Beranda blog Halaman 1963

Biker Tong Setan Dandangan Kudus Tak Kapok Meski Pernah Terjatuh

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Suara knalpot motor terdengar nyaring seolah memecah keramaian malam di Dandangan, Minggu (29/5/2016). Sejumlah anak-anak dan orang dewasa tampak menutupi telinga. Di tengah tong besar yang terbuat dari kayu, dua pengendara motor Yamaha King segera memacu laju motornya. Tanpa helm, mereka berputar-putar dengan gaya sentripetal berlawanan arah jarum jam. Meski pernah terjatuh, mereka tak pernah kapok.

tong setan dandangan kudus
Biker Tong Setan sedang beraksi di arena atraksi Sabtu (28/5/2016).

Sejumlah pengunjung di wahana permainan Super Tong itu segera menjulurkan lembaran uang. Dengan sikap, para rider tong setan tersebut menyaut lembaran itu menggunakan tangannya.  

Saputra (35) rider tong setan Super Tong menuturkan, mereka beraktraksi selama lebih kurang 30 menit. Dia mengaku pernah jatuh dari motor saat beraktrasi. “Saya pernah jatuh saat beraktrasi, namun tidak kapok untuk mencobanya lagi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, saat jatuh kondisinya hanya lecet, tidak sampai patah tulang. “Hanya lecet di tangan, kaki dan badan saja. Tidak sampai patah tulang,”tambahnya.

Saputra menuturkan, sebagai rider, pertama kali dia pernah merasakan takut dan tidak yakin. Namun setelah sering berlatih akhirnya dia berani mengendarai motor. “Sempat dulu ada rasa takut jika terjatuh. Karena sering berlatih akhirnya rasa takut hilang,” ungkapnya.

Menurutnya, selain giat berlatih, sebagai biker tong setan juga harus paham teori dan taktik. Namun yang paling penting mentalnya harus tertata. “Yang penting mentalnya harus yakin, jangan setengah-setengah,” ungkapnya.

Pria asal dari Bangsri, Jepara, itu mengaku, motor yang dipergunakannya yakni Yamaha King. Pernah dia menggunakan motor matic namun penuh dengan risiko. “Kami menggunakan motor Yamaha King, tarikannya lebih stabil. Karena gasnya nanti akan di setting khusus,” jelasnya.

Selain itu, ban yang dipergunakan harus halus, supaya bisa stabil di arena tong melinggar. “Bannya jangan yang berbatik, harus yang halus supaya bisa merekat di landasan,” tambahnya.

Wahana Tong Setan mematok harga Rp 8 ribu untuk pengunjung Dandangan yang ingin melihatnya. Dia menuturkan akan beraksi hingga 5 Juni 2016 di barat Swalayan Ada. “Kami di sini sampai pekan depan, silahkan kalau ingin menikmati atraksi kami,” ungkapnya.

- advertisement -

Memelihara Musang Ternyata Tak Ribet, Anggota MMC Kudus Cukup Memberi Nasi Kecap

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di pojok tenggara Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus terdapat beberapa
remaja menggendong, musang. Ada pula di antara mereka yang berlari-lari
mengejar hewan pengerat itu, setelah dilepaskan. Mereka adalah para pecinta musang yang tergabung dalam Muria Musang Club (MMC). Mereka mengaku lebih
memilih musang sebagai hewan peliharaan karena hewan tersebut tidak jorok.

komunitas musang
Komunitas Muria Musang Club (MMC) berkumpul di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus saat Car Free Day. Foto: Prabu Sipan
Boim (30), satu di antara angota MMC menuturkan, selain suka
terhadap hewan tersebut, memelihara musang itu mudah dan tidak ribet, karena
musang itu bukan hewan yang jorok. Mandiinya mudah cukup kain dicelupkan ke air kemudian dibasuh ke seluruh tubuhnya. Itu pun tidak harus setiap hari, sepekan sekali juga sudah cukup.
“Membersihkannya cukup dimandikan degan membasuh bulunya dengan kain basah. Cukup sepekan sekali, tidak perlu setiap hari. Yang penting kandangnya dijaga biar bersih terus,” ujarnya. 

Sedangkan
untuk makanan musang, katanya, tidak terlalu menguras kantong. Kalau
uang pas-pasan tiap hari diberi nasi kecap juga mau. Tetapi bagi yang
berduit biasanya dikasih makan nasi dengan lauk kepala ayam.

“Pemberian vaksin diusahakan rutin. Karena untuk kesehatan si musang,
maksimal tiga bulan sekali, tetapi lebih bagusnya sebulan sekali. Kalau bisa
dalam sepekan sekali si musang juga dikasih makan buah pisang atau pepaya,” kata Boim
kepada seputarkudus.com, Minggu (29/5/2016).

Boim mengatakan, Jenis musang yang dipelihara anggota
MMC di antaranya, Musang Bulan, Musang Akar, Musang Pandan, dan, Musang Lokality. 

MMC, katanya, dibentuk pada September tahun 2012 dengan anggota tak lebih dari sepuluh orang. Saat ini anggota mereka sudah lebih dari 20 orang. Kegiatan MMC berkumpul sepekan sekali saat Car Free Day, mereka saling berbagi cerita antara anggota satu dengan yang lainnya.

“Selain ngumpul di acara Car Free Day, kami juga melakukan
kegiatan sosial. Di anataranya  pada Ramadan mengadakan buka bersama anak yatim piatu, membagikan takjil ke anak-anak
jalanan, dan lain sebagainya,” ungkap Boim warga Kelurahan
Wergu Wetan tersebut.
- advertisement -

Tiyas Tak Takut Berdesakan Datang di Acara Dandangan

0
SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Ratusan orang berdesakan di sepanjang Jalan Sunan Kudus,
Sabtu (28/5/2016) malam. Mereka memadati lokasi
Dandangan yang digelar setiap tahun menyambut Ramadan. Tiyas (35), pengunjung yang datang di Dandangan saat itu mengaku telah lama menantikan acara tersebut tahun ini.

dandangan kudus 2016
Pengunjung memadati wahana permainan di acara Dandangan, Sabtu (28/5/2016) malam. Foto: Imam Arwindra

Perempuan asal Desa Besito, Kecamatan Gebog, itu menuturkan,
jauh-jauh hari dia bersiap datang ke lokasi Dandangan, yang tak jauh dari rumahnya itu. Sejak kecil, even tahunan tersebut selalu memberi kesan baginya.

