari perempatan (klenteng) lurus sekitar 100 meter hingga ada
gerbang yang di atasnya ada patung macan dan burung. Rumahnya masuk
Panjunan,” tuturnya.

rumah milik nyah bancan kudus
Gerbang rumah milik Nyah Bancan, Jalan Agus Salim, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Rumah milik Nyah Bancan, kata Kundori, saat ini sudah dibagi dua.
Satu bagian ditempati Gie Wa dan satunya lagi ditempati E Gua. Dia menjelaskan, Gie Wa adalah cucu Nyah Bancan, yang sekarang melanjutkan bisnis jamu.

“Sedangkan E Gua melanjutkan penyewaan gong. Gie Wa sudah meninggal, sekarang digantikan anaknya Chan Yan Sin,” tambahnya. (Baca juga: Jamu Nyah Bancan Diwariskan Generasi Keempat, Perlengkapan Gong Masih Tersimpan (2) )

- advertisement -

Salut, Mahasiswa UMK akan Ajarkan Tari Kretek ke Thailand

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sembilan mahasiswa Univeristas Muria Kudus (UMK)
bersama pimpinan rektorat berdiri di depan Gedung Rektorat kampus tersebut. Mereka tampak semringah saat sesi foto pelepasan peserta Program Students’ Internship FKIP
UMK 2016 ke Thailand, Kamis (12/5/2016).

mahasiswa umk ke thailand
Sembilan mahasiswa FKIP UMK saat sesi foto bersama pelepasan Program Students’ Internship FKIP
UMK 2016 ke Thailand, Kamis (12/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Students’ Internship FKIP
UMK 2016 merupakan progam untuk mahasiswa yang dipromotori Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK. Satu di antara peserta yang mengikuti ialah Himmatul Ulya. Mahasiswa
semester enam Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang akan mengajar antara
14 hingga 23 Mei  2016 di SD yang ada di Thailand.
Dia mengaku akan mengajarkan Tari Kretek yang sudah dia pelajari di Kudus.


“Rencananya saya akan mengajarkan Tari Kretek di Thailand.
Semoga budaya lokal Kudus semakin dikenal,” ungkap Ulya mahasiswa asal Desa Besito,
Kecamatan Gebog, Kudus. Selain itu dia mengaku, akan juga mengajarkan mainan khas
Indonesia. Di antaranya yoyo dan bekel. 

Mutohhar, pendamping program tersebut menuturkan, progam ini jalankan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK. Ada sembilan
mahasiswa dari tiga jurusan yang akan berangkat Sabtu (14/5/2016).

Dia menjelaskan, progam ini baru pertama kali dijalankan. Selain
melakukan kunjungan di Duta Besar Indonesia untuk Thailand, mereka juga akan
mengajarkan tentang kebudayaan Indonesia kepada siswa SD maupun SMA di Thailand.

“Kami sudah bekerja sama dengan Hatyai University (Thailand). Nantinya mahasiswa
akan mengajar di Thamma Suksa Mulanithi School dan Pitchalal Preparatory
School,” terang Mutohhar yang juga dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMK.

Dia menuturkan, progam ini juga akan menjadi Rintisan Praktek
Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilakukan di luar negeri. “Semoga ini menjadi sebuah embrio untuk fakultas lain,” ungkapnya.

- advertisement -

Oppo F1 ‘Kalahkan’ Samsung S di Millenia Cell Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, MILLENIA CELL – Beberapa karyawan Millenia Cell Kudus tampak sibuk melayani calon pembeli yang datang. Terlihat kardus ponsel berserakan di atas meja kaca. Satu di antaranya Oppo F1, yang menurut Ibnu Bisma, karyawan konter tersebut, sedang ramai peminat.

Oppo f1 banyak diburu di kudus
Pengunjung membeli ponsel di Millenia Cell, Jalan Veteran Kudus. Foto: Imam Arwindra

 Dia menjelaskan, pengunjung banyak mencari Oppo F1 daripada merek yang lain. Terdapat juga Samsung S dan Samsung J, namun penjualannya masih kalah dibanding Oppo F1.

“Oppo F1 dan F1 Plus peminatnya banyak, disusul  Samsung S dan Samsung J,” tutur Bisma ketika ditemui Seputarkudus.com di Millenia Cell Kudus.
Millenia Cell, katanya, membanderol Oppo F1 dengan harga Rp 3.500.000. Tiga bulan terakhir ini produk tersebut sudah terjual sekitar 100 unit. “Sekitar Februari hingga Mei 2016, kami sudah  menjual kira-kira 100 unit Oppo F1,” jelasnya.

