Beranda blog Halaman 1961

Kisah Teladan (1), Muslim yang Merugi dan Nasrani yang Beruntung

0

SEPUTARKUDUS.COM – Dikisahkan, suatu hari pada bulan Muharam ada seorang pengemis datang kepada seorang Muslim yang dikenal sangat kaya. Muslim tersebut tinggal di sebuah kota bernama Ray. Pengemis tersebut datang bermaksud untuk meminta kemurahan hati orang Muslim yang memiliki harta berlimpah tersebut.

“Tuan, semoga Allah memuliakanmu. Saya orang yang miskin, datang kepadamu meminta kemurahanmu, tolonglah aku. Demi kebesaran dan kemuliaan hari ini, kiranya tuan bermurah hati memberi saya beberapa potong roti, daging, dan uang dua dirham,” ujar peminta-minta itu kepada seorang Muslim yang kaya raya.

Lalu si kaya tersebut berkata, “datanglah kembali nanti saat Dzuhur.” Si pengemis tadi kemudian pergi meninggalkan rumah si kaya. Lalu saat waktu Dzuhur datang, pengemis kembali datang ke rumah orang Muslim yang kaya di Kota Ray.

“Tuan, saya datang kembali untuk meminta apa yang telah engkau janjikan,” kata si miskin memohon. “Datanglah kembali nanti saat waktu Ashar tiba,” kata si kaya yang lagi-lagi hanya memberi janji kepada pengemis itu.

Si pengemis pun meninggalkan rumah Muslim kaya dengan hati yang penuh kecewaan. Dia sangat berharap, orang kaya itu akan memenuhi janjinya saat dia kembali saat Ashar nanti. Setelah waktu Ashar tiba, dia kembali datang menagih janji kepada si kaya. Namun, apa hendak dikata, orang Muslim kaya tadi tidak memberikannya apa-apa.

Dengan perasaan kecewa yang mendalam, si miskin terpaksa meninggalkan rumah si kaya tanpa membawa apa yang dia harapkan. Ketika ia berjalan meninggalkan rumah si kaya, dia melihat ada seorang Nasrani yang tengah duduk di depan rumah.

“Tuan, demi kebesaran dan kemurahan hari ini, berilah saya sesuatu yang bisa engkau berikan padaku,” ujar si miskin kepada orang Nasrani tersebut. 

“Hari apakah ini hai fulan,” tanya Nasrani tersebut kepadanya. Lalu dijawab, “hari ini hari Asyura tuan,” kata si miskin. Lalu dia menyebut beberapa kebesaran hari Asyura.

“Hai fulan, sebutkanlah apa yang engkau minta, akan aku memenuhinya karena kamu telah meminta dengan kebesaran hari Asyura,” ujar orang Nasrani. Si miskin lalu menyebut hajat yang ia harapkan, sama dengan apa yang dia minta dari orang Muslim kaya raya tadi.

Nasrani itu kemudian memberinya sepuluh karung gandum, daging dan 20 dirham uang. “Datanglah kamu ke sini setiap bulan, akan aku berikan kepadamu sama seperti yang telah aku berikan kepadamu hari ini,” kata Nasrani tersebut. Si miskin lalu pulang ke rumahnya dengan hati yang sangat bergembira.

Sementara itu, si Muslim kaya raya tadi bermimpi dalam tidurnya pada suatu malam. Dia mendengar ada suara, “angkat kepalamu,” lalu si kaya mengengkat kepalanya. Dia melihat sebuah gedung yang tinggi, temboknya dibangun dari emas dan perak. 

“Untuk siapa gedung-gedung ini Tuhan,” tanya si kaya dalam mimpinya. “Untuk orang Nasrani yang telah memenuhi hajat si miskin yang telah datang kepadmu tapi tak kau beri apa-apa. Tadinya gedung ini untukmu, tapi kau menyia-nyiakannya.”

Setelah terbangun, dia bergegas ke rumah orang Nasrani. Dia menceritakan apa yang ada dalam mimpinya. Dia lalu meminta si Nasrani untuk menjual amal yang telah dia lakukan pada si miskin dengan uang seratus ribu dirham, namun Nasrani menolaknya.

“Saya tak akan menjualnya, meski dengan seluruh apa yang ada di bumi ini,” ujar Nasrani kepada si kaya. “Tapi kamu bukan Muslim, amal itu tak akan engkau dapatkan,” ujar si kaya. Tiba-tiba si Nasrani melepas salibnya dan mengucap dua kalimat sahadat. (Wallahu A’lam

- advertisement -

10 Tahun Samidi Berjalan Kaki Jual Sapu Ijuk Demi Hidup Keluarganya di Temanggung

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA – Seorang pria mengenakan baju lengan panjang berwarna putih,
bertopi merah tampak berjalan sambil memikul sapu ijuk pembersih sawang. Dia
berjalan memasuki sebuah gang menuju perkampungan padat penduduk  menawarkan sapu ijuk yang dia jual. 

sapu sawang

Samidi (45), nama pria tersebut. Dia berjalan puluhan kilometer keluar masuk gang dan kampung-kampung di Kudus untuk  mencari rezeki demi keluarganya di Temanggung.

Samidi menuturkan, sudah 10 tahun berjualan sapu ijuk di
Kudus. Sejak dari dulu sampai sekarang masih tetap berjalan
kaki saat menjajakan barang dagangannya. Tiap hari dia berjalan puluhan kilometer, dari satu ke rumah yang lain,
keluar masuk kampung dan gang, sampai sapu ijuk yang dia bawa habis terjual.
“Setiap berkeliling aku membawa 25  batang sapu ijuk, dan seringnya pukul 15.00 WIB sapu ijuk yang aku bawa sudah habis terjual,” ungkap Samidi kepada
seputarkudus.com, belum lama ini.