“Dandangan itu seperti pasar rakyat. Masyarakat Kudus
dan sekitar berbondong-bondong datang untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Saya sangat menanti acara Dandangan tahun ini. Kelihatannya
semakin meriah,” ungkap Tiyas yang datang bersama suami dan anaknya.
Dia mengatakan, selain banyak barang-barang unik yang dijual, wahana-wahana permain di
Dandangan juga menarik. “Ini saya mengajak suami dan anak saya untuk
jalan-jalan di wahana permainan,” tambahnya.

dandangan kudus 2016
Pengunjung berdesakan di lokasi Dandangan. Foto: Imam Arwindra

Ketika ditanya tentang banyaknya pengunjung sehingga harus berdesakan, Tiyas
mengaku tidak khawatir. Dia mengaku sudah terbiasa dengan kondisi seperti
itu. “Tahun-tahun sebelumnya juga sama desak-desakan.  Jadi sudah terbiasa,” tambahnya.

Tradisi Dandangan setiap tahun selalu diadakan oleh Pemerintah
Kabupaten Kudus sebelum Ramadan. Tahun 2016, Pemerintah Kabupaten
Kudus menjadwalkan tradisi Dandangan mulai 26 Mei hingga 5 Juni 2016.
Rif’ati (69), warga Sunggingan, Kecamatan Kota, menuturkan,
tradisi Dandangan sudah ada sejak zaman Sunan Kudus. Tradisi tersebut dilakukan
untuk menandai akan dimulainya ibadah puasa Ramadhan.
Dia menceritakan, Awalnya Dandangan ialah tradisi
berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman
awal dimulainya puasa. Pengumuman tersebut diumumkan oleh Sunan Kudus.
Kesempatan itu dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid.
“Sehingga tradisi tersebut masih belangsung sampai sekarang,”
tambahnya.

- advertisement -

Warga Lamongan Ini Hidup Ngontrak Bersama Keluarganya Hanya untuk Berjualan Arum Manis

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Pria berkaus merah menggendong kotak
berwarna hijau berjalan di sebelah barat Mall Ramayana Kudus sambil memainkan alat musik rebab.  Dia tidak sedang mengamen, tetapi Tetapi berjualan arum manis yang ada di dalam kotak. Rebab itu hanya digunakan sebagai ciri khas atau penanda bagi masyarakat saat dirinya berjualan.

pedagang arum manis
Pedagang Arum Manis Car Free Day Minggu ( 29 / 5 / 2016

Suyitno (39), adalah penjual arum manis yang menggunakan rebab tersebut. Pria asal Lamongan tersebut menuturkan, dirinya sudah empat tahun berjualan arum manis di Kudus sambil memainkan rebab. Tiap pagi Pukul 06.00 WIB dia berangkat dari kontrakanya berjalan kaki dari gang ke gang untuk
menjajakan arum manis kepada pembeli. Tetapi saat jam istirahat sekolah dia mangkal
di depan SD, sambil tetap memainkan rebabnya.
“Seringnya mangkal di depan SD Kajeksan, tetapi kalau dirasa di tempat itu sepi pembeli, dia berjalan lagi menjual arum manisnya di
tempat lain. Seperti hari Minggu sekarang, sekolah kan libur, jadi tiap Minggu
pagi pasti jualan di acara Care Free Day dulu, kalau acara ini selesai baru
keliling ke tempat lain, “ kata suyitno kepada seputarkudus.com Minggu (29/ 5/2016)
Suyitno mengaku di acara Car Free Day hari ini, arum
manisnya belum laku sama sekali. “Padahal biasanya kalau sudah ramai orang
begini, sudah dapat penglaris, tapi sekarang belum,” katanya.
Suyitno menjual arum manisnya seharga Rp 2 ribu sekantong
pelastik kecil. Dan bila arum manis yang ada di dalam kotaknya habis terjual
dia mendapatkan uang sebesar Rp 150 ribu. Tetapi lebih  sering tidak habis, dan hanya mendapat uang Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu sehari.
Yitno begitu dia disapa, menuturkan, selama empat tahun di
Kudus dia hidup mengontrak dengan biaya sebulan Rp 315 ribu di Desa
Singocandi, Kecamatan Kota, bersama istri dan dua anaknya yang masih sekolah di
SD. Dia berama keluarga pulang ke Lamongan satu tahun dua kali.

- advertisement -

Tukang Becak di Kudus Ini Punya Anak Kuliah di Semarang, Sepekan Diberi Uang Saku Rp 50 Ribu

0

Di depan sebuah kios penjual buah Sudimoro di sebelah selatan Pasar Bitingan, tampak beberapa penarik becak menunggu penumpang. Satu di antara Mashadi (57), tukang becak yang memiliki dua anak yang kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.

becak di kudus
Mashadi menunggu penumpang di becaknya. Foto: Prabu Sipan

Mashadi menceritakan, anak pertama seorang laki-laki, sedangkan yang  kedua dan ketiga perempuan. Tetapi yang kuliah di perguruan tinggi cuma dua, anak pertama dan anak terakhir. Sedangkan anak  yang kedua sudah menikah.

Anak pertamanya, kata Mashadi, bernama Nurul Muttaqin. Dia kuliah di Undip Jurusan Bahasa Inggris. Dia bisa kuliah karena mendapatkan beasiswa. “Putraku itu memang termasuk berprestasi di sekolahnya. Dia mendapatkan beasiswa sejak sekolah SMA Al-Ma’ruf hingga sampai kuliah di Undip,” kata pria yang berasal dari Desa Undaan Kidul, Kecamatan Karanganyar, Demak.

“Kalau tidak dapat beasiswa mana mungkin aku bisa membiayai anaku kuliah di Undip, sedangkan aku hanya seorang tukang becak, “ ujarnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2002, anak Mashadi mulai masuk kuliah di Undip dan selama itu dirinya hanya mampu memberikan uang Rp 50 ribu setiap pekan.