Bisma menuturkan, ram sebesar 3 GB dan memori internal 16 GB yang dimiliki Oppo F1 juga menjadi pertimbangan para konsumen.

oppo f1 di millenia cell kudus
Oppo F1 di konter Millenia Cell Kudus. Foto: Imam Arwindra

 Dikutip dari laman resmi Oppo, produk Oppo F1 mempunyai keunggulan pada kamera depan dengan resolusi 8 megapixel. Ponsel dengan tebal 7,25 milimeter memiliki kamera utama 13 megapixel. Selain itu Oppo F1 juga difasilitasi screen flash. Fungsinya ketika ingin selfie saat kondisi cahaya redup hasilkan akan maksimal.

Oppo F1 yang iklannya dibintangi penyanyi Isyana Sarasvati dan pembalap F1 Rio Haryanto launcing poduknya pada Bulan Februari 2016. Produk keluaran China tersebut juga telah membuat seri terbarunya, yakni Oppo F1 Plus.
Heri Susanto yang juga karyawan Millenia Cell menuturkan, F1 Plus tersedia di konter dia bekerja dan dijual Rp 5.500.000 per unit.

Dia menjelaskan, Oppo F1 Plus memiliki lebar 74,3 milimeter, tinggi 151,8 milimeter dan ketebalan 6.6 milimeter. HP tersebut memiliki keunggulan kamera depan lebih tajam dari kamera belakang, yakni 16 megapixel di bagian depan dan 13 megapixel di bagian belakang.

Fitur yang lain, Oppo F1 Plus memiliki ram 4 GB dengan prosesor 8 core. Selain itu dilengkapi memori internal 64 GB dan eksternal mencapai 128 GB.

- advertisement -

Dari Jepara ke Kudus, Susi Ingin Jadi Saksi Pertemuan Rangga dan Cinta

0

SEPUTARKUDUS.COM, CINEPLEX – Dua pekan lebih penayangan sekuel film Ada  Apa Dengan Cinta ( AADC) 2, di gedung Bioskop Cineplex Plasa Kudus Matahari lantai tiga, para penonton masih berdatangan. Film yang bercerita tentang kisah cinta Rangga (Nikholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) begitu besar menyedot animo penggemar film di Kudus dan sekitarnya.

film aadc 2 di cineplex kudus
Puluhan penonton mengantri di depan Studio 2 Cineplex Plasa Kudus. Mereka hendak menonton film AADC 2. Foto: Prabu Sipan.

Di antaranya Susi (28), yang sengaja datang  bersama keluarganya dari Jepara untuk menyaksikan film AADC 2. Dia mengaku penasaran dengan kelanjutan  film AADC 2 garapan sutradara Riri Riza itu. 

Dia mengatakan, penasaran dan ingin ikut jadi saksi pertemuan Rangga dan Cinta yang berpisah di film AADC 1. “Menonton AADC 2 biar serasa muda,” celetuk Susi tersenyum. 

Sementara itu, Rijal  Ramadhan (17) siswa SMA N 1 Pecangaan, Jepara, mengaku hanya latah ikut menonton AADC 2, karena diajak teman. Sementara teman Rijal, Dani (17) mengaku ingin menonton setelah melihat berita AADC 2 yang booming di acara televisi. 

Tampak juga enam muda mudi yang masih memakai seragam SMA duduk menunggu di bangku lobi sambil bercanda. Terlihat topi yang dipakai siswanya bertuliskan  SMA N 1 Mijen Demak, sambil memegang tiket nonton film AADC.

Film yang  di-launching  serentak mulai Kamis (28/4/2017) itu memang sudah tembus angka sejuta lebih penonton (@mirles). Khusus di Cineplex Kudus, penayangan film AADC 2 di putar di dua studio yaitu studio 2 dan 3.

Menurut  Devi yang baru keluar dari studio 2 bersama suaminya setelah menonton AADC 2, filmnya dinilai bagus. Adegannya terlihat natural dan bisa membuat penonton haru menyaksikannya. “Semoga aja, dibikin sekuel kelanjutanya,”  harapnya.

