Beranda blog Halaman 1958

Desta Kepincut Jurusan Kecantikan SMK Tamansiswa Karena Keunggulan Fasilitasnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sejumlah meja terjajar rapi dengan taplak di atasnya. Terlihat beberapa anak memakai seragam sekolah menengah pertama diantar orang tuanya. Mereka akan mendaftar di sekolah di SMK Tamansiswa Kudus. Satu di antara pendaftar yakni Desta Sofia Hanum (15), yang ingin masuk di Jurusan Kecantikan.

SMK TAMAN SISWA KUDUS

Sofia tertarik untuk masuk di jurusan tersebut karena ingin mengembangkan diri di bidang ilmu perawatan tubuh dan kecantikan. “Sejak dulu ingin masuk sekolah yang ada jurusan kecantikan. Kebetulan di SMK Taman Siswa ada, ya saya yakin untuk mendaftar di sini,” ujarnya kepada Seputarkudus.com.

Yayuk (42), ibu Desta, menuturkan anaknya sejak awal memang ingin sekolah di SMK Tamansiswa. Yayuk tak keberatan karena jarak rumahnya dengan sekolah cukup dekat. “Sekolah sini (SMK Tamansiswa) berkualitas. Selain jaraknya dekat di sini juga aman dan nyaman,” ungkap warga Jetak Kembang, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Jurusan Tata Kecantikan Kulit Satu-Satunya di Kudus

Kepala Sekolah SMK Tamansiswa Kudus Untung Sutrisno menuturkan, di sekolahnya terdapat jurusan baru yakni Tata Kecantikan Kulit yang dibuka pada tahun ajaran 2014-2015. Menurutnya, progam tersebut termasuk progam unggulan SMK Tamansiswa. “Di Kudus, progam Tata Kecantikan Kulit hanya ada di SMK Tamansiswa,” ungkapnya.

Menurutnya, prospek lulusan di bidang kecantikan kulit sangatlah bagus. Dia menuturkan, zaman sekarang orang –orang menjaga betul penampilannya. “Apa lagi perempuan,” tuturnya.

Dia mengaku sudah bekerja sama dengan Mustika Ratu untuk melatih guru-guru yang mengajar di Jurusan Tata Kecantikan Kulit. “Guru-guru sudah kami bekali lewat pengajaran langsung dari Mustika Ratu,” ungkapnya.

Progam Jurusan Tata Kecantikan Kulit tidak akan berjalan, katanya, tanpa ada bantuan dari Djarum Bakti Pendidikan. “Kami di backup oleh Djarum. Fasilitas-fasiltas praktek kecantikan yang digunakan sudah berstandar dunia,” tuturnya.

SMK TAMAN SISWA TATA KECANTIKAN KULIT

Dia membeberkan, fasilitas yang disiapkan untuk Jurusan Tata Kecantikan Kulit menjapai Rp 1,5 miliar. “Alat-alatnya sangat mahal. Satu alat saja bisa mencapai ratusan juta. Apa lagi ini banyak. Semuanya disediakan oleh Djarum,” tuturnya.

Untung merencanakan, lulusan Tata Kecantikan Kulit di SMKnya dapat bisa bekerja langsung dengan brand-brand besar yang sudah ada. “Salah satunya Mustika Ratu,” tambahnya.

Dia memberitahukan, di SMK Tamansiswa ada enam progam yang disediakan untuk peserta didik baru. Antara lain, Akademik Perkantoran, Pemasaran, Akuntansi, Perbankan Syariah, Mulitimedia dan Tata Kecantikan Kulit. “Gelombang pertama sampai tanggal 4 Juli 2016, nanti kalau memungkinkan dibuka gelombang kedua,” ungkapnya.

- advertisement -

Hidangan Takjil Yuli Laris Manis Meski Tak Jarang Ada Pembagian Takjil Gratis

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di tepi jalan Alun–alun Simpang Tujuh Kudus tampak beberapa pedagang kaki lima tengah menjajakan hidangan takjil. Tampak seorang wanita berkerudung hitam mamakai kaca mata sedang sibuk melayani pembeli. Wanita tersebut bernama Yuliyanti (38), yang mengatakan dagangannya tetap laris meski tak jarang ada pembagian makanan takjil gratis di Alun–alun.

Yuli begitu biasa disapa, menuturkan kadang dirinya merasa khawatir saat ada pembagian takjil karena akan membuat daganganya tidak laku. Dia mencontohkan akhir pekan lalu ada acara musik yang panitianya membagikan takjil gratis.

“Sebenarnya sempat waswas juga ada acara pembagian takjil gratis, takutnya daganganku tidak laku. Tapi alhamdulillah kehawatiranku tidak terjadi, karena semua daganganku tetap laris dan terjual habis,” ujar Yuli kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Yuli menjual berbagai macam takjil dengan menaruhnya di atas dua meja kayu yang dilapisi sebuah perlak berwara hijau. Dia mengaku sore tersebut membawa sekitar seratus porsi makanan takjil. Makanan itu di antaranya, kolak, es campur, bubur kacang hijau, dengan harga per porsi Rp 3500.

“Aku bersyukur sore ini tetap sama dengan sore kemarin, semua daganganku tetap habis terjual, jadi terkumpul uang sekitar Rp 400 ribu,” ungkapnya sambil membereskan dagangannya.

Warga Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus, itu membuat sendiri berbagai macam makanan takjil dengan dibantu anaknya dengan modal sekitar Rp 200 ribu. Yuli yang pada sore itu mengenakan kemeja lengan panjang mengatakan, dia sudah lama berjualan di tempat tersebut, tetapi hanya saat Ramadan.

“Aku rencananya berjualan di tempat ini sampai tanggal 28 Ramadan, sisa waktu dua hari aku pergunakan untuk persiapan Lebaran. Dan setelah Lebaran aku berjualan nasi angkringan lagi mulai di sebelah kantor Kodim Kudus dari pagi sampai sore,” ujarnya. 

- advertisement -

Servis Sofa untuk Lebaran di Sini Tak Usah Repot Antar dan Ambil Barang

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN – Di tepi Jalan Dr Wahidin, Kudus, telihat rumah dengan lebar sekitar tiga meter bercat putih. Di depan pintu yang terbuka, terlihat ada dua sofa rusak. Sedangkan di dalam rumah terlihat dua orang sedang memasangi cover sofa yang hampir jadi. Tiga bulan menjelang Lebaran, tempat bernama Majapahit Jok itu telah ramai permintaan jasa perbaikan sofa, spring bed, kursi, jok, dan lain sebagainya.

