Beranda blog Halaman 1960

Tiyo Ungkap Isi Hati Melalui Dongeng Saat Panen Kurma di Omah Dongen Marwah Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Sejumlah anak-anak tampak serius
menulis sesuatu di atas kertas miliknya. Mereka menulis sebuah dongeng. Suasana terdengar ramai ketika satu di antara
peserta kegiatan Panen Kurma (Pengajian, Mendongeng, Kursus Menulis Ramadan)
yang diadakan Omah Dongeng Marwah membacakan satu persatu hasil tulisannya.

Sejumlah
anak-anak sedang menulis dongeng di Omah Dongeng Marwah, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Kamis (9/6/2016). Foto:
Imam Arwindra

Satu di antara peserta yang ikut menulis dongeng, yakni Tiyo Ardiyanto (13). Ddia menulis
sebuah cerita dengan judul “Ketika Aku Menjadi Seorang Penggambar Yang Baik”. Dari cerita
yang dia bacakan, Tiyo ialah seorang pelukis yang ahli
di bidangnya. Namun dalam berinteraksi dengan temannya dia tidak sombong dan
selalu rendah hati. Jika ada seseorang yang meremehkannya, dia akan membuktikan
lewat hasil karyanya.
“Kita tidak boleh sombong walaupun ahli di bidang apapun. Karena
sombong itu tidak baik dan dijauhi teman,” tuturnya yang masih duduk di kelas
satu SMP, saat membacakan dongeng yang ditulis, Kamis
(9/6/2016).
Tiyo menuturkan, dia ikut berlatih menulis dongeng karena
dengan menulis dia bisa mengungkap isi hatinya. “Isi hati saya bisa tercurahkan
lewat menulis dongeng,” tambahnya.
Dwi Yuli Astuti pendamping kegiatan menuturkan, kegiatan
Panen Kurma yang diselenggarakan ialah progam Ramadan dari Omah Dongen Marwah. Selain
berlatih menulis dongeng, mereka juga mengaji Al-Quran dan membacakan hasil tulisannya.
“Kegiatan diawali mengaji Al-Quran dulu, setelah itu baru menulis dongeng dan
membacakannya,” tuturnya.

Tema yang diusung dalam kegiatan tersebut “Jika Aku Menjadi”. Dia mengungkapkan,
peserta nantinya diminta berimajinasi menulis cerita tentang jika dia menjadi apa. “Contohnya tema hari ini, jika aku menjadi seorang pemain film,
saya kan bla-bla-bla,” jelasnya.
Yuli menuturkan, kali ini anak-anak Omah Dongeng Marwah
berlatih menulis dongeng. Menurutnya, kemarin mereka hanya membaca dongeng yang
sudah ada dibuku atau dituliskan pendamping. “Kali ini mereka menciptakan
dongeng yang akan mereka baca sendiri,” ungkapnya.
Dia memberitahukan, kegiatan Panen Kurma didampingi tujuh
orang pendamping yang membantu peserta dalam belajar.  Peserta yang mengikuti sekitar 40 anak dari kalangan
sekolah SD dan SMP. “Namun hari ini ada beberapa yang tidak hadir. Jadi kita
tidak memaksa,” tuturnya.

Kegiatan Panen Kurma diselenggarakan selama bulan Ramadan
setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu di Rumah Dongeng Marwa Griya Balur Desa
Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. “Silahkan kalau mau gabung masih
diperbolehkan,” ungkap Yuli.

- advertisement -

Riri Belanja Jauh Hari di Matahari Karena Tak Mau Repot Menjelang Hari Fitri

0

SEPUTARKUDUS.COM, MATAHARI – Lebaran masih beberapa pekan lagi, namun sejumlah pusat perbelanjaan di Kudus ramai-ramai obral diskon. Program Lebaran itu tak disia-siakan sejumlah pengunjung, Riri satu di antaranya. Wanita asal Jepara itu membeli kebutuhan untuk Lebaran jauh-jauh hari di Plasa Kudus Matahari, karena tak ingin repot menjelang Idul Fitri nanti.

“Promo diskonya kan sama awal sampai akhir Ramadan, jadi aku membeli sekarang sebagian barang untuk Lebaran. soalnya kalau membeli semua barang pada hari dekat Lebaran, repot dan antreannya panjang,” ujar wanita yang mengaku membeli sandal dan gamis.

Pada hari kedua puasa lalu, di Plasa Kudus Matahari telah terpasang dua baner panjang di bagian kanan dan kiri eskalator. Di baner tertulis diskon hingga 50 persen untuk beberapa produk yang dijual di pusat perbelanjaan yang tak jauh dari Pasar Bitingan.

Di lantai dasar Matahari Kudus terlihat berjajar ratusan pasang sepatu dan sandal di atas meja, sesuai merek dan bentuknya. Di atasnya terlihat kertas merah bertuliskan angka 50 persen, yang berarti barang tersebut mendapat potongan harga separuh dari harga yang tertulis di banderol. Sedangkan di sisi yang lain terlihat tulisan “Beli 2 Gratis 1” dan di kanan serta kiri atas tulisan tersebut tertera “Rp 50.000 + 20%”.

Di lantai dua yang banyak dipenuhi produk pakaian pria dan wanita, juga terlihat angka-angka diskon. Sejumlah produk pakaian pria yang mendapat diskon, antara lain pakaian merek Lois, Cardinal, Wrangler dan Lea. Sedangkan untuk produk pakaian wanita, antara lain merek Geela, Triset,Loggo, Shiny.

“Beli dua gratis satu, itu beli barangnya dua dapat tambah satu barang lagi. Itu berarti pembeli mendapatkan Tiga barang. Sedangkan Rp 50 ribu, itu artinya, bila membeli satu di antara barang yang mendapatkan kupon, bisa mendapatkan potongan harga sampai Rp 50 ribu dengan minimal pembelian Rp 100 ribu,” jelas Indah, satu di antara SPG Plasa Kudus Matahari kepada Seputarkudus.com.

