Beranda blog Halaman 1964

Inilah Sosok Pembuat Gebyok Ukir di Pendapa dan Gedung DPRD Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Rumah dengan pintu dan kusen yang dipenuhi ukiran khas Kudus di Jalan KH Nor Hadi, Kelurahan Janggalan, Kota, Kudus, tampak dipenuhi kayu dan peralatan tukang. Rumah tersebut pernah dibuat tempat pembuatan gebyok untuk DPRD dan Pendapa Kudus. Tempat pembuatan gebyok itu bernama Artis Jaya, Art & Decoration Furnitures.

gebyok khas kudus
Dony menunjukkan gebyok ukir khas Kudus karya Artis Jaya, Art & Decoration Furnitures miliknya. Foto: Rabu Sipan

Pemilik Artis Jaya, Dony Osmond (37) menceritakan, usahanya tersebut didirikan ayahnya, Almarhum Buchori. Tempat usahanya itu sudah banyak dikenal dan mendapat kepercayaan masyarakat. Bahkan, gebyok ukir yang ada di Pendapa Kabupaten Kudus dan gedung DPRD Kudus dibuat olehnya. 

“Gebyok yang ada di pendapa dan gedung DPRD itu juga kami membuat. Pelanggan kami banyak dari kalangan pejabat. Pengusaha juga banyak,” ujar Dony kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, pesanan paling banyak dari Jakarta, karena rata-rata yang pesan gebyok ukir biasanya datang dari para pejabat serta para pengusaha. Meskipun begitu ada juga dari daerah lain diantaranya Semarang, Papua, serta Kudus. 

Dalam setahun, kata Doni, omzet yang didapat Artis Jaya bisa mencapai miliaran Rupiah. Bila sedang ramai pesanan, omzet pembuatan gebyok dan joglo ukir bisa lebih dari Rp 3 miliar setahun. Satu set rumah joglo, katanya, harganya bisa Rp 1,5miliar. Itu dikerjakan beberapa bulan.

“Kami tidak hanya membuat gebyok dan joglo ukir. Kami juga menerima pesanan meja ukir, pintu, ranjang, kitchen set, serta yang lainya yang berhubungan dengan kayu jati,” ujar Dony.

Menurutnya, gebyok ukuran  tiga meter dengan ukiran satu muka harganya bisa mencapai Rp 7 juta. Sedangkan, yang menggunakan ukir dua muka (luar dalam) harganya Rp 8 juta. Harga tersebut sudah termasuk ongkos pengiriman dan pemasangan. 

Strategi Penjualan Artis Jaya, Art & Decoration Furnitures

Menurut Dony agar penjualan produknya stabil, dia meminta bantuan ke Dinas Perdagangan Dalam Negeri agar diikutsertakan dalam acara pameran-pameran. Termasuk bila ada tamu pejabat-pejabat daerah lain yang berkunjung ke Kudus, agar  dirinya diizinkan untuk membagikan paflet.

Selain itu strategi tersebut, dia menggunakan gethok tular, atau promosi dari mulut ke mulut. Dony juga menjaga silaturahmi dengan pelanggan, dengan selalu menawarkan barang model baru, atau menawarkan jasa perawatan. 

“Dengan cara menjaga silaturahmi serta pelayanan yang memuaskan pelanggan, aku berharap pelanggan atau kerabat, serta temannya bisa calling bila membutuhkan produk kayu jati. Dan selama ini strategi itu lumayan berhasil untuk menjaga omzet penjualan, “ ujar nya.

Dony mengaku, saat ini di mempekerjakan enam orang tukang serta empat orang bagian finishing dengan sistem upah borongan. Sedangkan untuk mendapatkan kayu jati yang merupakan bahan baku pembuatan produknya tersebut, dia membeli dari Perhutani Blora.

- advertisement -

Ketika Hati Berbicara, Komunitas Patuku Tak Butuh Kata-Kata

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah orang duduk melingkar tak jauh dari median jalan, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Namun tak satupun kata keluar dari mulutnya. Mereka hanya tampak menggerakkan tangannya. Sesekali
mereka tersenyum, menandakan ada suatu hal yang lucu sedang mereka bahas. Ternyata, mereka adalah para penyandang disabilitas tuna rungu di Kudus yang memanfaatkan Car Free Day untuk berkumpul. 

Komunitas Patuku berkumpul saat Car Free Day. Foto: Imam Arwindra

Tak berapa lama kemudian, beberapa orang bergabung dalam lingkaran duduk. Mereka bersama-sama mengeja abjad menggunakan bahasa isyarat mulai
dari A hingga Z. 

Mohammad Rasid (22), pendamping Paguyuban Tuna Rungu Kudus
(Patuku) menuturkan, mereka sering berkumpul saat Car
Free Day di Alun-alun. Biasanya mereka juga mengajarkan bahasa
isyarat kepada orang yang ingin belajar.

“Saya tertarik belajar bahasa isyarat. Karena sering berkumpul akhirnya saya
resmi bergabung komunitas ini,” ungkap Rasid yang bukan penyandang disabilitas.
Menurutnya, komunitas yang dia ikuti mempunyai
solidaritas yang kuat. Anggotanya saling membantu. Selain berkumpul mereka juga
sering membuat kegiatan untuk penyandang distabilitas yang lain.
“Saya kagum dengan komunitas ini. Walaupun
secara fisik mereka kurang, namun jiwa sosial mereka sangat tinggi,” ungkap warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Minggu (22/5/2016).
Saat Seputarkudus.com menanyakan siapa ketua
Patuku, Rasid menunjuk seorang laki-laki yang ada di sebelahnya. Dia
memperkenalkan nama menggunakan bahasa isyarat, kata Rasid dia bernama Zulfi.
Dengan dibantu Rasid untuk menerjemahkan, Zulfi menjelaskan, komunitas yang dipimpinnya itu dibentuk pada 2014. Jumlah anggota yang sudah
bergabung 25 orang.
Dia menambahkan, selain berkumpul,
komunitasnya juga sering melakukan kegiatan sosial, terutama untuk sesama
penyandang distabilitas. “Kalau mau ikut berkumpul kami terbuka lebar,”
ungkapnya dengan bahasa isyarat yang telah diterjemahkan Rasid.
Rasid memberitahukan, beberapa anggota Pituku
kebanyakan mempunyai usaha. Misalnya, Zulfi, mempunyai
usaha cuci motor di Desa Karangsambung, Kecamatan Bae. “Selain aktif di komunitas, kami juga berlatih
untuk mandiri,” tambahnya.