Tampak di pintu studio pemutaran film Rangga dan Cinta puluhan orang berderet antri untuk masuk. Dan di sebelahnya juga masih ada puluhan orang yang antri membeli tiket untuk penayangan yang selanjutnya.

- advertisement -

Bermodal 1 Mesin Jahit, Lulusan UMK Ini Kini Punya 30 Karyawan dan Sedang Bangun Pabrik Boneka

0
SEPUTARKUDUS.COM, JATI – Ungkapan pepatah “Berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian” mungkin sangat pas untuk menggambarkan perjuangan pemilik Barokah Toys, Kusnan, dalam menjalankan bisnisnya. Hanya bermodal satu mesin jahit mengawali usahanya, kini dirinya memiliki 30 karyawan, dan tengah membangun pabrik boneka.

perjin boneka desa loram kudus
Kusnan bersama istrinya, Fitri, memproduksi boneka di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Rabu (11/5/2015). Foto: Imam Arwindra

Di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati,
Kabupaten Kudus, berdiri bangunan ruko dua lantai berukuran sekitar 10 x 5 meter. Di dalam bangunan tersebut ada banyak boneka beraneka bentuk. Di sanalah Kusnan tinggal bersama istrinya, Fitri. Di selatan bangunanruko itu terdapat bangunan yang dijadikan Kusnan tempat memproduksi
boneka bersama karyawannya.

Kusnan menceritakan, awal memulai usaha pembuatan boneka dia hanya memiliki modal satu mesin jahit dan uang Rp 3 juta untuk membeli bahan. Boneka yang dia produksi itu dia pasarkan sendiri.
“Saya menawarkan produk boneka dari toko-toko sendiri. Dan
itu saya lakukan sampai usaha ini cukup besar,” ungkap Kusnan kepada Seputarkudus.com.
Alasan Kusnan memilih memasarkan produknya sendiri, karena ingin secara
langsung menjelaskan keunggulan produk yang dia buat. “Kalau mempekerjakan orang untuk pemasaran, biasanya kurang
maksimal. Karena promosi itu harus mengerti detail tentang bahan yang digunakan,” jelas Kusnan
yang mempunyai hobi motor cross.
Dia menjelaskan untuk menjaga kepercayaan konsumen, dia
menggunakan bahan terbaik. Di antaranya dakron baru bukan limbah dan memakai
bahan veltboa, rasfur, yelvo, dan nylex. “Bahan yang kami gunakan sangat aman. Terutama untuk
anak-anak,” ungkapnya.

produsen boneka di loram wetan kudus
Karyawan mengerkan pembuatan boneka di Barokah Toys, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (11/5/2015). Foto: Imam Arwindra.

Saat ini, katanya, Barokah Toys sudah memproduksi sekitar
100 jenis boneka. Setiap hari dia mampu memproduksi hingga 100 boneka dengan bentuk simpel dan 60 boneka dengan bentuk yang rumit. Beberapa jenis boneka yang dia buat Di antaranya boneka
kartun, boneka maskot, boneka tas, dan boneka-boneka aksesoris.

Saat ini, katanya, Barokah Toys mempekerjakan sekitar 30 pegawai yang rata-rata masih
muda. “Yang membantu saya rata-rata anak muda. Beberapa ada yang
putus sekolah,” tuturnya. (Baca juga: Produsen Boneka di Loram Ini, Sebulan Omzetnya Tembus Rp 30 Juta Lebih)

Usahanya kini, katanya, terus berkembang dan sudah dikenal di wilayah Kudus dan daerah sekitarnya. Pesanan dari konsumen, terutama para pemilik toko boneka, tak jarang tidak bisa dikerjakan karena saking banyaknya pesanan yang masuk. 

“Saat ini saya sedang membuat pabrik. Banyaknya pesanan yang masuk membuat saya berpikir untuk memperbesar kuantitas produksi. Tapi saya menemui kendala, sulitnya mendapat tenaga kerja. Karena membuat boneka membutuhkan skill khusus,” tuturnya.

Kuliah di UMK Sambil Kerja di Pasar Kliwon

Sebelum memulai usaha pembuatan boneka, Kusnan mengaku membantu orang tuanya berjualan mainan di Pasar Kliwon. Saat itu dirinya juga kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Muria Kudus (UMK).

