Beranda blog Halaman 1962

Sebelum Bandeng Presto Pak Kumis Sukses, Kardiman Memikul Kuali Keliling Pasar Johar (2)

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Kardiman (72) warga Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kini tinggal meraup sukses usaha di masa senjanya. Pria yang lebih dikenal sebagai Pak Kumis yang memiliki usaha pengolahan makanan, memiliki sejumlah toko di Semarang dan Kudus untuk menjual produk Bandeng Presto Pak Kumis. Namun saat memulai usaha, dia harus memikul kuali berisi bandeng pindang keliling Pasar Johar, Semarang, untuk berjualan.

bandeng presto pak kumis
Pak Kumis mengamati aktivitas karyawan melalui monitor CCTV di kediamannya, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sebelum sukses memasarkan Bandeng Presto Pak Kumis, Kardiman lebih dulu dikenal sebagai penjual bandeng pindang. Saat Seputarkudus.com berkunjung ke kediamannya, dia bercerita pahit getirnya memulai usahanya.

Pada Tahun 1967, saat itu usianya baru 23 tahun, dia memulai usahanya mengolah ikan bandeng untuk dijadikan bandeng pindang. Kardiman membeli ikan bandeng di Juwana, Pati. “ Pada waktu itu sekali ke Juwana saku beli ikan bandeng sebanyak 60 kilogram. Sesampai di rumah bandeng itu aku masak di kuali untuk dijadikan bandeng pindang,” kata Pak Kumis, beberapa waktu lalu.

Menurutnya setelah jadi bandeng pindang, dia menjual sendiri ke Pasar Johar Semarang. Dirinya berangkat dari rumah pukul 24.00 WIB berjalan kaki memikul kuali berisi bandeng pindang ke Pasar Bitingan. Sesampainya di Bitingan, dia menunggu bus atau truk yang akan mengantarnya ke Semarang.

Dia menceritakan, pada waktu itu perjalanan Kudus-Semarang memerlukan waktu tiga jam. Sesampai di Pasar Johar Pak Kumis berkeliling pasar sambil memikul kuwali berisi bandeng untuk dijajakan kepada para pembeli. Dia harus berkeliling karena tak punya lapak.

Tidur di Emperan Toko, Sepekan Sekali Pulang ke Kudus

Saat malam tiba, Pak Kumis tidur di emperan toko beralaskan kardus di sisi kuali. “Biasanya memerlukan waktu tujuh hari untuk menjual habis bandeng pindang yang aku bawa. Setelah habis aku pulang ke Kudus,” kata pria yang setelah berangkat ke Tanah Suci berganti nama menjadi Abdurrohman.

Pak Kumis mengatakan, setelah bandeng pindangnya mulai dikenal dan dimianti banyak pembeli,  sekitar tahun 1974 dia meminta tolong kepada Kepala Pengelola Pasar Johar untuk diizinkan menyewa lapak. Sejak memiliki lapak tersebut penjualan Bandeng Pindang Pak Kumis semakin laris dan terkenal di Semarang.

“Dari tahun ke tahun  jualan bandeng pindang ku makin laris dan banyak dikenal orang yang datang ke Pasar Johar. Bahkan ada opini masyarakat Semarang, kalau beli bandeng pindang ke Pasar Johar ya bandengnya Pak kumis,” kenangnya.

Hingga pada tahun 1982, penjualan bandeng pindangnya mulai surut. Hal itu dikasebabkan ada produk baru bandeng presto yang dijajakan warga Tionghoa. Warga lebih memilih bandeng presto tersebut ketimbang membeli bandeng pindang yang dia jual. Bahkan suatu ketika bandengnya sama sekali tak laku, dan usahanya terancam bangkrut.

Baca juga: Inilah Sosok Pendiri Bandeng Presto Pak Kumis, 12 Hari Gagal Mencoba Membuat Presto (1)

“Dari itulah timbul inspirasi agar aku bisa membuat bandeng presto yang lebih enak dari bandeng buatan warga Tionghoa tersebut. Dan alhamdulillah produk bandeng presto milikku sukses,” ujar katanya.

- advertisement -

Perempuan Renta Ini Bertahan 2 Tahun di Bawah Pohon, Meski Sandal yang Dijual Tak Laku

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di bawah pohon tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus, perempuan tua berbaju motif aneka warna duduk termangu. Puluhan sandal dan sepatu terjajar di depannya. Sesekali dia terlihat mengantuk, meski deru suara knalpot kendaraan meraung di sekelilingnya. Pabrik Gula Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, yang berdiri megah, seolah menjadi saksi perjuangan wanita tua itu menjemput rezeki dari sandal yang terjual.

jual sandal dan sepatu di kudus
Perempuan tua duduk termangu menunggu pengendara yang melintas di Jalan Jendral Sudirman, depan Pabrik Gula Rendeng, Kudus, yang akan membeli sandal dan sepatu yang ia jual. Foto: Rabu Sipan

  
Puluhan menit berlalu, namun tak satu pun pengendara menghentikan kendaraan untuk sekadar melihat sandal dan sepatu yang dijualnya. Meski begitu, dia tampak setia menunggui barang-barang jualannya, dengan harapan ada satu di antara pengendara yang melintas, berminat membeli.

Menurut Ningsih (33), pedagang nasi yang ada di seberang jalan tak jauh dari tempat perempuan tua itu berjualan, mengaku tak mengenal perempuan renta tersebut. Dia hanya tahu perempuan tersebut datang di depan pabrik gula sekitar pukul 08.00 WIB dengan mengendarai sepeda.

“Dia selalu datang mengendarai sepeda ontel. Di bagian belakang sepedanya dipenuhi sandal dan sepatu yang dia jual. Dia pulang sekitar pukul 16.00 WIB,” ujar Ningsih kepada Seputarkudus.com, Kamis (2/6/2016).

Menurutnya, barang dagangan perempuan renta tersebut tak terlalu banyak diminati pengendara yang melintas. Bahkan, dirinya berkata sandal-sandal itu tak laku. “Aku perhatikan sehari paling ada dua orang pembeli. Bahkan sering tidak ada pembeli sama sekali,” ungkap Ngasih.

Saat dihampiri, perempuan tua tersebut mengatakan, harga sandal dan sepatu yang dia jual dibanderol seharga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Namun sayang, perempuan tersebut menolak bercerita tentang keteguhannya dalam menjemput rezeki. Bahkan, sekadar nama pun tak terucap dari mulutnya.  