- advertisement -

Tukang Sol Sepatu di Kaliputu Kudus Ini, Dulu Seorang TNI Bertugas di Kodim Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Tepat di Pertigaan Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, tepatnya di barat sungai, ada lapak kayu berukuran sekitar 2×2 meter bercat merah. Tertulis di lapak tersebut “Sool Sepatu
Sandal”. Seorang laki-laki tampak memperbaiki sepatu di dalam lapak tersebut. Dia bernama Sisilo Nasrullah (59), mantan Tentara Nasional
Indonesia (TNI).

sol sepatu kudus
Susilo Nasrullah mengesol sepatu dari pelanggan di lapak kayu miliknya, di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Susilo menuturkan, sebelum menjadi tukang sol sepatu,
dia bekerja sebagai TNI. Terakhir dia mengaku ditempatkan di Kodim Kudus. “Saya pensiun dari kesatuan TNI tahun 1997,” ungkapnya
ketika ditemui di lapak sol sepatu dan sandal di Jalan Sostrokartono, Desa Kaliputu,
Kecamatan Kota, Kudus.

Dia menceritakan, dirinya masuk TNI tahun 1977 dengan mengikuti
pendidikan selama empat bulan di Klaten. Dia memilih masuk TNI karena
terinspirasi ayahnya yang juga seorang tentara. Setelah pendidikan, dia ditugaskan di Batalion 410 Blora.
Dia mengaku juga pernah bertugas di Ambon dan Timor-timor. 
“Kalau di sekitar
Kudus ya pernah bertugas di Kodim Blora, Pati dan terakhir Kudus,” ungkapnya.

Susilo yang bertempat tinggal di Desa Panjang, Kecamatan
Bae, Kabupaten Kudus menuturkan, setelah pensiun dia mengaku hanya berada di rumah,
karena kebutuhan hidup sehari-hari bisa tercukupi dari uang pensiunnya. “Pensiun
tahun 1997 saya di rumah saja,” tambahnya.

Dia menceritakan, banyak menghabiskan waktu di rumah, dia merasa kesepian. Saat masih sebagai tentara, dia mengaku sering berkumpul dengan
orang untuk mengobrol. “Akhirnya saya membuka sol sepatu agar bisa bertemu
orang dan mengobrol,” ungkap dia yang mempunyai satu orang anak.
Menurutnya, dengan bertemu orang, selain bisa menambah teman,
juga banyak pengalaman. “Di sini (sol sepatu) banyak anak-anak kuliahan datang
meminta sepatunya diperbaiki. Ada yang sudah S2 dan S3. Mereka saya ajak mengobrol
tentang pengalamannya ketika kuliah,” ungkapnya.
Susilo menambahkan, dia sering berjalan kaki dari rumahnya
menuju makam Sunan Kudus dan Sunan Muria. Dia mengaku, di sepanjang perjalanan
dia sering menolong orang yang sedang butuh bantuan. “Saya berkeinginan, di masa tua ini saya gunakan untuk
banyak menolong orang,” tambahnya.

- advertisement -

Bioskop Garuda Kudus, Milik Orang Tionghoa yang Dinasionalisasi Masa Bung Karno (1)

0
Sejumlah kendaraan melintas di depan Gedung Garuda, Restaurant, Cafe dan Hall, di timur Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Gedung tersebut pernah menjadi gedung bioskop paling elit di Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Letaknya di sebelah timur Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, tepat di persimpangan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sunan Muria. Bangunan dua lantai yang dominan warna merah dan putih tertulis Garuda Restauran Cafe dan Hall. Bangunan tersebut, dulu pernah menjadi satu di antara gedung bioskop elit di Kudus, yakni Bioskop Garuda.

Sejarawan Kudus, Eddy Yusuf, menceritakan, Gedung Garuda di era 60-an menjadi gedung bioskop elit di Kudus. Nama bioskop tersebut yakni Bioskop Garuda. Pada era sebelum Indonesia merdeka, bisoskop tersebut bernama Gren, milik orang Tionghoa.

“Setelah Soekarno menetapkan nasionalisasi terhadap sejumlah aset sekitar tahun 60-an, bioskop tersebut diganti dengan nama Bioskop Garuda,” ujar Eddy kepada Seputarkudus.com, Senin (23/5/2016).

Dia melanjutkan, Bioskop Garuda termasuk satu di antara bioskop elit di Kudus. Saat itu harga tiket film di balkon belakang atau Kelas Satu sekitar Rp 600 hingga Rp 750. Sedangkan tiket untuk penonton di balkon tengah atau Kelas Dua seharga Rp 350 hingga Rp 500. 

Edy Yusuf. Foto: Imam Arwindra

“Untuk balkon depan atau Kelas Tiga harga tiketnya Rp 200 hingga Rp Rp 300. Rata-rata saat itu umumnya harga tiket bioskop Rp 100 hingga Rp 300,” tambahnya.