Rumah yang berada di Desa Demangan, Kecamatan Kota, itu milik Abdul Rohman (42) yang ditempatinya bersama keluarga. Rumah itu sekaligus dijadikan tempat dia membuka usaha servis sofa dari para pelanggan. Dia dibantu dua orang tukang dengan sistem borong.

“Permintaan jasa servise sofa itu ramainya di tiga bulan sebelum Lebaran, dan puncaknya pada bulan Ramadan. Sedangkan di bulan lain ada orderan tetapi tidak seramai ketiga bulan tersebut,” ujar Abdul yang sudah Delapan tahun menekuni usahanya itu.

Abdul menuturkan, semua barang yang diservis di Majapahit Jok, pemilik tidak usah repot untuk mengirim barangnya. Mereka tinggal telepon atau datang langsung ke untuk memberi tahu. Maka barang tersebut langsung diambil memakai mobil operasional.

“Setelah di telepon biasanya aku datang menggunaka mobil bak terbuka. Sesampai di tempat pelanggan kami tawar menawar harga. Setelah harga cocok barang lansung aku angkut. Jadi pemilik barang tidak usah repot untuk mencari mobil serta mengeluarkan uang untuk biaya antar dan kirim,” ujar pria yang biasa disapa Abdul kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Biaya Servis dan Ganti Cover Mulai Rp 900 Ribu

Harga untuk servis sofa biasanya ditentukan saat nego serta permintaan bahan dari yang punya barang. Untuk membenahi sofa lalu dicover dengan bahan imitasi harganya sekitar Rp 900 ribu. Sedangkan cover kulit atau bludru harganya sekitar Rp 2 juta. “Untuk servis satu set sofa membutuhkan waktu sekitar sepekan,” katanya.

Abdul mengaku selain masyarakat, dia juga sudah beberapa tahun terakhir mejadi memiliki pelanggan beberapa bank di Kudus. Sejumlah bank itu di antaranya, BNI, BRI, Bank Muammalat.

- advertisement -

Megahnya Darul Ilmi, Masjid Kampus UMK yang Menelan Dana Hingga Rp 5 M

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Masjid ini bernama Darul Ilmi atau rumah ilmu. Bangunannya berbentuk kubikal, bergaya futuristik, namun atapnya berbentuk cungkup, mirip seperti atap masjid zaman Walisongo. Masjid yang dibangun tiga lantai dengan hiasan kaligrafi Kufi dan Tsulutsi ini terletak di bagian barat kampus Universitas Muria Kudus (UMK). Masjid yang sangat megah ini dibangun 2009 lalu dan menelan biaya hingga Rp 5 miliar.

masjid umk

Zamhuri, Manajer Yayasan Pembina (YP) UMK, mengatakan, bangunan masjid memadukan arsitektur lokal dan Timur Tengah. Arsitek yang membuat desain bernama Harmono, orang Bandung. Dia membeberkan, anggaran yang dikeluarkan Yayasan UMK untuk membangun masjid sebesar Rp 5 miliar. “Kira-kira pembangunannya habis Rp 5 miliar,” ungkapnya ketika ditemui di kantor Yayasan Pembina UMK, Selasa (14/6/2016).

Dia melanjutkan, Masjid Darul Ilmi diresmikan tanggal 16 Desember 2009 dengan ditandai kegiatan nikah masal. “Masjid tersebut diresmikan akhir tahun 2009 tepatnya 16 Desember 2009. Untuk penentuan bentuk dan arsitekturnya kami meminta bantuan konsultan,” tuturnya.

Zamhuri menceritakan, proses pembangunan Masjid Darul Ilmi, bentuk dan arsitekturnya ditentukan oleh konsultan. Pihaknya hanya meminta ruangan-ruangan tertentu yang harus dipenuhi konsultan. “Konsultannya juga merangkap arsitek,” terangnya.

ornamen masjid umk

Dia mencontohkan, pihaknya meminta terdapat ruang pertemuan dan teras di masjid. Dari pantauan Seputarkudus.com, ruang pertemuan berada di lantai satu, lantai dua merupakan ruang utama salat dan lantai tiga digunakan untuk salat bagi perempuan.Bagian selatan dan utara masjid ada teras yang sering digunakan untuk mahasiswa UMK berkumpul. Tempat berwudlu laki-laki dan perempuan terpisah di lantai satu. 

Kaligrafi Masjid Dibuat ssiry Jasiri dari Undaan Lor

Bagian depan masjid dan ruang utama salat, tulisan arab berbentuk Kufi dan Tsulutsi menghiasi sebagian besar ruangan. Zamhuri memberitahukan, yang membuat kaligrafi di masjid UMK yakni Assiry Jasiri, pakar kaligrafi kenamaan dari Undaan Lor, Kudus. “Yang membuat khotnya Assiry dari Kudus,” ungkapnya.

Dia memberitahukan, pihaknya hanya menentukan ayat-ayat Al-Quran yang akan ditulis. Untuk jenis dan bentuk kaligrafinya ditentukan Assiry. “Ya jenis khat yang digunakan namanya Khat Kufi,” tuturnya.

Bagian depan Masjid Darul Ilmi kaligrafi yang ditulis yakni, Iqra’ Bismi Robbilalladhi Kholaq. Kholaqol insana min alaq. Iqra’ warobbukal akromulladhi a’llama bil qolam. A’llamal insane malam ya’lam (SQ. Al-Alaq, 1-4) dan Ya ayyuhal ladzina amanu idza nudiya lishsholati min yaumil jumu’ati fas’au ila dzikrillahi wadzarul bai’a, dhalikum khoirullakum ingkuntum ta’lamun (SQ. Al-Jumuah,9). 

Bagian dalam masjid dekat imaman, sisi kanan tertulis Hadis Man aroda dunya fa’alaihi bil’ilmi, man arodal akhiroh fa’alaihi bil ilmi. Wa man aroda huma fa’alaihi bil ‘ilmi. Man aroda dunya fa’alaihi bil ‘ilmi, man arodal akhiroh fa’alaihi bil ilmi, wa man aroda huma fa’alaihi bil’ilmi.

Sedangkan di bagian kiri tertulis Fawalli wajhaka syathra almasjidilharam wahaytsu maa kuntum fawallu wujuuhakum syathrah (SQ. Surat Al-Baqarah, 144).

