Beranda blog Halaman 1965

Suasan Ruang Auditorium UMK Berubah Tegang, Mahasiswa FE Berteriak Histeris

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Suasana Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis
(19/5/2016), tampak tegang. Sesekali mereka berlari, berteriak dan histeris. Itu terjadi saat mereka, mahasiswa Fakultas Ekonomi UMK, salah memberi jawaban. Mereka mengikuti permainan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-36 fakultas tersebut.

mahasiswa fakultas ekonomi umk
Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi mengikuti permainan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis fakultas, di Auditorium UMK. Foto: Imam Arwindra

Terdengar dua orang secara bergantian membacakan
pertanyaan seputar ekonomi. Setelah pertanyaan selesai, 40 peserta yang mengenakan batik duduk berbaris menuliskan jawaban di papan yang mereka pegang.

Setelah jawaban ditulis, tiba-tiba beberapa orang keluar dari
ruangan. Menurut Tantra Rian Agustan (20), Ketua Panitia Lomba Cerdas Cermat
yang diadakan BEM Ekonomi UMK, mereka keluar karena salah memberi jawaban.
Dia menuturkan, pertanyaan cerdas cermat ini sebagian besar terkait materi kuliah di Fakultas Ekonomi. Agar lebih lengkap, panitia
juga menambahkan pertanyaan wawasan umum. “Kami (BEM Ekonomi) ingin mengulas materi akademik yang
diajarkan. Ya sekaligus ingin menguji kemampuan mahasiswa,” ujar Tantra kepada Seputarkudus.com.
Dia menjelaskan, peserta yang mengikuti lomba yakni mahasiswa
Fakultas Ekonomi berjumlah 40 orang. Sebanyak 20 mahasiswa dari Progam Studi Manajemen
dan sisanya dari Akuntansi. “Mereka rata-rata duduk di
semester dua,” ungkap Tantra mahasiswa Manajemen semester 6.
Tantra menuturkan, lomba ini mengadopsi progam sebuah program televisi swasta bernama Ranking 1. Terdapat lima sesi pertandingan, empat di antaranya
menggunakan sistem gugur dan yang terakhir menggunakan sistem poin. “Nanti akan tinggal dua orang yang akan diadu. Pemenangnya
yang mendapatkan poin tertinggi,” jelasnya.
Sutopo, Gubernur Mahasiswa BEM Ekonomi UMK menambahkan,
kegiatan ini untuk mengasah intelektual mahasiswa Ekonomi UMK. Materi-materi
yang diberikan panitia pun seputar materi akademik mereka di Ekonomi.
“Materinya seputar materi akademik yang mereka terima saat
kuliah. Semoga bisa membantu mengingat sebentar lagi akan ada ujian semester,”
ungkapnya.
Dia menjelaskan, kegiatan lomba tersebut merupakan bagian dari kegiatan perayaah Dies Natalis Fakultas Ekonomi ke-36. Selain seminar nasional dan standup commedy yang di hadiri Dodit Mulyanto, dia merasa perlu membuatkan
kegiatan khusus mahasiswa. (Baca juga: Dodit Mulyanto Siap Kocok Perut Penggemarnya di UMK pada 4 Juni 2016)
“Kemarin seminar nasional sudah terselenggara. Hari ini
lomba cerdas cermat dan standup commedy
tanggal 4 Juni 2016 medatang,” ungkapnya.

- advertisement -

Duh Lucunya Koleksi Baju Muslim Anak Produk Alfatih Moslem Kids Desa Singocandi

0

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Tiga anak bersiap mengikuti sesi pemotretan untuk produk Alfatih Moslim Kids di Singocandi, Kota, Kudus, beberapa waktu lalu. Mereka telah mengenakan baju dan sajadah produk baju muslim anak yang akan dipasarkan. Foto tersebut akan digunakan sebagai media promo secara online di media sosial. 

baju muslim anak ramadan
Tiga anak memeragakan baju muslim anak koleksi Alfatih Moslim Kids, Kudus. Foto: Suwoko

Dengan percaya diri, mereka berpose di depan kamera. Alfauz (4), satu di antara tiga anak tersebut, mengikuti setiap arahan penata gaya saat pemotretan. “Senyum dik,” ujar Izzatin Nada, ibundanya, kemudian diikuti Alfauz.

Alfatih Moslim Kids merupakan bran pakaian muslim untuk anak-anak milik Izzatin Nada. Sesi pemotretan dilakukan sebagai persiapan untuk promo menjelang Ramadan dan Lebaran. Selain melayani penjualan langsung di tempat produksi, di Desa Singocandi, dia juga menyasar konsumen melalui media sosial di internet.

“Kami sudah memulai produksi beberapa bulan terakhir ini. Kami sengaja membuat stok yang banyak, karena permintaan konsumen saat Ramadan dan Lebaran sangat banyak,” ujar Izzatin kepada Seputarkudus.com.

Ada beberapa produk baju muslim, kata Izzatin, yang telah dibuat baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Untuk laki-laki, dirinya membuat satu stel pakaian terdiri dari peci, baju koko, sarung dan lengkap dengan sajadah. Sedangkan untuk perempuan dirinya membuat koleksi beberapa macam gamis dan jilbab.

“Ada banyak pilihan warna setiap produk untuk anak laki-laki yang telah kami buat, di antaranya ada kuning, biru dan merah. Setiap stel pakaian warnanya senada, baik untuk peci, koko, sarung dan sajadah. Untuk anak perempuan, kami juga punya banyak koleksi warna,” ujarnya.

