Beranda blog Halaman 1959

Ratusan Es Degan Yoyok Habis Diserbu Pembeli, Selama Ramadan Omzet Rp 3 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Seorang pria berkaus merah dan mengenakan topi hitam tampak sibuk melayani pembeli. Kedua tangannya begitu cekatan mengambil Kelapa lalu melubanginya dan menuangkan airnya ke dalam teko. Kelapa lalu dibelah dan diambil isinya, dan dimasukan ke dalam plastik. Di adalah Yoyok (27), pemilik warung Es Degan Putra Samian, yang banyak didatangi pembeli yang rela mengantre meski waktu berbuka puasa masih beberapa jam lagi.

Yoyok menuturkan, mulai pukul 15.00 WIB, para pembeli sudah berdatangan meskipun belum begitu banyak. Pembeli mulai antrepada pukul 16.00 WIB, hingga menjelang adzan Magrib.

“Pelangganku memang ada yang sengaja membeli kelapa muda meskipun adzan Magrib masih sekitar dua jam lagi. Biasanya, kelapa muda ini dicampur lagi es serta sirup, ataupun dibuat pelengkap es campur hingga pas dijadikan minuman segar waktu berbuka puasa,” ujarnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Tempat berjualan Yoyok berada di tepi Jalan Pattimura, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, tepatnya di depan SMA Keramat. Warungnya sudah ramai pembeli, padahal waktu baru menunjukan pukul 16.00 WIB. Sesekali Yoyok terlihat menerima telepon dari pelanggan yang memesan kelapa muda yang dia jual.

“Para pelanggan yang mempunyai nomor HP-ku biasanya memang pesan lewat telepon. Jadi pas dia ke sini langsung ambil dan bayar, tanpa harus ngantre dulu. Biasanya yang memesan lewat telepon itu para pelanggan lama dan beli kelapa mudanya juga lumayan banyak,” ujarnya.

Yoyok mengaku sudah berjualan kelapa muda sekitar tiga tahunan. Selama ini dia mendapatkan kelapa muda dari daerah Purworejo. Pertama berdagang di sekitar GOR Wergu Wetan Kudus. Saat pedagang direlokasi ke kios yang di peruntukan para pedagang kaki lima, omzetnya turun drastis.

Sebelum direlokasi, Yoyok bisa menghabiskan 400 buah kelapa muda sehari. Tetapi sejak direlokasi omzetnya turun drastis. Lalu dirinya memutuskan pindah ke depan SMA Kramat sekitar empat bulan yang lalu, dengan menyewa tempat sekitar Rp 3 juta setahun.

Sejak pindah ke sana penjualan kelapa muda kembali normal. “Bahkan selama puasa bisa menghabiskan Kelapa muda sekitar 450 buah sehari, dengan harga Rp 8 ribu per buah. Kalau dirata-rata omzet sehari sekitar Rp 3 juta,” ungkapnya.

- advertisement -

Taman Oasis, Tempat Asri nan Sejuk yang Jadi Favorit Warga Kudus Ngabuburit

0

SEPUTARKUDUS.COM, OASIS – Sore itu di tepi Jalan Lingkar Utara Kudus terlihat puluhan orang duduk di atas motor yang terparkir di depan tugu Djarum OASIS Kretek Factory. Di kedua sisi tugu terdapat sebuah jalan menuju kawasan industri, tampak di tepi jalan tersebut ratusan orang tengah nongkrong menunggu waktu berbuka, atau biasa disebut Ngabuburit.

Di sebelah kedua jalan tersebut terdapat puluhan pohon berjajar di sebuah taman berumput, yang membuat suasana sore di sana terasa sejuk dan nyaman. Indriyani Nur Zaifah (21), dia ingin berlama-lama di tempat tersebut sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Indri, begitu mahasiswi STAIN Kudus itu biasa disapa,  mengatakan, suasana di taman Oasis sangat asri dan dipenuhi banyak pohon yang rindang, menjadikan tempat tersebut sejuk dan nyaman.  “Tempat ini suasananya mendukung untuk di jadikan tempat ngabuburit,” kata Indri kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Indri mengaku datang ke Taman Oasis bersama kedua temanya seusai kuliah. Karena tidak ada kegiatan, dirinya memanfaatkan waktu tersebut untuk  ngabuburit.

“Tadi aku dan kedua temanku sudah berkeliling mencari tempat yang ramai dan nyaman buat ngabuburit. Aku tadi juga sudah ke Taman Ganesaha di Purwosari, tetapi di sana sepi jadi kami memutuskan ke sini,” ungkap Indri.

Taman Oasis menjadi tempat favorit warga sekitar untuk Ngabuburit. Tidak hanya waktu Ramadan, pada hari biasa tempat tersebut juga ramai  didatangi warga untuk bersantai.

Andi (18) warga Desa Purworejo, Kecamatan Dawe, Kudus, menuturkan, pada Ramadan ini, hampir setiap sore dia datang ke Taman Oasis bersama temanya untuk ngabuburit.

“Sebenarnya di Taman Oasis itu setiap sore ramai terus, tetapi pada bulan Ramadan lebih ramai. Kalau hari biasa paling anak muda saja. Tetapi kalau puasa seperti ini, banyak orang tua yang mengajak anaknya bermain ke taman Oasis untuk ngabuburit,” ucapnya.  