“Aku tahu uang tersebut tidak seberapa dan bahkan untuk makan selama sepekan saja tidak cukup. Tapi dengan semangat untuk dapat gelar sarjana, dia kerja sampingan agar mampu bayar kos serta makan di Semarang. Alhamdulillah sekarang dia sudah lulus dan sudah bekerja di sebuah perusahaan media di Semarang. Dan sekarang dia juga yang membiayai adik bungsunya kuliah di Unnes,“ jelasnya.

Mushadi menuturkan putri bungsunya tersebut bernama Khoirus Sholikhah yang saay ini masih kuliah di Unnes, Jurusan Ekonomi dan saat ini sudah baru semester lima.

20 Kilometer Kudus-Demak Mengayuh Becak

Mashadi sudah puluhan tahun jadi tukang becak di Pasar Bitingan, dan dia selalu mengayuh becaknya pulang pergi dari desanya ke Pasar Bitingan setiap hari. Jarak antara desanya dan Pasar Bitingan sekitar 20 kilometer. Menurutnya penghasilan menjadi tukang becak tidak seberapa. Apalagi sekarang ini, sehari hanya mendapat sekitar Rp 30 ribu.

Meski dengan hasil yang tak seberapa, dia mengaku tetap menekuninya karena tidak punya keahlian lain. “Mau kerja apalagi, bisanya dari dulu cuma narik becak, ya ditekuni saja. Aku percaya rezeki sudah ada yang mengatur dan Allah tidak pernah tidur kok,” pungkasnya.

- advertisement -

Bermula dari Hobi, Arif Kini Menjadi Perajin Rebana Sukses

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Dua orang tampak sibuk memasukan rebana ke dalam karung di toko Nada Musthofa yang berada di Desa Janggalan, kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. Toko sekaligus produsen rebana tersebut telah menjual rebana ke sejumlah daerah di Indonesia. Namun siapa sangka, kesuksesan usaha tersebut bermula dari pemilik yang sejak sekolah dasar hobi bermain rebana.

perajin rebana di kudus
Arif (kanan) tengah mengemas rebana hasil kerajinannya untuk dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia. Foto: Prabu Sipan

Muhamad Nanang Arif (35)  adalah sosok pemilik usaha penjualan alat musik tersebut. Dia menceritakan, usaha produksi dan penjualan rebana itu bermula dari hobinya sejak sekolah dasar gemar bermain rebana.  Justru melalui hobinya itu, kini dirinya menemukan jalan untuk mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya.

“Sewaktu di SMP akhirnya aku memutuskan untuk serius memainkan rebana. Hobi ini sudah ada sejak aku sekolah dasar. Tak disangka, justru hobi ini yang membawa saya menemukan rezeki,” kata  Arif kepada Seputakudus.com.

Sejak saat itu, setiap ada kegiatan rebanan di sekolah maupun di desa, Arif selalu mengikutinya, hingga dia mahir memainkan alat tersebut. Sejak saat itu pula bermain rebana menjadi hobi Arif.  Bahkan selain mahir memainkannya, dia juga ahli membetulkan rebana yang rusak ataupun kurang pas suaranya.

Arif menjelaskan dari seringnya membetulkan rebana yang rusak itulah timbul  ide untuk mendirikan usaha menjual serta menerima jasa pembuatan rebana. Itu diwujudkan ketika Arif sudah memasuki bangku kuliah, dengan mendirikan galeri penjualan di Jogjakarta bersama teman- teman kuliahnya.

Buka Usaha Produksi Rebana

Lalu setelah dia lulus kuliah tepatnya pada tahun 2011, dia memutuskan untuk  tidak hanya menjual tapi juga membuat sendiri rebana-rebana tersebut. “Rebana-rebana itu aku buat di desa asal istriku, Desa Rejosari, Dawe, Kudus,”ucap  Arif.

Menurutnya saat sepi order dia membuat rebana- rebana tersebut dari nol, dari kayu hingga pemasangan kulit kambing. Sedangkan saat ramai pesanan biasanya dia mendatangkan bahan-bahan kayu dan kulit kambingnya dari Jepara lalu dirangkai.

“Kalau finishing dan buat nyetel suaranya kami kerjakan semua. Soalnya kalau dikerjakan orang lain takutnya suaranya tidak enak di dengar,” kata pria berjenggot tipis tersebut. 

Rebana- rebana buatan Arif lumayan diminati di pasar. Itu terbukti setiap bulanya usaha tersebut menghasilkan omzet antara 30 sampai 50 juta. Rebana buatan Arif selain dijual di sekitar Kudus, juga pasarkan ke luar daerah, diantaranya, Jogja, Magetan, 

Tulungagung, Surabaya, Bahkan sering juga ada pesanan dari luar pulau diantaranya Lampung, Batam, Riau serta Makasar. “Alhamdulillah usaha yang aku rintis dengan modal Rp 5 juta sekarang sudah berkembang. Semoga dengan banyaknya order aku berharap  dapat tempat untuk medirikan toko yang lebih luas, agar bisa menempatkan rebana lebih banyak lagi,” harapnya smabil tersenyum.

- advertisement -

Warung Mas Mul, Tempat Nongkrong Legendaris Bagi Mahasiswa UMK

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Pria setengah baya tengah mengiris bawang di sebuah warung tepat di depan gerbang utara kampus Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (28/5/2016). Bagi sebagian besar mahasiswa UMK, pria tersebut sanagat tak asing. Dialah Mulyadi (41), atau lebih akrab disapa Mas Mul, yang telah berjualan sekitar 13 tahun di depan UMK.
warung mas mul depan kampus UMK
Mas Mul sedang mengiris bawang di warungnya, di depan gerbang kampus UMK. Foto: Imam Arwindra

Warung milik Mas Mul berada di deretan ruko berukuran sekitar 3×3 meter. Di depan warungnya, diletakkan beberapa meja dan kursi panjang, dengan atap semi permanen. Jumlah
kursi yang tersedia 20 kursi dan 10 meja. Saat aktif perkuliahan, warung Mas Mul tak pernah sepi mahasiswa untuk makan atau sekadar ngopi dan nongkrong.