Baju Muslim dengan Karakter Kartun 

Untuk membuat tampilan baju muslim agar terlihat menarik, dia memberikan sentuhan bordir gambar tokoh-tokoh kartun yang banyak diidolakan anak-anak. Di antaranya tokoh Spide Man dan tokoh katun Cars Mc Queen. 
“Kartun-kartun tersebut kami bubuhkan agar anak-anak tertarik dengan produk kami. Selain itu agar mereka juga bersemangat untuk beribadah,” ujar Izzatin.
Dia menjelaskan, untuk bisa membeli produk baju mulim anak-anak di Alfatih Moslem Kids, pembeli bisa datang langsung ke tempat produksi, di Desa Singocandi. Pembeli juga bisa memesan melalui akun Facebook miliknya, yakni di facebook.com/izzatin.nada. 
“Di akun Facebook milik saya itu banyak gambar produk yang kami unggah. Pembeli bisa memilih produk sesuai dengan apa yang diinginkan. Bisa pemesanan produk bisa melalui inbox,” katanya.

- advertisement -

Banyak Pembeli dari Semarang yang Antre Jajanan Tradisional di Gang 4 Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Perempuan berkerudung merah  asik
mengobrol dengan rekannya sesama pedagang di belakang gerobak, di sisi Jalan Mangga (Gang
4) Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Di atas gerobaknya berbagai jenis
jajanan tradisional yang biasa untuk isi snack tertata rapi. Para pembeli tidak hanya datang dari wilayah Kudus, tapi juga wilayah sekitar Kudus, bahkan Semarang.

jual jajan snack di kudus
Sejumlah pedagang jajan untuk isi snack menunggu pembeli, di Jalan Mangga Gang 4, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Seorang perempuan berjaket coklat tiba-tiba berhenti di
depan gerobak. Dia memesan jajanan tradisional untuk isi snack yang akan dia ambil beberapa
hari kemudian. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, dia pergi bersama
seorang laki-laki dan anak kecil menggunakan sepeda motor, Rabu (18/5/2016).
Umi Athiyah (47) pedagang jajanan di Jalan Mangga Gang 4, mengatakan perempuan
tadi memesan jajanan untuk 300 snack. Beberapa waktu sebelumnya juga ada yang memesan dalam jumlah banyak untuk
dijual kembali.
“Paling beli (jajan) untuk katering. Misal banyak harus pesan dulu supaya barangnya siap. Masalahnya
kadang jajanan habis,” tambahnya.
Dia memberitahukan, di Jalan Mangga atau lebih dikenal Gang
4 merupakan pusat jajanan tradisional. Banyak warga-warga dari Kudus dan luar
Kudus datang untuk membeli untuk kemudian mereka jual kembali.
“Yang sudah langganan dari Semarang dan Jepara. Mereka ambil
banyak karena mau dijual lagi,” tambah pedagang asli Desa Ploso, Kecamatan
Jati, kepada Seputarkudus.com.
Begitu juga Maryati, pedagang jajanan yang juga membuka
lapaknya di Jalan Mangga. Dia menuturkan, selain dipesan untuk katering, juga dibeli untuk
dijual kembali.
“Jadi di sini termasuk pasar jajanan tradisional. Biasanya kami mulai berjualan pukul 04.00 WIB sampai 07.00 WIB. Ratusan pedagang dan pembeli
memadati Jalan Mangga,” jelasnya.
Dia menambahkan, pembeli sangat ramai ketika waktu libur
dan sebelum puasa. Dia mengaku dalam sehari mampu menjual 2 ribu lebih jajan. Omzet
yang didapat bisa mencapai Rp 700 ribu per hari. “Kalau hari biasa paling 1.500 jajan yang terjual,”
ungkapnya.
Harga yang ditawarkan untuk setiap jajan, katanya, sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Jenis jajanannya pun sangat banyak, bisa mencapai 100 jenis. “Jenisnya bisa 100 lebih. Ada apem, arem-arem, bolu
kukus, dadar gulung, risoles, bugis, cucur, kroket, kue lapis, lepet jagung dan
masih banyak lainnya,” jelasnya.

- advertisement -

Di Jalan Tambak Lulang Desa Ploso ini, Sehari 10 Kulit Kerbau Dikeringkan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Laki-laki berkumis tampak membersihkan kulit kerbau yang masih basah, di Jalan Tambak Lulang, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (18/5/2016). Dibantu seorang laki-laki
tua, dia tampak sigap membersihkan sisa daging yang masih menempel. Kulit tersebut selanjutnya akan dikeringkan, dijual kepada perajin bedug dan pembuat kerupuk kulit.

jual kulit kerbau
Fajar (kiri) membersihkan kulit kerbau di Jalan Tambak Lulang, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Fajar, laki-laki yang berkumis tadi menuturkan, kulit-kulit kerbau tersebut biasanya
dijual ke pembuat kerupuk di Desa Jetak Kembang. Ada juga yang dijual ke Kadilangu, Demak dan Jepara, untuk dibuat bedug. Satu kulit kerbau kering dijual seharga Rp 130 ribu
tiap kilogramnya. 

“Satu kulit kerbau kering biasanya sekitar 10 kilogram,”ungkap Fajar kepada Seputarkudus.com.

Dalam sebulan, dia mengaku pernah menjual 30 kulit
kerbau. Per bulannya dia bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 4 juta. “Kalau ramai bisa 30 kulit per bulan. Namun saat sepi paling
hanya 10 saja,” ungkapnya.
Proses pembuatan kulit kerbau kering, kata Fajar, dibutuhkan waktu tiga hari
saat kondisi panas stabil. Bahan baku kulit kerbau basah didapat dari para penjagal di wilayah Kudus.  

“Kalau membersihkan sisa daging paling satu jam sudah
selesai. Yang lama itu mengeringkannya. Sehari bisa membersihkan lima sampai 10 kulit,” tambahnya.

Dia menjelaskan, kulit kerbau yang masih basah dia beli
dengan harga Rp 35 ribu per kilogram. Satu kulit beratnya sekitar 30-35 kilogram. “Jadi di sini hanya menjual bahan mentah kulit kerbau. Jika
mau dibuat bedug ada proses selanjutnya,” ungkapnya.