- advertisement -

Kisah Teladan (9) Orang Alim yang Celaka Karena Durhaka pada Ibu

0

Suatu ketika ada seorang syekh yang dikenal alim hendak pergi ke Mekah untuk bertawaf. Namun niat kepergiannya itu tak mendapat restu dari ibundanya. Ketia keluar dari pintu rumah, ibundanya melarang dan mencegahnya agar tidak pergi. Namun orang tersebut bergeming dan memilih melanjutkan kepergiannya ke Kota Suci.

Ibu yang tak rela ditinggalkan anaknya kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, anakku telah menyiksaku dengan perpisahan ini, maka timpakanlah dia siksaan,” kata sang ibu dalam doanya.

Pada suatu malam sebelum sampai di Mekah, tibalah syekh tersebut di sebuah kota untuk beristirahat dan salat. Dia masuk masjid dan kemudian menunaikan salat. Pada saat yang sama, di kampung itu terjadi pencurian. Warga mengejar pencuri tersebut ke dalam masjid yang digunakan syekh untuk menunaikan salat.

Di dalam masjid, warga melihat seseorang yang tengah melakukan salat. Mereka beramai-ramai menangkap orang tersebut, yang bukan pencuri yang mereka cari melainkan syekh. Warga kemudian menyerahkannya kepada penguasa kota, dan meminta syekh yang dituduh sebagai pencuri dihukum.

Penguasa kota itu lantas memerintahkan petugas untuk memotong kedua tangannya, kedua kakinya, dan melepas bola matanya dari kepala. “Inilah hukuman bagi seorang pencuri,” kata penguasa kota kepada masyarakat kota yang menyaksikan hukuman tersebut.

Namun syekh menyaut omongan penguasa kota. “Bukan, ini bukan hukuman bagi seorang pencuri, namun hukuman bagi orang yang hendak tawaf ke Kota Suci, namun tak mendapat restu dari ibunya,” katanya.

Penguasa kota dan warga terkejut mendengar perkataan syekh. Setelah bercerita perihal peristiwa sebelum dirinya dihukum, penguasa kota dan warga menangis dan menyesal karena telah menghukum yang tak bersalah. Penguasa kota kemudian memerintahkan agar syekh diantar ke rumah yang dia tinggalkan.

Sesampainya di depan pintu rumah, dia meminta berkata pada ibundanya. “Saya adalah musafir, saya lapar, berilah saya sepotong roti untuk makan,” kata syekh.

“Datanglah engkau ke pintu,” kata ibunya.
“Saya tidak punya kaki,” jawab anaknya.
“Ulurkan tanganmu,” pinta ibunya.
“Saya tak punya tangan,” sahut anaknya.
 “Lalu bagaimana saya bisa memberimu roti jika engkau melihatku adalah perbuatan yang diharamkan,” jata sang ibu.
“Jangan khawatir, saya tak punya mata,” jawab anaknya.

Kemudian sang ibu menuju ke pintu dan membawakan sepotong roti. Syekh yang menyadari ibunya keluar lantas meletakkan lengannya ke kaki ibunya dan bersimpuh. “Maafkanlah aku ibu yang telah durhaka kepadamu,” kata syekh.

Menyadari orang tang meminta roti tak lain adalah anaknya, sang ibu kemudian menangis dan menyesali apa yang telah dia minta kepada Allah terhadap anaknya. Dia kemudian berdoa, “Ya Allah, jika seperti ini keadaannya, maka cabutlah nyawaku dan nyawa anakku, agar orang-orang tak mengetahui aib kami.” Allah kemudian mencabut nyawa keduanya. 

- advertisement -

Rifqi, Anak Autis di Ponpes Al-Achsaniyyah yang Hafal 37 Surat Al-Quran

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Siang itu dia mengenakan sarung dan berjalan sendiri sambil melihat apa yang ada di sekelilingnya. Sesekali dia duduk di depan kamar dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia adalah Rifqi (15), satu di antara santri di Pondok Modern Al-Achsaniyyah, yang menangani anak berkebutuhan khusus penderita autis dan down syndrome. Meski berkebutuhan khusus, Rifqi hafal surat-surat dalam Juz Amma.

Al-Achsaniyyah kudus
Rifqi (15) sedang menghafalkan Surat At-Tin di Aula Pondok Modern Al-Achsaniyyah Desa Pedawang, Bae, Kudus, Selasa (14/6/2016). Foto: Imam Arwindra

Mohammad Faiq Afthoni, Pengasuh Pondok Modern Al-Achsaniyyah, Selasa (14/6/2016) siang tak begitu sibuk. Dia bersedia berbagi cerita tentang pondok yang dia asuh. Dia mengungkapkan, Rifqi merupakan anak berkebutuhan khusus, namun hafal surat-surat Juz Amma. “Anaknya giat dan tekun. Dia sudah hafal surat-surat Jus Amma. Kalau di Al-Quran berarti Jus 30 (37 surat),” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, ketika ditemui di aula pondok.

Ketika Rifqi dipanggil pengasuh pondok, dia datang namun terlihat masih memikirkan sesuatu. Saat ditanya mengenai hafalan surat Juz Amma, dia mengaku hafal. “Iya, hafal,” jawabnya dengan singkat.

Ketika diminta melafalkan Surat Al-Ikhlas, dia tanpa basa-basi membaca Surah Al-Ikhlas secara lancar. “Coba Surat At-Tin Rifqi,” pinta Faiq.

Rifqi tampak sudah hafal diluar kepala. Ayat demi ayat yang dilantunkan dari mulutnya terdengar lancar. Ketika sudah selesai dia langsung diam dan masih tampak memikirkan sesuatu. “Sudah selesai,” ungkap Rifqi yang berasal dari Kabupaten Purwokerto.

Suka Pelajaran Matematika dan Fisika

Menurutnya, selain hafal Juz Amma, Rifqi suka pelajaran Matematika dan Fisika. Dia mengaku juga sering melihat video ilmuan Harun Yahya (Adnan Oktar) ilmuan muslim dari Turki. “Saya suka video tentang planet,” tuturnya.

Faiq menjelaskan, Rifqi termasuk kategori anak scientis yang mudah untuk menghafalkan sesuatu. Aktivitasnya setiap hari membaca buku dan Al-Quran. “Anak ini (Rifqi) termasuk anak scientis. Dia akan menaati orang lain, jika orang tersebut mampu menjelaskan pertanyaan (dari Rifqi) dengan jelas dan masuk akal. Jika tidak mampu menjelaskan, anak seperti ini tidak akan menaati,” ungkapnya.