Mantan anggota DPRD Kudus era Reformasi itu menuturkan, jumlah kursi yang disediakan Bioskop Garuda kurang lebih 200 kursi penonton. Bangunannya pun bertembok, saat itu masih satu lantai.

“Saya sering nonton (film) di Garuda bersama teman-teman. Dulu kalau sudah nonton bioskop di Garuda sudah merasa bangga,” ungkapnya.

Bioskop-bioskop di Kudus Masa Lampau 

Selain Bioskop Garuda, Eddy menjelaskan, di sebelah barat Gedung Garuda dulunya ada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) cikal bakal Universitas Muria Kudus (UMK). Di samping gedung STIE (sekarang Taman Bojana) juga ada Bioskop Karya. Seiring waktu nama Karya diganti dengan Ramayana.

“Bioskop Ramayana juga termasuk bioskop elit. Harga dan kapasitasnya kurang lebih seperti Bioskop Garuda,” tambah Eddy, warga Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Dia menjelaskan, di sekitar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus ada tiga bioskop. Bioskop Garuda, Ramayana dan satu lagi Bioskop Ria, yang sebelum dinasionalisasi bernama Bioskop Oen. “Letak Bioskop Ria yang sekarang jadi lahan parkir timur Ramayana,” tambahnya.

Selain tiga bioskop di sekitar Alun-alun, tutur Eddy, juga ada empat bioskop kelas menengah ke bawah yang tersebar di daerah Kudus. antara lain, Kudus Teater yang sekarang menjadi Hotel Kenari di Jalan Kenari  (Gang 3), Bioskop Citra, yang sekarang menjadi Gudang Garam di Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, serta Bioskop Plasa di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus.

“Satunya lagi bioskop yang ada di Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus, yang sekarang menjadi Taman Hutan Kota dekat Dealer Suzuki. Namun namanya apa saya lupa,” tambahnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Datang Pagi Buta, Pria Renta Letih Ini Berharap Rezeki di Car Free Day Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Ratusan orang berlalu lalang Alun- Alun Simpang Tujuh, Minggu (22/5/2016). Mereka memanfaatkan Car Free Day untuk berolahraga di pusat kota. Ada pula sebagian di antaranya memanfaatkannya untuk berkumpul bersama anggota komunitas. Namun, di sudut timur Alun-alun, seorang kakek berkemeja hijau muda menyangga dagu dengan dua kakinya. Di depannya berjajar puluhan kendi dan celengan. 

penjual kendi di kudus
Sumiran, kakek 95 tahun menunggu pembeli datang di depan restoran cepat saji, Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kakek tersebut Bernama Sumiran (95). Dia mengaku datang dari Demak untuk menjual kendi dan celengan. Dia mulai berjualan saat pagi buta, saat Alun-alun masih sepi orang. Dia sengaja datang lebih awal agar kendi dan celengan yang dijual laku banyak.

“Saya datang dari Demak untuk berjualan kendi dan celengan ini,” ujar kakek kurus yang tampak letih di raut wajahnya, saat menjual kendi dan celengan tepat di depan restoran cepat saji, KFC.

Tak lama kemudian, ada serombongan orang menghampiri Sumiran. Mereka melihat dan memegangi beberapa kendi dan celengan yang dijual kakek tersebut. Beberapa di antara peserta Car Free Day tersebut menyodorkan beberapa lembar uang kepada Sumiran. Satu di antaranya Khozin (26). 

“Jujur ya, sebenarnya aku tidak begitu memerlukan barang ini(kendi). Tetapi sebagai sesama manusia, rasa simpatikku tergugah dan kemudian membeli barang ini,’’ ujar nya kepada Seputarkudus.com. 

Begitu juga dengan Muhamad Efendi (21), pemuda asal Kelurahan Purwosari, Kudus, itu mengaku membeli kendi yang dijual Sumiran seharga 30 ribu. “Aku tidak menawar, soalnya kasihan jadi langsung aku bayar aja, “ kata pria yang biasa di panggil Effendi.

Ada  beberapa orang lainnya yang datang berpura-pura menanyakan harga kendi kepada Sumiran. Dina Ratnasari (21) satu di antaranya. Dia langsung memberikan uang tanpa mengambil kendi atau celengan yang dijual. 

Wanita yang biasa di sapa Dina itu mengaku, dirinya sengaja datang menanyakan harga serta pura-pura menawar. “Kalau langsung ngasih uangnya takut bapaknya tersinggung. Soalnya bapak itu kan jualan. kasihan banget dan tidak tega melihat pria sepuh itu masih semangat berjualan,” kata wanita asal Desa Rendeng, Kecamatan Kota.