Tempat produksi kulit kerbau kering milik Abdul Wahab tersebut, menurut Fajar yang dipercaya untuk mengurus tempat tersebut, telah berlangsung sejak lama.

- advertisement -

Jalan Mangga Gang 4 Kudus, Tempat Berburu Jajan Pasar Enak dan Murah

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Tersisa sekitar 10 penjual
jajanan tradisional pukul 08.00 WIB masih berjualan di sisi Jalan Mangga (Gang Papat), Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Mereka duduk di balik gerobak yang berisi aneka makanan kecil yang biasa digunakan untuk kotak snack. Sambil menunggu pembeli datang,
mereka mengobrol dengan penjual lainnya.

penjual snack di gang 4 kudus
Warga membeli jajanan pasar di Gang 4, Jalan Mangga, Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus. Foto Imam Arwindra
Umi Athiyah (47), pedagang makanan kecil di Gang 4 Kudus menuturkan, dia dan pedagang lainnya mulai berjualan pukul 04.00 WIB. Pedagang yang berjualan ada lebih dari 100 orang.
“Ramainya mulai Pukul 04.00 pagi. Kalau Pukul 08.00 seperti
sekarang sudah tidak ramai lagi,” kata Umi kepada Seputarkudus.com, Rabu (18/5/2016).
Dia menuturkan,
pedagang yang berjualan datang dari Loram, Panjunan, dan Ploso. “Yang jualan orang Kudus. Namun yang membeli banyak
dari luar Kudus. Semarang pun ada,” ungkap Umi, pedagang yang berasal
dari Desa Ploso, Kecamatan Jati.

jual snack gang 4 kudus
Sejumlah penjual jajanan pasar menunggu pembeli di Gang 4 Jalan Mangga, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, setelah subuh lokasi di Jalan Mangga seperti pasar. Ratusan orang berdagangan untuk membeli jajanan tradisional
yang akan mereka jual lagi.
Jajanan yang dijual, katanya, ada lebih dari 100 jenis. Beberapa jajanan di antaranya apem, arem-arem, agar-agar, bolu kukus, dadar gulung, risoles, bugis, cucur, kroket, kue lapis, lepet Jagung, dan masih banyak lainnya. “Rata-rata setiap jajan dijual antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500,”
tambahnya.
Dalam sehari dia mengaku mampu menjual 1.500 jajan. Omzet yang
diterimanya mencapai Rp 700 ribu per hari. “Kalau pas hari libur atau masuk bulan puasa bisa 2 ribu lebih jajanan yang terjual,” tambah umi. 

Umi menceritakan, dirinya mulai berdagang sejakl tahun 1984. Jajanan yang
dia jual disetok dari orang lain. Dia hanya membuat bolu kukus.

- advertisement -

1 Set Meja Makan Kayu Jati Belanda di Desa Jepang Ini Hanya Dijual Rp 800 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Suara mesin amplas terdengar keras di sebuah mebel di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, Selasa (17/5/2016) siang.  Para tukang kayu sedang mengerjakan pesanan satu set meja makan dari bahan kayu jati belanda. Satu set meja makan yang telah jadi dijual seharga Rp 800 ribu.

harga 1 set meja makan dari kursi belanda
Para tukang tengah mengerjakan pesanan satu set meja makan terbuat dari kayu jati belanda, di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Mejobo, Kudus. Foto: Suwoko

Muhammad Dorif, atau biasa disapa Cak Dorif, adalah pemilik mebel yang letaknya tak jauh di utara lampu merah Desa Jepang. Hari itu dia terlihat meneliti hasil pekerjaan para tukang. Setelah meneliti, mereka meminta pekerja yang lain untuk memberi sentuhan akhir dengan klir.

“Kami hanya mengerjakan pesanan mebel berbahan kayu jati belanda. Kami ada empat tukang dan beberapa pekerja yang melakukan finishing. Satu set meja makan yang dikerjakan ini kami jual Rp 800 ribu,ujar Dorif, warga Desa Wergu Kulon, Kecamatan Jati, kepada Seputarkudus.com.

Produk mebel yang dibuat memang dijual dengan harga terjangkau. Namun dia menjamin kualitas produk yang dibuatnya. Bahan kayu jati belanda, katanya, juga cukup kuat. Selain itu, kayu tersebut memiliki serat yang unik.

“Banyak yang mengaku suka mebel berbahan kayu jati belanda. Seratnya itu sangat unik, berbeda dengan kayu jati biasa yang tidak memiliki serat tampak,” ujar pria kelahiran Jawa Timur itu.

Dia menceritakan, usaha yang dijalankan tersebut sudah berlangsung selama tiga tahun. Awalnya dia membuat produk mebel untuk setok. Namun, karena saat ini banyak yang datang memesan, dia hanya sempat untuk mengerjakan pesanan. 

“Tidak hanya meja kursi, saya juga sering dapat pesanan untuk menggarap seluruh interior. Ada yang untuk rumah, kafe, atau distro,” jelasnya. 

Dorif menceritakan, beberapa waktu lalu dirinya pernah diminta untuk membuatkan interior sebuah distro di Pati. Tak lama setelah itu, dirinya mendapat pesanan sebuah kedai. “Kalau yang memesan seperti itu biasanya sistem borongan. Meja, kursi, bar, atau item interior yang lain, dihitung berdasarkan item yang dikerjakan,” katanya.