Al-Achsaniyyah kudus
Pengasuh Pondok Modern Al-Achsaniyyah Mohammad Faiq Afthoni bersama istri

Menurutnya penanganan anak scientis yang suka membaca dan bertanya dengan mencarikan pendamping yang bisa menjawab semua pertanyaan yang dia ajukan. Dengan begitu anak akan mengikuti apa yang diintruksikan oleh pendampingnya. “Pintar-pintarnya pendamping mengakrabkan diri dengan anak didiknya. Di sini (Al-Achsaniyyah) satu orang pendamping mendampingi satu hingga lima orang. Tergantung anaknya,” terangnya.

Dia menegaskan, anak-anak yang belajar di tempatnya bukan sakit melainkan belum bisa mandiri seperti manusia umumnya. “Saya tegaskan, mereka tidak sakit melainkan belum bisa mandiri. Di balik kekurangan mereka, ternyata mempunyai kelebihan. Seperti Rifqi yang bisa mengahafalkan Juz Amma,” terangnya.

Yayasan Al-Achsaniyyah, kata Faiq didirikan tahun 2007. Yayasan tersebut mempunyai Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Pondok Modern Al-Achsaniyyah. Menurut Faiq, hingga sekarang anak didiknya mencapai 80 orang dengan 55 orang pendamping. “Fokus di sini (Al-Achsaniyyah) minat dan kemandirian anak. Bukan seperti sekolah formal pada umumnya,” ungkapnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (8) Pemuda Menjadi Kekasih Allah Karena Terpesona Sepasang Bola Mata

0

SEPUTARKUDUS.COM – Suatu hari di Kota Basrah, ada seorang pemuda tampan nan gagah, berkeliling kota dengan pakaian yang begitu menarik. Saat dirinya berkeliling itu, dilihatlah seorang wanita dengan paras cantik dan memiliki sepasang mata yang indah.Ternyata pria tersebut sangat terpesona dengan kecantikan dan keindahan mata wanita itu.

Hasan Bashri, nama pemuda tersebut, mengikuti gadis cantik kemana kakinya melangkah. Ketika gadis tersebut menoleh, semakin terpesona Hasan Basri dibuatnya karena sepasang mata indah gadis itu.

Gadis cantik itu pun menghentikan langkahnya, setelah dirinya mengetahui diikuti seorang pria di belakangnya. Gadis itu pun berkata, “Hai engkau yang mengikuti langkah kakiku, tidakkah engkau malu dengan dzat yang mengetahui segala apa yang terbersit dalam hatimu dan matamu yang condong dalam kemaksiyatan.”

Hasan Bashri tak menghiraukan perkataan gadis itu dan terus membuntutinya dari belakang. Rupanya dia telah dibuai pesona gadis tersebut. 

“Kenapa engkau terus membuntutiku,” tanya gadis tersebut. “Sungguh, aku telah terpesona dengan keindahan kedua matamu,” kata Hasan Bashri.
“Baiklah, tunggulah sejenak, aku akan memberimu apa yang engka inginkan,” kata gadis itu kepada Hasan Bashri yang telah membuntutinya hingga di depan rumah.

Pemuda itu pun menghentikan langkahnya dan duduk di depan rumah gadis tersebut. Tak lama kemudian, datang seorang wanita utusan gadis tersebut dengan membawa sebuah wadah. Wanita itu kemudian memberikan wadah itu kepada Hasan Bashri.

Setelah itu, Hasan Bashri membuka wadah tersebut, dan betapa kaget dirinya setelah melihat isi wadah yang dibawa utusan gadis yang ia ikuti tadi, yang ternyata dua bola mata. “Aku telah diutus oleh tuan putri yang engkau ikuti, dan beliau tak menghendaki matanya membutakan hati dan membuat seseorang terfitnah karena dua matanya,” ujar utusan gadis.

Hasan Bashri yang mendengar perkataan itu lantas menangis dan gemetar seluruh tubuhnya. Dia pulang dengan kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam. Dirinya tidak bisa tidur semalaman karena penyesalan atas perbuatan yang ia lakukan.

Keesokan harinya, dia datang ke rumah gadis cantik yang hari sebelumnya ia buntuti. Dari luar rumah dia mendengar tangisan dari sejumlah perempuan. Dia lantas bertanya, ada apa gerangan sehingga mereka menangis. Seorang perempuan di rumah tersebut kemudian menjawab, “Sungguh tuan putri telah meninggal.”

Betapa kaget Hasan Bashri mendengar jawaban itu. Bertambahlah penyesalan yang telah ia lakukan di hari sebelumnya, sehingga membuat gadis yang ia ikuti meninggal. Dia kemudian pulang dengan rasa sedih dan penyesalan berkali lipat. Bahkan berhari-hari penyesalan dan kesedihan itu tak juga pergi karena terus memikirkan kejadian yang ia alami.

Suatu ketika, Hasan Bashri tertidur dan bermimpi melihat gadis cantik dengan mata indah yang ia ikuti beberapa hari sebelumnya, duduk di sebuah singgasana surga. “Wahai putri, maafkanlah segala kesalahanku. Sungguh aku telah menyesal karena ini semua,” ujar Hasan Basri dalam mimpinya.

“Aku telah memaafkan semua kesalahanmu. Justru aku berterima kasih kepadamu karena telah membuatku mendapat balasan kebaikan dari Allah,” kata gadis tersebut.

Hasan Basri kemudian meminta nasihat dari perempuan tersebut agar bisa menjadi orang yang baik. “Saat engkau sendiri, ingatlah Allah dan berdzikirlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dan mintalah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah,” ujar gadis itu.

Setelah dia terbangun dari tidurnya, dia terus mengingat nasihat gadis tersebut. Dia melakukan apa yang telah dinasihatkan gadis itu kepadanya, sehingga dia menjadi orang yang dikenal penduduk Bashrah sebagai orang zuhud dan alim, serta mendapat derajat di sisi Allah sebagai seorang kekasih (waliyullah). (Wallahu A’lam)

- advertisement -

Yusuf Kewalahan Penuhi Permintaan Keciput dari Pelanggan, 1 Kuintal Ludes Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di sebuah rumah bercat hijau dan berkeramik coklat tampak sepi aktivitas. Rumah yang berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, tersebut biasanya terlihat sibuk pada pagi sampai pertengahan hari. Rumah milik Yusuf Budi Setiawan (31) atau biasa disapa Yusuf, sehari-hari digunakan usaha pembuatan camilan keciput. Usaha pembuatan camilan khas Lebaran di Kudus itu ditekuni Yusuf sejak lulus SMA.