Samidi mengatakan, sapu ijuknya
dia jual seharga Rp 10 ribu sampai Rp 13 ribu. Dalam sehari dia mengaku mendapatkan uang sekitar
Rp 250 ribu.  “Mungkin hasilnya akan beda kalau berjualan membawa sepeda motor. Tapi sayangnya saya tidak punya motor di Kudus. Kalau membawa motor dari Temanggung ke Kudus saya tak berani,” katanya.

Samidi mengatakan, datang ke Kudus membawa 200 batang sapu
ijuk, dan biasanya sekitar delapan sampai sepuluh hari sudah habis. Setelah
semua sapu ijuknya terjual, samidi pulang ke Temanggung untuk mengambil sapu ijuk
lagi.

“Aku senang berjualan di Kudus. Selain laris, jarak satu
kampung ke kampung yang lain tak jauh, kampung-kampungnya pun padat penduduk. Selain itu warganya juga
baik hati, bahkan aku dikasih numpang gratis di sebuah rumah oleh seorang
warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati,” ungkapnya sambil tersenyum.  
   
- advertisement -

Tarwan Kurang Yakin Berpuasa Jika Tak Mendengar Tabuh Bedug dari Menara

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Puluhan orang terlihat memakirkan motornya di depan
Menara Kudus. Beberapa di antaranya yang keluar masuk area Masjid Al-Aqsa, ada pula yang duduk di aula. Sesekali mereka
melihat ke atas Menara untuk memastikan sesuatu. Tradisi menunggu tabuh bedug yang berbunyi “dang dang” sejak masa Sunan Kudus yang kemudian disebut Dandangan, masih tetap dilakukan masyarakat.
dandangan menara kudus

Tarwan (40), satu di antaranya mengaku datang ke Menara Kudus
sejak pukul 12.00 WIB. Dia menuturkan, melihat ke atas Menara karena ingin memastikan
suara bedug dari atas Menara. Dia ingin tahu, apakah bunyi “dang dang” sebagai
penanda dimulainya Ramadan sudah terdengar.

“Dari siang saya sudah di Menara, ingin
mendengarkan tabuh bedug penanda besok puasa atau tidak. Namun sampai pukul
19.00 bedug belum juga dipukul,” ungkap Tarwan, Minggu (5/6/2016).

Dia yang datang dari Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati,
Kabupaten Kudus, mengaku sengaja 

menunggu karena ingin mendengar langsung
pengumuman dimulainya puasa Ramadhan dari Menara Kudus. Menurutnya, dia merasa kurang yakin jika informasi mengawali
hari puasa tidak langsung dari Menara. “Sudah setiap tahun saya ke Menara untuk
menunggu pengumuman dimulainya puasa. Kalau tidak langsung dari Menara rasanya
tidak mantab,” tuturnya.
Tarwan mengaku tidak masalah menunggu lama tabuh bedug dilakukan. Dia
merasa di awal puasa harus membiasakan diri untuk sabar. “Tidak masalah jika
menunggu lama, ini kan mau puasa. Jadi
harus terbiasa sabar,” ungkapnya.
Tarwan menuturkan, selain dirinya, ada juga warga dari Pati dan
Demak yang menunggu tabuh bedug Menara. “Dari luar Kudus banyak yang datang. Ada
dari Pati, Demak dan daerah sekitar Kudus,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, jumlah hari di bulan Sya’ban tahun 2016 ada
29. Tahun-tahun lalu, 30 hari. Menurutnya, mungkin ini yang menyebabkan
bedug tidak segera ditabuh. “Tahun lalu di bulan Sya’ban ada 30 hari. Sekitar pukul
15.00 WIB sudah ditabuh,” jelasnya.
Tarwan menceritakan, pukul 14.00 WIB dia sudah bertanya
tukang kebun di Menara Kudus. Namun kata tukang kebun masih menunggu pengumuman dari
yang berwenang. “Sampai Menara saya sudah tanya tukang kebun, katanya belum
tahu. Masih menunggu dari yang berwenang,” ungkap dia kepada
Seputarkudus.com.
Pengurus masjid Al-Aqsa Menara Kudus, Fakhrudin menuturkan, penetapan
awal puasa mengikuti keputusan dari Pemerintah Indonesia. “Karena kita
punya pemerintah, ya harus mengikuti pengumuman dari Pemerintah saja,” ungkap dia
ketika ditemui seusai Solat Tarawih.
Dia mengungkapkan, hari Senin (6/6/2016) sudah dimulai
puasa. Untuk penabuhan bedug sekitar pukul 23.30 WIB di atas Menara. Fakhrudin menuturkan, sudah sejak masa Sunan Kudus pengumuman
awal puasa menggunakan media tabuh bedug. Orang-orang dari
berbagai daerah kumpul di depan masjid untuk menunggu pengumuman dimulainya
Ramadan. 
“Sekarang pun masih ada kebiasaan menunggu pengumuman di depan Masjid
Menara. Dan tradisi tabuh bedug untuk memberitahukan awal dimulainya puasa sampai sekarang masih ada,” jelasnya. 

- advertisement -

Kudus Street Art, Wadah Bagi Para Pelaku Seni Graffiti Dan Mural

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Pria berkaus putih dan berkaca mata begitu terampil menyemprotkan cat pada papan hitam, di Kopi Cilik, Sunggingan, Kota, Kudus, belum lama ini. Meskipun di kanan dan kirinya ada puluhan orang yang tengah menonton, Satrio (22) nama pria tersebut tetap asyik menyemprotkan cat hingga terbentuk sebuah obyek. 