- advertisement -

Masjid Wali di Kudus Ini Dibangun Arya Penangsang, Nama Jepang Berasal dari Jipang

0
Masjid Wali Desa Jepang Kudus. Foto: Rabu Sipan.

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Bangunan masjid ini berlantai satu dengan empat tiyang penyangga di ruang utama. Dari depan, gerbang batu bata merah setinggi empat meter berarsitektur masa Hindu-Buddha tampak gagah di depan. Masjid tersebut bernama Al-Makmur, oleh masyarakat Kudus mengenal dengan nama Masjid Wali Jepang, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Fatkhur Rohman Aziz, Takmir Masjid Al-Makmur menuturkan, Masjid Wali Jepang dulunya bernama Masjid Jipang, satu di antara nama desa yang ada di Blora. Menurutnya, karena orang Kudus sulit menyebut Jipang, kemudian berubah menjadi Jepang. “Masjid ini menurut cerita dulu bernama Jipang, nama satu daerah yang ada di Blora,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com ketika ditemui di Masjid Al-Makmur, belum lama ini.

Dia menuturkan, Jipang merupakan nama desa yang ada di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Letaknya di tepi Sungai Bengawan Solo. Menurut dari cerita yang dipercayai masyarakat, yang membangun masjid Jepang adalah Arya Penangsang dengan dibantu Sunan Kudus.

Fatkhur menjelaskan, daerah Jepang dahulu merupakan jalur yang sering dilewati Arya Penangsang ketika ingin berkunjung ke Sunan Kudus. Karena jarak Blora dan Kudus jauh, maka dibuatkanlah tempat untuk istirahat sekaligus untuk salat. “Konon Sunan Kudus membantu dalam mendirikan masjid ini. Sekaligus untuk media berdakwah,” tuturnya.

Karena Arya Penangsang datang dari Daerah Jipang, Blora, menurutnya, daerah yang didirikan masjid dinamakan Jipang. “Sekarang lebih populer dengan nama Jepang,” jelasnya.

Dia memberitahukan, Masjid Al-Makmur sampai sekarang belum ada yang mengetahui tahun pasti berdirinya. Menurutnya, candra cengkala penanda pendirian bangunan sampai sekarang belum ditemukan. “Bangunan-bangunan kuno biasanya ada candra cengkala, bisa berupa gambar atau tulisan. Itu untuk penanda kapan bangunan didirikan,” terangnya.

Fatkhur melanjutkan, dari beberapa peneliti menuturkan, bangunan Masjid Al-Makmur didirikan abad ke-16. Karena bangunan Masjid Wali Jepang dengan bangunan yang ada di Menara Kudus cukup mirip. “Kira-kira abad ke-16. Pastinya tidak ada yang tahu. Itupun asumsi bahwa arsitektur masjid mirip dengan bangunan yang ada di Menara Kudus,” tuturnya.

Dia mencontohkan, terdapat gerbang dari tumpukan batu bata merah, empat saka di ruang utama salat, makam di belakang masjid, mustaka yang berbahan grabah (tanah liat), sumur dan beberapa prasasti yang terdapat di tembok. “Dari asumsi tersebut, masjid Al-Makmur didirikan sekitar Masjid Menara berdiri,” terangnya.

- advertisement -

Cewek Ini Datang Jauh-Jauh dari Banjarmasin ke Undaan Hanya untuk Belajar Kaligrafi

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Di antara puluhan orang yang duduk, terlihat perempuan berkerudung kuning sibuk mencoretkan pena di atas kertas putih. Wanita tersebut tidak sedang menggambar, tetapi membuat kaligrafi. Annida Hafizatul Rahmah (24), nama perempuan tersebut, yang datang jauh-jauh dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mengikuti Pesantren Kaligrafi Ramadan (Pasaran) di Pesantren Seni Kaligrafi Qur’an (PSKQ) Modern, Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Anni, begitu dia biasa disapa, tampak antusias mengikuti pembelajaran seni membuat kaligrafi. Sesekali dia melihat goresan tinta teman di sebelahnya. Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku senang belajar di sana. Dia mengaku tak sia-sia datang jauh-jauh dari Hulu Sungai Utara, Banjarmasin, karena pembelajaran di PSKQ Modern sangat menyenangkan.

“Aku sudah lama suka seni kaligrafi, tetapi hanya sekadar menulis belum tahu banyak tentang teknik dan kaidahnya. Di sini saya jadi tahu, membuat kaligrafi itu ada teorinya. Saya juga diberi pembelajaran bentuk-bentuk kaligrafi, di antaranya ada bentuk Stulusi, Naskhi, Farisi dan Khuffi,” ujar Anni.

Perempuan murah senyum itu mengaku mengetahui acara Pasaran dari akun Facebook milik Ustadz Muhammad Asiry Jasiri, Pngasuh PSKQ Modern. Di akun Facebook itu Ustadz Asiry menginformasikan pelaksanaan Pasaran selama Ramadan tanpa dipungut biaya.

“Aku dan teman-teman yang belajar mengikuti Pasaran, tidak dipungut biaya sepeserpun. Kami hanya mengeluarkan biaya untuk kebutuhan makan, selama belajar di sini,” ungkapnya.

Kegiatan Pasaran berupa pelatihan kilat teknik penulisan kaligrafi itu dimulai hari pertama puasa, Senin (6/6/2016) dan berakhir pada Kamis (30/6/2016).

Anni menuturkan, dia datang Banjarmasin bersama kedua temanya. “Ada sekitar 16 orang putra dan putri yang mengikuti Pasaran. Mereka kebanyakan dari sejumlah daerah di Jawa. Yang dari luar Jawa aku dan kedua temanku,” ujarnya.