Yusuf menuturkan, sejak lulus SMA dia tidak berminat mencari kerja ke pabrik, atau menjadi karyawan sebuah pusat perbelanjaan. Dia berpikir untuk bisa membuka usaha sendiri meskipun kecil-kecilan dan tidak membutuhkan modal banyak. Berawal membantu ibunya membuat keciput untuk dijadikan hidangan Lebaran, muncul pemikiran untuk memproduksi dan menjualnya.

“Berawal dari itu aku berpikir, kenapa tidak membuat dalam jumlah yang lumyan dan dijual kepada orang lain. Dari pemikiran tersebut aku mencoba peruntungan memproduksi keciput dengan modal sekitar Rp 1 juta,” ungkap Yusuf kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Setelah keciputnya jadi dan dikemas, Yusuf  kemudian berkeliling mencari para pedagang pasar maupun toko yang mau menjual atau memasarkan keciput buatanya. Karena masih awal, dia tidak keberatan menitipkan barang terlebih dulu.

“Aku bersukur keciput buatanku lumayan diminati para pembeli. Dulu waktu awal-awal usaha toko maupun pedagang pasar baru bayar jika keciputku terjual. Sekarang setiap aku datang mengantarkan keciput mereka membayar separuh harga,” ungkapnya.

Kemasan Keciput Diberi Merek dan Gambar Donald

Sekarang para pedagang pasar dan toko pelanggan Yusuf tidak hanya di Kudus saja, tapi juga Jepara, Demak, Pati. Sejak banyak peminat, produk keciput milik Yusuf diberi merek Baskuni Jaya dengan gambar Donald Bebek di kemasan.

Yusuf menuturkan, sekarang dia tidak hanya memproduksi keciput tetapi juga membuat kue wedaran. Penjualan makanan tersebut biasanya mulai laris pada pertengahan Sya’ban sampai Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Sejak pertengahan bulan Sya’ban aku setiap hari keliling dari daerah satu ke daerah yang lain, untuk mengirim barang pesanan para pelanggan. Karena memang pada bulan tersebut pesanan meningkat” ujar Yusuf.

Pada dua bulan tersebut, kata Yusuf, dirinya bisa memproduksi 100 kilogram keciput dan kue wedaran sehari. Yusuf  mengaku, menjual kue keciputnya dengan harga Rp 44 ribu per kilogram. Sedangkan kue wedaran dengan harga Rp 52 ribu per kilogram, dengan omzet sekitar Rp 4,4 juta sehari.

Untuk memproduksi 100 kilogram keciput aupun kue wedaran, Yusuf mempekerjakan sekitar empat orang dengan upah borong. “Sebenarnya para pelanggan meminta agar dikirim lebih banyak lagi keciput dan kue wedarannya. Tetapi aku tidak bisa menuruti keinginan mereka, karena proses produksi yang belum memakai mesin,“ katanya.

- advertisement -

Orang Semarang Ini Buka Jasa Penukaran Uang di Kudus Gadaikan Sertifikat Tanah

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di tepi jalan di sebelah barat Alun- Alun Simpang Tujuh Kudus, tampak seorang pria mengenakan baju putih, bercelana panjang warna hitam berdiri di samping motor. Di atas motor tampak beberapa uang kertas yang berjajar rapi sesuai pecahannya.  Suwarno (52), nama pria itu, membuka jasa penukaran uang dengan menggadaikan sertifikat tanah.

Suwarno menuturkan, mulai membuka jasa penukaran Ramadan ini, sekitar tiga hari lalu dengan modal sekitar Rp 30 juta, hasil meminjam menggadaikan sertifikat tanah. Dan nanti pada waktu malam Takbiran, uang yang dipinjam harus sudah dikembalikan dan beserta bunga 10 persen.

“Aku mendapatkan uang dengan nominal tersebut dengan meminjam kepada seorang cukong dengan jaminan sebuah sertifikat tanah. Kemudian uang tersebut aku tukarkan ke Bank Indonesia, untuk mendapatkan pecahan uang di antaranya, Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu,”ujar Suwarno kepada Seputarkudus.com.

Pria yang memarkirkan motor serta memajang uangnya tidak jauh dari Toko Hasan Putra tersebut, mengaku sudah menekuni pekerjaan itu selama enam tahun, di setiap Bulan Ramadan tiba.

“Setiap penukaran uang dikenakan sepuluh persen dari jumlah uang yang ditukar. Misalnya ada orang menukar uang pecahan Rp 2 ribu dengan total Rp 100 ribu, maka orang yang menukar harus memberikan uang Rp 110 ribu. Sedangkan untuk penukaran di atas Rp 1 juta dikenakan lima persen,” ujarnya.

Pria yang berasal dari Pedurungan, Semarang, itu mengatakan penukaran uang di bawah tanggal 10 Ramadan masih agak sepi, meskipun ada saja orang yang menukarkan uangnya. Untuk saat ini, sehari Suwarno hanya bisa menukarkan uang sekitar Rp 1,5 juta, dengan hasil bersih yang didapat sekitar Rp 75 ribu.

Permintaan penukaran uang biasanya meningkat, katanya, setelah 10 Ramadan, yang sehari bisa menukarkan uang sekitar Rp 3 juta. Sedangkan puncaknya  setelah 20 Ramadan, sehari permintaan penukaran bisa sampai Rp 10 sampai Rp 50 juta.

“Para penyedia jasa penukaran uang yang berada di sekitar Alun-Alun Kudus dan yang berada di tepi Jalan Sunan kudus, semua berasal dari satu kampung di Pedurungan, Semarang. Hampir semua dari mereka mengambil hutang untuk modal,” ungkapnya.