Jual Kayu Jati Belanda

jual kayu jati belanda
Pekerja sedang melepas paku dari palet kayu jati belanda di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo. Foto: Suwoko
Sementara itu, di depan tempat Dorif membuat produk mebel, bertumpuk bahan kayu jati belanda berbagai ukuran. Seorang pekerja tampak mencopoti paku-paku yang masih menempel di kayu. Kayu-kayu tersebut, selain digunakan sebagai bahan produk produk furnitur, juga dijual.
“Awalnya kami hanya menjual kayu jati belanda. Banyak pemilik mebel yang datang untuk membeli kayu kepada kami. Setelah dipikir-pikir, kenapa tidak kami coba untuk membuat mebel juga. Untungnya lebih banyak ketimbang jual bahan,” tutur Dorif.
Dia menjelaskan, kayu jati belanda tersebut dia dapat dari sebuah perusahaan tekstil. Kayu-kayu tersebut merupakan bekas palet atau peti kemas di perusahaan tersebut. Dia melakukan kontrak dengan perusahaan tekstil itu untuk memborong palet dan peti kemas.
“Biasanya kalau ada barang masuk, pasti palet atau peti kemasnya kami ambil. Kami sudah melakukan kontrak. Jadi setiap ada barangnya harus kami beli borongan,” katanya. 
Dorif menambahkan, selain kayu palet berbagai ukuran, dirinya juga menjual triplek bekas peti kemas. Harga yang ditawarkan diklaim lebih murah ketimbang yang dijual di toko. 
- advertisement -

Mahasiswa UMK Lama Pasti Tahu Warung Mak Dar, Warung Prasmanan Murah Meriah

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Beberapa pengunjung terlihat
duduk di beberapa kursi yang disediakan warung makan depan depan Kampus UMK, Desa Gondang Manis Kecamatan Bae, Kudus. Seorang
laki-laki berkemeja kotak-kotak terlihat sedang mengambil nasi di tempat nasi
yang disediakan. Lalu dia mengambil sayur dan ayam krispi yang ditaruh
di rak atas.

Aneka lauk dan sayur di sajikan di warung milik Darwati yang sering disapa Mak Dar, di Depan Kampus UMK. Foto: Imam Arwindra


“Minum apa mas?” Tanya seorang pelayan perempuan yang sudah
memegang gelas ditangannya. “Es teh buk,” jawab pria berbaju kotak-kotak sambil menoleh kebelakang.
Warung makan tersebut milik Darwati (51), yang telah lama berjualan nasi untuk mahasiswa UMK. Setiap pembeli yang datang dipersilakan mengambil sendiri, nasi, sayur dan lauk. Harga yang
diberikan untuk satu porsi nasi dan sayur sangat murah, yakni Rp 3 ribu.
“Di (warung) sini prasmanan. Silakan mau ambil nasi
dan sayur sepuasnya,” ungkap Darwati, atau yang akrap disapa Mak Dar, ketika ditemui di warungnya, Selasa
(17/5/2016).
Mak Dar menuturkan, dirinya memulai berjualan nasi sejak 1996,
ketika masih di Perumahan Muria Indah, Desa Gondang  Manis, Bae, Kudus. Dia pindah di depan Kampus
UMK sekitar tahun 2013. Alasan dia berjualan secara prasmanan, untuk
membantu mahasiswa yang makannya banyak, namun uang sakunya pas-pasan.

“Tak sekadar hanya berjualan saja. Saya ingin membantu
anak-anak kos supaya tetap bisa makan. Di sini hutang juga boleh,” ungkapnya.

Selain alasan ingin membantu mahasiswa yang berkantong cekak, Mak Dar mengaku mempunyai anak yang
masih menempuh pendidikan di Sekolah Pelayaran, Semarang. Uang yang dia kasih menurutnya terbilang
pas-pasan.Tapi ada pemilik warung yang baik dengan anaknya.
“Semarang ada warung makan yang baik dengan dia. Kalau tidak punya uang boleh
hutang. Saat saya membantu mahasiswa di sini, anak saya di Semarang juga dibantu orang lain,” tambahnya.
Setiap Senin hingga Kamis, Darwati memasak nasi sekitar 15 kilogram. Sedangkan Jumat hingga Minggu hanya memasak nasi lima kilogram. “Hari Senin sampai Kamis mahasiswa aktif kuliah. Mulai Jumat biasanya sudah banyak yang pulang kampung,” ungkap wanita asli Blitar tersebut.

Dalam sehari sekitar 100 mahasiswa makan di warungnya. Warung yang buka dari pukul 07.00 WIB  hingga 23.00 WIB, menyajikan banyak menu makanan. Di antaranya, pecel, rames, lodeh, bening, asem-asem, tempe
penyet dan aneka lauk ikan dan ayam.

Mahsiswa UMK Sangat Terkesan 

Bagi sebagian mahasiswa UMK, khususnya angkatan sekitar tahun 2000, warung milik Mak Dar sangat memberikan kesan. Selain bisa mengambil nasi dan sayur sesukanya dan murah, Mak Dar juga mengizinkan mereka untuk berhutang.

“Dulu setiap hari makannya ya di warung Mak Dar. Makan sekali bisa untuk bekal satu hari, karena ambil nasi dan sayurnya bisa banyak,” ujar Makin, mahasiswa FKIP UMK angkatan 2003.

Dia mengaku masih sering datang ke warung Mak Dar, meski tidak lagi kuliah di UMK. Sikap baik Mak Dar kepada mahasiswa yang datang ke warungnya, memberikan kesan mendalam, sehingga menganggap Mak Dar seperti ibunya sendiri.

“Saya dulu makan di sana ketika masih di Perumahan Muria Indah. Kebetulan kontrakan saya di perumahan itu. Mak Dar sangat baik kepada siapapun. Orangnya sangat peduli, khususnya kepada mahasiswa kuliah harus mencari biaya sendiri. Dulu kalau tidak punya uang saya sering hutang,” tuturnya sambil tertawa.

- advertisement -

Berbekal Facebook, Veti Sukses Berbisnis Online dengan Pasar di Seluruh Indonesia

0
SEPUTARKUDUS.COM, FACEBOOK – Pertemanan di akun Facebooknya mencapai 4.995. Akun
Facebooknya yang lain mencapai 2.251 pertemanan. Dua akun tersebut milik Veti Andriyani, mahasiswa Univeristas Muria Kudus yang sukses menjalankan bisnis online. Akun tersebut digunakan untuk menawarkan produk dan konsumennya tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.
vety jual atribut dan sovenir PMII
Veti (paling kanan) berfoto bersama anggota PMII. Foto Facebook

Di beberapa postingannya, dia mengunggah atribut
organisasi. Di antaranya, pin, peci, selempang, jas, batik motif organisasi dan
buku. Barang-barang tersebut dia jual secara online kepada anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di
seluruh Indonesia.