- advertisement -

Musala Kecil Ini Dulu Pernah Menjadi Tempat Mengaji KH Sya’roni Ahmadi

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Bangunannya terbuat dari bahan kayu berukuran sekitar 4×3 meter. Dari depan tampak ukiran kayu dengan pintu berwarna hijau yang terbuat dari besi. Ruangan depan terdapat beberapa meja-meja kecil yang difungsikan untuk mengaji. Bangunan di musala di Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, dulu pernah digunakan KH Sya’roni Ahmadi untuk menuntut ilmu.

mushola jekulo kudus

Hal tersebut diungkapkan Gus Khidir, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, Kauman, Jekulo. “Musala ini dulu pernah digunakan KH Sya’roni Ahmadi untuk menuntut ilmu,” ujar Gus Khidir, saat ditemui di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, Selasa (7/6/2016).

Dia menceritakan, sebelum pondok pertama di Jekulo didirikan KH Yasin tahun 1923, musala tersebut difungsikan sebagai tempat mengaji santri yang ada di wilayah Jekulo. Musala itu milik Mbah Dahlan Khazanah, kakak ipar Mbah Yasin. “Menurut cerita, Kiai Sya’roni pernah nyantri di sana (musala),” kata Gus Khidir kepada Seputarkudus.com.

mushola jekulo kudus

Menurutnya, era pendidikan Islam di Bareng dimulai dari musala tersebut. Dulu banyak kiai-kiai kondang di Bareng, satu di antaranya Mbah Sanusi, yang konon dengan hitungan detik bisa sampai Makkah, belajar di musala itu. Namun kiai-kiai zaman dulu tidak ada yang mau mendirikan pesantren. 

“Di Bareng dulu banyak kiai-kiai kondang. Namun anehnya tidak ada yang mau membuat pesantren. Saya juga tidak tahu alasannya apa,” ungkapnya.

Gus Khidir yang juga cucu dari KH Yasin menuturkan, selain mengaji Al-Quran, musala tersebut juga digunakan untuk mengaji kitab kuning. “Modelnya persis seperti pondok-pondok yang ada di Jepara. Mushola digunakan untuk mengaji seperti di pesantren,” jelasnya.

mushola jekulo kudus

Menurut Gus Khidir, bangunan musala itu masih dipertahankan dan sampai sekarang masih digunakan untuk mengaji. “Musala tersebut dikelola oleh Kiai Zaid ,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, musala yang dulu digunakan KH Sya’roni Ahmadi menuntut ilmu, kini berubah fungsi menjadi Pondok Pesantren Darrussalam Fissaalami Sibyan. Pondok tersebut diasuh oleh KH Mujahid Dahlan. “Sekarang sudah menjadi pondok pesantren,” tuturnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (6) Siksa Bagi Orang yang Tak Mengeluarkan Zakat Harta

0

SEPUTARKUDUS.COM – Dikisahkan Ibnu Hajar, suatu hari beberapa ulama Tabiin berkunjung ke rumah Abu Sinan. Dia kemudian mengajak mereka untuk bertakziyah ke rumah tetangganya yang baru saja meninggal. Di rumah saudara yang baru saja ditinggalkan, mereka melihat raut muka sedih. Mereka kemudian menghiburnya, dan mengatakan bahwa tak akan ada yang bisa meninghindari maut.

infospesial.net

Tetapi orang tersebut berkata, “Saya tahu bahwa ajal tak bisa dielakkan. Namun saya sedih karena memikirkan siksa yang dihadapi saudaraku di dalam kubur,” ujarnya kepada para ulama tabiin.

Lalu dia bercerita. Setelah jasad saudaranya dikubur, sejumlah orang yang mengantar ke kubur pulang, namun dirinya tetap di kubur saudaranya itu. Dia kemudian mendengar saudaranya di dalam kubur menjerit dan berkata. “Aku selalu mengerjakan salat dan puasa, namun mereka meninggalkanku dengan menanggung siksa.”

Mendengar perkataan itu, dia kemudian membongkar kubur saudaranya. Dia melihat api yang menyala di dalam kubur. Dia kemudian berusaha melepas kalung api di leher saudaranya dengan mengulurkan tangan, namun tangannya terbakar. Dia kemudian menutup kembali kubur saudaranya dan pulang dengan tangan yang hangus terbakar.

Kemudian para ulama Tabiin bertanya, apa yang dikerjakan saudaranya sehingga mendapat siksa di dalam kubur. “Saudaraku tak mengeluarkan zakat hartanya.” (Wallahu A’lam)  

 

- advertisement -

Anggota Broadcasting UMK Rela Mengamen Demi Anak Yatim

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Dua orang mahasiswa membawa kardus
dan beberapa stiker yang dipegangnya. Mereka berjalan di sisi jalan raya untuk
menemui orang-orang yang berada di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Mereka merupakan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik
Devisi Broadcasting Universitas Muria Kudus (UMK) yang mengumpulkan dana guna santunan anak
yatim.

ukm jurnalistik umk
Anggota
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Divisi Broadcasting UMK
sedang melakukan penggalangan dana di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus,
Sabtu (11/6/2016). Foto: Imam Arwindra
Mahfud Syaifudin, satu diantara penggalang dana menuturkan,
dia dan teman-temannya rela mengamen untuk anak yatim
di Kudus. “Kami di Alun-alun mengamen untuk mengumpulkan dana guna
diberikan kepada anak yatim piatu yang ada di Kudus,” ungkapnya ketika ditemui
di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (11/6/2016).
Dia menambahkan, selain di Alun-alun dia juga menggalang
dana  di kampus UMK. Hasilnya sekitar ada
Rp 7 juta lebih uang yang sudah dikumpulkan. “Rencananya kami terus menggalang dana supaya
uang yang tersalurkan semakin banyak,” jelasnya.