- advertisement -

Santri di Kudus Ini Ingin Jadi Pria Romantis Dengan Memasak di Pondok

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Sejumlah anak bersarung tampak
duduk di teras sebuah pondok pesantren di Kudus. Mereka tampak sibuk memotong sayur dan menyiapkan
bumbu-bumbu masakan. Mereka tengah menyiapkan sajian masakan untuk disantap saat waktu berbuka puasa tiba.

pondok kudus
Sejumlah santri Al-Qaumaniyah sedang memotong sayur untuk dimasak bersama, Selasa (7/6/2016). Foto: Imam Arwindra

Satu diantara anak tersebut yakni Rifai (22). Dia
mengaku setiap hari memasak bersama rekan-rekannya di pondok. Menurutnya, dengan menyiapkan makanan secara mandiri akan
membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan menjaga kebersamaan antar santri. 

“Di Al-Qaumaniyah santrinya memasak sendiri tidak dimasakkan pengurus,”
ungkapnya ketika ditemui di teras Komplek A Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah Desa Jekulo, Kecamatan
Jekulo, Kabupaten Kudus, ketika
memotong sayur, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, belajar memasak sangat penting untuk laki-laki. Selain
untuk berlatih mandiri. Kelak juga laki-laki harus siap membantu istri jika
kesusahan. “Kalau istri sedang hamil atau sedang repot dengan anak, suami bisa
membantu untuk memasakkan makanan. Akan lebih romantis kan,” tutur dia sambil tersenyum.
Dia yang berasal dari Rembang menuturkan, sudah sejak lama
santri-santri di Al-Qaumaniyah memasak sendiri. Dia menceritakan, dulu
mereka memakai kayu bakar untuk digunakannya memasak. Namun karena membuat
tembok berwarna hitam akhirnya digunakanlah kompor. “Sekarang karena minyak
tanah mahal menggunakan gas elpiji,” tambahnya.
Rifai memberitahukan, santri yang memasak membuat kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdapat 15 orang hingga 20 orang. Iuran yang dibayar setiap
orang Rp 50 ribu. “Uang yang sudah terkumpul akan digunakan untuk membeli
kebutuhan dapur. Jika nanti habis akan iuran lagi,” terangnya.
Masakan yang biasa dimasak menurutnya sayur-sayuran. Secara bergantian
ada yang bertugas pergi ke Pasar Bareng untuk membeli bahan-bahan dapur. Ketika Ramadan, sorenya sayur dan bumbu-bumbu diolah bersama-sama. “Jadi
ada yang memotong sayur, mengupas bawang, menanak nasi. Kami lakukan semuanya bersama-sama,”
ungkapnya.
Dia melanjutkan, setelah waktu berbuka tiba, mereka menyantap makanan di sebuah nampan. Nasi dan lauknya dijadikan satu, dan mereka melahap makanan tanpa menggunakan sendok. “Nanti makannya muluk (memakai tangan). Lebih alami dan tentunya menjaga
kebersamaan,” tuturnya.

Pondok yang diasuh oleh tiga cucu KH Yasin (pendiri
Al-Qaumaniiyah) Gus Yasin, Gus Khidir dan Gus Mujib dikenal masyarakat dengan
pondok salaf. Gus Khidir menuturkan, di Al-Qaumaniyah sekitar ada 200 santri
yang mondok. Mereka menempati bangunan pondok Komplek A, B dan C. 
“Namanya
seperti lokalisasi saja ya (komplek). Saya juga tidak tahu mengapa dulunya
namanya komplek,” ungkapnya.

- advertisement -

Debit Air Sumur Masjid Wali Jepang Naik Tiba-tiba Menjelang Tradisi Rebo Wekasan

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG
Sumurnya berdiameter sekitar 90 sentimeter. Letaknya di tempat wudlu
perempuan Masjid Al-Makmur Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Dari
luar sumur tersebut tampak biasa. Bagian mulut sumur sudah dibangun dengan
semen. Namun sumur tersebut memiliki sejarah panjang, dan selama ini air sumurnya digunakan untuk tradisi Rebu Wekasan.

Menurut Aziz Fatkhur Rohman, Takmir Masjid Wali Jepang, setiap menjelang tradisi Rebo
Wekasan volume air di sumur tersebut naik. Dia memberitahukan, air yang disebut
banyu salamun (air salamun) berasal
dari sumur tersebut. 
“Setiap ada tradisi Rebo Wekasan, airnya diambilkan dari
sumur Masjid Al-Makmur. Air tersebut dikenal dengan banyu salamun (air salamun),” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat ditemui di Masjid
Al-Makmur belum lama ini.
Fatkhur menuturkan, Rebo Wekasan
ialah tradisi berdoa meminta keselamatan di hari Rabu terakhir bulan Safar
dengan perantara Air Salamun. Tradisi ini menurutnya sudah setiap tahun
diselenggarakan. “Tradisi ini sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus, terutama
di daerah Jepang,” terangnya.
Menurut ceritanya, yang mengawali tradisi Rebo Wekasan di
Jepang yakni Saayid Ndoro Ali Al-Idrus. Dia merupakan sesepuh desa dan menamai
Masjid Wali Jepang dengan nama Al-Makmur. “Masjid Al-Makmur dulu dibangun Aryo
Penangsang dan Sunan Kudus. Tahun 1917 masjid tersebut direnovasi oleh Sayid Ndoro
Ali Al-Idrus,” ungkapnya.
Dia menuturkan, ketika masa Sayid Ndoro Ali Al-Idrus,
tradisi rebo wekasan hanya berdoa setelah solat mahrib. Lalu mengambil air dari
sumur masjid. “Airnya bisa diminum, dibuat mandi atau dibawa pulang,”
ungkapnya.
Air yang digunakan namanya Air Salamun. Menurutnya, Air Salamun bermakna air pelantara keselamatan. “Air tersebut hanya perantara. Tetap
kita berdoa kepada Allah untuk meminta keselamatan,” tambahnya.
Dalam perkembangannya, tradisi Rebo Wekasan di Masjid
Al-Makmur ditambah Tahtimaan Bil Ghoib dan Binnadhor. Teknisnya, hari Ahad Tahtimahan Bil Ghoib dan seninnya Tahtimahan Binnadhor. “Nanti ada air ditaruh ember besar dekat orang Tahtimahan,” tuturnya.

Fatkhur melanjutkan, hari selasa, wadah besar yang berisi
air, lalu diberi rajah oleh nadzir. Air tersebut lalu dibagikan
warga. “Malam Rabunya setelah maghrib masyarakat berdatangan ke masjid untuk
meminta Air Salamun yang sudah diberi doa. Masyarakat percaya ada berkah ketika
meminum air salamun,” terangnya.