“Saya lulusan UMK, mengambil Jurusan Ekonomi Manajemen. Sebelum di UMK sebetulnya saya kuliah di Jogja. Tapi karena harus membantu orang tua di Pasar Kliwon, saya pindah di UMK,”  ungkap Kusnan.
Menurutnya, kunci keberhasilan dalam menjalankan bisnis yakni percaya diri dan berani mengambil risiko, serta tidak takut salah. “Saya heran mahasiswa sekarang mentalnya kecil.
Masih banyak yang malu-malu,” sindir dia.

Dia menceritakan, dulu pernah ada seorang mahasiswa yang datang ke Barokah Toys karena ada tugas kuliah. Namun, setelah ditanya, mahasiswa itu mengatakan tugas tersebut milik temannya.

“Mahasiswa yang punya tugas itu tidak berani datang ke sini, takut. Akhirnya temannya itu saya minta agar yang punya tugas datang. Setelah datang saya nasihati dia agar menjadi mahasiswa yang berani dan bermental. Agar nanti setelah lulus tidak takut mencoba sesuatu dan tidak takut dengan risiko,” tuturnya.

- advertisement -

Produsen Boneka di Loram Ini, Sebulan Omzetnya Tembus Rp 30 Juta Lebih

0
SEPUTARKUDUS.COM, JATI – Rak-rak di ruangan 4×10 meter penuh dengan boneka tokoh-tokoh
kartun
. Beberapa di antaranya boneka Doraemon, Winnie the Pooh, Hello Kitty, Bear dan berbagai
tokoh kartun lainnya. Boneka-boneka tersebut diproduksi Barokah Toys, di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Dalam sebulan omzet yang didapat menembus angka lebih dari Rp 30 juta.

jual boneka tokoh-tokoh kartun
Karyawan di Barokah Toys menata boneka di tempat produksi sekaligus toko, di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra.

Di ruang sebelah, tampak beberapa perempuan sedang memasukkan dakron ke
dalam pola boneka yang sudah terbentuk. Mereka membuatboneka-boneka tersebut di tempat produksi yang sekaligus digunakan sebagai toko untuk menjual boneka.

Pemilik Barokah
Toys, Kusnan, menjelaskan, untuk menjalankan bisnisnya dia dibantu 30 orang karyawan yang
mengerjakan proses awal hingga finishing. Menurutnya dalam sebulan pendapatan kotor yang diterima lebih dari Rp 30 juta.

Boneka-boneka yang dia produksi, katanya banyak dipesan para pelanggan dari Kudus dan beberapa daerah di Karesidenan Pati. “Toko-toko boneka di Kudus dan daerah sekitar mengambilnya
di sini (Barokah Toys),” ungkapnya ketika ditemui Rabu (11/5/2016).

Dia menuturkan, selain di Kudus dia juga menyetok boneka ke
Semarang, Padang Sumatra Barat dan Pulau Kalimantan. “Kalau ekspor belum mas. Ini saja sudah kewalahan,”
terangnya.

Dia menambahkan, karyawannya dalam sehari mampu membuat 100
boneka model simpel. Boneka dengan bentuk yang rumit hanya mampu diproduksi sekitar 60
boneka. “Kalau bonekanya simpel bisa 100 boneka per hari. Namun jika
finishing-nya susah paling hanya 60 boneka saja,” ungkapnya.

Laki-laki asli Loram Wetan tersebut rencananya ingin
memperlebar produksi boneka yang sejak tahun 2012 ia geluti. Dia mengaku, di
sebelah rumahnya sedang disiapkan tempat untuk memproduksi boneka lebih banyak.
“Bulan-bulan ini permintaan sedang naik. Bulan ini saja saya
hanya membuatkan boneka maskot dan boneka sovenir saja agar tidak kewalahan. Ini sudah disiapkan tempat tinggal sumber daya manusianya (SDM),” tambah dia
yang  juga punya ruko di Pasar Kliwon.
Untuk menjaga usahanya tetap berkembang, dia mengaku lebih menjaga kualitas
bahan produksinya. Kusnan menggunakan bahan veltboa, rasfur, yelvo, nyiex
dan bahan lainnya yang aman untuk anak-anak.
“Bahan-bahan yang digunakan saya datangkan dari Jakarta dan
Korea. Kami ingin menjaga kualitas, agar produk kami aman untuk anak-anak,”
tambahnya.