Mahasiswa Sekarang Suka Hura-hura

Ketua UKM Jurnalistik Jaya Retriyansah (21) menuturkan,
selain melakukan bakti sosial, kegiatan ini juga melatih mahasiswa untuk membangun
jiwa sosial. Menurutnya, mahasiswa sekarang banyak membuat kegiatan yang
hura-hura. Mereka hanya sekadar membuat kegiatan  seremonial saja. “Kalau bisa kan yang memberikan dampak postif kepada orang lain,” ungkapnya.

ukm jurnalistik umk
Anggota UKM Jurnalistik Divisi Broadcasting Universitas Muria Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, nantinya akan ada tiga panti asuhan yang
diundang datang di UMK untuk diberikan santunan. Antara lain,
Darul Amanah (Mejobo), Tarbiatul Aulad (jekulo)dan  dan Suamsah Muhammadiyah (Singo Candi). “Jumlahnya
sekitar ada 125 anak yatim piatu yang diundang ke UMK,” tuturnya.

Jaya menambahkan, kegiatan ini pertama kali yang diadakan
UKM Jurnalistik Devisi Broadcasting. Menuturnya, toko-toko yang berada di sekitar
Kampus UMK juga masuk dalam daftar penggalangan dana mereka. “Toko-toko juga masuk
dalam sasaran kami. Semua kami datangi. Alhamdulillah pada menyumbang,”
tuturnya.
Dia memberitahukan, kegiatan santunan anak yatim akan
dilakukan 17 Juni 2016 di Masjid Darul Ilmi UMK. “Jika ada
dermawan yang ingin menyumbang dapat menghubungi nomor 085740643990 atau bisa datang di bascamp UKM Jurnalistik di UMK,”
jelasnya.

- advertisement -

Super Music Ajak Komunitas Pantura Timur Ngabuburit di Simpang Tujuh Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Lantunan musik terdengar keras di depan Kantor Bupati Kudus. Dengan menggunakan mobil sebagai panggungnya, sejumlah grup band tampak bergantian menampilkan dua sampai tiga lagu. Beberapa pengendara yang lewat kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pun berhenti untuk melihat acara Super Music Acoustics, Sabtu (11/6/2016).

super music
Penampilan band dalam acara Acoustic Super Music di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (11/6/2016). Foto: Imam Arwindra

Wira, panitia kegiatan Super Music Acoustic menuturkan, selain ngabuburit bersama, kegiatan ini ingin mengumpulkan komunitas-komunitas yang ada di Kudus. Dia mengungkapkan, ada sekitar 10 komunitas yang hadir. “Kami ingin menjalin komunikasi dengan komunitas-komunitas yang ada di Kudus,” jelasnya kepasa Seputarkudus.com.

Dia mengungkapkan, kegiatan ini bukan hanya di Kudus saja melainkan ada di lima daerah yang ada di sekitar Pantura timur. Antara lain, Rembang, Juwana, Pati, dan Kudus. “Besok (12/6/2016) terakhir kita ada di Jepara,” tambahnya.

Menurutnya, komunitas yang hadir bukan hanya grup band musik saja melainkan ada komunitas motor, suporter bola dan lainnya. “Ada klub motor Beat dan Suporter Real Madrid. Jadi bukan hanya band saja,” tuturnya.

Wira mengungkapkan, kegiatan ini cukup penting untuk menjaga solidaritas antar komunitas yang ada di Kudus. selain itu, Super Music juga menyediakan takjil untuk digunakan berbuka bersama-sama. “Ada sekitar 200 takjil yang nanti kita santab bersama-sama,” ungkapnya.

Unggul, satu di antara personil band yang hadir menuturkan, selain dapat undangan dari Super Music, dia bersama grup band Float Cassava datang untuk ikut ambil bagian menghibur masyarakat Kudus. “Ya ngabuburit sambil mengibur warga Kudus yang ada di Alun-alun. Itung-itung memeriahkan bulan Ramadan,” ungkapnya.

Bersama grup bandnya yang mempunyai enam personil, menampilkan lagu-lagu yang bergenre pop-jaz. Lagu yang dibawakan di antaranya Lir-ilir dan Ya Robbana ciptaan Opick. “Lagu Lir-ilir dan Ya Robbana kami aransemen menjadi genre pop-jaz,” ungkapnya.

Gitaris menuturkan, acara itu sangat baik untuk anak-anak muda seperti dirinya. Selian bisa mengasah bakat, acara itu juga mempertemukan komunitas-komunitas yang ada di Kudus. “Kami berterima kasih kepada Djarum Super yang mensponsori acara ini,” tambahnya.