Mas Mul menceritakan, dia membuka warung di depan UMK sejak 2002 silam. Pada awal membuka usahanya itu dia
hanya mempunyai dua kursi dan dua meja. Tempat usahanya pun masih berupa tenda.

“Waktu itu di sekitar Kampus UMK masih ladang tebu. Di depan
kampus pun masih sepi, yang dagang itu saya dan penjual es degan masih
menggunakan tenda,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Setelah 2003, ruko yang
ditempatinya sekarang dibangun. Dia mengaku menjual nasi kucing, es buah, kacang ijo, kolak, es teh, kopi serta gorengan. “Harga segelas es teh saat itu masih
Rp 500 dan gorengan Rp 200,” tambahnya.
Mas Mul menuturkan, warung
miliknya memang sering dibuat nongkrong mahasiswa UMK. Dia mengaku, setiap
hari sekitar 200 pembeli datang ke warungnya. “Sering dibuat nongkrong
mahasiswa UMK, alumni-alumni UMK pun juga banyak yang masih ke warung,”
ungkapnya.

Buka Hari Pertama Hanya Ada Satu Pembeli

Saat buka pertama hari pertama, dia hanya menerima
uang Rp 4 ribu. Hari kedua bertambah menjadi Rp 5 ribu, hari ketiga Rp
9.500 dan terus bertambah. “Pertama buka dulu hanya ada satu orang saja yang
mampir. Dia laki-laki tapi saya lupa namanya,” ungkapnya.
Setelah itu, ruko milik H Zubaidi yang saat ini dia tempati jadi, dia pindah ke ruko.
“Dulu saya tukang kebunnya H Zubaidi. Tahun pertama saya diberi gratis,”
tambah Mas Mul yang mempunyai rumah di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Achmad Hasan mahasiswa UMK angkata 2010 menuturkan, warung
Mas Mul termasuk warung legendaris di UMK. Dia sering nongkrong di sana
untuk bertemu teman dan pertemuan organisasi. “Waktu masih aktif di organisasi
PMII dan BEM, warung Mas Mul sering digunakan untuk membahas organisasi,”
ungkapnya.
Menurutnya, sampai sekarang ketika dia sudah lulus dari UMK,
warung Mas Mul masih menjadi rujukan bertemu dengan teman-temannya. “Ngopi
di mana boy? Mas Mul ya,” katanya mencontohkan.  

- advertisement -

Buchori, Pengusaha Gebyok Kudus Langganan Keluarga Cendana

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Sebuah rumah di Jalan KH
Noor Hadi, Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, dipenuhi kayu jati berukir. Rumah bertembok tinggi tersebut milik almarhum Buchori, pengusaha pembuatan gebyok ukir di Kudus yang dulu menjadi langganan Keluarga Cendana. Usahanya kini diteruskan anaknya, Dony
Osmond (37). 

pengusaha gebyok kudus langganan keluarga cendana
Foto almarhum Buchori bersama istri. Foto: Repro Prabu Sipan

Di dalam rumah berbentuk joglo itu terdapat meja, peralatan tukang kayu, serta gebyok dipenuhi ukiran tiga dimensi yang begitu detail. Gebyok berukir tersebut, menurut Dony, pesanan dari pelanggannya. Dia mengungkapkan, usaha warisan ayahnya itu sudah dikenal berbagai kalangan di Indonesia, termasuk Keluarga Cendana.

“Hampir semua yang berhubungan dengan kayu jati
dan ukiran yang ada di rumah Keluarga Cendana, Pak Suharto (presiden kedua) dan anak-anaknya, dipesan dari ayah saya. Baik itu gebyok, joglo, pintu dan lain sebagainya,” kata pimpinan CV Artis Jaya, kepada Seputarkudus.com.

Dia menceritakan, Artis Jaya
yang berdiri pada tahun 1989 itu telah banyak menghasilkan produk gebyok ukir. Selain yang ada di rumah Keluarga Cendana, gebyok yang ada di kantor DPRD Kudus
yang di lantai satu dan lantai dua. Begitu juga gebyok yang ada di Pendapa Kabupaten Kudus.

(Baca juga: Inilah Sosok Pembuat Gebyok Ukir di Pendapa dan Gedung DPRD Kudus)

“Selain di
Kudus Artis Jaya juga sering menerima pesanan dari luar daerah, di antaranya
Semarang, Jakarta, Papua, bahkan pernah kita mengirim gebyok ke Amerika. Tetapi
yang paling sering itu ke Jakarta,” ujar pria berputra dua tersebut.
Dony menambahkan, produk gebyok ukir Kudus punya pasar tersendiri di tanah air, dikarenakan
di setiap gebyok ukir pasti ada motif
bunga melati yang begitu banyak. Serta ukir Kudusan itu lebih mendetail dari
ukiran yang ada di daerah lain.
“Ciri khas dari ukiran Kudus itu motif ukiranya kecil-kecil serta mendetail, dan ada bunga melatinya, karena itu sebagai ciri khas Kudus. Kalau
tidak begitu berarti bukan ukiran Kudusan,” tuturnya. 
 
- advertisement -

30 Tahun Menjadi Tukang Kunci Duplikat, Pak Tua Ini Masih Hidup Ngontrak di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA – Kotak kayu berwarna kuning lusuh diletakkan di atas trotoar Jalan Sunan Kudus, Jumat (27/5/2016). Di kotak tersebut terdapat tulisan “Ahli Kunci Asli”. Di atas kotak ada sebuah ragum kecil dan serpihan logam di sekitarnya. Kotak tersebut sehari-hari digunakan Mashudi, tukang duplikat kunci di Kudus.

tukang duplikat kunci di kudus
Mashudi (kanan) mengerjakan pesanan duplikat kunci di Jalan Sunan Kudus. Foto: Prabu Sipan

Siang itu, Mashudi tampak sibuk menggerinda pipihan logam di atas ragum yang digunakannya untuk membuat kunci duplikat. Kunci tersebut pesanan dari pelanggannya. Pria asal Semarang tersebut telah menjalani pekerjaan sebagai tukang duplikat kunci sejak lebih kurang 30 tahun lalu.