Veti yang asli Desa Terban, Kecamatan Jekulo, mengaku
dalam sebulan mampu meraup omzet jutaan Rupiah. “Bulan ini yang
sedang ramai pesanan jas dan pin PMII. Rata-rata dalam sebulan 100 hingga 150 barang
yang terjual,” ungkapnya.

Setiap bulan, Veti mengirim pesanan ke
sejumlah daerah di luar Jawa. Di antaranya, ke Banjarmasin, Lampung, Sumbawa, Kupang, Medan, Ambon dan
Jayapura.
“Sebenarnya saya tidak hanya menjual atribut PMII saja. Saya
juga pernah dapat pesanan dari HMI
(HImpunan Mahasiswa Islam) di Sumbawa dan Nusa
Tenggara Barat. Saya juga pernah mendapat pesanan dari GMNI (Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia) di Kutai Timur,” ungkapnya.

atribut pmii
Produk atribut PMII yang dijual Veti melalui akun Facebook miliknya. Foto: Facebook

Dia menceritakan, mulai menggeluti bisnis online sejak Oktober 2014. Produk yang dijualnya ialah atribut organisasi. Antara lain, jas,
batik, baju seragam organisasi, kaos, pin, peci, samir, bendera dan buku.

“Dulu pernah berjualan buku. Tapi sekarang fokus untuk menjual atribut dan sovenir organisasi kemahasiswaan, khususnya PMII. Kenapa PMII, ya karena saya kader PMII. Sekarang juga masih menjadi pengurus di PC (Pengurus Cabang) PMII Kudus,” ujar Veti kepada Seputarkudus.com.
Dia beralasan memilih fokus pada penjualan atribut dan sovenir
organisasi, karena persaingan masih sedikit, terlebih di media sosial. Selain itu,
banyak organisasi yang membutuhkan, terutama di luar Jawa.
“Biasanya banyak orang berjualan atribut organisasi hanya
saat kegiatan besar saja. Sedangkan, di setiap daerah butuh atribut organisasi secara
cepat tanpa harus menunggu kegiatan besar. Dari alasan itulah saya mengambil
peluang itu,” jelasnya.
- advertisement -

Konsumen Sepatu Kulit Ramai Berdatangan, Meski Tempat Produksinya Ke Luar Masuk Gang

0
SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Siang itu (16/5/2016) Arif Budiman tengah menjahit bahan sepatu kulit di ruang tengah tempat produksi Shinta Shoes, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. Sedangkan belasan karyawannya mengerjakan item sepatu lainnya. Arif merupakan generasi kedua Shinta Shoes yang telah dikenal hingga ke sejumlah daerah di luar Jawa.

sepatu kulit murah berkualitas di gribig kudus
Karyawan Shinta Shoes mengerjakan sejumlah item sepatu kulit di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. Foto: Imam Arwindra


Arif menceritakan, usaha pembuatan sepatu kulit dimulainya sejak tahun 1993. Dia meneruskan ayahnya yang telah merintis usaha tersebut sejak tahun 70-an. Untuk melanjutkan usahanya tersebut, Arif dibantu adiknya, Heni Sinta.
“Saya anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya
perempuan. Untuk menjalankan usaha ini, saya dibantu adik saya anak keempat,
Heni Sinta,” ungkap Arif kepada Seputarkudus.com. (Baca juga: Omzet Sepatu Kulit Home Industry di Gribig Ini Tembus Rp 55 Juta Sebulan)

Selain mengurus produksi sepatu, Arif juga mengurus pemasaran. Dia melayani pembeli yang datang ke tempat produksinya itu. Selain suplier, banyak juga pemesan datang langsung ke tempatnya untuk dibuatkan bentuk dan ukuran sepatu yang diinginkan.

“Adik saya tugasnya khusus melayani pembeli yang datang ke toko. Jadi pembeli bisa datang langsung ke tempat produksi atau ke toko. Toko sepatu kami ada di Jalan Ringroad Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae,” tuturnya.   

Tempat produksi sepatu kulit milik arif berada di sebuah kampung. Untuk menuju ke sana, gang samping utara Puskesmas Gribig masuk hingga ada gang kedua belok ke selatan, lalu lurus hingga menemui jalan buntu. Di sanalah ada sebuah rumah yang menjadi tempat produksinya.

Para karyawan Shinta Shoes bekerja di dalam ruangan berukuran sekitar 8×5 meter. Nampak berceceran sepatu
pantofel setengah jadi di sisi tengah sudut ruangan. Di sisi barat,
tumpukan sepatu dan cetakan pola yang terbuat dari kayu tertumpuk di rak.
Di sisi timur, bahan sepatu dari kulit sapi juga terlihat menumpuk.


Meski berada di dalam kampung yang dan ke luar masuk gang, Arif mengatakan banyak pembeli dan suplier datang ke tempat produksinya itu. Saat ini Arif tidak perlu susah payah memasarkan produknya, karena kebanyakan para pembeli datang langsung.

“Konsumen datang langsung ke sini (rumah produksi). Karena biasanya
mereka ingin diukur sesuai kakinya. Suplier juga demikian, mereka datang langsung. Sepatu dari kami ada yang dijual di Kudus dan sekitarnya, ada juga yang dijual hingga ke Sumatra,” ungkap Arif.

Membuat Sandal, Tas dan Dompet Berbahan Kulit

Arif menceritakan, dirinya tak hanya memproduksi sepatu berbahan kulit. Sandal, tas dan dompet juga dibuat. Dalam pembuatan produknya itu dia dibantu 12 orang karyawan.