- advertisement -

Fan Real Madrid Kudus Bagi Takjil Gratis di Acara Super Music Acoustic

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di utara Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus tampak puluhan orang berdiri menghadap panggung yang tengah menampilkan pertynjukan musik. Di sebelah barat, tepatnya di belakang penjual takjil, bergerombol puluhan orang mengenakan kaus sebuah klub sepak bola. Puluhan orang tersebut adalah anggota Pena Real Madrid De Indonesia Regional Kudus yang datang mendukung acara Djarum Super Present: Ngabuburit Acoustic.
“Kami datang ke acara ini karena diundangan penyelenggara. Selain untuk meramaikan acara, kami juga membantu membagikan takjil gratis untuk masyarakat yang hadir di acara ini,” kata Ari Wahyudi (26), anggota komunitas tersebut kepada Seputarkudus.com, Sabtu (11/6/2016).

Ari, begitu dia disapa, menuturkan, selain di acara ini, komunitas suporter Real Madrid Kudus memang sudah beberapa kali terlibat kerjasama dengan Djarum di berbagai even. Biasanya kerjasama itu terkait even yang behubungan dengan sepak bola, misalnya nonton bersama pertandingan Real Madrid dengan klub sepak bola lainya.

“Kemarin waktu ada pertandingan final Liga Champion yang mempertandingkan Real Madrid dengan Atletico Madrid, kami bekerja sama dengan Djarum mengadakan nonton bareng di Obong Steak,” ujar pria yang sore itu datang mengendarai Jeep antiknya tersebut.

Warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus, itu datang ke acara Ngabuburit Accoustic, bersama dengan istri serta anaknya.

Terbentuknya Komunitas

Mereka bergerombol dengan sesekali membentangkan baner panjang yang bertuliskan identitas komunitas tersebut. Terlihat mereka juga mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama.

Ari mengatakan, komunitas Pena Real Madrid De Indonesia Regional Kudus, terbentuk pada 2010 dengan anggota delapan orang. Sekarang anggota resmi yang memegang kartu anggota sekitar 89 orang.

“Di komunitas ini tidak ada iuran bulanan, hanya iuran kalau ada acara. Di antaranya futsal iuran Rp 10 ribu, sedangkan acara nonton bersama Rp 15 ribu sampai 25 ribu, tergantung tempat dan sponsor,” ujarnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (5) Perempuan Cantik Nan Dermawan, Sepotong Roti Dibalas Sepotong Tangan

0

SEPUTARKUDUS.COM – Suatu ketika pada zaman Bani Israil terjadi paceklik saat musim kemarau tiba. Rumput-rumput mengering dan tanaman mati karena lama tak turun hujan. Kehidupan masyarakat Bani Israil saat itu sangat sulit karena kekurangan makanan.

Suatu hari seorang miskin berkeliling dari pintu ke pintu rumah untuk meminta sedekah. Di satu rumah milik orang kaya dia mengetuk pintu dan memohon belas kasihan. “Demi Allah kasihanilah saya meski hanya dengan sepotong roti,” kata pengemis itu.

Lalu muncul perempuan cantik membawa sepotong roti dan diberikan kepada pengemis itu. Tiba-tiba ayah perempuan tersebut datang marah karena melihat apa yang telah dilakukan anak perempuannya. Dia tak rela roti itu diberikan kepada pengemis. Dengan kemarahannya, orang kaya tersebut sampai hati memotong tangan kanan putrinya yang telah menyerahkan sepotong roti kepada si fakir.

Karena perbuatan si kaya itu, Allah kemudian menghukumnya dengan melenyapkan hartanya tanpa sisa. Dia jatuh miskin dan pada akhir hayatnya meninggal dengan keadaan hina. Anak perempuannya yang cantik kemudian menjadi pengemis dan menjadi peminta-minta. Dia mengemis dari rumah ke rumah untuk meminta belas kasihan.

Di satu rumah, perempuan tersebut bertemu dengan orang kaya yang berbelas kasihan kepadanya. Dia melihat wajah pengemis itu cantik, karena itulah perempuan kaya itu memiliki keinginan mengawinkannya dengan putranya. Singkat cerita, pengemis itu dikawinkan dengan putranya.

Setelah keduanya kawin, si ibu memberikan pakaian dan perhiasan kepada pengemis cantik tersebut. Di satu malam saat datang waktu makan, suaminya melihat istrinya yang cantik itu menggunakan tangan kiri untuk makan.

“Gunakanlah tangan kananmu untuk makan,” kata suaminya. Perempuan cantik itu tetap menggunakan tangan kirinya untuk makan, karena tak ingin suaminya mengetahui dirinya tak memiliki tangan kanan. Lalu suaminya mengulang perkataannya kembali, namun istrinya tetap bergeming.

Tiba-tiba, muncul suara yang memintanya mengekuarkan tangan kanannya.”Keluarkanlah tanganmu wahai hamba-Ku. Engkau telah memberikan sepotong roti kepada orang miskin karena-Ku. Dan karena itu tangan kananmu terpotong. Tidak ada alasan bagi-Ku untuk tidak menggantinya.”

Dikeluarkanlah tangan kanan istrinya, dan tak diduga tangan kanannya yang sebelumnya terpotong kembali sempurna. (Wallahu A’lam)   

- advertisement -

Masjid Wali Loram Ternyata Dibangun Orang Tionghoa atas Perintah Sunan Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Masjid di Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, ini tampak khas karena memiliki gerbang berarsitektur Hindu-Buddha. Masjid At-Taqwa, nama masjid tersebut, masyarakat Kudus sering menyebutnya Masjid Wali Loram

Masjid ini didirikan seorang Muslim keturunan Tiongkok bernama Tji Wie Gwan, yang tak lain ayah angkat Sultan Hadirin. Dia diperintahkan langsung oleh Sunan Kudus untuk membangun masjid itu, untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.