- advertisement -

Relawan Kelas Inspirasi Kudus Akan Mengajar di 12 Sekolah Pelosok Gebog

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah orang
mendatangani kain putih yang dibentangkan di Alun-alun Kudus, Minggu (22/5/2016).
Beberapa orang juga terlihat memberikan selebaran kepada warga yang
sedang berolahraga saat Car Free Day itu. Mereka yang bertanda tangan akan ikut menjadi relawan Kelas Inspirasi Kudus yang akan dilaksanakan
29 Agustus 2016 di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
kelas inspirasi kudus
Sejumlah orang sedang menandatangi keikutsertaan menjadi relawan kelas inspirasi Kudus saat Car Free Day di Alun-alun Kudus, Minggu (22/5/2016). Foto: Imam Arwindra
Kordinator Kelas Inspirasi Kudus, Hanifah (27), menjelaskan, saat Car Free Day dia membuka stan pendaftaran
untuk masyarakat Kudus yang ingin menjadi relawan. Mereka akan menjadi inspirator dan dokumentator di 12
sekolah di Kecamatan Gebog, Kudus. “Kami membuka pendaftaran dari 22 Mei 2016
hingga 30 Juni 2016,” ungkapnya.
Hanifah menambahkan, gerakan ini di bawah naungan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang dipelopori oleh Anies Baswedan tahun 2012, yang sekarang Mentri Pendidikan Dasar dan Menengah. Sudah
lebih dari 50 daerah yang sudah menjalankan Kelas Inspirasi ini.
“Pencetusnya Pak Anis Baswedan sebelum menjadi
menteri. Sekarang digantikan oleh Pak Hikmad Hardono,” tambah dia yang asli Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Dia menuturkan, kelas inspirasi Kudus tidak mengajar matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia
atau pelajaran sekolah. Para relawan akan memperkenalkan
profesinya supaya anak-anak di daerah di daerah terpacu untuk mengejar
cita-citanya.
“Para relawan nanti tidak mengajarkan mata
pelajaran sekolah seperti matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan
sebagianya. Mereka akan menginspirasi anak-anak lewat profesi pekerjaannya,”
jelasnya.
Hanifah mentargetkan, Kelas Inspirasi di Kudus
akan diikuti 200 relawan inspirator dan 100 relawan dokumentator. “Kami sudah bekerjasama
dengan UPT Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Gebog. Semoga nanti banyak
masyarakat Kudus yang meluangkan satu hari untuk berbagi pengalaman di Kelas Inspirasi Kudus,” ungkapnya.
Dia memberitahukan, pendaftaran menjadi
relawan masih dibuka sampai 30 Juni 2016 dengan mengunjungi satn pendaftaran
saat Car Free Day setiap Minggu. “Selain itu bisa membuka
web www.kelasinspirasikudus.org. Sehari menginspirasi selamanya terinspirasi
dan memberi arti,” tuturnya.

- advertisement -

Mubarokattan Thoyyibah, Toko Buku dan Kitab Peninggalan KH Arwani Beromzet Puluhan Juta Per Hari

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Rumah berdinding keramik coklat tua yang terletak di Perempatan Sucen, Kudus, terlihat di penuhi tumpukan buku dan kitab. Rumah yang dijadikan
gudang sekaligus toko itu merupakan peninggalan KH Arwani Amin. Toko buku dan kitab tersebut bernama Mubarokattan Thoyyibah, yang omzet per harinya mencapai puluhan juta Rupiah.

toko buku dan kitab kudus
Karyawan toko Mubarokattan Thoyyibah Kudus sedang mengemas buku dan kitab untuk dikirim ke pelannggan, Sabtu (21/5/2016). Foto: Prabu Sipan

Hal itu dituturkan Arif  Syaifudin (33), yang bekerja di toko tersebut. Menurutnya, toko Mubarrokattan Thoyyibah selain menjual buku dan kitab secara ecer, juga melayani penjualan
grosir.

Barang-brang yang dijual di toko tersebut di antaranya, berbagai
macam alat-alat tulis, buku-buku bacaan Islam, meja lipat untuk mengaji, tasbih, dan lain
sebagainya. “Para pelanggan biasanya membeli barang-barang tersebut antara 20 sampai 50 pcs per hari. Itu hanya dari satu pelanggan,” kata pria yang
biasa disapa Arif kepada Seputarkudus.com,
Sabtu (21/5/2016).
Tampak teras rumah tersebut di penuhi kardus-kardus yang berisi  berbagai alat tulis. Teras samping barat
tertumpuk rapi meja lipat, sedangkan di dalam rumah tersebut ada ribuan buku bacaan
dan kitab yang tertata rapi di rak-rak. Sementara para karyawan toko memasukan beberapa barang ke dalam kardus untuk
dikemas lalu kemudian dikirim ke alamat pembeli.

toko mubarokattan thoyyibah

 “Barang-barang tersebut didatangkan dari berbagai daerah. Meja yang merupakan tempat mengaji itu didatangkan dari Jepara.  Sedangkan barang-barang yang lain ada yang didatangkan dari Semarang serta ada juga yang dari Surabaya,” kata Arif yang juga santri di Ponpes Yanbu’ul Quran.

Para pembeli, katanya, tidak hanya dari Kudus. Mereka ada
yang dari Pati, Jepara bahkan barang yang ada di toko Mubarokattan Thoyyibah
juga terjual sampai luar Jawa. Sejumlah daerah di luar Jawa itu di antaranya Lampung, Jambi, serta Pekanbaru.
Arif 
menjelaskan, untuk pembelian jarak jauh biasanya para pembeli
memesan barang melalui sambungan telepon. Sedangkan pembayarannya dikirim melalui bank. “Kebanyakan pembeli yang dari luar Jawa itu sudah langganan, makanya semua
prosedur penjualan dilakukan jarak jauh,” tambah pria yang selalu memakai peci
tersebut.
Rumah yang berada di Jalan KH Turaichan Adjhury, Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus, itu selain difungsikan sebagai toko juga di fungsikan sebagai gudang. Tempat
menyimpan barang-barang yang dijual di tempat tersebut, juga menyimpan barang
yang dijual di toko lainya, yang masih milik keluarga KH Arwani. 

“Di sini ada 10 orang pekerja. Semuanya merupakan santri Ponpes Yanbu’ul Quran milik KH Arwani yang saat ini diteruskan putra-putranya. Selain di sini, toko kami ada di Jalan Sunan Kudus,” ungkapnya.