Tak Mau Menerima Pemberian Orang Lain

Menurut Ningsih perempuan renta tersebut tidak mau menerima pemberian uang dari orang lain. Pernah ada orang kasihan kepada wanita tersebut lalu memberi uang, tetapi ditolak. Alasanya karena dia berdagang bukan peminta-minta. Intinya dia mau menerima uang, jika orang tersebut membeli sandal yang dia jual.

Ningsih mengatakan, perempuan tersebut sudah sekitar dua tahun berdagang di depan Pabrik Gula Rendeng, tanpa terpal atau payung  untuk melindunginya dari panas dan hujan. “Bahkan kemarin saat hujan dia masih bertahan, waktu aku panggil untuk berteduh dia hanya menggelengkan kepalanya,” ujarnya.

Senada dengan Ningsih, Yono (37) penjual bensin di depan Pabrik Gula Rendeng menuturkan, wanita itu tidak mau menerima bantuan seseorang dengan gratis. Lebih baik jika ingin membantu, belilah sandal dan sepatu yang dia jual.

- advertisement -

Anton Sering Kehabisan Stok Bebek Bambu Saat Berdagang di Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Puluhan bebek tak berbulu tergantung pada pipa putih yang membentang di antara besi penyangga tenda, di stan Dandangan, Kudus, Kamis (2/6/2016). Di bawahnya puluhan bebek berbulu terjajar rapi di atas aspal Jalan Sunan Kudus. Bebek tersebut bukan sungguhan, namun miniatur yang dibuat dari pangkal bambu. Tak hanya miniatur bebek, sejumlah kerajinan terpampang di papan panjang lapak milik Anton Widaryanto tersebut.

miniatur bebek dari bambu
Anton menjajakan miniatur bebek dan kerajinan hasil tangan di Dandangan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

 
Anton mengatakan, pada Dandangan tahun lalu barang yang dijualnya terjual hingga Rp 22 juta. Dia berharap tahun ini bisa mendapatkan lebih.” Pada tahun lalu aku kehabisan stok saat acara Dandangan masih berlangsung. Dari pengalaman itu, stok untuk kerajinan tertentu aku perbanyak,” kata pria yang biasa disapa Anton kepada Seputarkudus.com.

Lapak yang tepat berada di depan Rumah Tahanan (Rutan) Kudus tersebut memang tampak sering didatangi para pengunjung. Terlihat sepasang suami istri menawar lalu membeli sebuah angklung yang dijual seharga Rp 100 ribu.

Anton menjelaskan, sebagian daganganya tersebut diproduksi sendiri di rumahnya di Klaten, dengan mempekerjakan empat orang tetangganya. “Kerajinan yang aku produksi sendiri di antaranya patung bebek dari akar bambu, angklung, patung kuda finishing kulit telur, asbak patung asmat, serta tempat botol,” ujarnya sambil menunjuk barang yang dia sebutkan.

Selain menjual barang hasil kerajinan, di berbagai even seperti Dandangan, Anton juga menyuplai ke berbagai pengepul kerajinan tangan di daerah Jogja. Di antaranya, Pasar Bringharjo, Kasongan, Borobudur, dan Prambanan.

Anton mengaku delapan kali berdagang di acara Dandangan yang diselenggarakan tiap tahun. Dan tahun ini dia menyewa empat stan berukuran 6×8 meter dengan harga sewa Rp 1.200.000.

Selama berjualan di Dandangan Anton beserta keponakanya tidur di stan. “Aku dan dua keponakan tidur di lokasi dagang. Sedangkan untuk mandinya numpang di masjid Annur di Jalan Wahid Hasyim,” ungkap Anton. 

- advertisement -

Berkat Modifikasi Kartu Remi, Siswi SMA Mentenx Singkirkan SMA Negeri Favorit se-Jateng

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA – Gadis berkerudung biru selalu tersenyum saat memamerkan piala di Ruangan Kepala Sekolah SMA PGRI 1 Kudus, Kamis (2/6/2016). Gadis itu bernama Nikmatul Nafiyah, yang baru saja memenangi Lomba Karya Ilmiah Pahlawan Nasional tingkat SMA se-Jawa Tengah. Meski dari sekolah swasta, dia tetap percaya diri. Terbukti mampu menyingkirkan sekolah-sekolah negeri favorit di Jateng dan menjadi juara.

sma pgri 1 kudus juara kir jateng
Nikmatul Nafiyah didampingi Bambang Sugiarto, menunjukkan piala yang baru saja diraihnya dalam Lomba Karya Ilmiah Pahlawan Nasional tingkat SMA se-Jawa Tengah. Dia berhasil menyingkirkan wakil-wakil sekolah negeri favorit dan menjadi juara. Foto: Imam Arwindra

Kepala Sekolah SMA  PGRI 1 Kudus Bambang Sugiarto (37) menuturkan, piala tersebut didapatkannya dalam lomba yang diselenggarakan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Rabu (1/6/2016). Dia mengungkapkan, SMA PGRI 1 Kudus merupakan SMA swasta satu-satunya yang mengikuti lomba bergengsi tersebut.

“Kami langsung ditunjuk Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus untuk mewakili Kudus dalam lomba tersebut. Setelah lolos seleksi makalah, ternyata kami satu-satunya sekolah swasta yang lolos babak selanjutnya,” ungkapnya, ketika ditemui di SMA PGRI 1 Kudus, Kamis (2/6/2016).

Dia menjelaskan, lomba tersebut diikuti perwakilan setiap kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Tahapannya, seleksi makalah. Jika lolos akan dipanggil ke Semarang untuk presentasi. “Yang lolos 10 sekolah saja. Selanjutnya presentasi di Semarang 1 Juni 2016 kemarin,” tambahnya.

Adi Wibowo (28), pembimbing lomba menuturkan, Nikmatul Nafiyah merupakan siswa kelas XI IPS. Bersama muridnya dia memilih judul “Model Pengenalan Pahlawan Nasional Pangeran Samber Nyowo Melalui Permainan Kartu Edukatif Dalam Upaya Meningkatkan Semangat Juang Peserta Didik”. 

Permainan Kartu Edukatif Dalam Upaya Meningkatkan Semangat Juang Peserta Didik karya siswa SMA PGRI 1 Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, permainnya seperti memainkan kartu remi. Namun kartu tersebut bergambarkan pejuang-pejuang Indonesia. “Kartunya bertuliskan informasi sejarah perjuangan pejuang Indonesia. Dari mulai perjalanan hingga bentuk perjuangannya,” jelasnya.