“Sebenarnya tidak hanya sepatu. Dompet,
tas, sandal dan sabuk yang berbahan kulit juga kami buat,” tambahnya.
Dia mengaku, dalam sehari mampu memproduksi 10 unit sepatu
pria dan wanita. Harga yang dibanderol Sinta Shoes menurut Arif cukup
terjangkau, antara Rp 160 ribu hingga Rp 200 ribu untuk sepatu pantofel dan
boat. “Kalau buat sepatu paling dua jam sudah jadi,” ungkapnya.
- advertisement -

Omzet Sepatu Kulit Home Industry di Gribig Ini Tembus Rp 55 Juta Sebulan

0
SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Suara mesin jahit terdengar di ruang depan ruangan
5×8 meter sebuah rumah di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Senin
(16/5/2016). Mesin jahit itu digunakan pekerja untuk membuat sepatu kulit merek Shinta Shoes, yang setiap bulan penjualannya mencapai Rp 55 juta. 
Produk sepatu kulit Shinta Shoes dijual di toko, Jalan Ringroad Utara, Desa Peganjaran, Kec (depan SPBU), Foto: Imam Arwindra.

Di dekat tumpukan kulit sapi, Arif Budiman, pemilik home industry pembuatan sepatu kulit,
sedang menjahit pola sepatu. Menurutnya dalam sehari mampu membuat hingga 10 set sepatu. Omzet penjualan produk sepatu miliknya sekitar Rp 45 juta hingga Rp 55 juta setiap bulan.

“Satu bulan antara Rp 45 juta sampai Rp 55 juta. Tapi itu
bukan sepatu saja. Ada sandal, dompet dan sabuk. Pembeli ada yang datang ke toko di depan SPBU Jalan Ringroad Utara,” ungkap dia ketika ditemui Seputarkudus.com di
rumah produksinya.
Dia menjelaskan, sepatu yang dia buat dijual antara Rp 160
ribu sampai Rp 200 ribu untuk jenis sepatu pantofel dan sepatu boat. Jumlah model
sepatu pria dan wanita yang sudah dia produksi mencapai 100 model.
“Ada sekitar 100 model sepatu pria dan wanita. Kalau ingin
membuat,  kami sudah ada contohnya. Namun
jika ingin membuat dengan model sendiri, juga bisa,” tambahnya.

jual sepatu kulit berkualitas di kudus
Arif menjahit kulit bahan sepatu di tempat produksi miliknya, di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Arif menuturkan, Sinta Shoes yang dia kelola selain membuat
sepatu pria dan wanita juga membuat sandal, dompet dan sabuk yang berbahan
kulit. Bahan yang dia gunakan yakni kulit sapi yang dipesannya dari Kabupaten
Magetan, Jawa Timur.
“Jadi bahan yang digunakan asli kulit sapi. Pernah membuat
dari  bahan kulit yang lain, namun tinggal
permintaan konsumen,” tambahnya.
Agar produk sepatu miliknya tetap disukai konsumen, dia selalu mengikuti model-model terbaru. Dia tidak khawatir banyaknya produsen sepatu dari daerah lain. Karena menurutnya, kualitas produk yang dibuat selalu dijaga dan harga yang ditawarkan terbilang murah.

- advertisement -

Warga Dukuh Plumbungan Gantungkan Hidup dari Pasir yang Mengendap

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Air sungai Kaligelis tampak tenang. Empat orang laki-laki
dengan ban besar di sampingnya tampak 
bergantian menyelam di Sungai Gelis, Dukuh Plumbungan Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Sabtu (14/5/2016). Ketika muncul ke permukaan, mereka menyunggi pengki berisikan
pasir basah. Aktivitas seperti itu banyak dilakukan warga Plumbungan untuk mencari nafkah.

pasir sungai gelis kudus
Penambang mengangkut pasir menggunakan ban di Sungai Gelis, Dukuh Plumbungan, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Ditepi sungai tiga truk dum bersiap mengangkut pasir
yang dikumpulkan penambang. Munawir (36), satu di antara penambang pasir kemudian menepi di bibir sungai, dan menarik ban besar yang berisi pasir. Dia lalu mengangkat pasir itu sedikit demi sedikit ke dalam truk.

Dia menuturkan, sehari-hari dia bersama warga Plumbungan lainnya menambang pasir di tak jauh dari permukiman. Merka biasanya mulai bekerja sekitar pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar 13.00
WIB. Menurutnya, hampir sebagian besar warga Plumbungan berkerja sebagai
penambang pasir.
“Warga di sini (Plumbungan) banyak yang menggantungkan hidup dari pasir yang mengendap di dasar sungau,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Munawir mengaku tak memiliki cukup modal untuk bisa “naik kelas” menjadi pengepul pasir. “Modal awal (menambang pasir) sekitar Rp 375 ribu. Rp 200 ribu untuk
membeli ban, Rp 150 ribu untuk kawah dan Rp 25 ribu untuk membeli pengki dan
pelapis besinya. Ingin bisa menjadi pengepul, tapi tak punya modal,” jelasnya.
Menjeng, seorang pengepul yang datang ke lokasi penambangan, mengatakan satu bak truk dam
dirinya bisa untung Rp 500 ribu. “Modal awal saya besar. Ini saja truk dam masih hutang
bank. Setiap bulan saya nyicil,” ungkapnya.
Dia mengatakan setiap hari saat musim kemarau seperti ini, dia bisa mengangkut dua truk pasir. “Kalau penambangnya banyak dan giat, satu hari bisa dua
muatan pasir,” ungkapnya.
Pasir-pasir yang dia dapat ada yang dikirim kepada penjual pasir di Desa Panjang. “Karena ini pasir lokal, pembelinya orang Kudus dan
daerah sekitar,” jelasnya.
- advertisement -

Kakek Pesulap di Car Free Day Kudus Ternyata Mantan Perwira Berpangkat Kombes

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Di selatan Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, tampak orang-orang mengerumuni seorang kakek berkaus merah yang sedang memegang botol, Minggu (15/5/2016) pagi. Orang-orang tersebut penasaran dengan apa yang dilakukan kakek bernama Theodorus Nyono, yang ternyata tengah memainkan trik sulap di Car Free Day.

sulap car free day kudus
Theodorus Nyono memainkan trik sulap di acara Car Free Day, Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Botol tersebut diambil dari dalam kotak yang di bagian depan sepedanya. Di sampingnya seorang perempuan menuangkan air ke dalam botol yang dia pegang. Dia kemudian meniupnya, lalu botol tersebut dibalik tapi air tak tumpah.