Dia merupakan satu dari sekian pelaku seni graffiti dan Mural dari Semarang, yang didatangkan ke Kopi Cilik oleh sebuah komunitas yang bernama Kudus Street Art.

Satrio menuturkan, pada acara yang diselenggarakan Kudus Street Art, Sabtu (4/6/2016) tersebut, dia ingin menggambar sebuah obyek yang berbentuk Chameleon dengan menggunakan cat Pilox. “Chameleon itu seekor bunglon besar yang mengingatkan sebuah karakter, agar kita bisa menjadi orang yang bersahaja, dan bisa menyesuaikan diri dimanapun kita berada,” ujar Satrio kepada Seputarkudus.com.

Menurut Danang (22) satu di antara anggota Kudus Street Art dan sekaligus panitia acara tersebut menuturkan, komunitasnya memang rutin mengadakan sebuah acara minimal tiga bulan sekali. Sedangkan untuk acara malam itu yang bertema Spray Vacation, selain para anggota komunitas Kudus Street Art beriuran juga didukung sponsor.

Danang menjelaskan Kudus Street Art di bentuk pada tahun 2012 dengan tujuan untuk mewadai para pelaku seni street art yang meliputi dari seni mural dan graffiti di Kudus. Yang membedakan antara graffiti dan mural itu selain dari cara serta bahan untuk menggambar, juga karakter dari gambar tersebut.

“Kalau graffiti itu lebih ke seni jalanan dan hasil gambarnya membentuk sebuah obyek serta menuangkan karakter dari  pelaku seni tersebut. Sedangkan mural itu, gambar yang mengusung sebuah konsep dan pesan tertentu,” ujarnya. 

Selama ini Kudus Stret Art belum mempunyai besecamp tetap, biasanya anggota berkumpul di rumah satu di antara anggota komunitas, atau berkumpul di kafe. Anggota Kudus Street Art setiap bulan mengeluarkan iuran untuk kas sebesar Rp 5 ribu.

“Waktu pertama didirikan Kudus Street Art beranggotakan 15 0rang, sedangkan sekarang anggota Kudus Street Art berjumlah sekitar 40 0rang yang kebanyakan mahasiswa,” kata Danang.     

- advertisement -

Bidadari Sendang Kaliwungu Tebar Senyuman Menjelang Ramadan

0
kirab Dandangan kudus
Peserta Kirab Visualisasi Dandangan dari Desa Kaliwungu tampil di depan penonton, di Alun-alun Simpang Tujuh. Foto Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Dua gadis ayu menebar senyum ke orang-orang yang hadir dalam Kirab Visualisasi Dandangan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus Minggu (5/6/2016) sore. Keduanya mengenakan baju dominan warna ungu, dan duduk di atas replika gua. Dua gadis tersebut digambarkan sebagai bidadari Sendang Kaliwungu.

Menurut Solhadi, peserta kirab asal Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, dua gadis yang berperan sebagai bidadari itu bernama Lisa dan Nailis. Menurutnya, Desa Kaliwungu ingin menampilkan potensi wisata yang ada di Kaliwungu, yakni Sendang Kaliwungu. Menurutnya, Sendang Kaliwungu termasuk wisata di Kabupaten Kudus yang perlu dikunjungi.

“Selain tempatnya indah juga banyak sejarah yang bisa digalih di Sendang Kaliwungu,” tambahnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasiyanto menuturkan, kegiatan Visualisasi Dandangan ini digelar sebagai penanda masuknya Bulan Ramadan 1437 H. Dia memberitahukan, peserta yang mengikuti kirab yakni lembaga pendidikan di Kudus, seniman dan budayawan. “Yang ketiga pelaku budaya dari Desa wisata se-Kabupaten Kudus,”tambahnya.

Dalam sambutannya, Bupati Kudus Mustofa menuturkan, kegiatan Visualisasi Dandangan ini tidak hanya dimaknai sekedar seremonial, melainkan menjadi bahan renungan dan instropeksi diri.

“Adat Dandangan jangan dimaknai sekadar seremonial saja dengan menabuh beduk pertanda puasa akan dilaksanakan. Melainkan menjadi bahan renungan dan instropeksi diri. Terpenting ialah tawaduk kepada sesepuh, terkhusus mengabdi kepada bangsa dan negeri,” ungkapnya.

Dia menambahkan, Kudus memiliki potensi budaya dan wisatanya luar biasa. Dia mengajak masyarakat luar Kudus untuk datang.  “Jangan hanya mendengar, datanglah ke Kudus, lihatlah ke Kudus, rasakanlah Kudus. Setelah itu, ceritakanlah kepada sanak saudara bahwa Kudus menjadi inspirasi untuk kita semua,” ungkapnya.

 

- advertisement -

Raudlatuth Tholibin, Ponpes yang Didirikan KHR Asnawi pada Masa Penjajahan Belanda

0

SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Bangunan bertingkat dengan dinding bercat hijau berdiri tak jauh dari Polytron, tampak beberapa pria memakai peci asik mengobrol sambil memegangi sebuah kitab. Bangunan yang terletak di Jalan Kiai Haji Raden (KHR) Asnawi, Dukuh Bendan, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus, itu merupakan Ponpes Raudlatuth Tholibin. Ponpes tersebut didirikan KHR Asnawi, pejuang kemerdekaan sekaligus kiai pendiri Nahdhatul Ulama (NU).

ponpes raudlatuth tholibin kudus

KH Hafid Asnawi (67) cicit dari KHR Asnawi menuturkan, Ponpes Raudlatuth Tholibin didirikan kakek buyutnya pada tahun 1927, di atas tanah wakaf dari bapak mertuanya yang bernama KH Abdullah Faqih. Pendirian pondok tersebut didukungan para saudagar dan para dermawan Muslim di Kudus, yang saat itu masih dalam masa penjajahan Belanda.