Indah menuturkan, menyambut Hari Raya Idul Fitri, Matahari selama sebulan penuh memberikan diskon dari 20 persen hingga 50 persen. Bahkan ada beberapa brand yang didiskon sampai 70 persen.

- advertisement -

Kisah Teladan (3) Inilah Doa Orang Teraniaya, Selamat Dari Bahaya yang Mengancam

0

SEPUTARKUDUS.COM – Dikisahkan, suatu hari ada seorang perempuan yang terapug di air bersama bayinya di atas batang kayu. Perahu yang ditumpanginya bersama para pedagang karam, karena dihantam badai. Hanya dia dan anaknya yang selamat. Saat terapung di lautan, pagi harinya perempuan itu tiba-tiba melihat seseorang berkulit hitam yang menumpang perahu ternyata juga selaman, dan terapung di atas batang kayu.

Tak beberapa orang hitam tersebut mendekatkan batang kayunya ke arah perempuan dan anaknya. Setelah dekat, orang hitam itu mengajak perempuan berzina. “Wahai hamba Allah, tidakkah kamu takut kepada Allah dan meminta keselamatan, daripada memintaku untuk berbuat maksiat,” ujar perempuan tersebut.

Namun lelaki hitam itu terus memaksanya untuk berbuat zina. Perempuan tersebut kemudian mencubit anaknya hingga menangis. “Berilah aku menidurkan anakku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan melakukan apa yang kamu minta,” katanya. 

Namun, lelaki hitam itu justru merebut bayi yang ada di pangkuan perempuan, kemudian melemparnya ke laut. Perempuan tersebut seketika itu menangis, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit dan memohon kepada Allah. “Ya Allah, jika Engkau bisa memisahkan aku dengan buah hatiku, maka pisahkanlah aku dengan orang hitam ini.”

Menurut riwayat, berikut doa yang dibaca perempuan tersebut saat mendapat bahaya di lautan. “Ya Lathif ya Karim biluthfikal qodim fainnal qalbi alal ahdil muqim.”

Tak sampai kalimat doa selesai diucapkan, tiba-tiba muncul binatang laut berukuran besar dan membuka mulutnya. Binatang itu kemudian menelan pria hitam itu, dan kembali menyelam ke dalam lautan.

Perempuan itu kemudian terbawa gelombang laut, dan mendamparkan potongan kayu yang dia tumpangi ke sebuah daratan. Dia segera turun dan memakan buah apa saja yang tumbuh di daratan, untuk mengisi perutnya yang kosong. Dia juga meminum air tawar untuk membasahi kerongkongannya yang kosong.

Setelah beberapa waktu, perempuan itu melihat sebuah perahu yang ditumpangi sejumlah orang menyeberang tak jauh dari tempat dirinya terdampar. Dia lantas melambaikan kain, dan dilihat para penumpang perahu. Setelah dihampiri, perempuan itu kemudian naik ke perahu.

Tak diduga, di atas perahu dia melihat anaknya yang telah dilempar orang hitam ke lautan. Segera dia memeluk dan menciumi anaknya. “Apakah kau sudah gila,” ujar seorang penumpang perahu.

“Tidak, aku tidak gila, ini anakku,” kata perempuan tersebut. Lalu dia menceritakan peristiwa yang dia alami kepada para penumpang perahu. Para penumpang perahu kemudian menceritakan bagaimana anaknya ditemukan.

“Kami sedang berlayar, tiba-tiba ada binatang yang muncul dari dalam laut. Di atas punggungnya ada anakmu. Kami kemudian diminta untuk mengambilny, jika tidak binatang itu akan membinasakannya,” cerita penumpang perahu kepada perempuan tersebut.

- advertisement -

Masjid Jekulo Ini Siapkan 700 Porsi Menu Buka Gratis, Santri Bareng Berbondong-bondong Datang

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Sore itu, di tepi Jalan Kudus-Pati, tampak dari arah timur rombongan pria bersarung dan berpeci berjalan menuju Masjid Jami Al-Munawwarah Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Mereka adalah para santri yang mondok di sejumlah pesantren Bareng (Kuman Jekulo), yang hendak berbuka puasa dari takjil dan makanan yang disediakan takmir masjid.
berbuka di masjid jekulo
Syaiful Umam (kopiah putih) sedang menikmati makanan berbuka di Masjid Al-Munawwar, Jekulo Kudus, Selasa (7/6/2016).
Ruang aula Masjid Al-Munawwar, terlihat sudah dipenuhi ratusan santri yang menunggu waktu berbuka puasa, sambil mendengarkan kultum yang disampaikan tokoh. Satu di antara santri yang ikut menunggu waktu buka, Syaiful Umam (19) yang mengaku mondok di Pesantren Al-Qaumaniyah.

“Setiap hari aku bersama teman-teman datang ke Masjid Al-Munawwarah untuk berbuka bersama. Berbuka puasa ramai-ramai itu lebih enak,” ungkap pria asli Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, kepada Seputarkudus.com, Selasa (7/6/2016).

Menurutnya, selain bisa berbuka bersama, dia juga bisa mendapat makanan gratis yang disediakan Takmir Masjid Al-Munawwarah. “Biasa, cari makanan gratis untuk berbuka. Maklum anak pondok,” ungkap Syaiful sambil tersenyum.

Suhono (55), Pengurus Takmir Masjid Al-Munawwarah menuturkan, setiap hari pihaknya menyediakan lebih dari 700 porsi makanan untuk dibagikan saat berbuka puasa. Menurutnya kebanyakan yang datang santri-santri pondok Bareng. “Kalau awal puasa hingga pertengahan Ramadan yang datang kebanyakan santri-santri Bareng,” ungkapnya ketika ditemui di Masjid Al-Munawwarah.

kultum di masjid al-munawwarah
Suasana kultum sebelum buka puasa di Masjid Al-Munawarah.

Dia menjelaskan, selain santri, pihaknya juga menyediakan makanan berbuka untuk pengguna jalan. “Letak Masjid kan di jalur pantura (Jalan Kudus-Pati), jadi kami juga menyediakan makanan berbuka untuk pengendara jalan yang mampir di Masjid Al-Munawwarah,” tambahnya.