“Saya di Kudus sekitar tahun 1980, sampai sekarang ya sekitar 30 tahun lah menjadi tukang kunci,” ujar Mashudi yang hingga kini mengontrak di Desa Barongan,
Kecamatan Kota, Kudus.

Berbagai macam kunci bisa dia duplikat. Di antaranya kunci pintu, kunci motor dan kunci mobil. Harga pembuatan satu kunci yang paling murah Rp 10 ribu,
sedangkan yang mahal Rp 30 ribu. 

“Tetapi kalau panggilan Rp 100 ribu. Saya mendapat bahan kunci duplikat dari orang
Gebog,” ungkap Mushadi kepada Seputarkudus.com.  

Bekerja di Semarang dengan Bayaran Seadanya

Dia menceritakan, sebelum membuka usaha pembuatan kunci duplikat, dirinya terlebih dulu ikut orang di Semarang. Di sana dia diberi bayaran seadanya serta dikasih makan. Setelah dia menguasai cara menduplikat kunci dan
punya sedikit modal dia pindah ke Kudus sekitar tahun 80-an. 

Mashudi mengaku memilih membuka usaha di Kudus ketimbang di Semarang, karena di Kota Kretek saat itu belum
banyak orang yang mendirikan uasaha yang sama. Selain itu di Kudus tak ada razia,
serta tidak ada pungutan dari pihak-pihak tertentu, termasuk preman.
“Di Kudus masyarakatnya juga baik. Aku menempati
teras toko ini juga tidak pernah ditarik uang sewa, atau uang sukarela. Aku
menempati ini gratis,” ungkap bapak empat anak tersebut.

 

Dia menceritakan, sebelum tahun 2000 masih sedikit orang yang membuka usaha seperti dirinya. Penghasilan yang didapat bisa dikatakan lumayan. Namun sekarang dia sudah banyak
memiliki saingan. Saat ini, sehari paling banyak dia mendapat uang bersih Rp 150 ribu.
“Sekarang sehari bisa dapat uang Rp 150 ribu bersih itu
sudah bagus. Kalau sepi paling dapatnya antara Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu
sehari,” kata Mashudi.

- advertisement -

Hotel Slamet, Hotel Pertama dan Termegah di Kudus Zaman Kolonial Belanda

0
SEPUTARKUDUS.COM, KOTA
  Sebuah bangunan tua di Jalan
Jendral Sudirman, tepat di depan Mapolres Kudus, tampak kosong, Jumat (27/5/2016). Dari depan tampak
gerbang yang terbuat dari seng. Di balik gerbang terdapat tanah kosong, tepat di depan bangunan tua tersebut. Bangunan itu merupakan hotel pertama di Kudus dan termegah pada zaman kolonial Belanda.
hotel pertama di kudus
Sejumlah orang melintasi bangunan bekas Hotel Slamet, Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Bangunan samping bekas Hotel Slamet saat ini, tampak tebok terbuat dari batu bata yang telah mengelupas. Di samping tembok, terdapat jalan sempit yang sering dilalui masyarakat menuju kampung, Desa Kramat, Kecamatan Kota. 

Menurut Sejarahwan Kudus Eddy Yusuf, Hotel Slamet merupakan hotel pertama di Kudus yang didirikan pada era pemerintahan Kolonial Belanda. Dia menuturkan, hotel tersebut meruapakan yang termegah di Kudus, bahkan setelah era Kemerdekaan, sekitar tahun 60-an.

bekas bangunan hotel pertama di Kudus
Kondisi bangunan bekas Hotel Slamet di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Imam Arwindra

“Tamu yang menginap merupakan kalangan atas. Kalau tidak pejabat tinggi ya pengusaha kaya,”
ungkap Eddy kepada Seputarkudus.com.

Eddy melanjutkan,
setiap ada pengusaha dari Jakarta atau daerah lain yang mampir di Kudus atau
melewati Kudus, pasti mampirnya di Hotel Slamet. “Hotel Slamet memang dulunya
termasuk hotel yang melegenda dan besar,” tambahnya.

Setelah Hotel Slamet berdiri, muncul hotel-hotel baru di sekitar wilayah perkotaan. “Harga menginap di Hotel
Slamet saat itu merupakan yang paling mahal di antara hotel-hotel yang berdiri setelahnya,” ungkapnya.
Dia menceritakan,
ketika dia masih sekolah di SD Al-Islam tahun 1964, dia sering melewati Hotel
Slamet. Bangunannya bertembok dan bagus. Bentuk
bangunannya kurang lebih seperti Hotel Merdeka di Pati, satu lantai dan bertembok. Sekarang bangunan tersebut sebagian sudah hilang. Tinggal tersisa bangunan tua
di sebelah utara.

“Ketika masih SD, saya sering lewat
Hotel Slamet. Jadi bangunannya bagus, bertembok dan saat itu memang termasuk bangunan
yang mewah,” ungkapnya.

- advertisement -

Tiyas Menjerit di Antara Rumpun Bambu Balai Budaya Rejosari Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, REJOSARI – Perempuan berambut panjang menangis tersedu di tengah rumpun bambu, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, malam lalu. Perempuan bernama Tiyas itu menarik lelaki berselendang merah hingga terjatuh. Sementara, sekelilingnya sejumlah orang masih sibuk dengan perlengkapan elektronik di atas tampah-tampah.

pentas petuah tampah teater Djarum di rejosari Kudus
Anggota Teater Djarum mementaskan “Petuah Tampah” di Balai Budaya Rejosari, Kecamatan Dawe, Kudus, Rabu (25/5/2016). Foto: Imam Arwindra
Dia berpindah-pindah menarik baju orang di sekelilingnya. Wanita tersebut masih saja tidak dipedulikan. Akhirnya dia menangis menuju sebuah tampah dan memukulnya beberapa kali.
Peristiwa itu merupakan satu dari beberapa adegan pentas Teater Djarum berjudul “Petuah Tampah” di Balai Budaya Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (25/5/2016) malam.
Asa Jatmiko, sutradara “Petuah Tampah” menuturkan, kemajuan teknologi modern, terutama teknologi komunikasi, diakui maupun tidak merupakan arus besar yang menjadikan banyak nilai di dalam masyarakat terputus dan terkoyak.
“Digambarkan mereka sibuk dengan barang elektroniknya dan tidak mempedulikan lingkungan sekitar,” ungkapnya ketika dalam forum diskusi kebudayaan setelah pementasan.
Menurutnya, orang-orang terdekat sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya kepribadian manusia, terutama seorang anak. Anak-anak akan menjadi sebuah pribadi yang tumbuh, berkembang dan menemukan saripati dari nilai-nilai kehidupan yang bermakna.