“Mertua beliau berharap dengan mendirikan Ponpes, KHR Asnawi bisa menyebarkan Aqidah Ahlusunah Wal Jamaah tanpa harus berkeliling dari daerah satu ke daerah yang lain,” ujar Kiai Hafid Asnawi kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Namum kenyataanya, kata Kiai Hafid, kakek buyutnya selain memberikan pendalaman beberapa kitab kepada santrinya, kadang masih menyempatkan berdakwah berkeliling daerah untuk  menyebarkan Aqidah Ahlusunah Wal Jamaah. Beberapa daerah tersebut di antaranya, Tegal, Pekalongan, Semarang  dan lain sebagainya.

Dia menjelaskan, pelajaran yang diajarkan Ponpes Raudhlatuth Tholibin pada waktu itu di antaranya, tafsir Al-Quran, tasawuf dan banyak lagi. “Kalau sekarang pelajaran di Ponpes Raudhlatul Tholibin tidak yang berat-berat, misalnya tafsir ataupun tasawuf,” ujarnya.

Menurutnya, kebanyakan santri di pondok tersebut saat ini umurnya sama dengan siswa MTs maupun MA. Sehingga pelajaran di pesantren disesuaikan. Beberapa pelajaran itu di antaranya Fiqih, Tauhid, Tajwid, serta Nahwu dan Sorof,” kata Pengasuh Ponpes Raudlatuth Tholibin.

Kiai Hafid menambahkan, para santri Ponpes Raudhlatuth Tholibin selain mendalami ilmu agama di pesantren, pagi harinya menuntut ilmu di sekaolah formal. Mereka di antaranya ada yang bersekolah di MAN 2 Kudus, Qudsiyyah, TBS, dan sekolah yang lainya.

“Jadi proses belajar mengajar di Ponpes  Raudhlatut Tholibin dimulai setaelah Ashar sampai sebelum Magrib. Lalu dimulai lagi setelah Magrib sampai Isya. Sedangkan setelah Isya mereka belajar pelajaran sekolah formal,” ungkapnya.

Ponpes Raudhlatuth Tholibin saat ini ada sekitar 70 santri, dan setiap bulan mereka dikenakan biaya Rp 400 ribu. Fasilitas yang ada di pesantren di antaranya, tempat tinggal serta mendapatkan makan tiga kali sehari,” tambah beliau.

- advertisement -

Tarawih Pertama di Masjid Menara Kudus, Hatam 1 Juz, Selesai Jam 9 Malam

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Tak ada yang berbeda antara Ramadan tahun lalu dan tahun ini di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus. Sehabis salat Isya, Minggu (5/6/201), jamaah tidak langsung pulang. Mereka menunggu imam berdiri dan menjalankan salat Tarawih pertama Ramadan tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, salat Tarawih di Masjid Menara Kudus, satu malam membaca satu juz Al-Quran. 

tarawih di masjid menara kudus
Jamaah melakukan salat Tarawih pertama di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Minggu (5/6/2016). Foto: Imam Arwindra

Salat Tarawih di Masjid Menara Kudus tadi malam dipimpin KH Abdul Basit Abdul Qodir pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon. Surat Al-Quran yang dibaca yakni Surat Albaqarah. Setiap dua rakaat salat Tarawih dilakukan lebih kurang selama 5-6 menit. Salat Tarawih baru selesai pukul 21.11 WIB. 

Fakhrudin, Pengurus Masjid Al-Aqsa Menara Kudus menuturkan, salat Tarawih di Menara dikenal lama. Karena, setiap malam menghatamkan satu juz Al-Quran. “Malam ini jus pertama sudah hatam, besok berlanjut juz selanjutnya,” ungkap Fakhrudin saat ditemui Seputarkudus.com usai salat Tarawih di Masjid Menara Kudus.
KH Abdul Basit Abdul Qodir, katanya, akan memimpin salat Tarawih selama Ramadan tahun ini. Menurutnya, jumlah rakaat pada salat Tarawih di Masjid Menara Kudus berjumlah 23 rakaat. Dia merinci, 20 rakaat untuk salat Tarawih dan tiga rakaat untuk salat Witir. “Jumlah rakaatnya sama seperti khalayak umum, 23 rakaat,” tambahnya.
Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Deni Nur Hakim menuturkan, di komplek Menara Kudus ada dua tempat yang digunakan untuk melaksanakan salat Tarawih. Pertama di Masjid Al Aqsa dan yang kedua di Tajug Makam Sunan Kudus.
Dia menjelaskan, di Masjid Al Aqsa waktu salatnya lama karena menghatamkan satu jus Al-Quran. Sedangkan untuk salat Tarawih di Tajug Makam Sunan Kudus waktunya sebentar, seperti normalnya salat Tarawih khalayak umum. “Letak Tajug, kalau menuju makam Sunan Kudus kan melewati tempat wudlu, yang sebelahnya ada bangunan seperti gazebo. Nah itu, Tajug,” tambahnya. 

- advertisement -

Jadwal Imsakiyah Ramadan 2016 untuk Wilayah Kudus dan Sekitarnya

0

SEPUTARKUDUS.COM – Ramadan 2016 akan segera datang, dan masyarakat Kudus bergembira menyambutnya. Untuk mengetahui jadwal imsakiyah Ramadan 2016 untuk wilayah Kudus dan sekitarnya yang bersumber dari Kementerian Agama Republik Indonesia, berikut ini kami sajikan.