Dari depan, tampak gerbang Masjid Wali Loram tersusun dari ratusan batu bata merah setinggi lebih kurang empat meter. Terdapat dua pintu di sebelah utara dan selatan, serta satu pintu utama di tengah. Gerbang itu sangat mirip dengan gerbang Masjid Menara Kudus.

Seputarkudus.com berkesempatan menemui Afrohamanudin (48), Takmir Masjid Wali Loram, Jumat (10/6/2016), di masjid At-Taqwa. Dia sangat antusias berbagi cerita pendirian masjid dan penyebaran Islam di Loram Kulon.

“Gerbang Masjid At-Taqwa dibuat oleh ayah angkat Sultan Hadirin bernama Tji Wie Gwan keturunan Tiongkok. Pembangunan dilakukan sekitar tahun 1596-1597 masehi,” kata Afrohamanudin mengawali cerita pembangunan Masjid Wali Loram.

Menurutnya, pembangunan gerbang tersebut merupakan perintah langsung dari Sunan Kudus. Bangunan yang dibuat Tji Wie Gwan membuat masyarakat Loram yang saat itu masih menganut Hindu-Buddha, tertarik untuk datang melihat.

Tidak hanya gerbang, Afrohamanudin menyebut Tji Wie Gwan juga membuat bangunan masjid yang kini dikenal masyarakat dengan nama Masjid Wali Loram. “Nama masjidnya lebih dikenal Masjid Wali Loram. Karena saat Pemerintahan Orde Baru mengharuskan ada penamaan masjid, akhirnya Masjid Wali Loram di beri nama Masjid Jami At-Taqwa,” jelasnya.

Dia menuturkan, pada masa itu, masyarakat Loram mayoritas menganut Hindu-Buddha. Karena Tji Wie Gwan membuat gapura yang menyerupai tempat ibadah agama yang dianut masyarakat sekitar, hal itu membuat banyak warga yang penasaran dan datang untuk melihat. 

“Masyarakat Loram penasaran ingin tahu apa yang ada di balik gerbang. Masyarakat yang masuk ke masjid, oleh Tji Wie Gwan diperkenalkanlah fungsi bangunan masjid,” tambahnya.

Tji Wie Gwan, katanya, juga mengajarkan budaya dan Islam kepada warga Loram yang masuk ke masjid. Akhirnya, banyak masyarakat Loram yang masuk Islam. “Karena kepandaiannya dalam membuat bangunan dan menyebarkan Islam, Tji Wie Gwan mendapatkan julukan Sungging Badar Duwung. Sungging artinya ahli ukir, Badar sama dengan batu dan Duwung artinya tatah)” jelasnya.

Awal Penyebaran Islam Di Loram

Afrohamanudin menjelaskan awal masuknya Islam di wilayah Loram. Ketika terjadi gejolak perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak, Sunan Kudus yang saat itu masih menjadi Senopati lebih memilih keluar dari Kerajaan. Dia ingin melanjutkan penyebaran Islam ke wilayah utara. “Sebelumnya, Sunan Kudus bertemu Kiai Telingsing untuk memberitahukan keinginannya menyebarkan agama Islam ke wilayah arah utara,” tuturnya.

Pertemuan antara Sunan Kudus dan Kiai Telingsing, kata Afrohamudin terjadi wilayah Loram. Karena melihat Loram dekat dengan jalur transportasi air dan memiliki tanah yang subur, akhirnya diputuskan menyebarkan agama Islam di Loram dengan membangun sebuah tempat untuk berdakwah.

“Ketika itu yang disuruh Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam di Kudus selatan yakni Sultan Hadirin menantu dari Sunan Kudus,” jelasnya.

Dia mengisahkan, Sultan Hadirin yang menjadikan Dewi Prodo Binabar (Putri Sunan Kudus) sebagai istri keduanya, mengajak ayah angkatnya Sungging Badar Duwung untuk membantu berdakwah di Loram. “Lalu dibuatlah gapura menyerupai tempat ibadah agama Hindu-Buddha yang di dalamnya ada masjid,” tambahnya.

Menurutnya, Sunan Kudus sudah mengetahui Sungging Badar Duwung ahli dalam bidang bangunan dan ukir. Karena sebelumnya telah menyelesaikan Masjid Mantingan di Jepara yang konon membuat Sunan Kudus terpesona. “Ada yang menceritakan, Sunan Kudus sendiri yang meminta untuk dibuatkan bangunan Masjid di Loram,” ungkapnya.

- advertisement -

Mbah Mardi Pakai Handuk Basah di Kepala untuk Redam Terik dan Panas Aspal Saat Puasa

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL – Di tengah lalu-lalang kendaraan dan teriknya sinar matahari, beberapa orang mengenangan rompi Oranye mengikuti alat berat yang sedang menggilas aspal hotmix, di Jalan Jendral Sudirman, tak jauh dari lampu merah Ngembal. Di sudut lain tampak lelaki tua berkaus kuning merapikan ceceran aspal. Lelaki itu bernama Mardian (53), yang siang itu tetap berpuasa meski terik matahari dan panas aspal menghantam tubuh rentanya.

Mbah Mardi, begitu dia disapa kawan-kawan sesama pekerja, tampak cekatan memegang sekop dan meratakan aspal hotmix. Maklum, dia sudah bergelut dengan aspal goreng sekitar 12 tahun. Meski selama bekerja selalu ditemani terik matahari serta panas aspal, dia tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan.