- advertisement -

Median Jalan A Yani Kudus Dibongkar, Ini Kata Netizen

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA – Lalu-lalang kendaraan di Jalan A Yani Kudus tak diiraukan para pekerja menutup bekas median jalan, Selasa (10/5/2016).  Mereka menutup bekas median jalan menggunakan aspal. Namun, sejumlah netizen mengkritik pembongkaran median tersebut, karena menurut mereka lalu lintas di sana akan menjadi macet.

pembangunan jalan di kudus
Pekerja menutupi bekas median Jalan A Yani, Kudus. Foto: Suwoko

Kritikan yang sebagian besar bernada sinis tersebut dilontarkan melalui media sosial Facebook pada fanpage milik Seputarkudus.com. Mereka mengomentari pemberitaan terkait penutupan bekas median Jalan A Yani yang telah dibongkar. Mereka menganggap pembongkaran tersebut akan menyebabkan perempatan Gang Empat akan semakin macet dan semrawut. Hal itu seperti yang diungkapkan netizen bernama Faiz Abdi.

“Perempatanan Gang 4 remuk….!!! Pol macet. Angel nyebrang. Ra iso selo suoro klakson (Perempatan Gang 4 Remuk. Macet sekali. Sulit menyeberang. Suara klakson berbunyi tiada henti,” ujar Faiz dalam komentarnya.

Hal senada juga diungkapkan akun bernama Felix Junkulovski. Dia mengatakan, pembongkaran median jalan tersebut menyebabkan kendaraan mobil dan motor akan saling menyalip karena tak ada pembatas. Median jalan sebelumnya digunakan untuk memberi batas antara kendaraan motor dan mobil.

“Motor semakin merajalela karena bebas selap selip mobil hingga kemungkinan tingkat kecelakaan akan naik,” ujar Felix.

Sementara itu, pemilik akun bernama Sa’di Kudus menyebutkan, dikritik seperti apapun kebijakan pembongkaran median jalan tersebut tidak akan berarti apa-apa. “Dikritik ngasi njedir lambene ra bakal iso di okak okak kekarepane (dikritik sampai bibir dower (kebijakan itu) tidak akan bisa dirubuah,” katanya. 

Beberapa netizen justru memberikan komentar bernada satir. Hal itu sebagaimana yang disampaikan pemilik akun Zainal Muttaqin. Menurutnya, dia merasa senang karena bisa mengebut kendaraannya saat melintas di jalan tersebut.

Aku seneng iso soyo ngebut po meneh dalane ombo tapi di sisi lain aku yo susah nek pas aku gowo mobil lewat kono ganti motor do lewat dalan mobil (Saya senang bisa ngebut, apalagi jalannya lebar. Tapi di sisi lain aku merasa susak ketika mengendarai mobil karena motor pun melewati jalan yang sama,” ungkapnya.

Berikut ini komentar lengkap yang diungkapkan netizen pada fanpage milik Seputarkudus.com.

- advertisement -

Dodit Mulyanto Siap Kocok Perut Penggemarnya di UMK pada 4 Juni 2016

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – “See you guys“. Kalimat sapa tersebut dikutip dari video berdurasi 11 detik yang disampaikan Dodit Mulyanto di sela shooting Ok Jek Net TV. Dengan memakai kaus putih dan masih menggunakan tanda pengenal Ok Jek, Dodit memberitahukan dirinya akan datang ke Universitas Muria Kudus (UMK) pada 4 Juni 2016.

dodit mulyanto di umk kudus
Dodit Mulyanto atau Mulyadi OK Jek. Foto: Istimewa

“Hallo, saya Mulyadi Ok Jek (Dodit Mulyanto) akan datang pada tanggal 4 Juni di UMK Kudus. See you guys!,” ungkap Dodit dalam video yang dikirim ke panitia Dies Natalis FE UMK yang diselenggarakan BEM FE UMK.

Jebolan Stand Up Commedy Indonesia (Suci) 4 yang ditayangkan Kompas TV populer dengan ungkapan khasnya kepada para penonton. Misalnya: Hai Guys! Iya kamu! Selamat malam penduduk!, selamat malam penggemar!. Begitu juga karakter polos dan lugunya, mampu membuat penonton terbahak-bahak.

Penampilannya yang kalem dan logat Jawa medok memunculkan ciri khas berbeda dari komedian lain di Stand Up Commedy. Penggemarnya pun cukup banyak. Di akun pribadinya @Dodit_Mulyanto, followersnya mampu menembus angka 474 ribu.