 

- advertisement -

Dari Semarang ke Kudus, Falakh Tak Melewatkan Nyadran di Makam Kaliputu Sebelum Puasa

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Seorang laki-laki bersama seorang perempuan tampak khusyuk berdoa di pemakaman umum Desa Kaliputu, Jalan Sostrokartono, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Sabtu (5/6/2016). Setelah lebih dari 30 menit berjongkok, mereka membersihkan pusara lalu pergi. Sehari menjelang Ramadan, tradisi ke makam untuk berziarah atau sering disebut Nyadran, masih banyak dilakukan umat Muslim di Kudus.

Nyadran di Kudus menjelang Ramadan

Falakh (25), laki-laki yang berziarah ke makam Kaliputu, menuturkan, dia datang kemakam untuk mendoakan ayahnya yang belum lama meniggal. Setiap mendekati Ramadan dia selalu melakukan Nyadran.

“Saya mengunjungi makam bapak saya yang belum lama ini meninggal. Selain itu saya juga menjaga tradisi Nyadran yang biasa dilakukan masyarakat Kudus,” ungkap Falkh kepada Seputarkudus.com, usai berdoa di makam Kaliputu.

Warga Desa Barongan, Kecamatan Kota, itu mengungkapkan, sebenarnya dia datang dari Semarang karena bekerja di Kota Atlas. Karena besok (6/6/2016) diperkirakan sudah sudah puasa, jadi hari ini dia mengunjungi makam ayahnya di Kaliputu. “Saya tadi dari semarang, ke sini untuk mengunjungi makam ayah saya,” ungkapnya.

Begitu juga Mulyono, warga Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus. Dia bersama tiga saudaranya mengunjungi makam kakek dan kerabatnya di makam Kaliputu. Dia mengungkapkan, tradisi Nyadran sebelum Puasa harus dilestarikan. Selain bisa mendoakan orang yang sudah meninggal, sebagai yang masih hidup bisa mengingat Allah.

“Tradisi Nyadran sebelum Puasa sangat baik, sepatutnya harus dilestrarikan,” ungkapnya.

Santoso, penjaga makam Desa Kaliputu menuturkan, mendekati Puasa dan Lebaran banyak masyarakat yang datang mengunjungi kerabatnya yang sudah meninggal makam Kaliputu.

Dia memberitahukan, tiga hari sebelum Puasa biasanya masyrakat sudah berramai-ramai berziarah ke makam. Sedangkan Lebaran, satu hari sebelumnya hingga Lebaran Ketupat, masyarakat banyak yang datang untuk mendoakan keluarganya.

Santoso yang sejak tahun 1970 bekerja sebagai penjaga makam di Kaliputu menuturkan, ada 10 desa dan kelurahan yang jika warganya meninggal dimakamkan di Kaliputu. “Jadi kalau mendekati puasa pasti ramai,” tuturnya.

Tradisi Nyadran di Kudus menurutnya sudah biasa dilakukan oleh masyarakat. Sejak dia kecil tradisi ini sudah berlangsung. “Sejak kecil tradisi Nyadran sudah dilakukan warga Kudus. Tradisi ini baik dan harus dijaga,” tambahnya.

- advertisement -

Perut Feby Sakit Tak Bisa Menahan Tawa Saat Dodit Mulyanto Tampil di UMK

0
dodit mulyanto stand up di UMK

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Wanita berkerudung kuning terus memegangi perutnya, di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), tadi malam. Sesekali dia memeluk teman yang duduk di sampingnya. Tangannya beberapa kali mengusap air mata. Perempuan itu tak mampu menahan tawa saat stand up komedian Dodit Mulyanto tampil mengocok perut dalam acara yang diselenggarakan BEM Fakultas Ekonomi UMK.

Feby Anggraeni (21) namanya, dia mengakui perutnya sakit karena tak bisa menahan tawa mendengar celotehan Dodit . Dia menuturkan, baru kali ini melihat langsung Dodit melucu. “Lucu banget Dodit. Ini sampai perutku sakit,” ungkap dia sambil memegang perutnya.

Mahasiswi Fakultas Ekonomi itu menuturkan, selain kata-katanya, Dodit juga sangat piawai memunculkan gestur yang dianggapnya lucu. “Ngomongnya sedikit, namun sekali ngomong, saya tidak bisa menahannya (tawa),” tambahnya.

Jebolan Stand Up Commedy Indonesia (Suci) 4 yang ditayangkan Kompas TV, datang ke UMK dalam acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi UMK ke-36. Kegiatan tersebut diadakan oleh BEM Fakultas Ekonomi UMK dan Max Entertaiment.

Dalam stand up-nya, Dodit banyak berbicara tentang kesehatan dan politik. Dia menuturkan, pelayanan medis di Indonesia tidak profesional. Menurutnya, pelayanan medis di Jepang lebih bagus dari pada di Indonesia. 

“Di Jepang pelayanannya lebih cepat ketimbang di Indonesia. Dan perawat di Jepang lebih seksi,” sambil menunjuk wanita yang ada di depannya.“Kamu, iya, kamu,” ujar Dodit yang langsung disambut tawa dan tepukan ratusan penonton yang hadir tadi malam. 

Dodit yang mengaku menderita jantung koroner, mengaku pernah dirawat di dekat orang yang sudah meninggal. Dia menceritakan, dia sedang dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dan disampingnya ada orang yang baru meninggal. Saat itu dia masih sadar karena mendengar orang yang di sebelahnya sedang dikumandangi adzan.