- advertisement -

Harga Termurah Sepeda Onthel Komunitas di Kudus Ini Setara Motor Vario Baru

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Gerakan para puluhan
wanita bergoyang senam di sampingnya seolah tak dihiraukan para pria berkaus hitam, di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (22/5/2015). Mereka tetap asik mengobrol dengan rekannya sesama anggota Komunitas Pecinta Sepeda Onta Kudus. Mungkin, sepeda onthel milik mereka yang harga termurahnya setara harga motor Honda Vario terbaru, lebih menarik. 

komunitas sepeda kudus
Komunitas Sepeda Onto Kudus sedang berkumpul saat Car Free Day di Alun-Alun Kudus Minggu (22/5/2016).
Sepeda onthel yang dijajar itu begitu menarik perhatian sejumlah peserta Car Free Day yang melintas di depan mereka. Selain karena drees code anggota komunitas, sepeda tersebut antik dan tampak menarik.


“Sepeda Onto
yang di jajar di sini, yang paling murah saja harganya sama dengan harga motor
Honda Vario terbaru,” celetuk Yulianto (29), satu diantara anggota Komunitas Pecinta Sepeda Onta Kudus, saat kongkow di Alun-alun.

Sementara itu, Bambang Sudiarto, anggota komunitas tersebut mengatakan, mahalnya harga sepeda mereka, karena merek dan komponen yang masih asli. Sejumlah merek sepeda onthel yang cukup familiar, di antaranya, Gazelle, Simplex, Batavus, serta Hercules. Dan harga sepeda paling mahal yakni Gazelle. 

“Bahkan sepeda onto-ku yang bermerek Gazelle itu seharga Rp 40 juta,”
imbuh Bambang sambil menunjukan sepedanya.

Bambang menjelaskan, komunitasnya itu terbentuk pada 2007. Saat awal mula terbentuk, ada peserta 15 orang yang menjadi anggota. Saat ini jumlah
anggota sudah 100 orang lebih.


Meskipun komunitas tersebut diberi nama Komunitas Pecinta Sepeda Onta Kudus, namun anggotanya ada juga
yang dari Demak. Namun wilayahnya masih di dekat Kudus karena berada di perbatasan. 

“Berhubung hari ini
(kemarin) tidak ada touring jadi kami ngumpul-ngumpul di sini,” ujar pria yang berdomisili
di Desa Prambatan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Dia menambahkan, tujuan dari pembentukan komunitas sepeda tersebut, yakni untuk melestarikan
sepeda onta kuno yang antik. Dia berharap keberadaan sepeda itu tidak punah, khususnya di Kudus.

Komunitanya itu, kata Bambang, sering mengikuti even-even touring. Di antaranya, ke Bandung, Gresik, bahkan pernah touring ke Bali. “Dan selain
mengikuti beberapa touring,
komunitas tersebut berencana akan menggelar acara sosial. Di antaranya,
donor darah, dan santunan kepada anak yatim piatu,” kata Bambang.

- advertisement -

Pepeng Ingin Tetap Istiqomah Menjual Batu Akik Meski Pamornya Kini Meredup

0
SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di timur gedung Ramayana Mall Kudus, seorang laki-laki terlihat mengobrol dengan calon pembeli. Pepeng (34). nama laki-laki tersebut memperlihatkan beberapa batu akik yang dipegangnya. Di depannya bongkahan batu akik diletakkan nampan hijau yang ditata rapi. Meski pamor batu akik kini telah meredup, namun rezeki yang dia dapat tetap cukup. 
batu akik kudus
Pepeng (kiri) sedang memperlihatkan cincin akik kepada pembeli di timur gedung Ramayana Sabtu (21/5/2016).

Pepeng mengaku, masih bertahan menjual batu akik karena hobi. Menurutnya, dia penyuka seni. Walaupun batu akik sudah tidak seramai tahun 2015, dia akan bertahan karena batu akik mengandung unsur seni.

“Saya penyuka seni. Ada banyak pola dan serat unik terdapat dalam batu akik. jiwa seni saya mencul saat melihat dan memegang batu kik,” ungkap dia yang mengaku masih aktif berkesenian teater dan puisi.
Pepeng yang tinggal di Desa Keramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, menuturkan, selain karena seni dia mengaku ingin mensyukuri nikmat yang diberikan kepada Tuhan dan belajar istiqomah dalam menjalankan sesuatu.
“Setiap bisnis pasti ada ramai dan sepinya. Masa ramai berjualan, setelah sepi ditinggalkan. Kalau bisa kita istiqomah,” ungkapnya sambil menghaluskan batu akik.
Pepeng yang berjualan batu akik sejak tahun 2014 mengaku, sehari dia mendapatkan Rp 150 ribu dari berjualan akik. “Kalau pas ramai dulu sehari bisa Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu,” tambahnya.
Untuk menambah pendapatannya, dia juga menjual kepingan CD yang dijualnya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per keping. Dia menuturkan, setelah ditambah berjualan CD pendapatannya sekarang Rp 250 ribu per hari.
“Baru tiga hari saya menambah CD untuk dijual. Ya, kalau dihitung-hitung per hari menjual akik dan CD sekitar Rp 250 ribu,” jelasnya.
Dia memberitahukan, pembeli langganannya banyak dari luar Kudus. Kebanyakan mereka penghobi batu akik.
“Ini batu Bacan Pido, Palamea, Gulao yang masih sering dicari dan harganya stabil. Harganya sekitar Rp 200 ribu,” ungkap dia yang setiap hari berjualan antara jam 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Pepeng melanjutkan, untuk batu lokal Kudus yang dia jual ialah batu Opsidian dari Rahtawu. “Harganya per batu akik antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu,” ungkapnya.