Laki-laki kelahiran Blitar, 30 Juni 1985 selain sibuk manggung off-air, dia juga banyak tampil di beberapa televisi nasional.

Presiden BEM FE UMK Sutopo, yang juga penggemar Dodit mengungkapkan, Dodit dijadwalkan akan mengisi Standup Commedy pada acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi UMK ke-36 pada Sabtu (4/6/2016) 18.00 WIB di Auditorium UMK.

Dia mengaku mulai tertarik pada driver Ok Jek ketika masih mengikuti kontes Stand Up Commedy (SUCI 4). Karakternya begitu polos dan mengundang tawa.

“Kalimat yang selalu saya ingat dari Dodit (Saya ini orang jawa, tapi keluarga saya memegang erat budaya eropa. Saya kalo mau tidur itu minimal lagunya twinkle-twinkle little star, lagunya gini twinkle-twinkle little star, penekno blimbing kuwi),” kata Sutopo.

- advertisement -

Morza, Anak Karanganyar Demak Bangga Kenakan Batik Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Satu persatu beberapa anak keluar menuju panggung utama. Mengenakan
batik, mereka yang masih berusia sekitar lima hingga sembilan tahun terlihat percaya diri
berjalan di catwalk pada acara Lomba Model Busana Batik, di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (10/5/2016).

fashion show batik kudus di umk
Morza (dua dari kiri) mengenakan batik Kudus dalam acara modelling di Auditorium UMK. Foto: Imam Arwindra

Satu dari beberapa anak yang tampil memeragakan busana batik, yakni Morza (9). Dia mengenakan batik Kudus untuk
diperagakan dalam acara tersebut. Dia mengenakan batik Kudus atasan kombinasi warna merah dan hitam, serta bawahan
merah. Morza mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut, apa lagi
menggunakan batik Kudus.
“Mama suka foto-foto dan modelling, jadi saya juga
ikut suka,” ungkap Morza yang mengenakan aksesoris kalung dilehernya.
Pendamping Morza, Fahmi Denhaz menuturkan, pemilihan pakaian
yang dikenakan Morza ditentukan ibunya. Mungkin karena acaranya bertempat di
Kudus, jadi lebih memilih Batik Kudus. “Sebenarnya saya orang Karanganyar (Demak), karena
kegiatannya di Kudus. Kami memakai corak batik Kudus,” ungkapnya.
Begitu juga Trianto (39), dia mengantar putrinya Salsabila
Briliana (5) yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) untuk mengikuti lomba
tersebut. Dia menuturkan, kegiatan modelling batik dinilai bagus untuk
perkembangan anaknya. Selain untuk melatih percaya diri, kegiatan ini juga bisa
memperkenalkan batik kepada anak sejak dini.
“Kegiatan ini baik untuk anak-anak. Selain melatih mental, juga
bisa memperkenalkan batik sejak dini. Batik adalah warisan budaya kita yang perlu
dijaga,” ungkapnya.
Trianto dalam lomba tersebut lebih memilih batik Jepara
untuk dikenakan anaknya. Dengan corak bunga berwarna-warni dan dominan dasar
hitam, anaknya tampak percaya diri berlenggak-lenggok di atas  panggung. Dia menuturkan, lebih memilih batik
Jepara di karenakan asalnya dari Jepara.
“Setiap daerah mempunya corak batik. Kali ini saya
memilih batik Jepara untuk dikenakan,” tambahnya.
M. Hilmi Maulana ketua panitia kegiatan menuturkan, kegiatan Model Busana Batik diikuti 10 peserta yang terbagi
dalam dua kategori. Kategori A untuk anak-anak dan kategori B untuk umum.
Dia menjelaskan, kegiatan ini pertama kali di Fakultas
Hukum UMK. Selain masih belajar, pemilihan waktu yang tidak di hari libur cukup
mempengaruhi jumlah peserta yang ikut.
“Kendala kami salah menentukan hari. Seharusnya di hari
libur, tapi tidak apa-apa, peserta yang mengikuti terlihat antusias,” ungkap
Hilmi yang duduk di semester enam Fakultas Hukum UMK.
Dia berharap, kegiatan ini dapat memperkenalkan batik secara
luas terutama kepada anak-anak. “Karena batik adalah budaya kita, jadi perlu dilestarikan. Satu di antaranya memperkenalkan batik sejak dini kepada anak-anak,”
tambahnya. 

- advertisement -