Allahuakbar, Allahuakbar (suara adzan), di ruang UGD tinggal saya dan orang yang meninggal tadi. Rasanya was-was. Tuhan jika diambil hari ini, izinkan ada suster cantik dan seksi yang menyuntik saya,” ungkapnya yang lagi-lagi mengundang tawa penonton.

Dodit mengaku sudah tiga kali tampil Stand Up Commedy di Kudus. dia senang dengan masyarakat Kudus yang ramah. Ketika Seputarudus.com menanyakan komentar tentang Kudus, dia hanya menjawab bersih, indah, sepi. “Kudus itu masyarakat dan kotanya asik. Bersih, indah, sepi,” tambahnya.

- advertisement -

Ingin Tetap Sekolah, Saiful Pilih Jualan Es di Dandangan Ketimbang Ngamen

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Tangannya cekatan mengambil, memmotong, dan memeras jeruk dengan alat pres. Malam itu dia tampak kebanjiran pembeli. Selain es jeruk, sejumlah pembeli juga memesan minuman Pop Ice dengan berbagai rasa. Di adalah Saiful Bahri (17), mantan pengamen jalanan yang kini berjualan minuman di Dandangan, Jalan Sunan Kudus. 

berhenti mengamen berjualan es
Saiful memeras jerus untuk membuat es yang dipesan pembeli di Dandangan, Jalan Sunan Kudus, beberapa waktu lalu. Foto: Imam Arwindra

Setelah sepi pembeli, Saiful berbagi kisah hidupnya kepada Seputarkudus.com. Setelah menghela nafas, dia mulai bercerita. ” Saya memilih pensiun dini jadi pengamen. Sekarang jualan es, kadang jaga parkir motor di depan toko,”  katanya.

Saiful tinggal di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Dia mengungkapkan, dirinya mulai mengamen sejak kelas enam SD. Tempat dia mengamen di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. “Pertama kali mengamen dulu masih kelas enam SD, bareng sama teman-teman di kawasan Alun-Alun Kudus,” tuturnya.

Selain di Alun-alun Kudus, dia juga berpindah-pindah untuk mengais recehan. Kelas dua SMP dia mengamen di pasar-pasar. Setelah masuk SMA, dia sering mengamen di bus. “Tempat mengamennya berpindah-pindah, Alun-alun, pasar dan terakhir di bus. Sehari bisa dapat Rp 30 ribu hingga 70 ribu,” tambahnya.

Dia mengaku sudah berhenti mengamen ketika kelas dua SMA. Menurutnya, dia ingin fokus belajar sambil membantu ibunya dengan berjualan minuman dan menjadi tukang parkir.

“Bapak saya sudah meninggal ketika saya berumur empat tahun. Saya tinggal bersama ibu saya di Desa Demaan, dekat bantaran Sungai Gelis,” ungkapnya.

Berjualan Es Sambil Baca Buku
Saiful mengaku ingin tetap sekolah walau harus mencari uang sendiri. Dia menuturkan ibunya bekerja sebagai tukang parkir di pertokoan Jalan Sunan Kudus. Ketika Dandangan berlangsung, ibunya menjajakan makanan ringanuntuk menambah penghasilan keluarganya.

“Saya harus tetap sekolah, ibu saya matian-matian membiayai saya hingga kini kelas dua SMA,” ungkapnya yang sekarang masih sekolah di SMA swasta di Kudus.

Menurutnya, dulu dia membantu ibunya dengan mengamen. Karena dia ingin fokus sekolah dan sebentar lagi kelas tiga, dia memutuskan untuk menjadi penjual minuman dan tukang parkir. “Kalau pengamen mau belajar susah, karena di jalan terus. Namun jika menjadi tukang parkir atau jualan minuman bisa sambil baca buku,” ungkapnya.

Saiful memberitahukan, dia hanya berjualan saat Dandangan saja. Ketika Dandangan selesai, dia menjadi tukang parkir. Uang yang didapat dari menjadi tukang parkir sebesar Rp 50 ribu setiap harinya.  “Jaga parkirnya dari usai Magrib hingga pukul 22.30 malam. Saya diberi Rp 50 ribu,” ungkapnya.

Dia menambahkan, hasil dari berjualan minuman di Dandangan dia mendapatkan Rp 30 ribu dari pemilik usaha. “Kalau jualan minuman seharinya dapat Rp 30 ribu,” tutur dia yang ingin berkuliah di jurusan Teknik Mesin.

- advertisement -

Mahasiswa Pertanian UMK Kenalkan Hidroponik, Sistem Tanam Simpel dan Sehat

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah orang tampak berkerumun di satu stan Expo UMK 2016, Jumat (3/6/2016). Stan tersebut dipenuhi sayuran hijau yang tumbuh di permukaan pipa PVC. Mereka tampak asyik mengamati, dan pemilik stan memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang sistem tanam hidroponik. Stan tersebut milik mahasiswa Fakultas Pertanian UMK, yang tergabung dalam Hidroponikku Group Corporation (HGC). 

tanaman hidroponik UMK
Mahasiswa Fakultas Pertanian UMK membukan stan sayuran menggunakan sistem tanam hidroponik pada Expo UMK 2016. Foto: Prabu Sipan

Ketua HGC Ari Candra (20), sore itu, tampak bersemangat memberikan penjelasan pada pengunjung yang datang ke pojok tenggara lokasi ekspo dimana tempat stan mereka berada. Dia juga menunjukkan pada pengunjung sejumlah tumpuk jamur tiram yang tumbuh di serpihan kayu bekas gergaji yang terbungkus plastik.