Kemudian, Theordorus memasukkan beberapa batang korek api. Dengan perlahan-perlahan batang korek api tersebut naik ke atas. “Ah… ditipu,” celetuk pengunjung Car Free Day yang masih memegangi sepedanya.

Namun siapa sangka, lelaki tua tersebut dulu seorang perwira polisi berpangkat Komisarias Besar (Kombes). “Saya pensiunan polisi,” ungkapnya sambil memberikan kartu nama yang bertuliskan Kombes Pol Drs. Theodorus Nyono, kepada Seputarkudus.com.

Kartu nama Theodorus Nyono, pesulap di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menceritakan, setelah pensiun, dia mengisi waktu luang dengan bermain sulap. Dia mengaku cukup senang karena bisa menghibur orang lain. Setiap Minggu pagi, dia rutin datang ke Car Free Day. Selain untuk berolahraga, dirinya memainkan sulap untuk menghibur masyarakat.

“Rumus hidup itu, kalau kita bia menyenangkan orang lain, berarti kita sudah senang. Kalau bisa membuat orang gembira, berarti kita juga akan gembira. Kalau kita bisa membuat orang bahagia, berarti kita bahagia,” ungkap dia yang asli Yogjakarta.

Dia menambahkan, tujuannya bermain sulap hanya untuk membahagiakan orang di masa senjanya. “Saya juga menjual alat-alat sulap sederhana. Sebenarnya gratis, tapi saya sering mengatakan seribu, dua ribu, itu hanya untuk menarik perhatian orang,” ungkapnya.

Di Kudus, dia mengaku sudah menetap sejak 2008, di Jalan Ganesa Raya, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Dia tinggal bersama anaknya yang menikah dengan orang Kudus. “Di sini ikut anak saya di Jalan Ganesa, Purwosari,” tambahnya.

- advertisement -

Bule Amerika Ini Penasaran Orang Kudus Tak Menyembelih Sapi

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Sebuah foto terpampang di dinding Halaman Facebook yang diunggah pada Jumat (13/5/2016). Seorang mengenakan topi dan berkacamata hitam menunjukkan ekspresi kegembiraannya dalam foto tersebut. Di belakangnya tampak bangunan yang tak asing bagi masyarakat Kudus, yakni Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsha. Halaman Facebook yang memuat foto itu milik Raef, bule Amerika muslim yang juga seorang musisi.

bule amerika di menara kudus
Raef, bule Amerika berfoto di depan Menara Kudus, Jumat (13/5/2016). Foto: Facebook Raef 

Dalam unggahan foto tersebut, Raef menyematkan tulisan tentang kekagumannya terhadap sejarah Islam di Kudus, termasuk terkait toleransinya. Dia juga kagum dengan gaya dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, melarang masyarakat yang saat itu baru memeluk Islam agar tidak menyembelih sapi. 

Larangan tersebut sebagai bentuk rasa toleransi dan penghormatan kepada kerabat dan tetangga yang memeluk Hindu. “So much so, that till this day , it’s not easy to find Beef sold or served at restaurants! (Begitu melekatnya (ajaran itu), hingga hari ini tidak mudah menemukan daging sapi yang dijual atau disajikan di restoran),” kata Raef. 

Di awal kalimat yang dia tulis untuk memberikan keterangan tentang foto yang diunggah itu, Raef menyebut, bangunan Menara Kudus sebagai contoh yang sempurna bagaimana Islam datang untuk memperkaya, bukan memberangus budaya masyarakat setempat.

A perfect example of how Islam came to enrich, not wipe-out culture, is Masjid Al-Aqsa here in #Kudus Indonesia (Sebuah contoh sempurna bagaimana Islam datang untuk memperkaya, bukan memberangus budaya, contoh itu yakni Masjid Al-Aqsa di Kudus Indonesia),” ujar Raef mengawali tulisannya di Facebook.

Dalam tulisannya, Raef juga menulis, sejak 600 tahun lalu tempat Menara Kudus saat ini, dulu telah menjadi pusat pendidikan Islam. Ketika pulau Muria menyatu dengan daratan pulau Jawa, masyarakat Muslim yang dipimpin Sunan Kudus membangun masjid tersebut dengan bangunan menyerupai arsitektur bangunan Hindu.

From a distance, the iconic red brick walls and edges are almost identical to ancient Hindu Temples. (Dilihat dari kejauhan, dinding batu bata merah ikonik dan ujung-ujungnya menyerupai gaya kuil Hindu),” tulis pria yang lahir di Washington DC, Amerika Serikat tersebut.

Di akhir kalimat yang ditulis dalam unggahan fotonya, dia menyebut orang yang mengatakan Islam mengajarkan tindakan intoleran mungkin belum pernah membaca sejarah Indonesia.

15 Hari Raef Keliling Jawa

Kunjungan Raef ke Kudus merupakan bagian dari agendanya untuk mengelilingi pulau Jawa. Selama 15 hari sejak 10 Mei lalu, akan mengunjungi sejumlah tempat di Jawa, termasuk di Kudus.

Di Halaman Facebook itu, Raef juga mengunggah peta pulau Jawa yang dilengkapi dengan jadwal sejumlah tempat yang akan dia kunjungi. Selain di Kudus, Raef juga akan mengunjungi Pati, Tuban, Gresik, Surabaya, Malang dan sejumlah daerah lainnya. Sebelum tiba di Kudus, Raef telah mengunjungi sejumlah tempat di Demak, Semarang dan Cirebon.      