Menurutnya, ide ini banyak muncul dari siswinya. Dia hanya membimbing dan mengarahkan. Dia menuturkan, gagasan ini bisa meraih juara karena lebih aplikatif. “Peserta yang lain kebanyakan terlalu teoritis,” ungkapnya.

Adi melanjutkan, dengan media kartu, selain bisa bermain juga sekaligus bisa belajar. “Kita asik bermain kartu juga bisa tahu pahlawan-pahlawan yang ada di Indonesia,” tambahnya.

Dilansir dari akun resmi Twitter Dinsos Jateng, Lomba Karya Tulis Kepahlawanan dimenangi SMA PGRI 1 Kudus sebagai juara, SMAN 1 Wonosobo sebagai pemenang kedua, dan SMAN 3 Demak pemenang ketiga.

- advertisement -

Inilah Sosok Pendiri Bandeng Presto Pak Kumis, 12 Hari Gagal Mencoba Membuat Presto (1)

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Bandeng presto memang tak setenar jenang dan soto di Kudus. Produk olahan makanan ini identik dengan kota tetangga, yakni Semarang. Namun, siapa yang tak pernah mendengar Bandeng Presto Pak Kumis, yang menjadi oleh-oleh wajib masyarakat manca yang datang ke Kudus. Kesuksesan usaha produksi makanan ini tidak seperti sulap, bim salabim. Ada peluh dan keringat sebelum Bandeng Presto Pak Kumis dikenal dan sukses.

Bandeng Presto Pak Kumis Kudus
Kardiman atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Kumis (kanan) menunjukkan produk bandeng presto di kediamannya, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Prabu Sipan

Di tepi jalan Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terdapat patung ikan bandeng setinggi sekitar 2 meter. Patung tersebut berdiri di depan sebuah bangunan rumah dengan halaman cukup luas. Di sanalah usaha Bandeng Presto Pak Kumis dirintis. Di dalam sebuah ruangan rumah tersebut, seorang pria berkumis tebal sedang mengamati aktivitas para karyawan melalui monitor CCTV. Dialah Kardiman, pendiri usaha Bandeng Presto Pak Kumis yang terkenal itu.

Kepada Seputarkudus.com, kakek berusia 72 tahun tersebut mengungkap pahit getirnya membangun usaha pengolahan produk makanan ikan bandeng. Diakui usahanya kini sukses, namun banyak yang tak tahu, puluhan tahun dia jatuh bangun untuk membuat produknya dikenal masyarakat.

Dia menceritakan, sebelum membuat produk bandeng presto, awalnya dia membuat pindang bandeng untuk dijual. Di sebuah lapak kecil di Pasar Johar Semarang, pindang bandeng yang dia buat, dijual di sana. Awalnya pingdang bandeng miliknya laris manis. Namun suatu ketika, pindang bandeng terjajar utuh tanpa tersentuh pembeli.

Baca juga: Sebelum Bandeng Presto Pak Kumis Sukses, Kardiman Memikul Kuali Keliling Pasar Johar (2)

“Ada seorang warga Tionghoa menjual bandeng presto di Pasar Johar Semarang. Banyak pembeli yang lebih memilih bandeng presto milik orang tersebut. Pindang bandeng milik saya ketika itu tak laku sama sekali,” kenang Kardiman.

12 Hari Selalu Gagal Mencoba Membuat Bandeng Presto

Kardiman memutuskan pulang ke Kudus dengan sebuah rencana. Dia berpikir harus bisa membuat bandeng presto yang lebih enak dari yang di jual warga Tionghoa di Pasar Johar. Sesampai di rumah di Desa Loram Kulon, dia mencoba terus agar berhasil membuat Bandeng Presto.

“Awal percobaan membuat bandeng presto itu selalu gagal. Hingga pada hari ke-12 pada percobaan yang ke-12 kali, percobaan tersebut berhasil. Dan karena percobaan yang sering gagal tersebut, hutangku kepada tengkulak ikan menumpuk,” ujar Kardiman.

Setelah bisa membuat bandeng presto, Kardiman berangkat lagi ke Semarang dengan membawa dagangan barunya berupa bandeng presto. Di sepanjang perjalanan Kudus – Semarang dia selalu berdoa dalam hati agar produk yang baru dia buat diminati pembeli. Sesampainya di Pasar Johar doanya terkabul. “Aku bersyukur doaku di kabulkan Allah, bandeng prestoku yang saat itu saya jual Rp 10 banyak dibeli para pengunjung  Pasar Johar,” ungkap Kardiman yang memiliki lima anak tersebut.

Kardiman menceritakan, setelah bandeng prestonya banyak diminati konsumen, dan laris di pasaran, kenalannya di Dinas Perikanan menasehati agar produknya diberi merek dan dipatenkan. Tujuanya agar tidak ditiru orang lain.

“Pada tahun 1984 merek produk bandeng presto milikku saya daftarkan ke pemerintah. Karena kebanyakan orang memanggilku pak kumis maka bandeng presto yang aku produksi aku beri merek Bandeng Presto Pak Kumis,” ujar Kardiman, yang setelah menunaikan haji berganti nama menjadi Abdurrohman.
  

- advertisement -

Potong Rambut Jelang Ramadan Sudah Jadi Tradisi, Purnomo Banjir Rezeki

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Tangannya terus memotong rambut laki-laki yang ada di depannya. Dengan duduk di kursi yang disediakan, rambutnya dipotong sedikit demi sedikit menggunakan mesin cukur. Sesekali gunting putih ikut merapikan model rambut yang diinginkan. Menjelang Ramadan seperti sekarang ini, banyak warga Muslim yang memotong rambutnya sebagai tradisi.
salon rambut kudus
Purnomo sedang memotong rambut langganannya di salon miliknya Jalan Kampus UMK, Sabtu (28/5/2016).

Purnomo (33) tukang potong rambut di Jalan Kampus UMK Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, menuturkan, jumlah warga yang datang ke tempat cukurnya meningkat. Yang datang tidak hanya orang-orang tua, namun juga kalangan remaja.

“Ini sudah menjadi tradisi. Banyak warga datang untuk dicukur rambutnya, menjelang datangnya bulan Puasa,” ungkap Purnomo kepada Seputarkudus.com, ketika ditemui di tempat dia bekerja, Rabu (1/6/2016).