Suhono memberitahukan, dalam menyediakan makanan, pihak takmir dibantu warga Desa Jekulo. Setiap harinya, pihaknya menargetkan 25 rumah yang dimintai untuk menyediakan nasi dan lauk. “Setiap rumah dimintai 25 nasi bungkus. Selain itu juga ada dermawan yang membantu,” jelasnya.

Selain makan nasi, katanya, takmir juga menyediakan takjil berupa minuman dan buah. “Ada minuman dan buah untuk takjil di sini. Jadi lengkap,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, ketika sudah masuk akhir Ramadan, takmir juga menyediakan menu berbuka untuk para pemudik yang melewati jalur pantura. “Biasanya pekan-pekan akhir Puasa para santri sudah pulang kampung. Jadi kami menyediakan makanan berbuka untuk para pemudik yang melewati jalur pantura,” tuturnya.

Menurutnya, sebelum berbuka bersama, takmir juga menyelenggarakan kultum untuk para jamaah yang hadir. “Yang mengisi dari kecamatan, polsek, koramil dan tokoh-tokoh agama di Jekulo,” jelasnya.

- advertisement -

2 Kios Pasar Kliwon Milik Cahyo Khusus Jual Peci, Ramadan Ini 500 pcs Terjual Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, PASAR KLIWON – Puluhan kardus berisi songkok berbagai merek tertumpuk di sebuah kios Pasar Kliwon lantai satu Blok D No 45. Kios bercat putih tersebut bernama UD Jaya, satu di antara kios yang khusus menjual songkok atau juga sering disebut peci. Setiap hari UD Jaya bisa menjual 50 kardus, yang terdiri dari 25 kodi, atau sekitar 500 pcs kopiah.

jual songkok kudus

Seorang pria berbaju putih tampak sibuk melayani para pembeli di sebuah kios, Pria tersebut bernama Noor Cahyo (63), pemilik UD Jaya yang menjual berbagai macam peci. Noor menuturkan, permintaan peci selama memasuki bulan Puasa meningkat, bahkan peningkatannya hampir 100 persen.

“Sebulan sebelum masuk bulan Ramadan  penjualan peci di kios kami meningkat. Biasanya selain bulan Sa’ban dan Ramadan hanya bisa menjual sekitar 300 pcs peci sehari, tetapi di bulan Ramadan saat ini bisa menjual 500 peci dalam sehari,” ujar pria yang biasa disapa Cahyo kepada Seputarkudus.com, Rabu (8/6/2016).

Cahyo sudah mempunyai banyak pelanggan, di antaranya dari Jepara, Demak, Semarang. Bahkan ada juga permintaan ke luar pulau di antaranya, Papua, Maluku, Kalimantan, dan Sumatra. Pada bulan Sa’ ban dan Ramadan dia tidak melayani pembeli ecer. Untuk dua bulan tersebut UD Jaya hanya melayani pembelian minimal satu Kodi.

Mengalami Dua Kali Kebakaran Pasar Kliwon

Cahyo memiliki dua kios yang berhadapan di Pasar Kliwon. Luas satu kiosnya sekitar 12 meter persegi dan semua kios tersebut dia gunakan menjual khusus peci. Dia berjualan dibantu istri serta kedua putrinya tanpa mempekerjakan karyawan. Cahyo menuturkan, dirinya telah berjualan  di Pasar Kliwon sejak lama, bahkan dia mengalami dua kali kebakaran di pasar tersebut.

“Aku sudah berjualan di Pasar Kliwon sejak muda, bahkan aku mengalami dua kali kebakaran. Kebakaran pertama terjadi 1980 barang daganganku habis semua dan mengakibatkan gak punya modal lagi untuk berjualan. Hingga suatu hari ada seorang kenalan dari Gresik datang suruh menjualkan peci 10 kodi. Bayarnya kalau peci sudah terjual,” ceritanya.

Sejak saat itu Cahyo  hanya Khusus berjualan peci. Cahyo mengaku, sejak kejadian tersebut bila memesan peci dari Gresik ditujukan ke alamat rumah tinggal, yang sekaligus dijadikan gudang. Rumahnya berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.

“Belajar dari pengalaman tersebut, aku tidak menaruh peci banyak di kios, paling di tinggal beberapa peci. Biar kalau ada kebakaran semuanya tidak habis, karena masih ada stok peci yang di rumah. Makanya saat kebakaran yang kedua pada tahun 2011, aku masih punya stok kopiah banyak di rumah,” ujar Cahyo. 

- advertisement -

Masjid di Bareng Ini Didirikan Sebelum Masjid Demak, Arahnya Tak Menghadap Kiblat

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Siang itu, santri-santri duduk santai di teras Masjid Baitussalam, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Ketika kumandang adzan Dzuhur terdengar, mereka segera mengambil wudlu dan berbaris membuat shaf salat di ruang utama masjid. Namun shaf jamaah salat siang itu tidak lurus mengikuti arah masjid. Jamaah menghadap beberapa derajat arah barat, sedangkan arah masjid lurus ke arah barat daya.
masjid jekulo kudus
Seorang santri akan menunaikan ibadah solat di Masjid Baitussalam, Jekulo, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Ketika selesai salat Dzuhur, satu di antara pengasuh Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah yang berada tak jauh dari Masjid Baitussalam, Gus Khidir membenarkan, masjid Kuman Jekulo tidak menghadap kiblat, melainkan barat daya. Namun untuk arah salat tetap menghadap ke Kiblat. 

“Masjid ini (Baitussalam) memang mengahadap arah barat daya, bukan ke kiblat. Namun untuk arah salatnya tetap menghadap kiblat,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Selasa (7/6/2016).