Kepada Seputarkudus.com, Ari menjelaskan, keikutsertaannya dalam kegiatan Dies Natalis ke-36 UMK tersebut, sebagai upaya agar masyarakat lebih mengenal sistem tanam hidropinik. Selain tidak membutuhkan lahan yang luas dan bisa lebih cepat, sayuran hidropinik lebih sehat.

“Keunggulan dari sistem tanam hidroponik itu di antaranya tidak memerlukan lahan yang luas, karena tanamnya yang tidak memerlukan tanah jadi bisa tanam secara bertingkat. Pertumbuhan tanamannya bisa lebih cepat, serta yang penting lebih sehat untuk dikonsumsi,” ujar mahasiswa semester empat tersebut.

Ari mengatakan, selain keunggulan tersebut, bercocok tanam secara hidroponik tidak mengenal iklim. Tanaman yang semestinya di tanam di daerah dingin tetap akan tumbuh dan berkembang meskipun ditanam di daerah panas.

HGC, kata Ari, memiliki tempat pembibitan, penyuluhan, serta penanaman, di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, yang tidak jauh dari kampus. HGC yang dibentuk pada Desember 2015 itu sudah menanam beberapa sayuran secara hidroponik, disantaranya, sawi, selada, pagoda, jamur tiram dan lain sebagainya.

“ Untuk hasil dari sayuran yang kami tanam, sementara ini masih dikonsumsi anggota HGC, belum dijual keluar. Tapi, untuk masyarakat yang ingin mencoba menanam sayuran secara hidroponik bisa membeli dari HGC. Satu paket tanam hidroponik seharga Rp 50 ribu, terdiri dari seteorofom 40×40 sentimeter yang bisa ditanami 12 tanaman, biji sayuran, serta nutrisi tanaman,” ujar pria asal Jepara tersebut.  

- advertisement -

Mahmud Ajak Temannya Menjadi Reseller di Pekan Expo UMK

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah perempuan berkerudung tampak mengerumuni stan pameran
yang ada di Universitas Muria Kudus (UMK). Terlihat beberapa tas
digantung di sisi kanan stan, jilbab dan busana muslim di atas meja yang tampak
dipilah-pilah para mahasiswi yang berkunjung.
ekspo umk
Keramaian stand Kelompok Kajian Kewirausahaan Fakultas Ekonomi UMK di Pekan Ekspo UMK 2016, Jumat (3/6/2016).

Penjualnya terlihat begitu banyak, ada yang melayani
pengunjung, ada juga merapikan jilbab yang tidak jadi dibeli. Mahmud Zakaria
(19) menuturkan, penjual di stan tersebut tak lain anggotanya yang tergabung
dalam Kajian Kelompok Kewirausahaan Fakultas Ekonomi UMK. Dia yang sekaligus
ketua Kelompok Kewirausahaan mengungkapkan, kegiatan tersebut mengajarkan anggotanya
untuk menjadi penjual kedua atau reseller
di acara Pekan Expo Kreativitas dan Kewirausahaan Mahasiswa Dies Natalis UMK
ke-36, Jumat (3/6/2016).

“Di acara Dies Natalis UMK 
ke-36 kami membuka stan untuk berlatih berjualan produk,” ungkap mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, UMK.
Mahmud memberitahukan, produk yang dijual di antaranya tas, kain Troso, jilbab, busana muslim dan ketan susu. Dia mengaku hanya
menjualkan produk orang lain. “Jadi kami fokus menjadi reseller. Barangnya dari
orang lain,” tambahnya.
Dia menambahkan, dari hasil penjualan akan medapatkan komisi
dari pemilik barang. “Nanti ada komisi dari pemilik barang. Kami sepakat hasilnya untuk
masuk kas organisasi,” ungkapnya.
Ketua panitia Pekan Expo Suyoto dalam laporannya menuturkan,
kegiatan ini diadakan mulai 3-4 Juni 2016 di UMK. Stan yang disediakan diisi hasil karya mahasiswa dan dosen, produk UMKM, aneka makanan dan
minuman.
rektor umk suparnyo
Dr. Suparnyo memberika sambutan saat pembukaan Pekan Ekspo UMK 2016.
Suyoto yang juga Wakil Dekan III Fakultas Hukum menuturkan,
kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dan dosen memiliki daya saing kuat
terutama dalam kewirausahaan. “UMK bertekad untuk menguatkan Tri Darma Perguruan Tinggi, satu di antaranya di bidang kewirausahaan,” tambahnya.
Selain pameran produk mahasiswa, dosen dan UMKM, dia mengatakan akan ada pentas seni yang akan ditampilkan oleh mahasiswa.
Rektor UMK Dr.
Suparyo menuturkan, pekan Expo UMK yang ketiga ini diharapkan bisa dirasakan masyarakat umum. “UMK ingin mencetak
usahawan-usahawan baru di Kudus. Di UMK ada mata kuliah kewirausahaan yang
sekarang sudah dimasukkan dalam sistem kredit semester (SKS),”
tambahnya.

- advertisement -

Juara KIR Tingkat Jateng Ini Setiap Hari Bersepeda 8 KM ke Sekolah, Malamnya Berjualan Kerang

0

SEPUTARKUDUS.COM, WATES – Rumahnya remaja ini terletak di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Setiap hari dia mengayuh sepedanya menempuh 8 kilometer lebih untuk berangkat ke sekolahnya, SMA PGRI 1 Kudus di Jalan Mejobo, Kelurahan Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Usai pulang sekolah, malam harinya dia berjualan kerang rebus, tak jauh dari kediamannya. 

peraih juara kir jateng kudus
Nikmatul Nafiyah, juara Lomba Karya Ilmiah Kepahlawan Nasional tingkat SMA se-Jawa Tengah, menunjukkan piala yang diraih. Foto: Imam Arwindra

Dia adalah Nikmatul Nafiyah (16), pemenang Lomba Karya Ilmiah Kepahlawan Nasional tingkat SMA se-Jawa Tengah yang yang digelar beberapa hari lalu. Pagi itu dia sibuk berbincang dengan Kepala SMA PGR 1 Kudus atau masyhur disebut SMA Mentenx. Usai berbincang, Nafiyah tak keberatan berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, di ruang kepala sekolah.