Purnomo
mengaku sudah 10 tahun menekuni pekerjaan sebagai tukang cukur. Dia mengungkapkan, jumlah warga untuk merapikan rambutnya menjelang Puasa dan Lebaran peningkatannya cukup banyak. “Kalau sudah masuh H-3 Puasa atau Lebaran, sehari bisa (mencukur) 40 orang,”
ungkapnya.

Dia
melanjutkan, hari-hari biasa hanya 25 orang hingga 30 orang yang datang untuk dicukur. Namun saat mendekati Puasa dan Lebaran bisa mencapai 40 orang. “Harga
potong rambut di sini cukup murah, hanya Rp 7 ribu,” ungkapnya.
Selain,
Ramadan dan Lebaran, meningkatnya jumlah orang yang memotong rambut saat peringatan hari-hari besar dan kenaikan kelas. “Kalau di sini
seringnya yang datang laki-laki dewasa dan anak-anak. Karena tidak
biasa memotong rambut perempuan,” ungkapnya.

Gaya Rambut Hardcore

Dia menjelaskan, saat ini kalangan remaja yang datang ke tempat cukur miliknya kebanyakan minta gaya rambut hardcore. Dia menjelaskan, seperti gaya rambut tersebut seperti gaya rambut undercut. Bagian samping dipotong tipis. Bedanya dengan gaya undercut, bagian belakang masih sedikit tebal. Sedangkan gaya hardcore, bagian belakang sama tipis dengan bagian samping. “Model hardcore bagian atasnya dibuat panjang,” ungkapnya.
Purnomo melanjutkan, supaya tampak lebih bagus, gaya rambut hardcore diberi minyak rambut. “Kalau dikasih minyak rambut terlihat rapi dan kinclong,” tambahnya.
Warga Desa Karangbener, Kecamatan Bae, tersebut mengungkapkan, model rambut hardcore secara umum sisi samping dan belakang tipis, dan bagian atas panjang. Namun ada juga yang ingin belakang sedikit ditebalkan. 

“Kadang ada yang bagian atas dipotong lebih tipis. Gaya rambut ini tidak bisa paten, tergantung keinginan pelanggan,” ungkapnya.

- advertisement -

Yanto Geli-Geli Sakit Saat Memasukkan Kakinya di Kolam Terpal Stan Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Jeriken berisi air dijajar di samping kolam terpal berisi ribuan ikan Garra Rufa, di stan Dandangan, Jalan Sunan Kudus, Selasa (1/6/2016). Sejumlah pengunjung tampak mencoba memasukkan kakinya ke dalam kolam tersebut. Yanto (38), satu di antara pengunjung yang mencobanya. Dia terlihat meringis karena merasa geli saat kakinya digigit ribuan ikan.

terapi ikan kudus
Pengunjung mencoba melakukan terapi ikan di stan Dandangan, Jalan Sunan Kudus. Foto: Rabu Sipan

“Aduh, keri, keri. Keri tenan iki, aduh (Aduh geli, geli. Geli beneran ini, aduh)” teriak Yanto saat melakukan terapi ikan di lapak Dandangan.
 
Johan Safri (40), pemilik terapi ikan Doctor Fish menuturkan, terapi ikan miliknya sangat disarankan pada seseorang mengalami susah tidur, tidur tidak nyenyak, merasa lelah, letih dan lesu. Orang yang mengalami masalah tersebut biasanya akan langsung sembuh setelah melakukan terapi.

“Yang susah tidur, dan tidurnya tidak nyenyak biasanya setelah melakukan terapi ikan, malamnya jadi gampang tidur dan tidurnya nyenyak. Sedangkan yang lelah, letih, dan lesu, biasanya setelah diterapi, pagi harinya langsung segar dan bersemangat lagi,” kata pria yang akrab disapa Johan kepada Seputarkudus.com

Menurut Johan, untuk mencoba terapi ikan miliknya para pengunjung tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Pengunjung yang ingin melakukan terapi ikan cukup membayar Rp 5 ribu untuk 10 menit. “Murah meriah, tapi khasiatnya langsung terasa,” tuturnya.
 
Dia mengaku sudah beberapa kali membuka terapi ikan di Dandangan. Selain terapi ikan, dia juga menjual kerajinan tirai terbuat dari kulit kerang, serta menjual berbagai macam boneka. 

“Untuk terapi ikan aku membawa pertama kali pada Dandangan tahun ini. Soalnya Dandangan tahun lalu aku belum memulai usaha ini. Dan kebetulan ada lapak teman yang tidak ditempati, jadi aku sewa dengan harga Rp 1 juta untuk tempat terapi ikan,” ujar pria asal Banyuwangi tersebut.

Johan mengatakan mendapatkan ide mendirikan terapi ikan tersebut dari internet. Lalu mendapatkan ikan Garra Rufa dari Jawa Barat. Di antaranya, Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Dia membeli ikan tersebut seharga Rp 1.500 per ekor.

“Untuk mengisi dua kolamku dibutuhkan biaya sekitar Rp 3 juta.  Jadi keseluruhan modal pertama untuk membuat kolam terapi ikan menelan biaya sekitar Rp 17 Juta,” ungkapnya.

- advertisement -

Ini Rahasianya Kecap THG Tetap Disukai Masyarakat Kudus Setengah Abad Lebih (3-Habis)

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Sajian kuliner khas Kudus seolah tak bisa dipisahkan dari rasa manis Kecap THG. Kecap yang mereknya diambil dari huruf depan nama pendirinya, Tan Hwie Gong, begitu melekat dilidah masyarakat Kudus. Sudah setengah abad lebih kecap asli Kudus ini tetap disukai meski produk kecap banyak membanjiri. Lalu, apa rahasianya?

produksi kecap thg kudus
Karyawan mengemas produk kecap THG di Jalan Lingkar, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di Jalan
lingkar Selatan, Desa Tanjung karang, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di
sebelah barat SPBU Proliman Tanjung Karang, sejumlah pekerja mengemas produk kecap THG. Sorang pria sipit berkacamata tampak mengamati aktivitas para pekerja. Dialah Roni Wibowo (29), cicit Tan Hwie Gong.

(Baca juga: Inilah Sejarah Berdirinya Kecap THG, Kecap Manis yang Melekat di Lidah Orang Kudus (1))

Roni bersedia membuka rahasia kesuksesan usaha yang didirikan kakek buyutnya itu kepada Seputarkudus.com. Rahasianya, kecap THG dibuat dari bahan alami tanpa bahan kimia sama sekali. Bahkan kecap THG juga tidak dicampur MSG (sejenis micin). Oleh karena itu, kecap THG memiliki rasa yang khas dan tetap disukai masyarakat Kudus dan sekitarnya sepanjang masa.