Gus Khidir menjelaskan, Masjid Baitussalam didirikan sekitar 1450 Masehi, sebelum Masjid Bintoro Demak dibangun. Masjid Kauman Jekulo itu didirikan oleh Kiai Abdul Jalil, murid Raden Umar Said atau Sunan Muria. Dia menduga, posisi geografis masjid tersebut berubah karena dipengaruhi peristiwa alam, misalnya gempa, pergeseran lempeng tanah atau lain sebagainya.

“Masjid Baitussalam umurnya sudah setengah abad lebih. Saking lamanya mungkin ada proses pergeseran lempeng tanah yang menyebabkan arah kiblat masjid ini berubah,” tuturnya.

Cucu KH Yasin, pendiri Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, itu menuturkan, untuk arah salat tetap menghadap ke kiblat. “Jadi posisi jamaah ngeping (menyilang)” tambahnya.

Gus Kidzir
Gus Khidir. Foto: Imam Arwindra

Gus Khidir memberitahukan, pada 27 Mei 2016 pukul 16.18 WIB ada peristiwa alam Rashdul Qiblat, dimana posisi matahari tepat di atas Kakbah. Dia menceritakan, ketika dicek, memang posisi Masjid Baitussalam menghadap ke barat daya. “Ketika dicek saat Rashdul Qiblat, Masjid Baitussalam memang menghadap ke barat daya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, makam pendiri masjid Kiyai Abdul Jalil yang terletak di belakang Masjid Baitussalam juga menghadap ke barat daya bukan ke arah kiblat. “Makam mbah Abdul Jalil dan mbah Sewonegoro (anak mbah Abdul Jalil) juga menghadap ke arah barat daya,” tuturnya.

Menurunya, orang-orang di daerah Bareng (Kauman Jekulo) alim dan pintar. Tidak mungkin mereka salah dalam menentukan arah kiblat.

Gus Khidir menuturkan, Masjid Baitussalam mengalami renofasi total tahun 1968. Bangunan aslinya masih berdiri. Letaknya di bagian ruang tengah yang digunakan untuk solat. “Pembangunan tahun 1968 dibantu H Ma’ruf Jambu Bol. Sebenarnya dibongkar total. Namun ada bangunan asli yang masih dijaga. Yakni ruang tengah untuk salat,” jelasnya.

- advertisement -

Ponpes Putri Al-Asnawiyyah Kudus, Pondok Favorit Siswi MTs dan MA NU Banat

0

SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Bangunan pesantren di Kudus ini memiliki empat lantai dan halaman luas. Letaknya di berada di Jalan KHR Asnawi, Dukuh Bendan, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus. Ponpes Putri Al-Asnawiyyah, nama pesantren tersebut. Pesantren Yayasan Asnawiyah yang diasuh oleh KH Hafid Asnawi (67) ini pertama kali didirikan hanya mempunyai tujuh santri. Namun sekarang menjadi pesantren favorit siswi MTs dan MA NU Banat Kudus.

Kiai Hafid menuturkan, Ponpes Putri Al-Asnawiyyah pertama didirikan pada Tahun 2004. Pada tahun pertama santri yang menuntut ilmu di ponpes yang beliau asuh hanya ada tujuh santri. Pada tahun kedua santrinya mulai bertambah menjadi 15 santri dan begitu seterusnya.

“Dari tahun ke tahun santri–santri yang mendalami ilmu agama di Ponpes Al Asnawiyyah bertambah, dari mulai tujuh santri, 15 santri, 50 santri, dan sekarang santri yang mendalami ilmu agama di ponpes ini sekitar 200 santri,” ungkap Kiai Hafid kepada Seputarkudus.com, beberapa belum lama ini.

Ponpes Putri Al-Asnawiyyah, katanya, selama ini dijadikan rekomendasi KH M Mahsum, Ketua Yayasan Pendidikan Banat kepada orang tua siswi MTs dan MA NU Banat. Tak heran jika saat ini banyak siswi sekolah tersebut yang mondok di pesantren yang dia asuh.

“Sekolah MTs dan MA NU Banat memang menyediakan asrama, tetapi hanya diperuntukan bagi siswi tertentu. Sedangkan yang lain tinggal di luar asrama. Oleh sebab itu para siswi Banat dianjurkan untuk tinggal sekaligus mendalami ilmu agama di ponpes yang berada di sekitar sekolah tersebut, satu di antaranya Ponpes Putri Al-Asnawiyyah,” Ujar Kiai yang merupakan cicit KHR Asnawi tersebut.

Kebanyakan santri di Ponpes Al-Asnawiyyah memang siswi dari MTs, maupun MA NU Banat. Meskipun begitu ada juga sebagian santri dari ponpes tersebut sekolah di sekolah lainnya.

Kiai Hafid mengatakan, pengajaran di Ponpes Putri Al-Asnawiyyah dimulai setelah Ashar sampai menjelang Maghrib. Lalu dilanjutkan setelah Magrib sampai Isya. Setelah itu mereka belajar pelajaran sekolah umum dan dianjurkan bagi para siswi agar tidak  tidur larut malam.

Saat ini para santri kebanyakan berasal dari daerah sekitar Kudus, di antaranya, Purwodadi, Jepara, Pati, dan Semarang.  “Para santri yang belajar kitab dan mendalami ilmu agama di Ponpes Putri Al-Asnawiyah dikenakan uang bulanan sebesar Rp 400 ribu, dengan fasilitas, tempat tinggal serta mendapatkan makan tiga kali sehari,” ujar Kiai Hafid.

- advertisement -

Lelaki Tua Penjual Tape Ini Tetap Puasa, Meski Keliling Jalan Kaki Memikul Beban 50 KG

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEMBER – Di bawah terik matahari terlihat lelaki tua mengenakan kaus warna oranye dan celana hitam, berjalan memikul dua buah keranjang. Di keranjangnya tergantung dua botol, berisi air berwarna kekuningan. Pria tersebut bernama Maskan (65), penjual tape dan air fermentasi tape singkong. Dia tetap berpuasa meski harus berjalan puluhan kilometer untuk menjual dua keranjang tape yang dia pikul.