(Baca juga: Putu Wijaya Kagumi Pentas “Petuah Tampah” di Galeri Indonesia Kaya Jakarta)

“Keluarga, kemudian lingkungan tetangga yang mempengaruhi perkembangan anak,” ungkapnya, saatu diskusi budaya usai digelarnya pentas Petuah Tampah. Dalam diskusi tersebut, selain Asa, ada dua orang yang juga menjadi narasumber. Di antaranya, Romo Haryono, Teresa Rudiyanto dan Maria Magdalena Burnomo.

diskusi budaya kudus
MM Burnomo sedang memaparkan pendapatnya tentang pentas “Petuah Tampah” yang dibawakan Teater Djarum. Foto: Imam Arwindra

Tampah Sebagai Simbol dan Pengikat Leluhur

Teresa Rudiyanto, penggagas ide cerita Petuah Tampah menuturkan, pengambilan tampah dalam pentasnya memiliki sebuah nilai kehidupan. Selain mengeksplor satu benda supaya mengingat leluhur, dia berfikir tampah bisa menjadi perenungan akan tumbuhkembangnya kepribadian anak manusia di dalam kehidupan yang bagaikan cakra manggilingan (roda yang terus berputar). “Berdenyut, berkesinambungan dan terus hidup,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam lingkungan masyarakat, tampah merupakan media bersosialisasi, bertegur sapa, serta terjalinnya upaya saling membutuhkan dan saling menopang. Tampah menjadikan sebuah media pertemuan langsung berbagai kepribadian manusia.
“Tampah fungsinya sangat melekat di kehidupan masyarakat. Sehari-hari dipergunakan untuk memilah-milah padi bernas, tempat nasi tumpeng untuk syukuran, tempat bumbu dapur dan dalam masyarakat Jawa juga dipergunakan untuk alat tetabuhan untuk mencari anak yang dibawa wewe,” tambahnya.
Teresa yang asli Temanggung menuturkan, awal munculnya ide “Petuah Tampah” saat kita akan pentas di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Kita ingin mengeksplore kebudayaan lokal yang berada di Indonesia Barat. Supaya kita selalu mengingat leluhur, akhirnya memilih satu benda yang dekat dengan masyarakat yaitu tampah.
“Di dalam tradisi Jawa, tampah memiliki arti filosofi, yakni nampa atau menerima,” jelasnya.
Pentas “Petuah Tampah” Teater Djarum ini didukung oleh 13 orang pemain dengan tokoh utama Jasmi sebagai Tyas. Menurut Asa, pertunjukan “Petuah Tampah” menggabungkan unsur gerak dan dialog serta perlambangan atas simbolisasi yang ditawarkan.
“Gagasan ‘Petuah Tampah’ ini dicetuskan oleh Teresa Rudiyanto. Kemudian penyusunan naskan dan sutradara saya sendiri (Asa Jatmiko),” ungkapnya.

Berikut cuplikan video pentas “Petuah Tampah” di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Video oleh: Prabu Sipan

- advertisement -

Runtuhnya Kejayaan Bioskop di Kudus, Hanya Cineplex Satu-Satunya yang Tersisa (3-Habis)

0
SEPUTARKUDUS.COM, KUDUS – Terletak di Kudus Extension Mall lantai tiga, poster-poster film terpampang di dinding gedung bioskop. New Star Cineplex (NSC) Kudus adalah nama bioskop tersebut. Poster
yang terpampang memuat judul-judul film terkini. Saat ini Cineplex merupakan satu-satunya bioskop di wilayah Karesidenan Pati, yang masih beroperasi.
New Star Cineplex Kudus menjadi satu-satunya bioskop yang hingga kini masih beroperasi. Foto: Prabu Sipan

Menurut sejarahwan Kudus, Eddy Yusuf, sebelum Cineplex, di lokasi yang sama dulu ada bioskop bernama Bioskop Cinema. Namun bioskop tersebut telah lama tutup dan tak memutar film. Dia menjelaskan, sebelum Cinema, ada
tujuh bioskop yang beroprasi di Kabupaten Kudus. 

“Tujuh bioskop itu antara lain Bioskop Garuda,
Bioskop Ramayana dan Bioskop Ria, letaknya di sekitar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Selain itu ada Bioskop Ratna, Kudus Teater, Bioskop
Citra, dan Bioskop Plasa, yang tersebar di wilayah Kabupaten Kudus,” ungkap Eddy kepada Seputarkudus.com.

(Baca juga: Bioskop Karya Taman Bojana Kudus, Dulu Dikenal Karena Film Indianya (2))

Dia menuturkan, pada tahun 60-an bioskop-bioskop merupakan tempat hiburan yang paling diminati masyarakat. Namun sekitar tahun 90-an,
bioskop-bioskop tersebut gulung tikar. “Dimulai dari bioskop-bioskop kecil,
lalu bioskop besar yang ada di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus,”
ungkapnya.
Eddy menjelaskan, tutupnya bioskop-bioskop tersebut karena
perkembangan teknologi. Munculnya Compact
Disk
(CD) dan bertambahnya channel TV
swasta sangat mempengaruhi gulung tikarnya bioskop.
“Dulu jika ingin melihat film, hanya di bioskop saja. Namun setelah
muncul CD dan bertambahnya channel TV, masyarakat berangsur-angsur meninggalkan bioskop,” jelasnya.

Eddy melanjutkan, sekitar tahun 1993 muncul empat bioskop
kecil di Plasa Kudus Matahari. Letaknya di lantai tiga. “Kalau tidak salah namanya Cinema, sebelum ada Cineplex yang sekarang masih beroperasi,”
ungkapnya.