“Makanya aku bingung waktu ada dua orang sales penyedap rasa dengan merek yang berbeda menawarkan barangnya untuk dijadikan campuran pembuatan kecap. Lalu saya katakan pada mereka, ‘kami itu membuat kecap, bukan jualan masakan, kok kamu menawarkan micin?’ saya katakan seperti itu,” katanya.

Tapi, katanya, sales-sales tersebut mengatakan tempat pembuatan kecap yang lain menggunakan campuran micin. “Lalu aku pun berpikir, pantas saja banyak orang yang mudah terkena penyakit. Makanannya saja dicampur dengan bahan yang aneh-aneh,” ujar Roni.

(Baca juga: Di Tangan Perempuan Ini Kecap THG Berkembang Pesat (2))

Roni menjelaskan, kecap THG terbuat dari bahan-bahan alami, komposisinya didominasi kedelai hitam. Kedelai yang digunakan dipilih yang memiliki kualitas bagus, serta butiranya utuh. Itu dilakukan agar mudah saat proses fermentasi. 

“Biasanya kedelai hitam didatangkan dari Juwana, kadang juga dari Jawa timur. Makanya warna kecap THG gak terlalu hitam pekat tetapi agak bening. Itu di karenakan warnanya alami tanpa ditambah pewarna buatan,” tutur Roni.

Sedangkan untuk manisnya, ujar pria lajang itu, kecap THG murni menggunakan gula merah dari kelapa, yang didatangkan dari Kebumen. “Kecap THG itu benar-benar alami tanpa bahan pengawet, tanpa pewarna, tanpa pengental serta tanpa pemanis buatan,” tuturnya.

Dia menambahkan, kecap THG dibuat dengan menjaga kualitas kemurnianya agar cita rasa khasnya terjaga. Itu dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen dengan tidak mencampur dengan bahan-bahan yang mengandung kimia. Karena, menurutnya hal itu berbahaya bagi konsumen.

- advertisement -

Lagu Fajar Merah Menghentak Diskusi Kekerasan Terhadap Perempuan Kopri Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, TAMAN KRIDA – Petikan gitar terdengar pelan saat cajon ditabuh mengawali lantunan lagu “Kebenaran Akan Terus Hidup” karya Fajar Merah, di Aula Taman Krida Kudus Selasa (31/5/2016). Lagu tersebut dilantunkan sebagai pembuka kegiatan talk show antikekerasan terhadap perempuan dengan tema “We Are Rise, Rise for Revolution”. Di tengah lantunan lagu, sautan bait puisi Alim Rois menghentak.

teater gerak 11 pmii k
Teater Gerak 11 sedang menyanyikan lagu Kebenaran Akan Terus Hidup karya Fajar Merah saat Talk Show Anti Kekerasan terhadap perempuan di Taman Krida Kudus, Selasa (31/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Alim menuturkan, Teater Gerak 11 memilih lagu tersebut karena lirik yang diciptakan Fajar Merah sangat sesuai dengan diskusi yang digelar Korp PMII Putri (Kopri) Kudus. Menurutnya, banyak kekerasan terhadap perempuan dikarenakan kemerosotan moral. Selain itu, masyarakat masih memandang wanita sebagai kaum kelas dua. “Pembelajaran moral perlu digalangkan dan kebenaran harus dimunculkan,” ungkapnya.

Fitria Dwi Noor Aini, Ketua Korp PMII Putri (Kopri) pelaksana kegiatan tersebut menuturkan, sekarang marak terjadi kekerasan perempuan dan anak. Media-media gencar memberitakan wanita-wanita diperkosa dan dibunuh. Serta anak-anak yang menjadi korban seksual.

“Kemarin ada media yang memberitakan seorang wanita ditemukan tewas dengan gagang cangkul di kemaluannya. Itu sangat memprihatinkan” ungkapnya.

Menurutnya, perlu ada sebuah pembelajaran moral supaya masyarakat Indonesia dapat terjaga dari tindakan kekerasan. Terutama yang menjadi objek kekerasan yakni perempuan dan anak. “Caranya melalui advokasi terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya.

Pelecehan Bisa Berbentuk Tulisan, Ucapan, dan Gambar

talkshow advokasi kopri pmii kudus
Dari kanan ke kiri, Eni Mardiyanti, Moh. Widjanarko, Rahayu, Wahyu, saat menjadi narasumber dalam diskusi yang digelar Korp PMII Putri Kudus. Foto: Imam Arwindra

Wahyu, aktivis Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus mengungkapkan, bentuk-bentuk kekerasan perempuan dan anak bukan hanya kekerasan fisik atau psikis saja, melainkan juga kekerasan seksual, penelantaran, dan eksploitasi. “Pelecehan melalui ucapan, tulisan, gambar, simbol atau gerakan tubuh yang membuat orang lain tidak nyaman pun termasuk kategori pelecehan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, dampak yang dihasilkan bisa menimbulkan rasa sakit, jatuh sakit, luka berat, ketakutan, hilangnya rasa percaya diri hingga menderita penyakit mental. “Kita harus bersama-sama mengawal isu perempuan dan anak,” tambahnya.

Mochamad Widjanarko, pakar psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) menuturkan, dalam mengawal isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, sudah tidak samannya lagi menggunakan cara membuat seminar atau talk show yang bermuatan sosialisasi.

Menurutnya, cara tersebut sudah tidak efektif. Alangkah lebih baik, aksi dilakukan dengan mendatangi perkumpulan-kumpulan RT yang biasanya banyak lelaki berkumpul. Selanjutnya, bisa dijelaskan akibat dari melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Seperti yang sudah berjalan di Semarang. Kami masuk ke perkumpulan RT dan menjelaskan tentang akibat dari melakukan kekerasan. Kalau perlu ajak polisi untuk menjelaskan pidananya,” jelasnya.