Maskan menuturkan, sudah menekuni pekerjaan menjual tape  keliling di Kudus sejak 35 tahun silam. Selama ini, bila datang bulan Ramdan dia tidak pernah melewatkan untuk berpuasa penuh selama sebulan. Menurutnya bekerja memang bagian dari ibadah, tetapi berpuasa ibadah wajib dan tak bisa ditinggalkan.

“Perkerjaanku memang berat, tetapi aku takut kalau meninggalkan kewajiban beribadah kepada Allah. Di dunia hidup yang saya jalani sudah berat, saya tidak mau di akhirat nanti juga hidup sengsara,” kata Maskan kepada Seputarkudus.com, Selasa (7/6/2016) di kawasan Jember, Kudus.

Meski berjalan kaki dan memikul keranjang tape seberat 50 kilogram di bawah panas matahari, tapi Maskan selalu bersyukur diberi kesehatan serta kekuatan di usia senjanya. Dan dirinya tetap bisa untuk menjalankan ibadah puasa.

Lelaki dari Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Pati, mengatakan, biasanya berangkat dari rumah pukul 6:00 WIB. Tapi saat puasa seperti ini dia berangkat lebih siang sekitar pukul 9:00 WIB, dan sampai ke Pasar Bitingan sekitar dua jam kemudian.

“Aku sengaja berangkat berjualan agak siang, soalnya kalau bulan Ramadan orang banyak beli tape itu sekitar waktu Ashar, meskipun waktu siang juga ada yang beli tetapi tidak selaris waktu sore,” ungkap Maskan sambil membasuh peluh di wajahnya.

Maskan mengaku membuat sendiri tape tersebut di rumahnya, dan setiap hari dia membawa  setengah kwintal tape untuk dijual di Kudus. Sesampainya di Kudus dia mulai berkeliling menjual tapenya tersebut sampai habis.

Maskan mengatakan menjual tape dengan tidak mematok harga tertentu. Ada yang membeli Rp 1.000 juga dilayani apalagi dengan uang lebih. Biasanya tape yang dibawa habis terjual dalam sehari, tetapi jika tidak habis dijual secara borong ke pedagang di Pasar Bitingan, dan tentunya dengan harga yang lebih murah.

“Biasanya kalau habis dijual keliling sendiri, saya mendapat uang Rp 300 ribu, tetapi kalau dijual secara borong ke pedagang Pasar Bitingan, paling mendapat sekitar Rp 200 ribu,” ucap Maskan.

- advertisement -

Menjelang Buka Puasa Warung Bothok Ini Diserbu Pembeli, Sehari Omzetnya Rp 4 Juta Lebih

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di tepi jalan di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, terdapat sebuah bangunan ruko yang diominasi warna kuning dan biru. Tempat tersebut adalah warung milik Sulastri (33), yang menjual berbagai macam menu, di antaranya bothok, pepes, serta garang asem. Pada Ramadan tahun ini, dia tetap buka, yakni pada sore dan waktu sahur.

istana bothok desa pedawang

Lastri, begitu dia akrab disapa pembeli, memberi nama warung miliknya Istana Bothok. Dia menuturkan, pada hari-hari biasa omzet yang masuk sebesar Rp 4 juta sehari. Pada bulan Puasa seperti sekarang, warung tersebut tetap dibanjiri pembeli, dan dia berharap bisa mendapat omzet lebih.

Suatu sore menjelang waktu berbuka puasa, sekitar pukul 16.30 WIB, Isatana Bothok tampak dipenuhi pembeli. Sulastri menuturkan, pada hari-hari biasa, pada waktu yang sama warungnya sudah tutup. Sedangkan pada puasa seperti saat ini, warungnya tetap buka hingga menjelang waktu berbuka puasa.

“Aku berharap pada bulan Puasa ini bisa mendapatkan omset lebih dari Rp 4 juta sehari. Karena selain jumlah dagangan diperbanyak, aku juga berjualan pada waktu sahur. Menu yang aku jual di antaranya, sop, pindang, rames, dan pecel,” ungkap wanita yang biasa di sapa Lastri kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

istana bothok kudus

Di Istana Bothok, ujar Lastri, menu dijual paling murah seharga seribu Rupiah, dan yang paling mahal  dengan Rp 21 ribu. Hampir semua menu yang dijual tersebut banyak diminati para pembeli. Bahkan pada saat Seputarkudus.com menyambangi ke Istana Bothok, tampak menu yang dijual tinggal beberapa bungkus. Dan beberapa menu sudah habis terjual.

“Aku bersukur hampir semua olahan bothok, garang asem, maupun pepes di sini diminati pembeli, tetapi yang paling laris dan cepat habis itu bothok petet serta bothok ikan Kakap,” Kata Lastri yang mengaku mulai membuka warungnya pada jam 13:00 WIB selama Ramadan.

Menurutnya, dia memulai usaha pembuatan berbagai macam olahan bothok tersebut Lima tahun yang lalu. Dia meneruskan usaha ibunya yang sebelumnya lebih banyak menjual menu pepes. Sejak aku yang mengelola, warung ini selain menjual pepes, menu aku tambah bothok dan garang asem. Alhamdulillah laris, dan bisa mempekerjakan sekitar delapan orang untuk membantu saya melayani pembeli,” ungkapnya.

- advertisement -

Ikatan Alumni SMAN 1 Kudus Selalu Sediakan Bus Mudik Gratis Tiap Tahun

0

SEPUTARKUDUS.COM – Sejumlah orang bersiap berangkat menggunakan bus. Dengan membawa beberapa kardus, mereka bergantian masuk bus untuk melakukan perjalanan pulang kampung ke Kudus. Kejadian tersebut diceritakan Nita Rini Dewi kepada Seputarkudus.com, terkait pelaksana progam mudik gratis yang setiap tahun diadakan untuk masyarakat Kudus yang bekerja di Jabotabek.

mudik gratis

Nita Rini Dewi menuturkan, foto tersebut diambilnya ketika pemberangkatan mudik gratis tahun 2015 di Jakarta. “Ini foto kegiatan mudik gratis tahun kemarin,” ungkapnya.