Berikut ini unggahan asli Halaman Facebook Raef.


- advertisement -

Tari Saman SMK Al-Islam Kudus Disambut Riuh Tepukan Pengunjung Car Free Day

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sebanyak 14 perempuan berkerudung warna-warni duduk di depan Pendapa Kabupaten Kudus, Minggu (15/5/2016). Mereka mengerakkan tangan dan tubuhnya
di atas karpet berwarna merah dan hijau diiringi suara musik kencang. Di depannya
puluhan orang menonton aksi mereka. Sesekali tepuk tangan
menambah keriuhan suasana Car Free Day
di Alun-alun Kudus.

smk al-islam kudus tari aceh car free day
Siswi SMK Al-Islam Kudus membawakan Tari Saman dari Aceh di Alun-alun Kudus, Minggu (15/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Pertunjukan tersebut dilakukan siswi SMK Al-Islam
Kudus. Noor Akhlis, Kepala SMK Al- Islam menuturkan, tarian yang
dipertunjukkan yakni Tari Saman dari Aceh.

Menurutnya, selain karena tariannya bagus, masyarakat Kudus perlu tahu tarian
asli daerah yang dijuluki serambi Mekah tersebut. “Tarian asli dari serambi Mekah tersebut juga perlu
diketahui masyarakat Kota Kretek,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, selain Tari Saman, siswi SMK Al-Islam
Kudus juga menampilkan pentas seni dan vokal suara. “Sebelumnya kami melakukan senam bersama dengan masyarakat yang hadir
di Alun-alun. Kami juga membuka stan tensi darah bagi masyarakat yang ingin
cek tensi darahnya,” tambahnya.

Setiap Pekan Sekolah di Kudus Tampil di Car Free Day

Noor Akhlis memberitahukan, selain sebagai media promosi, kegiatan
yang dilakukan sekolahnya itu merupakan bagian dari progam Pemerintah Kabupaten Kudus. Setiap
Minggu sekolah-sekolah di Kudus akan bergantian mementaskan kreasi
masing-masing. “Jadwal sudah diatur dari dinas. Kami tinggal mengikuti,”
terangnya.
Sekertaris Daerah (Sekda) Kudus Noor Yasin menuturkan,
kegiatan ini sudah lama dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Selain agar masyarakat sehat, Car Free Day dan
panggung kreasi ini juga bisa menginspirasi sekolah-sekolah untuk menampilkan
kreasi terbaik mereka.
“Budaya ini baik untuk masyarakat Kudus. Pemerintah daerah
akan selalu memfasilitasi,” ungkap dia kepada Seputarkudus.com.
Dia menambahkan, semua sekolah mempunyai kesempatan yang
sama untuk tampil di panggung Car Free
Day ini. Baik tingkatan SD hingga SMA diberikan ruang yang sama. “Jadwal sudah ditentukan. Jadi semua sekolah mempunyai
kesempatan untuk menunjukkan kreasi terbaiknya,” ungkapnya.

- advertisement -

Inayah Lari Melihat ‘Hantu’ Di Alun-alun Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Matanya melotot ke setiap orang di dekatnya. Dia memakai
jubah hitam dan membawa tongkat, mukanya merah, tampak di pipi kana-kiri
terdapat luka lebar. Dia berusaha menakuti masyarakat yang datang pada Car Free Day di Alun-alun
Kudus, Minggu (15/5/2016).

hantu car free day kudus
Pengunjung Car Free Day menghindari orang berkostum hatu di Alun-alun Kudus, Minggu (15/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Miftahul Inayah (20)
bersama rekaannya yang datang di Car Free Day tampak menghindar saat melihat sejumlah orang berkostum hantu. Dia mengaku takut
melihat “hantu-hantu” tersebut. Terutama yang mukanya merah.

“Saya kabur melihat hantu yang mukanya merah. Selain ada
luka di mukanya, matanya selalu melontot
ke aku terus. Mungkin itu genderuwo,” ungkap mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) kepada Seputarkudus.com.
“Hantu-hantu” yang membuat Inayah kabur bukanlah hantu sungguhan.
Mereka merupakan anggota Komunitas Kesenian Tali Jagad yang sengaja menggelar aksinya saat
Car Free Day di Alun-alun Kudus.
Berbeda dengan Inayah dan rekannya, beberapa pengunjung justru mengerumuni “hantu-hantu” tersebut.
Mereka rela mengantri untuk berfoto bersama anggota komunitas tersebut.

Anggota Komunitas Kesenian Tali Jagad. Foto: Imam Arwindra

  
Ketua Komunitas Kesenian Tali Jagad, Imam Al-Bahran menuturkan, komunitas yang dipimpinnya mewadahi para pegiat kesenian. Bidang seni dalam komunitasnya antara lain teater, tari, musik dan rebana.

“Pernah kami mengkolabrasikan rebana dengan musik-musik Pop.
Hasilnya bagus,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, komunitas yang didirikan pada September 2015 ini sudah
mempunyai anggota 20 orang. Menurut Imam, anggotanya lebih banyak datang dari Kecamatan
Kaliwungu, Kudus. Dia juga mempersilakan siapa saja yang ingin bergabung dalam komunitasnya.
“Kami mempersilakan dari kecamatan lain atau bahkan luar Kudus
jika ingin bergabung. Ini juga ada satu anggota dari Salatiga,” tambahnya. Dia bersama teman-temannya memilih fokus kesenian karena
ingin berbeda dengan komunitas lainnya yang sudah ada.
Hikam, satu dari anggota komunitas menuturkan, dia dan
rekan-rekannya ingin terlihat beda. Biasanya komunitas tentang hewan, mobil,
motor, dia lebih tertarik dengan seni.
- advertisement -