- advertisement -

Ratusan Siswa di Kudus Rela Diguyur Hujan Demi Pancasila

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Ratusan anak mengenakan seragam putih hitam memegang Bendera Merah Putih di tangannya. Di tengah guyuran hujan lebat, mereka tampak riang dan bersemangat menuju Lapangan Gelanggang Pancasila Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (31/5/2016). Anak-anak tersebut akan mengikuti apel menyambut Hari Lahir Pancasila.

hari lahir pancasila kudus
Sejumlah anak tetap bersemangat di tengah guyuran hujan menuju Lapangan Gelanggang Pancasila Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (31/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Rismatul Khoiriyah (13), satu dari ratusan anak yang mengikuti acara menyambut Kelahiran Pancasila itu. Siswi Madrasah Diniyah Miftahul Tholibin, Mejobo tersebut berkata sangat bersemangat meski diguyur hujan. Dia mengaku hafal lima sila dalam Pancasila dan siap melafalkan bersama rekan-rekannya di lapangan. Dia juga tak sabar ingin membaca ikrar kesetiaan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
“Sudah lama saya hafal Pancasila. Meski hujan tidak masalah, yang penting ikut upacara untuk menyambut Hari Kelahiran Pancasila,” ungkapnya.
 
Sebelum apel digelar, kegiatan yang diadakan Yayasan Nusantara Satu Kudus dan Gerakan Pemuda Ansor Kudus melakukan kirab membawa Bendera Merah Putih dari pertigaan Masjid Besar Al-Ma’wa menuju Lapangan Gelanggang Pancasila Mejobo.
 
Sarmanto, Ketua Ansor Kudus menuturkan, selain menyambut Hari Lahir Pancasila dan pembacaan ikrar kesetiaan Pancasila dan NKRI, kegiatan ini juga memperingat Haul Eyang Suryo Kusumo dan Maulidur Rasul SAW.
 
“Kegiatan ini ada tiga agenda. Kirab Bendera Merah Putih dan apel, bazar dan pengajian umum yang dihadiri oleh Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya,” ungkapnya.

Siswa Dilibatkan untuk Menanamkan Kecintaan pada Pancasila

Dia menambahkan, kegiatan kirab merah putih diikuti oleh Ansor, IPNU, IPPNU, PMII, Fatayat serta siswa-siswa sekolah maupun Taman Pendidikan Al-Quran. “Siswa-siswa kami libatkan agar kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI tertanam dalam diri mereka sejak dini,” tambahnya.
 
Menurutnya kegiatan ini sangat penting, karena saat ini marak kelompok yang mengusung idiologi non-Pancasila yang berpotensi menggerus NKRI. “Setelah kegiatan ini, kami berharap masyarakat dapat ikut serta dalam menjaga Pancasila sebagai dasar negara,” jelasnya.
 
Sarmanto memberitahukan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut intruksi Pimpinan Ansor Pusat. Dia menuturkan, Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Pusat mengintruksikan kepada pimpinan daerah dan wilayah untuk melakukan apel kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI.
 
Dalam poin keempat ikrarnya, Sarmanto menuturkan pengamalan Pancasila merupakan upaya masyarakat Islam Indonesia menjalankan perintah agama. “Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan wujud dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan agamanya,” ungkapnya.

- advertisement -

Di Tangan Perempuan Ini Kecap THG Berkembang Pesat (2)

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi Jalan Lingkar Selatan Kudus, tepatnya di sebelah barat SPBU Proliman Tanjung Karang, terparkir beberapa truk. Di depannya ada sebuah gerbang sebagai pintu masuk ke dalam bangunan dua lantai berwarna putih. Bangunan tersebut tak lain tempat produksi kecap THG yang cukup legendaris di Kudus. Selain tempat produksi, bangunan itu juga ditinggali Liem Kina (80), yang berhasil membuat industri kecap manis tersebut berkembang pesat.

pendiri kecap THG Kudus
Liem Kina (80) atau Sukinah, penerus usaha kecap manis merek THG, berpose bersama cucunya, Roni Wibowo. Foto: Rabu Sipan

    
Liem Kina yang memiliki nama Jawa Sukinah, merupakan generasi kedua usaha pembuatan kecap manis merek THG. Setelah memegang usaha yang diwariskan ayahnya, Tan Hwi Gong, usaha kecap THG berkembang hingga ke seluruh wilayah di Jawa Tengah, khususnya di Kudus dan sekitarnya. 

(Baca juga: Inilah Sejarah Berdirinya Kecap THG, Kecap Manis yang Melekat di Lidah Orang Kudus (1))

Roni wibowo (29), cucu Sukinah, menuturkan, neneknya tersebut merupakan anak pertama kakek buyutnya yang telah mendirikan usaha pembuatan kecap THG sekitar tahun 50-an. Sukinah mulai mengelola usaha kecap THG pada tahun 80-an. Di tangan Sukinah usaha pembuatan kecap THG berkembang dan mulai dikenal di luar Kudus, di antaranya Jepara, Demak, Semarang, Grobogan, serta Pati.

“Saat ini penjualan kecap THG paling banyak terjual di Kudus, Jepara dan sekitarnya. Semarang sebenarnya juga banyak. Tetapi memang kami belum bisa memproduksi dalam jumlah banyak. Paling hanya beberapa tempat yang kami penuhi permintaanya,” kata pria yang biasa disapa Roni kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Menolak Permintaan Kecap THG dari Luar Jawa

Dia mengungkapkan, selain wilayah sekitar Kudus, sebenarnya ada beberapa orang dari Jogja, Mediun, Bali, bahkan Kalimantan, pernah menawarkan untuk menjadi distributor kecap THG. Tetapi karena kapasitas produksi masih terbatas, serta kadang bahan baku terutama gula aren sulit didapat, tawaran itu ditolak.

Roni menjelaskan, dari awal fermentasi kedelai hitam sampai proses pengemasan kecap THG, memerlukan waktu sekitar sepekan. Harga satu botol kecap THG saat ini dibanderol Rp 15 ribu, tak termasuk botol. Harga tersebut naik Rp 1 ribu dibanding bulan lalu.

“Di banding bulan lalu memang harga kecap THG lebih mahal seribu Rupiah. Itu dikarenakan harga gula aren juga naik. Bahkan untuk bulan ini saja harga gula aren sudah naik dua kali,” ujar pria yang masih lajang tersebut.

(Baca juga: Ini Rahasianya Kecap THG Tetap Disukai Masyarakat Kudus Setengah Abad Lebih (3-Habis))

Roni mengatakan para pekerja di tempat usaha pembuatan kecap THG saat ini merupakan warga Kudus yang berdomisili di sekitar tempat produksi kecap THG. “Para pekerja digaji sesuai UMK (Upah Minimum Kabupaten). Setiap tahun Disnaker (Dinas Tenaga Kerja) juga selalu datang mengecek untuk itu,” ungkap Roni.  