- advertisement -

KH Yasin, Waliyullah yang Babat Alas Penyebaran Islam di Bumi Jekulo Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Bangunannya berukuran 4×4 meter. Berdinding
tembok warna putih dengan lantai berbahan keramik. Disekitar bangunan tersebut,
sejumlah santri tampak sedang membaca Al-Quran. Di dalam ruangan terdapat dua
makam yang batu nisannya dibalur dengan kain berwarna putih. Letaknya didekat Masjid
Darussalam dan Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo,
Kabupaten Kudus.

kh yasin jekulo kudus
Makam KH Yasin dan KH Sanusi di Komplek Pondok Al-Qaumaniyah, Jekulo Kudus.

Menurut Rifai santri Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, dua
makam tersebut ialah KH Yasin dan KH Sanusi. Dia menuturkan, dua ulama tersebut
ialah tokoh yang menyebarkan islam di daerah Jekulo dan sekitar. “Santri-santri
menyebutnya Waliyullah,” ungkapnya
ketika ditemui di dekat Makam KH Yasin, Selasa (7/6/2016).
Dia menuturkan, KH Yasin yang makamnya di sebelah KH Sanusi
ialah pendiri pondok pertama kali di bareng (Jekulo). Dia menuturkan, sebelum
ada pondok-pondok di Jekulo, pertama kali berdiri ialah pondok Al-Qaumaniyah
yang lebih dikenal dengan Pondok Bareng. “Bisa dibilang KH Yasin babat alas
untuk pondok di Jekulo,” ungkapnya.
Gus Khidir cucu dari KH Yasin menuturkan, pondok pertama di
Bareng ialah yang didirikan kakeknya KH Yasin tahun 1923. Sebelum tahun 1923,
ada pengajian di mushola milik Mbah Dahlan kakak ipar mbah Yasir namun
santri-santri masih pulang kerumah. “Sebelum mbah Yasin resmi mendirikan
pesantren sebelumnya ada mushola milik Mbah Dahlan yang digunakan untuk mengaji
santri,” ungkapnya.
Dia menceritakan, KH Yasin sebenarnya pendatang di Jekulo. Dia
yang mempunyai nama asli Sukandar berasal dari Desa Cebolek (Kajen), Kecamatan
Margoyoso, Pati yang menikah dengan perempuan bernama Muthi’ah putri dari KH
Yasir. Masa kecilnya dia sudah ditinggal mati oleh ayahnya H Amin (Tasmin) dan
Ibunya Salamah ketika melakukan ibadah Haji di Makkah. “Ketika itu Mbah Yasin
Kecil diasuh oleh Mbah Abdullah Salam Kajen,”ungkapnya.
Gus Khidir melanjutkan, setelah berada di Jekulo dia membuat
tempat untuk mengaji sekitar tahun 1918 atas permintaan gurunya KH Sanusi. Atas
usulan santri-santrinya akhirnya tahun 1923 Pondok Bareng (sekarang
Al-Qaumaniyah) didirikan. “Mbah nopo mboten sae damel
pesantren. Supawis santri seng gadah dalem tebih mboten wangsul setiap dinten
(Mbak, alangkah bagusnya membuat pesantren. Supaya santri yang mempunyai rumah
jauh tidak pulang setiap hari),” ungkapnya.
Dia memberitahukan, beberapa ulama
yang pernah modok dengan KH Yasin diantaranya, KH Ahmad Basir (Kudus), KH
Makmun (Kudus), KH Hambali (Kudus), KH Muhammadun (Pakis, Tayu, Pati), KH Zain
(Cebolek, Pati), KH Soleh (Sayung, Demak) dan Habib Muhsin (Pemalang).
“Banyak Kiyai-Kiyai di Jekulo dan
di luar Kudus yang dulunya nyantri
dengan Mbah Yasin,” ungkapnya.
Gus Khidir melanjutkan, KH Yasin
meninggal tahun 1957. Pondok Bareng dilanjutkan Kiyai Muhammad yang akhirnya
diberi nama Al-Qaumaniyah. “Kiyai Muhammad meninggal tahun 1999 dilanjutkan
ketiga anaknya, Gus Yasin, saya (Gus Khidir) dan Gus Mujib,” tuturnya.

- advertisement -

Warga Jepang Pakis Ini 30 Tahun Berjualan Tampah dan Sapu Lidi untuk Menyambung Hidup

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Seorang perempuan tua mengenakan caping kepalanya, berjalan menyusuri tepian jalan sambil menggendong keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Tanganya mengapit dua ikat sapu lidi. Perempuan tua tersebut bernama Ngaminah (72), yang sehari-hari berjalan kaki keliling menjual peralatan dari bambu untuk menyambung hidup.

penjual sapu lidi

Dia sudah 30 tahun berjalan kaki setiap hari menyusuri jalanan untuk menawarkan sejumlah peralatan rumah tangga. Puluhan kilometer dilaluinya tanpa mengeluh, meski barang yang dijual kadang tak laku karena tak ada yang tertarik membelinya.

Ngaminah menuturkan, setiap hari dia berjalan kaki keliling karena tak bisa naik sepeda. Dia  juga tidak mempunyai tempat untuk berdagang. Barang dagangan sedikit, serta tidak mampu membayar sewa tempat, membuatnya rela hati menyusuri jalanan dengan kaki yang tak lagi sekuat waktu dirinya muda.

“Aku ini menjual barang-barang begini kok, barangnya juga sedikit. Kalau aku menetap dan menunggu pembeli, bisa sehari tidak ada yang terjual dan aku bisa tidak makan.” kata Ngaminah sambil menunjukan daganganya kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus, itu menuturkan, sudah sekitar 30 tahun berjualan berbagai macam barang yang terbuat dari anyaman bambu. Di antara barang yang ia jual, sapu lidi, keranjang, tampah, pengki anyaman bambu, serta kipas angin tangan.

“Barang- barang tersebut yang aku jual dengan harga Rp 10 ribu hanya tampah. Sedangkan untuk barang lainya aku jual dengan harga sekitar Rp 6 ribu. Aku mendapatkan barang-barang tersebut dengan membeli dari seseorang di sekitar Pertigaan Jepang Pakis,” ujar perempuan tua tersebut.

- advertisement -

Misteri Tulisan Arab di Mimbar Khotbah Masjid Wali Jepang Ini Belum Terpecahkan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Sebuah tulisan huruf Arab berwarna kuning emas dengan lima lingkaran, menghiasi tempat khotbah Masjid Wali Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Tulisan-tulisan menyimpan misteri yang hingga kini belum dipecahkan. Tulisan itu memuat nama-nama yang hingga kini belum diketahui.