Bioskop di Matahari, katanya, tempat duduknya tidak
sebanyak Bioskop Karya atau Bioskop Garuda yang mencapai 200 kursi. Dia memperkirakan, hanya
ada puluhan kursi yang disediakan. “Di Matahari kira-kira hanya puluhan saja,
tidak mencapai ratusan,” tambahnya.

Dia memberitahukan, bangunan-bangunan bioskop tempo dulu sampai
sekarang masih ada. Di sekitar Alun-alun Kudus, ada Bioskop Garuda yang sekarang
menjadi Restoran Garuda, Bioskop Karya atau Ramayana menjadi Taman Bojana dan
Bioskop Oen atau Bioskop Ria sekarang menjadi tempat parkir di timur Ramayana.

“Yang lainnya, Bioskop Citra yang menjadi gudang garam di
Desa Wergu Wetan dan Kudus Teater yang menjadi Hotel Kenari di Jalan Kenari (Gang
3),” ungkapnya.

Eddy menambahkan, Bioskop Ratna menjadi Taman Hutan Kota di
Desa Jekulo dan Bioskop Plasa di Daerah Ploso. “Kalau yang Bioskop Plasa saya
kurang tahu sekarang jadi apa, letaknya dekat makam Desa Ploso,” tambahnya. 

- advertisement -

Foto Bareng Mikey Mouse di Car Free Day Kudus Cuma Bayar Rp 2 Ribu

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Dengan ponsel pribadinya, orang-orang memotret figur Mikey Mouse di selatan Alun-alun Kudus saat Car Free Day, Minggu (22/5/2016). Dengan balon di tangannya, mereka secara
bergantian berpose dengan figur tokoh Disney bercelana merah itu.
Beberapa anak-anak  juga tampak antusias
menarik orang tuanya untuk difoto dengan bersama Mikey Mouse tersebut.
foto disney kudus
Pengunjung Car Free Day berfoto bersama Mikey Mouse di Alun-alun Kudus, Minggu (22/5/2016).
Adalah Agus Susanto (29), pemilik usaha Disney Side Job yang menyewakan figur Mikey Mouse untuk difoto. Dia menuturkan, antusias masyarakat Kudus untuk berfoto dengan
maskot Disney cukup tinggi. Dia mengaku, pekerjaan sambilan yang dijalaninya dalam sehari di Car Free Day mendapat Rp 1 juta. “Saya beroprasi dari jam 06.00 WIB
hingga 08.00 WIB,” ungkapnya.
Dia menuturkan, setiap Minggu bersama
tiga temannya, dia menjalani kerja sambilan penyewaan figur tokoh Desney. Setiap Car Free Day dia mengaku mampu menjual hingga 200 balon lebih. Setiap balon dijual seharga Rp 3 ribu. “Untuk yang berfoto dengan Mikey Mouse tidak memakai balon
biasanya hanya memberi Rp 1.000,” ungkapnya.
Agus yang bertempat tinggal di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus memberitahukan, di Semarang foto maskot Disney dihargai Rp 10
ribu. Pendapatan yang mereka dapat bisa mencapai Rp 2 Juta lebih di setiap beroprasi.
“Semarang kan termasuk kota besar, selain harga yang dipatok tinggi, pengunjung
yang hadir juga banyak,” tambahnya.
Selain beroprasi saat Car Free Day, Agus juga
mengaku menyewakan Disneynya untuk acara-acara ulang tahun. Harga yang
diberikannya Rp 150 ribu per tiga jam. “Kami juga sering mengisi acara-acara
ulang tahun. Biasanya kami memberikan harga Rp 150 ribu setiap tiga jamnya,”
ungkapnya.
Usaha penyewaan figur Disney Side Job yang baru
dijalaninya dua bulan, mempunyai dua maskot kartun, Mikey Mouse dan Donald
Duck.
Dia menceritakan, sambil menjalani kerja
sambilan di penyewaan figur Disney dia juga bekerja di Game Fantasia Mall Ada. Dia
melihat di Kudus usaha sambilan penyewaan figur masih jarang. “Saya manfaatkan
saja peluang itu,” ungkapnya.
Agus menuturkan, mengawali usaha rental
Disneynya membutuhkan modal sekitar Rp 2 juta untuk membeli kontum maskot.
Kendala yang dia jalani ialah perawatan kostum yang susah. “Kendala menjalani bisnis ini pada perawatan kostum. Selain hati-hati, perlu
perawatan khusus untuk merawatnya,” ungkap dia.

- advertisement -

Sehari Tukang Foto di Menara Kudus Kantongi Rp 700 Ribu, Ramadan Libur Total

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Sejumlah orang mengalungkan kamera LSR di lehernya seraya menenteng foto, di depan Menara Kudus, Kauman, Kota. Setiap peziarah yang datang ke Makam Sunan Kudus dihampirinya. Mereka adalah para penyedia jasa foto yang tergabung di Paguyuban Fotografer Menara Kudus
(PFMK). Saat ramai peziarah menjelang Ramadan seperti ini, mereka bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 700 ribu sehari.

Sejumlah tukang foto menawarkan jasanya kepada peziarah yang datang ke Menara Kudus. Foto: Rabu Sipan

“Foto, foto, ayo bu foto. Yang kecil Rp 10 ribu, kalau yang besar ini Rp 20 ribu,” ujar Ricki Mahareza (26), penyedia foto di Menara Kudus saat menawarkan jasanya kepada peziarah yang datang, Rabu (25/5/2016).

Aktivitas seperti itu dijalani Ricki setiap hari. Apalagi saat ramai peziarah pada bulan-bulan menjelang Ramadan seperti sekarang, dia tidak menyia-nyiakannya untuk meraup pendapatan. 

“Kebetulan saat-saat menjelang Puasa seperti ini sangat ramai peziarah datang. Lumayan, sehari bisa mendapat Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu,” ujar Ricki yang juga menjadi anggota PFMK.

Namun, kata Ricki, tidak setiap hari ramai peziarah. Ada saatnya ricki bersama dengan para penyedia jasa foto di Menara Kudus mendapat sedikit penghasilan. Bahkan, saat Ramadan, mereka libur total karena hanya sedikit peziarah dari luar daerah yang datang.