- advertisement -

Yuli Berteriak Ketakutan Melihat ‘Pocong’ dan ‘Kuntilanak’ di Acara Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Sebuah bangunan tinggi tak jauh dari Swalayan ADA kudus tampak sunyi, Senin (30/5/2016) malam. Setiap sudut ruangan terlihat gelap. Sesekali terdengar suara teriakan wanita dari dalam. Selain itu tercium aroma dupa sangat tajam. Beberapa perempuan tampak bergandengan melewati lorong-lorong di ruangan tersebut. Bangunan tersebut bernama Gua Mangleng, sebuah wahana rumah hantu di acara Dandangan.

wahana permainan Dandangan Kudus
Sejumlah pengunjung akan memasuki wahana Gua Mangleng di acara Dandangan, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Raut muka Yuli, pengunjung di Gua Mangleng, tampak pucat saat keluar dari ruangan. Dia tampak ketakutan, dan memegang erat tangan rekannya. Dia menuturkan, suasana ruangan sangat gelap dan mencekam. Dia melihat pocong dan kuntilanak di dalam. “Serem pokoknya,” ungkap dia sambil memegang tangan temannya.

Berbeda dengan rekan Yuli,  Fitri justru mengaku tidak takut ketika masuk Gua Mangleng. “Biasa saja. Ini saja si Yuli penakut sambil teriak-teriak lagi,” ungkap Fitri mencemooh Yuli.

Fitri menjelaskan, tadi di dalam ruangan dia juga melihat anak kecil yang menarik-narik bajunya. Dia tahu anak kecil itu bukan hantu. “Selain ada pocong dan suara yang menyeramkan, juga ada anak-anak kecil yang menarik-menarik baju,” jelasnya.

Gua Mangleng merupakan wahana permainan yang berada di barat Swalayan Ada. Ferry, pekerja di wahana Gua Mangleng menuturkan, wahana ini seperti rumah hantu. Suasana dibuat mistis dan menakutkan. “Ada beberapa miniatur pocong dan kuntilanak. Selain itu, kami menambahkan suara teriakan wanita dan kuntilanak serta aroma dupa supaya kesannya menakutkan,” jelasnya.

Ferry menuturkan, di tradisi Dandangan dia bersama empat temannya datang dari Semarang. Dia mengaku setiap tahun datang ke Kudus saat tradisi Dandangan berlangsung. “Setiap tahun ketika ada Dandangan kami selalu tidak ketinggalan. Bersama teman-teman mendirikan wahana Gua Mangleng,” tambahnya.

Dia memberitahukan, untuk masuk wahana Gua Mangleng pengunjung harus morogoh kocek Rp 8 ribu per orang. “Harga tiketnya Rp 8 ribu untuk sekali masuk,” ungkapnya.

Wahana Permainan di Acara Dandangan

wahana permainan dandangan kudus
Istana Anak, satu di antara beberapa wahana permainan yang ada di acara Dandangan, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Ferry melanjutkan, selain Gua Manglemh juga ada wahana komedi putar yang biasanya diminati oleh anak-anak. Di sebelah Gua Mangleng juga ada tong setan. Pengunjung akan diperlihatkan pertunjukan orang menaiki motor di dalam tong.

(Baca juga: Biker Tong Setan Dandangan Kudus Tak Kapok Meski Pernah Terjatuh) 

“Di sebelahnya juga ada kora-kora. Bentuknya seperti perahu yang nanti akan berjalan naik-turun. Yang ini cukup ekstrim. Hati-hati yang punya sakit jantung,” tuturnya.

Ferry melanjutkan, ketika naik bianglala pengunjung akan menemukan sensasi keindahan kelap-kelip lampu kota Kudus. “Biasanya yang naik anak-anak muda yang sedang kasmaran” ungkapnya.

Selanjutnya, ada Istana Anak yang berbahan karet lentur yang berisi udara. Menurutnya, permainan ini sangat aman untuk anak-anak. Terakhir helikopter putar dan kereta putar. Dia mengatakan, rata-rata harga tiketnya antara Rp 5 ribu hingga Rp 8 ribu.

- advertisement -

Saat Semua Semringah, Faiq Justru Merunduk Saat Dilantik Menjadi PC PMII Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, @HOM – Satu per satu nama mereka yang dipanggil berjalan menuju panggung utama. Mereka berbaris rapi di depan tamu undangan yang hadir di lantai tiga hotel @Hom Kudus. Dengan mengenakan jas warna biru, mereka bersiap untuk dilantik menjadi Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Kudus masa khidmat 2016/2017, Senin (30/5/2016).
pmii kudus
Prosesi pelantikan Pengurus Cabang PMII Kudus di Hotel @Hom, Senin (30/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Teks baiat mulai diucapkan Ibnu Ngakil Ketua Kordinator Cabang PMII Jawa Tengah. Muka mereka tampak semringah. Namun seorang laki-laki bertubuh gemuk dibarisan depan tampak merunduk selama prosesi pelantikan.

Laki-laki tersebut yakni Muhammad Faiq. Dia mengaku saat pelantikan dia merasa menanggung beban yang luar biasa. Jabatan Ketua II menangani Bidang Eksternal yang diembannya, merupakan amanah berat yang harus dijalankannya.

“Amanah yang diberikan kepada saya sangat berat sebagai Ketua II PMII Cabang Kudus,” ungkapnya.
Dia menceritakan, sebelum masuk kepengurusan cabang dia menjabat sebagai Ketua Komisariat PMII Sunan Kudus, di STAIN Kudus. Setelah selesai, dia diminta untuk menjadi Pengurus Cabang PMII Kudus.
“Dulu saat di komisariat saya merasakan beban cukup berat. Karena ini naik level di tingkat kabupaten, mungkin lebih berat lagi,” tambah dia yang masih kuliah Jurusan Pendidikan Agama Islam STAIN Kudus.
Iqbal Abdul Rouf, Ketua Umum Cabang PMII Kudus usai dilantik menuturkan, ada dua kepengurusan yang dilantik. Pengurus Cabang PMII Kudus sejumlah 27 orang dan Pengurus Korp PMII Putri (Kopri) Kudus ada 14 orang.
“Tema yang angkat yakni ‘Revitalisasi Peran Alumni PMII dalam Kaderisasi dan Distribusi Kader di Era Persaingan Global’. Saya rasa tema ini sangat pas,” ungkapnya.
Kopri pmii kudus
Prosesi pelantikan Kopri PMII Kudus di Hotel @Hom, Senin (30/5/2016). Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, pemilihan tema tentang peran alumni dalam proses kaderisasi saat ini sangat penting. Kader PMII harus dipetakan potensinya supaya dalam proses kaderisasi PMII di Kudus jelas. “Caranya mungkin dengan menginventaris alumni-alumni PMII Kudus yang sudah konsen di keilmuan atau profesi,” ungkapnya.