- advertisement -

Peserta Car Free Day Kudus Kaget, Anggota Ansor Kota Berteriak Matikan TV

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Sejumlah peserta Car Free Day kaget, saat Seorang laki-laki berpakaian
doreng mengelilingi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus sambil berteriak-teriak, Minggu (22/5/2016) di Alun-alun Kudus. “Matikan televisi, Magrib mengaji,” ungkap dia. Pria tersebut adalah anggota GP Ansor Kecamatan Kota, yang mengampanyekan waktu Magrib untuk mengaji.
ansor kota kudus
Anggota Ansor PAC Kota, Kudus sedang membagikan gelas saat Car Free day di Alun-alun Kudus, Minggu (22/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Sementara itu, di belakang dirinya beberapa orang membagikan
gelas plastik dan selebaran serta membawa spanduk bertuliskan “Waktu Magrib? Matikan
TV Hidupkan Mengaji,”.

Ketua GP Ansor Kota M. Fathul Munif (31) yang juga menjadi kordinator aksi menuturkan, aksi yang
dilakukannya mengajak orang tua untuk mengawasi putra-putrinya supaya di waktu Magrib
mengaji Al-Qur’an.
“Sekarang budaya mengaji di waktu Magrib sudah mulai hilang.
Anak-anak lebih suka menonton TV di rumah ketimbang mengaji di musola atau di masjid,” ungkap dia kepada Seputarkudus.com.
Dia melanjutkan, ketika anak sudah meninggalkan budaya
mengaji, yang akan merugi ialah orang tuanya. Anak akan jauh dari
nilai-nilai agama.

ansor kota kudus
Pengurus Ansor Kecamatan Kota, Kudus berfoto bersama sebelum melakukan aksi.

“Anak merupakan aset utama orang tua. Orang tua mempunyai
kewajiban dalam memberikan pendidikan yang terbaik untuk putra dan putrinya,
terkhusus pendidikan agama,” tambahnya.
Munif mengutip hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah
RA dari HR Muslim, Rasulullah SAW berkata, jika anak Adam meninggal dunia
maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan kepadanya.
“Jika orang tua salah memberikan pendidikan kepada anaknya. Dialah
(orang tua) sendiri yang akan merugi dunia dan akhirat,” jelasnya.
Gerakan mengajak orang tua untuk mengawasi anaknya supaya
mengaji Al-Quran, menurut Munif baru dimulainya. Selain berkampanye saat Car
Free Day, dia juga memasang beberapa spanduk di tempat keramaian. “Kami juga
berkampanye lewat jejaring sosial media,” tambahnya.
Dia berharap dengan adanya kampanye mengaji ini, anak-anak sejak
dini mempunyai bekal agama untuk menjalani kehidupannya kelak serta dapat
mendoakan para orang tua ketika sudah kembali pada yang kuasa. “Ayo matikan TV saat Magrib, luangkan untuk mengaji,” ungkapnya.

- advertisement -

Petugas PLN di Kudus Ini Sempat Takut Kesetrum

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Dua laki-laki sedang naik tangga warna oranye yang disandarkan tiang listrik, di Jalan Kampus UMK, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus, Kamis (19/5/2016). Mereka mengenakan helm putih,
pakaian pengaman dan beberapa perlengkapan di pinggang. Para petugas PLN (Perusahaan Listrik Negara) itu tak canggung, meski pada saat awal bekerja sempat merasa takut terkena setrum listrik dan jatuh.

petugas pln kudus
Petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik di Jalan Kampus UMK, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara petugas PLN tersebut bernama Setiyo Budi (33). Dia bekerja sebagai Pengawas
Keselamatan dan Kesehatan Kerja  (K3) PDKB
(Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan).  “Alat
berwarna oranye tersebut berfungsi sebagai salah satu protektor supaya perkerja
yang memanjat aman,” katanya.

Dia menuturkan, pekerjaan yang dia lakukan penuh dengan
risiko. Namun jika dikerjakan dengan baik dan sesuai Standart Operating Procedure (SOP) semuanya akan baik.
“Sebelum turun ke lapangan ada tim yang menganalisa tentang
kondisi real lapangan. Jadi semua sudah direncanakan matang dari awal,” ungkap
Setiyo berlogat Tegal.

Ketika ditanya tentang pengalamannya memasang instalasi
gardu listrik, Setiyo menceritakan, dulu saat masih sebagai lineshman keluarganya sempat was-was. Dia menjelaskan secara
detail prosedur kerja yang dia jalani. “Alhamdulillah
keluarga mengerti,” tambahnya.

Dia melanjutkan, saat kerja pertama ada rasa takut tersengat
listrik dan jatuh. Namun karena sudah dilatih dan terbiasa, akhirnya perasaan
tersebut hilang. “Dulu ada rasa takut. Namun karena pengalaman akhirnya sudah
terbiasa,” ungkap dia yang dulu pernah sekolah di SMK di Semarang.
Saat ditanya apakah pernah ke seterum, dia
mengaku tidak pernah. “Saya mengikuti prosedur. Alhamdulillah tidak pernah, aman,” ungkapnya.
Setiyo menuturkan, pengalaman berkesan saat bertugas
ialah memperbaiki jaringan listrik di pedalaman desa. Dia mengaku harus kerja
ekstra memperbaiki jaringan listrik yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Saat itu di desa yang ada di Tegal. Tempatnya pedalaman
sekali. Bersama tim sampai harus kerja ekstra menembus daerah yang dituju,”
jelasnya.

- advertisement -

Siapa Sangka Taman Pentol yang Indah Dulu Pusat Gento

0
SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Tumbuhan hijau menghiasai taman
kota di depan kantor Kecamatan Kota, Kudus. Menjulang tinggi pohon
beringin dan Patung Selaras dan Seimbang di kawasan Pentol tersebut. Namun siapa sangka, bekas halte kereta api tersebut dulunya dijadikan tempat mangkal gento dan wanita “nakal”.
taman pentol tugu selaras dan seimbang kudus
Suasana malam di sekitar Patung Selaras dan Seimbang di kawasan Pentol, Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Hal tersebut diungkapkan Wahyuning Siti (61), warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota. Wanita yang tinggal sangat dekat dengan kawasan Pentol sejak 1971 itu menuturkan, di sekitar halte dulu banyak
warung-warung. Di sana banyak gento datang untuk bermain judi . Selain itu banyak juga wanita-wanita
“nakal” yang juga mangkal di sekitar halte.