Dia memberitahukan, di tahun 2016 ini juga ada progam mudik gratis menggunakan tiga bus. Progam ini untuk warga Kudus yang tinggal di Jabotabek. “Pendaftaran terakhir tanggal 9 Juni 2016,” ungkapnya.

Nita menjelaskan, progam ini diselenggarakan Perwakilan Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang ada di Jakarta. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara serentak membuat progam mudik gratis di 35 Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah. “Kudus mendapatkan jatah dua bus. Nanti ditambah satu dari Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK) dan Ikatan Alumni SMAN 1 Kudus (IASKU),” ungkap dia yang menjabat sebagai Ketua Iasku dan Wakil Ketua FKMK.

Sepengetahuannya, pada bus yang disediakan pemerintah jumlah tempat duduknya sekitar 44 kursi dan bus yang disediakan FKMK dan IASKU berjumlah 34 kursi. “Jadi kira-kira bemberangkatan 122 orang saja,” tambah dia yang beralamat di Kemang, Jakarta Selatan.

Dia memberitahukan, untuk bus dari pemerintah syaratnya harus menunjukkan kartu tanda penduduk sebagai warga Kudus. Misal yang tidak memiliki KTP Kudus dapat ikut bus yang disediakan FKMK dan IASKU.

“Syaratnya harus KTP Kudus. Nanti warga Kudus yang ingin mudik sudah ber-KTP Jabotabek bisa ikut Bus FKMK dan IASKU,” jelasnya.

Pemberangkatan akan dilakukan tanggal 30 Juni 2016 pukul 10.00 WIB di area parkir Musium Purna Bhakti Pertiwi Jakarta. Dia menuturkan, nantinya FKMK dan Iasku akan memfasilitasi konsumsi bagi seluruh pemudik. “Untuk berbuka di perjalanan, nanti akan di fasilitasi FKMK dan IASKU,” tuturnya.

Nita juga memberitahukan, untuk kenyamanan nantinya setiap bus akan dikawal oleh petugas Dinas Perhubungan. “Jadi yang belum mendaftar segera mendaftar, terakhir tanggal 9 Juni 2016. Pendafataran dapat menghubungi Ibu Pupu dengan nomor 085778153809 atau datang di Jalan Bambu Asri Utara IV/16B Pondok Bambu Asri (belakang Penjara Wanita) Jakarta Timur,” tambahnya. 

- advertisement -

Kisah Teladan (2) Rahib yang Mengguncang Arsy Karena Siksa Raja

0
Ilustrasi. Sumber: Istimewa

 Dahulu kala ada seorang rahib, pemuka Bani Israil, yang hidup di dalam biaranya. Dia selalu beribadah di dalam biara tersebut. Setiap pagi dan sore ada malaikat yang datang kepadanya, untuk sekadar menanyakan, kalau-kalau ada hajat yang mau disampaikan. 

Di biara tersebut tumbuh pohon anggur yang berbuah, dan tiap hari rahib itu memakannya. Untuk minum, rahib itu cukup menengadahkan tangan dan air turun dari langit.

Suatu hari, ada seorang pelacur yang datang ke biaranya. Pelacur itu meminta atas nama Tuhan yang disembah kepada rahib, agar memberinya tumpangan untuk bermalam. Rahib mengizinkan pelacur itu. Setelah mendapat izin, pelacur itu melepas helai demi helai pakain, hingga telanjang bulat.

Rahib segera meminta pelacur itu segera mengenakan pakaian yang dilepas, seraya menutupi wajahnya karena malu. Namun pelacur itu bergeming.”Demi Allah, bersenang-senanglah malam ini bersamaku,” ujar pelacur itu.

Rahib kemudian bertanya kepada nafsunya, tentang tawaran pelacur tersebut. “Dia telah memintamu atas nama Allah,” kata nafsunya. “Celaka kamu wahai nafsuku. Kamu ingin amalku selama ini terhapus dan menjerumuskanku dalam api neraka,” kata rahib kepada nafsunya. 

“Sekarang kamu akan aku coba bakar dengan api kecil dari obor didepanku. Jika kamu kuat, akan aku penuhi keinginanmu untuk menyetubuhi wanita itu. 

Pelacur yang mendengar perbincangan rahib dengan nafsunya, hanya terdiam tak kuasa melihat satu demi satu jari rahib dibakar di atas obor. Pelacur yang melihat semua jari rahib hangus terbakar, menjerit sangat keras dan seketika itu mati. Rahib kemudian menutup tubuh pelacur itu dengan kain dan setelah itu berdiri untuk bersembahyang.

Keesokan harinya, iblis keliling kota dan menyebar fitnah bahwa rahib telah menyetubuhi seorang pelacur dan membunuhnya dalam biara. Warga yang terkena hasutan iblis itu segera berbondong-bondong menuju ke biara sang rahib. Fitnah itu juga terdengar di telinga raja, meminta para pengawal mengantarkannya ke biara.

Raja kemudian memerintahkan bala tentaranya untuk merobohkan biara rahib. Tak cukup sampai di situ, raja juga memerintahkan untuk menghukum rahib karena dituduh menyetubuhi pelacur dan membunuhnya.

Para tentara kemudian menyiapkan sebuah gergaji untuk menghukum rahib. Di depan warga, para tentara menggergaji kepala rahib, sehingga dirinya meronta kesakitan. Suara rahib itu menggunjang langit arsy, dan membuat para malaikat menangis tak berdaya melihat kekasih Allah itu disiksa.

Allah kemudian mewahyukan kepada Jibril. “Katakan kepadanya (rahib) janganlah merota untuk kedua kalinya. Aku telah menyaksikan seluruh kejadian itu. Jika dirinya meronta untuk kedua kalinya, maka akan Aku runtuhkan langit dan binasakan bumi.”

Kemudian, Allah menghidupkan pelacur yang telah mati. Pelacur itu kemudian bersaksi, “sungguh rahib tak menyutuhi dan membubuhku. Lihatlah jari-jarinya yang terbakar,” kata pelacur. Setelah menceritakan semua kejadian yang dia alami, si pelacur kemudian meninggal.