Iqbal menjelaskan, potensi-potensi tersebut di antaranya akademisi, politisi, jurnalis, wirausahawan, birokrat dan yang lainnya. “Dengan berbagai macam pos strategis, kaderisasi di rayon dan komisariat akan merata. Intinya tentang leading sector,” ungkapnya.

- advertisement -

Lelaki Tua Ini Sempoyongan Berjalan Kaki Belasan Kilometer Menjual Kemoceng

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Lelaki tua berkaus biru berjalan sempoyongan menyusuri deretan stan-stan Dandangan, Jalan Sunan Kudus. Di pundak dan tangannya terdapat beberapa kemoceng. Sesekali dia beristirahat  di stan pedagang yang masih kosong untuk sekadar melepas lelah. Tasrikan (90), pria asal Welahan, Jepara, itu harus berjalan kaki belasan kilometer tiap hari hanya untuk menjual kemoceng yang dibawanya.  

penjual kemoceng
Tasrikan (90), beristirahat di bawah tenda stan Dandangan, Jalan Sunan Kudus. Tiap hari dia harus berjalan kaki belasan kilometer untuk menjual kemoceng. Foto: Rabu Sipan

Dia bercerita, dirinya naik angkot dari Jepara hingga di Desa Jember, Kecamatan Kota. Dari Jember dia berjalan kaki untuk menjajakan kemoceng yang dijual. Kebetulan, saat ini digelar tradisi Dandangan. Dia menawarkan kemoceng kepada pengunjung yang datang di acara tersebut.

“Sudah keliling-keliling dari tadi pagi, tapi baru laku dua,” uajar Tasrikan sambil memijit-mijit kakinya saat istirahat di bawah tenda stan Dandangan, Senin (30/5/2016). 

Tasrikan membuat sendiri kemoceng-kemoceng itu. Biasanya dia berjualan keliling di wilayah Jepara. Karena saat ini ada tradisi Dandangan, dia datang ke Kudus. Dia sengaja datang siang hari, karena even tersebut mulai ramai saat sore dan malam.

“Aku sengaja datang siang soalnya Dandangan kan ramainya sore dan malam. Tetapi aku jualannya tidak sampai malam, paling sampai pukul 17.00, “ kata Tasrikan kepada Seputarkudus.com

Tasrikan mengatakan, ada yang terjual atau tidak kemoceng yang dia bawa, dia tetap pulang ke Welahan. Karena di Kudus tidak dirinya tak memiliki kerabat, jadi tidak ada tempat untuk menginap.

Tasrikan menjual kemoceng dengan harga Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu, tergantung panjang atau pendek gagang kemoceng. “Aku berharap ada pedagang yang mau memborong atau menampung kemoceng saya, supaya tidak berjualan keliling lagi,” katanya penuh harap.

- advertisement -

Inilah Sejarah Berdirinya Kecap THG, Kecap Manis yang Melekat di Lidah Orang Kudus (1)

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Lidah masyarakat Kudus sangat akrab dengan rasa manis kecap ini. Sajian kuliner khas Kudus terasa tak lengkap tanpa botol berlabel siter warna kuning oranye, bertulis Kecap THG. Kecap tersebut didirikan sekitar tahun 50-an, oleh seorang warga Tiong Hoa bernama Tan Hwi Gong. Huruf depan pendiri kecap termasyhur di wilayah Kudus dan sekitarnya itu, kemudian dijadikan merek.  

kecap thg kudus
Sejumlah karyawan mengemas produk Kecap THG di Jalan Lingkar Selatan, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

Suasana siang di sebuah bangunan terletak di Jalan Lingkar Kudus, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, tampak ramai. Sejumlah perempuan berkaus putih mengenakan celemek tampak sibuk menuangkan cairan kecoklatan ke dalam botol. Sementara sejumlah laki-laki memasukkan botol-botol ke dalam kerat. Aktivitas itu dilakukan karyawan di dalam pabrik pembuatan kecap THG.

Di belakang tempat produksi, seorang pria berkacamata tengah berbincang dengan seorang nenek. Pria tersebut bernama Roni Wibowo (29), yang tak lain cicit Tan Hwi Gong, pendiri kecap THG.

Dia menuturkan, kakek buyutnya mendirikan kecap THG sekitar tahun 50-an, Sleko, Jalan Pemuda, Kudus. Pada waktu itu di Kudus belum mengenal kecap. Lalu kakek buyutnya membuat kecap yang diadopsi dari Tiongkok, negara asal luluhurnya . “ Kecap itu asalnya dari Tiongkok. Di negara asalnya, kecap ditulis kee tjiap,” ujarnya kepada Seputarkudus.Com, beberapa waktu lalu.

(Baca Juga: Di Tangan Perempuan Ini Kecap THG Berkembang Pesat (2))

Awal Dibuat Kecap THG Memiliki Rasa Asin

Pada awal pembuatan kecap THG, rasa di samakan dengan kecap yang ada di Tiongkok, rasanya asin. Kecap THG pada awal didirikan memiliki logo berwarna biru. Kecap THG rasa asin di Kudus banyak diminati masyarakat Tionghoa, tetapi belum diminati masyarakat pribumi.

“Karena itulah, kakek saya berfikir untuk membuat kecap yang sesuai dengan lidah orang pribumi yang kebanyakan menyukai rasa manis,” tutur Roni.

Dia menjelaskan, rasa manis kecap THG diperoleh dari gula aren. Setelah merubah citarasa, warna logo juga diganti dan dipertahankan hingga saat ini. “Dengan berjalanya waktu kecap THG dengan rasa asin tidak diproduksi lagi,” kata pria yang menyukai rasa manis tersebut.

Meskipun kecap THG memiliki rasa manis sesuai dengan lidah orang Jawa, khususnya Jawa Tengah, namun uasaha pembuatan kecap THG baru berkembang pesat sejak dikelola anak pertamanya, yang bernama Liem Kina, yang mempunyai nama Jawa, Sukinah (80).

(Baca juga: Ini Rahasianya Kecap THG Tetap Disukai Masyarakat Kudus Setengah Abad Lebih (3-Habis))

- advertisement -