(Baca juga: Kenapa Kawasan di Kudus Ini Disebut Pentol, Ini Asal-usulnya)

“Dulu di sini (kawasan Pentol) pusatnya gento.
Selain itu juga banyak wanita nakal yang mangkal di sekitar halte,” jelas Wahyuning kepada Seputarkudus.com, Kamis (19/5/2016) .
Wahyuning menggambarkan, di sekitar rumahnya dulu sangat ramai hingga pagi. Selain aktivitas transportasi juga banyak perempuan yang duduk
di warung-warung menemani para penjudi. “Wah, banyak sekali. Terutama wanita yang
mangkal,” ungkapnya.
Dia menuturkan, sekarang sudah berubah. Kawasan Pentol sudah
menjadi tempat yang indah. Ada taman dan tugu yang tertata rapi. “Dulu seperti itu, sekarang sudah berubah menjadi indah,”
ungkap Wahyu yang tinggal di rumah yang sekaligus dijadikan bengkel motor bernama Pentol Jaya Motor.
Disebut Pentol karena dulunya ada tiang
di sekitar halte yang mirip pentol korek api. Karena sudah menjadi kebiasaan
untuk tempat pemberhentian penumpang kereta, sampai sekarang nama Pentol masih digunakan untuk menamai
kawasan di sekitar kantor Kecamatan Kota, Kudus.

Mandek Pentol, mandek Pentol (turun di Pentol, turun
di Pentol). Karena sudah terbiasa, akhirnya sampai sekarang masih digunakan,”kata wahyu mencontohkan.

- advertisement -

Tanaman Hias di Kudus Ini Tampak Biasa, Tapi Jangan Tanya Harganya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Tumpukan batu bata mengelilingi pohon setinggi dua meter di penjualan tanaman hias Ferri Permana di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Tanaman tersebut yakni Beringin Dolar, termasuk tanaman mahal kelas premium yang biasanya ditaruh di taman rumah dan harganya bisa mencapai Rp 15 juta.

Pekerja merawat tanaman hias Beringin Dolar di Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Imam

Pohon tersebut seperti kumpulan akar yang setiap pucuknya ada daun-daun kecil yang bergerombol. Warnanya coklat dengan belang-belang putih yang tampak pudar. Di bagian atas bergelantung akar-akar kecil yang menjulang kebawah.

Menurut Kurniawan (27), pekerja di penjualan tanaman hias Ferri Permana mengatakan, nama pohon tersebut yakni Beringin Dolar.  “Tanaman Beringin Dolar termasuk tanaman mahal. Jika tanaman ini ditaruh di halaman rumah akan menambah kesan elegan,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Jumat (20/5/2016).

Dia memberitahukan, harga Beringin Dolar yang tingginya mencapai dua meter sekitar Rp 15 Juta. Sedangkan untuk yang mempunyai tinggi 1,5 meter harganya Rp 7 Juta. “Namun juga tergantung dari keindahan bentuk tanamannya. Semakin unik akan semakin mahal,” tambahnya.

Kurniawan yang sudah bekerja dari tahun 2006 menuturkan, Beringin Dolar yang berada ditempat kerjanya sudah dirawat selama tiga tahun. Tanaman ini menurutnya cukup mudah untuk dirawat.

“Tanaman ini tidak terlalu membutuhkan air banyak. Karena jika kelebihan akarnya akan membusuk,” jelasnya.

Dia menambahkan, keunikan dari Beringin Dolar yakni daunnya dapat tumbuh sejajar pada batang dari bawah sampai keatas pangkal. Jarak antara daun satu dengan yang lain juga cukup jauh. Bentuk daunnya simetris tebal yang mengandung banyak air. Daunnya berwarna hijau tua mengkilap.

“Jumalah daun yang tumbuh tidak banyal. Ini mungkin alasan kenapa dinamakan Beringin Dolar,” jelasnya.

Sambil mencabut rumput di sekitar tanaman Beringin Dolar, Kurniawan menuturkan, daya tarik lain selain daunnya yakni batangnya. “Pangkal batangnya bisa membesar seperti bonggol,” tambah dia.

Dia menuturkan, tanaman ini juga bisa ditaruh di dalam ruangan. “Ketika sudah dua sampai empat hari di ruangan, panaskan di terik matahari selama tiga jam, jangan lupa disiram sedikit air,” ungkapnya.

Usaha tanaman hias yang dimiliki Ferri Permana tersebut selain menjual tanaman hias, juga menjual tanaman buah. “Di sini juga ada tanaman buah dan tanaman pot kecil, antara Brokoli Kuning, Aponika, Pucuk Merah, Puring dan lain-lain,” jelasnya.

- advertisement -

Kenapa Kawasan di Kudus Ini Disebut Pentol, Ini Asal-usulnya

0
SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Letaknya di ujung utara Jalan HOS Cokroaminoto dan beririsan dengan Jalan Jendral Sudirman, di Kelurahan Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Berdiri megah patung Selaras dan Seimbang setinggi 5 meter berwarna hijau. Di sanalah masyarakat Kudus menyebut kawasan itu dengan sebutan Pentol. Mengapa kawasan itu disebut Pentol? Inilah asal-usul sebutan nama Pentol.
patung pentol kudus
Pengendara melintas di kawasan Pentol, Jalan Jendral Sudirman Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Ahmad Sofyan (37), pemilik Pentol Jaya Motor di tenggara taman Pentol, menceritakan, tempat tersebut ada sebuah halte kereta kereta api. Disebut Pentol karena ada tiang yang mirip pentol korek api yang berdiri di dekat halte.