Tukang foto di Menara Kudus yang lain, Maulana (31) mengungkapkan, saat sepi peziarah, rata-rata pendapatan mereka hanya sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. “Kalau lagi sepi, paling hanya dapat segitu. Bahkan saat Ramadan kami libur total, karena bulan
tersebut jarang ada orang berziarah,” ungkap Maulana.

Dia menjelaskan, untuk foto ukuran 5R harganya Rp 10 ribu,
sedangkan yang 10R harganya Rp 20 ribu. Dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit, hasil foto sudah jadi dan bisa diambil.

Jadi Anggota PFMK Iuran Rp 2 Juta

Ricki menjelaskan, untuk bisa menjadi anggota PFMK harus membeli keanggotaan dari anggota lama. Setelah menjadi anggota harus membayar iuran paguyuban sebesar Rp 2 juta. Saat ini ada 30 anggota paguyuban yang tercatat, dan 10 anggota di antaranya aktif menawarkan jasa pemotretan di Menara Kudus.

“Jadi kalau mau menjadi anggota harus ada anggota lama yang menjual status keanggotaannya. Ini untuk membatasi jumlah tukang foto di Menara. Kalau terlalu banyak nanti pendapatan kami jadi sedikit,” ujarnya.


Dia menceritakan, sebelum ada paguyuban, penyedia jasa pemotretan di Menara bebas tanpa iuran. Tetapi dengan berjalanya waktu banyak orang datang untuk menjadi tukang foto dan terlihat semerawut. “Maka dari itu pada tahun
2008 dibentuklah Paguyuban Fotografer Menara Kudus (PFMK) tersebut,” katanya
- advertisement -

Bioskop Karya Taman Bojana Kudus, Dulu Dikenal Karena Film Indianya (2)

0
Taman Bojana Kudus. Foto: Dok. Beta News.
SEPUTARKUDUS.COM, BOJANA – Tempat di jantung
kota tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus ini seperti tak ada matinya. Taman Bojana, nama tempat tersebut, yang saat ini menjadi pusat kuliner khas Kudus, dulu merupakan tempat di mana Gedung Bioskop Karya berdiri. Bioskop itu dikenal karena seringnya memutar film-film India.
taman bojana kudus bioskop ria
Sejumlah kendaraan terparkir di depan pusat kuliner Kudus Taman Bojana, tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh. Dulu satu gedung di sana menjadi bangunan Bioskop Karya yang kemudian berubah nama menjadi Bioskop Ramayana. Foto: Imam Arwindra

 Rif’ati (69), warga Sunggingan, Kecamatan Kota,  yang kini berjualan di Taman Bojana, menceritakan, pada tahun 60-an termasuk
bioskop besar yang kebanyakan memutar film-film India. Dia menuturkan, bioskop di Taman Bojana bernama bernama Bioskop Karya. Seiring waktu, namanya
berubah menjadi Bioskop Ramayana.
“Dulu saya sering menonton film India di Bioskop Karya. Kalau zaman dulu, Bioskop Karya khasnya film-film India,” tambah dia ketika ditemui di kediamannya, Rabu (25/5/2016).
Rif’ani menceritakan, artis India yang dia ingat di antaranya Raj Kapoor,
Dev Anand, Meena Kumar, dan Dilip Kumar. “Filmnya kalau tidak salah namanya
Madhumali, aktornya Dilip Kumar,” ungkapnya.
Selain film India, dia juga ingat Bioskop Karya memutar film-film Indonesia
yang dibintangi Barry Prima dan Roma Irama. “Intinya yang tentang percintaan,”
tambahnya.

(Baca juga: Bioskop Garuda Kudus, Milik Orang Tionghoa yang Dinasionalisasi Masa Bung Karno (1)

Selain Bioskop Karya, Rif’ati menjelaskan, di kawasan Alun-alun juga berdiri Bioskop Garuda yang dulu bernama Gren dan Bioskop Ria yang dulu bernama Oen. Saat ini tempat bioskop tersebut dibuat lahan parkir timur Mall Ramayana.

bioskop ria kudus
Bangunan Bioskop Ria, yang kini menjadi tempat parkir Mall Ramayana Kudus. Foto: Imam Arwindra

“Bioskop Garuda, khasnya film-film Barat. Misalnya Ramboo
dan James Bond. Tapi juga memutar film-film Indonesia,” ungkap Rif’ati.

Hiburan Masyarakat Paling Diminati Era Tahun 60-an

Rif’ati menambahkan, hiburan paling diminati saat itu memang
menonton di bioskop. Terutama anak muda, apa saja bisa ditinggalkan, hanya karena alasan untuk menonton
film.

Dia mengingat, dulu pernah disuruh bapaknya untuk belanja
di Pasar Kliwon. Ketika menuju pasar dia bertemu temannya dan diajak untuk
menonton film India terbaru. Akhirnya dia berbelok menuju Bioskop Ramayana. “Wis, delok film
ndipek. Belonjone keri
(Nonton film dulu, belanjanya nanti saja),”
ungkapnya.

Sementara itu, sejarawan Kudus Eddy Yusuf menuturkan, di Kudus pada tahun 60-an ada tujuh bioskop yang beroprasi. Tiga di antaranya termasuk bioskop elit pada zamannya.
Dia menjelaskan, yang termasuk elit ialah bioskop yang berada
di kawasan Alun-alun Kudus, antara lain, Bioskop Garuda, Karya dan Ria. Untuk
yang menengah ke bawah, Kudus Teater, Bioskop Citra, Bioskop Plasa. “Dan satunya
di Jekulo, Bioskop Ratna,” ungkapnya.
Eddy memberitahukan, menonton film di bioskop merupakan hiburan  yang paling diminati masyarakat Kudus pada era tersebut. Karena dulu belum ada CD atau DVD. Stasiun TV pun hanya ada channel yakni TVRI.
“Dulu channel TV hanya TVRI. Sedangkan tayangannya
membosankan. Jadi masyarakat kalau ada film baru, langsung berbondong-bondong
ke bioskop,” ungkapnya.

- advertisement -