Takmir Masjid Wali Jepang, Fatkhur Rohman Aziz menjelaskan kepada Seputarkudus.com belum lama ini. Dia mengatakan, tulisan yang berada di tempat khotbah yakni tiga nama tokoh di Desa Jepang yang sampai sekerang belum diketahui asal-usulnya.

“Sampai sekarang masih misteri. Siapakah tiga orang tersebut, belum ada yang bisa menjelaskan,” ungkapnya ketika ditemui di Masjid Wali Jepang, beberapa waktu lalu.

Dia membacakan tulisan tersebut di dalam lima lingkaran. Dari kanan tertulis Haji Umar Bin Haji Mahfusin, Haji Muhammad Bin Maryan Muslimin, Haji Muhammad Asnawi Bin Maryan. “Yang ini (lingkaran kedua dari kiri) Bahasa Arab dari 1268 H dan lingkaran yang terakhir gabungan ketiga nama Haji Umar Bin Haji Mahfusin, Haji Muhammad Bin Maryan Muslimin, Haji Muhammad Asnawi Bin Maryan,” jelasnya.

Menurutnya, tiga nama tersebut yakni tokoh Desa Jepang yang membuatkan tempat Khotbah untuk Masjid Wali Jepang. “Masyarakat disini tidak tahu siapakah ketiga tokoh tersebut,” terangnya.

Selain tulisan di tempat khotbah, juga ada prasasti yang terbuat dari logam putih. Letaknya di sebelah selatan ruang imam. Menurut Fathur, prasasti tersebut ditulis oleh orang yang merenovasi Masjid Wali Jepang. “Namanya  Sayid Doro Ali AL-Idrus yang juga menamai Masjid Wali Jepang ini dengan nama Al-Makmur,” terangnya.

Tulisan dalam prasasti itu Arab Pegon. “Iki jenenge masjid Al-Makmur. Sopo-sopo seng sodaqoh teng masjid iki. Insya Allah selamet dunia akhirat. Dadine iki masjid tanggal 16 Muharrom 1336 Hijriyah tahun Walondo 1917 (Masjid ini bernama Al-Makmur. Siapa saja yang bersedekah di masjid ini, Insya Allah selamat dunia akhirat. Masjid ini berdiri tanggal 16 Muharrom 1336 hijriyah tahun 1917 masehi).

Dia juga menambahkan, Sayid Doro Ali AL-Idrus juga tokoh yang membuat tradisi Rebo Wekasan di Masjid AL-Makmur. “Beliau juga yang mentradisikan Rebo Wekasan di Masjid Al-Makmur, Jepang,” ungkapnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (7) Pedagang Taqwa Mendapat Jalan Keluar dan Rezeqi yang Tak Disangka

0

SEPUTARKUDUS.COM – Suatu ketika, seorang pedagang dari kalangan Bani Israil keluar rumah untuk menjajakan dagangannya. Dia datangi rumah-rumah untuk menawarkan barang yang dijualnya. Tibalah dia di depan pintu rumah seorang istri raja.

Pedagang tersebut dikenal sebagai orang yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Malam dia beribadah, dan siang hari berdagang. Dia selalu berkata kepada nafsunya, agar takut kepada Allah.

Melihat pedagang itu, istri raja sangat tertarik dan bernafsu untuk mendekatinya. Pedagang itu bagi istri raja sangatlah tampan. Bahkan dia menganggap tak pernah melihat pria setampan dirinya. Lalu dipanggillah pedagang itu.”Hai pedagang, ke sinilah, masuklah ke dalam rumah,” katanya.

Pedagang itupun masuk ke dalam rumah istri raja. Namun, dia tidak tidak diminta untuk menjual barang yang dibawa. “Sesungguhnya aku sangat tertarik kepadamu. Bukalah pakaianmu, dan serahkan dirimu kepadaku. Kamu boleh mengambil harta yang aku miliki,” bujuk istri raja kepada pedagang, yang kemudian menutup pintu rumahnya.

“Hai nafsuku, takutlah kepada Allah,” ujar pedagang kepada nafsunya. Kemudian pedagang itu berpikir bagaimana cara untuk keluar dari rumah tersebut. Lalu dia meminta kepada istri raja untuk mengizinkan dirinya mengambil wudlu dan salat dua rekaat. Istri raja pun mengizinkan.

Pedagang itupun kemudian mengambil wudlu, dan naik ke atas rumah dan salat dua rekaat. Di atas rumah itu dia melihat lantai dasar yang amat jauh. Dia berpikir kalau dirinya terjun dari atas, dirinya akan celaka. Kemudian dia mendongak ke langit, dan memohon kepada Allah.

“Ya Allah, aku telah menyembahmu selama ini. Jika engkau tidak menyelamatkan aku dari bujukan istri raja, maka nistalah saya membawa dosa kepada-Mu. “Hai nafsuku, takutlah kepada Allah, hai diriku, takutlah kepada Allah,” katanya.

Seketika itu dia terjun dari loteng rumah. Allah kemudian berfirman kepada malaikat Jibril untuk menyaut tangan pedagang itu agar dia selamat. Berkat pertolongan Allah, selamatlah pedagang itu dari celaka dan bujukan nafsu istri raja. Dia merasa sangat senang, dan kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, dia duduk di samping istrinya, dan merasa sangat sedih karena hari itu tak mendapatkan hasil dari menjual dagangannya. Tak lama kemudian, datang seorang tetangga yang hendak meminta roti untuk dimakan, karena tetangganya itu tak memiliki apapun untuk dimakan.

“Wahai saudaraku, hari ini aku tak memiliki apapun. Lihatlah di keranjang itu, tak satupun roti bisa ku berikan,” kata pedagang tersebut kepada tetangganya.

Namun tetangganya itu melihat di keranjangnya penuh dengan roti yang baru saja matang. Pedagang dan istrinya pun juga kaget. “Ini adalah karomahmu, apa sebenarnya yang telah terjadi,” tanya istrinya. Pedagang itupun lantas menceritakan semua yang dialami di hari itu kepada istrinya. 

Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka dijadikanlah jalan keluar baginya danakan dierirezeki yang tak disangka-sangka (QS at Thalaq: 3)

- advertisement -