“Karena sering menjadi sebutan saat pemberhentian kereta api, nama Pentol sampai hari ini masih digunakan untuk menamai kawasan taman depan kantor Kecamatan Kota tersebut hingga saat ini,” ungkap Sofyan berdasarkan cerita dari orang tuanya, ketika ditemui Seputarkudus.com, Kamis (19/5/2016).

Hal senada juga disampaiakn Wahyuning Siti (61), ibu Sofyan. Menurutnya, benda yang mirip pentol korek memiliki tinggi seperti tiang listrik sekarang. Karena sering disebut untuk nama pemberhentian, Pentol
sampai hari ini masih digunakan untuk menyebut kawasan di dekat
Gedung Ngasirah ini.

“Mandeg pentol-mandeng pentol (turun di pentol-turun dipentol),” kata Wahyu menirukan petugas kereta.

  
Dia menjelaskan, jalan di dekat halte tersebut dulu masih sempit, tak selebar seperti sekarang ini. Di sebelah utara dan selatan halte terdapat rel kereta.

“Jalannya dulu tidak lebar hanya selebar rel kereta,” ungkap dia yang menetap tak jauh dari kawasan Pentol sejak tahun 1971.

tugu selaras dan seimbang pentol kudus
Tugu Selaras dan Seimbang di kawasan Pentol pad malam hari. Foto Imam Arwindra

Dia mengingat, daerah sekitar halte dulunya sangat ramai. Ada warung-warung yang digunakan untuk berjudi beserta wanita “nakal”. “Dulu banyak gento di daerah halte situ. Sekarang sudah sangat berubah,” tambahnya.

Wahyu melanjutkan, selain kereta juga ada bus-bus yang mangkal di daerah tersebut. “Trayek keretanya dari stasiun lama (Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus) menuju ke Lasem dan Jepara,” ungkapnya.
Harga tiket kereta saat itu, seingat Wahyu sekitar satu Ringgit (sekarang Rp 2.500). Ketika ditanya detail tentang harga tiket untuk setiap trayek, dia mengaku lupa.
“Haltenya tidak hanya di daerah Rendeng saja, melainkan juga ada halte kereta di daerah Ngembal,” tambahnya.
Wahyu menuturkan, pembongkaran rel kereta dan pembangunan ulang halte menjadi taman sekitar tahun 1995. “Seingat saya 1992 kereta masih beroprasi,” tambahnya.
- advertisement -

Tiap Malam Tidur di Becak, Sepekan Sekali Pulang ke Pati Membawa Uang Rp 300 Ribu

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Lalu lantang kendaraan terlihat lancar di Jalan
Jendral Sudirman, kawasan Pentol, Kudus, Kamis (19/5/2016). Di seberang jalan seorang tukang becak sedang
menunggu penumpang. Dia adalah Noor Salim (50), tukang becak dari Desa Sukolilo, Pati. Tiap malam dirinya tidur dibecak dan setiap pekan pulang ke kampung membawa uang Rp 300 ribu.

becak kudus
Seorang tukang becak menunggu penumpang tak jauh dari kawasan Pentol, Desa Rendeng, Kota, Kudus. Foto Imam Arwindra

Raut muka Salim tampak letih, saat berteduh di bawah pohon dekat papan reklame, siang ini. Salim duduk di jok depan
sambil merebahkan tubuh untuk menunggu penumpang yang menggunakan jasanya. Dia mengatakan, hari ini baru mendapat satu penumpang. Uang yang
didapat baru Rp 6 ribu.

“Sehari ini baru
dapat satu penumpang, ini uang saya,” ungkap Salim sambil melihatkan 3 pecahan uang Rp 2
ribu.

Dia menuturkan, dalam sehari rata-rata memperoleh uang antara
Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Tak jarang dalam sehari dirinya hanya mendapat Rp 20 ribu. “Kalau
ramai bisa sampai Rp 50 ribu, namun kadang juga pernah Rp 20 ribu. Cukup untuk
makan,” ungkap seorang kakek yang mengaku telah memiliki beberapa cucu.


Noor Salim menuturkan, pagi hingga malam dia mangkal di kawasan Pentol. Setiap malam tidur di becaknya sambil menunggu
penumpang yang datang malam hari. “Kalau tidur ya di becak. Namun kadang-kadang di depan
dealer motor Yamaha (sebrang Gedung Ngasirah) kalau lagi hujan,” tambahnya.

Dia menjelaskan, uang hasil mengayuh becak yang didapat dikumpukan untuk diberikan
keluarganya sepekan sekali. “Biasanya pulang sepekan sekali. Namun kalau sepi bisa
molor 10 hari,” tuturnya.

Setiap pulang dia memberikan uang kepada istrinya uang sebanyak Rp 300
ribu. Namun tak jarang kurang dari jumlah tersebut, saat dirinya tak banyak mendapat penumpang. “Tergantung ramai atau tidak”,
tambahnya.
Noor Salim mulai bekerja sebagai tukang becak di Kudus sejak tahun 1999. Dulu, dia
mengaku bekerja sebagai pengantar susu. Karena penghasilannya sedikit, akhirnya
dia berpindah menjadi tukang becak.

“Saya di Kudus sejak kecil, sekitar tahun 1981 saat itu
menjadi pengantar susu. Karena hasilnya sedikit akhirnya saya berpindah menjadi
tukang becak,” tuturnya.
- advertisement -