“Setiap hari ke sekolah naik sepeda, namun kadang kalau badan tidak enak naik angkutan umum,” ungkap dia ketika ditemui di ruang kepala sekolah SMA PGRI 1 Kudus, Kamis (2/6/2016).

Baca juga: Berkat Modifikasi Kartu Remi, Siswi SMA Mentenx Singkirkan SMA Negeri Favorit se-Jateng

Nafiyah mengungkapkan, setelah sekolah, setiap malam dia bekerja berjualan kerang di depan Gang 6 Desa Wates. Dia ikut menjualkan dagangan saudaranya. “Setiap malam saya ikut berjualan kerang untuk membantu membiayai kebutuhan orang tua. Jadi ya kalau badan kurang enak harus naik angkutan umum,” ungkapnya.

Berjualan Kerang Diberi Upah Rp 20 Ribu Sepekan

Dari berjualan kerang tersebut, sepekan mendapat upah Rp 20 ribu. Dirinya kadang membantu tetangganya untuk membuat kue. “Kalau membuat kue sehari bisa Rp 20 ribu,” ungkap dia yang suka pelajaran matematika dan sejarah.

Nafiyah menceritakan, orang tuanya sudah bercerai. Kini dia ikut ibunya yang bekerja sebagai buruh tani. “Ibu dan bapak saya sudah bercerai, kini saya ikut ibu,” ungkap dia sambil merunduk.

Biaya hidup sehari-hari dan kebutuhan sekolah, kata Nafiyah yang bercita-cita ingin menjadi dosen, ditanggung penuh oleh ibunya. Dia mengaku, sangat bangga terhadap ibunya yang berjuang sendirian untuk masa depannya. “Ibuku orang yang kuat, sabar dan sayang sekali dengan aku. Terima kasih ibu,” tutur Nafiyah dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Sekolah SMA PGRI 1 Kudus Bambang Sugiarto menuturkan, Nafiyah termasuk murid berprestasi di sekolah. Selain sudah mengharumkan nama sekolah melalui Lomba Karya Ilmiah yang pernah diikuti, dia juga murid yang rajin dan sopan terhadap guru dan teman-temannya.

“Nafiyah tidak pernah terlambat sekolah walaupun rumahnya jauh di Desa Wates, Kecamatan Undaan. Dia murid kelas XI IPS yang rajin dan pantang menyerah. Dia termasuk murid yang mendapatkan beasiswa,” tambahnya.

Bambang menceritakan, dia pernah mendengar ibunya bekerja sebagai buruh tani. Berpindah-pindah berkerja sebagai buruh untuk menghidupi anak semata wayangnya. “Dengar kabar orang tuanya tidak punya tanah. Hanya berkerja sebagai buruh,” ungkapnya.

- advertisement -

Nada Ketagihan Mandi Bola di Tradisi Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Wajah Nada berseri-seri saat bermain ribuan bola bersama dengan sejumlah anak lainnya, di wahana permainan tradisi Dandangan, Kudus. Mereka mengumbar senyuman sambil melempar bola ke keranjang basket yang diletakkan di tengah. Beberapa anak laki-laki naik di atas prosotan, dan meluncur bersama. Ada pula yang menenggelamkan diri dalam bola-bola tersebut.

mandi bola dandangan kudus
Sejumlah anak sedang asyik di wahana permainan mandi bola, di tradisi Dandangan, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sanusi (32), ayah Nada, menuturkan, saat tradisi Dandangan dimulai, anaknya hampir setiap sore minta mandi bola. “Setiap sore Nada minta diajak ke Dandangan untuk mandi bola,” ungkap dia ketika ditemui di stan mandi bola, Jalan Sunan Kudus, Kamis (2/6/2016) malam.

Dia melanjutkan, selain mandi bola, Nada juga sering bermain di Istana Anak yang berada di stan Jalan Sunan Kudus. “Anak saya termasuk anak yang aktif, jadi saya ikuti kemauannya,” tambahnya.

Menurutnya, wahana mainan mandi bola dan istana anak baik untuk perkembangan anaknya. Dia akan merasa senang, berinteraksi dengan teman sebayanya dan bisa meningkatkan keaktifan anaknya. “Nada sangat senang sekali bermain mandi bola dan istana anak. Ini termasuk mainan favoritnya,” ungkapnya.

Dia memberitahukan, uang yang dikeluarkan untuk membayar
permainan mandi bola dan Istana Anak sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 10
ribu. “Rata-rata harganya Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu dengan waktu
sepuasnya,” tambahnya.

Warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, menuturkan, permainan ini cukup aman untuk anaknya bermain. Selain ada penjaganya di dalam, perlengkapan permain yang digunakan juga aman.

“Saya tidak khawatir Nada bermain mandi bola. Perlengkapan yang digunakan aman dan itu lihat ada penjaganya,” ungkap dia sambil menunjuk laki-laki yang berada di dalam wahana.

Dia mengaku, ketika tidak ada Dandangan, Nada masih minta untuk mandi bola. Dia mengakalinya dengan bermain mandi bola sepekan sekali. “Kalau tidak ada Dandangan ya seminggu sekali bermain mandi bola. Masalahnya anaknya minta terus,” tuturnya.

- advertisement -