“Intinya itu niat dan yakin pada Allah, bahwa kita kuat berpuasa sehari penuh. Alhamdulillah selama ini aku tidak pernah membatalkan puasaku. Bila panas terasa menyengat aku biasa membasahi handuk kecil lalu aku taruh di kepalaku dan aku tutup dengan topi,” ungkap Mardi kepada Seputarkudus.com, Jumat (10/6/2016).

Mbah Mardi mengaku mulai bekerja sekitar pukul 07.00 WIB dan selesai pukul 16.00 WIB. Dia mendapat upah Rp 60 ribu sehari. Tetapi kadang dia diupah dengan sistem borong Rp 2.700 per ton.

Warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus, itu bekerja mengaspal Jalan Jenderal Sudirman bersama 19 rekanya di bawah naungan PT Aditama Manunggal. Perusahaan tersebut merpakan kontraktor yang mengerjakan proyek pemeliharaan jalan jalur pantura tersebut.

Berdasarkan papan informasi, proyek itu merupakan agenda tahunan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Anggaran pemeliharaan berkala jalan itu senilai Rp 7,5 miliar. Pengerjaan proyek dimulai 22 Maret dan ditargetkan selesai tanggal 17 September nanti. Jenis pekerjaan Overlay dua lapis dengan panjang jalan 1,8 kilometer.

“Aku ikut kontraktor ini sudah lama, bahkan bekerja tidak hanya di Kudus tetapi juga pernah di Pati, Jepara, dan Lasem,” ujarnya.

 

- advertisement -

Kisah Teladan (3) Tuhan, di Neraka Bagian Manakah Engkau Akan Tempatkan Aku

0

Di Kota Basrah, Mesir, dahulu kala ada seseorang yang hidupnya hanya dihiasi minuman arak. Hari-harinya hanya dihabiskan di kedai-kedai arak, dan selalu tak sadarkan diri karena mabuk. Saat dirinya meninggal, tak satupun orang yang bersedia memandikan, menyalatkan, dan mengubur jasadnya. Karena penduduk Basrah menganggap laki-laki tersebut sudah terlampau rusak moralnya.

Istrinya terpaksa membayar beberapa orang untuk memikul jasad suaminya ke sebuah hutan untuk dikuburkan. Di dekat hutan itu ada sebuah bukit. Di bukit itu ada seorang pertapa yang dikenal penduduk Basrah sangat zuhud. Pertapa itu turun dari bukit dan menyalatkan jasad pemabuk itu.

Tak lama kemudian kabar pertapa yang turun bukit dan menyalatkan jasad pemabuk, tersiar ke penduduk Basrah. Para penduduk yang mengenal pertapa itu sebagai orang yang alim, berbondong-bondong datang ke lokasi jasad pemabuk untuk dikebumikan. Mereka kemudian menyalatkan dan mengubur jasad pemabuk.

Seorang penduduk kemudian bertanya, “mengapa engkau harus turun dari pertapaan dan menyalatkan jasad pemabuk ini,” tanya penduduk kepada pertapa.

“Aku diperintahkan untuk turun dari bukit karena ada jenazah seseorang yang telah diampuni dosanya oleh Allah, namun tak ada satu pun orang melainkan istrinya,” kata pertapa kepada penduduk.

Para penduduk pun heran dengan jawaban yang diucapkan pertapa itu. Pertapa kemudian bertanya kepada istri pemabuk, amal baik apakah sehingga suaminya mendapat ampunan.

“Penduduk sudah tahu siapa suamiku. Dia adalah pemabuk yang hari-harinya dihabiskan di kedai-kedai arak,” kata istrinya.

“Namun tidak ada yang tahu, setelah dari kedai dan pulang ke rumah di waktu Subuh, dia tersadar dan segera mengganti pakaiannya. Lalu dia mengambil air wudlu dan bersembahyang Subuh. Setelah itu dia kembali kedai arak dan mabuk lagi,” ceritanya.

Istrinya juga mengungkapkan, di rumah suaminya yang pemabuk itu tidak pernah kosong dari anak yatim. Suaminya sangat menyayanginya melebihi anak kandungnya. Dan terkadang, ketika suaminya tersadar setelah mabuk, dia menangis dan berkata.

“Ya Allah, di neraka jahanam bagian manakah Engkau akan tempatkan penjahat ini?” (Wallahu A’lam)

- advertisement -

Pak Tua Penjual Balon Ini Pulang Lebih Awal Agar Bisa Tadarus dan Berbuka di Rumah

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Lelaki tua bercelana warna coklat, bersandal jepit dan bertopi hitam, tampak berjalan sambil memikul bambu usang sepanjang sekitar 80 sentimeter. Di ujung bambu sejumlah balon beraneka warna tergantung. Syururi (70), nama lelaki tersebut, sehari-hari berjalan kaki keliling menjual balon. Selama Ramadan ini dia pulang lebih awal agar bisa tadarus dan berbuka di rumah, meski terkadang hanya mendapat uang Rp 2 ribu.

Syururi mengatakan tetap  berpuasa pada Ramadan ini meski terik matahari menyengat saat berkeliling menjual balon. Ramadan ini dia berjualan balon hanya setengah hari, pulang sekitar pukul 13:00, sesudah salat Dzuhur. Dia ingin saat Ashar sudah sampai rumah, salat Ashar tepat waktu lalu tadarusan.