Raja kemudian menyesali apa yang telah dirinya perbuat. Dia memerintahkan kepada para tentara untuk mengubur jasad rahib dan pelacur. Dari kuburnya tercium bau wingi kasturi yang semerbak. 

Allah telah mengganjar rahib dengan lima puluh ribu bidadari dari surga Firdaus. Ganjaran itu diberikan karena rahib telah memegang teguh hukum Allah. (Wallahu A’lam)

- advertisement -

Penasaran Ingin Jadi Santri di Pondok Bareng, Zaenal Ikuti Ngaji Pasanan Ramadan

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Sejumlah laki-laki bersarung dan berpeci duduk di
serambi Masjid Jami’ Baitussalam, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten
Kudus. Mereka memegang kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahally dan
Jalaluddin as-Suyuthi. Saat itu mereka tampak memaknai halaman 41 sambil mendengarkan suara KH Sanusi yang mengajar para santri pasanan khusus di bulan Ramadan.
pondok bareng jekulo
Sejumlah santri tampak mengaji kitab Tafsir Jalalain di Masjid Baitussalam, Jekulo Kudus, Selasa (7/6/2016) siang. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara santri pasanan yang ikut mengaji Muhammad Zaenal Mustofa (21). Dia
menuturkan sedang mengaji kitab Tafsir Jalalain yang diajarkan oleh KH Sanusi.
Ketika ditanya Seputarkudus.com berapa lama dia mondok, dia mengaku hanya tinggal
di pondok ketika bulan Ramadan. “Saya asli Kudus, di sini saya hanya ikut
ngaji pasanan (mengaji di bulan Ramadan) saja,” ungkapnya.
Zaenal berasal dari Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan
Kaliwungu, Kudus. Dia mengaku mengikuti pasanan karena ingin
merasakan tinggal di pondok. Selain itu, dia juga ingin menambah wawasan keilmuan
terutama di bidang agama. 

“Sebelumnya saya belum pernah mondok. Bulan Puasa ini
saya manfaatkan untuk mengaji kitab kuning dan merasakan tinggal di pondok,”
tambah dia yang tinggal di Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah Jekulo.

Sayid Ali (19), santri yang juga ikut mengaji
menuturkan, biasanya di bulan Ramadan banyak orang dari luar ikut mengaji di pondok. Selain datang dari Kudus, ada juga yang berasal dari luar Kudus.
“Banyak orang kampung (bukan santri pondok) yang ikut mengaji. Ada yang tinggal
di pondok dan ada juga yang pulang ke rumah,” ungkapnya.
Dia yang sudah tiga setengah tahun mondok di Pondok Quran
Al-Huffadh Qoumaniyah menuturkan, orang dari luar boleh mengikuti pengajian
kitab di pondok-pondok Jekulo maupun di Masjid Baitussalam. “Pondok di Bareng terbuka untuk umum, namun ya harus izin dengan kiai atau pengurus,” ungkapnya.
Ali yang berasal dari Desa Bulung Cangkring, Kecamatan
Jekulo, Kudus menjelaskan, pondok-pondok di Jekulo, setiap bulan Ramadan
menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Santri boleh memilih mau mengaji kitab yang
diinginkan. “Santri dari pondok lain boleh mengaji di Qoumaniyah atau di Masjid
Baitussalam. Intinya dibebaskan,” tuturnya.
Dia menambahkan, di Masjid Baitussalam pengajian kitab
dimulai setelah salat Subuh. Berlanjut siang hingga malam. “Setelah Subuh sudah
dimulai, sekitar pukul 6.30 WIB mengaji Tafsir Jalalain, setelah Ashar tadarus
Al-Quran dan setelah tarawih dilanjutkan kitab kuning lagi. Jadwal sudah ada
di papan pengumuman,” ungkapnya.

- advertisement -

Di Pasar Brak Djarum Megawon, Keluar Pintu Pabrik Buruh Bisa Langsung Berbelanja

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Sangat lazim di Kudus,dimana ada keramaian di sana ada aktivitas perdagangan, tak terkecuali di sekitar pabrik-pabrik rokok. Hampir semua pabrik rokok di Kota Kretek terdapat pasar tumpah yang melayani para buruh rokok untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari usai bekerja.

Di sebuah pasar yang tidak begitu besar, terlihat beberapa pedagang baru membuka kios- kiosnya, padahal waktu telah menunjukan pukul 10.00 WIB. Pasar di selatan Jalan Mejobo, tepatnya di sekitar Brak Djarum Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, merupakan satu di antara banyak pasar tumpah yang ada di sekitar pabrik rokok.

Di sebuah lapak paling utara di Brak Djarum, tampak seorang wanita paruh baya sedang menata barang daganganya. Munsiroh, nama wanita tersebut, mengaku beruntung karena tempat dia berjualan disediakan oleh PT Djarum.

“Kami para pedagang di pasar dadakan Brak Megawon ini bersyukur karena disediakan lokasi seperti pasar. Untuk berdagang oleh pihak Djarum, para pedagang tidak dipungut uang sewa, paling hanya membayar uang kebersihan Rp 2 ribu setiap hari,” ujar Munsiroh kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Munsiroh menuturkan, pedagang yang ada kios-kios pasar yang dulunya berdagang di pinggir jalan, tak jauh dari Brak Djarum Megawon. Karena aktivitas mereka mengganggu lalu lintas, oleh pihak Djarum dibelikan tanah dan dibangun pasar. Kemudian para pedagang diminta pindah dan menempati lapak-lapak yang ada di dalam pasar tersebut.

“Pasar Dadakan itu yang belanja kebanyakan buruh Djarum. Jadi saat buruh pulang itulah puncak keramaian pasar ini,” kata perempuan yang mengaku mendapatkan omzet Rp 1,5 juta sehari.

Pasar tumpah memang sebuah fenomena unik di antara bangunan-bangunan brak Djarum berdiri. Keberadan para pedagang di pasar yang menjual segala kebutuhan sehari-hari, sangat dibutuhkan para buruh yang kebanyakan ibu rumah tangga.

Sulastri (33), satu di antara buruh Djarum menuturkan, keberadaan pasar di sekitar brak sangat membantu para buruh. “Para buruh Djarum yang setiap keluar dari pabrik langsung dapat upah. Kami bisa langsung berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar yang ada di sekitar pabrik. Ini sangat menghemat waktu kami, anak dan suami masih bisa terurus,” ungkapnya.

- advertisement -

Meski Hujan, Es Campur dan Es Rumput Laut Iis Ludes Terjual di Hari Pertama Puasa

0
Dua wanita berkaus warna hijau di bawah
tenda terpal biru tampak terburu-buru memasukan bahan es campur dan es teler ke dalam bungkus plastik. Mereka sudah ditunggu para pembeli yang sudah mengantre di sekeliling meja. Satu dari wanita tersebut bernama Iis (30), yang menjajakan minuman es di depan gedung DPRD
Kudus, pada hari pertama puasa, Senin (6/6/2016).

Iis menuturkan, dirinya sempat
cemas karena cuaca sore kemarin tampak mendung, bahkan sempat turun hujan. Padahal pada hari puasa pertama itu dia menyiapkan banyak bahan minuman es. 

Alhamdulillah meskipun
tadi sempat hujan tapi pada hari pertama puasa ini es saya terjual habis,” kata Iis kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, itu mengaku sudah berjualan es dengan menggunakan
gerobak selama delapan tahun di lokasi tersebut.
Biasanya saat bulan puasa, barang daganganya diperbanyak
dari hari biasa.

“Biasanya aku mulai berjualan es
pada jam 08.00 WIB, sedangkan untuk Ramadan aku mulai jualan jam 14:00 WIB
dan pulang kalau sudah sepi pembeli atau pas sudah habis seperti sekarang ini,”
ujarnya.
Satu porsi es campur dan es
teler miliknya dijual dengan harga Rp 3500. Iis mendapatkan pemasukan sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu, tergantung banyaknya porsi minuman es
yang terjual. Omzetnya juga dipengaruhi cuaca.
Pada sore kemarin, hal yang sama juga dialami Firdaus
Budi (19) pedagang es teler dan es bangka, yang berjualan tak jauh dari tempat Iis berjualan. Pada pukul 18:00 WIB, minuman es yang dia jual juga ludes. “Tadi sempat cemas juga,
soalnya hujan turun tapi aku bersyukur dagangan sudah habis. Jadi Rp 800 ribu
sudah kepegang,” ujar pria yang biasa disapa Budi tersebut.
Beberapa pedagang berbagai
macam es yang berada tak jauh dari gedung DPRD, di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, sore itu dipenuhi para
pembeli. Bahkan tampak beberapa kali terlihat antrean pembeli es tersebut,
menghambat laju kendaraan yang melintas di jalan. 
- advertisement -

Masjid Langgar Dalem, Kediaman Sunan Kudus Sebelum Membangun Masjid Menara

0

SEPUTARKUDUS.COM, LANGAR DALEM – Bangunan ini terletak kurang lebih 250 meter di utara Masjid Al-Aqsa Menara Kudus. Bangunan berupa masjid satu lantai ini tampak klasik ornamen-ornamen yang ada di dalamnya. Atap masjid masih berupa cungkup. 

Menurut tokoh agama Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, KH Choiruzzad, masjid tersebut bernama Masjid Langgar Dalem, yang dulu digunakan sebagai kediaman Syeh Ja’far Shodiq atau dikenal sebagai Sunan Kudus.

Yi Zad, begitu KH Choiruzzad akrap disapa,  menceritakan, berdirinya Masjid Langgar Dalem konon sebelum berdirinya masjid Al Aqsa Menara Kudus. Sebelum menjadi masjid, Langgar Dalem merupakan kediaman Sunan Kudus yang digunakan santri-santrinya untuk mengaji. “Pusat menyebaran agama Islam di Kudus itu di Langgar Dalem,” kata Yi Zad ketika ditemui di kediamannya di Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu (28/5/2016).

Langgar Dalem menurut Yi Zad mempunyai arti langgar (rumah) dan dalem (pribadi). “Jadi ya Langgar Dalem Itu rumah pribadinya Sunan Kudus yang digunakan untuk mengaji. Sekarang Langgar Dalem tersebut difungsikan untuk tempat beribadah (masjid),” ungkapnya.

Dia menambahkan, pendirian Langgar Dalem murni untuk kepentingan agama Islam. “Santri-santri datang dari berbagai daerah untuk mengaji di Langgar Dalem,” jelasnya.

4 Saka Terendam di Bak Wudlu

Di sebelah selatan bangunan masjid, terlihat empat saka atau tiang berbentuk bulat memanjang yang terendam di bak air wudu. Yi Zad, bentuk bangunan tersebut masih asli. Hanya beberapa bagian depan masjid yang sudah mengalami perubahan karena direnovasi. Bangunan khas masjid yang tak dirubah sejak dulu yakni tempat wudlu.

Dia menuturkan, di tempat berwudlu ada empat saka (tiang penyangga) yang terendam di dalam bak air. “Bangunan tersebut masih asli belum dirubah-rubah,” katanya.

Putra KH. Turaikhan Adjhuri itu menceritakan, dulu tempat wudlu tersebut pernah akan dirubah. Namun dia melarang karena menurutnya bangunan Masjid Langgar Dalem termasuk situs bersejarah yang perlu dilestarikan. “Dulu pernah ada renovasi dan tempat wudlu tersebut mau di bongkar. Namun saya melarang karena itu termasuk situs sejarah yang perlu dijaga,” ungkapnya.

Yi Zad, begitu dia akrab disapa, saat ditanya maksud dari saka yang terendam di bak wudlu mengaku tidak tahu. “Saya kurang tahu dari alasan kenapa tiaangnya direndam air. Karena saya belum lahir,” tuturnya.

- advertisement -