“Aku selalu berusaha agar di bulan Puasa, pada waktu salat Ashar aku sudah sampai rumah, agar bisa salat Ashar di rumah dan tadarusan. Karena menurutku manusia hidup itu harus taat beribadah, apalagi salat dan puasa yang memang wajib hukumnya,” ujar Syururi kepada Seputarkudus.com di dekat Perempatan Jember, belum lama ini.

Berjualan setengah hari diakui tidak seberapa hasilnya, apalagi berjualan balon yang tak banyak peminat. Setiap hari hasil dari penjualan balon tidak menentu, pernah sehari hanya mendapat uang Rp 2 ribu.

“Bahkan pernah tidak mendapatkan uang sama sekali, tetapi aku tetap memutuskan untuk pulang ke rumah selesai Dzuhur. Karena aku berfikir mungkin hari ini memang belum ada rezeki yang bisa aku bawa pulang,” kata Syururi.

Warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, menuturkan, menjual balonnya seharga Rp 2 ribu. Sedangkan bola balon dia jual Rp 5 ribu. Dia mengaku siang itu baru mendapatkan uang Rp 10 ribu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11:00 WIB.

“Semoga nanti sebelum pulang, ada yang membeli lagi balon yang aku jual,” harap pria tua tersebut.

Syururi mengatakan, setiap hari berangkat berjualan dari rumahnya sekitar pukul 06:00 WIB dengan mengendarai sepeda sampai di Jember, dan menitipkannya di sana. Di tempat itu pula dia meniup balon yang akan dia jual keliling.

“Untungnya yang punya titipan sepeda baik, aku dikasih gratis. Jadi meskipun kadang tidak mendapatkan uang sama sekali aku masih tetap bisa mengambil sepeda untuk aku bawa pulang ke rumah,” ujar pria yang mengaku hidup sendiri tersebut.

- advertisement -

Di Ponpes Yanbu’ul Qur’an Kudus, Cukup 3 Tahun Santri Sudah Hafal 30 Juz

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Lantunan ayat Al-Quran mengalun merdu melalui pengeras suara di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Dewasa Putra, Kamis (9/6/2016) siang. Pesantren di Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, itu santri tak butuh waktu lama menghafal 30 juz Al-Quran. Jika lancar cukup 3 tahun untuk menyelesaikan hafalan.

pondok quran kudus
Pondok Pusat Yanbu’ul Qur’an di Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

 
Siang kemarin, Hilmi (21), Pengurus PTYQ Dewasa Putra,cukup sibuk. Meski begitu dirinya tak keberatan berbagi cerita dengan Seputarkudus.com tentang pesantren khusus untuk para pengahafal Al-Quran tersebut. Dia menuturkan, dalam jangka waktu tiga tahun, santri yang mondok di Yanbu’ bisa menghafal Al-Quran.

“Di Yanbu’ sistemnya sudah ditentukan, jadi hanya butuh tiga tahun nyantri bisa mengahafal Al-Quran,” ungkap Hilmi di ruang Pengurus PTYQ Dewasa Putra.

Dalam proses menghafal Al-Quran Ponpes Yanbu’, katanya, menerapkan beberapa cara. Pertama sistem Madrasah. Dia menjelaskan, hafalan pertama harus setor empat juz. Setelah itu setiap hari setor hafalan satu juz dan satu juz lagi untuk juz selanjutnya. Selain itu mengulang hafalan juz-juz yang sudah pernah dihafalkan.

“Misalnya pertama saya baru hafal sampai juz empat. Jadi misal besok saya mau setor hafalan harus menyiapkan juz lima dan enam, serta mengulang juz satu sampai empat,” jelas Hilmi.

Santri Yanbu’ Tak Bersekolah Formal

Hilmi yang sudah hampir khatam 30 juz menghafal Al-Quran mengatakan,
santri-santri di pesantren yang didirikan KH Arwani Amin itu tidak
sekolah formal, di MTs, MA atau sekolah formal sejenis. Mereka hanya
fokus menghafalkan Al-Quran. “Namun pondok juga memberikan wawasan untuk
penunjang hafalan Al-Quran. Di antaranya mengaji kitab klasik Tafsir
Jalalain, Kasyifatul Saja, Risalatul Mu’awanah dan Nasholihul Ibad,”
terangnya.

pondok yanbuul quran kudus
Hilmi pengurus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Dewasa Putra. Foto: Imam Arwindra

 
Hilmi mengatakan, di Pesantren Yanbu’ ada kegiatan pekanan dan bulanan yakni Mudarosah. Kegitan Mudarosah yakni menghafal ayat Al-Quran secara estafet. Santri secara bergantian akan membaca ayat per ayat Al-Quran secara bergantian. “Biasanya ada ustadz yang mendampingi hafalan Mudarosah,” tuturnya.

Selain itu, menurut Hilmi ada kegiatan lainnya, yakni Muroja’ah. Kegiatan ini mengulang kembali keseluruhan juz yang sudah dihafal. Biasanya setelah Muroja’ah dilanjutkan tes calon khotimin (hafidz).  “Setorannya lansung ke KH Ulin Nuha Arwani dan KH Ulil Albab Arwani,” jelasnya.

Hilmi menuturkan, kesulitan dalam menghafal Al-Quran yakni melawan rasa malas dan terbawa lingkungan sekitar. “Biasa kalau di pondok, sering terbawa lingkungan sekitar. Jadi akhirnya malas-malasan untuk menghafal,” ungkap pria asal Tuban, Jawa Timur.

- advertisement -